alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52424fc21f0bc3773f000010/diskusi-membangun-sistem-pertahanan-udara-indonesia-barat-vs-rusia
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)
Analisis : Membangun Sistem Pertahanan Udara Indonesia
Rabu, September 25, 2
JKGR-(IDB) : Beberapa hari sebelum Tim Kementerian Pertahanan, TNI AL dan TNI AU berangkat ke Rusia untuk melihat rencana hibah 10 kapal selam Rusia, Tim Kemenhan dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, menemui Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Pertemuan Kementerian Pertahanan dengan Pemerintah Provinsi Jakarta, untuk membahas strategi pertahanan ibu Kota Negara. Wakil Menteri Pertahanan meminta rencana pembangunan ruang bawah tanah di kawasan Monas, diintegrasikan dengan strategi pertahanan ibukota.

Apakah urusan pembangunan sistem pertahanan Jakarta, akan menjadi bagian pembicaraan di Rusia ?.

Usulan membangun sistem pertahanan Indonesia yang lebih baik dan terintegrasi sebenarnya telah disampaikan Rusia pada tahun 2012. Pada event Indo Defence 7 November 2012, Rusia menawarkan kerjasama pembangunan sistem pertahanan udara advance, karena sistem pertahanan udara Indonesia saat ini masih sistem rudal dan senjata jarak pendek.


Sistem Pertahanan Udara S-300 MPU

Wakil Kepala Eksportir Persenjataan Rusia, Rosoboroneksport menawarkan konsep integrasi pertahanan udara berbasis sistem rudal pertahanan udara jarak menengah Buk-M2E dikombinasikan dengan Pantsir-S1 sebagai sistem rudal/senjata anti-udara jarak pendek.

Ahli senjata Rusia mempercayai konfigurasi tersebut akan efektif melindungi obyek-obyek vital Indonesia dari seluruh jenis serangan udara musuh, termasuk serangan udara yang masif.

Kita berharap sistem pertahanan itu bisa lebih advance lagi, yakni paduan sistem anti-udara jarak jauh S-300 dikombinasikan dengan jarak pendek Pantsir S-1. Sistem pertahanan yang akan dibangun harus masih efektif dalam 10-20 tahun ke depan, dimana teknologi pesawat tempur dan rudal akan semakin canggih.

Namun Indonesia menemukan posisinya dalam sebuah dilema. Sistem pertahanan udara jarak pendek Indonesia saat ini, khususnya Jakarta berbasis kepada sistem NATO. Batalyon Arhanudse 10/1/F Kodam Jaya, menggunakan Starstreak buatan Inggris.

Adapun TNI AU sedang mendatangkan 6 baterai Oerlikon Skyshield dari Rheinmetall Air Defence Swiss, untuk pertahanan jarak pendek bagi sejumlah Pangkalan Udara. Begitu pula dengan sistem radar Indonesia. Sebagian besar menggunakan produk Perancis dan Inggris.

Apakah sistem pertahanan jarak pendek dan radar NATO ini bisa diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara jarak menengah/jauh buatan Rusia ?.

Dilema Turki

Kasus yang mirip terjadi dengan negara Turki. Turki berencana membangun sistem pertahanan udara jarak jauh dengan mengucurkan dana 4 miliar USD.

Tiga perusahaan besar mengajukan proposal. Pihak Barat gabungan dari Raytheon dan Lockheed Martin menawarkan sistem pertahanan udara Patriot. Rusia melalui Rosoboronexport menawarkan S-300. Sementara China mengajukan sistem HQ-9.

Namun pilihan Turki tampaknya akan jatuh ke sistem HQ-9 China. Alasannya China mau berbagi teknologi. Keputusan finalnya tinggal menunggu persetujuan dari Menteri Pertahanan Turki Ismet Yilmaz dan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan.

Sejumlah diplomat dan pakar senjata Barat mengatakan, Turki tidak akan diperbolehkan mengintegrasikan sistem Turki-China ke dalam Sistem peringatan dini Turki yang saat ini menggunakan sistem NATO.

