alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/524129161acb176d35000014/dokter-rs-kota-tangerang-selatan-tolak-dokter-asing
Dokter RS Kota Tangerang Selatan Tolak Dokter Asing
Dokter RS Kota Tangerang Selatan Tolak Dokter Asing

Sabtu, 21 September 2013 | 10:53 WIB


TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Sekilas, Rumah Sakit Umum Kota Tangerang Selatan tampak beraktivitas seperti biasa. Namun, Jumat (20/9), rupanya gejolak terjadi di rumah sakit yang terletak di Jalan Pajajaran, Pamulang, itu.

Gejolak itu terjadi ketika 20 dokter di RSU Kota Tangsel ini melakukan aksi semacam "unjuk rasa". Para dokter itu berbondong-bondong dari RSU Kota Tangsel menemui Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie yang tengah menghadiri sebuah acara di Kompleks Puspiptek, Setu.

Mereka ingin bertemu Benyamin Davnie untuk menyampaikan tuntutan. Tuntutan para dokter itu muncul akibat adanya sejumlah kejanggalan yang mereka rasakan dalam pengelolaan rumah sakit yang sampai saat ini sebagian gedungnya masih dalam proses penyelesaian.

Di antara tuntutan itu, para dokter RSU Kota Tangsel menolak keberadaan dokter asing dan mendesak pergantian direktur rumah sakit, yang mereka sebut penempatannya menyalahi aturan.

"Kami menolak adanya dokter asing karena ilegal dan tidak sesuai prosedur. Kami juga menilai, penempatan direktur rumah sakit ini harus memiliki kompetensi dari tenaga medis," kata juru bicara para dokter RSU Kota Tangsel, dr Arif Kurniawan, SpOG, di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek, seusai bertemu Benyamin.

Meski para dokter sedang melancarkan protes, pelayanan di rumah sakit tersebut tetap berjalan seperti biasanya.

Menurut Arif, aksi itu merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang muncul di rumah sakit tempatnya bertugas. Ia menyebut, penempatan tenaga dokter asing harus melalui persetujuan dari Konsil Kedokteran Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia.

Arif mengungkapkan, Dinas Kesehatan Tangsel beralasan, keberadaan dokter asing itu hanya untuk melakukan transfer ilmu. Namun, kenyataannya, mereka juga melakukan tindakan medis.

"Padahal, penanganan medis masih bisa dilakukan tenaga dokter kita sendiri," ucap Arif.

Para dokter, lanjut Arif, juga tidak sepakat dengan penempatan orang nomor satu di RSU Kota Tangsel yang bukan berasal dari disiplin ilmu dan kompetensi bidang medis.

Menurut Arif, Neng Ulfa, yang kini menjabat Direktur RSU Kota Tangsel, merupakan lulusan sarjana ilmu sosial.

Menurut dia, ketentuan bahwa seorang direktur rumah sakit harus lulusan ilmu kedokteran telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 471 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Arif menyebut, tidak kompetennya direktur rumah sakit bisa berbuntut pada pelayanan rumah sakit yang buruk.

"Pelayanan pada pasien bisa terganggu jika tidak kompeten. Kami bukan melawan kebijakan, tetapi hanya ingin meluruskan yang seharusnya dilakukan," katanya.

Neng Ulfa, yang juga hadir di Puspiptek, mengatakan, ia hanya menjalankan tugas yang diberikan pimpinan sebagai direktur di RSU.

Menurut dia, selama ini tidak ada masalah antara ia dan para dokter dalam pekerjaan sehari-hari. "Soal medis, para dokter yang menangani, jadi tidak ada masalah sebenarnya," kata Ulfa.

Wali Kota Benyamin Davnie mengatakan, para dokter itu intinya menuntut penyempurnaan sistem pelayanan di RSU Kota Tangsel.

Mengenai penunjukan direktur RSU, Benyamin mengatakan, tuntutan dokter itu akan diperhatikan. "Untuk direktur, ini menjadi catatan dan perhatian, pada saatnya akan ditempatkan sesuai peraturan," katanya.

Menurut dia, penempatan direktur saat ini terjadi dalam situasi yang mendesak karena keterbatasan tenaga medis, sementara proses pembangunan gedung RSU Kota Tangsel sampai saat ini masih berjalan.

"Ini ada kaitan dengan RSU masih dibangun, operasional gedung masih ditangani dinas kesehatan. Kalau urusan medis, tentu menjadi pekerjaan tenaga medis.

Yang tidak boleh dicampuri adalah pekerjaan medis. Dinkes hanya menangani proyek pembangunannya, RSU masih dibangun, jadi supaya fokus melayani masyarakat," kata Benyamin.

