alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
4.87 stars - based on 38 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5232e39da1cb173d11000006/since-2013-kimi-ga-katta-having-you-trilogi

.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 Suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita? 
profile-picture
profile-picture
offours dan g.gowang memberi reputasi
Diubah oleh OblOOOOOOO
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 54
pertamax

Emang jaman sekarang kayak gitu, perlu latihan ngasih "kode" gan emoticon-Cool
Quote:


kayaknya pengalaman nih agan emoticon-Big Grin Kode itu hanya serangkaian kata yang berbentuk Gelombang Sinyal yang kadang tidak terdeteksi oleh hati para wanita emoticon-Big Grin

Kadang kalau kebanyakan ngasih kode, si cewek juga bakalan males gan..

Nantikan part selanjutnya ya.. emoticon-Kiss (S)
Quote:


berarti agan kurang berani nyatain perasaan ke cewek emoticon-Cool cewek jarang ngliatin reaksi, tapi di belakang ngedumel, kenapa gak ditembak tembak emoticon-army

Ternyata dia adalah Wanita!

Hari-hari perkuliahan biasa gue lalui dengan biasa. Dibawa bebas aja. Membebaskan semua penat dalam pikiran, seperti tugas-tugas, proposal acara, laporan pertanggung jawaban dan sebagai macamnya. Untungnya ada senyum dan suara canda tawa dari teman-teman sekelas gue yang koplak bin ajaib yang ikut mendramatisir kehidupan gue nan flat dan berdebu.

Kerjaan gue sehari-hari gak berubah. Mulai dari bangun pagi, sholat, berangkat kuliah, istirahat, ngerumpi, main capsa, pulang, internetan, bikin tugas kalau ada, terus tidur. Kalau ingin begadang, gue begadang dan besoknya otomatis gue gak kuliah karena ngantuk berat walau paginya udah dibangunin sama Ihsan atau Fadhli, temen sekosan gue. emoticon-Cape d... (S)

Dan pagi ini pun, adalah pagi dimana gue mulai masuk kuliah kembali setelah 2 hari vakum. Entah apa yang terjadi di kampus, gue gak peduli. Yang gue pedulikan adalah bagaimana gue bisa minjem catatan sama temen gue yang rajin nyatet emoticon-Big Grin

Namun embun pagi yang lengket di tanaman kosan gue, entah kenapa pagi ini seperti memberikan gue nafas harapan yang telah lama gue ingin rasakan. Lama gue menatap tanaman yang bergoyang itu. Lalu pada akhirnya gue berkata dalam diri gue, kalau misalnya hari ini ada hal baik yang datang pada gue.

Sesampainya di kampus, gue duduk bersama temen-temen sekelas gue seperti biasa. Sambil menunggu datangnya dosen, para cowok-cowok biasanya bercerita tentang bola semalam, atau tentang kejombloan masing-masing sambil menghisap berbatang-batang rokok.

Namun tiba-tiba Uje menghampiri gue.

"Gas, gue bisa minta tolong gak?"

Gaya memelasnya seperti biasa. Cowok metroseksual yang ceweknya kayak model, pipinya yang tembem dan bibirnya yang pink. Serta raut wajahnya yang memelas membuat gue gak paham lagi pengen nolak tuh permintaan tolong. Namun hati nurani gue gak tega ngeliat temen yang butuh pertolongan.

"Apaan Je?"

"Lu kan jago desain nih, tolong desainin gue poster dong buat acara BEM", ujarnya.

"Kontennya apa aja? Entar kalau ada waktu gue desainin", jawab gue. Bukannya gue menolak untuk membuatkan poster itu sekarang, namun gue lagi gak mau sibuk. Grafik kemalasan gue yang tadinya rendah banget karena vakum 2 hari, tiba-tiba disuruh berimajinasi untuk membuat poster untuk acara Universitas tuh rasanya berat banget.

"Yaudah nanti abis kuliah bisa gak?"

"Liat nanti Je"

Gue menghembuskan nafas sesak yang tertahan. Bersama asap rokok yang masih tersisa di paru-paru gue, nafas itu membeku dihadapan gue. Membentuk sebuah alunan vektor abstrak dan gue langsung berimajinasi.

Sembari di kelas pun gue masih berimajinasi gimana bikin posternya Uje. Gue udah dapet bayangan background dari poster tersebut, namun tergantung konten yang akan ia berikan. Jika tidak sesuai, gue harus mengulang berimajinasi. Namun kadang, inspirasi gak bakal dateng secepat yang pertama kali datang. Itu yang kadang membuat gue kesel saat membikin poster. emoticon-Cape d... (S)

Kelas pertama pun sudah habis. Karena gue tahun ketiga, dan SKS gue dikit, gue dan yang lain masih punya 3 jam untuk menunggu kelas berikutnya. Kami pun segera angkat kaki menuju kantin lalu ke sekre jurusan. Biasanya kami internetan menggunakan WiFi kampus, namun kali ini ada aktifitas lain yaitu main kartu! emoticon-Big Grin

Permainan Capsa di facebook benar-benar merubah aktifitas kami, anak cowo, yang biasa internetan dan beralih ke permainan kartu. Entah apa itu jenisnya, selagi ada yang mengajari kami bermain maka kami akan mainkan.

Namun di tengah sengitnya permainan, Uje yang tadinya tidak ada di sekre datang menghampiri gue.

"Gas, gimana poster?"

"Hmm, entar malem aja deh Je. Besok gue kasih"

"Aduh, tolong Gas. Orangnya nungguin hari ini, gue udah di tagihin"

emoticon-Mad (S) Fvck! Dalam hati gue. Dia minta tolong kenapa dia maksa. Gue mau marah cuma gue gak pemarah dan gak bisa marah. Mau nurutin si Uje nanti kebaikan gue dimanfaatin terus buat keperluan masing-masing.

Namun yang ada dalam hati gue adalah kata-kata bokap gue dengan pepatah minangnya,

Jan takuik jo jariah nan balabiah. Jangan takut dengan jerih yang berlebih

Kalimat itu udah terpatri di benak gue. Jangan takut dengan kebaikan yang berlebih. Seketika permainan itu habis, gue langsung mengambil tas dan mengeluarkan laptop.

"Kontennya apa aja Je?", ujar gue dengan senyuman bulat.

"Aduh lupa gue tadi, ikut gue deh Gas, ketemu ama orangnya langsung"

Gue mendengus sejenak, namun pikir gue itu salah. Seakan gue menunjukkan ketidakikhlasan hati gue dalam menolong, namun sebenernya gue fine-fine aja.

