alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5215af1b4f6ea10a3d00000c/pembinaan-pemain-muda-di-spanyol-dan-jerman
Pembinaan Pemain Muda di Spanyol dan Jerman
Pembinaan Pemain Muda di Spanyol dan Jerman
Pertarungan Iniesta dan Schweinsteiger di laga leg pertama semi final Liga Champions antara Muenchen vs Barca.

Kehadiran Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund di semifinal Liga Champions menunjukkan supremasi Spanyol dan Jerman di dunia sepak bola Eropa. Bagaimana dua negara ini meraih kejayaan itu? Jawabannya adalah program pembinaan pemain muda.

Dalam tulisan ini, kami akan bercerita mengenai dua akademi sepak bola terbaik di Spanyol (La Masia dan Madrid Castilla) dan peran federasi Jerman dalam membina pemain muda melalui kerja sama dengan klub, perguruan tinggi dan elemen lain.

La Masia

La Masia adalah salah satu akademi terdepan di Spanyol. Berdiri pada akhir dekade 1970-an, akademi ini merupakan ide seorang Belanda bernama Johan Cruyff ketika dia mulai bermain untuk Barcelona. La Masia mengacu ke akademi Ajax Amsterdam, almamater Johan Cruyff.

Sebuah gedung tua di dekat Camp Nou diubah fungsinya menjadi asrama kadet yang dididik bermain sepak bola dengan baik dan benar — tanpa melalaikan kewajiban sekolah formal.

Hasil pendidikan La Masia mulai terasa ketika Johan Cruyff membangun tim impian yang bisa meraih trofi La Liga empat kali berturut-turut sepanjang 1991-1994. Pep Guardiola merupakan bagian tim yang merupakan asli didikan La Masia.

Hingga tahun 2010, Barcelona telah menghasilkan 442 lulusan La Masia. Tidak semuanya berhasil menjadi pemain sepak bola. Hanya ada 41 pemain yang akhirnya sukses membuat debut bagi tim utama Barcelona, sementara 38 lainnya bermain di La Liga. Sisanya ada yang memilih berkarir di luar divisi teratas Spanyol, di liga luar Spanyol atau bahkan tidak menjadi pemain profesional.

La Masia mengajarkan filosofi bermain total football di mana pemain harus sering berganti posisi dengan kombinasi tiki-taka (tradisi satu-dua sentuhan). Pemain didikan La Masia pun dibentuk agar tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati. Intinya, La Masia tidak hanya mendidik anak-anak menjadi pesepakbola tangguh di lapangan namun juga bagi kehidupannya di luar lapangan.

Saat ini, akademi La Masia menghabiskan biaya operasional sekitar 5 juta pound (Rp75 miliar) setiap tahun.

Madrid Castilla

Akademi milik Real Madrid ini cukup dikenal masyarakat. Tetapi berbeda dengan Barcelona, tidak banyak alumni Madrid Castilla yang mampu menembus skuat utama lantaran manajemen klub lebih suka membeli pemain jadi dan berlabel bintang.

Padahal sebenarnya Castilla sudah memberi banyak bukti bahwa mereka bisa menghasilkan pemain berkualitas. Pada dekade 1980-an misalnya, Real Madrid bisa berjaya dengan meraih juara La Liga lima kali berturut-turut. Skuat Madrid saat itu dipenuhi pemain binaan sendiri seperti Emilio Butragueno, Manolo Sanchis, Michel, Martin Vazguez, serta Miguel Pardeza.

Nama-nama terkenal seperti Raul Gonzales, Iker Casillas, dan Guti Hernandez juga merupakan didikan Castilla.

Ketika Florentino Perez mulai membangun Los Galacticos dengan membeli pemain bintang berharga mahal, dia dengan sendirinya mempersulit pemain didikan Castilla untuk masuk ke tim utama. Klub mampu membeli pemain seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, hingga David Beckham.

Alhasil banyak pemain potensial didikan Castilla yang memilih berkarir di klub lain dan bisa bersinar terang di sana. Mereka ini antara lain, Juan Mata, Javi Garcia, Alvaro Negredo, dan Roberto Soldado. Tetapi ada pula pemain yang cemerlang di klub lain kemudian ditarik ke Real Madrid (contohnya Alvaro Arbeloa yang dulu sempat bermain untuk Deportivo La Coruna dan Liverpool).

Bukan hanya Madrid dan Barcelona, klub-klub lain di Spanyol juga punya sekolah sepak bola yang baik. Dengan begini, tim nasional Spanyol di segala level usia tak akan kesulitan mencari pemain karena hampir setiap klub punya akademi pembinaan pemain muda.

Jerman

Sudah lama terkenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia, Jerman sebenarnya pernah mengalami masa yang tidak mengenakkan. Setelah berjaya di era 1990-an dan Euro 1996, prestasi mereka menurun.

Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, Jerman gagal melaju ke semi final setelah dikalahkan tim Kroasia (yang baru pertama ikut Piala Dunia). Pada perhelatan akbar berikutnya, Euro 2000, Jerman kembali malu. Bagaimana tidak? Mereka juara bertahan tapi harus pulang lebih awal karena duduk di posisi terakhir klasemen grup.

Kegagalan di dua turnamen paling bergengsi ini menyadarkan Jerman, mereka tidak bisa selamanya menggantungkan nasib pada pemain veteran. Perlu regenerasi — yang didukung pola pembinaan pemain muda serta liga yang berjalan baik.

Sayangnya, pada saat itu Jerman kekurangan pemain lokal berkualitas. Banyak pemain asing yang merumput di Bundesliga.

Di ajang Piala Dunia 2002, Jerman mulai meremajakan tim nasional dengan bertumpu pada Michael Ballack. Mereka berhasil melaju hingga ke final, tetapi kalah dari Brasil 0-2.

Pada tahun 2002 pula, DFB (PSSI-nya Jerman) menerbitkan cetak biru pembinaan pemain muda secara nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan — mulai dari federasi (DFB), Liga Sepak Bola Jerman (DFL) dan juga Asosiasi Liga Jerman.

Hasilnya? Akademi didirikan guna mengasah bakat muda. Kompetisi regional dan amatir, serta liga profesional, ditata. DFB juga mengajak serta universitas untuk bersama-sama mengembangkan penelitian yang bermanfaat bagi perkembangan sepak bola.

DFB mendirikan 121 pusat sepak bola nasional (dengan pelatih terbaik) di seluruh Jerman untuk “menggarap” anak usia 10-17 tahun. Dana yang dikeluarkan sangat besar, hingga mencapai $15,6 juta (Rp151 miliar) per akademi.

DFB juga mewajibkan 36 klub yang bermain di Bundesliga 1 dan 2 untuk memiliki akademi mandiri. Jika tidak, mereka tak boleh mengikuti Bundesliga. Setiap akademi harus memiliki setidaknya 12 pemain di setiap kelompok umur atau jenjang yang memenuhi syarat membela seluruh tingkatan tim nasional Jerman.

DFB juga mampu mengajukan revisi UU Imigrasi Jerman, yang memungkinkan anak muda imigran memperoleh kemudahan dalam mendapatkan paspor Jerman. Dengan demikian, imigran bisa menguntungkan tim nasional Jerman. Tidak heran jika kini Mesut Ozil, Jerome Boateng, dan pemain lain yang memiliki garis keturunan luar Jerman bisa bergabung dengan Tim Panser.

Setelah semua ini mulai berjalan, tim nasional Jerman di semua kelompok umur tak lagi kesulitan memperoleh pemain berkualitas. Tim junior Jerman mulai merajai Eropa, mulai dari tim U-19 yang menjadi juara Euro 2008, U-17 di Euro 2009, hingga U-21 yang berhasil memenangi Euro 2009.

Ajang Euro U-21 ini diikuti oleh pemain yang kini menjadi tulang punggung tim nasional senior seperti Thomas Mueller, Mesut Ozil, Manuel Neuer, Sami Khedira, dan Jerome Boateng. Mario Gotze yang kini menjadi talenta paling dipuja di seantero Jerman merupakan jebolan tim U-19 Euro 2008. Alhasil, pada Piala Dunia 2010, walaupun Jerman kandas di semi final, tim ini tercatat sebagai tim dengan rata-rata pemain termuda sepanjang sejarah turnamen, yakni 24,7 tahun.

Bundesliga Jerman pun kini dikenal sebagai salah satu liga paling ramah terhadap pemain lokal. Jika pada musim 2003/2004 jumlah pemain asing mencapai 44 persen, pada tahun 2010 menurun menjadi 38 persen. Joachim Loew, pelatih tim nasional Jerman, bisa dengan leluasa memilih pemain untuk masuk skuat tim nasional karena ada 62 persen pemain di Bundesliga yang tersedia.

Kegemilangan Spanyol dan Jerman adalah bukti, keberhasilan dalam sepak bola tidak bisa diraih tiba-tiba. Ada proses panjang yang perlu dipersiapkan. Harus serius menggarap pembinaan pemain muda, harus sepenuh hati mengelola liga dengan profesional, serta harus sabar dalam menuai buah dari kerja keras.

Semoga cerita tentang Spanyol dan Jerman ini bisa menginspirasi pengurus sepak bola Indonesia.
Skuadnya jerman tu keren2 Kak, hampir merata

emoticon-Baby Boy 1
sayang di mari keknya mlempem semua gan
mungkin faktor lapangan ga kalau main di sini emoticon-shakehand
akademi Milan juga bagus lho gan
Forza Milan!!!
dua negara hebat tuh