alexa-tracking

Tokusatsu Jawa AKSARANGERS

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51b4285f8027cfa419000005/tokusatsu-jawa-aksarangers
Tokusatsu Jawa AKSARANGERS
Quote:Tokusatsu Jawa AKSARANGERS
Aksaranger is a weekly net story that run by a group named Aksaranger Project. Today, most of the younger generation is less concerned with their own culture. Based on that we want to revive the culture through this project. Aksaranger Project started from interest of the Javascript origins story and then we packages it to become more interesting without losing the element of culture itself. Beside that, this project aims to preserve the Javascript that already forgotten from the land of Java.
The first season, contain 20 episodes, tells about the secret behind legendary Javanesse font known as Aksara Jawa. It divided into 4 lines, and 5 fonts per line. It explain how Ajisaka (the ruler of Java), Couldn’t kill Dewata Cengkar (his mortal enemy, the white crocodile monster) and only be able to seal him. But in 2011, the seal was broken, and now Ajisaka's descendant must stop Dewata Cengkar from changing the land of Java into chaos.


Quote:AKSARANGERS
Facebook


Quote:Quote:Penulis : Kawamata Firman
reserved again

Awal…(Mungkin Seperti Itu)

Quote:Jogjakarta, 3 sebtember 2011.

“Dingin”, Adalah kata-kata yang akan diucapkan orang-orang saat ditanya mengenai hawa yang mereka rasakan pada malam itu. Tidak berlebihan, mengingat ini adalah musim panas.Jika siang hari udara menyengat, malam harinya siksaan berubah menjadi sedingin es.Dimalam yang dingin itu, terlihat dua sosok manusia berdiri di depan sebuah toko barang antik. Mereka terdiam, melihat keanehan yang terjadi didepan mata mereka.

“Pencurian? Bagaimana pendapatmu?” Tanya salah satu dari dua orang itu. Dia adalah cowok berumur sekitar 22 tahun. Wajahnya tampan, dengan kulit sawo matang khas orang melayu. Rambutnya disisir rapi belah kanan. Kedua matanya tajam, mencerminkan sifatnya sebagai seorang pemikir, dan analisis. Dia bernama Handi, Anak keturunan bangsawan yang tinggal di salah satu rumah megah ditengah kota Jogja. Malam itu dia memakai Jumper berwarna merah dan hitam dengan garis emas di kedua lengan. Celana hitam dengan sepatu yang senada melengkapi pakaian cowok ini.

“Aku pikir,…tidak begitu.” Jawab orang yang satu lagi. Dia adalah laki-laki berumur 39 tahun, mengenakan baju batik resmi dengan celana kain berwarna cokelat dan sepatu kerja hitam, tak lupa juga blangkon berwarna serupa dengan bajunya, terlihat berada diatas kepala. Laki-laki ini bernama Pandu. Dia adalah pendamping (atau yang biasa disebut dengan “tangan kanan”) Handi.

“Hmm,…apa penjelasan dari kekacauan yang ada dihadapan kita sekarang?” Tanya Handi.

“Coba Anda lihat tuan, bukannya keluar lewat pintu, sepertinya si pelaku justru memilih jalan keluar dengan membobol etalase depan toko.” Jawab Pandu tenang.

“Aku tidak melihat ada keperluan untuk repot-repot membuka pintu. Wajar kan, jika seorang pencuri ingin cepat-cepat kabur, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.”

“Dan menebarkan bau belerang sepekat ini? Saya kira tidak.”

“Kita masuk. Akan terlihat bodoh jika kita tetap berdiri disini dan berdiskusi mengenai sebuah toko barang antik yang kebobolan. Seakan-akan kita adalah…”

“Pencurinya,..Saya juga sependapat dengan anda.”

Kedua orang itu masuk kedalam toko melalui tempat etalase yang sudah rusak. Suara kaca pecah terdengar saat kaki mereka manginjak serpihan kaca yang bertebaran. Didalam, terlihat sebuah ruangan tempat barang-barang antik yang seharusnya ditata rapi untuk menarik pengunjung,berubah menjadi sebuah medan perang seperti sudah kejatuhan bom atom. patung-patung batu pecah, lampu hias berserakan dilantai, rak-rak besar saling menindih, kertas dinding sobek seperti habis dicakar. dengan kata lain, kacau.

“Kekacauan macam apa ini?” Kata Hadi melihat pemandangan didalam ruangan.

“Deduksi anda salah Tuan. Ini bukan pencurian. Tapi peperangan”. Pandu mengoreksiTebakan Hadi saat didepan toko tadi.

“Barang-barang antik ini dirusak, sepertinya ada yang memang berniat untuk menghancurkan karya seni dan peninggalan yang terdapat ditempat ini”.

“Aku akan memeriksa ruangan ini, Anda mungkin berminat untuk mengintip ruangan disebelah kanan. Pintunya terlepas dari engsel, aku yakin ada bukti yang bisa membantu kita mengungkap kasus ini”.

Handi beranjak menuju ke ruang berikutnya. disana dia melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan. membuat Handi serasa mual. Dia memanggil Pandu, dan beberapa saat kemudian,mereka berdua terlihat kaget melihat apa yang ada didepan mereka. Sebuah mayat laki-laki paruh baya,menempel di dinding, dengan kondisi isi perut keluar. cipratan darah besar tercetak dibagian belakang mayat.

“Ya ampun.” Ucap Pandu tanpa sadar. “Ternyata benar, tidak ada barang yang hilang, semua benda antik dirusak, pelaku yang keluar bukan lewat pintu depan, melainkan dengan membobol etalase”. Handi membungkuk dan menganalisa lantai dibawah mayat. Dia seperti mencari-cari sesuatu, tapi tidak menemukannya. “Diambil, Fragment keris nya diambil. Itu yang si pelaku incar. Tepat seperti dugaanku”.

“Kalau benar seperti itu, berarti kita berurusan lagi dengan monster reptil yang belakangan ini sering dibicarakan masyarakat”.

“Masyarakat hanya tau luarnya saja. Kita tau apa yang sebenarnya terjadi”.

“Sebaiknya kita kembali kerumah. Jika polisi sampai ketempat ini dan menemukan kita,bisa-bisa kita yang jadi tersangka”.

Handi dan Pandu bergegas meninggalkan lokasi kejadian. Mereka mengendarai sedan hitam dan melaju diantara dinginnya malam kota Jogja.

#####

Dirumah, Handi dan Pandu segera menuju ke ruang rahasia, tempat dimana terdapat berbagai perangkat canggih yang mendukung investigasi berskala besar dengan layar LED 32″ terpampang ditengah ruangan. Tempat ini adalah tempat dimana Handi, dibantu oleh pandu, menjalankan pekerjaan mereka. Pekerjaan sebenarnya selain hanya sebagai seorang Mahasiswa universitas swasta, dan seorang Abdi dalem. Selama ini mereka memburu makhluk-makhluk yang disebut dengan Caruga. Makhluk reptil yang tercipta dari sihir hitam

Belakangan ini, Caruga seperti lebih terorganisir, karena seperti yang kita tau, monster lebih mengandalkan otot daripada otak mereka yang hanya sebesar kacang polong. Sampai saat ini sudah 2 korban meninggal karena mereka. Tapi yang lebih dikhawatirkan oleh Handi, adalah hilangnya Fragment keris, dari kedua korban ini. Fragment-fragment tersebut adalah benda yang sangat penting, karena jika semua bagiannya terkumpul, akan terbentuk sebuah keris yang membawa mala petaka ditanah Jawa.

“Mereka benar-benar ingin membangkitkan Kanibal itu.” Ucap Hadi sambil mencoba mencari posisi seseorang melalui komputer didepannya.

“Dewata Cengkar?” Tanya Pandu.

“Jangan sebut namanya. Bisa membawa sial”.

“Itu hanya Takhayul,..hehehehe Anda terlalu berlebihan”.

“Bagian mana yang takhayul? Kanibal itu, atau bawa sial nya?”

“Bagian yang membawa sial, Aku tidak akan menyangkal soal……sensor namanya. Dia memang nyata”.

“Dan sekarang tugas kita untuk menggagalkannya.”

“Saya sarankan anda untuk meminta bantuan kepada adik keponakan anda di Kediri.”

“Belum, aku rasa, selama kita masih mampu untuk menghalau serangan mereka, kita belum memerlukan bantuan dari pihak luar”.

“Tapi kita sudah gagal, DUA kali”. Kata Pandu sambil menunjukkan dua jari kanan nya.

“Maka dari itu sekarang kita melacak Guardian ketiga. Dan segera datang melindunginya sebelum Caruga”.

“Apa yang membuat anda yakin kalau kita bisa datang lebih dahulu?”

“Insting”.

“Anda tidak di didik hanya untuk menggunakan insting, analisa semua hal yang didapat. buat kesimpulan,dan buktikan kebenarannya. Itu yang selalu ayah anda ajarkan”.

“Ada waktunya paman Pandu, ada waktunya dimana kita harus mengandalkan insting kita untuk menyelesaikan masalah”.

“Insting yang terasah bisa diandalkan. yang tumpul,… saya rasa tidak”.

“Insting ku sudah cukup terasah, kita tau itu”.

“Saya selalu kalah jika berdebat dengan anak muda”.

“Usia menentukan segalanya”.

“hahhaha, anda bisa saja”.

“Paman Pandu, Aku ingin menanyakan sesuatu. Sebenarnya apa dan bagaimana akar masalah dari semua ini”?

“Bukannya Ayah Anda sudah pernah menceritakannya?”

“Aku tidak begitu mendengarkan. Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tau kalau Kanibal itu bawa sial”.

“Takhayul tuan muda”.

“ya sudahlah. Jadi, tolong ceritakan lagi mengenai semua hal ini”.

“Baiklah, saya akan menceritakannya dari awal. Anda pasti ingat dengan penemu tulisan Jawa, Raden Ajisaka”.

“Iya, yang di film jaman dulu diperankan oleh Barry Prima kan?”

“Saya,…kurang mengikuti acara televisi. Jadi mungkin saya tidak tahu yang itu”.

“Masak sih? yang peran ceweknya Susana itu lo. umm…yang nantinya si cowok dikutuk jadi buruk rupa?”

“Bukan itu. Anda terlalu banyak mencampurkan fiksi dan sejarah”.

“Okelah,…tolong dilanjutkan”.

“Raden Ajisaka memiliki musuh besar, bernama Dewata Cengkar, monster pemakan manusia yang sudah lama menggangu dan membat kehancuran di tanah Jawa. Kejahatan yang sebenarnya”.Pandu melihat Handi menutup telinga nya ketika dia menyebut nama Dewata Cengkar. Pandu tersenyum simpul,kemudian melanjutkan ceritanya.

“Pertempuran demi pertempuran dilakukan oleh Raden Ajisaka melawan Prabu Dewata Cengkar, keduanya sama-sama sakti. Hingga suatu saat, Raden Ajisaka mendapatkan nasehat dari patihnya. Ada satu benda pusaka utuk mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, Keris sakti yang ditempa oleh seorang empu yang namanya sudah melegenda. Tetapi ada satu masalah”.

“Kerisnya terkutuk”. Kata Hadi.

“Benar sekali. tapi Raden Ajisaka tidak mempermasalahkan hal itu. Dia menganggap kalau itu hanya Takhayul.Akhirnya, setelah berbulan-bulan mencari, Raden Ajisaka mendapatkan keris itu dari tangan seorang pendekar.Sebelum membawa pulang keris pusaka, Raden Ajisaka mendapatkan satu peringatan, bahwa jangan sampai keris itu menjadi barang rebutan, karena akan mencelakakan pemegangnya”.

“Oke, paham. Tolong dilanjutkan”.

“Dengan bersenjatakan keris pusaka itu, Raden Ajisaka berhasil menyegel Prabu Dewata Cengkar. Dia tidak bisa membunuhnya, bukan karena Prabu Dewata Cengkar tidak bisa mati, tapi karena memang ramalan mengatakan bahwa yang kelak akan membunuh Prabu Dewata Cengkar adalah Keturunan Raja tanah Jawa”.

“Tunggu dulu… Bukannya Ajisaka adalah Raja tanah jawa?”

“Waktu itu dia belum tahu kalau dia akan menjadi raja di tanah Jawa kan”.

“hmmm masuk akal. Ramalan memang mudah membuat orang stress, oke, lanjutkan cerita nya”.

“Setelah menyegel Prabu Dewata Cengkar, Raden Ajisaka memimpin tanah Jawa dan menebar kedamaian didalamnya. Raden Ajisaka tahu, jika Keris pusaka itu bisa digunakan untuk membuka segel dan membebaskan Prabu Dewata Cengkar, sehingga dia sendiri yang selalu menjaga Keris itu. Hingga siatu saat, Raden Ajisaka harus pergi meninggalkan kerajaan untuk urusan penting. Raden Ajisaka menitipkan keris pusaka itu kepada 2 murid kesayangannya. Cerita kita lanjutkan dari sudut pandang kedua murid ini. Mereka merasa bahwa diri mereka lebih unggul dan sakti daripada yang lain,membuat mereka berhak mengklaim keris yang dititipkan oleh guru mereka. Karenanya, mereka saling berkelahi untuk memperbutkan keris itu”.

“Jangan sampai keris itu menjadi barang rebutan, karena akan mencelakakan pemegangnya”.

“Benar, dan kata-kata pendekar tersebut menjadi kenyataan, Karena sama-sama sakti, kedua murid yang berkelahiitu akhirnya terbunuh semua. Raden Ajisaka yang mengetahui hal ini menjadi sangat sedih. Dia menyalahkan dirinya yang lupa akan peringatan yang sudah diberikan. Dalam kesedihannya, dia membuat suatu syair untuk menghormati kedua muridnya. Empat baris Syair yang nantinya akan berubah menjadi huruf Jawa. Hana caraka”.

“Ada utusan”. Hadi mengartikan setiap kalimat.

“Datasawala”.”Yang saling berargumen, bisa disebut juga berkelahi, tawuran”.

“Padhajayanya”.

“Padha Jaya nya, sama-sama Jaya nya, sama-sama saktinya”.

“Magabathanga”.

“Bathang, Bangkai. Akhirnya jadi bangkai”.

“Setelah itu, Raden Ajisaka menghancurkan keris pusaka menjadi 5 bagian. Untuk kemudian mengutus masing-masingbawahannya untuk menjaga setiap fragment”.

“Pintar,..dengan membaginya jadi 5 dan menyuruh 5 orang untuk menjaganya, jadi tidak ada yang berebut, dan malapetaka bisa dihindari”.

“Itulah akhir dari bagian pertama kisah ini”.

“Lalu bagian kedua nya?”

“Bagian kedua, terjadi saat ini. Dimana Caruga berusaha untuk mendapatkan semua Fragment dan membebaskan sumber dari segala kekacauan”.

“Monster Kanibal”.

“hahaahahahah”.

“Dan sudah jadi tugas ku, sebagai salah seorang yang mewarisi kemampuan Ajisaka untuk menggagalkannya”.

“Dan tugas saya juga untuk selalu melindungi anda”.

“Ketemu!!” Tiba-tiba Handi tersenyum puas karena berhasil melacak lokasi pemegang Fragment ketiga. Dan dari hasil komputer, ditunjukkan kalau guardian ini masih hidup. Berarti Caruga belum menemukan nya.

“Paman, kita berangkat ke Bantul”.

“Siap tuan”. Handi dan Pandu segera berangkat menuju Bantul, daerah selatan kota Jogja, menemui Guardian ketiga untuk melindungi dirinya dan fragment yang dijaganya dari serangan Caruga.

#####

Handi dan Pandu tiba di depan rumah guardian ketiga pada tengah malam. Rumah itu terletak di kawasan Bantul, hampir mendekati pantai parang tritis. Arsitek rumahnya sederhana, dengan taman kecil di depan, ruang garasi seukuran mobil, tidak memiliki pagar depan, tidak bertingkat, dengan kata lain hanya satu lantai, dan desain genteng berbentuk joglo sebagai atapnya.

“Kita datang tepat waktu, masih sepi”. Handi mengawali pembicaraan, setelah dari tadi hanya diam saja diperjalanan.

“Sebaiknya kita masuk kedalam dan bertemu si pemilik rumah. Saya takut jika kesunyian ini bertanda buruk”. Pandu berkata sambil melihat sekeliling dengan seksama.

Handi dan Pandu mengetuk pintu rumah, lumayan lama mereka berdiri di depan, baru pada ketukan ketujuh, pintu rumah terbuka, dibaliknya terlihat seorang pria paruh baya, berumur sekitar 45 tahun. Mata sayunya tersembunyi dibalik kacamata berbingkai gading. Pria itu mengawasi dua orang yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya dengan curiga. Seperti ingin menemukan maksud buruk dari mereka.

“Selamat malam Pak, maaf mengganggu selarut ini. Tapi, kalau anda berkenan, bolehkah kami masuk?” kata Pandu sopan.

“Ini tidak seperti kami akan mencuri dan merusak rumah anda, Kami hanya perlu membicarakan beberapa hal”. Handi meneruskan kalimat.

Pria itu berfikir agak lama, matanya meneliti kedua orang dihadapannya dengan lebih seksama. Dia baru yakin kalau kedua orng ini tidak bermaksud jahat, setelah melihat emblem bangsawan yang dikenakan oleh Handi di sebelah kanan atas Jumpernya.

Ketiga orang ini akhirnya masuk rumah dan duduk diruang tamu. Hadi dan Pandu menunggu dengan tenang, sementarasang pria pergi ke dapur untuk menyajikan kopi hangat. Tak lama kemudian si pemilik rumah tersebut datang dengan membawa tiga cangkir kopi.

“Ada keperluan apa, keluarga bangsawan datang kesini?” Tanya pria itu.

“Perkenalkan, nama saya Pandu, abdi dalem dari keluarga pemuda yang bernama Handi ini”. Pandu memperkenalkan dirinya dan Hadi.

“Nama saya Prabowo. panggil saja Bowo”. Ucap pria itu.

“Sebenarnya tujuan kami kesini agak sulit untuk dijelaskan, tapi kami yakin kalau anda paham setelah mendengar cerita kami”. Handi memulai pembicaraan.

“Baiklah, kamu bisa menjelaskannya secara pelan-pelan”. Jawab Bowo.

“Pak Bowo punya sebuah barang antik yang diserahkan turun-temurun dari keluarga?”

“Barang antik seperti apa yang kamu maksud?”

“Ummm, lebih seperti pecahan besi yang bentuknya mirip ular”.

“Punya, memangnya ada apa dengan itu?”

“Jika bapak memilikinya, berarti bapak dalam bahaya besar. Sudah 2 orang menjadi korban”.

“Apa maksudmu?”

“Ada beberapa orang,….hewan lebih tepatnya, yang mengincar apa yang anda miliki. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh demi mencapai tujuan mereka, Jika bapak paham dengan situasai yang terjadi saat ini, kami sarankan bapak untuk memberikan benda itu kepada kami, agar kami bisa menjaga dan menjauhkan bapak dari malapetaka”.

“Jangan katakan kalau orang yang mengincarnya adalah kalian berdua?”

“Bukan,…bukan kami. Kami justru datang untuk melindungi dan menyelamatkan bapak”.

“Asal kalian tau ya, aku tidak akan memberikan benda itu kepada siapapun. Benda itu sudah menjadi harta warisan yang selalu diserahkan turun temurun dari keluarga ku. Kalian tidak semudah itu bisa mengambilnya”.

