alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5242ea3840cb174312000002/karier-politik-jokowi-bakal-lebih-panjang-jika-maju-di-2019
“Karier Politik Jokowi Bakal Lebih Panjang Jika Maju di 2019”
Wawancara Djayadi Hanan, pakar politik & hubungan internasional univ paramadina:

[url]http://www.indonesia-2014.com/read/2013/09/21/“karier-politik-jokowi-bakal-lebih-panjang-jika-maju-di-2019”#.UkLondw-Zkg[/url]

“Karier Politik Jokowi Bakal Lebih Panjang Jika Maju di 2019”
Beresin Jakarta dulu ya Pak. Jangan mau dikomporin!

Quote:Djayadi Hanan

“Karier Politik Jokowi Bakal Lebih Panjang Jika Maju di 2019”

21 September 2013

INDONESIA2014 - INA.2014: Banyak partai politik ingin gandeng Jokowi untuk dipasangkan dengan ketua umum mereka. Dengan harapan bisa tingkatkan elektabilitas partai dan pasangan itu. Komentar Anda?

DH: Saya kira, partai-partai di luar PDIP mungkin bisa berharap begitu. Tapi saya belum lihat Jokowi berani lompat partai. Selama ini kita lihat Jokowi orang yang tidak ambisius. Dia tidak pernah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik jangka pendek. Ini yang membuat rakyat suka sama dia.

Dalam benak publik dia dikenal sebagai orang yang konsisten dan otentik. Tidak menclok sana-menclok sini. Nah, kalau dia terbujuk rayuan partai lain dengan meninggalkan PDIP, baik sebagai capres atau cawapres, saya khawatir dia akan dicap sama dengan politisi lain. Orientasinya politik sesaat. Hanya mengutamakan kekuasaan.

Saya kira, pihak Jokowi berhitung itu. Di sisi lain, saya masih lihat loyalitas Jokowi pada PDIP, terutama pada keluarga Soekarno atau Megawati. Dalam konteks itu akan sangat sulit mengharapkan Jokowi digandeng partai lain, kecuali atas izin Mega.

Pada titik tertentu, PDIP juga sangat membutuhkan Jokowi. Kalau PDIP main sendiri tanpa Jokowi itu akan sulit buat PDIP. Kalau PDIP nanti maju dalam Pilpres, bisa jadi cawapresnya Mega itu Jokowi. Kalau PDIP ingin menang. Jadi, PDIP takkan rela melepas Jokowi untuk digandeng partai lain.

Boleh saja partai lain seperti Golkar menyandingkan Jokowi dengan Aburizal Bakrie. Efeknya memang jelas di sebuah survei. Tapi PDIP akan tetap menjaga Jokowi. Karena dia aset PDIP.

INA.2014: Jadi, keberadaan Jokowi sangat menguntungkan PDIP?

DH: Sebelum Pilkada Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, itu tidak terlalu dikenal. Ketika mesin partai bergerak dan Jokowi menjadi juru kampanyenya, popularitas Ganjar lalu meningkat. Ia menang cukup drastis sebagai gubernur Jateng. Jokowi sendiri kan kebanggaan Jateng. Kalau orang se-Indonesia saja ikut Jokowi, apalagi masyarakat di daerahnya.

Jokowi itu aset bagi PDIP. Paling tidak sampai setahun ke depan. Tapi kita lihatlah sampai sejauh mana efek Jokowi ini berlaku dalam Pilpres nanti. Selain ada efek Jokowi, ada juga euforia Jokowi di kalangan media.

INA.2014: Itu artinya Jokowi akan tetap bawa berkah elektabilitas bagi siapapun pasangannya dan apapun partai yang mencalonkannya?

DH: Ya, siapapun yang dipasangkan dengan Jokowi minimal dia dapat berkah kenaikan elektabilitas. Sebelumnya, yang elektabilitasnya tinggi adalah Prabowo. Dia dianggap antitesis SBY. Masyarakat sudah bosan dengan gaya kepemimpinan yang tidak tegas model SBY. Tapi sebenarnya masyarakat bukan menginginkan sosok yang dianggap tegas itu.

