alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52563defc2cb17bf0f00000b/mgr-albertus-soegijapranata-uskup-agung-jadi-pahlawan-nasional
Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Soegijapranata, pada tahun 1960

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (Ejaan Yang Disempurnakan: Albertus Sugiyapranata; lahir 25 November 1896 – meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun), lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi uskup agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut "100% Katolik, 100% Indonesia".

Soegija dilahirkan di Surakarta, Hindia-Belanda, dari keluarga seorang abdi dalem dan istrinya. Keluarga Muslim itu lalu pindah ke kota Yogyakarta saat Soegija masih kecil, dan, karena diakui sebagai anak yang cerdas, pada tahun 1909 Soegija diminta oleh Pr. Frans van Lith untuk bergabung dengan Kolese Xaverius, suatu sekolah Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija menjadi tertarik dengan agama Katolik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910. Setelah lulus dari Xaverius pada tahun 1915 dan menjadi seorang guru di sana selama satu tahun, Soegija menghabiskan dua tahun belajar di seminari di Muntilan sebelum berangkat ke Belanda pada tahun 1919. Ia menjalani masa pendidikan calon biarawan dengan Serikat Yesus selama dua tahun di Grave; ia juga menyelesaikan juniorate di sana pada tahun 1923. Setelah tiga tahun belajar filsafat di Kolese Berchmann di Oudenbosch, ia dikirim kembali ke Muntilan sebagai guru; ia bekerja di sana selama dua tahun. Pada tahun 1928 ia kembali ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht, dan ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 1931. Setelah itu Soegija menambahkan kata "pranata" di belakang namanya. Pada tahun 1933 Soegijapranata dikirim kembali ke Hindia-Belanda untuk menjadi pastor.

Soegijapranata memulai keimamannya sebagai vikaris paroki untuk Pr. van Driessche di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta, tetapi diberi paroki sendiri setelah Gereja St. Yoseph di Bintaran dibuka pada tahun 1934. Dalam periode ini ia berusaha untuk meningkatkan rasa ke-Katolikan dalam masyarakat Katolik dan menekankan perlunya hubungan yang kuat antara keluarga Katolik. Pada tahun 1940 Soegijapranata dikonsekrasikan sebagai vikaris apostolik dari Vikariat Apostolik Semarang, yang baru didirikan. Meskipun jumlah pemeluk Katolik meningkat setelah ia dikonsekrasikan, Soegijapranata harus menghadapi berbagai tantangan. Kekaisaran Jepang menduduki Hindia-Belanda pada awal tahun 1942, dan selama periode pendudukan itu banyak gereja diambil alih dan banyak pastor ditangkap atau dibunuh. Soegijapranata bisa lolos dari kejadian ini, dan menghabiskan periode pendudukan dengan mendampingi orang Katolik dalam vikariatnya sendiri.

Setelah Presiden Soekarno memproklamasi kemerdekaan Indonesia, Semarang dipenuhi dengan kekacauan. Soegijapranata membantu menyelesaikan Pertempuran Lima Hari dan menuntut agar pemerintah pusat mengirim seseorang dari pemerintah untuk menghadapi kerusuhan di Semarang. Biarpun permintaan ini ditanggapi, Semarang menjadi semakin rusuh dan pada tahun 1947 Soegijapranata pindah ke Yogyakarta. Selama revolusi nasional Soegijapranata berusaha untuk meningkatkan pengakuan Indonesia di dunia luas dan meyakinkan orang Katolik untuk berjuang demi negera mereka. Tidak lama setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Soegijapranata kembali ke Semarang. Dalam periode pasca-revolusi ia banyak menulis mengenai komunisme dan berusaha untuk mengembangkan pengaruh Katolik, serta menjadi perantara beberapa faksi politik. Pada tanggal 3 Januari 1961 ia diangkat sebagai uskup agung, saat Tahta Suci mendirikan enam provinsi gerejawi di wilayah Indonesia. Soegijapranata bergabung dengan sesi pertama dari Konsili Vatikan II. Ia meninggal pada tahun 1963 di Steyl, Belanda dan jenazahnya diterbangkan kembali ke Indonesia. Ia dijadikan seorang Pahlawan Nasional dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Soegijapranata sampai sekarang dihormati orang Indonesia, baik pemeluk Katolik maupun bukan. Berbagai biografi tentang ia sudah ditulis oleh berbagai penulis, dan pada tahun 2012 sebuah film biopik fiksi garapan Garin Nugroho, yang diberi judul Soegija, diluncurkan. Universitas Katolik Soegijapranata, sebuah universitas di Semarang, dinamakan untuk Soegijapranata.

Kehidupan awal

Soegija dilahirkan pada 25 November 1896 di Surakarta. Ia merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara, dengan ayah Karijosoedarmo, seorang abdi dalem di Susuhunan Surakarta, dan ibu Soepiah. Keluarga tersebut merupakan keluarga Muslim abangan, dan kakek Soegija, Soepa, seorang kyai.[2][3][4] Namanya Soegija diambil dari kata sugih dalam bahasa Jawa, yang berarti "kaya".[5] Keluarga itu lalu berpindah ke Ngabean, Yogyakarta. Di sana, Karijosoedarmo bertugas sebagai abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk Sultan Hamengkubuwono VII, sementara istrinya merupakan pedagang ikan;[2] keluarga Soegija miskin, dan sering kurang makan.[6] Soegija anak yang berani, suka berkelahi, pintar bermain sepak bola, dan dikenal karena kecerdasannya sejak kecil.[7] Saat masih kecil, Soegija berpuasa bersama ayahnya, sesuai hukum Islam.[5]

Soegija mulai menempuh pendidikannya di sebuah Sekolah Angka Loro di wilayah Kraton. Di sana, ia belajar membaca dan menulis. Ia kemudian dipindahkan ke suatu sekolah di Wirogunan, Yogyakarta, dekat Pakualaman. Pada tahun ketiga ia mulai menempuh pendidikan di sebuah Hollands Inlands School di Lempuyangan.[8] Di luar sekolah ia belajar gamelan dan menembang bersama orang tuanya.[2] Sekitar 1909 Soegija diminta oleh Pater Frans van Lith untuk bergabung dengan sebuah sekolah Yesuit di Muntilan, 30 kilometer barat laut Yogyakarta. Biarpun awalnya kedua orang tuanya khawatir bahwa Soegija akan menjadi seperti anak Eropa, mereka merestui.[9]

Kolese Xaverius

Pada 1909 Soegija mulai belajar di Kolese Xaverius di Muntilan, sebuah sekolah asrama untuk calon guru.[10][11] Ada 54 siswa lain dalam angkatannya. Anak-anak itu menjalani jadwal yang ketat. Mereka mengikuti pelajaran di pagi hari dan mengisi siang hari dengan kegiatan lain, seperti berkebun, berdebat, dan bermain catur. Anak-anak Katolik juga diwajibkan untuk rajin berdoa.[12] Biarpun kolese itu tidak mewajibkan siswanya menjadi orang Katolik, Soegija merasa tertekan oleh teman-temannya. Oleh karena itu, sering terjadi perkelahian. Saat Soegija mengeluh kepada gurunya, Pater L. van Rijckevorsel bahwa para pastor Belanda sama seperti pedagang Belanda di kota, yaitu hanya memikirkan uang, romo itu menjawab bahwa mereka tidak digaji dan hanya mengharapkan yang terbaik untuk siswa-siswa mereka. Ini membuat Soegija lebih menghargai para guru, dan saat van Rijckevorsel memberi tahu siswa lain bahwa Soegija tidak ingin menjadi Katolik, anak-anak itu tidak lagi menekan Soegija.[10]

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Albertus Magnus, seorang santo dari abad ke-13; nama baptis Soegija didasarkan nama Albertus

Tahun berikutnya Soegija minta agar bisa mengikuti pelajaran agama Katolik. Menurut dia, ini agar ia bisa menggunakan fasilitas sekolah dengan sepenuhnya. Gurunya, Pater Mertens, menyatakan bahwa Soegija memerlukan izin orang tua sebelum ia bisa bergabung. Kendati orang tuanya tidak merestui, Soegija masih diizinkan mengikuti pelajaran. Soegija menjadi tertarik dengan soal Tritunggal, dan meminta keterangan dari beberapa guru. Van Lith mengutip karya-karya Thomas Aquinas, sementara Mertens membahas Tritunggal berdasarkan karya Agustinus dari Hippo. Mertens menyatakan bahwa manusia tidak dimaksud untuk benar-benar memahami Tuhan, sebab pengetahuan manusia terbatas.[13] Soegija, yang menjadi semakin tertarik, minta agar dibaptis; ia mengutip cerita Kristus dan Para Dokter untuk menunjukkan mengapa ia tidak memerlukan restu orang tua. Para romo menyetujui pembaptisan itu, dan Soegija dibaptis pada 24 Desember 1910; ia mengambil nama baptis Albertus,[13] berdasarkan nama Albertus Magnus.[14] Saat liburan Natal, Soegija menceritakan hal ini kepada keluarganya. Meski ayah dan ibunya bisa menerima, dan bahkan mungkin merestui,[a] keluarga besar Soegija tidak mau berurusan dengannya lagi.[15]

Soegija terus melanjutkan pelajarannya di Xaverius. Menurut Pater G. Budi Subanar, seorang dosen ilmu teologi di Universitas Sanata Dharma, dalam periode ini salah satu guru mengajarkan Perintah Keempat dari Sepuluh Perintah Allah dengan pengertian bahwa seseorang tidak boleh hanya menghormati ayah dan ibu kandung, melainkan semua nenek moyangnya; ini memberi pengertian nasionalis kepada para siswa.[16] Pada kesempatan lain, Xaverius dikunjungi seorang misionaris Kapusin – yang secara fisik jauh berbeda dari para guru Yesuit – membuat Soegija mempertimbangkan untuk menjadi seorang pastor, sebuah gagasan yang diterima orang tuanya.[17] Pada 1915 Soegija menyelesaikan pendidikannya di Xaverius, lalu menjadi guru di sana selama satu tahun. Pada 1916 di masuk di seminari Xaverius; ada dua anak pribumi lain yang masuk seminari tahun itu. Soegija lulus pada 1919, setelah mempelajari bahasa Perancis, Latin, Yunani, dan sastra.[18]

Jalan menuju imamat

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Soegija menyelesaikan periode novisiat di Mariëndaal, di Grave, Belanda.