“Saya melihat Turki tetap menantang dan akan tetap maju. Tapi, saya berpikir tidak mungkin mengintegrasikan sistem pertahanan udara maupun sistem anti-rudal buatan Turki-Cina ke dalam radar NATO, ” ujar pakar militer di London yang mencermati militer Turki. “Turki akan memiliki masalah yang sama jika memilih sistem Rusia, tapi saya pikir kehadiran sistem pertahanann udara dan anti-rudal China di Turki, akan dianggap Amerika Serikat, sebagai ancaman langsung”.

Sekitar setengah dari jaringan radar Turki (air defense picture), dibiayai oleh NATO, ujar seorang pejabat pertahanan Turki yang bekerja di NATO. Sistem itu bagian dari Pertahanan Udara NATO secara keseluruhan. Apa jadinya jika Turki menggabungkannya dengan sistem yang diadopsi dari China ?.

Untuk menghalau ancaman rudal jarak jauh, Turki membutuhkan satelit serta alat pelacak rudal yang dedicated serta radar tracking seperti yang dipasang NATO di Pangkalan Angkatan Udara Kucerik Turki. Untuk komponen pertahanan anti-pesawat tempur, Turki membutuhkan gambar yang menyeluruh tentang wilayah udaranya. Patriot dalam waktu singkat bisa menanggulanginya dengan radar yang ada di Turki. Namun lain halnya dengan sistem pertahanan China jika jadi dibeli. Sistem pertahanan udara itu tidak akan efektif tanpa integrasi dengan gambaran udara Turki secara menyeluruh.

Turki bisa saja membangun sistemnya sendiri (stand alone), tapi hal itu akan mengabaikan milik NATO yang terpasang di Turki. Turki akan kehilangan setengah dari kemampuan radar mereka.

Turki membutuhkan data penghubung (interface) untuk membuat sistem pertahanan udara mereka (Turki-China) bisa dioperasikan dengan aset NATO di Turki, khususnya data sistem pengenalan teman dan lawan (friend or foe). “Data ini rahasia dan tidak bisa diinstal ke dalam sistem China”, ujar seorang pakar militer.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengintegrasikan sistem IIF (Identification Friend or Foe (IFF) China ke dalam armada pesawat tempur F-16 Turki. Sejumlah pakar menilai akan banyak ketidakcocokan jika sistem NATO dan China digabungkan ke dalam sistem Pertahanan udara Jarak jauh milik Turki.

Kasus Turki ini bisa jadi akan dialami oleh Indonesia, apalagi doktrin pengadaan persenjataan TNI saat ini adalah menganut azas keseimbangan, yakni mendatangkan alutsista dari dari Negara Barat maupun Rusia, untuk mengindari ketergantungan atau embargo. Dan kini Indonesia merupakan lahan berebut pengaruh dari negara barat dan Rusia, dalam urusan suplai alat pertahanan.


Kehadiran Rusia Dan AS Di Indonesia.

Menguatnya hubungan militer Indonesia dengan Rusia, disebabkan kebijakan Amerika Serikat yang melakukan embargo senjata termasuk suku cadang ke Indonesia 1999-2005, dengan alasan pelanggaran HAM Timor Timur.

Sejak tahun 2003 hingga tahun 2013, Rusia telah mengirim 16 pesawat tempur Sukhoi. Rusia pun telah menjual Helikopter Serang Mi-35, Helikopter Angkut Mi-17, IFV BMP-3F, APC BTR-80A serta senjata serbu AK-102.

Bahkan kedua negara melakukan kerjasama untuk urusan teknis militer, pada tahun 2005. Adapun tahun 2007, Moskow peningkatkan kredit import senjata kepada Indonesia menjadi 1 miliar USD. Selama rentang waktu itu, terjadi pembelian sejumlah alutsista dari Indonesia. Pada tahun 2011, Angkatan Laut kedua negara juga melakukan latihan anti-bajak laut, yang merupakan latihan bersama pertama kali militer Indonesia-Rusia.