Yang diinginkan masyarakat adalah pemimpin yang peduli dengan masyarakat. Pemimpin yang jujur dan tulus. Bisa dipercaya. Merakyat. Sama dengan masyarakat kebanyakan. Itu semua ada di Jokowi. Nah, karakter ini yang kurang pada Prabowo. Maka ramai-ramai masyarakat pindah ke Jokowi. Bukan ke Prabowo lagi.

Jadi, narasi besarnya, pemilih kita ingin presiden alternatif. Alternatif sebagai antitesa dari pemimpin saat ini. Jokowi itu profil yang lebih lengkap sebagai presiden alternatif.

INA.2014: Karena itulah ramai-ramai partai merapat ke Jokowi?

DH: Kita masih menunggu kepastian apakah Jokowi jadi maju atau tidak. Jika PDIP mengusung Mega, partai-partai itu tidak akan merapat ke PDIP. Tapi bila ada sinyal jelas bahwa Jokowi akan dicalonkan, partai-partai merapat ke sana demi berkah sebagai penguasa di masa depan.

INA.2014: Adakah calon lain yang bisa menandingi Jokowi?

DH: Enggak ada. Jangan lupa, kalau mau menang itu bahan bakunya ada dua. Pertama, program atau visi-misinya. Kedua, the messager atau orangnya. Nah, di partai lain tidak ada figur seperti Jokowi.

INA.2014: Luar biasa sekali Jokowi, ya…

DH: Ya, kalau pesan kan bisa dibikin. Misalnya, pro-perubahan, ekonomi rakyat, Kartu Indonesia Sehat, dan sebagainya. Yang seperti itu bisa dibuat. Tapi yang bisa melaksanakannya harus orang yang tepat. Orang yang tepat itu yang model Jokowi.

Kita belum punya model Jokowi di partai lain. Memang ada beberapa sosok yang bisa membuat masyarakat tertarik padanya. Yang mungkin ada potensinya itu Mahfud MD, Dahlan Iskan, atau Gita Wirjawan. Mungkin, ya. Tapi kan mereka tidak sepopuler Jokowi. Kita belum bisa mengatakan mereka bisa bersaing dengan Jokowi. Dalam arti, punya hubungan emosional dengan para pemilih atau masyarakat.

INA.2014: Jokowi, kita tahu, sosok unik. Apakah dia dikader dari bawah atau muncul begitu saja?

DH: Di PDIP kemunculan Jokowi itu bukan by design. Kalau Jokowi itu by design, saya pikir, tidak hanya lahir satu Jokowi di PDIP. Saya lihat Jokowi itu lahir begitu saja. Dia memang orang yang begitu dari sono­nya. Kebetulan masyarakat kita lagi muak dengan pola kepemimpinan yang penuh pencitraan, pragmatis, elit. Tampak dipintar-pintarkan, digagah-gagahkan. Jokowi itu antitesa semua itu. Masyarakat cocok dengan pola Jokowi itu.

Dengan munculnya fenomena Jokowi ini tidak serta-merta PDIP menjadi partai yang lebih baik dalam hal rekrutmen dan kaderisasi. Kalau baik dalam hal rekrutmen dan kaderisasi, sekali lagi, mestinya ada Jokowi lain.

INA.2014: Tapi bukankah ada kader PDIP lain yang dinilai baik juga seperti Rustriningsih…

DH: Iya, ada. Tapi dia tidak sefenomenal Jokowi. Berapa banyak sih? Munculnya sosok seperti Jokowi dan Rustriningsih tidak berarti PDIP lebih baik dari partai lain. PDIP saat ini juga krisis kader.

INA.2014: Apa keunggulan Jokowi selain dari sisi personalitasnya? Ada yang mengatakan bahwa salah satunya ia mafhum big picture kelola pemerintahan. Komentar Anda?

DH: Belum tentu juga Jokowi itu tahu big picture. Dia fenomenal karena kebetulan cocok dengan mood masyarakat. Jokowi itu sangat bagus dalam kampanye. Harus kita akui itu. Tapi kampanye dan mengelola pemerintahan itu dua hal yang berbeda. Kampanye tujuannya untuk persuasi. Untuk merayu masyarakat. Biasanya lebih bersifat hal-hal yang artifisial dan emosional.

Mengelola pemerintahan itu persoalan analisis dan menyelesaikan masalah-masalah riil. Menyelesaikan masalah-masalah riil itu tidak bisa dengan mood, perasaan, dan pencitraan saja. Tapi memerlukan kapasitas teknis, kepemimpinan, dan kapasitas manajerial.

