alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sejarah Nisfu Syaban dan Peringatan Nisfy Syaban.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51c70d556212434e67000003/sejarah-nisfu-syaban-dan-peringatan-nisfy-syaban

Sejarah Nisfu Syaban dan Peringatan Nisfy Syaban.

WELCOME TO MY THREAD


Sejarah Nisfu Syaban dan Peringatan Nisfy Syaban.


Nisfu Syaban : Secara Harfiyah nisfu adalah Pertengahan (tengah) Sya'ban adalah Bulan ke delapan dalam kalender Hijriyah yaitu Bulan Sya'ban jadi secara umum ber arti Pertengahan Bulan Sya'ban.

Peringatan Nisfu Sya'ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan.

Mengapa pada malam Nisfu Sya'ban ini selalu dilakukan peringatan, Apa dasar hukumnya ?
Pertanyaan yang bagus sekali dan sangat mendasar, jadi kesimpulannya adalah
Melakukan Amalan Ibadah pada malam Nisfu sya`ban merupakan hal yang dianjurkan dalam Syariat Rasulullah SAW sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia mulai dari baca surah yaasin bersama selama tiga kali berturut-turut atau melakukan shalat sunah berjamaah dimasjid dan amaliah-amaliah lainnya. karena tidak ada hal yang jelek dalam hal melakukannya bahkan bisa menjadikan Tolabul Ilmi dan berbuat amalan yang baik.

Keutamaan malam nisfu Sya'ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali .

Kalau kita kaji dari sisi hadits mengenai keutamaan bulan Sya`ban para pakar hadits berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian pakar hadits seperti Imam Turmudzi, Imam Ibnu Khuzaimah, Alhaitsami,Imam Baihaqi mereka mengatakan : bahwa hadits yang dijadikan landasan sangat kuat sekali bahkan Ibnu Khuzaimah mengatakan shahih. Sebagian ulama lain mengatakan haditsnya sangat lemah.
Kemudian setiap pakar hadits mempunyai ketentuan dalam penilaian sesuai dengan ijtihad mereka dan setiap mujtahid tidak mewajibkan mujtahid lain untuk mengikuti pendapatnya serta tidak boleh mencaci maki atau menghukumi ahli bid`ah sebagaimana yang dikatatan oleh para Ulama (لا إنكار في مسائل الخلاف) tidak boleh mengingkari sesuatu yang masuk katagori perbedaan pendapat.
Ini yang dipraktekkan para sahabat-sahabat Rosulallah dan para Tabiin.bahkan Ibnu Taymiyyah Dalam Fatawanya memberikan komentar dalam hal ini serta mengingatkan kepada umat islam agar tidak mengingkari masalah ini.
Dari sisi lain kita di perbolehkan mengamalkan hadits Dhoif dalam Fadhoil a`mal asalkan Tidak sampai pada derajat pemalsuan hadits dan ini menjadi kesepakatan para Ulama( Fathul Mughits, Al-Imam Asshohawi juz 1 hal 268. Tadribu Rowi juz 1 hal 196 ) ini kalau kita berangkat dari pendapat yang mengatakan dhoif.

Dalil –dalil Amaliyah di malam Nisfu Sya`ban
Adapun dalil-dalil yang berkaitan dengan amalan-amalan diatas itu berangkat dari Hadits yang menerangkan tentang keutamaan bulan sya`ban hususnya nisfu sya`ban ditambah dalil umum yang berkaitan dengan kumpul bersama, sebab tidak ada larangan seseorang untuk melakukan ibadah diwaktu tertentu apalagi disana ada anjuran dari rosulullah SAW untuk memperbanyak ibadah dibulan Sya`ban khususnya nisfu sya`ban sebagai mana yang dikatakan ibnu Taimiyyah:

قال ابن تيمية : ” وأما ليلة النصف فقد روى في فضلها أحاديث وآثار ونقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة فلا ينكر مثل هذا وأما الصلاة فيها جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات “( ابن تيمية ،مجموع الفتاوى ، ج 23 ص 132

Artinya : Adapun malam Nisfu sya`ban banyak Hadits dan perkataan para sahabat , tabiin yang menjelaskan keutamaannya bahkan para salaf melakukan shalat pada malam tersebut dan melakukan shalat dengan sendiri itu telah dilakukan oleh salaf, makanya tidak boleh diingkari sedangkan shalat berjamaah itu masuk kaidah umum yaitu melaksanakan amal ibadah bersama-sama.