“Mereka datang!” Tiba-tiba Pandu berkata sambil melihat kearah depan rumah.

“Pak Bowo, waktu kita tidak banyak, bapak bisa lihat sendiri siapa yang saat ini sedang menuju kerumah bapak. Jika bapak tidak menyerahkan fragment keris itu kepada kami, bapak bisa mati”.

“Fragment keris? Kenapa tiba-tiba kamu menyebutnya keris, padahal benda itu sama sekali tidak mirip keris”.

“Benda yang bapak punya itu adalah 1 dari 5 bagian keris yang terpecah dan dijaga oleh 5 keluarga keturunan pembantu Raden Ajisaka. Saat ini ada pihak lain yang menginginkan semua bagian itu untuk memwujudkan kekacauan. kalau bapak tidak percaya kepada kami, bapak bisa lihat sendiri di depan.”

Handi mulai kehilangan kesabaran. Pak Bowo mengintip dari korden ruang tamu. Matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di depan. Seekor monster sedang menuju kerumahnya. monster itu adalah percampuran antara buaya dan manusia. bagian atas, dari kepala, badan, dan tangan, berbentuk seperti buaya, sedangkan bagian bawahnya seperti manusia. Monster itu mendesis dalam setiap langkah,sambil menebarkan bau belerang pekat ke udara.

“APA ITU!!???” Teriak Pak Bowo.

“Itu Caruga, Bapak sebaiknya mengambil pecahan itu dan teteap berada dibelakang kami. Kami yang akan mengurus monsternya”. Kata Handi.

Handi dan Pandu keluar dari rumah untuk menghadang Caruga didepan mereka. Dari tangan Handi, muncul sebilah daun lontar yang bertuliskan sajak lama. Handi membaca sajak itu dengan berirama. Sesaat kemudian, setiap huruf dalam sajak itu bersinar dan mengelilingi tubuh Handi, membungkus Handi dengan pakaian tempur berwarna merah dan putih. Dari tengah pakaian, muncul huruf jawa “HA” yang kemudian menempel di wajah Hadi dan membentuk helm dengan kaca hitam menutupi seluruh wajahnya.

Pandu yang berada di kiri Handi, mengeluarkan api dari tangan kanan nya. lalu melemparkan api itu ke atas, sambil membaca mantra kuno. Percikan api jatuh menyelimuti tubuh Pandu, membentuk pakaian tempur dengan warna dominan putih dan merah. Dari pakaiannya muncul huruf jawa “PA” yang membentuk helm tempur dan menutupi kepalanya.

Tak lama setelah proses transformasi itu, Kedua ranger langsung menyerbu Caruga. Pertarungan itu membuat Caruga terdesak, pukulan dan tendangan bertubi-tubi diterimanya dari segala arah. Dua lawan satu memang tidak seimbang. Caruga yang baru mau menangkis serangan dari satu ranger, harus menerima serangan dari arah yang berlawanan oleh ranger lain. Setelah cukup lama kualahan menghadapi kedua lawannya, Caruga itu jatuh merunduk di tanah. dia terlihat seperti kehabisan nafas. Tiba-tiba dia menyemprotkan cairan asam dari mulutnya. Kedua ranger itu menghindar dengan cepat, Caruga membabi buta menyemprotkan senjata terakhirnya kesegala arah, tapi percuma, kedua lawannya lebih lihai dalam menghindari serangan. Beberapa detik kemudian, Handi sudah berada di belakang Caruga, dia melompat dan menendang punggung Caruga, yang diikuti oleh Pandu dengan mengeluarkan hawa panas dari kedua tanggannya, lalu memukul Caruga dari depan. Gabungan serangan keduannya membunuh Caruga seketika, tubuh monster itu terbakar dan menjadi abu.

“Tugas kita hampir selesai paman, monster ini sudah mati, tinggal kita ambil fragment dari pak Bowo dan mengamankannya”.

BLARRRRRRRR!!!!!!

“HA?? Rumahnya…..meledak!!??” Teriak Hadi terkejut. Rumah yang sejak tadi tidak menunjukkan tanda-tanda aneh,tiba-tiba saja meledak hebat.

“Tuan, jangan berdiam diri saja, kita masuk menyelamatkan Pak Bowo”. Pandu membangunkan Hadi dari keterkejutannya.

Mereka berdua berlari masuk rumah, menerobos setiap barang yang berserakan dan debu yang berhamburan. Cukup lama mereka mencari pak Bowo di setiap ruangan. mereka baru menemukan Pak Bowo di kamar belakang. Tubuhnya sudah hangus terbakar, seperti dibakar dari dalam. Tangannya seperti memegang sesuatu yang diambil dengan paksa. Hadi tahu jika kali ini pun mereka sudah gagal. Caruga yang baru saja mereka hadapi hanyalah umpan untuk menjauhkan Guardian Fragment dari kedua ranger ini.

Dalam keputusasaan Handi dan Pandu segera keluar dari rumah itu. mereka hanya bisa berdiri terdiam melihat rumah guardian ketiga yang saat ini berubah menjadi reruntuhan hitam.

“Kita gagal lagi paman”. Handi berkata sambil menundukkan kepala.

“Andai saja saya tahu jika Caruga tadi terlalu mudah untuk dikalahkan….” Pandu juga menyesali apa yang terjadi.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, tinggal 2 orang lagi. Apakah memang sudah takdir, jika malapetaka itu harus terjadi? Lalu apa tugas kita? apakah kita tidak punya kemampuan untuk mencegahnya?”

“Kita punya Tuan,…hanya saja kita belum cukup kuat”. Pandu berkata lirih menghibur Handi. Dia membimbing Handi masuk mobil,dan keduanya pergi meninggalkan puing-puing rumah yang menjadi bukti kegagalan usaha mereka.

Penyelamatan Sepupu…(Culik apa maling?) (1)

Quote:Puing-puing rumah pak Bowo masih dikerumuni tetangga dan polisi yang mencoba mengusut asal-usul kebakaran itu.

“Kompor mbleduk ya?” Tanya salah seorang ibu-ibu yang suka bergosip.

“Bukan, gara-gara bakar sampah mungkin. Kan belakangan ini angin kenceng banget”. Jawab ibu yang lain.

“Eh, malem-malem bakar sampah, kurang kerjaan?” Sanggah seorang hansip.

“Hush, Bukannya mbantu polisi ngusut kasus, malah nge gosip”. Ketua RT menyelesaikan perdebatan mereka.

“Rumahnya dibakar Monster”. Teriak salah satu anak kecil.

“Ini lagi,…kecil-kecil udah suka gosip. gedhenya mau jadi apa ntar!?” Pak RT mulai naik pitam.

“Mau jadi Ultraman”. Jawab anak itu sekenannya.

“GRRRRR…Ini anak siapa!!!!???”

Di keremangan malam itu, tanpa penduduk sadari, ada siluet hitam mengawasi rumah pak Bowo. Siluet itu sudah mondar-mandir bahkan sejak Handi dan Pandu meninggalkan rumah itu dua jam yang lalu. Mata kuning emas memancar dalam kegelapan, bagaikan bulan bersinar tajam. Saat penduduk kembali kerumah masing-masing, siluet itu berjalan mendekati rumah pak Bowo. Keempat kakinya melangkah tanpa suara, bagaikan ada udara tipis yang membatasi telapak kakinya dengan tanah. Makin lama, mulai terlihat wujud sebenarnya dari makhluk itu. Macan kumbang. Dia hanya duduk diam dengan kaki belakangnya selama kurang lebih 30 menit. Kemudian, dia menghilang. Berubah menjadi kabut hitam dan menyatu dengan warna malam.

#####

Handi terbangun dari tidurnya pada jam 5 pagi. Matanya masih merah karena hanya tidur sebentar. Dia meraba-raba meja sebelah kanan tempat tidurnya mencari jam, lalu mengamatinya. Handi lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan melakukan latihan ilmu bela diri di pagi hari. Saat membuka pintu belakang rumah, Handi melihat Pandu, abdi dalemnya sedang meditasi.

“Belum tidur Paman?” Tanya Handi.

“Belum tuan, Paman hanya perlu untuk mengistirahakan pikiran”. Jawab Pandu tenang.

“Walaupun aku kurang paham,…okelah. HOOAAAAAAHHMMMM”

“Jika tuan masih lelah, tuan istirahat dulu. Urusan rumah, biar saya saja yang mengerjakan”.

“Tidak tidak,…Aku mau latihan. Stamina dan skill ku masih kurang.”

“Skill dan Stamina tuan sudah cukup. Hanya saja sifat tuan yang masih belum bisa tenang”.

“Itu masalah lain”.

“Itu masalah yang sama”.

“Tidak berpengaruh ke kemenangan pertarungan kok”.

“Berpengaruh sekali”.

“Beri aku contoh atas argumenmu!”

“Saya tidak perlu mengingatkan masalah tadi malam”.

“…… oh itu….”

Handi berjalan ke halaman belakang. Dia mulai belatih pernafasan untuk mengatur dan menenangkan pikiran. Dia sedikit ogah-ogahan untuk melakukan latihan ini. Karena selama ini dia yakin kalau kunci dari kemenangan dalam pertarungan, ada pada akal, kemampuan bertarung, dan skill atau ilmu bela diri. Tapi kejadian yang mereka berdua alami tadi malam, membuktikan bahwa sifat licik bisa menendang pantat ketiga aspek yang diunggulkan Handi.

Tak terasa sudah 1 jam Handi bermeditasi. Sebenarnya dia tidur sih, hanya saja posisi tidurnya seperti orang meditasi. Pandu yang sudah pergi kedalam rumah duluan, sekarang terlihat menyapu ruang utama dan membersihkan perabot rumah. Suasana rumah itu terlihat tenang, udara pagi yang sejuk berhembus dari celah ventilasi di tembok dan dinding rumah. Kicauan burung terdengar beriringan disela-sela batang pohon. Sangat kontras dengan jalan raya didepan rumah yang penuh dengan suara deruman mesin motor dan mobil.

Pikiran Handi melambung membayangkan apa yang telah dilakukannya selama ini. Dari mulai daun lontar berisi dua bait tembang jawa warisan ayahnya, identitasnya sebagai keturunan dari Ajisaka, sang raja tanah Jawa. Kewajibannya mencegah kebangkitan Dewata Cengkar, serta kegagalannya dalam menyelamatkan 3 orang fragment guardian. Tiba-tiba, kilasan bayangan tadi membentuk sesosok wajah yang familiar bagi Handi. Wajah seorang perempuan berkulit putih kekuningan, matanya agak sipit bagai angsa, bertambah indah dengan warna mata cokelat muda yang berkilau tertimpa cahaya. Rambutnya yang panjang sepunggung, lurus dan lembut, sehingga ketika dia menoleh, rambutnya akan berkibar searah tiupan angin. Senyum merekah dibibirnya yang merah. Sambil tersenyum, perempuan ini mendekati Handi. dan berkata…..

“BANGUN Anak Pemalas!!!!”

“WOAAAA” Handi berteriak gelagapan sambil melihat sekeliling,…tidak ada siapa-siapa di halaman belakang itu. Handi hanya mampu mengelus dada mengingat mimpi buruknya barusan.

“Tuan…ada apa? Anda kelihatan pucat”. Pandu datang dari arah ruang tamu. Ditangannya masih membawa sapu.

“Mimpi buruk, Ada Caruga menonjok wajahku”. Kata Handi ngeles.

“Anda…takut dengan Caruga?”

“Aneh??”

“………”

“Ada masalah?”

“Tidak ada….saya melanjutkan bersih-bersih rumah”. Pandu berjalan memasuki rumah lagi, kali ini sambil cekikikan.

“Paman,..oh iya, setelah ini kita membahas urusan yang tadi malam. Kebetulan hari ini aku tidak aku tidak ada kuliah. Soal sarapan, biar aku saja yang menyiapkan”. Kata-kata Handi dijawab dengan anggukan oleh Pandu.

Setelah semua pekerjaan rumah selesai, dan sarapan nasi gudhek disantap diatas meja makan, Handi dan Pandu kembali membahas masalah fragment keris dan Caruga.

“Tinggal 2 lagi, dan kita kiamat”. Kata Handi.

“Bukan hanya kita tuan,..Tapi seluruh penghuni tanah Jawa”. Jawab Pandu.

“Menarik, jadi kalau kita kabur ke bali, atau kalimantan, kita tidak akan kiamat”.

“Tidak juga sih, karena mereka juga akan menginvasi pulau lainnya kan”.

“Hanya tinggal tunggu waktu ya?”

“Takutnya seperti itu”.

“Aku heran, apa nantinya mereka juga akan menginvasi negara lain ya?”

“Kenapa anda bertanya seperti itu?”

“Penasaran saja”.

“Tidak Tuan,.. Visa dan Paspor sekarang mahal dan prosesnya makin sulit. Apalagi untuk tujuan invasi. Untuk tujuan wisata saja sudah harus membayar sekitar 300 ribu”.

“He….?”

“Um….lupakan apa yang saya katakan. Kita kembali ke pokok masalah”.

“……”

“Tuan, saya sarankan lagi kepada anda untuk meminta bantuan. Kita kalah jumlah dan kalah otak disini. dengan kata lain, sumber daya kita kurang”.

“Lalu siapa paman,…yang bisa kita mintai bantuan? Karena yang aku tau, hanya kita berdua yang mempunyai kekuatan untuk membunuh mereka.”

“Ada 2 orang lagi yang anda ketahui tuan”.

“Jangan mereka”.

“Kenapa?”

“Paman tau sendiri kan, yang satu galak minta ampun, yang satunya lagi dingin dan sok pintar”.

“Kami abdi dalem bukannya sok pintar tuan, kami hanya dilatih untuk mengobservasi dulu, sebelum bertindak. Yah…walaupun aku juga kurang suka pada sikapnya. Tapi untuk yang satu lagi,…galak? Apa maksud tuan?”

“Hmph” Handi menelengkan muka seakan tidak peduli. Tapi Pandu membaca raut muka Handi.

“Ada apa dengan Nona Ratna?”

“AAAAAGGHHH,….Kenapa harus dia?” Handi marah-marah sambil mengacak-acak rambutnya. “Dia itu tipe cewek angkuh yang suka memerintah seenaknya”.

“Tapi tidak ada jalan lain tuan”.

“Moh (tidak mau)”.

“Ayolah…”

“Gah (tidak mau)”.

“Sekali ini saja”.

Handi dan Pandu saling bertatapan sambil memasang wajah cemberut. mereka terdiap selama 1 menit, lalu secara tiba-tiba mereka berdua melakukan ancang-ancang untuk saling memukul. “HEAAAAAAAAAA…..”

“Paman menang,… semut lawan gajah, jelas gajahnya kalah”.

“AUUUUUUU…… sial”.

“Paman kebelakang dulu”. Pandu pergi meninggalkan Handi dimeja makan. Handi hanya merengut karena kalah suit dari Pandu, yang berakibat dirinya akan berurusan lagi dengan sepupunya yang galak.

“kenapa sih aku ga bisa kabur dan hidup tenang, jauh dari cengekraman cewek itu. Pagi inipun aku sudah ditonjoknya. pertanda ini…..haduh”.

Handi pergi menyusul Pandu ke halaman belakang. Dia melihat Pandu sedang menggulung kertas kecil yang akan disematkan ke kaki seekor merpati putih.

“E E E E…paman mau apakan merpati ku?” Handi mencegah Pandu.

“Paman akan mengirimkan surat minta bantuan ini ke kediaman Nona Ratna.” Jawab Pandu tenang.

“Sini merpatinya.” Handi merebut merpati itu dari tangan Pandu dan mengembalikannya ke kandang.

“Tuan…kenapa merpatinya dikembalikan ke kandang?”

“Hmph… lihat ini”. Handi menunjuk kearah kandang yang kini sudah diisi merpati.

“iya”.

“Ini hanya untuk jaman jebot. Sekarang tahun 2011. pakai ini untuk menghubungi orang lain”. Handi menunjuk Hanphone flip di tangan kanannya.”TELEPON. ga ada merpati-merpati an”. Sambil berlalu, Handi menekan tombol untuk menelpon nomor sepupunya.

agak lama menunggu, terdengar suara telpon diangakt di seberang jalur komunikasi. setelah itu,

terdengar suara lembut seorang gadis.

“Halo,…”

“Halo. Ratna.”

“Iya, ini siapa ya”?

“AMIN…Dia tidak menyimpan nomorku”.

“Ini Handi. sepupumu dari Jogja”.

“Handi…bagaimana kabarmu? sudah lama tidak main kesini.”

“Cuman 2 tahun, gak lama kok. (tunggu, beneran ini dia? kok suaranya lembut banget, ga ada galak-galaknya.)”

“Halo Handi…”

“Ya Halo.. hehehehe..maaf maaf, ummm kira-kira kamu ada waktu kapan? aku mau main kesana boleh kan”?

“Mau main? bukannya kamu sudah dikirimi undangan pertunangan ku”?

“Whaaaa???? Apa?? Tunangan”???

“Kamu belum tau”?

“Tidak ada surat undangan yang sampai kesini, memangnya kapan tempatmu mengirim surat”?

“Sekitar 1 minggu yang lalu”.

“Ga ada tuh”.

“……………. apa mungkin kesasar ya”?

“Siapa sih yang ngirim surat”?

“Paman Yanuar sih…”

“Jangan bilang dia ngirim pakai merpati”.

“…….hehehe”

“HYAAAAHHHHHHHHH”. Handi menghembuskan nafas. “Kacau lah, kalau jaman modern masih pakai cara tradisional untuk surat menyurat. ga efektif. Jadi kapan nih acara pertunanganmu”?

“Hari ini Handi…”

“HEEEEEEE”!!??? Handi terkejut mendengar kabar yang datang begitu cepatnya. dia benar-benar tidak siap akan hal ini. jika sampai perwakilan dari keluarganya tidak datang, bisa dicap jelek nama keluarganya nanti dihadapan kolega dan teman-teman ayahnya. “Okelah, aku datang, tapi telat-telat dikit gapapa ya”.

“Kebiasaan ah, diusahakan tepat waktu ya”.

“Kita lihat saja nanti”. Handi menutup telpon nya dan segera menghampiri Pandu dibelakang.

“Ada apa Tuan? kok kelihatan terburu-buru”.

“Kita terumahnya Ratna. Hari ini dia tunangan”.

“Kok tidak ada kabar yang datang dari pihak nona Ratna”?

“Jangan tanya,….suratnya telat datang”.

“Maksudnya”?

“Sudahlah… Ayo siap-siap. ga lucu kalau keluarga kita telat datang”.

“tunggu tunggu, itu ada merpati cokelat datang”.

“AHHHHHH….aku goreng merpati itu nanti. Ayo pergi. jangan dihiraukan”.

Handi dan Pandu segera bersiap untuk berangkat ke rumah Ratna dan menghadiri prosesi pertunangan sepupunya itu.

Mereka berangkat menggunakan mobil sedan hitam dan kembali melaju diantara keramaian kota Jogja.

#####

Dirumah Ratna, keadaan sudah ramai, pengunjung dari pihak keluarga kedua insan yang akan bertunangan ini sudah terlihat memenuhi ruang keluarga. mereka berpakaian batik dan beberapa ada yang memakai belankon. Terlihat dari cara bicara dan busana, bahwa semua pengunjung ini adalah orang terhormat. Semua orang berbincang-bincang sambil menunngu acara dimulai.