Pada 1919 Soegija dan siswa lain pergi ke Uden, Belanda, untuk meneruskan pendidikan mereka; mereka berangkat dari Tanjung Priok di Batavia. Di Uden Soegija menghabiskan satu tahun untuk mendalami bahasa Latin dan Yunani, sesuatu yang diperlukan untuk menjadi romo di Hindia-Belanda. Ia dan rekan kelasnya juga harus beradaptasi dengan budaya Belanda.[19] Pada tanggal 27 September 1920 Soegija memulai periode novisiat untuk bergabung dengan Serikat Yesus; rekan-rekannya baru mulai pada tahun berikutnya.[20] Selama menjalani novisiatnya di Mariëndaal di Grave, Soegija dipisah dari dunia luar dan menghabiskan waktunya dengan meditasi. Ia menyelesaikan novisiat pada 22 September 1922 dan dijadikan anggota Yesuit; Soegija bersumpah agar tetap miskin, murni, dan taat.[20]

Setelah bergabung dengan Serikat Yesus Soegija menghabiskan satu tahun di Mariëndaal sebagai yuniorat. Mulai pada 1923 ia belajar filsafat di Kolese Berchmann di Oudenbosch.[21] Dalam periode ini ia lebih mendalami ajaran Thomas Aquinas. Ia juga mulai menulis tentang agama Katolik. Dalam sebuah surat tertanggal 11 Agustus 1923 ia menulis bahwa orang Jawa belum dapat membedakan antara orang Katolik dan Protestan, dan bahwa cara yang terbaik untuk menambahkan jumlah orang Katolik ialah dengan perilaku dan bukti nyata, bukan hanya janji. Ia juga menerjemahkan hasil Kongres Ekaristi ke-27, yang diadakan di Amsterdam pada 1924, untuk majalah berbahasa Jawa Swaratama; ada pula tulisan yang dimuat dalam St. Claverbond, Berichten uit Java.[22] Soegija lulus dari Berchmann pada 1926, lalu bersiap untuk kembali ke Hindia-Belanda.[21]

Soegija tiba di Muntilan pada September 1926[23] dan menjadi guru agama, bahasa Jawa, dan aljabar di Kolese Xaverius. Tidak banyak diketahui tentang masa Soegija menjadi guru di Muntilan.[24] Menurut catatan dari sekolah, gaya mengajar Soegija berdasar kepada gaya van Lith, yaitu dengan menjelaskan konsep agama berdasarkan istilah yang ada dalam tradisi Jawa.[25] Soegija juga mengawasi kegiatan gamelan[26] dan berkebun.[27] Selama di Xaverius, Soegija menjadi redaktur Swaratama, yang cenderung dibaca alumni Xaverius. Sebagai redaktur ia menulis resensi mengenai berbagai topik, termasuk serangan terhadap paham komunisme dan pembahasan kemiskinan.[28]

Setelah dua tahun di Xaverius, pada Agustus 1928 Soegija kembali ke Belanda dan belajar teologi di Maastricht. Ia juga bepergian saat belajar. Pada 3 Desember 1929 ia dan empat Yesuit keturunan Asia lain mengikuti Pater Jenderal Wlodzimierz Ledóchowski dalam sebuah pertemuan dengan Paus Pius XI di Vatikan; paus itu menyatakan bahwa para Yesuit Asia itu akan menjadi "tulang punggung" untuk agama Katolik dalam negeri mereka sendiri.[29] Soegija dijadikan seorang diaken pada Mei 1931;[27] ia lalu ditahbiskan oleh Uskup Roermond Laurentius Schrijnen pada 15 Agustus 1931, saat masih menjadi siswa teologi.[30] Setelah ditahbiskan, Soegija menambahkan kata pranata, yang artinya "doa" atau "harapan", di belakang namanya.[31] ia menyelesaikan pelajaran teologinya pada 1932, dan pada 1933 menjalani masa tersiat di Drongen, Belgia.[32] Tahun itu ia menulis sebuah autobiografi, berjudul La Conversione di un Giavanese (Pertobatan Seorang Jawa); karya tersebut diterbitkan dalam bahasa Italia, Belanda, dan Spanyol.[33]

Menjadi pastor

Pada tanggal 8 Agustus 1933 Soegijapranata dan dua pastor lain berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda; Soegijapranata ditugaskan di paroki Kidul Loji di Yogyakarta, dekat Kraton.[34] ia bertugas sebagai pembantu Pr. van Driessche, salah satu gurunya dari Xaverius.[35] Dari romo yang lebih tua itu, Soegijapranata belajar bagaimana menangani keperluan paroki, sementara van Driessche kemungkinan besar menugaskan Soegijapranata untuk berkhotbah kepada warga kota pribumi yang Katolik.[c][36]

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Gereja paroki di Ganjuran, tempat Soegijapranata bertugas sekaligus dengan Bintaran

Setelah Gereja Santo Yoseph di Bintaran, sekitar satu kilometer dari Kidul Loji, buka pada bulan April 1934, Soegijapranata dipindahtugaskan ke sana sebagai pastor utama;[37][4] gereja itu terutama dimaksud kalangan pribumi.[7] Bintaran pada saat itu merupakan satu dari empat paroki di kota Yogyakarta pada saat itu, bersama dengan Kidul Loji, Kotabaru, dan Pugeran; setiap gereja paroki melayani daerah yang luas, dan pastor dari gereja paroki juga ikut serta berkhotbah di gereja yang jauh dari kota. Setelah van Driessche meninggal pada bulan Juni 1934, tugas Soegijapranata ditambah lagi dengan desa Ganjuran, Bantul, sekitar 20 kilometer selatan kota Yogyakarta. Daerah itu merupakan tempat tinggal untuk lebih dari seribu orang Katolik pribumi.[38][39] Soegijapranata juga menjadi penasihat untuk berbagai kelompok, serta mendirikan sebuah koperasi untuk masyarakat Katolik.[40]

Pada saat itu Gereja Katolik di Indonesia kesulitan dengan mempertahankan orang Katolik baru: orang Jawa yang sudah pindah agama saat sekolah terkadang-kadang menjadi Muslim lagi setelah mengalami pengasingan dari teman-teman atau keluarga mereka. Dalam sebuah pertemuan pada tahun 1935, Soegijapranata menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan tidak adanya rasa identitas Katolik, atau sensus Catholicus, serta sedikitnya pernikahan antara orang Katolik. Soegijapranata menolak pernikahan antara orang Katolik dan yang bukan Katolik,[41] dan mulai menjadi penasihat untuk pasangan Katolik muda sebelum mereka menikah; ia percaya bahwa pernikahan antara orang Katolik akan mengeratkan hubungan antara keluarga Katolik di Yogyakarta.[42] Soegijapranata terus menulis untuk Swaratama dan menjabat sebagai redaktur.[40] Pada tahun 1938 Soegijapranata dipilih sebagai penasihat untuk Serikat Yesus dan mengkoordinasikan karya Yesuit di Hindia-Belanda.[43]

Vikar apostolik

Meningkatnya jumlah orang Katolik di Hindia-Belanda membuat Mgr. Petrus Willekens, yang menjabat sebagai Vikar Apostolik Batavia, mengusulkan bahwa suatu vikariat apostolik didirikan di Jawa Tengah, dengan pusatnya di Semarang,[44] sebab Jawa Tengah memiliki budaya yang berbeda dan jarak yang jauh dari Batavia.[45] Vikariat Apostolik Batavia dibagi menjadi dua pada tanggal 25 Juni 1940; bagian timur menjadi Vikariat Apostolik Semarang.[46] Pada tanggal 1 Agustus 1940 Willekens menerima telegram dari Kardinal Giovanni Battista Montini, yang menyatakan bahwa Soegijapranata akan menjadi pemimpin vikariat apostolik yang baru itu. Ini dikirimkan ke Soegijapranata di Yogyakarta, yang menyetujui tugas itu,[44] biarpun terkejut dan gelisah.[47] Asistennya, Hardjosoewarno, menyatakan bahwa Soegijapranata menangis setelah membaca telegram itu – sebuah tanggapan yang tidak biasa untuk dia – dan, saat makan semangkuk soto, bertanya kalau Hardjosoewarno pernah melihat seorang uskup menikmati makanan itu.[48]

Soegijapranata pergi ke Semarang pada tanggal 30 September 1940 dan dikonsekrasi Willekens pada tanggal 6 Oktober di Gereja Rosario Suci di Randusari, yang menjadi tempat jabatannya.[47][49] Upacara itu diikuti berbagai tokoh politik serta sultan, dari Batavia, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta, serta klerus dari Malang dan Lampung;[47] dengan konsekrasi ini Soegijapranata menjadi uskup pribumi pertama.[d][50] Tindakan pertama Soegijapranata sebagai uskup ialah mengeluarkan sebuah surat pastoral bersama Willekens yang menceritakan sejarah sehingga Soegijapranata bisa ditentukan sebagai uskup, termasuk surat Maximum Illud yang dibuat Paus Benediktus XV[e] serta usaha Paus Pius XI dan Paus Pius XII untuk menahbiskan lebih banyak pastor dan uskup dari suku asli di seluruh dunia.[51][52] Soegijapranata lalu mulai menentukan hirarki Gereja di Jawa Tengah, termasuk mendirikan paroki baru.[53]

Dalam wilayah yang dipimpin Soegijapranata terdapat 84 pastor (73 orang Eropa, 11 orang pribumi), 137 bruder (103 orang Eropa, 34 orang pribumi), dan 330 biarawati (251 orang Eropa, 79 orang pribumi).[54] Vikariat ini meliputi Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Kudus, Magelang, Salatiga, Pati, dan Ambarawa. Keadaan geografisnya juga berbeda-beda, termasuk wilayah Dataran Kedu yang subur hingga daerah Pegunungan Sewu yang kering. Sebagian besar penduduknya orang Jawa.[55] Ada lebih dari 15.000 orang Katolik pribumi di wilayah tersebut pada tahun 1940, dengan jumlah orang Katolik Eropa yang hampir sama; jumlah orang Katolik pribumi meningkat dengan cepat,[56] sehingga ada lebih dari 30.000 pada tahun 1942.[57] Ada pula sejumlah organisasi Katolik, yang sebagian besarnya bergerak di bidang pendidikan.[58]
Pendudukan Jepang

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Pastoran di Gedangan, yang dilindungi Soegijapranata dari pasukan Jepang pada tahun 1942

Setelah Jepang memasuki Nusantara pada awal tahun 1942, yang tidak dapat dicegah pasukan kolonial, pada tanggal 9 Maret 1942 Guberner-Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan pemimpin KNIL Jenderal Hein ter Poorten menyerah. Ini membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan di Nusantara dan mengurangi kualitas hidup orang non-Jepang.[59] Dalam buku hariannya, Soegijapranata menulis bahwa "di mana-mana ada kebakaran ... Tidak ada tentara, tidak ada police, tidak ada pegawai. Di jalanan pun terdapat berbagai bangkai kendaraan yang terbakar ... Untung masih ada beberapa pegawai kejaksaan dan beberapa tokoh Katolik yang tidak pergi. Mereka bekerja dengan mengatasnamakan diri dari instansiyang berwenang untuk mengatur kota agar tercipta suasana rust en order, tertib dan damai."[60]

