alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/522800af18cb171226000006/ketika-siliwangi-merasa-dikecewakan-oleh-panglima-besar-sudirman
Ketika Siliwangi merasa dikecewakan oleh Panglima Besar Sudirman
Quote:semoga ga repost ya sebuah cerita mengenai Insiden di masa Perang Kemerdekaan / Revolusi Kemerdekaan [1945-1949]

Baca Gan! Sejarah Zaman Kemerdekaan yang Menarik emoticon-2 Jempol emoticon-Rate 5 Star

emoticon-No Sara Please dan tetap CINTA INDONESIA emoticon-I Love Indonesia
Spoiler for skrinsut:



SAYA ANAK SIAPA, JENDERAL??


SEPTEMBER 1948, HARI KE-13. Jarum jam baru saja melewati angka 10, ketika pagi itu sekelompok pasukan bersyal merah bergerak pelan mengepung Asrama Kompi II Yon IV Brigade XII Siliwangi di kawasan Solo Balapan. Beberapa di antara mereka nampak langsung memasang posisi tempur di antara rumah penduduk, sementara sebagian besar yang lain bergerak menyebar.

Di dalam asrama, Kapten Oking memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan senjata masing-masing. Usai memerintahkan seorang kurir untuk melapor ke markas induk, sang komandan kompi yang telah banyak makan asam garam perang di palagan Jawa Barat tersebut, lantas mengintruksikan beberapa perintah kepada masing-masing komandan peleton.

Hening menyeruak di kawasan Solo Balapan ketika toko-toko yang baru buka serentak ditutup kembali para pemiliknya. Di dalam rumah, para penduduk terdiam dalam helaan nafas tegang.Beberapa menit kemudian, sebuah letusan terdengar, diiringi tembakan-tembakan yang menyalak ramai dari berbagai jenis senjata. Bunyi peluru terdengar berdesingan. Suaranya yang mengerikan bersanding dengan teriakan-teriakan para prajurit dari kedua pihak yang tengah menyabung nyawa.

Pasukan bersyal merah yang dihadapi oleh anak-anak Silliwangi itu kemudian baru terketahui berasal dari Brigade VII Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) Komando Pertempuran Divisi Panembahan Senopati. Mereka merupakan anak buah langsung dari Mayor Slamet Rijadi.


Sementara itu, di kawasan Kleco (masih di Solo), Kapten Komir tak kuasa menahan rasa geram ketika mendengar kawan-kawan satu divisinya diserang. Tanpa berpikir panjang, komandan Kompi III itu memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke arah Solo Balapan. Sebelumnya satu seksi pasukan dari Kompi I pimpinan Letnan Satu Oemar Said yang tengah bertugas menjaga perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Stadion Sriwedari datang dan ikut bergabung dengan anak-anak Kompi III.

Seolah berpacu dengan waktu, bergeraklah ratusan prajurit yang tengah hijrah tersebut menuju kawasan Solo Balapan. Dalam formasi tempur, mereka bergerak menyusuri jalur rel kereta api Singosari-Srambatan. Sayap kanan diisi oleh pasukan pimpinan Letnan R. Warsita Kusumah, di sayap kiri ditempati oleh pasukan Letnan Herawan dan di tengah Kapten Komir yang langsung memimpin didampingi oleh Letnan Surawinata dan Letnan Oemar Said.

Sekitar pukul 13.00, pergerakan pasukan tersebut sempat tertahan di Pasar Srambatan karena secara tiba-tiba diserang oleh para prajurit dari Divisi Panembahan Senopati. Pertempuran pun berkecamuk hebat dan baru berakhir menjelang maghrib dengan mundurnya para penghadang ke arah Tirtonadi, Jebres dan Lawean.

Begitu tiba di Solo Balapan sekitar pukul 18.30, gabungan Kompi III dan sebagian kecil pasukan Kompi I Siliwangi tanpa ampun menyikat para prajurit TLRI yang sepertinya mulai putus asa menghadapi kealotan perlawanan anak buah Kapten Oking. Pertempuran hebat pun kembali berkobar di Solo Balapan. emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) Namun karena kehabisan amunisi dan rasa lelah yang mendera, memasuki dini hari tanggal 14 September (sekitar pukul 02.00) anak-anak Divisi Panembahan Senopati akhirnya berhasil dipukul mundur.