Situasi ini akhirnya dibaca oleh Amerika Serikat. Mereka merasa mulai kehilangan grip penjualan peralatan militer di Indonesia. Amerika Serikat bergerak dengan cepat. Pada tahun 2011 mereka memperbaiki hubungan militer itu dengan hibah/ refurbish pesawat tempur 24 F-16 C/D Block 25. Pada tahun 2012, Indonesia-AS juga membicarakan pengadaan helikopter multirole Sikorsky UH-60 Black Hawk, serta Helikopter Serang Boeing AH-64E. Hingga saat ini kedua negara telah sepakat mendatangkan 8 helikopter AH-64E.

Tak lama setelah gebrakan AS dengan penjualan Apache AH-64E, Rusia langsung menawarkan hibah 10 kapal selam, dengan model pengadaan seperti hibah 24 F-16 AS. Rusia ikut memperkuat posisinya.

Kini Indonesia berada di persimpangan jalan. Apakah akankah Indonesia menerima tawaran Rusia untuk membangun sistem pertahanan udara yang lebih canggih, atau beralih ke barat, karena radar dan pertahanan udara jarak pendek Indonesia berbasis NATO.

link

sblmnya lebih jauh,salah satu radar yg digunakan oleh TNI AU
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Link spek
Link radar

untuk pembahasan lengkap tentang radar bisa dilihat di blognya indomiliter (mohon ijin buat dicopas disini.... buat bahan diskusi)

link bahasan radar

pertanyaan buat Diskusi.buat teman teman sekalian.
1. dengan banyaknya radar TNI AU yg menggunakan produk barat apakah bisa diintegrasikan dengan S 300 PMU bila jadi kita beli?
2. klo tidak bisa diintegrasikan solusinya bagaimana? supaya TNI bisa menutupi kekurangan dari pertahanan udara jarak menengah dan jauh td.
3.apa perlu ganti radar ke rusia semua,dan membuat jaringan pertahanan berbasis alutsista rusia?
4. bila tetap menggunakan radar dari barat,apa ada alutsista rudal pertahanan udara jarak menengah yang bisa diintegrasikan dengan radar kita?

emoticon-Kiss (S)

KOHANUDNAS Adalah TNI AU Dan TNI AU Adalah KOHANUDNAS.
Kohanudnas merupakan ujung tombak Kotama Operasional TNI AU y
angbertugas melaksanakan Penegakan hukum di Udara dan mengatur seluruhpotensi kekuatan udara bangsa indonesia. Terkait kekuatan minimum yangdiperlukan Kohanudnas sebagai salah satu Ujung Tombak TNI AU dalam
operasi Pertahanan Udara diperlukan Radar Sebanyak 32 Satrad terbagi di 4Kosek (Saat ini mempunyai 19 Satrad), 4 skadron tempur buru sergap ditiap
Kosek, 4 Skadron Rudal Jarak Sedang Moveable Paskhas ditiap Kosek,14 DenHanud Titik PSU Paskhas dan 40 Pangkalan Udara (sudah ada). Jajaran
Kohanudnas saat ini terbagi menjadi:
a.KOSEKHANUDNAS I Jakarta
b.KOSEKHANUDNAS II Makassar
c.KOSEKHANUDNAS III medan
d.KOSEKHANUDNAS IV Biak
e.PUSDIKLAT HANUDNAS Surabaya

Ada sejumlah Satuan Radar di bawah Kosek Hanudnas I (Jakarta) yaitu:

Satuan Radar 203 Sri Bintan, Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau
Satuan Radar 211 Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten
Satuan Radar 212 Ranai
Satuan Radar 213 Tanjung Pinang
Satuan Radar 214 Pemalang
Satuan Radar 215 Congot, Wates, DIY
Satuan Radar 216 Cibalimbing, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

Satuan Radar di bawah Kosek Hanudnas II (Makasar) yaitu:

Satuan Radar 221 Ngliyep, Malang
Satuan Radar 222 Ploso, Jombang
Satuan Radar 223 Balikpapan
Satuan Radar 224 Kwandang, Gorontalo
Satuan Radar 225 Tarakan

Satuan Radar di bawah Kosek Hanudnas III (Medan) yaitu:

Satuan Radar 231 Lhokseumawe
Satuan Radar 232 Dumai
Satuan Radar 233 Sabang
Satuan Radar 234 Sibolga

Satuan Radar di bawah Kosek Hanudnas IV (Biak) yaitu:

Satuan Radar 241 (ex. 251) Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur
Satuan Radar 242 Tanjung Warari, Biak
Satuan Radar 243 Timika, Papua
Satuan Radar 244 Merauke, Papua
Satuan Radar 245 Saumlaki, Maluku Tenggara Barat
Satuan Radar 252 Ngliyep, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Satuan Radar 253 Kabupaten Jombang, Jawa Timur
Satuan Radar 255 Balikpapan, Kalimantan Timur
Satuan Radar 256 Kuandi, Gorontalo
Satuan Radar 257 Tarakan, Kalimantan Timur

mohon koreksi bila ada yg salah.....

SAM Yang boleh dilirik.
S 300 PMU (RUSIA)
Spoiler for S 300 PMU:

Range, (km) 45 km - 5V55K
90 km - 5V55R
150-200 km - 48N6 S-300PMU1
Altitude, (m) 30,000 m
Speed (1.7 km./sec S-300P) (2.0 km./sec S-300PMU) mach 2,8
Warhead 70-100 kg high explosive - 5V55K
145 kg high explosive - 48N6 S-300PMU1

HQ -9 /HQ-12 (CHINA)
Spoiler for HQ-9:

Engine Two-stage solid propellant rocket
Operational
range 200 km (slant range)
Flight ceiling 30 km (98,425 ft)
Speed Mach 4.2

ASTER 30 (FRANCE)
Spoiler for ASTER 30:


Operational
range Aster 15: 1.7–30 km
Aster 30: 3–120 km
Flight altitude Aster 15: 13 km Aster 30: 30 km
Speed Aster 15: Mach 3.5 (1,191 m/s) Aster 30: Mach 4.5 (1,531m/s)

BUK M2 (RUSIA)
Spoiler for BUK MINAH:


Target acquisition range (by TAR 9S18M1, 9S18M1-1)

range – 140–150 km,
altitude – 15 m – 25 km,

Firing groups in one division – up to 6 (with one command post)
Radar mast lifting height (for TAR 9S36) – 21 m,
Reloading of 4 missiles by TEL from itself – around 15 min,
Combat readiness time – no more than 5 min,
Kill probability (by one missile) – 0.9 – 0.95,
Speed mach 3-4

setelah diskusi sama kawan kawan saya akan membahas apa itu IFF (IDENTIFICATION FRIEND OR FOE)

1.Apa itu IFF?
Spoiler for IFF1:


2. Bagaimana cara kerjanya?
Spoiler for IFF 2:

(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Spoiler for IFF3:

3. apa kegunaan criptografi untuk IFF ?
Spoiler for IFF 4:
Quote:Original Posted By gearbox23


pertanyaan buat Diskusi.buat teman teman sekalian.
1. dengan banyaknya radar TNI AU yg menggunakan produk barat apakah bisa diintegrasikan dengan S 300 PMU bila jadi kita beli?
2. klo tidak bisa diintegrasikan solusinya bagaimana? supaya TNI bisa menutupi kekurangan dari pertahanan udara jarak menengah dan jauh td.
3.apa perlu ganti radar ke rusia semua,dan membuat jaringan pertahanan berbasis alutsista rusia?
4. bila tetap menggunakan radar dari barat,apa ada alutsista rudal pertahanan udara jarak menengah yang bisa diintegrasikan dengan radar kita?

emoticon-Kiss (S)



1.Yang perlu diintegrasikan bukan radarnya.. tapi komunikasi.. Sistahanud Rusia itu biasanya sudah punya sistem radar peringatan dini dan radar komando serang (Engagement Radar) Sendiri. Apalagi S-300 yang sudah punya paling tidak 5N64 atau 64N6.. Itu kemampuan teknisnya sudah sama atau jauh melampaui radar peringatan dini TNI.