Pemerintah Jepang menangkap dan menahan ribuan pria dan wanita (sebagian besar orang Belanda), baik orang awam maupun klerus.[f] Pemerintah juga menentukan kebijakan yang mengubah cara orang mengadakan misa. Penggunaan bahasa Belanda dilarang, baik yang dilafalkan maupun yang ditulis, dan sejumlah bangunan milik Gereja disita.[60] Soegijapranata berusaha untuk mencegah penyitaan ini. Ia pernah mengisi gedung kosong dengan orang supaya tidak disita, dan menyatakan bahwa gedung lain, misalkan bioskop, akan lebih bermanfaat untuk Jepang.[61] Saat penguasa Jepang berusaha untuk menyita Katedral Semarang untuk digunakan sebagai kantor, Soegijapranata menyatakan bahwa mereka hanya boleh mengambil gereja tersebut kalau mereka memenggal kepalanya dulu; pihak Jepang kemudian menemukan tempat lain. Soegijapranata juga mencegah penyitaaan Pastoran Gedangan, tempat ia tinggal,[62] serta menugaskan penjaga di sekolahan dan tempat lain, supaya tidak disita.[63] Namun, usaha ini tidak selalu berhasil, dan berbagai bangunan milik Gereja disita;[64] begitu pula dana Gereja.[65]

Soegijapranata tidak dapat menghentikan disiksanya tahanan perang, termasuk para klerus,[g][66] tetapi diri Soegijapranata diperlakukan dengan baik oleh Jepang. Ia kerap diundang untuk upacara Jepang, tetapi tidak pernah hadir; sebagai ganti, ia mengirim karangan bunga.[67] ia menggunakan kedudukannya itu untuk memastikan bahwa tahanan perang diperlakukan dengan baik. Ia berhasil membujuk penguasa Jepang untuk membiarkan para biarawati bekerja di rumah sakit dan tidak diwajibkan untuk mengikuti paramiliter. Ia dan warga Katolik lain juga mengumpulkan makanan untuk klerus yang ditahan, dan Soegijapranata terus menjaga hubungannya dengan para tahanan; ia memberikan informasi dan berita kepada mereka.[68]

Karena jumlah klerus terbatas sekali, Soegijapranata pergi dari gereja ke gereja untuk berkhotbah secara aktif; hal ini juga menangkal desas-desus bahwa ia telah ditangkap Jepang.[69] ia pergi jalan kaki, naik sepeda, atau naik kereta kuda, sebab mobilnya telah disita.[70] ia juga dapat mengirimkan pastor ke prefektur apostolik lain di Bandung, Surabaya, dan Malang untuk menghadapi kurangnya jumlah klerus di sana.[71] Soegijapranata juga menentukan agar seminari terus menghasilkan pastor baru, dengan menentukan Pr. Hardjawasita, yang baru ditahbiskan pada tahun 1942, sebagai rektor.[72] ia juga memberi pastor lokal kekuasaan untuk memimpin acara pernikahan.[73] Supaya masyarakat Katolik tetap tenang, Soegijapranata mengunjungi rumah mereka dan menyatakan bahwa semuanya aman-aman saja.[74]

Revolusi Nasional

Setelah serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada bulan Agustus 1945,[75] orang-orang Jepang mulai mengundurkan diri dari negara Indonesia. Untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, Soegijapranata memerintahkan agar sebuah bendera Indonesia dikibarkan di depan Pastoran Gedangan.[76] ia dan klerus lain juga merawat misionaris Belanda yang baru dibebaskan; orang-orang ini banyak yang terluka dan sangat kurang gizi, sehingga ada yang harus dirawat di rumah sakit. Beberapa orang ditahan lagi oleh pihak Indonesia, tetapi pemerintah masih mengizinkan agar tahanan itu dirawat orang-orang Katolik. Sementara, beberapa gedung gereja dibakar dan klerus dibunuh karena perselisihan antar-agama.[77][78] Pemerintah juga mengambil alih beberapa bangunan milik Gereja, dan dari bangunan yang pernah disita Jepang tidak semuanya dikembalikan.[79]

Pasukan Sekutu yang ditugaskan untuk mengambil senjata Jepang dan membawa pulang tahanan perang mendarat di Indonesia pada bulan September 1945.[80] Di Semarang, hal ini memicu suatu pertempuran antara pihak Jepang dan Republik, yang mulai pada tanggal 15 Oktober; orang-orang Indonesia bermaksud untuk mengambil senjata Jepang.[77] Pada tanggal 20 Oktober 1945 pasukan Sekutu mulai mendarat di Semarang, dan beberapa di antara mereka pergi ke Gedangan untuk berbicara dengan Soegijapranata. Karena peduli akan kesengsaraan rakyat, vikar apostolik itu menyatakan bahwa pihak Sekutu harus menghentikan pertempuran di luar; pihak Sekutu mengaku bahwa mereka tidak bisa, sebab mereka tidak kenal dengan komandan Jepang. Soegijapranata lalu menghubungi pihak Jepang dan, siang itu, menjadi perantara dalam pembuatan gencatan senjata.[81]

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Gereja Santo Yoseph di Bintaran, yang menjadi tempat jabatan Sogijapranata dalam tahun-tahun terakhir Revolusi Nasional Indonesia

Adanya pertempuran besar di seluruh wilayah Semarang, serta terus beradanya pihak Sekutu, membuat masyarakat kota Semarang kelaparan; dan juga diberlakukannya jam malam dan pemadaman listrik. Kelompok-kelompok yang dipimpin warga sipil berusaha untuk menangani kekurangan ini, tetapi tidak mampu mengatasinya. Sebagai usaha untuk menyelesaikan masalah di Semarang, Soegijapranata mengirim seorang warga lokal ke ibu kota di Jakarta untuk membicarakannya dengan pemerintah pusat. Warga itu bertemu dengan Perdana Menteri Sutan Sjahrir, yang mengirim Wongsonegoro ke Semarang untuk membantu dalam pembentukan pemerintahan sipil.[82] Namun, pemerintah kota itu masih tidak mampu menangani masalah di Semarang, dan beberapa pemimpinnya ditangkap oleh Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) dan ditahan; Soegijapranata, biarpun kadang-kadang menyembunyikan para revolusioner Indonesia, tidak ditahan.[83]

Pada bulan Januari 1946 pemerintah Indonesia pindah dari Jakarta – yang sudah dikuasai Belanda – ke Yogyakarta.[84] Hal ini diikuti sejumlah warga sipil mengungsi dari daerah yang dikuasai Belanda. Soegijapranata awalnya tetap di Semarang, tempat ia berusaha untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1947 ia akhirnya pindah ke Yogyakarta, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan pemerintah dengan mudah.[85][86] ia berkedudukan di Gereja Santo Yoseph di Bintaran[87] dan menasihati orang-orang Katolik agar berjuang demi negara Indonesia; ia menyatakan bahwa mereka "baru boleh pulang kalau mati."[88]

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Soegijapranata dan Georges de Jonghe d'Ardoye dengan Presiden Soekarno, 1947

Setelah tidak berhasilnya Perjanjian Linggajati, yang dimaksudkan untuk menghentikan perang antara Indonesia dan Belanda, serta serangan besar Belanda terhadap Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947, Soegijapranata, melalui sebuah pidato di Radio Republik Indonesia, menyatakan bahwa orang-orang Katolik akan bekerja sama dengan pejuang Indonesia.[89] Soegijapranata juga banyak menulis kepada Tahta Suci, yang menanggapi surat-surat Soegijapranata dengan mengirim Georges de Jonghe d'Ardoye sebagai duta ke Indonesia; ini membuka jalur diplomasi antara Vatikan dan Indonesia. D'Ardoye tiba di wilayah Republik pada bulan Desember 1947 dan bertemu dengan Presiden Soekarno;[86] Soegijapranata di kemudian hari berteman dengan presiden.[90]

Setelah Agresi Militer Belanda II, ketika Belanda menduduki ibukota di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, Soegijapranata menyatakan bahwa perayaan Hari Natal tidak boleh mewah, sebab rakyat sedang sengsara.[87] Selama Belanda menguasai Yogyakarta Soegijapranata dapat mengirim beberapa tulisannya ke luar negeri; tulisan ini, yang dimuat di majalah Commonweal, mendetail kehidupan sehari-hari orang Indonesia di bahwa kekuasaan Belanda dan menggugat agar masyarakat internasional mengutuk Belanda.[88] Soegijapranata juga berpendapat bahwa blokade Belanda terhadap Indonesia tidak hanya mencekik ekonomi Indonesia, tetapi juga meningkatkan kekuasaan orang-orang Komunis.[91] Ketika Belanda mulai mengundurkan diri setelah Serangan Umum 1 Maret 1949, Soegijapranata mulai berusaha agar orang Katolik mendapat peran dalam pemerintahan. Bersama I.J. Kasimo, ia menyiapkan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia, yang diadakan dari tanggal 7 sampai 12 Desember. Kongres ini berakhir dengan disatukannya berbagai partai Katolik sebagai Partai Katolik Indonesia. Soegijapranata dan Kasimo terus mengkonsolidasikan Partai Katolik setelah berakhirnya perang revolusi.[92]

Pasca-revolusi

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Katedral Rosario Suci di Randusari, Semarang, yang menjadi tempat Soegijapranata berjabat untuk sebagian besar waktunya sebagai uskup

Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, yang diawali dengan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Soegijapranata kembali ke Semarang.[93] Periode pasca-revolusi ditandai dengan meningkat tajamnya jumlah orang yang masuk di seminari; pastor pribumi yang ke-100 ditahbiskan pada tahun 1956.[94] Namun, pemerintah Indonesia juga memberlakukan beberapa peraturan yang membatasi Gereja. Pada tahun 1953 Kementerian Agama memutuskan bahwa misionaris asing tidak akan diizinkan masuk Indonesia, sementara kebijakan lain melarang orang asing yang sudah di Indonesia dari mengajar. Untuk menghadapi hal ini, Soegijapranata membujuk klerus-klerus untuk menjadi warga negara Indonesia, sehingga mereka tidak terhalang kebijakan baru itu.[95]

Selain mengawasi para klerus baru, Soegijapranata terus bertugas supaya anak dari keluarga Katolik mendapatkan pendidikan dan bahwa keluarga mereka makmur. Ia menekankan bahwa siswa harus menjadi bukan hanya orang Katolik yang baik, tetapi juga orang Indonesia yang baik;[94] ia juga menerangkan bahwa siswa harus belajar di mana-mana, bukan hanya di sekolah.[96] Gereja juga terus mengembangkan sarana pendidikan, dari sekolah dasar hingga universitas.[97] Soegijapranata juga mulai mereformasi Gereja di vikariat apostoliknya, sehingga menjadi lebih Indonesia. Ia mengadvokasi penggunaan bahasa Indonesia dan daerah dalam misa; ini diizinkan mulai tahun 1956. Ia juga mendukung penggunaan musik gamelan saat misa, dan menyetujui penggunaan wayang untuk mengajar cerita Al Kitab ke anak-anak.[98]