Membaca Surat Yasin
Membaca yasin selama tiga kali itu masuk katagori tawassul sebagimana yang dilakukan oleh tiga orang disaat tertutup dalam goa lalu bertawasull kepada Allah dengan amal baiknya ahirnya Allah pun menyelamatkan mereka,hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhori dalam Shohinya, yang jelas para ulama sepakat bahwa seseorang diperbolehkan untuk bertawssul kepada Allah dengan amal baiknya sebab melarang seseorang bertawssul dengan membaca surat yasin itu sama dengan mengingkari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori diatas.
Sikap Para Ulama
Meramaikan malam nisfu sya`ban dengan ibadah itu telah disepakati para Madzhab Empat yaitu Madhab Hanafi, Maliki,Syafii, Hambali Adapun secara terperinci sbb:
1- Ibnu Abidin Al hanafi dalam kitab : Hasyiah Roddul Muhtar Juz 2 hal 25 begitu juga Ibnu Najem Alhanafi dalam kitab Bahru Roiq juz 2 hal 56.
2- Imam Dasyuqi Almaliki dalam Kitab Assyrhul kabir juz 1 Hal 399.
3- Imam Syafii Dalam Kitab Umm juz 2 hal 264, Alkhatib Syirbini dalm Mughni Muhataj juz 1 hal 591.
4- IbnuTaimiyyah Alhambali dalam Kitab Majmu` Fatawa juz 23 hal 132 begitu juga Ibnu Rajab Al hambali dalam Kitab Lathiful Ma`arif hal 263 dll.



Quote:



Sejarah Nisfu Syaban dan Peringatan Nisfy Syaban.



TERIMA KASIH BUAT YG UDAH MAU MAMPIR




Sumber Airnya
Hatur nuhun gan pencerahan secara detail
ane bantu rate gan
Sama-sama gan emoticon-Malu (S)
Quote:


Sama sama, sebagai sahabat untuk saling berbagi

Quote:


terima kasih gan emoticon-Rate 5 Star

Mohon maaf lahir dan batin juga ya gan -Dude Herlino dan keluarga-
Terima Kasih atas Treadhnya gan, siraman Qolbu nih malam gini..
Berasa hangat gan emoticon-Smilie
menyimak
temen temen........
malam nisfu sya'ban tidak ada, apalagi maaf²an, itu BID'AH
kalau ada unsur bid'ah dlm beribadah kita
ibadah kita tidak akan diterima oleh allah
maaf²an gk selalu pd hari² tertentu tp setiap kita ada kesalah secepatnya minta maaf (y) , Sesuatu yang tidak berasaskan sumber yang sah iaitu al-Quran dan hadis-hadis yang sabit (authentic) tidak boleh disandarkan kepada Islam. Dalam masa yang sama, tidaklah pula kita mudah menafikan sesuatu perkara dengan menyatakan ia bukan dari ajaran Islam, sebelum kita benar-benar pasti memang tidak wujud dalil dalam hal tersebut. Mengenai soalan saudari, saya jawab berdasarkan perkara-perkara berikut;



1. Hadis-hadis yang berhubung kelebihan atau amalan pada Bulan Syaaban, ada yang sabit dan ada yang tidak. Bahkan terdapat juga amalan-amalan Bulan Syaaban yang diamalkan oleh sesetengah masyarakat itu, hanya ikutan yang tidak mempunyai apa-apa sumber. Ini seperti amalan sesetengah masyarakat yang membuat juadah khas Bulan Sya’ban dan seumpamanya. Banyak buku-buku yang dijual tentang kelebihan Rejab dan Syaaban itu tidak berasaskan hadis-hadis yang sahih.

