alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51cb25771dd7193a10000008/anak-anak-yang-terlanjur-mahir-mengucap-amarah
Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah
Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah



DEMI KEHORMATAN DIRI!!!

Di Bandung, Anda akan dengan mudah menemukan anak-anak yang menggunakan baju biru, baju kebanggaan Persib. Anak-anak Bandung (bahkan Jawa Barat) secara alami akan menjadi pendukung Persib. Mendukung Persib itu menjadi semacam warisan dari Bapak kepada Anaknya. Satu bentuk pewarisan yang terjadi begitu saja. Anak-anak yang terlahir di Bandung “sudah ditakdirkan” untuk menjadi pendukung Persib. Bobotoh Persib.

Di sekolah-sekolah, sangat mudah menemukan perbincangan tentang Persib. Di rantau, orang-orang Sunda sangat terbiasa membincangkan Persib. Dengan cara orang Sunda tentunya. Membincangkan Persib seperti Persib itu ialah bagian dari diri. Rasa memiliki yang tinggi, seolah sangat tahu tentang semua hal dari Persib, bercampur dengan rasa cinta yang dalam dan dibarengi kemampuan tutur yang khas Sunda ialah paduan menarik ketika membincang tentang Persib. Tentu saja dibarengi heureuy Sunda yang khas.

Jarak antara orang Sunda dan Persib itu sangat lekat. Di mana-mana, Persib adalah kecintaan yang dalam. Siapa pun dan bagaimana pun, membincangkan Persib selalu menarik (setidaknya bagi saya) bahkan dengan orang yang berbeda faham keagamaan sekali pun. Bermacam bentuk ejawantah budaya di tatar Sunda sering kali terkait dengan Persib. Kang Ibing almarhum terkenal dengan lagunya, salah satu bagian liriknya menjadi begitu terkenal “Prung geura tarung Maung Bandung”. Doel Sumbang memberi sumbangan pula dengan cara menciptakan lagu berjudul “Persib”. Tak hanya mereka, tapi juga kelompok-kelompok budaya anak muda yang khas di Bandung menyatakan cinta mereka untuk Persib. “Mocca” yang tenang, “PHB” yang berdendang lucu, “Mobil Derek” yang “manis”, “Pas-Band” yang gahar, “Harapan Jaya” yang khas, dan lain-lainnya menjadikan Persib sebagai bagian dari karya mereka.

Ini bukan telaah ilmiah yang mendalam tentunya, tapi dari pengamatan sambil lalu namun bertahun, saya dapat melihat bahwa Persib ialah suatu bagian dari keseharian masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Persib sudah menjadi bagian dari masyarakat Bandung dan Jawa Barat.

Pun dengan Persib sebagai bagian dari budaya Sunda. Mungkin terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa Persib adalah budaya Sunda itu sendiri. Akan tetapi dari banyaknya karya dan pengejawantahan rasa para seniman terhadap Persib juga dari kelekatan Persib dengan orang Sunda, setidaknya saya berani menyatakan bahwa Persib ialah bagian dari Budaya Sunda. Tentu saja bukan merupakan keseluruhan Budaya Sunda yang tentu saja sangat luas.

Asasinya Persib tentu “hanya kesebelasan sepakbola”. Tapi Persib kemudian melampaui batas-batas “hanya kesebelasan sepakbola”. Persib ialah bagian dari kedirian (identitas) orang Sunda. Pangeran Biru bukan hanya urusan 2 x 45 menit di lapangan sepakbola. Ini juga urusan “saha urang?” dan juga “kumaha urang?”

Sering saya baca dalam banyak komentar dari berita tentang Persib (khususnya dari halaman maya simamaung.com) bahwa “urang teh urang Sunda. Kudu ningalikeun jatidiri Sunda”.
Artinya menjadi bobotoh Persib sebenarnya juga harus membawa nilai-nilai kasundaan.