Dengan Perang Dingin yang semakin meningkat, terjadi perslisihan besar antara Gereja di Indonesia dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Soegijapranata beranggapan bahwa PKI mendapatkan lebih banyak pendukung dari kalangan miskin karena menawarkan hak buruh melalui serikat pekerjanya. Untuk melawan ini, ia bekerja sama dengan orang Katolik lain untuk mendirikan kelompok pekerja yang dibuka untuk orang Katolik dan non-Katolik. Dengan memberdayakan buruh, Soegijapranata berharap agar PKI akan kehilangan kekuatannya. Salah satu kelompok yang didirikan ialah Buruh Pancasila, yang dibentuk pada tanggal 19 Juni 1954;[99] organsisasi tersebut juga merupakan salah satu cara Soegijapranata untuk mempromosikan falsafat Pancasila.[4] Tahun berikutnya, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang mengakui bakti Soegijapranata untuk orang miskin, menentukan agar Soegijapranata menjadi pemimpin program bakti sosial di seluruh Nusantara.[99] Pada tanggal 2 November 1955 Soegijapranata dan beberapa uskup lain mengeluarkan sebuah surat pastoral yang mencela paham komunisme, Marxisme, dan materialisme; mereka juga minta agar pemerintah memperlakukan setiap warga negara dengan adil dan bijaksana.[100]

Ada pula gangguan di dalam hierarki Gereja. Hubungan antara Indonesia dan Belanda masih buruk, dan adanya konflik mengenai penguasaan Papua bagian barat - daerah itu secara historis dikuasai Belanda, tetapi diklaim oleh Indonesia. Soegijapranata dengan tegas mendukung penguasaan Indonesia atas daerah tersebut. Dalam sebuah surat Soegijapranata menulis bahwa orang Indonesia terus sengsara dan bahwa Katholieke Nationale Partij di Belanda adalah penyebab hubungan buruk antara dua negara itu. Papua bagian barat digabung dengan Indonesia pada tahun 1963.[101] Ada pula gangguan pada tahun 1957 setelah Presiden Soekarno menyatakan bahwa dirinya merupakan presiden seumur hidup dan menentukan sistem Demokrasi Terpimpin. Faksi yang dipimpin Soegijapranata mendukung pemerintah, sementara faksi yang dipimpin Kasimo menentangnya. Soekarno lalu minta agar Soegijapranata bergabung dengan Dewan Nasional, sebuah permintaan yang ditolak Soegijapranata. Namun, ia tetap mengirim dua orang agar orang Katolik tetap diwakili.[h] Ini, serta dukungan Soegijapranata untuk Dekret Presiden 5 Juli 1959 yang menentukan kembalinya ke Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, membuat Uskup Jakarta Adrianus Djajasepoetra menyatakan bahwa Soegijapranata seorang penjilat. Namun, Soegijapranata sangat tegas menolak gagasan Nasakom, yang mendasarkan pemerintahan Indonesia pada komunisme.[102]

Uskup Agung Semarang dan kematian

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Makam Soegijapranata di Giri Tunggal

Pada akhir dasawarsa 50-an, KWI sering mengadakan pertemuan untuk membahas perlunya hierarki Katolik Roma di Indonesia yang berdaulat. Pembahasan ini, yang diadakan setahun sekali, membahas soal administrasi serta kepastoran, termasuk penerjemahan lagu rohani ke dalam bahasa daerah. Pada tahun 1959 Kardinal Grégoire-Pierre Agagianian mengunjungi Indonesia untuk memeriksa persiapan Gereja. Pada bulan Mei 1960, KWI secara resmi mengajukan permohonan untuk dibentuknya Gereja Katolik Indonesia yang berdaulat; surat permohonan ini dibalas Paus Yohanes XXIII, dalam surat bertanggal 20 Maret 1961, yang membagi nusantara Indonesia menjadi enam provinsi gerejawi, yaitu dua di pulau Jawa, satu di Sumatera, satu di Flores, satu di Sulawesi dan Maluku, dan satu di Kalimantan. Semarang menjadi pusat provinsi Semarang, dan Soegijapranata menjadi uskup agung.[103] Ia diangkat pada tanggal 3 Januari 1961.[58]

Saat ini terjadi, Soegijapranata berada di Eropa untuk Konsili Vatikan II, mulai dengan sesi persiapan, termasuk sebagai anggota Komisi Persiapan Sentral;[103] di komisi tersebut Soegijapranata merupakan salah satu dari enam uskup dan uskup agung dari Asia.[104] Soegijapranata mengikuti sesi pertama Konsili dan menunjukkan keprihatinan akan keadaan kepastoran[103] dan memohon agar sistem Gereja dimodernisasi.[105] Dia lalu kembali ke Indonesia, tetapi dalam kesehatan yang kurang baik.[106]

Setelah dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Candi pada tahun 1963, Soegijapranata dilarang melaksanakan tugasnya. Justinus Darmojuwono, seorang mantan tahanan Jepang dan vikaris jenderal Semarang sejak tanggal 1 Agustus 1962, menjalani tugas uskup. Pada tanggal 30 Mei 1963 Soegijapranata meninggalkan Indonesia dan kembali ke Eropa untuk menghadiri pemilihan Paus Paulus VI. Ia lalu pergi ke Nijmegen dan dirawat di Rumah Sakit Canisius Hospital dari tanggal 29 Juni hingga 6 Juli; perawatan ini tidak berhasil. Soegijapranata meninggal pada tanggal 22 Juli 1963 di sebuah susteran di Steyl, Belanda; ia mengalami serangan jantung tidak lama sebelum meninggal.[106][103]

Karena Soekarno tidak ingin Soegijapranata dikebumikan di Belanda, jenazah Soegijapranata diterbangkan ke Indonesia setelah doa yang dipimpin Kardinal Bernardus Johannes Alfrink.[107] Soegijapranata dinyatakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 26 Juli 1963 melalui Keputusan Presiden No. 152/1963, saat jenasahnya masih dalam perjalanan ke Indonesia.[108] Pesawat yang membawa Soegijapranata tiba di Bandar Udara Kemayoran di Jakarta pada tanggal 28 Juli. Pada hari berikutnya jenasahnya diterbangkan ke Semarang dan, pada tanggal 30 Juli dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.[109] Darmojuwono dipilih pada bulan Desember 1963 sebagai uskup agung Semarang yang baru; ia dikonsekrasi pada tanggal 6 April 1964 oleh Uskup Agung Ottavio De Liva.[110]

Warisan

Soegijapranata dibanggakan oleh orang Jawa yang beragama Katolik;[90] mereka memuji kekuatannya selama pendudukan Jepang dan revolusi nasional.[46] Penulis Anhar Gonggong menyatakan bahwa Soegijapranata bukan hanya seorang uskup, melainkan pemimpin Indonesia yang "teruji sebagai pemimpin yang baik dan memang layak dijadikan pahlawan nasional."[i][108] Sejarawan Indonesia Anton Haryono menyatakan bahwa kenaikan Soegijapranata menjadi uskup sangat "monumental", mengingat bahwa ia baru ditahbiskan sembilan tahun sebelumnya, dan tetap diangkat meskipun ada pastor lain yang lebih berpengalaman.[111] Henricia Moeryantini, seorang suster dalam Orde Carolus Borromeus, menulis bahwa di bawah Soegijapranata Gereja Katolik berperan di tingkat nasional, dan bahwa Soegijapranata terlalu peduli akan keperluan masyarakat sehingga tidak bisa menjadi bagaikan orang luar saat revolusi.[112]

Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang dinamakan untuk Soegijapranata.[113][114] Ada pula berbagai jalan yang diberi nama Soegijapranata, termasuk di Semarang,[115] Malang,[116] dan Medan.[117] Makam Soegijapranata di Giri Tunggal sering menjadi tempat ziarah untuk orang Indonesia yang Katolik; mereka sering mengadakan misa di tempat itu.[118][119]

Pada bulan Juni 2012 sutradara Garin Nugroho mengeluarkan film biopik tentang Soegijapranata, yang diberi judul Soegija. Dibintangi Nirwan Dewanto sebagai Soegijapranata, film ini mengikuti kegiatan Soegijapranata pada dasawarsa 40-an, yang dilatarbelakangi dengan pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan Indonesia. Film ini, yang menelan dana Rp 12 miliar,[108][113] ditonton lebih dari 100.000 orang pada hari pertama tayang.[120] Peluncuran film ini diikuti oleh novelisasi kehidupan Soegijapranata, yang dilakukan secara fiksi, oleh pengarang Katolik Ayu Utami.[121][122] Beberapa tulisan biografis yang bukan fiksi, yang ditulis baik oleh orang beragama Katolik maupun tidak, juga diterbitkan dalam kurung waktu itu.[122]

Dalam budaya populer Indonesia, Soegijapranata dikenang karena pernyataan "100% Katolik, 100% Indonesia".[1][4] Moto ini, yang sudah digunakan dalam iklan berbagai tulisan biografi serta film Soegija,[1] berasal dari pidato Soegijapranata saat Kongres Katolik Seluruh Indonesia di Semarang pada tahun 1954,[123] sebagaimana berikut:

Jika kita merasa sebagai orang Kristen yang baik, kita semestinya juga menjadi seorang patriot yang baik. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriotik sebab kita juga merasa 100% Katolik. Malahan, menurut perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara, dengan segenap hati.
—Soegijapranata, dikutip dalam Subanar (2005)

http://id.wikipedia.org/wiki/Albertu...Soegijapranata

“Soegija”, Sepenggal Kisah Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Antara film Soegija dan tokoh pahlawan nasional Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang dulu dikenal dengan sebutan Romo Kanjeng ada rentang sejarah yang teramat panjang. Soegija film layar lebar pertama hasil diprodusi Studio Audio-Visuat Puskat Yogyakarta baru lahir tahun 2012. Sementara tokoh yang ditampilkan melalui jalinan seluloid ini –yakni Romo Kanjeng—telah lama hilang dari peredaran.

Romo Kanjeng meninggal dunia di Steyl, Venlo, Negeri Belanda, tanggal 22 Juli 1963. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Semarang.

Romo Kanjeng yang lahir di Solo 25 November 1896 ini merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia. Romo Kanjeng mendapat gelar Pahlawan Nasional dari tangan Presiden Soekarno berdasarkan SK Presiden RI No 152/Tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963. Karena ketokohannya inilah, nama Romo Kanjeng diabadikan sebagai jalan raya di Semarang. Pun pula dimaterikan sebagai nama Universitas Katolik Soegijapranata, juga di Semarang.

Rentang waktu 49 tahun

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Lahir tahun 1896 dan meninggal tahun 1963, namun film Soegija baru “lahir” tahun 2012. Berarti ada rentang waktu 49 tahun dimana telah terjadi “kekosongan” informasi mengenai tokoh sepenting Romo Kanjeng ini. Padahal, sejarah mesti meletakkan peran Romo Kanjeng ini sebagai tokoh Gereja dan contoh anak bangsa dari golongan bumi putera (inlander) di balik upaya besar menggelorakan semangat silent diplomacy guna merebut empati dan simpati dunia internasional terhadap sebuah nation baru saja lahir dan itu bernama Indonesia.