"Dimana?", ujar gue sambil mengaitkan tali sepatu.

"Ayok ikut aja"

Gue berjalan sama Uje. Tapi entah kenapa ketika gue berjalan disamping Uje, gue jadi ngerasa rendah diri. Gue yang berpenampilan apa adanya berjalan disamping cowok macam Uje? Ketiban banget. emoticon-Big Grin

Namun apa daya, karena ini ciptaan Tuhan. Gue gak jelek. Gue ganteng. Karena semua ciptaan tuhan itu rupawan. Namun andaikan gue berpakaian dan berpenampilan sedikit teratur, mungkin saja gue bisa mengimbangi Uje. emoticon-Big Grin

"Mana orangnya? Belum dateng yak", Uje mengumel sendiri. Ia lalu mengeluarkan hapenya dan seperti menghubungi orang tersebut.

Sembari Uje menghubungi orang tersebut tanpa sepatah kata pun, gue pun mulai mengeluarkan laptop gue di teras itu. Teras kampus yang beratap. Gue gak tau istilahnya.

Gue mulai asik memainkan inspirasi gue di Photoshop itu. Sambil menghalangi sinar matahari yang menyilaukan pandangan gue ke laptop. Beberapa saat gue sedang asik menggambar, seseorang datang dari belakang gue.

"Je, gimana?" emoticon-Kiss (S)

Awalnya gue gak peduli orang itu mau datang apa kagak. Kalau dia nggak nyapa gue, gue gak bakal jawab. Namun mendengar suara itu merdu seperti dentingan angin, kepala gue gak tahan untuk menoleh kesamping. Penasaran. Karena dalam bayangan gue, orang yang akan dikenalin Uje ke gue adalah cowok emoticon-Bingung (S)

emoticon-Shutup Kaget. Dan entah senang atau nervous gue ngelihat cewek itu. Sesosok manusia yang gue idam-idamkan. Embun yang tadi pagi memberikan gue feeling yang menyegarkan.

"Nih Bagas, temen gue yang bikinin poster. Dia jago photoshopnya, bla.. bla.. blaa..", si Uje asik berbanyol seperti dia biasa.

Teknik Uje dalam pengenalan dan pendekatan amatlah bagus, baik itu terhadap cowok maupun cewek. Gue juga ngacungin jempol. Namun semakin lama kita mengenalnya, Uje bakal terlihat seperti orang nyari muka dan penjilat. Namun karena dia temen gue, gue mencoba tidak berfikir seperti itu. Hanya saja, kata temen gue yang kenal sama dia juga.

Gue mencermati gadis itu setengah sadar emoticon-Big Grin. Gue tatapi bola matanya. Lalu gue memalingkan muka setelah gue terbangun dari mimpi indah. Kembali menatap laptop gue yang berdebu. emoticon-Malu (S)

Menghilangkan nervous, gue mencoba membersihkan layar laptop gue yang berdebu dengan lengan panjang sweeter gue.

"Kontennya apa aja nih bos?", ujar gue sambil kembali menatap wajahnya emoticon-Malu (S)

"Eh elu, kenalan dulu gak sopan!", sahut Uje menepis tangan gue yang sedari tadi memegang keyboard.

Gadis itupun tersenyum. Mungkin ia tahu gue nervous. Cuma sebisa mungkin gue gak mau memperlihatkannya. Mungkin hanya dengan tatapan mata, gue bisa membuat nervous gue gak terlihat.

Sembari menalan air ludah, gue kembali melirik wajahnya dan menjulurkan tangan.

"Samudera Mabagas"

"Karina Dwiyanti" emoticon-Kiss (S)

Gadis itu kembali tersenyum. Namun, gue kembali mengabaikan.

"Jadi, kontennya apa aja?"
Diubah oleh OblOOOOOOO
Quote:


emoticon-Belomatabelo perkataan itu sama seperti perkataan temen ane tadi malem. Namun, gan apakah semua hati cewek sama ketika dia dideketin oleh seorang pria? emoticon-Smilie

Mari lanjutkan membaca emoticon-Big Grin

Selalu Saja Ada Maunya :(


"Jadi gini, kita tuh ada acara bedah buku gitu Gas, bla.. bla..bla", Karina atau yang akrab di panggil Karin menjawab pertanyaan Bagas.

"Duduk napa Rin", ujar Uje langsung.

"Ah? I-Iya"

Bagas kembali melirik Karin. Ia terbata-bata. Entah kenapa ia terbata-bata. Apakah ia gugup duduk bersama orang yang baru ia kenal? Bangku di teras itu memang hanya cukup untuk 4 orang. Namun bangku disebelah gue udah penuh dengan tas gue. Tinggal bangku disebelah Uje.

Karin tampak ragu dan lalu mempertimbangkan tawaran Uje. Ia pun duduk di samping Uje. Karena disaat itu ia terlihat malu-malu, nervous gue perlahan-lahan hilang. emoticon-Big Grin

Setelah gue mencatat semua konten yang diberikan, gue pun bertanya,

"Kapan emang dibutuhinnya Rin? Besok bisa gak?"

"Iya gak apa-apa, gak terlalu terburu-buru kok", jawabnya.

"Yokatta!", ujar gue dalam hati. Gue pun menghembuskan nafas lega. Akhirnya gue bisa santai ngerjainnya di kosan. Saat gue mulai memasukkan laptop gue kedalam tas, Karin pun pamit. Katanya ia ada kelas siang. Gue dan Uje pun juga berangkat ke kelas, karena juga ada kelas siang.

"Cakep kan ye Gas?", ujar Uje di perjalanan.

"Lumayan siih, kenal darimana lu?", jawab gue kalem. emoticon-Malu (S)

"Pas kemarin Penyambutan Mahasiswa Baru, yaudah sekalian aja gue minta pin BB-nya", ujar Uje dengan bangganya. Sedangkan gue mana bisa bangga? Toh, gue jarang bergaul sama cewek.

Jam-jam berikut pun gue lalui seperti biasa, kuliah, lalu pulang. Sesampainya dikosan gue langsung berbaring dengan nyamannya di kasur. Hingga tanpa sadar, ketika mata gue terbuka, jam handphone gue sudah menunjukkan pukul 3 pagi emoticon-Cape d... (S)

Untungnya hari ini pelajaran hanya ada satu, dan alhamdulillah gak ada tugas. Namun, seperti gue melupakan sesuatu. Gue duduk sambil meminum air dingin dari dispenser dan berpikir sejenak.