Maka Persib ialah kecintaan orang Jawa Barat, kadeudeuh urang Sunda.
————-

Masalah Permusuhan dan Harga Diri

Sekitar 6 atau 7 tahun terakhir ini ada yang berbeda yang saya lihat baik di Bandung maupun Jakarta. Beberapa kali saya temui anak-anak memakai baju berwarna orange bertuliskan “Viking Anjing!” atau anak-anak berbaju biru memakai baju bertuliskan “The Jak Anjing!”. Saya teramat sadar dengan kisah permusuhan dan persaingan Viking dengan The Jak. Bahwa berat mengatasi persaingan antar dua pendukung yang sudah sampai ke sumsum. Bagi orang Sunda, karena Persib sudah menjadi bagian yang teramat lekat dalam keseharian, menyinggung Persib sama saja dengan menyinggung harga diri. Pun demikian halnya dengan pendukung Persija. Urusan Persija sudah merasuk pada persoalan sukma kedirian. Sayang nya kecintaan dan harga diri itu seringkali diterjemahkan dan diejawantahkan dengan cara yang salah.

Saya kira persaingan, permusuhan, atau apa pun namanya, ketika berada pada ranah yang benar tidak jadi masalah. Persaingan antara Viking dan The Jak sebenarnya sudah ada dalam wilayah yang salah. Wilayah yang cenderung merusak dan tidak benar dari sudut manapun. Melempari bus, membunuh pendukung kesebelasan lawan, mengeroyok, saling mencaci, mengancam, melukai, dengan alasan persaingan antar kelompok pendukung sepakbola tidaklah dibenarkan. Viking dan The Jak sudah melampaui banyak batas, meski keduanya mengaku berlandaskan cinta pada kesebelasan masing-masing.

Tindakan dan kata-kata yang terlontar sudah merusak apa yang dituju dari sepakbola. Seharusnya sepakbola melahirkan sikap-sikap yang baik. Bukan sekumpulan orang yang buta mata karena cinta terhadap Kota dan kesebelasan kesayangan. Saya kira harus ada kesadaran bahwa apa yang terjadi antara Viking dan The Jak adalah sesuatu yang salah dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah
Yang paling mengecewakan dari permusuhan antara Viking dan The Jak ialah persoalah pelibatan anak-anak dalam persoalan ini. Sadar atau tidak, mereka yang begitu bersemangat saling mencaci di media sosial; mereka yang tega membunuh pendukung kesebelasan lawan; mereka yang tersesat dalam mencintai klub kesayangannya; dan mereka yang saling membenci itu bukan lah mereka yang terlibat dalam persoalan Kuis “Siapa Berani” atau apa pun yang memulakan permusuhan Viking dan The Jak.

Mereka adalah korban dari kebencian yang terus menerus disebarkan selama bertahun. Mereka seperti diharuskan membenci lawan untuk menjadi bagian dari Viking atau The Jak tanpa mereka sendiri tahu apa pokok soalnya. Merekalah yang tanpa sadar terasuki kata-kata kebencian: coretan di kaos, komentar di media sosial, serapah di spanduk, dan nyanyian di stadion. Mereka menjadi pembenci. Suatu tindakan salah meracuni anak-anak yang bersemangat mencintai sepakbola dengan kebencian yang sesungguhnya kosong.

Lalu berapa anak-anak lagi (yang sekarang begitu bergairah mendukung Persib dan Persija) yang harus terjangkiti kata-kata “Viking Anjing!”, “The Jak Anjing!”, “Bunuh!”, “Bantai!”, dan kata serapah lain? Berapa anak-anak lagi yang di masa remaja mereka kelak akan menjadi pembenci, pencaci, pembunuh dan pengeroyok? Apakah Viking dan The Jak hanya akan melahirkan amarah pada anak-anak itu? Lalu berapa dari anak-anak itu yang akan terbunuh? Dan yang paling penting, bagaimana anak-anak itu kelak akan mengerti sepakbola? Akan menghormati lawan?

Tentu memalukan jika suatu kaum hanya dapat melahirkan kebencian tak terarah dan dengan alasan cinta yang salah. Amat merugi kaum yang mewariskan amarah kepada generasi sesudahnya. Sudah cukup. Para pengurus Viking dan The Jak, pada anggota Viking dan The Jak, dan siapa pun yang mencintai Persib, Persija, Sepakbola, Indonesia, kemanusiaan dan Tuhan yang mencipta manusia, harus mulai menghentikan serapah itu. Saling mencaci dengan kata “Anjing!” atau kata apa pun harus ditanggalkan. Jangan wariskan amarah dan kebencian kepada anak-anak itu.