Mereka yang lahir setelah kurun waktu tahun 1960-an, tentu sosok Romo Kanjeng merupakan figur asing. Menyebut namanya pun tak pernah sekelebat bisa mampir di memori orang. “Ah, siapa itu Romo Kanjeng alias Monsinyur Albertus Soegijapranata SJ?,” kata Anas, seorang guru kelahiran Bangka yang pernah studi Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma (USD).

USD adalah lembaga pendidikan tinggi asuhan para Yesuit. Begitu pula Romo Kanjeng pun seorang Jesuit. Namun, juga terbentang rentang waktu yang begitu panjang sehingga “orang penting” dari Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia ini juga kurang ngetop di kalangan para Jesuit muda dan apalagi mereka yang bukan Jesuit. Tapi untunglah, SJ Provindo punya Romo Gregorius Budi Subanar SJ –putra asli Yogyakarta dan alumnus SMA Teladan Yogya—yang di tahun 1996 mulai serius menggali sejarah, profil dan kiprah Romo Kanjeng Mrg. Soegijapranata SJ.

Studi kepustakaan dan riset di Belanda sengaja dilakukan Romo Banar demi keperluannya menulis disertasi untuh meraih gelar doktor bidang Sejarah Gereja di Universitas Gregoriana di Roma. Namun, siapa sangka kalau studi tersebut kini menjadi semacam “perpustakaan berjalan” bagi Gereja Indonesia untuk bisa mengungkit kembali tentang apa dan siapa Romo Kanjeng itu. Tentu, di tangan orang semacam Romo Budi Subanar SJ inilah yang bisa meletakkan sosok Romo Kanjeng ini pada jalinan peristiwa-peristiwa penting Indonesia usai memproklamirkan kemerdekaannya namun kedaulatannya tetap tergadaikan di tangan Belanda.

Jejak Langkah Karya Romo Van Lith SJ

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan NasionalMgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan NasionalMgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Lagi-lagi ada rentang sejarah yang teramat panjang guna bisa mempertautkan kaitan erat antara Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijpranata SJ dengan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahjono, nama lengkap IJ Kasimo.

Di pentas sejarah politik bangsa ini, keduanya merupakan tokoh besar pada paruh pertama sejarah politik nasional Indonesia era Orde Lama. Namun lebih tepatnya memang di tahun-tahun pertama sejak Indonesia lahir pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Sudah pada tahun 1963, Romo Kanjeng mendapat penghormatan negara dengan titel pahlawan nasional. Itu terjadi hanya selang tiga hari setelah beliau meninggal dunia di Negeri Belanda di tengah kesibukannya mengikuti persiapan Konsili Vatikan II. IJ Kasimo baru mendapat penghargaan itu tahun 2012 ini, sejak tokoh penting di balik berdirinya Partai Katolik ini wafat tanggal 1 Agustus 1986.

Anak didik pertama Romo Van Lith SJ

Yang mempertautkan kedua tokoh penting Gereja Indonesia dan pahlawan nasional itu tak lain adalah Romo Van Lith SJ. Adalah misionaris Jesuit asal Belanda inilah yang berhasil “menemukan” dua orang murid pribumi pada generasi pertama sekolah calon pastur dan sekolah pendidikan guru yang dirintis Romo Van Lith di Muntilan, Jawa Tengah.

Dari bangku seminari, muncullah nama Soegija yang kelak menjadi Uskup pribumi pertama yang memimpin Vikariat Apostolik Semarang dan kemudian Keuskupan Semarang. Sementara dari sekolah pendidikan calon guru Muntilah, lahirlah IJ Kasimo –menteri dan pendiri Partai Katolik—dan kemudian Drs. Frans Seda –putra Flores non seminaris—yang juga pernah duduk di jajaran kabinet era pemerintahan Presiden Soekarno.

Dari tangan Romo Van Lith SJ, tiga orang penting berhasil menjadi tokoh nasional di pentas sejarah politik nasional. Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ menjadi orang pertama yang merintis jalan di panggung diplomasi politik ini.

Proses menjadi “Indonesia”

Darimana Romo Kanjeng mulai mengenal “politik” dan barangkali juga mulai “berpolitik”? Bisa jadi ketika beliau tengah menjalani studi filsafat dan teologi di Belanda kurun waktu 1919-1928. Persis pada tahun-tahun itulah, sejumlah pemuda Indonesia yang tengah studi di Belanda –sebagai imbal balik Politik Etis (Balas Budi) yang dilancarkan Belanda—juga lagi gencar-gencarnya “merumuskan” identitas bersama.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Awalnya hanyalah sebuah nama organisasi mahasiswa Indoneis yang lagi belajar di Nederland dan itu mereka beri nama Indische Vereeniging atau Perhimpunan India yang resmi berdiri tahun 1908. Belakangan, perisnya tahun 1922, organisasi itu mengalami perubahan nama: dari “Indische” menjadi “Indonesische” Vereeniging. Kata penting “Indonesia” mulai tampil ke permukaan, sekalipun masih sebatas “komunitas imaginatif” untuk perkumpulan studen dari wilayah bernama Hindia Belanda,

Meski hidup di lingkaran rumah Jesuit, sebagai anak Bumi Putera sangatlah mustahil bagi Frater Soegija SJ waktu itu untuk tidak tahu-menahu mengenai pergerakan nasional membentuk “komunitas imaginatif” bernama Indonesia ini. Semangat nasionalisme Soegija bisa jadi tumbuh pada kurun waktu ini.

Usai menerimah tahbisan imamat dari tangan Mgr. Schrijnen –Uskup Roermond di Maastricht—tanggal 15 Agustus 1931, Soegija berubah menjadi Soegijapranata SJ. Tanggal 6 November 1940 di Gereja Randusari Semarang –sekarang Katedral Semarang– Romo Albertus Magnus Soegijapranata SJ menerima tahbisan uskup dari Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ, Vikaris Apostolik Malang Mgr. AJE Albers O’Carm, dan Vikaris Apostolik Palembang Mgr. HM Mekkelholt SCJ.

Cerdik seperti ular

Ketika Jepang memulai agresinya ke wilayah Asia Tenggara dan akhirnya mencaplok “Indonesia” sebagai wilayah jajahannya, Mgr. Soegijapranata SJ dan seniornya Mgr. Willekens SJ berjuang secara damai untuk kepentingan yang lebih besar selain hanya demi Gereja Indonesia. Yang diperjuangkan barangkali sangat heroik pada waktu itu: menghalangi Jepang yang berupaya menyita semua aset nasional peninggalan Belanda. Ketika semua imam, suster masuk internir (dipenjara), tinggallah Romo Kanjeng yang karena darah dan kulitnya Jawa asli bebas dari paksaan Jepang, namun harus kerja keras mengumpulkan semangat melawan Jepang yang semena-mena.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Ketika Gereja Randusari Semarang –kini Katedral Semarang—hendak disita Jepang untuk dijadikan tangsi tentara Jepang, dengan tegas Romo Kanjeng bersuara lantang: “Ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dahulu kepala saya, maka Tuan baru boleh memakainya.”

Ketika komandan militer Jepang tetap memaksa Romo Kanjeng “menyerahkan” Gereja Randusari, Mgr. Albertus Magnus Soegipranata SJ berujar tegas: “Gedung bioskop masih cukup luas. Tempatnya pasti juga strategis.”

Pun pula, ketika Gereja Atmodirono juga dilirik Jepang, buru-buru Romo Kanjeng mengelabuhi tentara Kekaisaran Jepang ini dengan trik melalui labeling nama pada pintu-pintu agar dikira semua ruangan ada penghuninya.

Antara “Soegija” dan Soegijapranata SJ

Bagaimana harus meletakkan peran penting Romo Kanjeng Mgr. Albertus Magnus Soegijapranata SJ dalam konteks sejarah panjang proses “menjadi Indonesia”?

Romo Budi Susanto SJ –jesuit anthropolog lulusan Cornel University—sekali waktu menulis paparannya dengan meletakkan Romo Kanjeng Mgr. Soegijapranata pada zamannya. Era Romo Kanjeng sungguh sezaman –demikian tulis Romo Budi Susanto SJ— dengan era Presiden pertama RI Ir. Soekarno yang kala itu dikenal dengan sebutan Penyambung Lidah Rakjat.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
100 persen katolik, 100 % Indonesia yang menjadi sesanti abadi Romo Kanjeng rasanya bisa mengungkapkan betapa uskup pribumi pertama di Indonesia ini punya perhatian besar akan bagaimana seharusnya mengembangkan kebangsaan (nasionalisme) dan Gereja Indonesia yang nasionalis.

Proses “menjadi Indonesia”

Bung Karno –Sang Proklamator dan Penyambung Lidah Rakjat- bergerak pada tataran politik praktis dalam tata pengelolaan negara dan pemerintahan. Sementara, Romo Kanjeng bergerak menggelorakan semangat nasionalisme Indonesia melalui jalur diplomasi gerejani. Jasanya terbesar yang sudah dilupakan banyak orang adalah fakta cepatnya respon positif yang diberikan Vatikan hingga Tahta Suci ini termasuk di antara negara-negara pertama yang akhirnya mengakui kemerdekaan RI.

Itu berarti lahirnya nation baru bernama Indonesia mulai diakui di pentas politik internasional waktu itu. Proses “menjadi Indonesia” bergulir di Nusantara dan di panggung internasional. Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ ikut membidani lahirnya proses “menjadi Indonesia” itu.

Lahirnya "Soegija"

Tahun 2012 ini akhirnya lahirlah Soegija. Maka film layar lebar yang sejatinya pernah mau diberi titel Silent Diplomacy ini mesti dilihat sebagai jendela untuk melihat sejarah masa lalu era tahun 1940-an. Era dimana Romo Kanjeng Mgr. Soegijapranata SJ telah “naik pentas” menjalankan diplomasi damai namun tegas untuk mengembangkan ke-Indonesia-an di pentas dunia. Romo Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta secara pribadi ingin lebih memaknai film Soegija sebagai media visual untuk menghadirkan kembali sisi-sisi “tak kelihatan” dari seorang tokoh Gereja Indonesia bernama Romo Kanjeng yang berjasa besar mengembang model Gereja Indonesia yang nasionalis dan cinta damai.

Mengutip omongan kelakar seniman Djaduk Ferianto beberapa waktu lalu, Romo Murti Hadi SJ menyebut Romo Kanjeng ini sebagai pahlawan nasional yang “keselip” alias tidak kelihatan dalam pentas penulisan sejarah nasional. Padahal, jasa dan peran Romo Kanjeng ini sangat besar. Barangkali karena tidak angkat senjata, makanya sejarah dan profil Romo Kanjeng ini jadi tidak menarik bagi para penulis sejarah era Orde Baru yang lebih banyak memberi atensi berlebihan kepada tokoh-tokoh politik dan militer.