Dengan mengintegrasikan komunikasi diharapkan komando pusat kohanudnas nanti bisa mengirimkan data situasi pada pos komando S-300 seperti Ranzhir. Sehingga bisa mengurangi kemungkinan untuk terjadinya friendly fire.

2.lihat no 1

3.Nggak perlu..kalau mau ganti ya harus jangka panjang.. nggak bisa seketika.

4. Paling mudah ya beli Patriot atau MEADS.. bila pertimbangan integrasi menjadi yang utama. Tapi kalau performa.. ane milih S-300 atau S-300VM.


Quote:Original Posted By Stealthflanker

4. Paling mudah ya beli Patriot atau MEADS.. bila pertimbangan integrasi menjadi yang utama. Tapi kalau performa.. ane milih S-300 atau S-300VM.

sekedar bertanya nich om flenker
daripada SAM berbasis darat bukannya lebih baik make SAM yang dipasang di kapal perang sekelas Aster-30/MICA/S-300 sebab negara kita negara kepulauanemoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By wahwibson

sekedar bertanya nich om flenker
daripada SAM berbasis darat bukannya lebih baik make SAM yang dipasang di kapal perang sekelas Aster-30/MICA/S-300 sebab negara kita negara kepulauanemoticon-Malu (S)


Au dan AL ntu lapis pertama bersifat mobile.. dan tetep butuh lapisan pertahanan lain yg bersifat statis melindungi objek vital yg diincar musuh lagian dengan plattform laut dan udara jumlah SAm yg dibawa jg terbatas.. beda dengan darat mudah reloading
Quote:Original Posted By wahwibson

sekedar bertanya nich om flenker
daripada SAM berbasis darat bukannya lebih baik make SAM yang dipasang di kapal perang sekelas Aster-30/MICA/S-300 sebab negara kita negara kepulauanemoticon-Malu (S)


Berarti kapalnya berlayar terus dong untuk ngelindungin OBVIT kita...dan nggak ada jaminan waktu musuh datang kapal SAM itu ada di tempat atau musuh beradar dalam jangkauan rudal.


Kalau SAM berbasis darat kan bisa langsung di OBVIT itu... 24 jam dengan demikian waktu respon jauh lebih cepat.

Jepang saja berbasis kepulauan tapi punya Patriot.

Nggak bisa itu milih-milih..semua harus ada... apalagi konsep gila milih sesuatu karena itu lebih murah dari yang lain.

Ask

(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Ini gelaran radar kita apa bener kayak gini Gan? kok miris amat daerah timur minim area radarnya..
Quote:Original Posted By mr.voc
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Ini gelaran radar kita apa bener kayak gini Gan? kok miris amat daerah timur minim area radarnya..


quote dl ah.. ada pic keren
Quote:Original Posted By chibiyabi


Au dan AL ntu lapis pertama bersifat mobile.. dan tetep butuh lapisan pertahanan lain yg bersifat statis melindungi objek vital yg diincar musuh lagian dengan plattform laut dan udara jumlah SAm yg dibawa jg terbatas.. beda dengan darat mudah reloading


Quote:Original Posted By Stealthflanker


Berarti kapalnya berlayar terus dong untuk ngelindungin OBVIT kita...dan nggak ada jaminan waktu musuh datang kapal SAM itu ada di tempat atau musuh beradar dalam jangkauan rudal.


Kalau SAM berbasis darat kan bisa langsung di OBVIT itu... 24 jam dengan demikian waktu respon jauh lebih cepat.

Jepang saja berbasis kepulauan tapi punya Patriot.