2. Dalam sejarah ilmu hadis, ramai pemalsu hadis memang gemar membuat hadis-hadis palsu yang berkaitan dengan fadilat-fadilat. Ini seperti mereka mengada-adakan fadilat-fadilat bulan tertentu, surah tertentu dan seumpamanya. Mereka akan mengaitkannya pula dengan amalan tertentu seperti solat khusus, doa khusus, puasa khusus pada hari atau bulan yang dikaitkan dengan fadilat itu. Sebab itulah al-Imam Ibn al-Salah ( meninggal 643H) menyebut:

“Ada beberapa golongan yang membuat hadis palsu, yang paling bahaya ialah puak yang menyandarkan diri mereka kepada zuhud (golongan sufi). Mereka ini membuat hadis palsu dengan dakwaan untuk mendapatkan pahala. Maka orang ramai pun menerima pendustaan mereka atas thiqah (kepercayaan) dan kecenderungan kepada mereka. Kemudian bangkitlah tokoh-tokoh hadis mendedahkan keburukan mereka ini dan menghapuskannya. AlhamdulilLah”.( Ibn al-Salah, `Ulum al-Hadis, m.s. 99, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu`asir).

3. Antara hadis palsu yang direka mengenai bulan-bulan:

“Rejab bulan Allah, Syaaban bulanku dan Ramadhan bulan umatku”. Ini adalah hadis palsu yang direka oleh Ibn Jahdam (meninggal 414H) (lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Manar al-Munif fi al-Sahih wa al-Dha`if, m.s. 95, Halab: Maktab al-Matbu`at al-Islamiyyah).

Beliau adalah seorang guru sufi di Mekah. Dia juga dituduh membuat hadis palsu mengenai solat Raghaib iaitu solat pada jumaat pertama bulan Rejab( lihat: al-Imam al-Zahabi, Mizan al-`Itidal fi Naqd al-Rijal,. 5/173, Beirut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah).

Kata al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751H):

“Hadis-hadis mengenai solat Raghaib pada jumaat pertama bulan Rejab kesemuanya itu adalah palsu dan dusta ke atas Rasulullah s.a.w. Begitu juga semua hadis mengenai puasa bulan Rejab dan solat pada malam-malam tertentu adalah dusta ke atas Nabi s.a.w. Demikian juga hadis-hadis mengenai solat pada malam Nisfu Syaaban (kesemuanya adalah palsu). Solat-solat ini direka selepas empat ratus tahun munculnya Islam”. (Ibn al-Qayyim, al-Manar al-Munif, m.s. 95-98).

4. Namun tidak boleh dinafikan bahawa di sana juga terdapat hadis-hadis yang sahih mengenai kelebihan Bulan Sya’ban. Antaranya apabila bertanya Usamah bin Zaid Nabi s.a.w mengapa baginda banyak berpuasa pada Bulan Syaaban, Nabi s.a.w menjawab:

“Syaaban antara Rejab dan Ramadan, manusia lalai mengenainya. Padanya (Bulan Syaaban) diangkat amalan hamba-hamba Allah. Aku suka tidak diangkat amalanku, melainkan aku dalam keadaan berpuasa” (Riwayat al-Nasai, dinilai hasan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Sahihah 4/522).

Aisyah r.aha juga menyebut:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w berpuasa dalam bulan lain lebih daripada puasa Syaaban. Baginda pernah berpuasa Syaaban sepenuhnya, kecuali hanya beberapa hari (tidak puasa)” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

5. Hadis-hadis yang disebut di atas dan riwayat-riwayat yang lain menunjukkan kita amat digalakkan berpuasa sunat pada Bulan Syaaban. Perbuatan berpuasa pada Bulan Syaaban adalah sunnah yang sabit daripada Nabi s.a.w. Amalan sebahagian masyarakat yang suka berpuasa pada Bulan Syaaban adalah amalan soleh.

6. Adapun Nisfu Syaaban, atau pertengahan Syaaban (15 haribulan), terdapat hadis yang sahih tentang kelebihannya di samping banyak hadis palsu mengenainya. Juga tidak terdapat hadis yang sabit mengenai amalan khusus seperti solat khas pada malam tersebut. Kata al-Imam al-Nawawi (meninggal 676H) dalam kitabnya yang masyhur al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab:

“Solat yang dikenali dengan solat al-Raghaib iaitu dua belas rakaat ditunaikan antara Maghrib dan Isyak pada Jumaat pertama Bulan Rejab, juga Solat Malam Nisfu Syaaban sebanyak seratus rakaat; kedua-dua solat ini bidah lagi mungkar yang jelek. Jangan kamu terpengaruh disebabkan keduanya disebut dalam Kitab Qut al-Qulub dan Ihya ‘Ulum al-Din. Jangan juga terpengaruh dengan hadis yang disebut dalam dua kitab berkenaan kerana kesemuanya palsu. Jangan kamu terpengaruh dengan sesetengah imam yang keliru mengenai kedudukan hadis-hadis kedua solat berkenaan” (4/56. Beirut: Dar al-Fikr).