Handi datang tepat sebelum acara, dia segera berlari keluar mobil dan bergabung dengan undangan, meninggalkan

Pandu yang sibuk memarkir mobil diantara kendaraan yang berbaris rapi di halaman depan rumah itu.

“Untung ga terlambat.” Ucap Handi dalam hati.

Acara pertunangan dimulai. Ratna terlihat mengenakan kebaya berwarna putih dengan corak bunga mawar berwarna pink. Bagian bawah kebaya itu terlihat serasi dengan warna senada. Ratna berjalan dengan anggun lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Semua hadirin yang sudah melihat calon dari pihak perempuan, kini menunggu calon dari pihak

laki-laki.

“satu jam, dua jam…..bosaaannnnnnn. mana ini tunangannya”? Handi mulai tidak sabar. dari tadi dia hanya bisa

mengumpat dalam hati. “Ini ga adil. undangan diharuskan datang tepat waktu, tapi pihak yang berkepentingan malah molor ga jelas. Kapan negara ini mau maju, kalau janji saja ga pernah ditepati. Budaya jam karet”.

Pengunjung mulai cemas, mereka berbisik-bisik dan mulai bergosip, mencari alasan kenapa pihak laki-laki belum juga datang. Handi hanya melihat mereka dengan senyum kecut. setelah budaya jam karet, budaya lain yang dibencinya

adalah budaya gosip. Orang-orang ini seperti menikmati melontarkan dugaan-dugaan seenak hati mereka, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang mereka gosipkan. Saat Handi akan mengambil tindakan dengan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Seorang abdi dalem keluarga Ratna datang menghampiri ratna dan berbisik kepadanya. Abdi dalem itu terlihat agak tua, umurnya kira-kira 40an. janggut kambing tampak di dagunya yang kurus. tubuhnya tinggi tapi kurang atletis. logat bicaranya bahkan lebih kalem dan serius dibandingkan pandu, abdi dalemnya. Dari ciri-ciri diatas, Handi langsung tahu kalau orang yang saat ini berbisik ke Ratna adalah Yanuar, abdi dalem kepercayaan keluarga Ratna.

Setelah Ratna mengangguk, tanda menyetujui perkataan Yanuar, abdi dalem ini lalu menuju ketengah ruangan

dan mengambil mikrofon. Dia mengetuk pelan mikrofon ditangannya sebanyak 3 kali. lalu mengetes apakah mikrofon

itu berfungsi dengan baik. Setelah yakin akan kinerjanya, Yanuar mulai berbicara.

“Hadirin sekalian, saya mohon maaf atas acara pertunangan ini yang tidak bisa berjalan dengan semestinya”.

Hadirin yang lain mulai berbisik-bisik lebih seru.

“Mohon para Hadirin dan undangan sekalian tidak berprasangka buruk. Pihak laki-laki mengalami musibah sehingga tidak bisa datang, dan dengan terpaksa, acara pertunangan ini harus ditunda”.

Setelah pemberitahuan dari Yanuar tadi, orang-orang yang hadir mengeluh tidak karuan. mereka pergi meninggalkan acara dengan muka masam dan menggerutu. Maklum lah, mereka kaum bangsawan, jadi tidak suka kalau dipermainkan. tapi kadang mereka suka mempermainkan. Setelah keadaan rumah sepi, Handi menghampiri Ratna.

“Calon tunangan mu kenapa”?

“Biasa lah, cowok”. kata Ratna dengan menundukkan kepala.

“Memangnya cowok kenapa, kok bisa tidak datang ke acara sepenting ini”.

“Diare”. Jawab Ratna pelan.

“HE”?

“kenapa? jangan heran lah. itu hal lumrah kok”.

“oke oke, lupakan. begini, mumpung kamu lagi gundah gulana putra petir, aku ada tawaran untukmu…mmm bukan tawaran sih, lebih tepatnya permintaan”.

“Tunangan”?

“Bukan”.

“Atau kamu mau melamar aku”?

“Ngaco!!! aku mau minta bantuan masalah Caruga”.

“Hush…jangan keras-keras. Kita bicara didalam ruang makan saja”.

Handi dan Ratna akhirnya pergi meninggalkan orang-orang yang ada diruang utama untuk menuju ruang makan. Disana

mereka duduk dan mulai membahas masalah yang dihadapi oleh Handi.

“Ada apa dengan kadal-kadal itu”? Raut muka Ratna berubah serius.

“Mereka berhasil mendapatkan 3 fragment”.

“3?? apa yang kamu lakukan? sehartusnya kamu mampu mengalahkan mereka”.

“Awalnya aku juga berfikir begitu. Tapi kali ini mereka seperti ada yang mengorganisir”.

“Jelaskan apa maksudmu”.

“Pernah dengar pocong baris”?

“Pernah, tapi kan itu hanya rumor”.

“Itu perumpamaan nya, ya seperti itulah, Caruga tak berotak yang biasa kita hadapi, kali ini bisa mengatur dan menjalankan strategi. Bahkan bisa menipu aku, yang seorang…”

“Raja penipu.”

“Jenius…..bukan raja penipu”.

“Ya kamu kan suka ngibuli teman-temanmu, jangan kira aku lupa ya”.

“Ratna, itu bukan ngibuli, tapi minter i”.

“Sama saja”.

“Beda”.

“Sama”.

“Beda, yang satu kata dasarnya kibul, yang satu pinter”.

“terserahlah….jadi apa yang kamu inginkan”?

“Aku butuh bantuan mu untuk membasmi dan menghalangi mereka mendapatkan fragment selanjutnya”.

“Lupakan. aku tidak bisa”.

“kenapa? kamu kan salah satu pemilik daun lontar ajaib kan? lagipula aku sepupumu. masak membantu sepupu saja

perhitungan”?

Ratna mendekatkan wajahnya ke wajah Handi. Handi yang kaget memundurkan sedikit kursinya. mata mereka saling

bertatapan. yang satu mengintimidasi, yang satunya ter-intimidasi.

“Aku katakan padamu ya…Aku sudah tidak bisa keluar dari rumah ini. banyak peraturan yang harus ditaati, terlebih lagi aku wanita. kita tahu kan apa aturan kerajaan terhadap anak wanita mereka”.

“Pingitan”?

“Kurang lebih seperti itu. Jadi,…Handi…maaf, kali ini aku tidak bisa membantu”.

“Tunggu tunggu… Dimana kata-kata makian yang seriang keluar dari mulutmu. kenapa juga kamu ga nggebrak

meja seperti yang biasa kamu lakukan waktu marah? Keracunan apa sih kamu kok bisa jadi begini”?

“Handi…Aku sudah dewasa sekarang, umurku sudah 25, sudah bukan waktuku untuk bertingkah seperti anak kecil

yang sok kuasa. karena kenyataanya pun, aku saat ini berada pada kuasa kedua orangtua ku.”

Ratna berajak dari ruang makan, meninggalkan Handi yang terdiam memandang sepupunya. sebelum melangkah melewati pintu, Ratna berhenti dan memandang Handi. “Satu hal lagi… Kita bukan sepupu. Ayahku adalah teman dekat ayahmu, dan walaupun mereka berdua mengganggap satu sama lain saudara, itu tidak menjadikan ku sepupumu, dan begitu pula sebaliknya”.

Dan Ratna menghilang dibalik pintu.

#####

“Tuan, anda mau apa, berpakaian hitam-hitam seperti itu malam-malam begini”? Pandu bertanya keherannan melihat

Handi berpakaian hitam bka teroris. Malam itu, Handi tidak pulang kerumah, melainkan memarkir mobil sedan hitam nya

didekat rumah Ratna.

“Aku akan menculik putri sok tahu itu. Tidak ada yang bisa menggagalkan rencanaku sekarang”. Handi keluar

dari mobil sambil membawa tali tambang untuk digunakan memanjat tembok.

Handi melemparkan tali yang dibawanya sehingga melewati tembok rumah. pengait diujungnya menyangkut pada

salah satu hiasan bunga di pilar tembok. Handi mengecek kekuatan tali, apakah sudah cukup untuk menampung berat

badannya, kemudian mulai memanjat tembok putih dihadapannya.

Baru memanjat 5 langkah, Handi melihata da bayangan meloncat keluar dari dalam rumah. Mengira itu maling,

Handi langsung menjegal kaki orang itu. Si pelaku terjatuh dengan bunyi berdebab pelan. Handi segera melompat untuk

menindih dan mengunci gerakan lawannya.

Penyelamatan Sepupu…(Culik apa maling?) (2)

Quote:
Pelaku yang sadar kalau dia ketahuan, segera membalikkan badan dan menghadang Handi dengan tendangan, Handi

menangkis serangan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya digunakan untuk membalas dengan pukulan.

Pelaku itu menghempaskan tubuhnya kebelakang untuk menghindar, lalu melesat ke handi dan mulai menghujani Handi dengan pukulan bertubi-tubi. Handi menangkisnya menggunakan kedua tangan, menunggu hingga ada celah terlihat dari serangan lawannya, lalu melancarkan tendangan kearah perut. Diluar dugaan, pelaku tadi juga bisa menahan tendangan Handi dengan kedua tangan dan melontarkan kaki Handi ke udara.

Handi melayang selama beberapa saat, dan kemudian melancarkan pukulan dari udara. Si pelaku juga tidak mau kalah,

dia juga menghujani Handi dengan pukulan. Baku hantam mereka semakin sengit. Handi yang sudah naik pitam akhirnya memukul wajah pelaku itu. BUAKKKKK Penutup kepala hitam yang dipakai si pelaku melayang. Akhirnya Handi tau siapa yang dihadapinya

tadi. Handi terkejut bukan main, karena dia melihat seorang yang sudah dikenalnya.

“RATNA”?

“Kau….kenapa kau memanjat tembok rumahku? mau mencuri ya”?

“Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Kenapa kamu loncat tembok malam-malam begini”?

“Bukan urusanmu. Suka-suka aku mau kemana”.

“Jadi, kata-kata taat peraturan itu hanya keluar dari mulutmu, bukan hatimu”.

“Mau aku tonjok lagi”?

“Kalau kau berani”.

Mereka berdua kembali berkelahi. kali in bukan hanya pukulan, tapi juga tendangan yang saling beradu, ditengah hening

malam. Pandu yang melihat tuannya melenceng dari rencana awal, segera menghampiri, dan ketika mengetahui siapa yang

dilawan oleh Handi, Pandu segera mengkahiri pertarungan.
“Kalian berdua..sudah sudah”.

“Jangan ganggu aku paman, aku akan memberi pelajaran pada cewek sok tahu ini”.

“Tuan, bagaimana pun juga dia wanita. Jangan kasar”.

“Iya, wanita galak”. Handi menendang perut Ratna. Yang ditangkis Ratna dengan pergelangan tangan kirinya.

“Katakan apa mau kalian berdua malam-malam begini didepan rumahku”?

“Menculikmu”.

“ApA???”

“Aku pikir tidak ada cara lain, meyakinkanmu untuk membantuku akan percuma mengingat sifatmu yang keras kepala”.

“Itu dulu. Sekarang aku sudah berubah”.

“Jadi makin keras kepala”.

“Diam….” Ratna memukul pipi kanan Handi.

“ADUUHHHH”

“Rasakan. masih terlalu cepat 10 tahun untuk menculikku”. Ratna berlari menjauh dari Handi dan Pandu.

“Aku tunggu kau dirumahmu. Kita selesaikan urusan kita disana”. Dan Ratna menghilang ditengah gelapnya malam.

“cewek itu…..grrrrrrrr” Handi mengertakkan giginya.

“Tuan, sepertinya kita gagal menculik nona Ratna”.

Handi dan Pandu saling menatap. beabrapa saat kemudian keheningan mereka dipecahkan oleh suara Handi. “Tadi

dia bilang apa? mau menunggu dirumahku”?

“Sepertinya begitu”.

“Berarti…..”

“Nona Ratna bersedia ikut dengan kita”.

“Oh tidak…. bukannya aku yang menculik dia, tapi dia yang malah melarikan diri kerumahku. Paman,…

ayo pulang. kita sudah tidak ada urusan ditempat ini”.

Handi dan Pandu pergi meninggalkan rumah Ratna, menaiki mobil sedan hitam. sepeninggal Handi dan pandu, siluet

macan hitam yang sebelumnya sempat muncul di puing-puing rumah pak Bowo, kini terlihat berjalan didepan rumah Ratna. Tanpa mereka ketahui, sang macan dari tadi sudah mengamati pertarungan antara kedua pemegang daun lontar ajaib itu. Kini, sang macan hanya duduk diam, didepan pintu rumah, menghadap kejalan dan mengawasi keadaan dengan mata kuningnya yang tajam. Perlahan tetapi pasti, tubuh macan hitam itu berubah menjadi asab dan kembali berbaur menjadi udara malam

yang dingin.

#####

Macan Kumbang…(Kucing Garong) (1)

Quote:Kita punya 3 kekuatan sekarang. 2 merah dan 1 putih, apa yang perlu kita takutkan”? Ucap Ratna saat dia bertemu dengan Handi dan Pandu dirumah Handi.

Beberapa jam setelah kegagalan Handi menculik Ratna yang lebih dikarenakan Ratna sudah kabur terlebih dahulu dari rumahnya, mereka bertiga berkumpul di ruang investigasi untuk membahas masalah fragment guardian yang keempat. Terlihat Ratna yang sekarang mulai pegang kendali, Handi dan Pandu diam mendengarkan, yah walaupun sesekali Handi angkat bicara saat dia merasa ada yang kurang cocok dengan pemikiranya.

“Aku sudah melacak lokasi guardian yang keempat. suatu keajaiban sampai sekarang dia belum mati”. Kata Ratna sambil mengawasi layar monitor besar di tengah ruangan itu.

“Dan lokasinya”? Tanya Handi penasaran mendengar kata-kata Ratna.

“Di gunung kidul, kalau menurut peta ini, lokasinya lumayan terpencil”. Jawab Ratna tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Tangannya masih sibuk mencari diatas keyborad untuk memperbesar gambar.

“Pantas, itu bukan suatu keajaiban. tapi memang Caruga belum bisa sampai kesana”.

“Memangnya ada apa dengan lokasi itu tuan”? Tanya Pandu.

“Tidak ada apa-apa sih, hanya saja lokasi itu susah dijangkau, jalannya makadam, kita pergi kesana sama saja seperti ikut pecinta alam”. jawab Handi sambil beranjak mendekat ke Ratna.

“Kau pikir reptil-reptil itu butuh mobil? makhluk primitif seperti mereka pasti lebih memilih cara tradisional. Kita tahu kan kalau mereka bisa melompat sangat tinggi. Naik gunung menurutku bukan masalah”. Ratna mengoreksi.

“Primitif,…kalau satu minggu yang lalu kau mengatakannya, aku akan bilang iya. Tapi sekarang, setelah apa yang aku dan Paman Pandu alami, aku akan bilang kalau otak mereka sudah makin besar sehingga bisa berfikir.”

“Nona Ratna dan Tuan Handi sebaiknya berdiskusi dahulu, saya akan ke dapur membuatkan minuman hangat. Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya”. Pandu beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Ratna berdiskusi dengan Handi mengenai cara penyerangan Caruga belakangan ini. Bagaimana mereka berhasil 3 kali merebut fragment dan membunuh guardiannya. Handi menceritakan bagaimana dia dan Pandu terlambat

menyelamatkan guardian kedua, dan rumah pak Bowo yang tiba-tiba saja meledak seperti dipasangi bom dari dalam. Saat mereka membahas apa yang membuat Caruga lebih pintar, Ratna tiba-tiba mendapat sebuah gagasan.

“Handi, bisa kau ulangi lagi bagaimana cara bertarung mereka”? Tanya Ratna menunjukkan sikap antusias.

“Seperti biasa, membabi buta dan lebih mengandalkan otot daripada…”

“Otak. Iya kan”.

“Hey..apa… ha”?? Handi terkejut dengan penjelasannya sendiri.

“Paham maksudku”? Tanya Ratna dengan tersenyum.

“Mereka masih mengandalkan otot mereka untuk berfikir. dengan kata lain, sampai saat ini pun mereka tidak bertambah pintar. jadi…”

“Ada sesuatu dibelakang mereka yang mengorganisir setiap gerakan dan perbuatan”. Kata Handi dan Ratna bersamaan.

Mereka berdua tersenyum seolah berhasil menjawab misteri terbesar didunia. Tapi sesaat setelah senyuman mereka merekah, mereka kembali cemberut. Karena tugas yang lebih sulit harus mereka lakukan. yaitu menemukan siapa atau apa yang mengatur strategi untuk Caruga. Saat sibuk berfikir, Pandu datang membawa tiga cangkir kopi panas. Handi segera meminum kopi bagiannya, karena sudah merasa kedinginan dari tadi. sedangkan Ratna meminum kopinya dengan pelan-pelan.

“Kau minum kopi seperti minum jus”. Kata Ratna menyindir.

“Dingin tau. Hey….kenapa denganmu? Bukankah biasanya kau juga begitu? Malahan kau duluan yang suka minum dengan tergesa-gesa”. Handi memprotes.

“Itu dulu Han”. Jawab Ratna tenang.

“Aku curiga kau kena jampi-jampi. Sikapmu jadi seperti seorang cewek tulen sekarang”.

“Kau tahu alasan kenapa cewek lebih kalem daripada cowok”?

“…..”

“Karena mereka lebih cepat dewasa. Umur cowok mungkin tetap bertambah, tapi pola pikir mereka lebih lambat berkembang”.

“Ulangi lagi kata-katamu dan aku akan plester mulutmu pakai selotip”.

“Benarkan apa kataku. itu buktinya.” Ratna meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong, sambil tersenyum.

Pandu membereskan cangkir kopi yang ada dimeja, dan mengembalikannya kedapur. setelah semuanya siap, mereka bertiga berangkat menuju ke gunung kidul. Tempat dimana Fragment Guardian keempat berada. Tapi saat akan melewati pintu depan, Handi tiba-tiba berhenti.

“Tunggu…kita mau naik apa”? Tanya Handi.

“ya mobil donk tuan.” Jawab Pandu heran mendengar apa yang ditanyakan tuannya.

“Mana bisa mobil sedan mendaki gunung”?

“oh iya…jadi, apakah kita akan jalan kaki kesana”?

“Sepi Angin.” Kata Ratna lirih sambil meniupkan sesuatu kearah Pandu dan Handi. “Dengan ini sekarang kita bisa terbang kesana. efek ajian ini akan hilang setelah 20 menit, jangan buang-buang waktu lagi”.

“Maksudmu opo nduk”? Handi yang masih belum paham apa yang dikatakan Ratna, meminta penjelasan.

“Maksudku seperti ini”. Kata Ratna sambil mengangkat tubuhnya ke udara. Pandu dan Handi kaget melihat tubuh Ratna mampu melayang 30 centimeter diatas tanah. setelah beberapa saat, mereka paham. Tadi Ratna menggunakan ajian sepi angin untuk meringankan tubuh mereka dan membuat mereka bisa terbang selama

20 menit. Handi cengingisan setelah mengetahui hal itu. Dan mereka bertiga pun terbang ke gunung kidul menembus udara Jogja yang lebih dingin pada malam itu.