“Pertempuran sengit itu sendiri menimbulkan 14 orang korban,” tulis Soe Hok Gie dalam "Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan". Dari 14 korban tewas tersebut, menurut sumber Siliwangi yang saya kutip dari buku Siliwangi dari Masa ke Masa, itu termasuk juga korban gugur seorang sersan dan seorang prajurit dari Kompi Kapten Oking.

Lantas apa pasal yang menjadikan dua pasukan yang sama-sama anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus saling menyabung nyawa?

*******Akar Masalah*******

SOLO 1948, hampir ibarat Amerika Serikat di zaman “wild-wild west”: marak dengan kelompok bersenjata, pembunuhan, penculikan dan perampokan. Hampir bisa dipastikan saat itu masyarakat tak bisa membedakan mana garong dan mana pejuang, mana tentara mana lasykar. Selain persenjataan, merekapun memiliki wilayah kekuasaan dan komando masing-masing hingga menyebabkan mereka bergerak nyaris tanpa kendali.

Menurut Soe Hok Gie, dari puluhan kelompok bersenjata itu, yang paling besar adalah Lasykar Pesindo (berideologi kiri),Barisan Banteng (pro Tan Malaka), Divisi Panembahan Senopati (pasukan pemerintah yang sebagian besar komandannya berpaham kiri), Tentara Pelajar (TP) dan Divisi Siliwangi. Yang terakhir merupakan pasukan-pasukan yang hijrah dari Jawa Barat menyusul diberlakukannya Perjanjian Renville.

Padatnya Solo dengan kaum bersenjata menjadikan kota tersebut sangat rawan konflik. Terlebih sebagian besar dari kelompok-kelompok bersenjata itu merupakan sayap militer dari partai-partai politik tertentu. Makanya tak aneh jika, “Dalam suasana politik yang tegang, pasukan-pasukan ini amat mudah terbawa arus politik…”tulis Soe Hok Gie.

Rebutan senjata pun kerap menjadi pemicu konflik utama di Solo. Seperti pada pertengahan 1948, saat satu regu Mobrig (Mobile Brigade atau sekarang Brimob) dilucuti senjatanya oleh sepasukan tentara dari TLRI (masuk Divisi Panembahan Senopati). Karena tak bisa diselesaikan lewat jalur kata-kata, para polisi di Jawa Timur lantas mengancam akan menyerang markas TLRI. Di tengah situasi panas tersebut, tiba-tiba 2 tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan seorang perwira Divisi Panembahan Senopati hilang diculik.

Sebagai respon dari kehilangan itu, salah seorang perwira Panembahan Senopati yakni Letnan Kolonel Sujoto menugaskan Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Prajurit Suradi, Prajurit Supardi dan Letnan Mulyono untuk mencari orang-orang hilang tersebut. Namun, alih-alih berhasil, kelima orang tersebut justru ikut hilang. emoticon-Berduka (S) Para prajurit Panembahan Senopati hanya menemukan sepeda mereka tergeletak begitu saja di Srambatan, yang merupakan markas Kompi Kapten Lukas dari Siliwangi.

Otomatis karena bukti tersebut, Divisi Siliwangi menjadi tersangka kuat pelaku penculikan tersebut. Atas persetujuan Panglima Besar Jenderal Sudirman,komandan Divisi Panembahan Senopati lantas memberikan ultimatum kepada pihak Siliwangi untuk mengembalikan orang-orangnya yang kata mereka diculik oleh pasukan asal Jawa Barat itu. Lewat Mayor Slamet Rijadi, Divisi Panembahan Senopati memberikan batas hingga tanggal 13 September 1948.