Romo Kanjeng bergerak di jalur diplomasi di pentas internasional. Karena itu, figur ketokohannya menjadi tidak menarik diabadikan dalam bentuk narasi historik oleh para penulis buku-buku sejarah era Orde Baru. Nyaris tak pernah muncul nama Romo Kanjeng dalam buku-buku pelajaran sejarah.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Lalu mengapa kemudian harus lahir Soegija pada tahun 2012 ini?

Romo Murti Hadi SJ dari Puskat Yogyakarta yang boleh dibilang menjadi produser eksekutif Soegija ini sekali waktu bertutur, film Soegija ini jangan dimaknai hanya sebagai hasil kreasi seni dengan keindahan artistik atau media komunikasi semata. “Soegija merupakan jendela masa lalu untuk melihat masa kinim” tulisnya dalam sebuah media internal.

Melalui Soegija ini, kata Romo Murti, bangsa Indonesia bisa bercermin diri tentang tokoh nasional masa lalu –kebetulan saja dia itu katolik dan uskup lagi—yang selalu mengedepankan semangat nasionalisme sejati untuk sebuah kepentingan nasional melewati batas-batas sektarian seperti jatidiri agama.

Soegija melalui Soegija adalah teladan tentang bagaimana seorang pemimpin harus berjiwa nasionalis sejati. Soegija memanglah seorang pemimpin agama (Gereja Katolik dan persisnya Uskup Vikariat Apostolik Semarang). Namun melalui Soegija, Soegija telah memperlihatkan bagaimana Romo Kanjeng ini berani keluar dari pagar kekatolikannya dan berpikir untuk seluruh bangsa ini. “Di tengah-tengah situasi maraknya radikalisme agama-agama di negeri ini, film Soegija ini menyajikan figur agamawan yang berpikiran luas dan terbuka pada keberagaman bangsa Indonesia ini,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

“Soegija” Lahir dari Rahim Bernama Kolaborasi Lintas Tokoh

Membicarakan Soegija, rasanya tak bisa melepaskan peran besar Studi Audio-Visual (SAV) Puskat Yogyakarta, sebuah medan karya kerasulan asuhan Ordo Serikat Yesus Provinsi Indonesia di bidang pelayanan komunikasi sosial melalui media elektronik. Seperti diakui sendiri oleh Romo Murti Hadi SJ dari SAV Puskat, lahirnya film Soegija ini berasal dari kerja keras sekalian penggiat kegiatan multi-media Puskat.

SAV Puskat Yogyakarta itu sendiri sudah eksis sejak tahun 1970-an yang didesain sebagai laboratorium yang menyediakan sarana-sarana pengajaran bagi para calon kategis yang tengah menimba ilmu pedagogi pengajaran agama di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik (STFKat) di Jl. Jazuli, Kotabaru, Yogyakarta. Persis samping-menyamping dengan Kolese St. Ignatius “Kolsani” di Jl. Abubakar Ali No. 1 Yogyakarta, SAV Puskat Yogyakarta sungguh hanya selemparan baru dari dari Gereja St. Antonius Kotabaru.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Mengutip paparan Romo Murti Hadi SJ dalam sebuah edaran berita internal, awalnya Soegija lahir melalui sebuah proses kreasi an panjang. Tahun 2004, tulis Romo Murti Hadi SJ, SAV Puskat memroduksi video dokumenter tentang 100 Tahun Sendang Sono sebagai tempat bersejarah lahirnya kekatolikan di Tanah Jawa ini. Tahun 2006 bergulirlah video dokudrama Bethlehem van Java yang berkisah tentang Romo Van Lith sebagai tokoh penting dalam sejarah kekatolikan di Jawa ini.

Muncullah “Soegija”

Masih menurut Romo Murti Hadi SJ, sejak bergulir dua dokumen video itu lalu muncullah ide untuk memroduksi trilogi video tentang sejarah kekatolikan di Indonesia. Nah, pada tahapan ini muncullah nama Romo Kanjeng Mgr Albertus Soegijapranata SJ—salah satu murid generasi pertama hasil didikan Romo van Lith SJ selain IJ Kasimo—yang di kemudian hari menjadi uskup Indonesia pribumi yang pertama.

Soegija menjadi menarik untuk dikemas dalam sebuah cerita multimedia dalam wujhud seloloid, karena Romo Kanjeng ini juga resmi menyandang predikat pahlawan nasional sejak tahun 1963. Teman Romo Kanjeng yakni IJ Kasimo malah baru menyandang predikat pahlawan nasional ini tahun 2012. Menjadi makin menantang dan menarik, apalagi ada sesanti abadi Romo Kanjeng yang hingga kini tetap berkumandang relevan: “Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia”.

Kerja kolegial lintas tokoh

SAV Puskat Yogyakarta menggandeng rekan imam yesuit lainnya yakni Romo Dr. Gregorius Budi Subanar SJ untuk menggarap tema besar ini. Menurut Romo Murti Hadi SJ, pilihan memilih Romo Banar SJ menjadi sangat relevan, justru karena doktor bidang sejarah gereja alumnus Universitas Gregoriana di Roma ini menulis disertasinya tentang hal-ikhwal Romo Kanjeng. Barulah setelah konsep melahirkan “sejarah Romo Kanjeng” diretas, SAV Puskat mencari mitra kerja untuk mewujudkan projek besar ini. Garin Nugroho –alumnus SMA Loyola Semarang—lalu digandeng bekerja sama sebagai sutradara. Sementara musisi Kua Etnika Djaduk Ferianto –putra seniman besar Bagong Kusudiardjo yang asli Yogyakarta—didapuk menjadi arranger untuk ilustrasi musiknya.

“Dari yang semula hanya ingin diproduksi menjadi cakram video, akhirnya Soegija berkembang menjadi jalinan cerita lebih komplet dalam bentuk film layar lebar,” tulis Romo Murti Hadi SJ dalam paparannya di sebuah edaran berita internal.

Memilih tepat

Romo Murti Hadi SJ menggarisbawahi komitmen SAV Puskat Yogyakarta selaku produser film Soegija ini. Menurut putra daerah asli kelahiran Panca Arga di Magelang ini, pemilihan mitra kerja hingga akhirnya menggandeng Garin Nugroho lebi dilandasi oleh persamaan visi yang sama akan pentingnya semangat dan gerakan multikulturalisme. “Meski Garin adalah seorang muslim, namun kami memiliki visi yang sama tentang concern yang sama pula,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Nah, apalagi politik kepentingan di Indonesia sekarang ini cenderung menguat. Padahal, zaman dulu ketika masih berkecamuk Perang Gerilya untuk merebut dan kemudian mempertahankan Kemerdekaan RI—yang ada hanyalah semangat bersama untuk senantiasa guyub memperjuangkan kepentingan nasional. “Pada masa itu, sebagai bangsa Indonesia yang baru lahir, semua golongan lintas sektarian jati diri agama malah bisa bersatu padu demi sebuah kepentingan bersama yakni Indonesia yang merdeka dan berdaulat,” tulis Romo Murti Hadi.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Proses panjang “melahirkan” Indonesia dan kemudian tahapan “menjadi Indonesia” telah melahirkan tokoh-tokoh nasional berjiwa nasionalis dan tiada semangat sektarian di dalamnya. Film Soegija harus lahir untuk menjawab kerinduan seperti itu. “Kita rindu pemimpin yang berpikiran luas; pemimpin nasional yang berani keluar dari pagar fanatisme golongannya; pemimpin yang tidak hanya memikirkan kepentingan golongannya sendiri, tetapi berpikir luas untuk seluruh negeri, untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Seperti Soegija sendiri, kata Romo Murti Hadi SJ, film produksi SAV Puskat ini meski berlatarbelakang katolik tetapi bukan sebuah film tentang dakwah keagamaan. “Kita ingin bicara tentang ke-Indonesia-an, tentang kemanusiaan universal, dan film ini memang sebuah persembahan untuk bangsa Indonesia,” tandasnya.

http://www.sesawi.net/2012/05/18/soe...apranata-sj-1/
http://www.sesawi.net/2012/05/18/rom...van-lith-sj-2/
http://www.sesawi.net/2012/05/19/ant...apranata-sj-3/
http://www.sesawi.net/2012/05/19/soe...intas-tokoh-4/
“Soegija”, Bukan Film Perang apalagi Film Agamis

Lantaran mengangkat figur tokoh katolik sekaliber Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata ke layar lebar, banyak orang lantas bertanya apakah ini film agamis dengan maksud penyebaran iman katolik? Terhadap sentimen negatif dan tudingan miring ini, aktor panggung Sang Raja Monolog Butet Kartaredjasa punya argumennya sendiri.

Menurut anak kandung seniman besar Bagong Kussudiardjo ini, tidak ada unsur propaganda iman katolik dalam film Soegija. Jalinan cerita dalam seluloid ini lebih mengedepankan tataran nilai kemanusiaan universal. Juga bukan sebuah otobiografi Romo Kanjeng.

Tudingan bahwa dengan menonton film Soegija orang lalu berubah imannya juga dianggap terlalu mengada-ada. Demikian penegasan Djaduk Ferianto –adik kandung Butet—yang dipercaya menjadi penata musik film Soegija ini.

Memotret heroisme era Indonesia “balita”

Menurut press release resmi Studi Audio-Visual Puskat Yogyakarta yang ditulis FX Tri Mulyono, film Soegija harus dilihat sebagai “dokumentasi sejarah” berbentuk audio-visual yang memotret heroisme yang digelorakan seorang anak Bumi Putera bernama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang kebetulan menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia ini. Kehebatan seorang Soegijapranata SJ lebih pada kemampuannya mengolah rasa nasionalisme dan cintanya yang besar pada “tradisi” ke-Indonesia-an dan punya perhatian besar pada kaum lemah. Pencitraan akan perlunya dibangun semangat nasionalisme kepada bangsa dan negara bernama Indonesia itulah yang merupakan sumbang sih paling besar dari seorang katolik bernama Soegijapranata SJ.

SAV Puskat Yogyakarta ingin menyebut film Soegija ini bak sebuah lentera perdamaian dimana sebuah film tentang masa lampau dihadirkan karena di situ tergelar semangat perdamaian. “Meskipun dalam keadaan perang, tetapi tidak boleh ada kebencian yang hidup di dalam hati kita,” tulis FX Tri Mulyono mengenang sesanti Romo Kanjeng –panggilan populer untuk menyapa Uskup Vikariat Apostolik Semarang kala itu: Mgr. Albertus Soegijpranata SJ.

Ketika Jepang menyerah kalah di hadapan Sekutu, di Semarang masih bergelora semangat besar di antara para pemuda Bumi Putera untuk menghabisi tentara Dai Nippon ini. Meski Perang Lima Hari sempat pecah di Semarang (15-20 Oktober 1945), Mgr. Soegijapranata berhasil melunakkan hati para pemuda Bumi Putera untuk mengesampingkan kebencian terhadap Jepang.