#####

Handi dan Ratna turun lebih dulu kedepan rumah Guardian keempat. Kaki kanan Ratna yang terlebih dulu menyentuh tanah. diikuti dengan Handi dan yang terakhir Pandu. Kali ini, Pandu akan berjaga diluar, sedangkan Handi dan Ratna akan menjaga Guardian itu didalam rumah. Jika ada hal aneh yang terjadi didalam,

Handi dan Ratna akan segera keluar rumah dan menyelamatkan Guardian beserta fragment yang dia jaga. Setidaknya itu yang mereka bertiga rencanakan selagi mereka menembus tipisnya awan malam menuju ke ketinggian gunung yang tipis oksigen.

Saat ini mereka bertiga berdiri di hadapan sebuah rumah tua (kalau tidak mau dibilang gubuk), karena dindingnya bukan terbuat dari batu bata, tetapi dari anyaman bambu. Atap rumah yang memayungi tempat itupun juga tidak terbuat dari genteng. Hanya tumpukan jerami terlihat saling tindih seolah berusaha untuk

bekerjasama menghangatkan siapapun yang ada didalam rumah.

“Paman, yakin ini rumah? seperti tempat nepi begini”? Tanya Handi.

“Rumah jaman dahulu memang seperti ini tuan”. Jawab Pandu pelan.

“Aduh…baru beberapa menit yang lalu kita ada di gemerlap kota dengan teknologi canggih, sekarang kita sudah berada di antah berantah”. Kata Handi meratapi nasib.

“Ucapkan selamat tinggal pada peradaban”. Kata Ratna sambil berjalan menuju pintu rumah. dia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian, pintu yang juga terbuat dari anyaman bambu itu terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki yang sudah berumur sekitar 60 tahun an. rambut dikepalanya sudah memutih, tubuhnya kurus dengan kulit yang terbakar matahari. Sejenak, Handi iba melihat perbedaan yang ada didepan matanya. Dia sadar, jika masih banyak di kota ini, orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. sedangkan orang-orang kaya, terlebih lagi para kaum muda yang tinggal dikota sama sekali tidak peduli dengan apa yang ada disekeliling mereka. mereka lebih sibuk mengikuti trend, dengan bergonta-ganti handphone, i-pad, PC, Laptop, dan menghambur-hamburkan uang orang tua mereka hanya demi mengejar kesenangan, yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Ketika Handi sedang sibuk melamun, terlihat orang tua itu berbicara kepada Ratna. Setelah terdengar beberapa percakapan yang diutarakan dalam bahasa krama, Orang itu mempersilahkan Ratna masuk. Ratna pun memberi isyarat kepada Pandu dan Handi untuk ikut kedalam.

“Tuan, ayo masuk.” Kata pandu membuyarkan lamunan Handi.

“Um..paman, sebaiknya kita ubah rencana kita. biar aku yang menjaga diluar, paman dan Ratna didalam saja. Aku rasa, aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menghadapi Caruga disini”.

“Baiklah,..Tuan berhati-hatilah disini”. Jawab Pandu sambil beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju kedalam rumah.

Handi menghabiskan waktu sekitar setengah jam duduk didepan rumah sambil mengawasi, jika saja ada sesuatu yang mencurigakan. lama-kelamaan dia bosan juga, kaki dan tangannya sudah menggigil kedinginan. Saat gigi gerahamnya sudah mulai beradu, Handi menyalakan api dari telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Hal ini wajar, karena Handi adalah pengguna ajian agni sama hal nya seperti Pandu. Atau yang bisa disebut sebagai orang yang bisa mengendalikan api. Agak merasa hangat, Handi mulai fokus kembali memandang sekeliling.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu diantara pepohonan hutan. Handi menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Kegelapan yang tercipta diantara rimbunnya pohon di hutan itu, tampak aneh. mula-mula pecampuran warna hitamnya terlihat wajar dan merata. tapi sesaat kemudian, terlihat, walau samar, warna Hitam itu bergerak kekanan. Kali ini Handi bisa melihat perbedaan antara latar belakang yang berwarna hitam kebiruan, dengan sosok yang bergerak itu. Karena sosok itu berwarna hitam legam. Handi akan beranjak dari tempatnya duduk, saat dia melihat ada dua cahaya kuning yang berkedip diantara warna hitam yang dipandanginya.

“Keluar kau Makhluk kegelapan. Atau aku bakar kau dengan api ditanganku”. Teriak Handi memperingatkan apapun yang dia perhatikan dari tadi. Tangan Handi menciptakan bola api yang terus berputar, siap dilemparkan.

Setelah menunggu selama beberapa saat. dari dalam kegelapan muncul sesosok manusia yang mengenakan jumper berwarna hitam. celana kain dan sepatu yang dipakainya juga berwarna serupa. Dia adalah seorang lelaki dengan mata tajam, dan dari raut mukannya, Handi bisa menebak kalau orang didepannya ini bersifat tempramental.

“Siapa kau”? Bentak Handi.

“Apa putra seseorang dari kerajaan tidak tahu cara bersopan santun? meminta orang lain menyebutkan nama, tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dulu”.

Jawab lelaki misterius tadi santai dengan merapikan rambut hitam pendeknya yang berantakan.

“Jangan banyak omong. Sopan santun bukan hal yang pantas untuk digunakan saat berbicara dengan seorang penguntit sepertimu! Jangan-jangan kau yang

selama ini mengorganisir Caruga”.

“Grrrr….Siapa yang kau bilang penguntit”!?

“Kau.. siapa lagi”.

“Aku ada disini untuk mengamankan Fragment yang dibawa oleh pak tua disana”. Lelaki misterius itu menunjuk kedalam rumah.

“Sudah kuduga!! kau datang untuk merebut fragmentnya. Langkahi dulu mayatku”.

“Aku hanya perlu melompat untuk bisa melangkahi tubuhmu yang masih hidup”.

“Buktikan”. Api ditangan Handi semakin besar.

“GRAAWWWWWW” lelaki misterius itu melompat sambil menerjang kearah Handi.

Dengan cekatan, Handi bergerak kesamping kiri dengan tangannya yang sudah diselimuti api, memukul perut lelaki misterius dihadapannya. Lelaki misterius itu balas menonjok muka Handi dengan tangan kanan. Mereka berdua kembali ke posisi mereka masing-masing. Kali ini mereka bersiap untuk berkelahi. Lelaki misterius itu bersiap untuk kembali menerjang Handi. Dia sudah memasang kuda-kuda, saat sesosok Caruga tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil membuka mulut lebar-lebar. Lelaki misterius itu memutar tubuhnya dengan cepat, lalu menendang rahang bawah Caruga dengan keras. BRAKKKK…terdengar suara tulang rahang yang patah. Caruga tadi berguling kesakitan, melihat hal itu, lelaki misterius itu segera memukul Caruga dengan bertubi-tubi, darah segar dari tubuh Caruga bercipratan kesegala arah.

“Kita akan bertarung pada lain waktu. saat ini aku sibuk membantai kadal busuk ini”. Kata lelaki misterius itu sambil menoleh kearah Handi yang masih berdiri didepan pintu rumah, wajah lelaki misterius itu penuh noda darah, kedua matanya yang kuning makin terlihat jelas diantara darah yang mengalir.

Dari sisi kiri dan kanan, tiba-tiba muncul lagi 3 Caruga. mereka menerjang Handi yang dikira tidak siap dengan kedatangan mereka. diluar dugaan, Handi dengan cepat juga memukul masing-masing Caruga dengan sangat keras. Setelah itu, handi melompat mengahampiri lelaki misterius di depannya.

“Aku lihat kau cukup menikmati membunuh makhluk itu. Dan Caruga didepan terlihat benci sekali denganmu”. Kata Handi sambil bersiap bertarung.

“Heh….seharusnya aku yang berkata seperti itu”. Jawab si lelaki misterius.

“Yah,..apa boleh buat. Musuh dari musuhku adalah temanku. Tapi jangan kau kira kita akan berdamai. aku belum selesai denganmu”!! kata Handi sambil mengeluarkan daun lontar ditangan kanannya.

“Haha…ini akan jadi semakin menarik.” lelaki misterius itu juga mengeluarkan daun lontar dari saku celananya.

“Kau?? Bagaimana bisa??” Handi terkejut melihat lelaki misterius itu juga memiliki daun lontar ajaib.

“Simpan rasa penasaranmu sebagai makanan penutup”. Kata lelaki misterius itu sambil menendang Caruga yang datang kearahnya.

Lelaki misterius itu membaca dua baris bait yang tertulis di daun lontar miliknya. Setelah selesai membaca, terlihat huruf-huruf dari daun lontar itu membungkus tubuhnya dan membentuk baju tempur berwarna hitam dan putih. Selanjutnya, Huruf jawa NA menempel di wajahnya membentuk helm.

Tidak mau kalah, Handi juga melakukan hal yang sama dan tubuhnya juga terbungkus baju tempur berwarna merah dan putih, dengan huruf jawa HA membentuk helm untuk melindungi kepalanya.

Kini mereka berdua saling adu jotos dengan 3 Caruga yang menyerang mereka. Handi berhasil memukul jatuh seekor Caruga, saat Caruga lain melompat dari belakang, berusaha untuk menyergapnya. Tapi tubuhnya terlontar karena ditendang oleh lelaki misterius itu. Saat lelaki misterius itu mendarat, Caruga ketiga mengibaskan ekornya untuk menyabet, tapi dihalangi oleh Handi yang menangkap ekor dan melemparkan Caruga itu kearah Caruga yang baru ditendang lelaki misterius tadi. Caruga pertama yang dipukul Handi, kini bangkit, Handi dan lelaki misterius itu memukul Caruga dengan keras sehingga terpental menindih kedua Caruga sebelumnya. Merasa dipermalukan, ketiga Caruga itu menyerang secara bersamaan. Handi dan lelaki misterius itu menghujani muka mereka dengan tendangan bertubi-tubi. Dan pada akhirnya lelaki misterius itu memegang kepala seekor Caruga, kemudian mematahkan lehernya. KRAKKKKKK…Bunyi leher yang patah memastikan kematian seekor Caruga.

Handi Memukul Caruga kearah atas, tubuh Caruga itu terlempar bersama dengan percikan api. Saat tubuh yang berat itu meluncur turun, Handi menahan dengan kedua tangannya dan kemudian mengeluarkan api yang menembus tubuh Caruga tersebut.

Caruga terkahir sadar kalau dirinya sekarang kalah jumlah, mencoba untuk lari dari area pertarungan. menghilang diantara pepohonan, tapi dikejar oleh lelaki misterius itu. beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan diikuti oleh cabikan dan cipratan darah. Handi selama beberapa saat terpaku, dia merasa jijik bercampur takut. Setelah itu terlihat si lelaki misterius keluar dari gelapnya hutan. baju tempurnya sudah meninggalkan tubuhnya. Kini baju dan celananya penuh noda darah. dari mulutnya masih terlihat sisa darah segar mengalir.

“Kau…memakannya”?

“Tidak, aku hanya memutilasi tubuhnya, aku sempat berniat untuk membakarnya nanti jika aku lapar”.

“Menjijikkan tau”.

“HAHHAHHAHAH bercanda. Aku bukan kanibal yang suka makan daging siluman”.

Saat Mereka berdua sedang berbicara, tiba-tiba Ratna terlihat melompat keluar menerobos dinding rumah. Tangannya menggandeng Guardian keempat yang terlihat pucat seperti habis melihat hantu. Pandu yang sudah terbungkus baju tempur, terlihat bertarung dengan seseorang didalam rumah. Dan rumah itu terbakar. Pandu ditendang keluar menabrak tubuh cowok misterius yang sejak tadi berada diluar dengan Handi.

Ratna mengeluarkan daun lontarnya dan membaca baris syair yang akan menutup tubuhnya dengan baju tempur dan huruf jawa RA berubah menjadi helm. Tubuhnya dibalut baju tempur dengan warna putih. Cowok misterius tadi kembali memakai baju tempurnya, sehingga saat ini ada 4 orang berbaju tempur yang berdiri diluar rumah, menunggu siapapun yang keluar dari dalam untuk kemudian menghajar pantatnya.

Terlihat sesosok manusia memakai baju tempur yang terbuat dari besi bercampur tulang. ditangan kanannya memegang fragment yang keempat. Si cowok misterius segera menerjang diikuti oleh Ratna. Handi dan Pandu menembakkan bola api beruntun kearah lawan mereka kali ini.

“Ambil Fragmentnya!!!! Jangan biarkan dia kabur”!!! Teriak si lelaki misterius. Dia memukul wajah lawannya, tapi ditahan oleh tangan kiri sosok itu. Dengan mudah sosok itu memuntir tangan si lelak misterius, dan melemparkan dirinya kesamping. Ratna yang menendang, berhasil dihindari, lontaran bola api dari dua orang di depan rumahpun juga dengan mudah ditangkisnya.

“Kalian tidak akan bisa menang melawan Minakjinggo”. Kata sosok itu sambil tertawa.

“tutup mulutmu”!!!! lelaki misterius itu memukul secara bertubi-tubi.

Handi dan Ratna kini membantu. Tendangan dan pukulan dari tiga arah dengan tenang dihalau oleh Minakjinggo. merasa dirinya diatas angin, Minakjinggo melontarkan energi hitam ketanah dan meledak, melemparkan Handi, Ratna, dan cowok misterius itu keluar. rumah yang tadi terbakar, kini rusak tidak bersisa akibat ledakan energi tadi. Minakjinggo menghilang dan muncul tiba-tiba didepan pandu. Pandu yang siap siaga, menangkis 3 pukulan dari Minakjinggo. tapi

pukulan keempat, gagal ditangis, sehingga mengakibatkan Minakjinggo bisa melancarkan pukulan bertubi-tubi kearah Pandu. Pandu terjatuh tak sadarkan diri. Ketiga orang yang lain juga terluka sehingga tidak bisa banyak membantu. Orang tua yang menjadi guardian keempat pun juga pingsan.

Akhirnya Minakjinggo menghilang dengan membawa Fragment yang keempat. Kepergiannya disaksikan oleh ketiga orang yang masih sadar. Lelaki misterius itu berteriak tidak terima dengan kekalahan yang dialaminya. Teriakannya tenggelam ditelan malam.

#####


Macan Kumbang…(Kucing Garong) (2)

Quote:
“AARRRGGGGHHHH Aku tidak percaya aku gagal melindungi fragment yang keempat”!!! Raung lelaki misterius itu. tangannya memukul-mukul batang pohon untuk melampiaskan kemarahannya.

“Tenangkan dirimu. paling tidak, guardian yang keempat tidak tewas ditangannya”. Hibur Handi.

“Persetan dengan nyawa orang itu!! yang terpenting adalah Fragmentnya!! bukan dia”!! Lelaki itu makin marah.

“Apa katamu!!? Kau anggap nyawa seseorang tidak penting”!! Handi juga tersulut emosi mendengar jawaban yang diucapkan cowok misterius didepannya.

“GRRRRR….Apa gunanya nyawa seorang kakek tua, jika Akhirnya mereka berhasil membangkitkan Dewata Cengkar”!!

“KAU!!! Dasar tidak tau diri. nyawa manusia kau anggap remeh”!! Handi memukul wajah lelaki misterius itu. BUAKKKK.

“Mau cari mati ya”!?

“Kau yang cari mati!!”

“GRAAAWWWWWHHH” lelaki misterius itu menerjang Handi. Mereka berdua berkelahi saling adu pukulan

dan tendangan. “Gara-gara kalian yang mementingkan orang tua itu, kalian jadi lemah”!!!

“Orang lemah tidak bisa merontokkan gigimu seperti ini”!! BRAKKKK

“HENTIKAN KALIAN SEMUA”!!!! Ratna berteriak sambil menendang kedua orang yang berkelahi dihadapannya. “Kalian ini seperti anak kecil yang bertengkar karena mainannya direbut orang”!! Mata Ratna menatap Handi dan cowok itu dengan tatapan membunuh.

“Nona Ratna…” pandu yang sudah sadar kini terlihat bersama guardian keempat, mereka berdua duduk bersandarkan pada batang pohon besar.

“Paman, biarkan aku yang mengurus mereka. jika seperti ini, bagaimana kita bisa menang. dengan kalangan sendiri saja masih tidak akur”.

Ratna memukul perut Handi, sehingga Handi terduduk dan kesakitan. Setelah itu, dia menjambak rambut lelaki misterius itu dan menghantamkan mukanya ketanah. lelaki misterius itu juga kesakitan dan terduduk. Ratna berdiri diantara mereka berdua dengan berkacak pinggang.

“Handi!!! Kau harusnya malu, sebagai anak seorang raja, bukankah kau dilatih untuk berfikir dulu sebelum bertindak. tapi yang aku lihat, kau lebih cepat terbakar emosi daripada seutas tali yang diberi minyak tanah”. Ratna marah kepada Handi.

“Tapi dia…” Handi membela diri.

“Diam!! lihat dirimu sebelum kau membantah omonganku tadi”. Kata-kata Ratna membuat Handi terdiam. “Dan Kau!! Aku tidak kenal siapa kau, tapi kau dengan seenaknya datang dan adu jotos dengan dia!!” ratna memarahi cowok itu sambil menunjuk Handi.

“GRRRR” lelaki misterius itu akan memukul Ratna, tapi tangan Ratna lebih cepat memukul wajah lelaki misterius itu.

“Dia punya daun lontar ajaib juga”. Kata Handi.

“Darimana kau punya itu”!!? Tanya Ratna.

“Tidak ada gunanya aku bertahu kau!! GRRRR…”

“Kita lihat apa kau masih bisa bertingkah seperti itu setelah kepalanku mendarat lagi

dimukamu”. Ancam Ratna.

Luka yang dideritannya, ditambah luka yang didapatnya dari pukulan Ratna membuat cowok itu tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun dia ingin menghajar balik. Akhirnya dia berkata…

“Daun Lontar itu milik keluargaku. Aku mewarisinya. PUAS”!!

“Belum… Sekarang kau ikut kami. Membiarkan mu berkeliaran dan bertindak semaumu, akan membahayakan orang lain. merujuk pada pola pikirmu yang impulsif”. Kata Ratna.

“Kalau aku menolak”!???

“Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berkelahi untuk esok hari, dan selamanya”.

“GRRR awas kau..”

“Ancam aku sesuka mu. Tapi kau pasti juga tahu. para pemegang daun lontar harus dikumpulkan untuk bisa mengalahkan Dewata Cengkar, apabila dia berhasil dibangkitkan”.

“Sekarang kita hanya ada 4. sedangkan mereka sudah punya 4 fragment”. Timpal lelaki misterius itu.

“Kurang 2 lagi kan”. Ucap Handi.

“Bukan 2, Tapi kurang 16 orang lagi. Kita ada 4 sekarang”. Jawab Ratna.

“Hah????”

“GRRR…sudah aku bilang tidak ada gunannya”.

“Aku akan jelaskan semuanya dirumah. Sekarang kita bawa guardian keempat itu kerumah sakit”.

Pandu, dan Handi memapah orang tua itu, Ratna kemudian membacakan mantra Sepi angin, yang membuat mereka bertiga (dirinya, Handi, dan Pandu) Bisa melayang. Ratna juga menawarkan pada lelaki misterius itu, tapi ditolaknya. lelaki misterius itu bilang akan sampai dirumah Handi saat mereka bertiga sudah ada disana. Handi dan Pandu bersiap terbang meninggalkan lokasi ketika Ratna menanyakan satu hal kepada lelaki misterius itu.