Namun hingga sampai batas waktu yang telah ditentukan tersebut, Divisi Siliwangi yang menolak secara keras tuduhan tersebut, tak melakukan apapun. Maka terjadilah pertempuran seru di Solo Balapan dan Srambatan seperti yang saya ceritakan di atas. emoticon-Berduka (S)


*******Mengadu Pada Jenderal Sudirman*******

Tak berhasil dengan cara kekerasan, para komandan Divisi Panembahan Senopati lantas mengadu ke Jenderal Sudirman. Sang Panglima Besar yang secara emosional lebih dekat kepada Divisi Panembahan Senopati menjadi berang dan memanggil Letnan Kolonel Sadikin (komandan pasukan Siliwangi yang anak buahnya terlibat langsung dalam Peristiwa Solo Balapan dan Srambatan). Di hadapan komandan Divisi Panembahan Senopati Letnan Kolonel Suadi (kelak menjadi ajudan pribadi Jenderal Sudirman saat bergerilya),
Jenderal Sudirman mengingatkan Letkol Sadikin: “Jangan pikir apa-apa dulu, kecuali satu saat. Bagaimana perasaanmu sebagai tentara, jika ada perwiranya yang hilang?”


Didesak demikian, alih-alih menjadi segan dan takut, Letnan Kolonel Sadikin malah menjadi tersinggung. Ia juga tetap bersikeras bahwa Siliwangi tidak terlibat dalam penculikan tersebut dan menyalahkan pasukan Slamet Rijadi yang menyerang duluan Siliwangi di Solo Balapan dan Srambatan.

“Slamet Rijadi adalah anak saya!” kata Sudirman.

“Lalu saya anak siapa, Jenderal?” jawab Letkol Sadikin.
emoticon-Berduka (S) Dan pertemuan itu pun berakhir tanpa penyelesaian.


*******Putusan Sang Jenderal*******

Guna meminimalisasi konflik meluas, Jenderal Sudirman kemudian melontarkan ide agar Siliwangi ditarik dari Solo dan Semarang untuk kemudian kedua kota tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Panembahan Senopati. Ide tersebut tentu saja ditolak secara keras oleh para komandan Siliwangi. Letnan Kolonel Abimanju yang saat Jenderal Sudirman menyatakan ide tersebut hadir, mengingatkan Panglima Besarnya bahwa jika keluar intruksi seperti itu maka Siliwangi memutuskan kembali ke Jawa Barat untuk bertempur lagi dengan militer Belanda. Artinya Siliwangi akan tidak peduli lagi terhadap Perjanjian Renville. emoticon-Berduka (S)

Sikap ini juga ditegaskan oleh Letkol Sadikin ketika didesak kembali oleh Panglima Besar dan Kolonel Moestopo: “Apakah pekerjaan saya sejak menjaga PON yang lalu dianggap sebagai tindakan pemberontakan atau pembelaan negara? Kalau dianggap pemberontakan, maka saya tak peduli kepada siapa-siapa lagi dan akan pulang ke Jawa Barat…”ujarnya.

Ya, terbayangkan bagaimana pedihnya perasaan seorang tentara ketika merasa “dianaktirikan” oleh Panglima Besar yang dihormatinya. Padahal untuk suatu loyalitas kemiliteran, ia telah mengorbankan segalanya, termasuk meninggalkan tumpah darahnya, hidup terlantar dan miskin di perantauan serta kerap menjadi obyek provokasi kaum politisi.Apakah situasi seperti itu akan kerap terulang? (hendijo).

Ketika Siliwangi merasa dikecewakan oleh Panglima Besar Sudirman

Sumber Tulisan: Hendi Johari

Ini salah satu tulisan beliau yang sempat jadi HT:
[HT] Ariawiratanudatar III Bupati Cianjur yang terbunuh tragis


emoticon-I Love Indonesia

"Semua founding father pasti punya cela! Untunglah saya bukan mencintai mereka karena mereka malaikat. Saya mencintai mereka dengan semua kemanusiaannya, kelemahannya, dan bahwa kontribusi mereka sangat besar, sekali pun sebagai manusia mereka punya cela dan cacat"

Bukan maksud TS provokasi atau semata-mata menjelekkan Sang Jenderal Besar,
TS hanya menyampaikan sejarah menarik megenai nasib Divisi Siliwangi saat Revolusi Kemerdekaan emoticon-I Love Indonesia


Spoiler for NB:
Oh beginilah nasibnya soldadu...
Di osol osol dan diadu adu...
Tapi memang tidak apa...
Demi untuk negeri kita...
pasukan SILIWANGI!
SAEUTIK GE MAHI!...