"Oh iya! Desain!"

Gue pun langsung membongkar tas gue dan mengeluarkan laptop, melanjutkan desain poster bedah buku pesanan Karin. Dengan mata yang masih lengket, gue mencoba untuk konsentrasi.

======


Kelas hari itu pun selesai. Gue merasa lega. Desain yang gue buat tadi pagi pun selesai. Gue memberikan kepada Uje softcopy-nya. Gue cabut ke kosan tanpa peduli lagi untuk bertemu Karin atau engga.

Sesampainya di kosan pun gue beraktifitas seperti biasa. Streamin dorama, makan, mengerjakan tugas, lalu tidur. Jalan hidup gue kembali flat seperti biasa. Hingga 2 minggu ke depan, disaat dimana pertama kalinya Karin menghubungi gue lewat sms.

"Siang Bagas, ini aku Karin. emoticon-Kiss (S) Gas, bisa minta tolong ga?"

emoticon-Cape d... (S) Kenapa? Kenapa? Ketika ada datang suatu sms dari cewek cakep, selalu aja ada maunya emoticon-Frown

Diubah oleh OblOOOOOOO

Dalam Dirinya ada Diriku - Bagian I


Gue gak bales sms itu. Males dalam hati gue. Gue udah mengabiskan 2 tahun mengabdi pada organisasi dan tahun ini gue pengen nyantai dan fokus pada kuliah emoticon-Malu (S)

Gue berbaring di atas kasur sambil melanjutkan streaming-an dorama yang gue tonton. Tapi entah kenapa disaat itu gue kepikiran sms tadi. "Dari siapa dia dapet nomer gue?", ujar gue dalam hati. Namun bayangan itu langsung gue tepis dengan jawaban gue sendiri, "Mungkin dari Uje".

Gue belum kenal dekat dengan Karin, dia dah minta tolong banyak aja. Gue merasa risih terhadap orang-orang seperti itu. Temen deket gue aja kalau banyak maunya, gue langsung risih. Apalagi orang yang baru kemarin gue kenal. emoticon-Cape d... (S)

Entah angin apa yang begitu sejuk sehingga membuat gue terlelap saat itu. Semua gue sadari ketika handphone gue berbunyi. Alarm "ayam" yang gue setel itu ternyata berfungsi juga kali ini. Gue pun bangkit dan mandi. Hingga pada akhirnya gue beraktifitas seperti biasa.

Hari ini adalah hari kamis. Mata kuliah hari ini ada dua, dan padat hingga jam 12 siang. Setelah itu pulang. Dan hari ini tuh rasanya pengen cepet-cepet pulang, lalu kembali streaming-an.

"Das, mau balik ga? Nebeng dong", tanya gue kepada Ildas yang nampak berdiam diri dari tadi.

"Yok", ujarnya.

Kosan Ildas deket sama kosan gue. Ihsan dan Fadhli mau bermain kartu dengan yang lainny di sekre. Diaz sahabat terdekat gue pun ikutan bersama mereka. Tapi kali ini gue lagi gak pengen ngumpul-ngumpul. Mungkin seseorang mempunyai rasa jenuh juga kali ya. Dan hari ini adalah rasa jenuh gue.

"Ke ATM dulu ya Gas!", ujar Ildas.

"Oke sip!"

Ildas parkir di depan ATM dan gue menunggunya di parkiran. Dan disaat itu, di depan gue, semilir angin melintas membawa aroma Kasturi. Wangi-wangian ini seperti pernah tercium oleh hidung gue. Entah mengepa, sudah ada index terdaftar saat aroma itu tercium.

Gue menoleh, emoticon-Takut (S)

Gue langsung berpaling dari orang itu. Namun, sepertinya kehadiran gue sudah terdeteksi.

"Eh Bagas!"

Gue menyeringai membelakangi panggilan itu. "Anjir sialan! Gue gak punya alasan lagi". Saat itu gue bingung, alasan apa yang bagus untuk gue gunakan dan nggak membuat dia tersinggung.

"Hoi Rin", jawab gue. "Kemarin sorry yak, gue gak ada pulsa"

Gue menghela nafas, sepertinya itu adalah alasan terumum dari alasan-alasan yang lain.

"Oh iya gapapa, jadi gimana mau bantu gak?" emoticon-Kiss (S)

"Bantu ape?" emoticon-Bingung (S)

"Aku ada proker lagi, kamu mau gak jadi panitianya?" emoticon-Kiss (S)

"Proker apa? Gak tau nih, liat sikon" padahal dalem hati "Haiyaaa, cinca? Nggak ah nggak mau!! emoticon-Cape d... (S)

"Bla..bla...bla", dia pun mulai menjelaskan dengan semangat membara.

Gue heran kenapa dia banyak banget ikut organisasi. Apa dia nggak pengen punya waktu santai apa?

"Aduh, sorry nih Rin". Saat itu, hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulut gue.

Aura matanya berubah, dari api yang membara menjadi air yang tenang. Ia simpulkan sedikit senyum dibalik terangnya bibir manis itu.

"Oh yaudah, gapapa"

Sebuah kalimat pendek dengan nada pasrah yang membuat gue nggak tega emoticon-Berduka (S). Inilah penyakit gue yang gak bisa disembuhkan emoticon-Cape d... (S). Selalu saja berakhir dengan kekalahan.

"Yok Gas". Ildas pun keluar dari ATM dan menyalakan motornya.

Gue melihat punggung Karin yang sudah berjalan menuju ke tempat tadi dia datang. Gue gak tau ke arah mana dia menuju, karena kondisi disitu ramai dengan mahasiswa.

"Karin...". Hati gue sudah terdorong memanggilnya.

"Sini deh gue bantuin, gak usah masukin kepanitian. Emang lo kenapa gak bisa?", ujar gue.

"Gue banyak yang mau dikerjain Gas. Yaudah kalau gak bisa, ga apa-apa kok" emoticon-Kiss (S)

"Gapapa, gue bantu editnya pake komputer. Gue minta tolong lu gambarin aja sketsanya bagus-bagus di kertas. Gue buntuk inspirasi saat ini", ujar gue jujur

"Bener nih, sip deh!"

"Ntar sms aje gimananya yak, kasian temen gue nungguin"

"Oke Gas!" emoticon-Kiss (S)

Dan aura matanya kembali berubah. Seperti orang yang diberi harapan yang benar-benar menjanjikan. Melihat senyumnya saat itu. Ada setetes air, yang sepertinya mulai membasahi gelas di hati gue yang kering.