“Omong omong, siapa namamu”?

“Nanda”. Jawab cowok itu tidak acuh.

“Hmmm…. itu menjelaskan segalanya”. Kata Ratna sambil terbang meninggalkan lelaki misterius itu dihutan. Mereka berempat berpencar, untuk menuju tujuan masing-masing. Nanda yang masih ada dihutan, secara perlahan menghilang, berubah menjadi kabut hitam dan terbang bersama angin.

All out…(Keluarin semuanya ….Kayak dirampok) (1)

Quote:Handi sudah mondar-mandir di ruangan itu selama setengah jam. Raut mukanya yang pucat, menunjukkan kecemasan. Gigi gerahamnya saling beradu berlomba dengan keringat dingin yang ikut turun dari dahinya. Nanda yang dari tadi melihat tingkah Handi lama-lama jadi tidak sabar dan risih. Dia memilih untuk pergi keluar rumah, menghirup udara segar.

“Tingkahmu seperti cacing kepanasan. Daripada aku muak, lebih baik aku keluar. Lagipula, Ruang tertutup tidak cocok untukku.” Nanda berkata dengan sikap acuh, kemudian keluar melalui pintu depan.

Kali ini Handi mencoba untuk menenangkan diri dengan duduk. Tapi tetap saja, bayangan mengerikan itu muncul. Membuat dirinya makin tidak tenang. Dan ketika dia melihat Ratna keluar dari kamar di depannya, sontak Handi berlari menghampiri.

“Bagaimana keadaannya”? Tanya Handi cemas. kedua tangannya memegang pundak Ratna.

“Dia masih dalam kondisi aman. Luka yang dideritannya hanya luka luar. tidak ada yang mencapai titik vitalnya”. Jawab Ratna untuk menenangkan Handi. “Untung saja waktu itu dia menggunakan baju tempurnya. Karena jika tidak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi”.

“Minakjinggo sialan!!! Dia sudah mempecundangi kita, tidak hanya 4 fragment yang diambilnya, dia juga melukai paman pandu dengan begitu parah.” Tangan Handi untuk sesaat terkepal, kemudian dia melihat Ratna lagi. “Benar itu kan namanya”? Ratna mengangguk pelan.

“Dia butuh istirahat, Kita bahas masalah ini diruang tamu saja. Aku tidak ingin perdebatan kita mengganggunya. Dilihat dari tingkahku, kamu, dan juga satu orang preman itu”. Kata Ratna seraya berjalan ke

ruang tamu.

“Ratna, kau melihatnya kan, ilmu yang digunakan oleh Minakjinggo”. Handi berbicara kepada Ratna sambil berjalan.

“Iya, Naga Geni. Tapi tidak seharusnya seperti itu”.

“Ditambah dia tidak perlu melafalkan mantranya”.

“Kecuali….”

“Apa”?

“Ummm, Ini hanya spekulasiku saja sebenarnya. Aku pernah bertemu dengan seseorang. Dia mengatakan bahwa setiap manusia punya energi. Orang China menyebutnya Qi, India menyebutnya Cakra. Dan Jika seseorang bisa memusatkan energinya disalah satu bagian tubuh, maka dia bisa memperkuat bagian itu. Orang yang aku temui, memberiku contoh seperti seorang yang ikut karate. Bagaimana bisa dia mematahkan bata yang ditumpuk hanya dengan tangan kosong”.

“Pakai ilmu ajian pastinya”.

“Tidak, semua orang yang berlatih pernafasan dan pengendalian energi, bisa melakukannya”.

“Lalu apa kita ini. Kita pakai ajian kan untuk bisa melakukan semua itu, juga seperti ini”. Handi berkata sambil memunculkan bola api ditelapak tangan kanannya.

“Dia menyebut kita Homo Sapiens, dan menyebut orang-orang yang memang bisa menggunakan kekuatan tertentu tanpa ajian, sebagai Homo Superior”.

“Dari namanya terdengar seperti orang yang sombong”.

“Mungkin, awalnya aku juga berfikir seperti itu”.

“Lalu apa kaitannya dengan Minakjinggo ini”?

“Dia tidak butuh waktu untuk casting mantra. selain itu dia bisa memusatkan api yang didapat dari Ajian Naga Geni hanya di kepalan tangannya saja. Bisa jadi kali ini kita berurusan dengan homo superior”.

“Tapi kita sadar kan, kalau itu masih Ajian Naga Geni yang sama. Apinya berwarna Orange. Tidak merah”.

“Itu yang membuatku bingung. Jika lain kali aku bertemu dengan orang yang aku ceritakan tadi, aku akan menanyakannya lebih lanjut”.

Handi dan Ratna sudah berada di ruang tamu. Melihat itu, Nanda yang dari tadi ada di depan rumah, kini juga menuju ke tempat yang sama.

“Sudah selesai”? Tanya Nanda.

“Apanya”? Jawab Handi agak risih.

“Urusan kalian dengan abdi dalem itu. Kalau sudah, kita bahas masalah kita. Kalau belum, aku tunggu disini”.

“KAU…..”

“Sudah, Jangan mulai keributan bahkan sebelum kita menemukan tujuan kita bersama”. Ratna mencegah Handi dengan satu tangan.

Mereka bertiga duduk dalam posisi melingkar. Masing-masing sisi ada Handi dan Nanda, sedangkan Ratna ada di depan mereka mengawasi jikalau mereka berdua mulai seperti kucing dan tikus.

“Baik,…Dia punya 4 fragment, kita punya 0. Dia Homo Superior, kita Homo Sapiens”. Kata Handi.

“Apa itu, nama aneh”? Nanda bingung mendengar nama yang asing di telinganya.

“Diam. Aku belum selesai bicara”.

“Grrrrr”

“Dan yang paling parah, Dia hanya sendirian, dan kita bertiga. Lelucon macam apa ini”.

“Tambahan, Dia brengsek, kita tidak. yah….setidaknya AKU tidak sih”. Ratna menimpali. “Jadi, seperti yang dikatakan Paman Pandu sebelumnya, kalau saja Dewata Cengkar bisa dibangkitkan…” Ratna melihat Handi menutup kedua telinganya saat mendengar Ratna menyebutkan nama Dewata Cengkar.

“Kenapa kau”? Nanda bertanya lagi. Tapi kali ini Handi tidak menjawab.

“Hmph,…masih percaya dengan Takhayul juga.” Ratna mengomentari, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Jika Dewata Cengkar bisa dibangkitkan, kita butuh 16 orang lagi untuk bisa mengalahkannya”.

“mencari 2 orang saja susah, apalagi 14″. Nanda menginterupsi.

“Sebenarnya hanya tinggal 8 orang, Jika kalian mau bekerja sama”. Terdengar suara seorang lelaki dari depan rumah. Saat itu sudah jam delapan pagi, jadi wajar jika ada orang yang datang bertamu. Tapi kali ini yang datang bukan orang yang mereka harapkan. Yanuar..Abdi dalem Ratna.

“Haduh….” Ratna mulai mengumpat.

#####

Yanuar kini berdiri di teras depan. sepertinya dia menolak untuk masuk rumah. Dan lebih menginginkan penghuni rumah untuk keluar. Jenggot kambingnya terlihat berkibar searah dengan tiupan angin yang menerpa rambut panjangnya.

“Nona Ratna, saya datang kemari untuk menjemput anda pulang. Bukan sebuah perilaku yang baik, melarikan diri dari rumah. Apalagi anda adalah putri keraton”.

Yanuar berkata dengan nada suara yang tenang. Tidak ada satu kata pun dalam kalimatnya yang meninggi atau merendah.

Ratna, Handi, dan Nanda keluar. Mereka bertiga berdiri di depan Yanuar. Setelah itu, Ratna maju satu langkah.

“Paman, ada hal yang lebih penting yang saat ini harus aku hadapi”. Kata Ratna.

“Hal terpenting yang saat ini Nona harus lakukan, adalah melanjutkan

pertunangan Nona dengan Tuan Dani”.

“JANGAN SEBUT NAMANYA”!!!! Mendadak Ratna menjadi lepas kontrol. “Lebih baik aku tidak menjadi seorang putri keraton, daripada harus menikah dengan dia, disaat genting seperti ini”!!

“Saya tidak melihat situasi yang sedang anda sekalian hadapi, sebagai situasi yang genting. Jikalau memang, Dewata Cengkar bisa bangkit lagi, masih ada Satu team yang dipimpin oleh tunangan anda yang cukup berkompeten dalam menyelesaikan masalah ini. Dan mereka pasti bisa mengalahkannya”.

“Satu tim?? HEY….” Handi mulai paham maksud pembicaraan Yanuar. “Kami juga kompeten”.

“Bukti yang saya lihat saat ini menunjukkan sebaliknya. Kemajuan yang anda sekalian dapat, tak lebih hanya bertambah satu orang”.

“Sepertinya orang ini merendahkan kita”.

“Memang, baru tau ya”. Nanda setengah mengejek.

Handi dan Nanda terlihat memegang Daun lontar ajaib yang mereka gunakan untuk berubah, ditangan kanan.

“Nona Ratna, sebaiknya anda pulang, disini tidak baik untuk anda, dan malah bisa merusak moral anda”.

“CUKUP”!!!! Handi dan Nanda menerjang kearah Yanuar. Secara bersamaan mereka berdua berubah memakai baju tempur mereka. Tangan mereka yang terkepal melayang dengan cepat.

Tapi Yanuar, tetap dengan posisi berdiri yang sama, menahan kedua pukulan lawannya dengan menggunakan telapak tangan. Tangan kanan menahan tinju Handi, dan tangan kirinya menahan tinju Nanda. Tubuh Yanuar pun kini juga terlihat sudah menggunakan baju tempur, dengan secercah cahaya berbentuk huruf jawa YA, terlihat menjadi helm untuk melindungi kepalanya.

“Dia juga….??? Ratna, kau tidak bilang padaku”. Handi protes kearah Ratna.

“Kau tidak pernah tanya”. Jawab Ratna.

Kali ini, Yanuar melompat keudara dan menebaskan pisau angin kearah dua orang lawannya dibawah. Nanda dan Handi menghindar kesamping, kemudian menedang keatas untuk menjatuhkan Yanuar. Tapi Yanuar hanya melipat kedua tanggannya, lalu berputar, menciptakan angin puyuh kecil yang melindungi dirinya dari serangan luar. Handi dan Nanda tetap menyerang Yanuar dari kedua sisi, tubuh mereka bertiga turun perlahan, kontras dengan gerakan mereka yang cepat. saat mencapai tanah, tiba-tiba tangan Yanuar mencengkeram leher mereka berdua, dan tubuh mereka dihempaskan kedalam tanah. Hanya sekali hempas, mereka sudah melesak sedalam satu meter. Handi mencoba untuk bangkit, dia melihat Yanuar melompat dua langkah kebelakang. kali ini seperti bersiap-siap untuk melakukan serangan. Nanda yang bangkit belakangan menggunakan kekuatannya. Dari kedua tanggannya keluar gumpalan asap hitam. Handi secara bersamaan juga mengumpulkan api ditangan, dan melakukan hal yang sama dengan Nanda. Mereka berdua melepaskan energi untuk menyerang Yanuar. Yanuar dengan tenang menunggu serangan itu datang. setelah dari jarak yang cukup dekat, Yanuar menendang energi di depannya. bukannya terpental, campuran energi antara kegelapan dan api, berhasil ditembus oleh Yanuar, dan tendangannya menghantam dada Nanda, untuk kemudian menabrak Handi yang berada dibelakangnya. kedua orang ini terkapar ditanah.

“Jangan memulai pertarungan, yang tidak bisa kalian menangkan”. Kata Yanuar pelan. “Nona Ratna…..ayo pulang”.

“Tidak”. Ratna tetap berdiri pada posisi yang sama. Mellihat abdi dalemnya tidak bergeming, Ratna melanjutkan kalimatnya. “Paman mau apa?? menghajarku seperti paman menghajar kedua lelaki barusan”?

Yanuar hanya diam selama beberapa menit. Dia memandang ekspresi Nona mudanya. Dari mata Ratna terlihat sebuah keseriusan. Dan dia tau, tidak mungkin untuk merubah keputusan yang sudah dibuat oleh Nona mudanya. “Baiklah jika itu yang nona inginkan”. Yanuar mulai membalikkan badan. “Saya kesini hanya untuk menjemput, bukan memaksa. Saya harap kalian juga dapat menghadapi apa yang kalian takutkan. Saya hanya memberitahukan, tinggal 8 orang yang harus kalian temukan. Karena dengan sikap kalian hari ini….” Yanuar kembali memandang Ratna. “8 dari 16 orang itu, akan berseberangan jalan dengan kalian”. Yanuar berkata sambil berjalan menjauh. Dia melepas baju tempurnya, dan masuk lagi kedalam mobil putih yang diparkir di depan rumah.

“Ratna….Bagaimana sekarang”? Tanya Handi sambil memegangi luka yang didapatnya dari pertarungannya dengan Yanuar.

“Kita sudah mengibarkan bendera perang dengan mereka. Bah…hanya karena kau tidak mau ditunangkan disaat seperti ini”. Nanda juga ikut bicara. Kondisinya tidak berbeda dengan Handi.

“Huuuhhh…”. Ratna menghela nafas. “Tim yang tadi Paman Yanuar bicarakan, beranggotakan 5 orang, yang dipimpin oleh tunanganku”.

“Dani”? Tanya Handi.

“Diam kau”!

“Sorry… tidak sengaja. Tutup saja telingamu, seperti yang aku lakukan saat mendengar orang mengatakan nama sial itu”.

“Dan kau tau, anak raja….” Ratna berkacak pinggang didepan Handi sambil tersenyum. “Mereka punya 3 abdi dalem yang loyal”. Ratna masuk kedalam rumah.

“Malam ini, kita temukan fragment terakhir dan merebutnya. Walaupun itu berarti kita harus mati”.

#####

“3 Orang dengan baju tempur seperti kalian mana mampu mengalahkan aku, Minakjinggo”!! Terdengar suara tawa diikuti oleh kalimat yang baru saja diucapkan oleh Minakjinggo.

Didepannya, ada 3 orang dengan menggunakan baju tempur, berdiri dan bersiap untuk menyerang. dibelakang ketiga orang itu, terdapat tumpukan mayat Caruga. Ketiga orang itu bernama Karis, seorang lelaki yang mengenakan baju tempur berwarna cokelat, dengan motif dari Reog. Dihelmnya terdapat huruf Jawa KA. Lalu yang ditengah adalah Jaka, Yang mengenakan Baju tempur berwarna hijau gelap dengan huruf jawa JA di

helmnya. Yang terakhir Ica, satu-satunya wanita di kelompok itu. Dia memakai baju tempur berwarna orange dengan huruf jawa CA di helmnya.

Keempat orang ini berada diatas tanah tandus di dekat lahar gunung Merapi. kondisi lingkungan yang panas, mendukung konflik yang saat ini sedang berhembus disekitar tubuh mereka. Dan setelah keheningan yang mencekam selama 1 menit, mereka berempat memulai pertarungan. Suara pukulan, tendangan, dan besi yang beradu, terdengar disela-sela letupan lahar, berbagai ajian dikeluarkan, elemen alam digunakan untuk menyerang dan bertahan. 1 orang dikeroyok 3 orang pun ternyata masih sanggup untuk mengendalikan

suasana. Minakjinggo bukan orang yang mudah untuk dilukai. Jaka dan Karis yang punya stamina lebih besar daripada Ica pun juga tidak sanggup membuat lawannya kualahan.

Saat Stamina ketiga orang ini hampir habis, tiba-tiba dari langit meluncur turun, 4 cahaya merah yang kemudian menghantam Minakjinggo, hingga dia terpental kebelakang. Dari keempat cahaya itu, terlihat sosok Ratna, Handi, Nanda, dan Pandu, dalam balutan baju tempur mereka.

“Kamu ini…kira-kira donk kalau mau teleport. Main lempar orang seenaknya. minta dihajar”? Nanda meneriaki Handi.

“Jangan salahkan aku!!! Kau tau kan mantra barusan yang kita gunakan itu, aku belum menguasainya dengan benar”!!! Handi membela diri.

“Kau ini sama saja dengan penduduk lain. Sudah jelas salah, tidak mau minta maaf. Dasar keras kepala”. Nanda akan menonjok Handi.

Ratna yang cekatan menhantamkan helm kedua orang ini secara bersamaan. BRAKKKK suara hantaman terdengar begitu keras. “Sudah selesai main kucing tikusnya”? Tanya Ratna.

“Kalian berempat…”Jaka memecahkan konflik antara Handi dan Nanda. “Pandu,.. itu kamu kan”? Jaka melihat seseorang dengan memakai baju tempur berwarna merah dan putih, dengan huruf jawa PA di helmnya.

“Dari suaramu… Jaka. Kau ternyata ada disini”. Pandu gembira bertemu dengan Jaka. “Dan ini, kau bersama dengan dua orang yang juga punya kekuatan daun lontar ajaib. bagaimana bisa”?

“Cerita jelasnya nanti saja, sekarang kita hadapi Minakjinggo. Dia sudah mendapatkan semua fragment keris, dan sekarang berniat untuk membangkitkan Dewata Cengkar”.

“Kalian bertiga, Ayo kita gabungkan kekuatan untuk mengalahkan dia”. Karis berjalan kearah Ratna, Handi, dan Nanda sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Yang disambut oleh Ratna dan Handi, tapi Nanda hanya diam saja.

“Biarkan,..Sifatnya memang seperti itu”. Kata Handi.

“Kalian juga bisa berubah ya… berarti sekarang kita ada 1, 2,….7 orang”. Ica menghitung jumlah pemakai baju tempur yang ada bersamanya saat ini. “Kita bisa mengalahkan Minakjinggo”.

HEEEAAAA!!!!!! Ketujuh orang ini kini berdiri berjejer, dengan posisi dari ujung kanan kekiri, Jaka, Karis, Ica, Handi, Ratna, Nanda, Dan yang paling kiri Pandu. Bersiap melakukan serangan frontal terhadap Minakjinggo yang sudah kembali menghimpun kekuatan.

“AKSARANGER!!!! MAJU……” Teriak Ica spontan.

“Heeee”???? terdengar 6 orang lainnya secara bersamaan.

“Jangan dipikirkan”. Ica meringis kekiri dan kekanan. “Ayo serang….”!!!

Minakjinggo seketika itu diserang oleh 7 orang secara bersamaan. dia dijahar bertubi-tubi. Jurus yang dimilikinya tidak mampu untuk mempertahankan diri dari pukulan dan tendangan yang melayang bagai ombak laut kidul. BUAK BAK PLAK BRAKKK Kali ini Minakjinggo jadi sandbag.

“Minggir semuanya….” teriak Handi. Dia dan Pandu kini melesat kearah Minakjinggo dengan Api terkepal di tangan. Mereka berdua memukul Minakjinggo, membuat Minakjinggo terlempar kedalam lahar.

“YESSS!!!” Kita menang…. Teriak Ica.

Ratna tersenyum mengangguk, dia tidak percaya dalam waktu singkat dan dengan kekuatan tim yang tiba-tiba didapatnya, dia dapat mengalahkan lawan yang selama beberapa hari ini begitu merepotkan”.

“Makan itu lahar. Panas mulutmu sekarang”. nanda melongok kedalam lautan lahar, memastikan bahwa lawan mereka sudah benar-benar mati.