Mungkin Jokowi punya kapasitas operasional, seperti blusukan dan segala macam. Tapi apakah dia mengangkatnya menjadi sebuah program yang berada dalam satu big picture? Satu blueprint? Saya masih ragu. Karena itu, seharusnya Jokowi dites di Jakarta. Apakah dia memang punya kemampuan memimpin seperti itu.

INA.2014: Dalam setahun ini memang belum terlihat kemampuan Jokowi?

DH: Belum ada.


INA.2014: Tapi kenapa elektabilitas Jokowi masih tetap tinggi?

DH: Ya itu tadi karena mood masyarakat. Dia menjadi media darling. Ditambah belum ada figur lain yang muncul.

INA.2014: Kalau mood yang lebih dominan, itu berarti mood masyarakat bisa saja berubah sewaktu-waktu?

DH: Iya. Ini pasti akan berubah. Cuma masalahnya akan berapa lama. Mood itu ada masanya. Dan momentum itu ada yang singkat, dan ada yang lama. Kalau media darling, di mana-mana itu biasanya paling lama hanya enam bulan. Nah, Jokowi ini kan sudah lewat dari enam bulan dan hampir setahun. Ya, tergantung media juga.

Kalau media masih terus menyukai Jokowi, dan tim Jokowi bekerja cukup massif dan taktis untuk membuat momentum ini terus bergulir itu akan bisa bertahan lama. Apalagi jika isunya soal kepemimpinan masa depan, bukan bagaimana menyelesaikan persoalan rill Jakarta. Kalau itu caranya momentum ini bisa dijaga.

Timnya Jokowi, termasuk PDIP, saya kira, akan menjaga terus momentum ini. Kita bisa lihat seberapa lama momentum itu akan bertahan. Itu juga tergantung lawan-lawan politik Jokowi untuk mengeksploitasi aspek-aspek yang lebih rasional dari kepemimpinan Jokowi. Misalnya, prestasi riil Jokowi apa? Seperti Kartu Jakarta Sehat, dsb.

INA.2014: Kini orang yang mengkritik Jokowi akan berhadapan dengan rakyat. DPRD DKI, misalnya, yang gunakan hak interpelasinya itu malah diserang balik...

DH: Sebenarnya interpelasi DPRD DKI terhadap Jokowi itu biasa saja, kan? Itu persoalan rutin saja. DPRD bertanya atau menjalankan hak penyelidikannya pada satu fenomena, yang menurut mereka, ada masalah. Kebijakan Pemda memang harus diawasi DPRD.

Itu kan salah satu tugas, pokok, dan fungsi DPRD. Tapi coba lihat reaksi media, reaksi masyarakat. Semuanya ‘gebukin’ DPRD. Itu berarti mood dan perasaan masyarakat masih memihak Jokowi.

INA.2014: Sejauh ini, menurut Anda, mood masyarakat terhadap Jokowi masih sehat atau sudah berlebihan?

DH: Dua tahun ini kan tahun politik. Tahun kampanye. Di tahun kampanye, mood orang bukan pada mood memerintah. Bukan pada soal-soal riil. Tapi soal-soal slogan dan janji-janji. Suasana kita saat ini suasana kampanye. Ini juga yang membantu Jokowi terus punya momentum. Karena dia bagus untuk kampanye.

Nanti ketika kampanye dan Pilpres sudah selesai, mood masyarakat akan kembali ke bagaimana menyelesaikan persoalan riil. Mood memerintah (governing mood), bukan lagi campaigning mood. Saya kira, sampai Pilpres kita masih berada dalam suasana ini. Dan bisa saja kita ketemu dengan orang yang tampak tidak rasional. Pokoknya, yang penting membela Jokowi. Apakah itu tidak sehat? Sepanjang tidak diekspresikan dengan kekerasan, saya kira, masih sehat.

INA.2014: Tapi kalau ekspresinya mengarah pada hate speech bagaimana?

DH: Kalau sudah mengarah ke sana, menurut saya, sudah tidak sehat. Karena itu bagian dari penyebaran kekerasan. Kekerasan simbolik. Ya, itu tidak sehat. Dan kita bakal ketemu dengan hal-hal ini. Tapi kalau masih satu-dua di antara seratus kejadian masih dapat ditoleransi.