Al-Imam al-Syaukani (meninggal 1250H) menyebut dalam al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadith al-Maudu’ah:

“Telah diriwayatkan mengenai solat malam Nisfu Syaaban dari pelbagai riwayat, kesemuanya batil lagi palsu” (ms 72. Mekah: Maktabah Mustafa Baz).

7. Pun begitu tidak dinafikan ada hadis yang sahih Nabi s.a.w menyebut:

“Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nisfu Syaaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci) (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain. Al-Albani menilai sahih dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah 3/135).

Maka, sewajarnya apabila hal ini diberitahu oleh Nabi s.a.w, maka kita melakukan amalan-amalan yang soleh pada malam berkenaan dan mengelakkan apa yang Allah benci. Syirik dan permusuhan antara muslim adalah sebab seseorang itu tidak diampunkan. Selain itu dua dosa tersebut, mudah-mudahan kita semua diampunkan.

8. Dr Yusuf al-Qaradawi ada mengulas tentang amalan malam Nisfu Syaaban dengan katanya:

“Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi s.a.w. dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid untuk menghidupkan malam nisfu Syaaban, membaca doa tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam. Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua raka`at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Ianya satu doa yang panjang, yang menyanggahi nas-nas (al-Quran dan Sunnah) serta bercanggahan dan bertentangan pula isi kandungannya…perhimpunan (malam nisfu Syaaban) seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bidah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas. Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bidah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bidah, dan setiap yang bidah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka” (Dr. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu`asarah, 1/382-383, Beirut: Dar Uli al-Nuha, Beirut).

9. Namun begitu, janganlah kita terlalu cepat menghukum. Apa yang disebut oleh Dr al-Qaradawi itu adalah kaedah umum. Sesuatu masyarakat atau seseorang individu mungkin mempunyai keuzuran yang tersendiri. Kemungkinan mereka tidak tahu, atau mereka dihalang ilmu untuk sampai kepada mereka dan seumpamanya. Kemungkinan besar jika mereka tahu, mereka tidak akan melakukan hal yang demikian. Tujuan mereka baik, cuma cara sahaja yang wajar dibaiki. Galakan berdoa dan memohon keampunan pada malam Nisfu Syaaban ada asasnya. Penentuan cara sedemikian itu, tidak ditunjukkan oleh nas yang sahih.
alhamdulillah, tadi malem pertama kalinya ane nisfu syaban an di masjid.
dan barokahnya langsung kerasa, tangan ane yang sakit asam urat dari hari jum'at alhamdulillah langsung hilang sakitnya

mohon maaf lahir batin juga buat ts
emoticon-Belomatabeloemoticon-Belomatabeloemoticon-Matabelo
Diubah oleh luphachebook
emoticon-Matabelo
Diubah oleh luphachebook
emoticon-Matabelo
Diubah oleh luphachebook
Sundul gans....

emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S)


Jangan lupa ntar malem...
Berikut adalah kutipan Syeikh Ibnu Thaimiyah, beliau adalah panutan Salafi Wahabi...

“Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat
malam Nishfu Sya’ban, maka ia menjawab:
“Apabila seseorang menunaikan shalat pada
malam Nishfu Sya’ban, sendirian atau
bersama jamaah tertentu sebagaimana
dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf,
maka hal itu baik.” Di tempat lain, Ibnu
Taimiyah juga berkata: “Adapun malam
Nishfu Sya’ban, telah diriwayatkan banyak
hadits dan atsar tentang keutamaannya dan
telah dikutip dari sekelompok kaum salaf
bahwa mereka menunaikan shalat pada
malam itu. Jadi shalat yang dilakukan oleh
seseorang sendirinya pada malam tersebut,
telah dilakukan sebelumnya oleh kaum salaf
dan ia mempunya hujjah, oleh karena itu hal
seperti ini tidak boleh diingkari.” ( Majma’
Fatawa Ibni Taimiyah [3/131-132].

emoticon-Salaman
entar malem ya Nisyfu sya'ban? wah ane bantu rate juga gan emoticon-Sundul
allhamdulliah ktemu lg mlem nifsyu


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di