“Siapa bilang…..”! Tiba-tiba suara Minakjinggo terdengar menggelegar. Dirinya terlihat terbang naik dari dalam lautan lahar. kini diikuti oleh dua makhluk yang terbuat dari api. Seperti golem, tapi bedanya dari badan mereka masih tersisa warna merah menyala akibat lahar.

“Terra… Dia bisa memanggil makhluk selain Caruga”. Ratna tidak percaya melihat pemandangan didepannya.

Jaka dan Pandu, kini berlari ke barisan depan, berusaha mengamankan generasi muda di belakang mereka.

“Dia belum mati??? Bahkan setelah kita bertujuh menggabungkan kekuatan”? Karis terlihat putus asa.

“Kalau kalian pikir kalian bisa dengan mudahnya membunuhku, Tebak lagi….kalian salah besar. Kini, sebagai gantinya, kalian akan berhadapan dengan kedua Terra ini. Nikmati waktu terakhir kalian, selagi aku membangkitkan Dewata Cengkar”. Minakjinggo kini melayang ditengah lautan lahar. Bersiap untuk melakukan upacara kebangkitan. Sedangkan kedua Terra yang dipanggilnya, turun, menghadang ketujuh orang Aksaranger (Aku mesti bilang apa? ketujuh orang

itu….? bahkan setelah Ica dengan spontan menyebutkan nama cerita ini? Aku rasa tidak).

Kedua Terra itu menyerang dengan membabi buta. Sehingga tujuh Aksaranger terpaksa bertahan dari serangan yang datang. Mereka bertujuh, kini memfokuskan serangan pada satu Terra dulu. Tapi hal itu justru membuat Terra yang satunya tidak dihiraukan dan dapat menyerang dari belakang.

“Sial….Kenapa ada Terra disini”? Kata Ratna pelan.

“Ratna, Kau kenal mereka”? Handi yang mendengar Ratna, penasaran.

“Keren…Kau tau nama-nama makhluk gaib”. Karis tiba-tiba ikut di pembicaraan.

“Husss…jangan bicara sembarangan. Aku mendengar cerita mengenai mereka, dari seorang kenalanku dikampus”.

“Aku tebak, Orang yang sama yang mengatakan kalau dirinya Homo Superior”. Handi menebak sekenanya.

“Homo apa???” Tanya Karis.

“Homa homo…. Itu bukan Homo yang itu… Tapi Homo Superior, Orang dengan kemampuan khusus”. Handi memprotes.

“Heheheh maaf…” kata Karis sambil menggaruk-garuk helmnya.

“Kenalanku berkata, satu Terra paling tidak, bisa dihadapi 3 orang Homo Superior berkemampuan tinggi. Tapi saat ini, kita bertujuh pun, belum bisa mengalahkan seekor Terra”.

“Apa kau mau bilang kalau kita berkemampuan rendah”? Nanda tidak terima. Kita jadikan Monster ini Batu arang, lalu kita bakar-bakar ketela setelah pulang nanti. Nanda kembali meluncur menghantam bahu Terra yang menjulang di depan.

Saat mereka bertujuh kualahan menghadapi dua ekor Terra, tiba-tiba terlihat tembakan menghujani kedua Terra ini hingga limbung. Hal ini membuat ketujuh Aksaranger yang sebelumnya sibuk memfokuskan diri dalam pertarungan, kini menengok kebelakang.

“Apa itu….”? Tanya Handi.

“Itu pesawat”. Kata Ica.

“Bukan, Itu kereta api”. Kata Karis.

“Bego… Itu peluru”. Timpal Nanda.

“Kalian salah semua….Itu pembawa masalah”. Ucap Ratna.

#####

All out…(Keluarin semuanya ….Kayak dirampok) (2)

Quote:Dari kepulan asap lahar yang mulai menipis, tampak 5 orang dengan baju tempur masing-masing, berjalan dengan santai kearah 7 aksaranger di depan. Dari helm mereka, terukir motif huruf jawa, dari kiri ke kanan, DA TA SA WA LA. Seolah tidak menganggap bahwa 7 orang dihadapan mereka ada, ke 5 orang ini melewati mereka begitu saja. baru berjalan beberapa langkah di depan. Orang dengan huruf jawa DA di helmnya, berhenti dan menengok kearah Ratna.

“Hey cantik….Dapat masalah ya”? Kata Orang ini sambil berkacak pinggang.

“KAU!!!! Mau apa KAU kesini”!?? Teriak Ratna emosional.

“Dani, Kita biarkan orang-orang lemah ini meratapi nasib. Ada tugas yang harus kita selesaikan”. Kata orang dengan huruf SA di helmnya.

“Sip bro.. Duluan saja”.

“Oke”. Dan mereka berempat menyerang Kedua Terra yang kini menghadang di depan jalan mereka. Serangan mereka lebih kuat daripada aksaranger sebelumnya. membuat Terra yang tadinya diatas angin, menjadi bulan-bulanan.

“Cantik, soal kedua batu itu, serahkan saja pada kami. Kau dan keenam temanmu, gagalkan saja Minakjinggo. Kalian terlalu lemah untuk merontokkan satu debu dari tubuh mereka”.

“Apa Kau bilang HEH!? Kau pikir aku tidak mampu ya?? Sini, biar tinju ku ini jadi bukti kalau aku bisa merontokkan debu sekaligus meretakkan kaca helmmu”!!!

“Hey hey…kau jadi emsional begini? Biarkan mereka yang bersusah payah untuk mengalahkan kedua Terra itu. Kita akan melakukan sisanya”. Karis menahan Ratna.

“Dengarkan kata temanmu. Lagipula,…aku tidak mau melihat tunanganku jadi buruk rupa karena dihajar hingga babak belur”.

“TUNANGAN!!!?????” Ica, Karis, dan Handi serentak berteriak.

“Jadi ini yang namanya Dani”? Kata Nanda sambil meremas tangan.

“Tenang bro…Aku sadar kalau aku ini terkenal, tapi jangan maen palak gitu. Aku ga punya hutang sama kau”. Jawab Dani Santai.

“Sudah sudah. Jika kita tetap disini, Dewata Cengkar akan bangkit”. Pandu melerai mereka.

“Ingat Pandu…Daun muda. Wajar jika sikap mereka seperti itu. Beda dengan kita yang sudah tua”. Jaka menenangkan Pandu.

Ketujuh Aksaranger itu kemudian berlari kearah ritual yang dilangsungkan oleh Minakjinggo. Meninggalkan Dani untuk kembali bergabung bersama Timnya mengalahkan 2 ekor Terra.

Dani, segera melesat menendang kepala Terra yang pertama kali dia temui. Keempat rekannya, kini juga terlihat memukul dan menendang Terra secara bergantian. Akhirnya, saat kedua Terra itu limbung ketanah, kelima orang ini berkumpul. Mereka bersama-sama memencet tombol di sabuk mereka. Masing-masing tombol berlambangkan alat musik jawa yang merepresentasikan diri mereka. Setelah itu, muncul 5 alat musik gamelan secara digital. kelima alat musik ini kemudian digabungkan menjadi sebuah bazooka dengan Gong besar berada pada bagian belakang, dan alat musik mirip biola di paling depan. Serentak, kelima orang ini menyatukan tenaga dan mengisi kekuatan senjata mereka. Setelah senjata mereka terisi penuh, mereka menembakkan gumpalan energi berwarna ungu, kearah 2 ekor Terra yang saat ini sudah tidak berdaya. dan BLARRRRRRRRR….. Ledakan diikuti dengan Batu hitam beterbangan mengisi udara yang panas dan pengap.

Dilain pihak, Handi dan keenam rekannya kini sampai pada mulut lahar. Dia melihat Minakjinggo sedang komat-kamit baca mantra. Musuh mereka ini sudah menggabungkan 5 buah Fragment, menjadi sebuah Keris, kemudian memanggil Dewata Cengkar.

“Itu kayak mbah dukun, komat-kamit ga jelas”. Kata Karis.

“Kita serang dia sekarang, waktu belum siap. Ayo”. Handi menyemangati, yang dibalas dengan anggukan dari keenam rekannya.

“Kita Hancurkan dia sekarang dan untuk selamanya…Jinggo,.. Jinggo Jinggo Ugh”. teriak Ica ambil mengepalkan tangan keatas.

“Apa itu”? Handi dan Nanda melongo.

“Iklan Rokok. hehehe”. Balas Ica santai sambil terseyum.

Mereka terbang kearah Minakjinggo dan menghantamkan pukulan. Minakjinggo yang tidak siap, kini harus memecah konsentrasi. dirinya juga tidak mampu menghadapi 7 orang sekaligus. Tapi apa daya, kekuatan lawannya tidak terus saja datang tanpa henti. Akhirnya, Dengan satu pukulan telak dari Nanda, Minakjinggo jatuh ketanah.

Kini Minakjinggo dikelilingi oleh 12 orang berbaju tempur yang siap untuk menggorengnya hidup-hidup. Dicekam ketakutan karena kalah dalam bertarung, Minakjinggo meneriakkan nama Dewata Cengkar dengan putus asa, berharap sebuah keajaiban akan terjadi dan nyawanya bisa terselamatkan.

Tiba-tiba, sebuah tangan raksasa yang dibalut rantai, keluar dari dalam lahar. Tangan ini meremas Keris yang sedari tadi melayang, sampai remuk menjadi serpihan kecil. Setelah tangan ini mencapai mulut Lahar, muncul juga dari dalam lautan api, Sosok Raksasa Buaya berwarna putih. mulutnya yang penuh gigi tajam mengeluarkan suara lolongan yang Cumiakkan telingga. Membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding. Tak terkecuali 12 orang yang saat ini berkumpul untuk membunuh Minakjinggo. Mereka memandang dengan tidak percaya, kearah monster itu. Padahal mereka sudah sukses menggagalkan upacara pembangkitan, dan mengalahkan semua monster yang menghadang. tapi tetap saja, buaya putih itu muncul dihadapan mereka. dengan tubuh yang dibelenggu rantai besi bercampur dengan lelehan lava yang mengalir. Dihadapan mereka kini terpampang sosok musuh yang benar-benar mereka takutkan. Sosok yang selama ini hanya menjadi legenda dan cerita fiksi. Dewata cengkar, dengan wujud Buaya putih raksasa, tersenyum kecil kearah 12 Aksaranger.

Demon Hunter (Pemburu kalong)

Quote:Dewata Cengkar sudah menampakkan dirinya di depan 12 Aksaranger, yang saat ini mengelilingi Minakjinggo. Dengan wujud seekor monster buaya putih yang menjulang tinggi, menutupi awan yang diiringi dengan jilatan halilintar. Disekujur tubuhnya terlilit rantai besi yang masih memerah karena panasnya lahar. Mata kecilnya yang berwarna kuning bagai sinar bulan, berputar menyisir area. Dan kini dia menemukan mangsanya. 12 orang kecil yang berkumpul disatu tempat. Tangan kanannya terangkat, berusaha untuk menggapai ke 12 orang dibawah.

Tapi ditengah jalan, sebelum tangannya bisa menyentuh tanah, tiba-tiba rantai besi yang melilit tubuhnya bersinar dan membakar. Dewata Cengkar berteriak nyaring, meraung kesakitan. Tubuhnya masih terlalu lemah, karena baru dibangkitkan. Mengetahui hal ini, Dewata Cengkar melakukan satu hal terakhir yang bisa dilakukannya. Kabur…. Tubuhnya terselimuti oleh lahar dari dalam gunung, dan seketika itu menghilang. Minakjinggo yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba juga lenyap diudara kosong, meninggalkan 12 Aksaranger yang sampai sekarang belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Baru setelah agak lama kedua musuh mereka menghilang, mereka sadar dari keterkejutan mereka.

“Itu tadi… Buaya… Putih..” Karis terbata-bata mengucapkanya.

“Susanna….??” Ica juga masih setengah shock.

Handi, Ratna, dan Nanda masih pucat, raut muka ketakutan terpancar dari mereka. Pandu dan Jaka terlihat seakan pundak mereka sudah dijatuhi gunung. Sedangkan Tim yang dipimpin oleh Dani, bersiap meninggalkan lokasi, tanpa kata-kata. Saat itu, Nanda melihat apa yang dilakukan Dani dan timnya, segera menghampiri.

“Mau kemana kau!? Kabur juga?” Tanya Nanda menantang.

“Bukan Urusanmu. Kami sudah tidak punya kepentingan disini”. Jawab Dani.

“Enak benar, datang langsung main hajar, begitu tau akan kalah, langsung kabur dari lokasi”.

“……”

“Mau main2 denganku ya!?” Nanda meraih bagian pundak baju tempur Dani.

“Lepaskan Tangan kotormu dari baju ku!!!” Tiba-tiba suara Dani menjadi keras karena marah. Dia memelintir tangan Nanda dan melempar Nanda kebelakang.

“Nyenyenye….Kau ini orang lemah, berani-beraninya menantang kami”. Melani, satu-satunya perempuan di tim 2 yang memiliki lambang La, kini buka mulut.

“Jangan Sombong ya, hanya karena kalian bisa mengalahkan 2 ekor monster, bukan berarti kalian bisa meremehkan kami”. Balas Nanda.

“Mau bukti?? Aku tidak keberatan dengan hal itu”. Kata Dani sinis.

“Betul betul, Ayo Dan, kita hajar mereka, tunjukkan kalau tim kita yang lebih unggul”. Melani menyemangati.

“Banyak Bacot ah”. Santo tanpa banyak omong segera melesat ke belakang Nanda dan membenamkan wajah Nanda ketanah. lalu menduduki nya. “Selesai….”. Kata Santo sambil berkacak pinggang.

Nanda benar-benar dipermalukan. Melihat hal ini, Handi, Ica, dan Karis tidak tinggal diam dan menyerbu Santo, Dani, dan Melani yang ada dihadapan mereka. Lawan mereka bertiga pun, juga sudah siap. tidak butuh waktu lama, sebelum akhirnya pecah perang diantara mereka berenam. Iwan (memiliki simbol Wa), yang tidak kebagian lawan, segera menghampiri Melani dan menariknya kebelakang.

“Sori Mel,…Cari o lawan yang sesuai denganmu ya. Bocah imut itu bagianku”. Kata Iwan sambil menghampiri Ica.

“HEY”!!!! Melani Protes. Kini didepannya sudah terjadi baku hantam seru, sedangkan dirinya malah ditarik kebelakang.

Tim 1 lawan tim 2, benar-benar hal yang memalukan. Tim 2 yang memang dari awal sudah lebih unggul, kini sibuk menghajar tim 1 habis-habisan. Mereka menggunakan senjata mereka, sedangkan tim 1 menggunakan tangan kosong. Pandu dan Jaka yang bermaksud menghentikan pertarungan, dihadang oleh Arta (yang memiliki huruf Ta). Nanda yang baru sadar dari pingsannya, segera ditendang oleh Melani. kini tinggal Ratna yang berdiri diam melihat apa yang terjadi didepan matanya. Terdengar suara Nafas yang berusaha diatur sepelan mungkin. 3, 4, 5 kali tarikan dan hembusan nafas, sebelum Ratna berjalan dengan tenang dan kepala tertunduk, menghampiri Handi yang saat ini pukuli oleh Rebab milik Dani.

PLAKKKKKKKKK!!!!! Suara itu seketika membuyarkan adegan baku hantam yang sejak tadi memenuhi kesunyian lokasi. Orang-orang yang saling menindas dan ditindas, kini menengok kearah asal suara itu dan menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini.

“Sudah puas”!? Tanya Ratna kepada Dani. Ratna kini sudah melepas baju tempurnya, memperlihatkan raut muka yang penuh amarah. Tangan kanan yang digunakan untuk menampar Dani, kini berwarna merah (nampar helm sih).

Dani yang terkejut, kini juga melepas baju tempurnya, memperlihatkan sosok manusianya. Mereka berdua saling pandang dalam diam. Raut muka Dani yang setengah terkejut, melawan Ratna yang marah habis-habisan. Setelah 3 menit saling pandang, Dani memberi komando pada timnya untuk meninggalkan lokasi. Dia tidak berkata apapun atau menengok kebelakang, saat dirinya dan keempat temanya menghilang diselimuti asap.

#####

Satu minggu terlewatkan tanpa kejadian yang berarti. Ica, Karis, Handi, Ratna, Nanda, Pandu, dan Jaka kini terlihat berkumpul di rumah Handi, membahas tentang tindakan yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Dengan begini, sudah ada 12 Orang yang aku kenal”. Hata Handi setelah

menyebutkan nama orang-orang yang pernah ditemuinya. “Aku belum bertemu dengan 2 abdi dalem dari Tim yang dipimpin oleh Dani”.

“Lupakan mereka, anda tidak akan bisa merekrutnya. Irwandha dan Tania sangat setia pada 2 atasan mereka. Tuan Dani dan Nona Melani”. Jelas Jaka.

“Lalu bagaimana dengan yang 5 terkahir paman? Kata paman Pandu, total orang yang dibutuhkan ada 20″. Tanya Ratna sambil mengingat lagi informasi yang sudah didapatkan.

“Saya sendiri juga tidak tahu. Kelima orang ini,…yang Nona sebutkan sebagai lima terakhir, agak sedikit….bagaimana mengatakanya ya…berbeda”. Kata Jaka sambil berfikir, mengatur kata-kata yang tepat.

“Berbeda bagaimana”?

“Sampai sekarang kelima orang ini hanya pernah muncul satu kali”.

“Nah, kalu begitu kan, kita tinggal datang ketempat dimana mereka pernah menampakkan diri, dan merekrut mereka sebelum keduluan tim yang lain”. Kata Karis.

“Masalahnya adalah….” Jaka menambahkan. “Mereka muncul saat Dewata Cengkar disegel untuk pertama kalinya. Mereka berlima yang membantu Raden Ajisaka mengalahkan Dewata cengkar”. Jaka mengakhiri penjelasannya. Dia melihat karis melongo tanpa berkata apa-apa.

“Jadi kita mencari orang yang sudah mati nih ceritanya”? Tanya Handi.

“Menurutku tidak begitu. Hanya saja 5 orang ini lebih seperti legenda”. jawab Ratna.

“Kenapa kau bisa bilang seperti itu”?

“Apa kau pernah dengar ada 5 orang yang membantu Ajisaka”?

“umm…..enggak sih. Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar sendirian kan”.

“betul, tapi dari cerita paman jaka, ada 5 orang yang membantu. Secara tidak langsung, kisah yang terjadi dan diceritakan kepada kita, sudah diubah agar tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya Ajisaka tidak mengalahkan Dewata Cengkar sendirian. Hey….jangan tutupi telingamu”.

“Jadi menurutku kelima orang ini tidak mau disebut dalam sejarah? kenapa, dan apa alasan mereka melakukan hal itu”?

“Aku tidak tahu. sebaiknya kalian mengumpulkan informasi dulu. Aku akan ke kampus untuk bertemu dengan temanku. Masih banyak hal yang belum aku ketahui soal makhluk-makhluk aneh itu. Terra, Homo Superior, dan sebagainya”.

“Jangan pergi dulu….” Tiba-tiba Ica datang menghampiri Ratna. “Kita belajar pose untuk berubah ke baju tempur dulu”.

“Hah”? Ratna kaget.