INA.2014: Melihat mood masyarakat kini, sejauh pengamatan Anda, apakah Jokowi akan mengambil momen 2014 atau menunggu sampai 2019?

DH: Saya sendiri tidak kenal dengan Jokowi. Dugaan saya, kalau dilihat dari track record-nya, Jokowi lebih suka menyelesaikan masalah di Jakarta. Karena orang ini dianggap figur yang masih punya ketulusan ketimbang pencintraannya. Figur seperti ini lebih suka menyelesaikan persoalan-persoalan riil dulu. Bukan mengejar momentum untuk menjadi presiden. Mungkin juga Jokowi sadar kalau dia jadi presiden, cara berpikirnya harus lebih makro. Dan dia tidak punya kemampuan itu.

Masalahnya, PDIP merasa saat ini adalah momentum mereka. Bisa saja kalau Mega rasional, tidak memaksakan diri lagi menjadi presiden, PDIP akan ambil Jokowi sebagai capres. Sekali lagi, tergantung Mega. Kalau Mega jadi capres, Jokowi tidak akan maju. Tapi kalau Mega mundur, kemungkinan Jokowi jadi capres.

INA.2014: Menurut Anda, Jokowi tidak takut kehilangan momen?

DH: Kalau Jokowi itu politisi yang ambisius, ia pasti akan ambil momen ini. Tapi lagi-lagi ini bertolak belakang dengan citra yang berkembang tentang dia. Bahwa dia bukan politisi yang ambisius. Yang orientasinya cuma kekuasaan.

Apakah momentum buat Jokowi akan hilang? Belum tentu. Karena Jokowi itu kan belum 50 tahun usianya. Dia bisa berhitung lebih rasional dan sabar untuk maju di 2019. Tapi syaratnya, dia harus membuktikan diri di Jakarta.

INA.2014: Amien Rais pada 1998-1999 sangat dielu-elukan publik. Tapi pada pilpres 2014 dia hanya menempati urutan ketiga. Ini diperkuat dengan hipotesa yang mengatakan bahwa ingatan pemilih kita pendek. Apakah ini akan jadi pertimbangan Jokowi?

DH: Beda. Amien Rais itu punya track record menjatuhkan Gus Dur. Itu faktor cukup besar yang membuat dia ‘dijauhi’ publik, selain faktor dalam diri dia sendiri. Dia dianggap plin-plan. Semula orang percaya bahwa dia tegas, lurus, dan amanah. Seperti Jokowi saat ini. Tapi kemudian, dia bolak-balik. Satu waktu ia dukung Mega, tapi di kesempatan lain ia tidak dukung Mega. Ia juga dukung Gus Dur kemudian tidak lagi dukung Gus Dur.

Jokowi jika tidak maju sebagai capres pada 2014 ini justru untuk menjaga bahwa dia bukan orang yang plin-plan. Bukan orang yang syahwat kekuasaannya terlalu tinggi. Dia bisa bilang, ‘Saya sebenarnya bisa saja maju kalau saya mau. Tapi saya harus mengutamakan tugas-tugas saya di Jakarta lebih dahulu. Saya harus membantu warga Jakarta dulu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan riil.’ Kalau itu yang dilakukan Jokowi itu justru menjadi modal politik sangat besar buat Jokowi di 2019.

INA.2014: Jadi, lebih baik Jokowi ikut bursa Pilpres di 2019?

DH: Jika Jokowi rasional lebih baik dia memilih seperti itu. Kalau sekarang dia seperti gambling,kan?

INA.2014: Maksudnya?

DH: Kalau Jokowi maju sebagai presiden, lawan politiknya akan bermain. ‘Tuh lihat Jokowi. Sama saja dengan politisi lain. Jakarta dia tinggalin untuk sesuatu yang lebih besar.’ Nanti orang akan menilai Jokowi sebagai petualang politik saja. Nanti itu bisa beresonansi dengan masyarakat. ‘Oh iya, Jokowi sama saja dengan politisi yang lain.’

INA.2014: Kalau itu yang terjadi berarti Jokowi melakukan bunuh diri politik?

DH: Iya, dan belum tentu menang juga. Sudah tidak menang, citra juga hancur. Saran saya, lebih baik tunggu 2019.

