alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/523bfaa41f0bc3ad7f000007/bukan-profesi-yang-menentukan
Bukan Profesi yang Menentukan
Ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar tahun 1995. Seorang pedagang kambing bersama rekan-rekannya sedang menunggu dagangannya. Sudah tiga hari berlalu sang pedagang menjajakan dagangannya, namun kambing yang laku hanya beberapa ekor saja, biasanya dalam waktu tiga hari puluhan kambing bisa terjual, namun kali ini beda. Iapun merasa sangat gelisah karena tinggal dua hari lagi menjelang Idul Adha.

Ketika sedang menunggu kambing-kambingya, terdengar suara adzan ashar, ia beserta rekannyapun bergegas menuju Masjid terdekat untuk menunaikan shalat. Setelah selesai sholat, sang pedagangan berdzikir kepada Allah dan berdo’a dengan khusyu agar dimudahkan dalam perdagangannya.

Setelah selesai sholat dan berdoa si pedagang bergegas kembali ke tempat dagangannya, dari kejauhan ia melihat ada banyak sekali para pembeli, terlihat beberapa teman mengalami kesulitan melayani para pembeli. Akhirnya pedagang tersebut berlari cepat untuk membantu melayani para pedagang.

“ Alhamdulillah sudah ada beberapa ekor kambing yang terjual. Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, syukurnya dalam hati.

Setelah semua pembeli terlayani suasana kembali sepi, si pedagangn melihat seorang ibu sedang memperhatikan kambing-kambing yang diikat di lapaknya, “ setahu saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi.” Bisiknya dalam hati

Saya tanya teman saya “ Ibu itu sepertinya mau beli ?, apa sudah ditawari ?,” Tanya saya

“ Sepertinya dari tadi udah ada disitu. Mungkin cuma liat-liat aja, mungkin sedang menunggu bus sambil lihat-lihatkali.” Jawab teman saya singkat.

Ibu itu berpakaian lusuh dan menenteng sebuah payung lipat yang juga sudah sobek, " nggak mungkin ia membeli kambing qurban."

Si Pedagang coba menghampiri si ibu itu dan menawarkan kambingnya. “Silahkan bu dipilih kambingnya, ada niat untuk qurban ya bu ?. “ Tanya si pedagang.

Tanpa menjawab si ibu langsung menunjuk kearah kambing yang terikat, sambil berkata “Kalau yang itu berapa bang ?”

Ibu itu menunjuk kambing yang paling murah diantara kambing yang lainnya. “Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu,” jawab si pedagang .

Harga pasnya berapa bang ?” tanyanya lagi

Jangan di tawar lagi ya bu, saya kasi harga special Rp. 500.000 deh kalau ibu mau.

“Uang saya cuma ada 450 ribu Pak, boleh gak ?”. Kata dia

Waduh, si pedagang bingung, karena itu harga modanya, akhirnya si pedagang berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban”. Kata si pedagang kepada teman-temannya.

Akhirnya pedagang dan teman-temannya sepakat.

“ Tapi bawa sendiri ya bu ?, kata si pedagang.

Akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh si pedagang dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar di rumah. Setelah si pedagang dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Dan si pedagangpun berangkat membawa kambing tersebut.

Ketika sampai di rumah si ibu, alangkah kagetnya si pedagang, ” Subhanallaah........Allahu Akbar…..!

Pedagang itu terbelalak dan sangat miris melihat keadaan rumah si ibu tersebut.

Ibu itu tinggal di sebuah rumah gubug. Ia tinggal bertiga dengan ibunya dan satu orang anaknya. Gubuk itu berlantai tanah dan jendelanya hanya menggunakan kawat jaring yang sudah berkarat. Si pedagang tidak melihat ada tempat tidur atau kasur, yang ada hanya sebuah dipan kayu lapuk beralas tikar lusuh. Di atas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit.

“Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa ?”.

Ternyata ibu ini namanya Sumi. Perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar.

“Ini ibu saya bang ” ibu Sumi mengenalkan orang tuanya kepada si pedagang.

“ Mak Sumi udah beliin kambing buat emak untuk qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak.” Kata Sumi

Ibu tua itu bangun dari tidurnya, dari wajahnya terpancar haru dan bahagiaan, sambil mengelus-elus kambing ibu tua itu berucap, “ Allahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.” Kata perempuan tua itu.

“Nih bang ongkosnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya.” Tuturnya

Mata si pedagang berlinang air mata ia tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Dan langsung pamit meninggalkan mereka bertiga.

“ Sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar.” Kata si pedagang

Si pedagang cepat-cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata si pedagang sudah basah dengan deraian air mata, karena tak sanggup menyaksikan kebesaran Allah yang ditunjukkan lewat tukang cuci itu. Ia mendapat pelajaran dan teguran dari Allah yang sudah mempertemukannya dengan hamba-Nya yang miskin namun penuh kegigihan dan kesabaran untuk memenuhi keinginan dan memuliakan ibunya memenuhi panggilan qurban.

Terimakasih telah bergabung bersama Global Qurban, salurkan qurban terbaik anda untuk kami sampaikan kepada mereka yang berhak menerimanya, ke ranah bencana di seluruh Indonesia, dan Manca negara seperti Mesir, Suriah, Paletina, Somalia, Pengungsi Rohingya. Berqurban teriklas, manfaat terluas, Insya Allah Sempurna dibalas.

Salurkan qurban anda melalui rekening :

Permata Syariah 0971144114

BSM 1010026996

BNI Syariah 0096110239

BCA 676 017 6760

Mandiri 1010004884977

an Aksi Cepat TanggapBukan Profesi yang Menentukan
sebentar, ini iklan gan?
ceritanya bikin emoticon-Mewek

tp salah kamar gan :Peace
Kalo H2H di sebelah.....ato di SUPRANATURAL saja
Mas/Mbak TS ... mari saya anterin ke Forum yang pas yuk ... mumpung masih sore