Diubah oleh OblOOOOOOO

Dalam Dirinya ada Diriku - Bagian II

Mengingat cahaya yang ada di matanya, gue pun bela-belain untuk menunggu sms dari Karin hingga malam pun menyapa. Entah mengapa gue selalu mengecek handphone dan berulang kali menekan tombol kunci.

emoticon-Bingung (S) Gue tungguin sambil mendownload beberapa film. Namun sms tak kunjung sampai. 'Yasudahlah', pikir gue dalam hati. Gue gak berharap lagi. Hingga ngatuk pun sudah mulai menyelemuti gue. Perlahan mata gue terpejam bersama hangatnya selimut dan pelukan guling. emoticon-Kiss (S)

Saat gue bangun pun, gue langsung mengecek handphone apakah ada sms dari dia, hanya untuk mengatakan "Maaf, aku lupa" atau "Maaf aku ketiduran", namun semua hanyalah harapan kosong belaka.

Gue berangkat ke kampus dengan sedikit kekecewaan. Namun biarkan lah itu berlalu. Tak terlalu gue pikirkan, walaupun gue masih tersenyum kecil ketika mengingat senyumnya dan sinar matanya kemarin sore.

Singkat cerita, kuliah pertama pun selesai. Dan dilanjutkan dengan kuliah kedua. Kuliah kedua berada di tempat yang sama, oleh karena itu gue tetep stay di kelas sambil nonton anime. Namun seseorang menghampiri gue.

"Gas, ada cewek tuh nyariin di depan", ujar Siti kepada gue yang sedang nongkrong rame nonton anime di belakang kelas.

"Ciee, Bagas udah jago sekarang"

Dan bertubi-tubi ledekan pun menghampiri gue, "Udah ganteng dia udah ganteng! emoticon-Big Grin"

Gue penasaran siapa yang menyari gue. Saat gue melangkah keluar kelas, sinar matahari yang memantul tepat di lantai dekat pintu menyilaui mata gue. Gue pusing, dan mengatupkan mata sambil berjalan menghindari keramik itu.

Dan saat gue membuka mata, dalam hati gue ada sebuah bunga yang tumbuh begitu saja. Bunga indah yang semerbak wanginya. emoticon-Kiss (S)

"Gas, hari ini bisa gak?", ujar Karin terhadap gue yang masih berkedip menghilangkan sakitnya silau di mata

"Jam berapa? Dimana?", tanya gue dingin.

"Sekarang bisa kan?"

"Waduh gue ada kuliah ampe Ashar, sorry banget yak"

"....", gadis itu diam sejenak. Nampaknya dia berfikir bagaimana bisa mengajak gue untuk bekerja sama, namun gue nggak tahu alasan apa yang membuatnya ragu untuk mengeluarkan persuasinya.

"Gue masuk yak", ujar gue. Sengaja gue berdiri beberapa detik di hadapannya sambil menatap bibirnya, untuk menunggu jawaban darinya.

Namun dalam beberapa detik itu, gue menyadari kalau harapan itu adalah palsu. Gue pun berbalik badan.

"Di kosan gue aja Gas, di Childo", ujarnya sedikit ragu.

Seketika itu gue berbalik badan. Menatap matanya lama, kadang ia menghindari tatapan gue.

"emoticon-Malu (S) Apa?! Dikosan lu??", tanya gue menekankan. Walaupu gue sedikit ragu akan permintaan itu.
Diubah oleh OblOOOOOOO
imajinasi ente bener-bener top...;

hahahahhahah

ijin nenda dolo...

Dalam Dirinya ada Diriku - Bagian III


"Atau dikosan kamu?", ujar Karin.

'Hmm..', gue berpikir sejenak. Sebenernya kalau sudah sampai kosan, gue males untuk angkat kaki kemana pun. Cukup dikosan gue aja udah rame. Rame dengan teriakan anak-anak fakultas lain maupun temen sekelas gue yang jomblo emoticon-Big Grin

"Yang lain aja napah?", ujar gue sok imut. emoticon-Malu (S)

"Haaa, Bagaaasss, tolonginnn dongg", ujarnya tak kalah imut emoticon-Cape d... (S) entah kenapa nasib gue seperti ini.

Ya, sebagai seorang cowok, saat itu perasaan gue adalah seneng. Selain gue diliatin oleh adik kelas gue dan beberapa temen gue lainnya berbicara dengan Karin, gue juga diajak ke kosannya.

emoticon-Malu (S) Semakin gue membayangkan, semakin gue seneng. Dalam hati, gue bertanya-tanya, "Apa ya yang akan terjadi nanti di kamar" emoticon-Genit

Detik-detik berlalu bersama menghilangnya awan. Kegelapan mulai menyelimuti kota itu. Selepas Maghrib, gue berangkat menuju Kosan Childo, kosan termewah, dan kebetulan kosan itu deket dengan kosan gue.

"Blok B, kamar, hmm.... ini!", gue memasuki Blok B dan mengetok kamar yang ada di depan gue itu.

"Iya, sebentar.. Siapaa?". Suara dari dalam itu bertanya kepada gue. Namun belum sempat gue menjawab, pintu itu terbuka.

emoticon-Malu (S) Deg..deg..deg.. Seperti sebuah mikrofon, suara detak jantung gue keras terdengar seiring dengan terbukanya pintu itu.

"Eh emoticon-Gila siapa?"

"emoticon-Nohope Lah ini bukan kamarnya Karin?", ujar gue ketika melihat gadis cantik dibalik pintu itu. Berbeda, namun serupa emoticon-Malu

"Bagas, hehe, maaf ya! emoticon-Big Grin Disini aja ngerjainnya di ruang tamu", tiba-tiba Karin datang dari samping.

"Temen kamu Rin?"

"Iya, maaf ya teh", ujar Karin sambil tersenyum.

Gue duduk di sofa ruang tamu. Kosannya berbentuk rumah yang dibagi per blok. Dan memiliki ruang tamu untuk mengerjakan tugas bareng-bareng. Gue pernah nganterin adik kelas gue yang juga kebetulan tinggal di Childo, dengan blok yang berbeda.

Namun ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita, gue pun tak berdaya. Ketika gue harus duduk di ruang tamu untuk mengerjakan desain poster. Seperti kegiatan formal saja emoticon-Cape d... (S)

"Udah lu bikin belum desain kasarnya?", ujar gue memulai pembicaraan.

"Udah, tunggu bentar ya!", Karin pun masuk ke dalam kamarnya. Gue memperhatikannya dari tempat gue duduk. Gue penasaran yang mana kamarnya Karin.