Nggak bisa itu milih-milih..semua harus ada... apalagi konsep gila milih sesuatu karena itu lebih murah dari yang lain.

bisa bikin alasan untuk mendesak gedung ijo menyetujui pembelian SAM
memang sudah sepantasnya AL make kapal dengan payung udara sekelas aster-30/MICA/S-300 lalu AD dan AU make Pantsyr-S1/Tunguska/Buk-M/S-300 ga kayak sekarang cuma make mistrall dan star streakemoticon-Malu (S)
^^
payung udara kan ada AU.. enak bgt tugasnya dilimpahin ke matra lain
Quote:Original Posted By wahwibson



bisa bikin alasan untuk mendesak gedung ijo menyetujui pembelian SAM
memang sudah sepantasnya AL make kapal dengan payung udara sekelas aster-30/MICA/S-300 lalu AD dan AU make Pantsyr-S1/Tunguska/Buk-M/S-300 ga kayak sekarang cuma make mistrall dan star streakemoticon-Malu (S)


ojo grusa grusu.. semua ada waktunya..udah ada kok sinyal-sinyal pembelian selain shorad emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)
Bisa ga radar rusia terkoneksi ke sistem POPUNAS KOHANUDNAS ?

Kalo bisa, apakah data yang dimiliki POPUNAS KOHANUDNAS bisa terkoneksi ke sistim pertahahan buatan barat dan russia?
Quote:Original Posted By Stealthflanker



1.Yang perlu diintegrasikan bukan radarnya.. tapi komunikasi.. Sistahanud Rusia itu biasanya sudah punya sistem radar peringatan dini dan radar komando serang (Engagement Radar) Sendiri. Apalagi S-300 yang sudah punya paling tidak 5N64 atau 64N6.. Itu kemampuan teknisnya sudah sama atau jauh melampaui radar peringatan dini TNI.

Dengan mengintegrasikan komunikasi diharapkan komando pusat kohanudnas nanti bisa mengirimkan data situasi pada pos komando S-300 seperti Ranzhir. Sehingga bisa mengurangi kemungkinan untuk terjadinya friendly fire.

2.lihat no 1

3.Nggak perlu..kalau mau ganti ya harus jangka panjang.. nggak bisa seketika.

4. Paling mudah ya beli Patriot atau MEADS.. bila pertimbangan integrasi menjadi yang utama. Tapi kalau performa.. ane milih S-300 atau S-300VM.




"Turki bisa saja membangun sistemnya sendiri (stand alone), tapi hal itu akan mengabaikan milik NATO yang terpasang di Turki. Turki akan kehilangan setengah dari kemampuan radar mereka.

Turki membutuhkan data penghubung (interface) untuk membuat sistem pertahanan udara mereka (Turki-China) bisa dioperasikan dengan aset NATO di Turki, khususnya data sistem pengenalan teman dan lawan (friend or foe). “Data ini rahasia dan tidak bisa diinstal ke dalam sistem China”, ujar seorang pakar militer.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengintegrasikan sistem IIF (Identification Friend or Foe (IFF) China ke dalam armada pesawat tempur F-16 Turki. Sejumlah pakar menilai akan banyak ketidakcocokan jika sistem NATO dan China digabungkan ke dalam sistem Pertahanan udara Jarak jauh milik Turki."

klo liat jawaban om plengker brati kita membangun 2 sistem radar om.
sistem 1
radar yang ada di TNI AU buatan barat. contoh Master T thompson 350 Km
Sistem 2
radar yang sdh bawaan pada sistem S 300 PMU1 150-200 Km
spek S 300 PMU1

bknnya pada ribet yah dan memperpanjang rantai komunikasi.
misalnya nih ada target 2 unit F 18 masuk ke wilayah indonesia,kemudian radar master T mendeteksi. kmudian TNI AU memerintahkan 2 unit F 16 buat mencegat. tp karena "suatu hal" F 18 bisa nyelonong masuk lebih dalam ke wilayah kita. nah saat nyelonong itu satuan radar S 300 PMU kita mendeteksi 4 unit psawat masuk ke jangkauan radarnya.

berhubung melihat kasus turki,sepertinya F 16 TNI AU susah diinstal ( IFF code) dengan radar S 300 PMU. karena F 16 TNI AU menggunakan IFF code US (NATO?),alhasil komandan satuan radar S 300 PMU ini bingung krn diradar muncul 4 psawat yg tidak dikenal/tidak bisa diidentifikasi karena IFF F 16 TNI tidak terinstal di S 300 PMU.

otomatis komandan satrad S300 PMU menghubungi kohudnas untuk klarifikasi pesawat.