INA.2014: Itu jalan yang paling aman buat karier politik Jokowi?

DH: Sementara ini, iya. Kalau dia ingin karier politiknya lebih panjang maju di 2019 saja. Kita kan berharap orang seperti dia karier politiknya lebih panjang.

INA.2014: Belakangan Mega melalui Puan menyatakan bahwa PDIP akan mendorong regenerasi. Menurut Anda, apakah ini sinyal bahwa Jokowi akan maju?

DH: PDIP itu sekarang ingin menjaga momentum Jokowi supaya kesukaan orang terhadap PDIP terus terjaga. Karena ia yang menyumbang tingginya kesukaan orang pada PDIP saat ini. Jadi, pernyataan itu belum bisa dibaca sebagai dukungan resmi dari Mega untuk Jokowi.

Pernyataan itu adalah penyataan politis untuk menjaga momentum agar masyarakat tetap bersama Jokowi dan tetap memilih PDIP yang saat ini cukup tinggi animonya. Bahkan paling tinggi di antara partai lain. Keputusan resminya, saya kira, baru disampaikan nanti setelah Pemilihan Legislatif.


Semoga Pak Jokowi mendengar saran orang ini.
Quote:Mengelola pemerintahan itu persoalan analisis dan menyelesaikan masalah-masalah riil. Menyelesaikan masalah-masalah riil itu tidak bisa dengan mood, perasaan, dan pencitraan saja. Tapi memerlukan kapasitas teknis, kepemimpinan, dan kapasitas manajerial.

Mungkin Jokowi punya kapasitas operasional, seperti blusukan dan segala macam. Tapi apakah dia mengangkatnya menjadi sebuah program yang berada dalam satu big picture? Satu blueprint? Saya masih ragu. Karena itu, seharusnya Jokowi dites di Jakarta. Apakah dia memang punya kemampuan memimpin seperti itu.


Betol, saya setuju banget dengan paragraf ini.

Quote:. Mungkin juga Jokowi sadar kalau dia jadi presiden, cara berpikirnya harus lebih makro. Dan dia tidak punya kemampuan itu.

Ah ini benar juga, keliahatan banget saat dia nolak LCGC..
kata panastak jokowi akan 'dipaksa' oleh rakyat utk maju jadi capres.

emoticon-Ngakak
ya aye stuju.. pak jokowi benahi jakarta dulu aja.. kalau berhasil.. otomatis banyak warga bakal dukung dia koq..
saya setuju pak jokowi membenahi dulu jakartaemoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By alulim
kata panastak jokowi akan 'dipaksa' oleh rakyat utk maju jadi capres.

emoticon-Ngakak


Rhoma Irama juga dulu ngaku didesak para ulama untuk maju nyapres.

http://www.waspada.co.id/index.php?o...itik&Itemid=30

“Karier Politik Jokowi Bakal Lebih Panjang Jika Maju di 2019”

Quote:Tuesday, 13 November 2012 07:34 PDF Print E-mail
Rhoma Irama capres karena didukung ulama
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Siapa tak kenal Rhoma Irama. Aksinya mendendangkan dangdut telah melegenda. Lagu-lagu dangdutnya sangat populer. popularitasnya dalam bidang itu tak tertandingi. Namun, bila beradu dalam kontestasi pemilihan presiden 2014, mampukah?

Rhoma mengaku telah digadang-gadang dan didorong menjadi calon presiden sejak 2004. Dorongan itu tak ditanggapinya. Begitu juga 2009. Dia mengaku dipinang sebagai calon wakil presiden oleh seorang capres.

"Tak perlu disebutlah namanya. Jadi saya juga menolak saya tidak terobsesi sedikipun," kata Rhoma kepada wartawan, hari ini.

Lantas, kenapa sekarang menyatakan siap maju sebagai calon presiden? Menurutnya, sekarang ini dukungan ulama, dan para habib itu telah menasional bukan hanya di Jakarta. "Itu indikasinya bahwa Habib Sechan Shihab, wakil ketua Forum Ulama Habaib Nasional mendorong saya untuk maju gitu lho," katanya.