Bertempat di Gereja Gedangan Semarang, Mgr. Soegijapranata berhasil mempertemukan pemimpin militer Tentara Sekutu dengan komandan militer Jepang untuk menghentikan perang. Lentera perdamaian bersemi di Gereja Gedangan Semarang. “Nah, semangat membawa lentera perdamaian itulah yang mesti terus dinyalakan oleh segenap anak bangsa ini dan terus kita tularkan. Melalui film Soegija, kita tidak bicara tentang dakwah agama. Melainkan lebih ingin mengajak kita semua menata kembali karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal luhur dan bermartabat,” tulis FX Tri Mulyono.

Kemanusiaan itu satu

Soegija diangkat menjadi uskup tanggal 6 November 1940, ketika Jepang sudah mulai bersiap mengincar Indonesia menjadi tanah jajahannya. Ia muncul sebagai tokoh Gereja pada saat panggung internasional dihantam Perang Dunia II. Namun Mgr. Soegijapranata SJ dengan caranya sendiri yang sangat khas mengumandangkan semangat nasionalisme Indonesia justru pada saat Indonesia masih “balita” karena baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.

“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan,” seru Mgr. Soegijapranata SJ pada banyak kesempatan.

Mgr. Soegijapranata –demikian tulis FX Tri Mulyono—hadir sebagai tokoh perekat bangsa. Beliau muncul sebagai figur nasional yang melampaui zamannya. Terutama ketika saat itu memang membutuhkan hadirnya tokoh-tokoh nasionalis dan punya wawasan luas dan terbuka terhadap keanekaragaman identitas yang ada di tanah Bumi Putera ini. Mgr. Soegijapranata SJ hadir melengkapi “koleksi” figur-figur nasionalis sekelas Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, IJ Kasimo dan masih banyak lagi.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Menurut catatan FX Tri Mulyono, Mgr. Soegijapranata mengajarkan tatanan nilai kemanusiaan universal dan bagaimana beliau sendiri menghayati nilai-nilai itu. Untuk itu, beliau berani menggelorakan roda semangat anti kolonialisme dengan sikap tegas, konsisten dan mengedepankan “sikap politik” yang jelas. Karena itulah lalu lahir sesanti abadi yang hingga ini tetap relevan dihayati bagi segenap insan katolik: “Menjadi 100 % katolik, 100 % Indonesia”.

Itulah sebabnya, Mgr. Soegija pun berani memutuskan memindahkan “pusat pemerintahan” gerejani Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta. Sebuah keputusan berani dia ambil guna memberi dukungan terhadap pemerintah Indonesia yang masih “balita” dimana saat itu harus pindah ke Yogyakarta.

Kemampuan Mgr. Soegijapranata SJ mengutarakan gagasan secara jelas dalam bentuk tulisan dan kemahirannya membaca “tanda-tanda zaman” membawa Indonesia yang masih muda ke pentas internasional. Intinya, Gereja Katolik Indonesia bersatu dengan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta mempertahankan eksistensi kemerdekaan Indonesia dari segala kemungkinan dikikis oleh kekuatan kolonialisme asing.

Jadi, menjadi jelas sekali lagi bahwa Soegija bukan sebuah film tentang dogma pengajaran agama. Soegija bercerita tentang nasionalisme dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Juga bukan film perang

Teaser yang dibuat SAV Puskat Yogyakarta dengan mengedepankan thriller Soegija memang bisa sekejap melahirkan kesan sebagai film eksyen atau perang. Kalau ingin didapuk menjadi film eksyen, sudah barang tentu Soegija akan mengumbar adegan-adegan kekerasan.

Penonton sudah pasti akan kecele. “Soegija sama sekali bukan fim perang,” kata co-executive producer Romo Murti Hadi SJ dalam sebuah edaran berita internal.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
“Justru kekerasan itulah yang ingin dilawan oleh film Soegija ini. Kekerasan adalah ‘musuh’ semua agama. Semua manusia merindukan damai. Tidak ada orang yang benar-benar jahat dalam film ini. Semua orang punya rasa kemanusiaan di dalam hatinya. Inilah yang menjadikan film ini punya karakter kuat,” tulisnya kemudian.

Dalam situasi perang, semua orang tanpa memandang wana kulit dan agama menjadi korban keganasan ideologi dan senjata. Yang muncul justru sebuah tragedi sejarah manusia. “Tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Itu karena semua orang menjadi korban politik. Semua orang diaduk-aduk hatinya,” tandasnya.

Ideologi politik dan nafsu akan kekuasaan senantiasa melemparkan manusia pada sebuah tragedi. Perang antarmanusia sudah barang tentu akan membuat manusia terjerembab dalam kenistaan. Nah, setting cerita dimana nilai kemanusiaan orang-orang Indonesia di ambang ketragisannya itulah yang ditonjolkan dalam film Soegija ini.

“Setting yang diambil adalah Indonesia pada kurun sejarah antara tahun 1940-1949. Ini merupakan masa krusial bagi bangsa Indonesia, karena kurun waktu itu merupakan masa Perang Kemerdekaan. Seluruh pergerakan di Indonesia menuju satu tujuan yaitu Indonesia Merdeka. Soegija berdiri bersama bangsa ini dan mengawal kelahiran sebuah bangsa besar yang bernama Indonesia,” tandas Romo Murti Hadi SJ.

Diplomasi Diam Mgr. Albertus Soegijapranata SJ

Sebegitukah penting peran Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dalam konteks sejarah nasional Indonesia? Di banyak buku pelajaran sejarah nasional, nyaris tak pernah terbaca nama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dan apalagi peran beliau telah “mengenalkan” nation baru bernama Indonesia yang waktu itu masih usia balita ke dunia internasional.

Tahun 1940 ketika Romo Soegija diangkat menjadi uskup Indonesia pribumi pertama, dunia tengah dihantam badai besar bernama Perang Dunia II. Kala itu, Indonesia asih ada dalam genggaman erat Belanda. Namun, sejatinya “Indonesia” juga sudah mulai diincar Jepang. Apalagi saat itu, Dai Nippon juga itu lagi gencar-gencarnya mempropagandakan semboyan politik “3A” ke wilayah Asia Pasifik –dan tak terkecuali termasuk “Indonesia”– yang sejatinya belum lahir.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Propaganda “3A”

Jepang punya maksud dan tujuan politik dengan gencarnya melakukan propaganda bersemboyankan “3A”. Tujuannya tak lain agar “Indonesia” bersedia membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) melawan Amerika Serikat. Karena itu, makin bergeloralah semboyan 3A yang berbunyi “Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia”.

Nah, mewujudkan ambisi politiknya menguasai Asia Pasifik dan “Indonesia”, Jepang mau tak mau harus merebut hati para pemimpin Indonesia. Guna keperluan itu, tentara Dai Nippon lalu mendarat di Pantai Tarakan di Kalimantan Timur dan selanjutnya menyeberang ke Jawa. Terhadap para pemimpin Indonesia, Jepang sengaja menyebut diri sebagai “Saudara Tua”. Kata mereka waktu itu, “Saudara Tua” ini akan membantu membebaskan “Indonesia” dari tangan kolonialisme Belanda.

Dengan sengaja, saya menaruh kata “Indonesia” di antara tanda kutip, karena senyatanya nation dan negara bernama Indonesia waktu itu belum eksis atau lahir.

Harus anak Bumi Putera

Nah, menjawab pertanyaan di atas, Romo Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta memberikan wawasannya. Dalam sebuah edaran berita internal, romo kelahiran Panca Arga di Magelang ini menuturkan, kata “pribumi” yang merekat erat pada sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ menjadi sangat penting pada era “Indonesia” saat bumi Nusantara dijajah Jepang.

Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Gereja mencemaskan, kalau bibit-bibit kristianitas di kalangan masyarakat pribumi di Jawa waktu itu dalam sekejap akan digilas habis oleh tentara Dai Nippon. Karena itu, Vatikan harus mencari sosok uskup pribumi yang mampu memimpin Gereja lokal dari ancaman pemberangusan Jepang. “Meski masih banyak imam-imam misionaris Belanda yang waktu itu ada di Jawa, Tahta Suci akhirnya menetapkan Romo Soegija menjadi Uskup,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Menantang samurai Jepang

Perjalanan sejarah waktu itu memang bisa ditebak arahnya. Tantangan pertama Uskup Mgr. Soegijapranata SJ –demikian tulis Romo Murti Hadi SJ—adalah “menghadapi” rezim kolonialis baru yakni Jepang yang mulai bercokol di Jawa sejak tahun 1942. Ketika semua aset nasional berbau Belanda hendak disita tentara Dai Nippon, Mgr. Soegijapranata maju ke depan untuk melawan secara damai. Bahkan dalam sebuah episod menarik dikisahkan bagaimana Mgr. Soegijapranata merelakan kepalanya dipenggal samurai Jepang demi mempertahankan kompleks bangunan Gereja Randusari Semarang yang hendak disita menjadi markas tentara Jepang.

Ketika Jepang akhirnya mengaku kalah dan tunduk kepada Tentara Sekutu usai pemboman mematikan di Hiroshima dan Nagasaki, Mgr. Soegija kembali memainkan perannya mendukung pemerintahan baru Indonesia di bawah bayang-bayang ancaman agresi militer Belanda. Merasa solider dan senasib dengan bangsa ini, Mgr. Soegijapranata dengan berani memindahkan “pusat kekuasaan” Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta, seiring dengan keputusan pemerintah Indonesia waktu itu yang telah memindahkan pusat kekuasaan dari Jakarta ke Yogyakarta.

“Selama terjadi agresi militer Belanda pada Clash I dan II, Mgr. Soegijapranata ikut berdiplomasi menyuarakan kemendesakan kedaulatan Indonesia yang waktu itu masih digenggam erat Belanda sampai akhirnya digelar Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

“Untuk keperluan segenting itu, Mgr. Soegijapranata SJ bahkan mendesak Tahta Suci segera mengirim seorang duta ke Indonesia sebagai bentuk pengakuan Gereja Internasional akan kedaulatan Indonesia. Gereja katolik termasuk dalam deretan bangsa-bangsa yang pertama kali mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia ini, bahkan sebelum Belanda menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada Indonesia pada tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Romo Kanjeng dalam Kilasan Sejarah Indonesia

Berikut ini paparan Romo Murti Hadi Wijayanto SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta tentang sejumlah episod penting kiprah berpolitik Mgr. Albertus Soegijpranata SJ dalam perjalanan sejarah politik nasional sebagaimana muncul di sebuah blog [url=http://www.romokanjengthemovie.com.]www.romokanjengthemovie.com.[/url]

1 Agustus 1940: Pasturan Gereja Bintaran Santo Yusuf, Yogyakarta

Romo Soegija SJ menerima telegram dari Vatikan diangkat jadi uskup. Siaran dari MAVRO (Studio Radio di Yogyakarta) juga mengumumkan berita telegram yang sama.

6 November 1940: Gereja Randusari Semarang (sekarang Katedral Semarang)

Romo A. Soegija SJ ditahbiskan menjadi Uskup. “Umatku semua, Inilah gembalamu,” tutur Uskup Vikariat Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ sebagai uskup penahbis di ujung acara tahbisan uskup.