“Kan kita saudah berkumpul 5 orang…umm..2 abdi dalem tidak dihitung, hehehe”. Kata Ica sambil meringis kearah jaka dan Pandu.”Kita harus punya pose untuk berubah memakai baju tempur”. Tangan Ica terlihat mengepal.

“Nah lo, aneh lagi anak kecil itu”. Handi melihat sifat Ica yang angin-anginan.

“Bagus kan, jika kita punya pose keren untuk berubah”. kata Karis.

“Keren apanya…memalukan iya”.

“seperti ini keren lo…”Karis menunjukkan gaya fusion dari Dragonball.

“ITU TIDAK KERENN”!!!!! Handi marah-marah sampai nafasnya tersengal.

“Ini,…lihat korannya.” Kata Nanda tiba-tiba sambil membawa koran pagi.

“Ada apa dengan koran itu”?

“Bukan kertasnya….tapi beritanya”!! Nanda ikut-ikutan panas.

“Hadeehhhh…klaian berdua ini tidak bisa akur ya”. Kata Karis pelan.

“DIAM KAU”!!!!! Handi dan Nanda berteriak bersamaan.

“Apaan sih? dari kemarin ribut terus. sini aku lihat beritanya”. Ratna datang mengambil koran yang tergeletak diatas meja. Ratna melihat koran itu sekilas, lalu ikutan berteriak. “APA!!!! Eh Nan, Kau suruh kita buat datang dikonser orang brengsek itu!!! lupa ya apa yang sudah mreka perbuat pada kita”!? Teriak Ratna.

“Konser apa? Aku nunjuk disini nih”. Nanda menunjukkan berita kekacauan yang terletak diatas poster konser band yang diadakan oleh Dani dan kelompoknya. “Aku malah ga tau kalau band dengan nama aneh ini, punya mereka”.

“METAL”!!! Teriak Ica sambil tanganya mebuat lambang kepala banteng.

“HEH anak kecil… dari tadi bikin orang jantungan terus. cepet tua lo”. Handi yang kaget hanya bisa mengelus dada.

“Ihhhhh,…Umurku sudah 19 tahun ya. sudah bukan anak kecil. Weee”. Ica menjulurkan lidahnya.

“Kelakuanmu itu…haduh” Kini Handi memegang kepalanya.

“Sudahlah..ayo semuanya, belajar pose”.

“Moh…pose saja sendiri. Aku masih punya harga diri”.

“Ummpphhh” Ica menggelembungkan wajahnya.

“kalian semua…. kita punya masalah serius”. Ratna menghentikan adu mulut antara Handi dan Ica. “Ada monster di area foodcourt yang muncul tiap malam hari. Dari berita yang aku baca dikoran ini, sudah ada 3 korban tadi malam. Korban yang selamat mengatakan kalau dia melihat sejenis kelelawar besar yang terbang mengelilingi

food court dan menukik untuk menyerang korbannya”.

“Itu yang aku maksud”. Kata Nanda mendukung. “Jadi malam ini kita kesana dan menghajar monster itu”.

“Tapi sekarang latihan dulu”. Kata Ica spontan.

“OGAH”!! teriak Nanda, Handi, dan Ratna bersamaan. Jaka yang melihat keadaan disana, menoleh kearah Pandu yang dari tadi duduk diam dikanannya. Pandu hanya membalas tatapan Jaka dengan menggeleng-gelengkan kepala.

#####

“Kita sampai. Ini kan food court yang dimaksud”? Malam itu, Handi dan keempat temannya berdiri didepan pintu masuk food court yang dikabarkan menjadi tempat serangan monster kelelawar.

“Memangnya di Jogja ada berapa food court”? Ratna mengoreksi pertanyaan Handi dengan pertanyaan baru. “Kalian semua, sudah siap kan”? Ratna melihat keempat orang dibelakangnya. Mereka berempat mengangguk. menandakan malam ini mereka sudah siap untuk membasmi monster itu.

Kini mereka berlima berjejer dengan posisi dari yang paling kanan, Ica, Nanda, Handi, Karis, Ratna. Mereka memegang daun lontar ditangan kanan. kemudian membaca syairnya secara bersamaan. setelah itu, mereka menggerakkan tangan kanan kearah pundak kiri dan berteriak GO AKSARA, dan akhirnya mereka melemparkan daun lontar yang mereka bawa, kedepan. Huruf-huruf dalam daun lontar itu bersinar, diikuti dengan lenyapnya daun lontar menjadi cahaya yang menyelimuti tubuh kelima orang itu. dan masing masing huruf jawa membentuk helm yang melindungi kepala mereka.

“Orange Goldenfish”. Teriak Ica sambil berpose.

“White Belibis”. Teriak Ratna. Dirinya juga berpose.

“Brown Barong”. Teriak Karis.

“Red garuda”. Teriak Handi.

“Aku ogah ngomong”. kata Nanda santai, merusak suasana. seketika itu keempat orang yang lain terjatuh.

“Haish….ayo ngomong. Ga adil cuman kamu saja yang tampang cool”. Handi memprotes.

“Ra sudik. ngisin-ngisin i. Aku bukan badut”.

“……. ya udahlah, ayo masuk”. Kata Handi, dan mereka berlima masuk kedalam food court.

Didalam terlihat sepi, terlalu sepi malah untuk ukuran foodcourt pada jam 10 malam. Kursi dan meja masih tertata rapi, toko-toko yang biasanya menjual makanan, kali ini terlihat digerendel. tertutup rapat. Bahkan tidak ada suara-suara lain disitu. benar-benar sepi mencekam. Saat Kelima aksaranger sedang menginvestigasi lokasi, muncul dari arah atap,

seekor kelelawar besar yang menyerang Handi. Handi dengan sigap mengelak dan menendang monster itu, yang kemudian dipukul oleh Nanda dan ditendang dari atas oleh Ica dan Karis. Ratna berlari kearah monster itu sambil mengeluarkan senjatanya, dari tangan kanannya keluar celurit berwarna putih yang dilemparkannya seperti bumerang untuk memenggal leher monster itu. Kematian satu monster, memicu munculnya 5 monster lain yang serupa. Kali ini, Handi mengeluarkan Pedang dari tangan kanannya, Nanda mengeluarkan Cakar dikedua tangan. Ica dan Karis masing-masing mengeluarkan kipas besi dan panah. Mereka berlima menyerbu monster-monster yang datang dan membunuh kelelawar itu satu persatu.

Setelah Semua monster mati, Handi dan keempat kawannya berkumpul ditengah ruangan. mereka mengamati monster-monster yang baru saja mereka basmi.

“Cuman segini?? aku pikir kita akan menghadapi lawan yang kuat”. Kata Nanda.

“Yang penting kita sudah menghilangkan satu terror dikota ini. lemah atau kuat, itu tidak penting”. jawab Handi.

“Tadi pertarungan kita keren lo.kita menghajar monster itu, ciat ciiiat”. kata Ica riang. “Kalau seperti ini, kita bisa jadi superhero”.

“Superhero kepalamu. Lebih seperti orang nekat dalam pandanganku”.

“Siapa yang bilang tadi”? Tanya Ica. dia memandang keempat temannya, tapi semuanya tutup mulut.

“Aku yang bilang. Mau apa kau”!? terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang

Ica. Kesemua Aksaranger memandang kearah suara itu.

Dari dalam kegelapan, muncul siluet seseorang memakai jaket hitam dengan garis merah, dan Angka Romawi 10 (X) berwarna emas dimasing-masing pundak. Orang itu berjalan kearah handi dan teman-temannya, Wajahnya tertutup tudung jaket.

“Aku kira siapa yang sudah berani-berani nya menerobos masuk ke tempat ini. Semua rencana yang aku susun untuk membasmi monster-monster itu gagal total hanya karena 5 orang badut mau pamer kekuatan”. Orang itu sekarang membuka tudung jaketnya. Rambut hitam sebahu berkibar tertiup angin. Tampak wajah oriental seorang lelaki yang tersorot sinar bulan. Kedua mata lelaki itu bersinar merah maroon. dan walaupun di kegelapan, kali ini matanya

tetap memancarkan sinar. “Kalian mau mempermainkan aku ya”? Lelaki itu kini mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan menyilangkannya. lalu dia berkata “Awakening” dan memetik jari

sambil menggerakkan masing-masing tangan kekiri dan kekanan. “Shi ne…”.

Sinar emas, diikuti oleh lingkaran api, muncul dari bawah, mengelilingi tubuh lelaki itu. Sinar itu berubah menjadi baju tempur berwarna merah dan emas, berbentuk armor, dan ada dua huruf jawa Ma tertempel, yang satu membentuk helm. dan satu lagi menempel dijubah yang

dikenakannya.

“Dia….Aksaranger juga”. Kata Karis tidak percaya.

“Kau lihat itu kan,…hurufnya Ma”. Kata Ica menanggapi.

Lelaki itu kini menembakkan bola api dari tangannya kearah 5 orang aksaranger. Semua orang menghindar, tapi lelaki itu sudah ada di depan masing-masing orang dengan cepat, dan menendang mereka kembali ketengah ruangan. Kini, setelah semua aksaranger berkumpul, mereka menggabungkan semua senjata mereka, dan menyerang lelaki itu bersamaan. Semua tendangan, dan pukulan, lemparan senjata, dan tembakan anak panah yang terbuat dari bulu merak, bisa dihindari. Nanda melompat mundur, kemudian meluncur dengan cepat, mencakar punggung lelaki itu, tapi armornya terlalu keras. Lelaki itu melempar Nanda menuju langit-langit.

“Hikari, Hoono”. Dari kedua tangan lelaki itu muncul 2 bilah pedang. yang satu berwarna hitam, Dan satunya lagi berwarna merah. Dengan sekali tebas, keempat aksaranger yang lai juga ikut menabrak langit-langit dan terjun bebas menghantam lantai. Kini, lelaki itu siap menebas semua lawannya. Tangan kanannya yang memegang pedang berwarna merah, terangkat keudara.

“ANATA…mereka bukan orang jahat”. terdengar teriakan yang berasal dari seorang gadis jepang yang memakai jaket hitam bergaris krim, dan angka romawi 11 di tiap pundaknya.

“Cream, mereka sudah merusak rencana kita”.

“Tapi mereka juga sudah membunuh monster itu kan, jadi mereka juga membantu kita membersihkan tempat ini.”

“Aku benci berurusan dengan badut-badut ini. satu orang bodoh, yang satu kekanak-kanakan.

Yang satu terlalu lembek, yang merah ini,… naif. siputih yang pemarah, dan satu hewan peliharaan”.

“Siapa yang kau sebut hewan peliharaan”!!?? Teriak Nanda. dia masih tergeletak dilantai karena luka yang diderita nya.

“Ternyata macan ini bisa bicara juga”.

“GRRRRRRR”

“”Dia bukan macan, dia manusia. seenaknya saja kau mengatakan dia hewan peliharaan”. Karis ikut memprotes.

“Oh, Jadi kalian tidak tahu ya. Oke, sepertinya kau berhasil menipu mereka semua, macan hitam. aku buka wujudmu yang sebenarnya”. Flame membakar Nanda dengan api yang keluar dari pedangnya yang berwarna merah. seketika itu, wujud manusia nanda lumer, berganti dengan sekor macan hitam yang meringkuk kesakitan di lantai.

“SIHIR APA ITU? Kau ingin mengelabuhi kami agar membenci teman kami sendiri”!!? Teriak Handi.

“Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk emrubahnya, aku hanya membakar wujud samarannya saja. Homo sapiens seperti kalian tidak akan paham apa yang bisa dilakukan oleh homo superior seperti aku dan adikku”.

“Homo Superior kau bilang…..RATNA”!!!! Handi menoleh kearah Ratna yang berada disisi kirinya.

Ratna hanya diam dan melepas baju tempurnya.

Melihat wujud asli Ratna, Flame juga melepas baju tempurnya dan mendekat. “Ratna, kenapa kau.. aku tidak mengira kau bisa ikut-ikutan beraksi sok pahlawan”.

“Kami bukan sok pahlawan, tapi kami memang bertugas untuk mengalahkan monster”. kata Ratna, sambil mencoba untuk berdiri. kemudian bersandar pada tembok. “Sama sepertimu,..dan juga adikmu.

Tapi bukan Demon Hunter. Aksaranger lebih tepatnya”.

“Jangan bercanda…kalian hanya manusia biasa tanpa kekuatan”.

“Kau lihat baju tempur kami kan? kau lihat lambang yang ada di helm kami? Lambang yang sama dengan yang kau miliki di jubahmu. dan kau tahu itu adalah armor yang memiliki kekuatan”.

Flame kini berdiri di tengah ruangan, bersama dengan cream dan terlihat berdiskusi. setelah itu, Flame mendatangi Ratna lagi. “Jadi benar, kalian adalah pemilik daun lontar yang bisa membuat kalian memakai baju tempur itu”?

“iya,..” Rtana menunjukkan daun lontar miliknya.

“Siapa diantara kalian yang bernama Handi”?

“Aku” Handi menyahut.

“Kau…ikut aku. aku juga akan membawa abdi dalem mu”.

“Mau apa kau”!!

“Dengan kemampuanmu yang sekarang, jangan harap kau bisa menyelesaikan misimu. malahan kau akan

terlihat seperti badut”.

“Lalu apa urusanmu”!?

“Akan aku buat kau menjadi Homo superior, dengan kemampuan mengendalikan api”.

“Aku sudah bisa”. handi menciptakan bola api dari tangannya.

“Heh…itu bukan kemampuan homo superior, kau masih membaca mantra untuk menciptakannya”.

Flame menoleh kearah Cream. “Ayo pergi”. Dan Flame, beserta cream menghilang dengan membawa Handi. meninggalkan yang lainnya dalam 2 pertanyaan besar. Siapa jati diri Flame? dan Siapa juga jati diri Nanda.

Penjahat…(Banci Nyasar)

Quote:Ratna dan kedua temannya, juga seekor macan kumbang, memandang tubuh Handi yang menghilang dengan perlahan, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sesaat sebelumnya, Flame menyebarkan semacam bubuk berwarna hijau ke sekujur tubuh Handi. Bubuk itu berkilauan tertimpa cahaya bulan. Kata Flame, dengan memakai bubuk itu, seseorang bisa menghilang dan muncul di tempat yang diinginkan. Istilah kerennya Teleport, atau Warp. Dan saat ini, Handi menjadi satu-satunya orang dalam timnya yang terkena bubuk itu.

“Kalian berpandangan seperti kehilangan pacar saja”. Kata Flame sambil melirik Handi dan Ratna.

“Heh, jangan ngomong sembarangan. Flame, bubuk hijau itu beneran aman kan”? Protes Ratna.

“Apa wajahku terlihat seperti seorang pembohong?”

“Pembohong…tidak…manipulator..iya”.

“Terserah lah. Aku tidak akan berdebat denganmu kali ini”.

“Lalu mau kau bawa kemana ketua tim kami?”

“Ketua tim?? Aku pikir kamu ketuanya. dari apa yang aku lihat waktu kau dan keempat orang ini….” Flame memandang Nanda dalam wujud macan kumbang. “Maksudku,..tiga orang dan seekor hewan”. Flame mengoreksi perkataannya. “Hanya kau yang aktif memberikan komando dan strategi. yang lain hanya anut grubyuk (Ikut-ikutan saat ada sesuatu yang nge-trend). Tipikal Orang Indonesia, ada yang populer sedikit, langsung ikut-ikutan”.

“Jangan bawa-bawa nama negara”.

“Fakta”.

“Di pandanganmu”.

“Tanya orang lain yang benar-benar bisa berfikir. Pandangan mereka juga akan seperti itu. Aku sudah berusaha menghindari hal ini, tapi akhirnya tetap saja berdebat denganmu”.

“Aku hanya tidak terima dengan asumsimu. Lagipula, kau…yang jelas-jelas bukan orang Indonesia asli, bisa punya kemampuan untuk memanggil baju tempur. Jadi Tim Legenda pula. Seharusnya hanya orang-orang asli Indonesia saja yang bisa punya kekuatan seperti kami”.

“Rasis… Apa aku bilang. Kau memang orang Indonesia asli. Tukang protes. Daripada buka mulut, lebih baik kau langsung serang aku sekarang dan ambil kekuatan baju tempur itu dariku”.

Flame dan Ratna berpandangan dengan muka serius. orang-orang yang ada disitu ikut merasakan hawa membunuh yang dikeluarkan oleh mereka. Hawa membunuh mereka berdua membuat udara malam yang tadinya dingin berubah menjadi panas dalam waktu singkat.

“khuhuhuhu…. sudah aku duga, kau hanya bisa buka mulut”. Flame tertawa kecil sambil meghilang, diikuti oleh Cream dan Handi. Kini Ratna, Ica, Karis, dan Nanda berada dalam ruang foodcourt yang sepi. udara malam kembali menjadi dingin setelah kepergian Flame. Ratna berjalan perlahan-lahan ke arah Nanda. Dia melihat Nanda yang sekarang berwujud macan kumbang, duduk dengan kaki belakangnya. Ratna menatap Nanda dengan wajah setengah kecewa dan jijik. Dan tanpa berkata apa-apa, dia pergi. Ica yang kebingungan, seperti mencari perlindungan untuk Nanda, berusaha mencegah Ratna. Tapi dihadang oleh Karis.

“Semua orang pasti akan kecewa jika dikhianati dengan cara seperti itu”. Kata Karis pelan. “Siapa sangka anggota satu tim kita ternyata siluman”. Karis juga berjalan pergi.

Ica yang ini hanya tinggal berdua dengan Nanda, melihat Nanda yang berkonsentrasi untuk kembali ke wujud manusianya. Berkali-kali suara geraman terdengar. Tapi sekuat apapun Nanda berusaha, dia tetap terjebak dalam wujud macan kumbang. Ica yang ada disitu, akhirnya membawa Nanda untuk pergi menyusul kedua temannya.

#####

Keesokan paginya, Ratna terlihat sedang marah-marah sambil berjalan mengitari ruang makan. Ditangan kirinya terdapat handphone yang menempel ditelinga.

“Apa sih maumu? Aku saat ini sedang banyak masalah. Tidak ada waktu untuk menambah satu lagi masalah yang kau timbulkan”. Kata Ratna kepada suara yang ada di handphone nya.

“Aku hanya mengundang kau untuk datang ke acara konserku. Apa itu masalah?” Kata suara diseberang saluran.

“Iya”. Ratna menutup handphonenya.

Ratna menuju ke ruang investigasi, disana sudah terlihat Jaka sedang mengutak-atik komputer, sambil sesekali melihat keyboard untuk memastikan ketikannya sesuai harapan. Karis duduk di kursi yang berhadapan dengan layar utama. Matanya tak henti-henti menyeleksi kata-kata di dalam buku tebal yang saat ini berada di telapak tangannya. Ratna menengok kearah jendela, dan melihat Ica duduk disebelah Nanda yang saat ini meringkuk dalam diam. Ratna memutar pandangan kesegala ruangan. Dia mencari-cari sesuatu yang janggal disitu.

“Ada yang lihat paman Pandu tidak?” Tanya Ratna kepada Jaka dan Karis diruangan.

“Dia pergi bersama dengan tuan Handi dan seseorang bernama Flame”. Jawab Jaka tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

“HA??? Kenapa paman biarkan paman Pandu dibawa Flame!?”

