alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5252574afeca17792b000008/hasil-otopsi-7-jenazah-pahlawan-revolusi-utuh-semua
Hasil otopsi, 7 jenazah Pahlawan Revolusi utuh semua
JURNAL3 | Meski sudah puluhan tahun terjadi, peristiwa tragis pemberontakan G 30-S/PKI 1965 yang diisukan hendak melakukan kudeta di negeri ini, terus menjadi perdebatan menarik. Peristiwa dini hari itu hingga ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban.

Peristiwa G 30-S/PKI, ditandai dengan tewasnya 6 jenderal dan 1 perwira yang semuanya dikubur dalam satu lobang sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede, Jakarta Timur, dekat bandara Halim Perdanakusuma.
Mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi di sumur Lubang Buaya bukan perkara gampang saat itu. Teknologi belum semaju saat ini. Kondisi sumur yang dalam dan sempit serta bau mayat yang mulai membusuk, membuat evakuasi teramat sulit dilakukan.

Dengan telaten, para prajurit dari Kompi Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KIPAM KKO-AL), berhasil mengangkat satu per satu jenazah dari sumur tua itu.
Sebenarnya, pada 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD (kini Kopassus), yang saat itu dipimpin Komandan Peleton 1 Letnan Sintong Panjaitan, sudah menemukan lokasi sumur tempat jenazah 7 pahlawan revolusi dikubur, berkat informasi yang disampaikan oleh seorang polisi bernama Sukitman.

Usai dilakukan penggalian, Sintong memutuskan melaporan temuan itu karena lokasi sumur yang sempit dan bau mayat yang sangat menyengat.
Mayor Jenderal Soeharto, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) langsung memerintahkan penggalian dihentikan malam itu juga menunggu bantuan datang esok harinya.

Pada 4 Oktober 1964, pagi hari, pasukan KKO dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto, dengan peralatan pernafasan selam, melakukan evakuasi jenazah pahlawan revolusi. Satu persatu pasukan KKO turun ke dalam lubang yang sempit itu.

Pukul 12.05 WIB, anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dulu ke Lubang Buaya. Dia mengenakan masker dan tabung oksigen yang dipinjam dari KKO. Anang mengikatkan tali pada salah satu jenazah. Setelah ditarik, diketahui jenazah pertama yang berhasil diangkat adalah jasad Lettu Pierre Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution.

Pukul 12.15 WIB, Serma KKO Suparimin turun, dia memasang tali pada salah satu jenazah, tapi rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik.

Pukul 12.30 WIB, giliran Praka KKO Subekti yang turun. Kali ini dua jenazah berhasil ditarik, yakni jasad Mayjen S Parman dan Mayjen Suprapto.

Pukul 12.55 WIB, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.

Pukul 13.30 WIB, Serma KKO Suparimin turun untuk kedua kalinya. Dia berhasil mengangkat jenazah Letjen Ahmad Yani. Dengan demikian, sudah enam jenazah diangkat.

Untuk memastikan sudah kosong, seorang lagi yang turun ke sumur untuk mengecek. Tapi semua penyelam KKO dan RPKAD sudah tak ada lagi yang mampu masuk lagi karena sudah kelelahan. Bahkan, beberapa ada yang muntah-muntah karena keracunan bau busuk.

Tahu anak buahnya di KKO sudah tak mampu, maka Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto turun sendiri untuk melakukan pekerjaan terakhir dengan membawa alat penerangan.

Ternyata benar, di dalam sumur masih ada satu jenazah lagi. Jenazah itu adalah Brigjen D.I. Panjaitan. Usai ditarik, maka lengkaplah sudah jasad 6 jenderal dan 1 perwira yang dinyatakan tewas dan diculik oleh pasukan Tjakra Bhirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, pada malam 30 September 1965.

Mereka yang jenazahnya ditemukan adalah:
1. Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Menteri Panglima Angkatan Darat)
2. R. Soeprapto, Mayor Jenderal. (Deputi II Menpangad)
3. MT. Harjono, Mayor Jenderal. (Deputi III Menpangad)
4. S. Parman, Mayor Jenderal. (Asisten I Menpangad)
5. D. Isac Panjaitan, Brigardir Jenderal. (Deputi IV Menpangad)
6. Soetojo Siswomihardjo, Brigardir Jenderal. (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD)
7. Pierre Andreas Tendean, Letnan Satu. (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution)

Usai pengangkatan jenazah, banyak versi terkait kronologi kematian 7 pahlawan revolusi itu. Bahkan, dalam film Pengkhianatan G-30 S/PKI, yang merupakan film wajib tonton pada tahun 80-an, digambarkan para jenderal yang diculik diperlakukan tak manusiawi.
Mereka disiksa, disilet, dipukul dan dianiaya. Bahkan, ada ada rumor, kemaluan Lettu Piere Tendean dipotong sebelum ditembak mati, di kawasan Lubang Buaya. Namun benarkah ke-7 pahlawan revolusi itu mengalami siksaan pedih dan menyakitkan sebelum ajal menjemput?

Sore hari itu juga, sekitar pukul 16.30 WIB, lima dokter forensik didatangkan atas perintah Pangkostrad/ Pangkopkamtib Mayjen Soeharto.

Lima anggota tim dokter yang mengotopsi ketujuh mayat itu dua di antaranya adalah dokter Angkatan Darat, diantaranya, dr. Brigardir Jenderal Roebiono Kertopati (perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat), dr. Kolonel Frans Pattiasina (perwira kesehatan RSP Angkatan Darat),Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro (ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK UI), dr. Liauw Yan Siang (lektor dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman FK UI) dan dr. Liem Joe Thay (atau dikenal sebagai dr. Arief Budianto, lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI).