1942: Jepang masuk Indonesia

Armada tentara Jepang mendarat di Indonesia melalui jalur Sandakan dan Tarakan di Kalimantan Timur. Begitu mereka merapat ke Jawa, semua pastur, suster dan bruder keturunan Belanda harus masuk penjara (diinternir) dan semua aset Gereja disita Jepang.

6 dan 9 Agustus 1945: Hiroshima dan Nagasaki dibom AU Amerika Serikat

Di tengah vacum of power, Dwitunggal Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Inggris mengambil alih tata kelola pemerintahan Jepang di Indonesia di tengah masa kritis Indonesia yang masih “balita”. Masa peralihan di tengah kekawatiran penyusupan tentara Belanda melalui NICA inilah, peran penting Mgr. A. Soegijapranata sebagai anak bangsa menjadi penting.

15-20 Oktober 1945: Pertempuran Lima Hari di Semarang

Ketika tentara Sekutu memasuki Semarang, kota ini nyaris mati karena sebelumnya terjadi kontak senjata antara pemuda nasionalis melawan tentara Jepang. Semarang diblokade Jepang, termasuk Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan. Kedatangan rombongan tentara Sekutu menjadi “momentum” bagi Mgr. Soegijapranata untuk melakukan perundingan antara pasukan Sekutu dan tentara Jepang. Apalagi beredar kabar, tanggal 20 itu pula militer Jepang akan menjebak para pemuda nasionalis dan menghabisi mereka di Karang Tempel. Mgr. Soegijapranata berhasil meredam emosi Jepang dan menggagalkan aksi penyergapan itu dan berhasil “menyelamatkan” jiwa para pemuda pejuang. Blokade juga berhasil dibuka kembali.

Pertempuran Lima Hari di Semarang membawa kota ini serba kekurangan. Ketika kerusuhan akibat minimnya sandang pangan melanda Semarang, bersama para tokoh lokal seperti RS Dwidjosoewojo dan RM Sadat Kadarisman, Mgr. Albertus Soegijapranata ikut membidani lahirnya Komite Penolong Rakyat. Hasil diplomasinya ke Jakarta dengan menemui PM Sutan Sjahrir membawa hasil: Semarang mendapat kucuran bantuan sandang pangan. Untuk menata kembali Semarang maka diangkatlah Mr. Ikhsan menjadi Wali Kota Semarang.

21 Juli 1947: Agresi Belanda I

Sejak tahun 1946, pusat pemerintahan Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta memutuskan berkantor di Yogyakarta, sementara PM Sutan Syahrir tetap berkantor di Jakarta. Didorong oleh keprihatinan terhadap nasib bangsanya, Mgr. Soegijapranata juga memindahkan Vikariatnya ke Yogyakarta dan tinggal di Pasturan Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta.

Ketika pasukan Belanda melancarkan serangan militer yang disebutnya sebagai Aksi Polisionil, Mgr. Albertus Soegijapranata tengah retret pribadi di Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan, Surakarta (Solo). Ketika situasi genting membahana, Romo Kanjeng tampil ke depan mimbar dan mulai berpidato di RRI Solo.

Tanggal 1 Agustus 1947, pidato itu dibacakan di RRI Surakarta pada pukul 20.00 malam. Isi pidato itu berujung pada desakan untuk gencatan senjata demi kehormatan kedua belah pihak. Romo Kanjeng membacakan pidatonya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Pidato itu juga merupakan pernyataan sikap umat katolik di Indonesia yang akan berpihak dan berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat.

19 Desember 1948: Agresi Militer II

Pada pagi hari pukul 05.30 tertanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta, kala itu Ibukota Republik. Soekarno dan Hatta akhirnya ditangkap tentara Belanda. Dalam kondisi sulit ini, Romo Kanjeng ikut merawat anggota keluarga Soekarno. Kontak intensif dengan Raja dan Penguasa Yogyakarta yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX lalu dilakukan. Sekali waktu ketika didatangi para pemuda katolik, Mgr. Soegijapranata murka atas pertanyaan apakah perlu panggul senjata atau tidak melawan Belanda. “Pergilah berjuang dan baru kembali kalau sudah mati,” kata Romo Kanjeng,

Melalui tulisan-tulisannya di majalah Commonwealth untuk khalayak pembaca di Amerika Serikat, Romo Kanjeng berusaha membuka blokade Belanda. Tulisan ini membuka mata dunia tentang perlakuan tak beradab tentara Belanda yang tetap ingin menguasai Indonesia. Tekanan dunia internasional inilah yang akhirnya membawa Belanda bersedia berunding di Den Haag untuk Konferensi Meja Bundar (KMB) hingga akhirnya kedaulatan Indonesia resmi diserahterimakan tanggal 27 Desember 1949.

Ketika mulai pindah ke Semarang, kembali Romo Kanjeng berhadapan dengan meluasnya ideologi komunisme. Bersama Romo Dijkstra SJ, Romo Kanjeng membidani lahirnya lahirnya serikat-serikat buruh, nelayan dan petani dengan labeling “Pancasila”.

1963: Konsili Vatikan II

Sebagai uskup, Mgr. Albertus Soegijapranata hadir di Roma mengikuti Konsili Vatikan II. Sekalian waktunya dia pakai berobat dan mengunjungi keluarga-keluarga para misionaris di Nederland. Beliau ingin mengucapkan terima kasih. Namun karena kelelahan, akhirnya pada tanggal 22 Juli 1963 pukul 22.20 setempat beliau meninggal dunia. Berita ini sampai ke telinga Presiden Soekarno dan tiga hari kemudian lalu menerbitkan surat pengangkatan almarhum Romo Kanjeng sebagai pahlawan nasional.

http://www.sesawi.net/2012/05/20/soe...film-agamis-5/
http://www.sesawi.net/2012/05/21/soe...apranata-sj-6/
http://www.sesawi.net/2012/05/22/rom...indonesia-7-2/
Tutup Usia

Bak ungkapan pepatah lama berbunyi “Binatang mati meninggalkan belang; manusia mati meninggalkan nama”, maka berita meninggalnya Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ di Negeri Belanda –di tengah kesibukannya mengikuti Konsili Vatikan II– segera mendatangkan simpati nasional. Tak kurang, Ibu Negara RI Ny. Fatmawati –ibunda kandung mantan Presiden Megawati Soekarnoputri– menyempatkan diri hadir melayat mengiringi jenazah Uskup Indonesia pribumi pertama ini.

Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ meninggal dunia di Steyl, Venlo, Nederland, tanggal 22 Juli 1963 pada usia 66 tahun. Mengapa di tengah kesibukannya mengikuti sidang-sidang Konsili Vatikan II di Roma, almarhum Romo Kanjeng malah menyempatkan diri beranjangsana ke Nederland?

Tiada lain tiada bukan karena Romo Kanjeng ingin mengunjungi keluarga-keluarga katolik di Nederland darimana para pastur misionaris Belanda itu lahir dan berasal. Selain berobat, Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ punya niat luhur dengan kepergiannya ke Negeri Belanda. Yakni, ingin mengucapkan terima kasihnya sebagai pimpinan Gereja Lokal di Vikariat Apostolik Semarang kepada keluarga-keluarga katolik di Nederland itu atas sumbang sih mereka mengizinkan putra-putranya menjadi imam dan dikirim ke tanah misi Nederlandsch Indie.

Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ sudah lama wafat. Namun karya dan semangatnya masih relevan untuk terus dikenang oleh anak-anak bangsa yang merindukan semangat nasionalis tanpa sekat-sekat jatidiri agama, kebudayaan, kultur, warna kulit, etnis, dan bahasa.

Jenazah Romo Kanjeng dibawa pulang ke Indonesia dan selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal di jantung kota Semarang, Jawa Tengah. Hanya selang tiga hari setelah beliau meninggal, Presiden pertama RI Ir. Soekarno langsung menetapkan almarhum sebagai Pahlawan Nasional sebagaimana termaktub dalam SK Presiden RI No 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963.

Seperti kata Santo Ireneus: Gloria Dei Vivens Homo (Kemuliaan Tuhan tercermin pada manusia yang hidup sepenuhnya), pun pula keinginan Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata yakni Indonesia yang merdeka dan berdaulat karena di situlah karya agung Tuhan menjadi tampak mengemuka dengan lebih jelas.

Galeri

Spoiler for Romo Kanjeng semasa masih muda belia sebagai Fr. Soegija SJ:


Spoiler for Romo Kanjeng bersama seorang pastur Belanda dari Ordo Salib Suci (OSC) saat pemberkatan Universitas Katolik Parahyangan Bandung:


Spoiler for Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata di sebuah acara nasional bersama para pemuda dan anggota Pandu –kini Pramuka.:


Spoiler for Romo Kanjeng hadir dalam sebuah pertemuan kenegaraan bersama Presiden pertama RI Ir. Soekarno dan beberapa tokoh penting lainnya.:


Spoiler for Jenazah Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ disemayamkan di Semarang:


Spoiler for Proses pemakaman dimana ikut hadir Ibu Negara RI Ny. Fatmawati Soekarno –ibunda mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri– yang berdiri pada urutan kedua dari sisi kanan dan mengenakan kacamata:


Spoiler for Para romo dengan iringan pejabat militer dan kepolisian RI ikut mengawal iring-iringan pembawa peti jenazah almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata untuk kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal di Semarang, Jawa Tengah.:


http://www.sesawi.net/2012/05/21/rom...ekaman-foto-8/
http://www.sesawi.net/2012/05/21/lag...ekaman-foto-9/
http://www.sesawi.net/2012/05/21/fot...p-kisahnya-10/
emoticon-Selamat buat soegija emoticon-Selamat
emoticon-Matabelo

panjang amir
ijin nyimak gan, ceritanya panjang bgt, btw hormat ane buat para pahlawan bangsa..

emoticon-I Love Indonesia
ga ada sumber beritanya.
dicantumkan donk

emoticon-Big Grin
Dari id dan isi beritanya gw tau apa maksud si TS emoticon-Cape d... (S)
Kalo mau ngerusuh masih lurus lagi gan
trid ini pasti sepi karena kebanyakan tapir2 dimari adalah berhaluan paham kebencian
pindahin ke forum sejarah dan xenology aja,, banyak ilmunya emoticon-Big Grin
selamat ya buat uskup soegija
Saya sendiri Katolik.......
Namun saya kurang suka bila hal ini ada di Forum BP......

Lebih baik pindahkan ke forum Sejarah aja............


Quote:Original Posted By v4vigilius
Dari id dan isi beritanya gw tau apa maksud si TS emoticon-Cape d... (S)
Kalo mau ngerusuh masih lurus lagi gan


Id2 kudus ya gan.........

Yah, mungkin bisa jadi.........

-wwww-

sumpah deh baru kali ini baca thread di BP jadi ngantuuk buuaannggeet..
Suatu pencerahan ya....!!!

Terima kasih TS...!!!

emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)