Melestarikan Persaingan

Persaingan antara kedua kesebelasan tentu harus dilestarikan karena itu memberikan gairah yang khas. Gairah terhadap semangat, terhadap olahraga, terhadap sepakbola, dan terhadap persaingan itu sendiri. Namun pembunuhan, perusakan, pengancaman, penghinaan, bukan lah sebuah tindakan yang dapat dihargai. Itu salah!!!

Tidak ada satu pun ajaran luhur dari kebudayaan Sunda yang mengajarkan perusakan, penghinaan, dan perendahan terhadap manusia. Tidak ada satu pun ajaran luhur dari Kebudayaan Betawi yang membenarkan tindakan merusak, menghina, membunuh, dan menginjak martabat kemanusiaan dengan alasan yang tidak jelas. Para Pendekar Sunda dan Jagoan Betawi ialah para kesatria yang pantang menyerang dari belakang, sekadar omong, sombong, dan bangga memamerkan otot. Tidak ada Pendekar Sunda dan jagoan Betawi yang demikian.

Budaya keroyokan tentu budaya pengecut. Para leluhur kita telah mengajarkan kebanggaan diri, bahwa membunuh lawan dengan cara yang culas tidaklah dibenarkan. Maka menyakiti, menghina, melukai, pendukung kesebelasan lawan jelas tidak direstui oleh para pendekar dan kesatria Sunda dan Betawi. Pun tidak ada satu pun ajaran budaya kita yang membenarkan hal itu.

Kebudayaan Sunda dan Betawi memiliki kelekatan yang kuat terhadap agama dan juga silat. Maka silat dibenarkan guna membela kehormatan dan agama. Masalah mempertarungkan kehormatan sampai berkorban nyawa telah dilakukan leluhur kita untuk menjaga marwah diri, demi agama. Tapi itu dilakukan melawan penjajah dan kedzaliman.

Membunuh dan menghina, merendahkan pendukung tim lawan itu sama sekali bukan tindakan kesatria. Itu tindakan pengecut. Baik Agama, Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, atau apa pun tidak membenarkan tindakan itu. Itu memalukan! Itu salah! Itu harus dihentikan!

Tindakan paling sulit bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menghormati lawan, bertarung dengan penuh kehormatan, dan menerima hasil pertarungan dengan penuh kehormatan. Manusia terhormat melakukan itu. Sementara manusia-manusia rendah hanya akan memamerkan kemampuannya melakukan tindakan-tindakan tak beradab. Menghina, membunuh, menganiaya, mengeroyok dan tindakan pengecut lainnya bukan tindakan yang terhormat.

Saya sendiri berharap persaingan antara Viking dan The Jak tetap lestari. Persaingan yang terhormat. Bukan persaingan dengan cara-cara saling ancam dan menebar kata-kata kebencian di jejaring sosial. Persib tanpa Persija tidak melahirkan keseruan. Persija tanpa Persib tak melahirkan ketegangan. Kita perlu persaingan itu, kita perlu ketegangan itu dan kita sudah kecanduan keseruan itu. Tapi itu harus lestari bukan dengan cara-cara kotor. Bukan dengan cara-cara tidak terhormat. Viking dan The Jak seharusnya melestarikan persaingan dengan cara-cara yang benar. Dengan penuh kehormatan.

Apa yang terjadi sudah tidak benar. Salah secara keseluruhan. Kita tidak perlu melakukan pembelaan terhadap salah satu pihak sembari menyudutkan pihak yang lain. Juga tidak perlu mengais-ngais alasan cinta dan harga diri karena cinta dan harga diri tidak meniscayakan perendahan terhadap pihak lain. Bukan begitu cara membela cinta dan harga diri. Saya sendiri pendukung Persib dan saya bilang bahwa apa yang terjadi antara Viking dan The Jak adalah salah. Seharusnya tidak begitu.