Dia masuk ke dalam kamar pojok, 2 kamar setelah kamar gadis tadi. Selang beberapa waktu gue tunggu, Karin tak muncul-muncul dari kamarnya.

emoticon-Bingung (S) Apakah Karin terkena Roomnesia? Sebuah penyakit ketika memasuki ruangan, akan lupa dengan hal yang ia lakukan?

Ataukah Karin merasa pegal dan tidur sejenak?

Entahlah, yang penting hampir sepuluh menit gue menunggunya. Gue bosen, dan gue mulai mendekati pintu kamarnya. Ingin mengetuk dan memanggilnya keluar.

Sesampainya di depan pintu, gue mendekatkan kuping gue. Mana tau ada suara dari dalam yang bisa gue dengarkan yang menandakan Karin masih hidup.

Namun tak ada suara. emoticon-Bingung (S)

Jujur ini pertama kalinya gue ke kosan cewek sendirian. Namun gue mencoba memperlakukan hal yang sama ketika gue ke kosan temen cowok gue.

"Rin, lama--", gue menarik gagang pintu dan mendorongnya.

"Eh, maaf-maaf Gas"

Karin yang sedang duduk di atas kasurnya sambil memeluk kedua lututnya dan menghadap laptop, tiba-tiba berpaling dan menutup laptopnya seketika.

emoticon-Bingung (S) Apa yang dilakukan Karin?

Apa dia menonton film "ehem" untuk memanaskan busi sebelum "bermain" dengan gue? emoticon-Genit

Pikiran jorok gue mulai tumbuh, apalagi ketika ia memalingkan badannya dan menunjukkan pinggulnya yang aduhai dari bajunya yang menceplak. Namun, semua bayangan gue terhenti ketika gue melihat dia menyeka matanya dan menghirup ingus.

emoticon-Bingung (S) Apakah dia menangis?

"Kenapa lu?", tanya gue penasaran.

"Hah? Ga apa-apa Gas", ujarnya.

Perlahan gue melangkah masuk ke kamarnya yang berukuran 3X3 meter, namun mewah. Mendekatinya. Gue masukkan tangan gue kedalam saku celana gue. Menghilangkan nervous yang seketika menjadi-jadi melihat seorang gadis duduk di kasur sambil memeluk lututnya dan lampu kamarnya yang sedikit remang-remang.

Gue melihat sekeliling. Banyak sekali notes, dan poster-poster. Karena melihat situasi, gue gak berani mendekati mereka dan membacanya.

"Maaf Gas, aku ngerepotin kamu?". Suara Karin yang mulai parau mengagetkan gue dari lamunan tatapan sekeliling.

"Nggak napa-napa kok", ujar gue.

"Aku banyak yang mesti di kerjain Gas" emoticon-Berduka (S), jawabnya sambil terisak kembali.

Gue menatapnya dari posisi berdiri. Gue gak berani duduk di sampingnya. Gila, nervous banget saat itu. Gue gak tau mesti gimana emoticon-Thinking emoticon-Shutup

"Yaudah, sini gue bantu. Elah gitu aja nangis emoticon-Bingung (S)", jawab gue.

Dia langsung mengangkat kepalanya yang menunduk, menatap gue tajam dengan kondisi matanya yang bergenang dengan air.

"Kamu gak tau rasanya jadi aku, disuruh ini disuruh itu. Aku pengen banget nolak, cuma aku takut", ujarnya sambil terisak, lalu Karin menunduk lagi. Intonasinya yang tadi tinggi berubah lagi menjadi rendah.

"Takut apa?", tanya gue.

"....", Karin hanya menggeleng.

Gue, masih menatapnya. Lama, ketika gue telah meresapi apa yang katakan.

"Takut gak di anggep? Takut gak punya temen?", ujar gue.

Karin langsung menerawang kedepannya. Sepertinya apa yang gue katakan bener.

Saat itu yang gue pikirkan adalah, gue pengen nyampein kalau gue juga pernah merasakan hal yang sama. Gue ingin bercerita banyak tentang pengalaman dan pelajaran hidup yang gue alami.

"Tolak aja Rin lain kali, gak usah takut. Kalau dia mohon-mohon, pikirin lagi. Apakah lu sibuk atau punya waktu? Kalau enggak, minta maaf aja gak bisa", ujar gue.

"Gue, juga pernah ngerasain kayak gitu Rin. Mungkin ampe sekarang masih. Tapi gue mulai bete, dan mencoba terus nolak dengan halus, alhamdulillah gue tenang-tenang aja sekarang"

"Kalau gitu lu sama aja kayak punya temen cuman karena ada maunya doang. Rugi Rin. Gak perlu punya banyak temen, kalau gue, temen satu orang aja udah cukup. Satu orang teman lebih kuat dari seribu musuh"

Gue duduk berlutut di hadapannya. Untuk mencoba "eye-contact" dengannya. Pengen rasanya gue ngelap air mata yang mengalir di pipinya. Hanya saja, gue gak punya keberanian. Disaat itu gue pengen meluk dia, mengelus rambutnya, memberikan support. Namun, gue tetep gak bisa.

"Dah, gue tunggu di luar ye", ujar gue.

Gue melangkah keluar, meninggalkan tatapan Karin. Dan menutup pintu.
Diubah oleh OblOOOOOOO
Quote:


emoticon-Big Grin makasih banyak gan. top markotop dah.

oke gan, silakan di bukmak emoticon-I Love Kaskus (S)

Dalam Dirinya ada Diriku - Bagian IV


Gue pengen nangis rasanya, ketika melihat orang lain merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan. Ada perasaan nggak enak ketika ingin menolak permintaan tolong orang lain. Mungkin kalau bagi gue, disuruh desain ini desain itu gak masalah, namun gue sempet kadang disuruh jalan beli nasi di warteg depan gang emoticon-Frown Padahal gue lagi nggak mau makan. Kalau nitip, masih mending. Atau kalau gue emang lewat sana dan sekalian beli makanan.

Semenjak perasaan seperti diperbudak itu, yang takut akan ditinggal teman, gue mencoba untuk menolak satu persatu permintaan "tolong" yang merugikan diri gue sendiri. Dan gue, tetep banyak temen kok. Gak pernah kesepian.

Gue banyak dapat pelajaran hidup. Gue tumbuh dewasa perlahan. Belajar dari kesalahan, dan memperbaikinya di masa yang akan datang. Di perkuliahan juga, gue belajar bagaimana caranya agar bisa mendapatkan nilai yang bagus. Di organisasi, gue belajar berkomunikasi dan bersosialisasi, serta belajar juga bagaimana dipimpin dan memimpin.