Lewat tengah malam, pukul 00.30 WIB, tanggal 5 Oktober 1965, kelima dokter berhasil merampungkan pekerjaan mereka. Kesimpulannya, dari hasil visum et repertum atas 7 jenazah, semuanya dalam kondisi utuh dan tidak ada bekas-bekas penganiayaan dan siksaan, seperti yang disaksikan dalam film.

Hasil visum itu sengaja tidak dipublikasikan untuk umum demi menjaga doktrin bahwa para penculik di bawah pimpinan Letkol Untung, komandan Tjakra Bhirawa, adalah kelompok kejam, bengis dan tidak manusiawi.

Bahkan, Letkol Untung harus mengakhiri hidupnya di depan regu tembak usai divonis mati dalam persidangan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).
Pada 5 Oktober 19564, saat matahari di atas Kota Jakarta sudah tinggi, ke-7 jenazah pahlawan revolusi itu dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer super lengkap.

Hasil otopsi, 7 jenazah Pahlawan Revolusi utuh semua
Presiden Soekarno menangis di atas makam Jenderal Ahmad Yani, usai dimakamkan
Hasil otopsi, 7 jenazah Pahlawan Revolusi utuh semua
Proses pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi di sumur tua Lubang Buaya, 4 Oktober 1965
jasa2 mu takkan ku lupakan emoticon-Matabelo

[CENTER]kiprah ilmuan indonesia di tanah asing[/CENTER]
Kenapa harus di beritakan ada penyiksaan terhadap pahlawan revolusi itu ya?
Pertamaxxxxxxx
konspirasi emoticon-Cool
Pahlawan yg musti selalu dikenang...

Kita semua ga tau itu dalang penculikan yg sebenernya siapa..

emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
nah,...
demi doktrin lagi,...
perjuangan yang luarbiasa para pahlawan emoticon-I Love Indonesia
Quote:Original Posted By empu.mandastana
nah,...
demi doktrin lagi,...


ya gtu lah gan mau gmna lagi coba emoticon-Cape d... (S)
ini sejarah yang masih simpang siur kebenarannya
Semoga arwahnya diterima di sisi allah swt...amin
kenapa kok berbanding terbalik dengan thread serupa yg bahas tentang hasil visum ?
Quote:Original Posted By motivatore
Pertamaxxxxxxx


ente gagal bosss
salut dah ama kaptennya kko,,, anak buah semua g mampu,,, beliau yg turun tangan
selamat jalan para pejuang.. hiks..emoticon-Berduka (S)emoticon-Berduka (S)
Kenapa hasil visum berbanding terbalik dengan kenyataan dalam film G30S atau GESTOK (cara Soekarno menyebut G30S/PKI atau tanpa embel2 PKI)?

Karena ada seseorang yang menginginkan suatu kondisi yang membangkitkan amarah masyarakat. BAYANGKAN karena sekelompok PKI yang ingin melakukan kudeta (perintah penculikan para jendral) malah hasilnya adalah pembantaian (bahkan bisa disamakan dengan genocide) masyarakat Indonesia saat itu yang tergabung dalam PKI, bahkan yang hanya 'mungkin' komunis ikut dibunuh. Secara resmi, ada total 500ribu korban tewas dari pembantaian tersebut, namun ada juga yang mengatakan hingga 2juta orang mati dan hilang selama kurun waktu 1965 - 1969.

Menunggangi situasi penuh amarah saat itu, "seseorang" tersebut menyulut amarah masyarakat, lalu menggulingkan kekuasaan Soekarno yg memang sedang di ujung tanduk karena sistem otoriternya yg ditentang mahasiswa.
Lalu hasilnya? Freeport berhasil masuk (yg sebelumnya alot negosiasi dgn Soekarno perihal pembagian hasil), komunis dilarang bahkan beredar pembodohan publik kalau komunis = anti tuhan.
Komunis itu ideologi pemerintahan, bukan agama.

Di masa revolusi pra kemerdekaan, banyak tokoh2 komunis ikut memimpikan Indonesia. Contohnya Tan Malaka. Coba kalian ingat, apa ada tokoh Tan Malaka di buku sejarah Sekolah Dasar? Tidak ada. Kenapa? Tanya rezim yang berkuasa saat itu.

Karena itu, gambar dia yang bertuliskan "piye toh? Enakan jamanku toh?" jangan lupa bagaimana dia membangun "kenyamanan semu" tersebut, di atas nyawa rakyat tak berdosa dan berbagai politik kotor lainnya.

Kalau mau cerita lebih lengkap, mampir ke forsex saja haha..



"Lebih baik terasingkan daripada hidup dalam kemunafikan" - Soe Hok Gie

Kalimat ini ia layangkan melalui tulisannya melihat teman2 seperjuangan semasa penggulingan Soekarno, malah menerima 'pinangan' Soeharto, yang mana menurut ia bukan rezim yg lebih baik dari Bung Karno.
kalo ga ada bekas penganiayaan wafatnya karena apa gan? emoticon-Bingung (S)
Doktrin anti-komunis. Ane yang SD th 90an masih suka nonton tuh film G30S-PKI. Tapi seiring temuan-temuan bukti, film itu memang patut dipertanyakan kebenarannya.
mana yg bener nih

Cool 

sejarah ditulis oleh pemenang gan....