Tangsel telah menggratiskan pelayanan kesehatan di rumah sakit ini bagi pemegang KTP Tangsel. Namun, pasien tidak bisa langsung datang ke RSU karena harus mendapat rujukan terlebih dulu dari puskesmas setempat. (RAY)


Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/21/1053117/Dokter.RS.Kota.Tangerang.Selatan.Tolak.Dokter.Asing.


Dokter RSU Tangsel: Dokter dari Malaysia Tak Transfer Ilmu

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Belasan dokter RSU Tangerang Selatan, Senin (23/9), kembali berunjuk rasa. Mereka mendatangi gedung DPRD Tangsel dan menggelar sejumlah spanduk yang berisi sejumlah tuntutan, seperti "Tolak dokter asing ilegal", "Tolak intimidasi personal", "Stop intervensi Dinkes-RSU", dan "Dukung one day service".

Unjuk rasa kemarin merupakan lanjutan dari aksi Jumat lalu. Saat itu, para dokter berunjuk rasa dan menemui Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. Tuntutan para dokter itu, di antaranya, penolakan terhadap praktik satu dokter asing asal Malaysia di RSU Tangsel dan mendesak penggantian Neng Ulfa sebagai direktur karena mereka nilai tidak kompeten.

"Tuntutan kami belum dipenuhi, bahkan kami mendapatkan intimidasi," kata Daniel Richard, Ketua Komite Medis RSU Tangsel. Menurut dia, sejumlah dokter yang mengikuti aksi pada Jumat lalu mendapat intimidasi, seperti diancam tak diberikan izin praktik dan klinik mereka tidak akan diberikan izin.

Seusai aksi, dokter-dokter itu kemudian diterima anggota Komisi II DPRD Tangsel. Menurut Imbar, juru bicara para dokter, dokter ortopedi dari Malaysia itu tidak membawa ilmu baru bagi para dokter di RSU.

"Tidak ada yang baru, kami pun sudah tahu itu. Lagi pula, dokter ini tidak mentransfer ilmu, tetapi melakukan tindakan medis," ujarnya.

Ia menambahkan, aksi mereka juga dilakukan karena pengelolaan dan pelayanan rumah sakit saat ini terus memburuk. Menurut dia, hal itu terkait kinerja direktur yang tidak kompeten.

"Soal pelayanan, harusnya bisa one stop service, tetapi seorang pasien sering harus bolak-balik datang. Misalnya, hari ini datang diputuskan harus rontgen, tetapi baru besok disuruh kembali. Tujuannya biar pasien bayar lebih banyak," kata Imbar.

Di hadapan Dewan, para dokter juga mengungkapkan indikasi kecurangan dalam pengadaan obat. "Misalnya, kami usulkan pengadaan salah satu merek obat, tetapi dibilang itu terlalu mahal. Kemudian, kami ganti merek lain, tetapi ternyata obat yang dibeli justru lebih mahal daripada usulan pertama," kata Daniel.

Kepala Dinas Kesehatan Tangsel Dadang Epid membantah semua tuduhan para dokter itu. Soal dokter asing, ujarnya, hanya berupa transfer ilmu, bukan berpraktik di RSU Tangsel. Ia juga menegaskan posisi Neng Ulfa sebagai direktur hanya sementara selama proses pembangunan rumah sakit itu berlangsung.

"Kami juga tidak melakukan intimidasi. Hanya saja, kami akan menegakkan disiplin PNS. Jika mereka meninggalkan tugas, tentu kami akan tegakkan aturan," ucap Dadang.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/24/0819441/Dokter.RSU.Tangsel.Dokter.dari.Malaysia.Tak.Transfer.Ilmu

Bukannya bagus lebih banyak tenaga dokter dan buktikan klo memang dokter indonesia yang terbaik jangan takut tersaingi
Quote:Original Posted By kagomelagi
proses pembangunan gedung RSU Kota Tangsel sampai saat ini masih berjalan.

"Ini ada kaitan dengan RSU masih dibangun, operasional gedung masih ditangani dinas kesehatan. Kalau urusan medis, tentu menjadi pekerjaan tenaga medis.

Yang tidak boleh dicampuri adalah pekerjaan medis. Dinkes hanya menangani proyek pembangunannya, RSU masih dibangun, jadi supaya fokus melayani masyarakat," kata Benyamin.

Tangsel telah menggratiskan pelayanan kesehatan di rumah sakit ini bagi pemegang KTP Tangsel. Namun, pasien tidak bisa langsung datang ke RSU karena harus mendapat rujukan terlebih dulu dari puskesmas setempat.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2....Dokter.Asing.