Wasiat Ulama merupakan yang pertama mendukungnya secara terbuka. Menurutnya jutaan umat Islam di Indonesia mendesaknya sehingga dia nyatakan kesediaannya. "Saya tidak punya alasan untuk menolak itu karena desakan ulama ini merupakan amanat dari Alloh yang harus saya taati mungkin memang sudah perintah Alloh seperti itu. saya harus tampil, gitu," ujarnya.

Rhoma mengaku juga mendapat dukungan dari sejumlah anggota DPR. Namun dukungan itu baru pribadi, bukan atas nama partai. "Pribadi-pribadi. tidak atas nama partai tetapi sebagai pribadi-pribadi, mereka mendorong saya untuk tampil," katanya.
(dat16/viva)
Jokowi bagus, tapi dia belum pernah selesai menjalankan tugasnya
jika jokowi ngulang dengan loncat dari DKI ke pilpres, jelas dia bukan pengemban amanah yg baik
Soal kinerja, Risma jauh lebih baik
Jokowi bagus, tp lebih terekspos media dan dijadikan komoditi orang2 yg selalu punya kepentingan politis dan "niat lain"

ga usah munafik, jokowi cuma menang krn sampai sampai saat ini blm ada alternatif pemimpin yg merakyat dan punya karakter egaliter
So, gw dukung jokowi di 2019
ane juga pengen na jokowi beresin dulu jkt ..nyapresnya entar aja...pasti tetep di dukung kok jgn takutemoticon-Big Grinntar nyalon pasti ane pilih.....romah ? siapa ya ga kenalemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By djendral.Reborn
Jokowi bagus, tapi dia belum pernah selesai menjalankan tugasnya
jika jokowi ngulang dengan loncat dari DKI ke pilpres, jelas dia bukan pengemban amanah yg baik
Soal kinerja, Risma jauh lebih baik
Jokowi bagus, tp lebih terekspos media dan dijadikan komoditi orang2 yg selalu punya kepentingan politis dan "niat lain"

ga usah munafik, jokowi cuma menang krn sampai sampai saat ini blm ada alternatif pemimpin yg merakyat dan punya karakter egaliter
So, gw dukung jokowi di 2019


yang belum pernah menyelesaikan jabatan itu siapa ?

pak jokowi di solo dua periode, di periode kedua beliau dipilih dengan perolehan suara 90%

seperti yang dibilang sudah sudah, ada calon yang lebih baik ngga?

kalau dulu kita memilih presiden dengan prinsip pilih yang buruk dari yang terburuk

dengan hadirnya pak jokowi, kita punya opsi yang lebih baik, pilih yang mampu dan jujur dari yang buruk buruk

jangan cuman koar koar tanpa memberi solusi, tumben banyak banget id klonengan saat ini
Quote:Original Posted By hajarbleh420
ane juga pengen na jokowi beresin dulu jkt ..nyapresnya entar aja...pasti tetep di dukung kok jgn takutemoticon-Big Grinntar nyalon pasti ane pilih.....romah ? siapa ya ga kenalemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak


Pasti ente panasbung emoticon-Mad (S)
Pasti ente panasbung emoticon-Mad (S)
makanya itu...kita gak usah lah koar2 utk jokowi presiden 2014...

kan saya sudah sering bilang kalo jokowi lebih pantes jadi presiden th 2019
Quote:Original Posted By MasihBodoh


yang belum pernah menyelesaikan jabatan itu siapa ?

pak jokowi di solo dua periode, di periode kedua beliau dipilih dengan perolehan suara 90%

seperti yang dibilang sudah sudah, ada calon yang lebih baik ngga?

kalau dulu kita memilih presiden dengan prinsip pilih yang buruk dari yang terburuk

dengan hadirnya pak jokowi, kita punya opsi yang lebih baik, pilih yang mampu dan jujur dari yang buruk buruk

jangan cuman koar koar tanpa memberi solusi, tumben banyak banget id klonengan saat ini

gw tanya, periode kedua selesai tidak?
tidak peduli apakah dia 90 persen atau tidak, tp jelas periode kedua dia tidak selesai
Itu fakta dan tdk bisa dirubah walau gw setuju dan sangat setuju jokowi lebih bagus untuk jd pemimpin jakarta
Ayo lah... jngan mendukung membabi buta seolah jokowi harus jadi presiden 2014