Walaupun gue masih belum banyak memakan asam-garam kehidupan, namun dalam hati, gue pengen banget buat ngelindungi Karin dan menjadi bahu untuknya. Melihat dia yang begitu polos dan butuh bahu untuk bersandar, gue rela memberikannya tanpa rasa apapun. Gue harap, Karin bener-bener menjadi sahabat gue. Sahabat yang bergender "cewek" yang pertama. emoticon-Malu (S)

"Yaudah, lanjutin Rin", ujar gue ketika dia keluat kamar. Matanya masih terlihat seperti orang habis menangis.

Gue hanya bisa tersenyum ketika menatapnya sedang mengukir di kertas HVS. Ternyata, ada juga orang yang merasakan hal yang sama dengan gue. Ini adalah kali pertamanya gue menemukannya. Dalam diri Karin, ada diri gue yang tersembunyi.

Gue pengen nangis, mata gue udah sakit nahan air mata. Ketika teringat dulu gue menangis sendiri di kamar dan mukul-mukul tembok gara-gara sakit hati. Kenapa orang-orang itu bisanya cuma nyuruh-nyuruh orang! Ngebebanin orang dan dirinya sendiri gak mau di bebanin!.

Tapi hal itu sekarang udah berakhir. Itu juga menguak fakta lain, kalau misalnya orang lain juga berperasaan sama ketika kita meminta tolong yang merugikan dia. Oleh karena itu kita gak boleh kecewa jika orang lain menolak kita, karena ada sesuatu dibalik itu yang merugikan diri mereka.

Kenapa ketika melihat Karin, hati gue selalu bahagia. Pengen rasanya gue peluk guling kuat-kuat, sangking senengnya. Namun, gue gak bakal banyak berharap kali ini. Gue cuma bakal jadi sahabat dia. Sebelum, dia yang mengatakan "persahabatan" ini di depan gue.

"Makasih ya Gas, udah bantu-bantu", ujarnya sambil mengantar gue ke depan pintu, ketika poster itu telah selesai di desain.

"Sip, lain kali kalau ada yang perlu di bantu bilang gue aja Rin. emoticon-Smilie Tapi jangan banyak-banyak toh emoticon-Big Grin", tawar gue.

"emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin Siap-siap Gas!"

" emoticon-Smilie ".

Ketika gue mau berbalik badan, seperti ada sesuatu yang menahan kepergian gue. Seperti ada kata yang mau terucap dari mulut gue.

"Karin!", panggil gue.

"Ya?", dia berbalik ke arah gue. Menatap gue sambil mengatupkan bibirnya.

"Lain kali, coba ya. Di tolak aja kalau lu ngerasa itu ngerugiin lu. Apapun yang terjadi Rin, gue----gue bakal tetep ada disisi lu"

Dia tersenyum. Manis sekali emoticon-Kiss (S). Untung saja hati gue bisa menahan ledakan tiba-tiba ini, kalau nggak, gue bakal lost control.

Malam itu pun di akhiri dengan sebuah senyuman manis darinya. Sebuah senyuman yang tak pernah terlupakan oleh gue.

Diubah oleh OblOOOOOOO
lanjut bro!!
Quote:


siap gan emoticon-Big Grin ane lagi nyari inspirasi dulu buat chapter selanjutnya. mohon penilaian, kritik, saran, masukannya dulu dri agan2.. emoticon-Embarrassment

Awal Sebuah Kebohongan - Bagian I

Semenjak malam itu, gue gak pernah berhubungan lagi sama Karin. Baik melalui media komunikasi ataupun secara langsung. Bahkan gue udah gak pernah lagi ngelihat dia di kampus. Entah kenapa rasa rindu muncul secara tiba-tiba dalam diri gue. Keinginan untuk melihat lagi senyum yang indah itu. Tetes air dalam gelas kehampaan gue sekarang sudah kering lagi.

Gue memang punya alasan buat ngehubungin dia duluan. Bahkan gue sudah tau kosannya dan tinggal kesana apa susahnya. Namun, jika hal itu gue lakukan out of the blue, takutnya Karin berekspektasi lain kepada gue.

Pagi ini gue terbangun seperti biasa. Beraktifitas seperti biasa lagi. Setiap hari berasa dejavu menghantui gue. Siklus hidup gue udah kayak siklus hujan. Itu-itu aja. Bahasa gaulnya, flat. Ketika pengen mencoba aktifitas baru, alangkah berat kaki gue untuk melangkah. Gue hanya menunggu keajaiban datang tiba-tiba dan membuatkan gue sepatu roda, sehingga kaki ini mudah untuk di gerakkan.

"Gimana Bay, si Riska? Masih BBM-an lu?", ujar gue pas istirahat di kantin kepada salah seorang sahabat gue, Bayu.

"Masih Gas, nih baca nih", ujarnya sambil menyodorkan handphone-nya ke gue.

Gue buka chat history-nya, gue baca perlahan. Dan seketika wajah gue memerah dan terasa kaku. Teringat akan hal yang dulu sering banget gue lakukan dengan seseorang yang telah mengecewakan gue.

"Anjir, menurut gue, dia kalau udah mau cerita kayak gini berarti lampu hijau Bay", ujar gue sambil menepuk pundak Bayu.

"Iya sih emang, tapi gue masih gak pede Gas"

"Gak pede kenapa? Lu ganteng ege!" emoticon-Malu (S)

"Kalau itu mah dari lahir Gas. Haha emoticon-Big Grin"

"Anjir, serius gue Bay. Ajak makan lah!"

"Iya, cuma dianya gitu sibuk mulu. Waktu itu hari jumat gue ajak jalan tapi dianya gak bisa, ada urusan himpunan katanya. Trus jum'at besoknya gue aja lagi dia bilang "kok ngajaknya jum'at sih kang, kan aku sibuk"

"Yee, berarti emang jum'at dia sibuk ege emoticon-Cape d... (S) bukan nolak. Pas waktu itu ketemu lu secara tidak sengaja dia senyum-senyum gitu kan emoticon-Malu (S)

"emoticon-Big Grin Iya sih, parah banget Deno. Padahal si Riska gak jauh berapa meter depan samping gue, si Deno malah bilang "Yang mana Bay, yang mana Bay?"