Dokter RSU Tangsel: Dokter dari Malaysia Tak Transfer Ilmu

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Belasan dokter RSU Tangerang Selatan, Senin (23/9), kembali berunjuk rasa. Mereka mendatangi gedung DPRD Tangsel dan menggelar sejumlah spanduk yang berisi sejumlah tuntutan, seperti "Tolak dokter asing ilegal", "Tolak intimidasi personal", "Stop intervensi Dinkes-RSU", dan "Dukung one day service".

Unjuk rasa kemarin merupakan lanjutan dari aksi Jumat lalu. Saat itu, para dokter berunjuk rasa dan menemui Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. Tuntutan para dokter itu, di antaranya, penolakan terhadap praktik satu dokter asing asal Malaysia di RSU Tangsel dan mendesak penggantian Neng Ulfa sebagai direktur karena mereka nilai tidak kompeten.

"Tuntutan kami belum dipenuhi, bahkan kami mendapatkan intimidasi," kata Daniel Richard, Ketua Komite Medis RSU Tangsel. Menurut dia, sejumlah dokter yang mengikuti aksi pada Jumat lalu mendapat intimidasi, seperti diancam tak diberikan izin praktik dan klinik mereka tidak akan diberikan izin.

Seusai aksi, dokter-dokter itu kemudian diterima anggota Komisi II DPRD Tangsel. Menurut Imbar, juru bicara para dokter, dokter ortopedi dari Malaysia itu tidak membawa ilmu baru bagi para dokter di RSU.

"Tidak ada yang baru, kami pun sudah tahu itu. Lagi pula, dokter ini tidak mentransfer ilmu, tetapi melakukan tindakan medis," ujarnya.

Ia menambahkan, aksi mereka juga dilakukan karena pengelolaan dan pelayanan rumah sakit saat ini terus memburuk. Menurut dia, hal itu terkait kinerja direktur yang tidak kompeten.

"Soal pelayanan, harusnya bisa one stop service, tetapi seorang pasien sering harus bolak-balik datang. Misalnya, hari ini datang diputuskan harus rontgen, tetapi baru besok disuruh kembali. Tujuannya biar pasien bayar lebih banyak," kata Imbar.

Di hadapan Dewan, para dokter juga mengungkapkan indikasi kecurangan dalam pengadaan obat. "Misalnya, kami usulkan pengadaan salah satu merek obat, tetapi dibilang itu terlalu mahal. Kemudian, kami ganti merek lain, tetapi ternyata obat yang dibeli justru lebih mahal daripada usulan pertama," kata Daniel.

Kepala Dinas Kesehatan Tangsel Dadang Epid membantah semua tuduhan para dokter itu. Soal dokter asing, ujarnya, hanya berupa transfer ilmu, bukan berpraktik di RSU Tangsel. Ia juga menegaskan posisi Neng Ulfa sebagai direktur hanya sementara selama proses pembangunan rumah sakit itu berlangsung.

"Kami juga tidak melakukan intimidasi. Hanya saja, kami akan menegakkan disiplin PNS. Jika mereka meninggalkan tugas, tentu kami akan tegakkan aturan," ucap Dadang.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2....Transfer.Ilmu

Bukannya bagus lebih banyak tenaga dokter dan buktikan klo memang dokter indonesia yang terbaik jangan takut tersaingi

Iya gpp, qt liat dokter asing mau ga dibayar rendah diIndonesia, bahkan gratis. Apalagi nanti kalo diJakarta, kalah sama tukang parkir dan supir buswayemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
bukan masalah itu bung... masih banyak tenaga dokter indonesia yang tebuang cuma2. Apa bijaksana namanya kalo dokter kita gak dihargai oleh negri sendiri???

Kebijakan IDI aja sudah cukup berat buat dokter lokal...lha ini kok sampe nyumbang dokter asing.

Dokter kita bagus2 kok... cuma karena "kebijakan represif" yang bikin dokter kita bertendensi melenceng.

Kalo masi begini juga.. mending pada cabut keluar negri seperti jerman.. sudah jelas... kesejahteraan lebih diperhatikan.

Lha wong kesejahteraan dokter sini aja dinilai kroco kok... pake mau masukin dokter asing.

kalo begini terus... lalu dokter pada protes... bisa cilaka 12 nasib kesehatan bangsa.

udah bagus dokter sini sabar..
Dokter asing dr negara mana dulu?
gw komentar bagian direktur rumah sakitnya, bukannya kudu ada titel MARS nya yah..

rencana mo lanjutin sekolah untuk MARS
tapi s1 gk sampai ngambil profesi dokter bisa gak jadi direktur?

kasi pencerahan donk buat agan2 yang gawe di rumah sakit
dokter dari malaysia? banyak noh yang dari usu medan emoticon-Ngakak