Memimpin pemimpin buruk dari yg terburuk karena hanya kebencian dan under estimate di pikiran ente
masa dari sekian ratus juta, lu bilang pilih pemimpin yg buruk dari yg terburuk

gw dukung jokowi membenahi jkt dan punya modal buat tahun 2019, bkn sperti skrg yg seolah jd alat katrol PDIP yg jelas2 partai korup saat berkuasa dan munafik
Quote:Original Posted By MasihBodoh


yang belum pernah menyelesaikan jabatan itu siapa ?

pak jokowi di solo dua periode, di periode kedua beliau dipilih dengan perolehan suara 90%

seperti yang dibilang sudah sudah, ada calon yang lebih baik ngga?

kalau dulu kita memilih presiden dengan prinsip pilih yang buruk dari yang terburuk

dengan hadirnya pak jokowi, kita punya opsi yang lebih baik, pilih yang mampu dan jujur dari yang buruk buruk

jangan cuman koar koar tanpa memberi solusi, tumben banyak banget id klonengan saat ini


Santai aja knapa mas, gak usah membabi buta gitu. emoticon-Cape d... (S)
Diartikelnya khan ada alternatif juga:
Mahfud MD.
Dahlan Iskan.
Gita Wirjawan.

Masa dari 250jt manusia gak ada yang lebih bagus dari joko? banyak lah, belom ke ekspose aja...
mana isi trit nya nih? wkwkkk


takut gak dapet momennya kali gan.. hhaha..

terus jg takut presiden 2014 rupanya bagus.. makin lama lagi deh kepilihnya kalo presiden 2014 kepilih lagi di 2019..

wkkk..


emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By valravn


Santai aja knapa mas, gak usah membabi buta gitu. emoticon-Cape d... (S)
Diartikelnya khan ada alternatif juga:
Mahfud MD.
Dahlan Iskan.
Gita Wirjawan.

Masa dari 250jt manusia gak ada yang lebih bagus dari joko? banyak lah, belom ke ekspose aja...

gw tambahin: Anies Baswedan

Btw, ente pasti panasbung krn ga setuju jokowi jd presiden 2014 emoticon-Mad (S)
emoticon-Mad (S)
Jokowi hanya kebetulan sesuai dengan Mood masyarakat sekarang.

Kalau di lihat kira-kira 2-3 tahun lagi pamornya juga bakal luntur dan mulai di lupakan orang karena saat itu Tokoh2 mumpuni yg kebetulan tidak terekspos sudah mulai satu persatu dikenal masyarakat
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
si jokowi itu cuma punya momentum politik yang bagus sekarang... kalo dah 2019 masyarakat dah keburu bosen ato kinerjanya di DKI dalam jangka panjang kalo keliatan biasa aja bisa bikin elektabilitas dia turun...

makanya untuk PDIP ya Jokowi maju 2014 dan kemungkinan jadi presiden tinggi ato nunggu 2019 yang jauh lebih gambling emoticon-Embarrassment

Quote:Original Posted By dlexiss87


Ane gak setuju pernyataan agan....jokowi 2014 no, jokowi 2019 yes, mau sia2in rakyat jakarta yang uda milih dia???jangan cuma jokohok sering masuk berita tipi n online kita gak liat secara subyektif bahwa si lei jokowi baru hampir setaun jabat gub. JAKARTA...



ya silahkan aja mikir gitu... gw cuma menempatkan diri misalnya jadi political advisornya PDIP kok emoticon-Embarrassment kalo gw orang PDIP, ya gw maunya naroh sekarang biar menang emoticon-Embarrassment jelek buat rakyat DKI? iya jelas... tapi diliat dari chance menangnya ya harus sekarang majunya emoticon-Embarrassment
klo jadi capres kyknya dapet suara 80% deh? emoticon-Cool

If you can't make it good, at least make it look good.
Bill Gates
Quote:Original Posted By djendral.Reborn

gw tambahin: Anies Baswedan

Btw, ente pasti panasbung krn ga setuju jokowi jd presiden 2014 emoticon-Mad (S)
emoticon-Mad (S)


Ya itu bagus juga, tambahin Dino sekalian, biar yang muda-muda jadi capres...

Ente panasbung juga khan emoticon-Mad (S)
Ane panastak, mau apa ente emoticon-Peace
ane tetep dukung apapun yg pak Jokowi lakukan apalagi klo jadi Presiden pasti Indonesia ini bisa maju emoticon-Matabelo