dari simulasi kasus yg saya dibuat ini,kira2 bknnya akan bisa menjadi masalah om?

contohlah misal rudal pertahanan udara kita terkoneksi dengan radar TNI AU Master T ,maka kohudnas pun ketika psawat 2 Unit F 18 masuk ke jarak tembak rudal. maka kohudnas bisa melihat IFF keempat psawat tsb. dan memerintahkan satuan rudal untuk menjatuhkan 2 psawat F 18 tsb.krn satuan rudal dan satuan radar sama2 terkoneksi dan bisa mengidentifikasi IFF psawat tsb.

ini pemikiran saya sih,mohon dikoreksi.... soalnya saya sendiri tidak bgitu mengerti dengan sistem IFF di alutsista TNI dan bagaimana rantai komando di kohudnas/protap penembakan dengan menggunakan rudal pertahanan udara.emoticon-I Love Kaskus (S)
Quote:Original Posted By focus.user
^^
payung udara kan ada AU.. enak bgt tugasnya dilimpahin ke matra lain

tetap perlu SAM juga kan
semua ada porsinya
Quote:Original Posted By mr.voc
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Ini gelaran radar kita apa bener kayak gini Gan? kok miris amat daerah timur minim area radarnya..

Quote:Original Posted By mr.voc
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Ini gelaran radar kita apa bener kayak gini Gan? kok miris amat daerah timur minim area radarnya..

memang nyata sich cuma ane denger ada penempatan pespur baru serta pemasangan radar baru di kawasan indonesia timuremoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By Gokill-bear
Bisa ga radar rusia terkoneksi ke sistem POPUNAS KOHANUDNAS ?

Kalo bisa, apakah data yang dimiliki POPUNAS KOHANUDNAS bisa terkoneksi ke sistim pertahahan buatan barat dan russia?

sulits sich bukannya ga bisa
jalan ada 3 ke israel/thales/chinaemoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By gearbox23


"Turki bisa saja membangun sistemnya sendiri (stand alone), tapi hal itu akan mengabaikan milik NATO yang terpasang di Turki. Turki akan kehilangan setengah dari kemampuan radar mereka.

Turki membutuhkan data penghubung (interface) untuk membuat sistem pertahanan udara mereka (Turki-China) bisa dioperasikan dengan aset NATO di Turki, khususnya data sistem pengenalan teman dan lawan (friend or foe). “Data ini rahasia dan tidak bisa diinstal ke dalam sistem China”, ujar seorang pakar militer.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengintegrasikan sistem IIF (Identification Friend or Foe (IFF) China ke dalam armada pesawat tempur F-16 Turki. Sejumlah pakar menilai akan banyak ketidakcocokan jika sistem NATO dan China digabungkan ke dalam sistem Pertahanan udara Jarak jauh milik Turki."

klo liat jawaban om plengker brati kita membangun 2 sistem radar om.
sistem 1
radar yang ada di TNI AU buatan barat. contoh Master T thompson 350 Km
Sistem 2
radar yang sdh bawaan pada sistem S 300 PMU1 150-200 Km
spek S 300 PMU1

bknnya pada ribet yah dan memperpanjang rantai komunikasi.
misalnya nih ada target 2 unit F 18 masuk ke wilayah indonesia,kemudian radar master T mendeteksi. kmudian TNI AU memerintahkan 2 unit F 16 buat mencegat. tp karena "suatu hal" F 18 bisa nyelonong masuk lebih dalam ke wilayah kita. nah saat nyelonong itu satuan radar S 300 PMU kita mendeteksi 4 unit psawat masuk ke jangkauan radarnya.

berhubung melihat kasus turki,sepertinya F 16 TNI AU susah diinstal ( IFF code) dengan radar S 300 PMU. karena F 16 TNI AU menggunakan IFF code US (NATO?),alhasil komandan satuan radar S 300 PMU ini bingung krn diradar muncul 4 psawat yg tidak dikenal/tidak bisa diidentifikasi karena IFF F 16 TNI tidak terinstal di S 300 PMU.

otomatis komandan satrad S300 PMU menghubungi kohudnas untuk klarifikasi pesawat.

dari simulasi kasus yg saya dibuat ini,kira2 bknnya akan bisa menjadi masalah om?