"Haha emoticon-Big Grin Salting dia berarti"

.... Percakapan gue sama sahabat-sahabat gue gak pernah pendek. Selalu pasti panjang. Ada aja yang mau gue ceritain. Bahkan mereka juga ada aja yang mau diceritakan. Salah satu hal yang bisa mengisi hari gue adalah senyum dan cerita dari para sahabat gue emoticon-Smilie

Bayu, dia punya masa lalu yang sama kayak gue. FriendZone. Malah lebih parah. Dan dia juga punya "seseorang" yang bertipe sama dengan "seseorang" yang gue punya. Oleh karena itu, kita selalu berbagi. Cerita-cerita dan pemahaman kita akan selalu sinkron. Bayu, pada akhirnya juga gak pede dengan penampilannya. Padahal menurut gue, Bayu lebih ganteng dari gue. Sehingga gue pengen tau, gue dimata temen-temen gue gimana. Cuma, bodo amatan lah. Kalau misalnya gue tau, takutnya gue gak bisa jadi diri gue sendiri lagi.

Jam istirahat berlalu dengan cepat. Bahkan hingga waktunya pulang. Akhirnya lelah gue bisa terbayarkan juga ketika gue membayangkan pemandangan indah di balik jendela kamar gue, dan kasur gue yang sangat-sangat empuk.

Dan hari itu juga, entah kenapa, walaupun matahari sangat terik, namun dalam diri gue ada hujan tenang dengan sendirinya. Ketika senyum yang disimpul oleh wajah halus itu datang secara tiba-tiba.

"Apa lagi?" emoticon-Berduka (S). Kata-kata itu sepertinya cocok untuk membuat orang tersinggung dan gak mau minta pertolongan.

"Ih, orang cuma balikin flashdisk", jawab Karin manyun sambil menyerahkan sebuah flashdisk ke gue.

"Oh iya flashdisk gue! Gue kirain ilang!", jawab gue sambil mengambil flashdisk itu. Iya! Gue bener-bener lupa! Gue kemarin mau ngeprint makalah jadi bingung gara-gara flashdisk yang selalu ada di meja gue ilang. Disaat itu, gue gak kepikiran sama sekali kalau flashdisk gue ketinggalan.

"Lu mau balik?", basa basi gue sebagai kata lain untuk ucapan terima kasih langsung.

"Iya, mau balik. Balik dulu ya, daaah emoticon-Kiss (S)", emoticon-Ngacir

"Eh, lu bareng siapa?". emoticon-Cape d... (S) entah kenapa kata bodoh itu terucap oleh gue.

"Sendiri, kenapa?"

"Ba--bareng yuk, jalan kaki ke gerbang", ujar gue.

"Gak ah, katanya tadi "apa lagi?" gak mau ketemu aku lagi yaudah" emoticon-Mad (S)

"Yee, becanda.. Mau gak?"

"Hmmm, ayo deh. Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu", ujarnya.

emoticon-Bingung (S) Apa yang ingin dia bicarakan? Apa dia ingin nyatakan cinta? emoticon-Big Grin

Diubah oleh OblOOOOOOO
buset....

potongannya.... emoticon-Takut
Quote:


emoticon-Wowcantik kenapa gan? kita cut cut dikit biar greget emoticon-Wink

Awal Sebuah Kebohongan - Bagian II


Angin tiba-tiba bertiup dari belakang gue, menerbangkan dedaunan gugur di tanah. Hanya tinggal kita berdua, saling menatap satu sama lain, saling melihat rambut kami yang diacak-acak oleh angin.

Gue tersenyum sejenak, dan mengambil langkah duluan ke arah jalan utama. Namun beberapa langkah telah gue ambil, gue nggak merasakan ada aura yang mengikuti gue dari belakang. Hal itu otomatis membuat gue menengok ke belakang.

"Ayo jalan!", panggil gue kepada Karin yang masih berdiri menatapi gue dari belakang.

"Aku bawa mobil", ujarnya singkat dan mengambil langkah ke arah barat.

"Buset, bawa mobil! Gue aja yang udah 3 tahun gak bawa mobil", ujar gue dalam hati sembari mengikuti Karin dari belakang.

"Gas, balik gak lu?", panggil Diaz.

"Duluan gih, gue bareng temen gue", teriak gue.

Diaz mengangguk mengerti dan mengambil kesempatan itu untuk nebeng sama Ihsan. emoticon-Cape d... (S)

Sedari tadi gue memperhatikan punggung Karin tanpa menoleh sedikitpun. Likuk tubuhnya benar-benar menggoda. Langkah kakinya yang berjalan bak model membuat gue berpikiran, "Wajar sih bawa mobil". Dan hal itu sekali lagi yang membuat gue gak percaya diri buat nganggap Karin sebagai gebetan gue. Dianggap sahabat, atau temen deket aja mungkin gue udah syukur banget emoticon-Big Grin

"Lu bawa mobil Rin? Sekali-kali jalan kaki lah!", ujar gue membuka percakapan ditengah badai sunyi diantara kita.

"Kalau ada teknologi tuh harus dimanfaatin emoticon-Big Grin", jawabnya sambil menoleh kebelakang dan tersenyum.

"Yeee emoticon-Nohope". Emang bener sih, gue juga kalau misalnya ada kesempatan bawa kendaraan dari rumah ke kosan, mungkin gue gak bakal nebeng atau rela jalan kaki ke kampus.

"Oke deh Buk Supir, anterin ke kosan yak! emoticon-Big Grin", lanjut gue sambil memasuki mobil itu. Mobil BMW dua pintu. Memang keluaran lama, tapi kalau gue dapet mobil seperti itu, gue bakal bersyukur banget. Karena, gak semua orang bakal pernah dapat kesempatan seperti yang kita miliki.

Mobil itu pun berjalan dan dikendalikan oleh 2 tangan halus milik Karin. Tanpa sadar gue memperhatikan ekspresi Karin ketika membawa mobil, apakah sama dengan ekspresi gue ketika belajar mobil? emoticon-Big Grin

"Kenapa liat-liat?", ujarnya kepada gue ditengah asik menatap wajahnya.

"emoticon-Big Grin Haha, kagak, sejak kapan lu bisa bawa mobil? Gue aja gak pernah bisa bisa emoticon-Cape d... (S)"

"Sejak SMP"

"....", gue hanya mengangguk mengerti.

Angin yang tadi berhembus masih berhembus. Tampak dari jendela mobil, dedaunan masih berterbangan, menari bersama kencangnya angin. Suara musik boyband korea dari radio mobil Karin tidak mengusik gue sama sekali.