Ketika Siliwangi merasa dikecewakan oleh Panglima Besar Sudirman


nih ada yang ngeledek, pengen dibalur emoticon-Bata (S) kali emoticon-Ngakak (S)

Quote:Original Posted By fabily1987
Lalu kemana perginya kian Santang gan emoticon-Ngakak justkid


Ketika Siliwangi merasa dikecewakan oleh Panglima Besar Sudirman

Nih KOPASSUS juga asal mulanya Pasukan Khusus bentukan Divisi Siliwangi
Lalu kemana perginya kian Santang gan emoticon-Ngakak justkid
nyimak dulu gan emoticon-Kiss
nih gan ada foto para Reenactor

pakai seragam perang Divisi Siliwangi masa Revolusi Kemerdekaan

Ketika Siliwangi merasa dikecewakan oleh Panglima Besar Sudirman
ane baru au ceritanya gan
makasih yah infonyaemoticon-Matabelo
Nyimak dlo yaaa gan. emoticon-Hammer
tinggalin jejak dulu baru baca emoticon-Ngacir




Quote:mampir thread ane juga gan emoticon-Big Grin
[review] Sony Bluetooth Handset SBH52 uda bisa preorder minggu depan
10 earphone dengan design unik
bahaya sering memakai headset

emoticon-Angkat Beer
Nyimak dulu deh gan panjang amat cerita nya emoticon-Cendol (S)
pasukan siliwangi memang terkenal gan pada masa itu, mereka pejuang yang sangat gigih membela tanah airnya termasuk ikut membantu dalam peristiwa Serangan Umum 1 maret, tapi sayang banyak jasa mereka yang terlupakan termasuk Mohammad Toha yang meledakkan gudang amunisi Belanda di Dayeuhkolot, padahal itu adalah sarana vital pasukan Belanda, Mohammaad Toha kini cukup hanya menjadi "Local Hero" aja gan.... emoticon-Sorry
Quote:Original Posted By staycool.euy
pasukan siliwangi memang terkenal gan pada masa itu, mereka pejuang yang sangat gigih membela tanah airnya termasuk ikut membantu dalam peristiwa Serangan Umum 1 maret, tapi sayang banyak jasa mereka yang terlupakan termasuk Mohammad Toha yang meledakkan gudang amunisi Belanda di Dayeuhkolot, padahal itu adalah sarana vital pasukan Belanda, Mohammaad Toha kini cukup hanya menjadi "Local Hero" aja gan.... emoticon-Sorry


Moh Toha gugurnya masih muda gan emoticon-Berduka (S) Keluarganya ada di Garut

adeknya masih idup, temen deket perempuannya juga masih ada, diwawancara TV mengenai sosok Moh Toha masih pada inget

Sekarang jadi nama Jalan tuh Moh. Toha langganan macet banjir
Tritnya bagus gan, berhubung ane kuliah di universitas jendral suedirman
Quote:Original Posted By robierabit
Tritnya bagus gan, berhubung ane kuliah di universitas jendral suedirman


wah kalo tempat ane adanya

UNJANI, Univ Jend Ahmad Yani emoticon-Malu (S) seangkatan lebih muda dari Jenderal besar

komeng dolo deh, biar kebagian pejwan emoticon-Big Grin

habis itu baru baca...



siliwangi selalu harum
Wah sejarah emang seru ya gan emoticon-Matabelo
nyimak dulu gan sambil minum emoticon-coffee
Quote:Original Posted By aganbulbul
komeng dolo deh, biar kebagian pejwan emoticon-Big Grin

habis itu baru baca...





Quote:Original Posted By Hansip.Kampung
nyimak dulu gan sambil minum emoticon-coffee


silaken silaken gan emoticon-Shakehand2

Quote:Original Posted By dave_hendrik
siliwangi selalu harum


jelas dong emoticon-Cool

Quote:Original Posted By J4po0on9
Wah sejarah emang seru ya gan emoticon-Matabelo


yoyoy JAS MERAH
wah ane baru tahu gini cerita nya emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By tyozzz
wah ane baru tahu gini cerita nya emoticon-Big Grin


ceritanya emang jarang keekspose publik kayanya gan emoticon-Malu (S)