Nggak masalah.. ya Kohanudnas memberi tahu F-16 kalau disitu ada baterai S-300.. jangan lanjutkan pengejaran. Biarkan F-18nya masuk ke jangkauan S-300. Itu kalau memang nggak mau make IFF baru.

Lihat Yunani.. Mereka mengoperasikan Patriot dan S-300 sekaligus, juga mereka punya F-16... Apakah jadi masalah ? Enggak karena IFFnya sudah diganti sehingga bisa mengenali pesawat mereka sendiri sebagai teman.

Kalau yang Turki itu sepertinya lebih ke politik daripada teknis.

Quote:Original Posted By wahwibson

tetap perlu SAM juga kan
semua ada porsinya


long range SAM di darat ada krn melindungi OBVIT.. oke acceptable.. yg operate siapa?

nah klo di laut buat ngelindungi apa dari mana ya??

lagian overall kan masih di wilayahnya AU
Quote:Original Posted By focus.user


long range SAM di darat ada krn melindungi OBVIT.. oke acceptable.. yg operate siapa?

nah klo di laut buat ngelindungi apa dari mana ya??

lagian overall kan masih di wilayahnya AU

Obvit bisa AD atau AU
kalo laut kan di kapal ada payung udara yang ampuh sekelas aster-30/S-300 lalu dikawal pespuremoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By focus.user


long range SAM di darat ada krn melindungi OBVIT.. oke acceptable.. yg operate siapa?

nah klo di laut buat ngelindungi apa dari mana ya??

lagian overall kan masih di wilayahnya AU


kayanya pengoperasian SAM tergantung objek yang dilindungi om.

klo saya lebih milih untuk TNI AU menggunakan S 300 PMU untuk pengamanan SAM menengah untuk melindungi kota misal jakarta (ibu kota) surabaya (markas TNI AL terbesar) sedangkan Pantsyr digunakan untuk melindungi pangkalan TNI AU.

untuk TNI AD penggelaran SAM untuk melindungi gerak MBT atau kavaleri lainnya,jadi SAM jarak pendek yg bergerak mengikuti laju MBT lebih cocok.

jd pembagian angkatan untuk menerima SAM tergantuk objek yg dilindungi.
Quote:Original Posted By focus.user


long range SAM di darat ada krn melindungi OBVIT.. oke acceptable.. yg operate siapa?


Dulu itu yang ngoperasikan SA-2 sapa ? Ya itu.



Quote:Original Posted By mr.voc
(DISKUSI) Membangun sistem pertahanan udara Indonesia (barat VS rusia)

Ini gelaran radar kita apa bener kayak gini Gan? kok miris amat daerah timur minim area radarnya..

Itu radar yg di Saumlaki, Timika, Merauke belum masuk ya? Kan ada Satrad 243 Timika, 244 Merauke dan 245 Saumlaki.. di peta koq masih kosong? mohon pencerahan senior
Quote:Original Posted By Stealthflanker


Nggak masalah.. ya Kohanudnas memberi tahu F-16 kalau disitu ada baterai S-300.. jangan lanjutkan pengejaran. Biarkan F-18nya masuk ke jangkauan S-300. Itu kalau memang nggak mau make IFF baru.

Lihat Yunani.. Mereka mengoperasikan Patriot dan S-300 sekaligus, juga mereka punya F-16... Apakah jadi masalah ? Enggak karena IFFnya sudah diganti sehingga bisa mengenali pesawat mereka sendiri sebagai teman.

Kalau yang Turki itu sepertinya lebih ke politik daripada teknis.



masuk akal sih..... kayanya ide penggantian IFF di alutsista TNI lebih bisa digunakan untuk mencegah friendly fire.. mengakali radar dan SAM yg tidak terkoneksi.

ada yg tau ga produk IFF itu barangnya seperti apa? wujudnya,pabrikan mana?