"Jadi lu pengen ngomong ape?", tanya gue.

".....", dia terdiam sambil memperhatikan jalan sekitar, seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya.

"Nanti aja deh di kosan kamu ngomongnya" emoticon-Kiss (S)

"Oh oke!", ujar gue seneng.

Kenapa gue seneng? Seketika Karin mengatakan hal itu fasih tanpa nervous, gue ngebayangin kalo misalnya temen-temen kosan gue yang cowo-cowo haus wanita semua melihat Karin masuk kamar gue emoticon-Big Grin Gue gak tau apa reaksi mereka. emoticon-Big Grin Mungkin ada yang bakal gantung diri karena iri.

Selang beberapa menit sebagai Guide jalan ke kosan gue, akhirnya sampailah gue di depan kosan yang bergerbang putih.

"Mang Bagas, tolongg bukain gerbang dong emoticon-Malu (S) emoticon-Big Grin"

"Sialan! emoticon-Big Grin", gue keluar dari mobil dan membukakan gerbang. Segera, Karin memarkirkannya di dalam.

Setelah gerbang gue kunci kembali, gue menuntunnya menuju kamar gue nomer 5. Setelah pintu terbuka, gue endus dulu kamar gue, takutnya masih ada sisa-sisa "aroma" DNA gue yang tersisa emoticon-Big Grin

Lalu gue mempersilahkan dia masuk.

"Aaa, jangan buka celana disini napa! emoticon-Najis (S)", ujar dia ketika dia duduk di karpet gue sambil menyender ke kasur.

"Ye, selow aja sih. Panas, gue pake celana pendek kok", ujar gue. Tapi, dia masih menutup mata.

"Udah?", tanyanya. Gue hanya menjawab singkat "Ho'oh"

Gue duduk disamping kanannya, sambil menghidupkan laptop dan membuka internet.

"Jadi, pengen ngomong apa?"

"Langsung nih? Minta minummm emoticon-Kiss (S)", ujarnya manja.

"Haisss" emoticon-Cape d... (S), gue baru aja mau ngetikkin password ketampilan start up windows gue. Namun tamu satu ini benar-benar memperlakukan dirinya seolah-olah ratu.

"Lain kali ambil sendiri!", ujar gue sambil menyerahkan segelas air dingin dari dispenser gue yang serba bisa.

Dia meneguk airnya dan menerawang ke depan. Seolah menyusun kata-kata untuk mulai berbicara

"Kemarin aku nyoba nolak permintaan kakak kelas aku......", ujarnya.

Mendengar dia ingin curhat, kebiasaan gue sebagai pendengar yang baik langsung keluar. Gue menghentikan tatapan gue ke laptop dan beralih padanya. Posisi duduk gue sekarang pun dalam posisi menghadap pipi kanannya.

"Cuma setelah aku tolak gitu, besoknya dia agak gimanaaaaa gitu sama aku, biasanya enggak emoticon-Frown" , ujarnya.

"Trus?"

"Ya, trus gimana dong?" emoticon-Frown

"Selow aja kali, itu perasaan lu doang kali. Bisa jadi karena lu tolak permintaannya dia kemarin dia agak sibuk dan terlalu fokus sehingga lupa ama sekitarnya. Karena itu diri lu yang ngerasa, mana tau orang lain juga ngerasa kalau dia sedikit lebih berbeda. Bener gak?"

"Iya juga sih......"

"Coba deh, kira-kira 2 atau 3 hari lagi coba nyapa dia atau gimana gitu ngajak ngobrol, ngajak makan, ntar pasti keliatan kok. Kalau dia tetep dingin berarti dia aja yang nggak dewasa"

"Gitu ya? Ntar aku coba deh", Karin mengangguk. Cuma tampaknya dia masih khawatir dan paranoid. Ya, sebagai cewek memang pada umumnya memakai perasaan mereka dalam bertindak.

Sebagai seorang cowok, itulah tugasnya untuk memberikan kekuatan kepada cewek yang sedang lemah emoticon-Metal. Gue menyibak rambut panjangnya yang tadinya terurai menutupi wajah, kebelakang telinganya.

"Inget, lu kan punya gue, temen lo yang bakal ada disisi lo apapun yang tejadi! emoticon-Smilie", ujar gue sambil mengusap rambutnya.

Kepala Karin terangkat dan matanya yang sayu, menatap mata gue. Ketika itu, rasanya seperti jantung gue mau copot. Ketika tatapan kami beradu. emoticon-Malu (S) Gue langsung sadar dan duduk lagi menghadap laptop.

"Aku punya sahabat kok, dari SMA kita satu jurusan. Cuma aku malu aja bilang ke dia masalah ini, takutnya entar dia gak mau minta pertolongan aku lagi", ujarnya.

"He? emoticon-Cape d... (S)"

Entah kenapa hal itu bikin gue malu. Seakan gue memandang dia seperti gak punya temen. emoticon-Cape d... (S) Aduh, gue mesti ngapain yaaa emoticon-Nohope

"Oh yaudah emoticon-Nohope", ujar gue.

"Yaudah apaa? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)"

"Yaudah, gapapa", ujar gue mati kutu.

"Hmm emoticon-Malu (S), yaudah aah, aku balik ya"

"Oke, hati-hati ya!"

Gue berdiri, membukakan pintu gerbang untuknya. Dari dalam mobil dia mengklakson gue. Sebagai jawabannya, gue melambaikan tangan gue.

Gue masuk lagi kedalam kosan. Mengambil posisi di atas kasur. Semakin lama gue memeluk bantal, semakin jauh gue menerawang, semakin terbayang wajah Karin. Dalam benak gue, gue bercerita, "Gue bahagia"

============


Keesokan harinya, dibawah jendela gue yang terbuka, sinar mentari pagi masuk. Gue berdiri karena silau lalu mencuci muka. Namun setelah gue duduk di karpet dan memegang laptop. Pintu gue ada yang mengetuk.

"Yop, bentar"

Tidak ada suara. Biasanya pasti ada yang manggil nama gue. Gue buka pintu gue yang gak terkunci. Dan saat gue menatap orang yang mengetuk pintu itu, angin kembali berhembus, menerbangkan kain jendela dan menggoyahkan pertahanan rambut tidur gue yang kering.
Diubah oleh OblOOOOOOO
lanjut kang....

emoticon-Ngacir...
Quote:


oke kang emoticon-Big Grin lagi sepi nih... jelek kali ya karya ane.. haha yg ngekritik juga ga ada wkwk
Halaman 1 dari 54


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di