Tidak sulit mencaci maki The Jak atau menebarkan coretan “The Jak Anjing!” atau kata serapah lain. Yang tersulit ialah menjaga harga diri kita, marwah kedirian kita sebagai orang Sunda dengan cara yang benar. Menghina orang lain, merendahkan mereka sebagai anjing, dan tidak menghormati mereka sebagai manusia ialah tindakan rendah yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak terhormat.

Tidak sulit menebarkan kebencian terhadap The Jak. Tidak sulit menyebarkan kata-kata yang menguatkan permusuhan dan rasa enggan untuk berdamai dengan The Jak. Yang sulit ialah membuka pikiran kita bahwa apa yang terjadi sudah bukan bagian dari sepakbola dan tidak ada keuntungan sama sekali yang kita dapat dari permusuhan macam itu.

Dengan menghormati lawan, dengan mengerti arti membela Persib, dengan mengerti arti sepakbola, dan kemudian membingkainya dengan sikap kesatria seperti para leluhur kita orang Sunda mari kita lestarikan persaingan antara Persib dan Persija. Sebuah persaingan terhormat yang dilakukan orang-orang yang terhormat. Bukan orang-orang rendah yang menghina, mengeroyok, menganiya, dan membunuh atas nama sebuah kecintaan.

Tidak lah sulit mengepalkan tangan, mengacungkan tinju menantang Tha Jak. Yang tersulit ialah membuka jemari tangan yang terkepal dan kemudian mengulurkan jabat erat kepada The Jak. Kesatria sejati sanggup memeluk lawannya dalam keadaan yang benar. Demi persaingan legendaris antara Persib dan Persija. Demi persaingan yang hebat antara Viking dan The Jak. Demi anak-anak di masa depan. Demi kehormatan kita!!!

Penulis adalah bobotoh Persib. Beredar di dunia maya dengan akun @tsa1985 dan akun facebook di http://www.facebook.com/shubhi.sunda

sumber : http://simamaung.com/arena-bobotoh-a...ngucap-amarah/
udah tradisi menahun kak,susah dirubahnya... emoticon-Frown




Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah
panjang ulasannya gan,.... ane sambil baca2 dl...
Quote:Original Posted By momod..10062013
udah tradisi menahun kak,susah dirubahnya... emoticon-Frown




Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah


busyet dah,...ktmu lagi...pertamax hunter of the week....
sipp banget gann tritnyaa emoticon-2 Jempol
kaseehh dahh emoticon-Rate 5 Star
Quote:Original Posted By sicapuk
busyet dah,...ktmu lagi...pertamax hunter of the week....

hahaha sering banget ane liat ni cewe pertamax
memang bener apa yg dikatakan TS... semoga persepabolaan kita membaik setiap hari sehingga mampu melahirkan prestasi, bukan saling benci, apalagi anarki.
Anak2 sekarang beraninya pada maen keroyokan...
coba kalo aendiri2 juga pada nunduk...emoticon-Hammer
Wkwkwk ga bisa komen apa2 gan ayolah damai
Quote:Original Posted By momod..10062013
udah tradisi menahun kak,susah dirubahnya... emoticon-Frown




Anak-Anak yang Terlanjur Mahir Mengucap Amarah


rajin banget pertamax sist... emoticon-Ngakak

==========================

ane juga pernah punya pengalaman gan waktu KKN dulu didesa (ane gak usah sebut daerahnya yah), di tempat ane kkn hampir semua anak2 kecil ngomongnya kasar2 banget kalo udah nyangkut masalah sepak bola antara persib dan persija emoticon-Cape d... (S) persis sama kata2 kasar yg agan tulis diatas emoticon-Berduka (S)

ane sama temen2 ane aja pada kaget kenapa anak2 sekecil gitu ngomongnya udah kaya preman emoticon-Cape d... (S). yg ane pikir masa iya anak2 kecil ngomongnya kasar gitu trus di diemin atau dibiarin sama orang tuanya emoticon-Bingung (S)

=========================================

btw wajib HT nih thread biar orang2 dewasanya pada baca
tritnya panjang gan,tapi isinya menarik juga emoticon-2 Jempol
suka atau fanatik sama klub bola apa untungnya si? bingung gw ama orang2 skrng. mending cari duit dah sana..
×