“Kenapa?? Ya karena Pandu pergi dengan sukarela, Saya rasa tidak perlu kekerasan untuk mencegah seseorang pergi atas kemauannya sendiri”.

“Ratna…Sekarang kita kekurangan 2 orang. Dan kesemuanya itu elemen dasarnya api”. Kata Karis seraya menutup buku yang dibawanya.

“Jika memang kita kekurangan orang….” Ratna berfikir sejenak. “Ya TUHAN…kenapa harus disaat seperti ini?”

“Ada apa memangnya?” Tanya Karis Heran.

“Kita akan minta bantuan kepada tim dari Dani”. Ratna berkata sambil menundukkan kepala. Selesai berucap, terdengar geraman marah dari arah halaman sebelah. Nanda tidak terima dengan keputusan Ratna. Tapi Ratna tetap tidak menggubrisnya. Sepertinya dia masih marah besar karena merasa ditipu oleh Nanda.

“Jangan Hiraukan dia”. Kata Karis pada Ratna. “Sekarang bagaimana kita menemui Dani, dan membahas masalah penggabungan kekuatan ini?”

“Dalam beberapa hari ini dia ada konser musik di Stadion Kridhosono”. Jawab Ratna.

“Poster yang kemarin ada di koran?”

“Yups”.

“Saya tidak bisa ikut kesana Nona Ratna.. maaf, tapi ada beberapa hal yang harus saya selesaikan disini, selama Pandu tidak ada”. Kata Jaka.

“Iya paman, biar aku dan Karis yang akan kesana”.

“Kenapa cuman kita? Ica tidak diajak?”

“Aku malas berurusan dengan siluman yang saat ini ada bersamanya. Jika kau mau dia ikut, ajak saja”.

“Oke, akan kusiapkan segala hal yang diperlukan, biar aku yang membujuk Ica”. Karis berkata sambil berjalan kearah halaman samping.

“Sepertinya bakal jadi malam yang berat. Kenapa juga aku harus berurusan dengan tim brengsek itu”.

#####

Malam disaat konser band yang diadakan oleh Dani dan teman-temannya, stadion Kridhosono yang terletak diutara stasiun lempuyangan padat terisi oleh muda-mudi. Hal ini bisa dipahami karena grup band yang dipimpin oleh Dani adalah grup band yang lumayan terkenal. Dan semakin terkenal sebuah grup band, maka semakin banyak pula penggemarnya, semakin sesak juga tempat konsernya. Seperti saat ini, belum juga dimulai lagu pertama, di bagian depan yang dekat dengan panggung, sudah terdengar teriakan “AIR AIR”… itu bukan teriakan yang berasal dari penjual air galonan. Tapi dari mulut pemuda-pemuda gundhul yang saat ini terlihat bertelanjang dada dan mengibar-ngibarkan pakaian mereka seperti sedang kepanasan di gurun. Dibagian tengah, tak kalah heboh. Banyak orang-orang (sebagian besar gadis muda) yang mengenakan kaos hitam bergambar wajah (atau kepala ya) dari para personil band, dengan wajah Dani yang paling besar. Mereka juga berteriak-teriak, tapi suara mereka kalah nyaring dibandingkan dengan teriakan minta air di bagian depan. Dan sepertinya penyelenggara acara sudah kepanasan kuping mendengar teriakan itu, maka tak lama kemudian bergalon- galon air mengguyur penonton di bagian depan. Air ini berasal dari truk pemadam kebakaran yang memang sudah siap siaga dari sore hari untuk iseng menenggelamkan penonton (kalau-kalau ada yang nekat loncat pagar pembatas panggung hanya untuk minta tanda tangan atau narsis-narsisan di panggung).

Ditengah-tengah keramaian pengunjung itu, tampak Ratna, Karis, dan Ica datang. Mereka bertiga memakai pakaian kasual, dengan kaos lengan pendek dan celana Jeans. Ratna mengikat rambutnya dengan model ekor kuda. dan Ica kali ini tampak dengan dua kepang mungil di kiri dan kanan kepalanya. Mereka bertiga berdesak-desakkan berusaha untuk menuju belakang panggung dan menemui Dani.

“Ratna, si Dani ini aliran musiknya apa sih?” Kata Karis sambil menggeser sedikit tubuh seorang pemuda berambut mohawk.

“Pop melayu. Memang kenapa?” Jawab Ratna tanpa menengok ke Karis.

“yakin nih pop melayu? ga pernah lihat deh, anak Punk datang ke konser pop melayu”. Jawab Ica yang berada diantara Ratna dan Karis.

“Udah tobat kali mereka. Atau pengen ganti sensasi, tampilan sangar, tapi jantungnya mellow”. Jawab Ratna.

“Jantung apa Hati?” Tanya Karis. “Kata-katamu salah tuh”.

Ratna menggiring kedua temannya sampai ke daerah yang lebih sepi di dekat backstage. saat ini Ratna baru menoleh ke Karis. “Jantung. Aku ga salah ngomong”.

“harusnya kan hatinya, bukan Jantungnya”.

“Artikan kalimat ini. Their face is scary, But their heart is soft“.

“Tampang mereka kayak preman, tapi hatinya lembut”.

“Nah lo”. Ratna terlihat tersenyum.

“Apa yang salah?”

“Artikan per kata. Their…”

“Mereka”.

“Face….”

“Tampang.”

“Scary…..”

“Nakutin, kayak preman”.

“But…”

“Bokong,… heheheh bercanda”. Karis nyengir. “Tapi”.

“Their…”

“Mereka”.

“Heart…”

“Hati”.

“SALAH!!! Baca kamus. kamu juga ikut-ikutan orang Indonesia yang salah kaprah. Hati itu Liver”.

“Itu peribahasa, Ratna…” Karis mempertahankan pendapatnya.

“Oke, mari berfikir secara global”. Ratna memulai perdebatan. “Orang Barat kalau bilang my heart is bouncing, mereka nunjuk kemana?”

“Itu artinya Jantung ku berdetak cepat kan… ya ke jantung. di dada”.

“Nah… klo mereka bilang his death is caused by heart attack. Dia nunjuk kemana”.

“Hmm….kematiannya disebabkan serangan jantung….ya nunjuk ke dada. Ke jantung”.

“Betul…pinter juga kamu. Nah klo orang barat bilang, broken heart, mereka nunjuk kemana?”

“Ke dada. kemana lagi, masak ke jidatmu”.

“La trus broken heart itu artinya apa?”

“Sakit hati”. Jawab Karis santai.

“Makan tuh hati. Sejak kapan hati ada di dada. yang di dada tu jantung. Heart“.

“Kalau sakit jantung kan heart attack“. Karis ngeles.

“Heart attack tu serangan jantung mas. Dimana-mana juga, Heart tu artinya jantung. orang-orang didunia kalau bilang heart, apapun kalimatnya, mereka nunjuk ke jantung. karena artinya jantung. orang sini saja yang ngotot mindahin hati keatas. pakai alasan peribahasa pula. Sudah salah,..bangga. menjijikkan”. Ratna berlalu meninggalkan Karis dan Ica, menuju ke belakang panggung.

“Lo, Ica, ngapain kamu gemetaran begitu?” Tanya Karis yang melihat Ica dari tadi diam terus.

“Ica…. Ica phobia keramaian”.

“He?????”

Saat itu, dari arah barisan belakang pengunjung, terdengar teriakan dan jeritan, satu-persatu gadis yang ada barisan belakang berubah menjadi batu. Energi kehidupannya terlihat masuk kedalam sebuah guci besar yang dibawa oleh Minakjinggo.

“Haduh…orang itu lagi”. Karis berkata sambil menepuk jidatnya.

Karis dan Ica segera pergi kebelakang panggung untuk memperingatkan Ratna, tapi mereka tidak menemukan gadis itu dimana-mana. Akhirnya mereka memakai baju tempurnya saat itu juga dan meluncur untuk menghajar Minakjinggo.

Saat itu, Minakjinggo sudah merubah setengah dari pengunjung konser (semuannya cewek) menjadi batu dengan mengambil energi kehidupan mereka. Karis dan ica kesulitan untuk menerobos kepungan patung yang memang berdesak-desakan, saking banyaknya.

“Mereka ini semua fans ya? jabang bayi….perasaan aku lihat tampang Dani juga ga ngetop-ngetop amat deh”.

Kata Karis sambil mengamati patung yang dilewatinya. seraya menambah kecepatan lari saat melihat Minakjinggo sudah dekat. Karis memukul Minakjinggo dengan tangan kanan, lalu selagi lawannya limbung, Karis menjegal kaki dan membantingnya. Minakjinggo dengan sigap menumpahkan berat tubuhnya kebelakang sehingga menahan kakinya agar tidak melesak ketanah. Melihat salah satu dari lawannya ada disini, Minakjinggo menembakkan energi dan melontarkan Karis.

“Apa mau mu!!?? masih belum puas kau membangkitkan Dewata Cengkar dan membunuh Temanku?” Bentak Karis.

“Teman…Ow, Pemilik sanggar tari ponorogo itu. Guardian ke 5. Dia orang tidak penting yang gampang dilupakan”.

“APA KATAMU!!!!” Karis menembakkan anak panah bulu meraknya bertubi-tubi. Tapi Minakjinggo dengan mudah menghindari itu semua. Karis yang terbakar amarah, membuang busurnya dan melompat. Dia memegang kepala Minakjinggo dan menghantamkannya ke lutut. Minakjinggo, dari jarak sedekat ini, melontarkan energinya, tapi karis menyampingkan tubuhnya dan membanting minakjinggo kekanan. Minakjinggo yang bangkit, segera mengambil gucinya dan memukulkan ke punggung karis. Karis dengan sigap menahan menggunakan tangan kanannya, membuat Minakjinggo tidak bisa bergerak untuk sementara karena enggan melepas guci pusaka miliknya. Kesempatan itu digunakan oleh Karis, selagi tangan kanannya menggenggam guci, tangan kirinya memukul perut Minakjinggo berkali-kali.

“Kenapa kau (BUAK) masih Juga (BAKK) cari masalah (BAKK)!!! Padahal (BUKK) misimu sudah berhasil (BLAMMM)”!!!

Minakjinggo jatuh terjerembab, beruntung guci pusakannya lepas dari tangan Karis. “heh…selesai apanya. Kau pikir enak membangkitkan Buaya itu. Tidak sesuai harapan, seharusnya aku mendapat kekuatan dahsyat, tetapi aku malah jadi kacung”. Minakjinggo membalas serangan karis. Mereka berdua beradu pukulan dan tendangan, hingga Karis, sekali lagi menjegal kaki Minakjinggo dan menghujamkan sikunya ke perut Minakjinggo. Kesakitan, Minakjinggo melontarkan Karis dengan tembakan energi dari tangannya. “Sial, dia makin kuat kalau emosi. Harus pakai cara curang untuk bisa kabur.”

Dengan sangat tiba-tiba, Minakjinggo menembakkan energi dari guci pusakanya ke arah Kiri. Karis yang tidak tahu apa yang akan dilakukan Minakjinggo, mengikuti arah tembakan, dan melihat Ica sama sekali tidak bergerak dari tempat awalnya.

“Dia Phobia keramaian….celaka!!!” Karis meluncur untuk mencegah energi itu mengenai Ica yang ketakutan. Tapi lajunya tidak mampu menyaingi kecepatan sinar energi yang saat ini sedang memburu kearah Ica. Karis, dengan putus asa, berusaha menggapai Ica, sekuat tenaga dia mendorong berat tubuhnya kedepan untuk menambah kecepatan. Tetapi…

BLARRRRRRRRRRR

Seluruh area diselimuti oleh kabut tipis yang sejenak membutakan pandangan. Karis menyingkirkan kabut didepannya untuk melihat nasib Ica. Setelah agak lama, dan kabut mulai hilang, terlihat Ica masih gemetaran ditempat yang sama. Tapi kali ini dia sudah tidak memakai baju tempurnya. Pandangannya seperti diterkam teror. Pucat pasi melihat kedepan. Didepannya, terbentuklah sebuah patung batu, yang berwarna putih pualam, dengan bagian baju berdesain burung belibis. Kedua tangan patung itu terangkat seakan berusaha menahan sinar energi yang menimpanya. Dan walaupun dia tahu apa yang akan menimpa, posisi patung ini tetap tegap dan dengan sepenuh hati melindungi Ica yang ada di belakang.

“Tidak….apa yang terjadi??” Karis terkejut melihat pemandangan didepannya.

“Ini salah Ica…” Ica jatuh berlutut, tak kuasa menahan isak tangis dan kesedihan yang melanda. Dia telah menyebabkan salah satu temannya menjadi batu. “Karena Ica tidak bergerak…karena Ica takut keramaian…Ratna… Ratna jadi seperti ini”. Isak tangis Ica terdengar seiring kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Karis mencari-cari Minakjinggo, tapi tidak menemukannya dimanapun. Stadion yang tadinya ramai dan penuh sesak oleh pengunjung, sekarang sepi dan dipenuhi oleh patung batu (sekali lagi, semua patungnya cewek. Pengunjung cowoknya ga tau kemana. kocar-kacir ga jelas). Karis mendatangi Ica dan memapahnya untuk berdiri. Dia tidak bisa berkata apa-apa, dia tahu ini kesalahan Ica, tapi dia juga maklum, karena tahu, bukan Ica yang meminta untuk punya phobia keramaian. Saat ini berbagai macam pikiran melompat masuk kedalam kepala Karis. Saat Handi menghilang, Pandu pergi, Tim yang dipimpin Dani, sifat kelima orang itu, Tanggung jawab yang saat ini dibebankan kepadanya, dan nasib Ratna yang membatu tepat diantara kedua matanya.

Belum habis kebingungan Karis, terdengar suara raungan mesin mobil. Tak lama kemudian tampak Mobil APV putih masuk kedalam stadion. Mobil itu tergesa-gesa untuk parkir, dan dari dalamnya keluar lima orang dari Tim yang dipimpin oleh Dani. Mereka adalah Arta, Santo, Iwan, Melani, dan yang terakhir Dani. 5 orang ini bergegas menyebar kesegala arah dan memeriksa keadaan. Dani, yang melihat Karis dan Ica, menghampiri mereka dan menemukan bahwa Ratna sudah menjadi patung, dan melihat Karis memapah Ica yang masih sedih dan gemetaran.

“APA YANG TERJADI DENGAN TUNANGANKU!!!???” Bentak Dani kepada Karis yang menatapnya dengan pandangan kebingungan.

Kebangkitan Kembali…(Necromancy)

Quote:Apa yang terjadi dengan tunanganku!!??” Dani berteriak-teriak pada Karis yang saat ini terlihat lemas sambil menggendong Ica. Tatapannya tajam penuh ancaman. Tangan kanannya mengepal, siap memukul Karis apabila dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Selang beberapa menit, Dani belum melihat Karis membuka mulutnya. Marah karena merasa diabaikan, Dani memukul Karis hingga tubuh lawannya itu terpental dan menjatuhkan Ica.

“Pukul aku sesukamu…Apapun yang kau lakukan, Ratna tidak akan kembali”. Kata Karis seraya duduk dan membersihkan darah yang mengalir dari bibirnya dengan menggunakan tangan kanan.

“Kau benar-benar cari masalah ya!!? Kau sadar di depan siapa kau bicara saat ini!?” Dani mulai mengancam.“Aku tahu. Aku sedang bicara di depan pemimpin tim 2 yang sifatnya sombong dan kekanak- kanakan”. Jawab Karis sambil tersenyum.

Seketika itu, Dani menarik kerah baju Karis, dan mengangkatnya. Mata mereka berdua saling tatap, saling mengintimidasi dan berusaha menjatuhkan yang lain. Tapi tidak tampak diantara mereka ada yang akan menyerah.

“Kau bilang aku anak kecil. Coba kita lihat, apa mulutmu masih bisa bersiul setelah anak kecil ini membenamkan kepalan tangannya ke wajahmu”. Kata Dani sambil mendekatkan tangan kirinya ke wajah Karis.

“Hehe…Dari sekian banyak korban Minakjinggo. Kau hanya terpaku pada satu orang. Tidak lihat ya, kalau masih banyak cewek lain yang jadi batu disini. Dan apa kalimat pertama yang keluar dari mulutmu? Egois, kau bahkan tidak memikirkan nasib korban yang lain”.

“Bagiku tidak penting nasib orang lain, hanya orang-orang tertentu saja yang aku khawatirkan. Terserah mereka semua mau apa, asalkan mereka tidak menggangguku, aku tidak peduli”.

“Dan kau bilang kalau kau bukan anak kecil?”

“Anak kecil tidak bisa melakukan ini”. Dani membanting Karis hingga tubuh pemuda itu terbenam ke tanah. Setelah mengamati lawannya yang tidak memperlihatkan gerakan sedikitpun, Dani pergi menemui keempat temannya yang lain. Mereka berlima kini berkumpul di depan mobil untuk membahas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Jangan mulai mengatakan untuk rapat darurat. Sebentar lagi aku ada kencan dengan anak ekonomi UGM”. Kata Iwan begitu melihat Dani datang dengan tergesa-gesa.

“Terserah kau. Toh datang atau ngga, juga ngga ada perubahan”. Dani bicara tanpa memandang Iwan.

“Ada apa sih? Tim mereka ngajak ribut lagi?” Kata Santo sambil menggenggam tangan Kirinya. “Belum kapok ya mereka”.

“Bukan,..ada hal lain. Dari info yang dikatakan cowok itu”.

“Yang barusan kau hajar?”

“Minakjinggo datang kesini dan membuat semua korban jadi batu”.

“What??? Hey man…Ini konser kita udah rencanakan lama banget. Duitnya juga ngga sedikit. Okelah, semuanya tu pake duit gua. Tapi ya….masak sih kita musti konser didepan Patung?” Keempat teman Arta yang lain memandangnya tanpa bicara apa-apa. “Tau gini kita sewa studio film dan konser disana”.

“Lalu mau apa kau? nangis minta duit ke mama mu?” Iwan memanas-manasi.

“Sorry ya, Aku ga kayak kamu yang sukanya mewek didepan cewek. Sok ganteng, sok kaya”. Arta berkata sambil tangannya mendorong Iwan ke belakang. “Duit saja masih minta orang tua, bangga”.

“Eh Gober,…okelah, mungkin kau mandi pake duit. tapi sampe sekarang, cewek satupun kau belum dapet. Apaan tuh”.

“Aku ga suka mainin cewek ya. ga profitable“.

“Ini kita mau bahas masalah konser, duit, berantem, cewek, apa Minakjinggo!?” Dani menghentikan adu mulut antara Iwan dan Arta.

“Atau mau bahas masalah Ratna”. Kata Melani sambil berkacak pinggang.

“Sudah deh, kalau soal Minakjinggo, datengin aja tempatnya. Kita bantai rame-rame”. Santo tambah bersemangat.

“Trus ritual kita buat mbangkitin Tim 4 gimana? udah terlanjur sewa tempat, Mo buang-buang duit lagi?” Arta protes.

“Oke oke oke…Kita lakukan ritual dulu. Sakit telingaku dengar omongan tidak berguna yang keluar dari mulut kalian”. Dani masuk ke mobil.

“Lalu mereka mau diapakan?” Tanya melani sambil menunjuk ke Karis dan Ica yang masih dalam kondisi mengenaskan.

“Tinggalkan saja disini, bikin kotor mobil saja”. Balas Dani tak acuh.

“Dan…..Ratna? umm Maksudku Patungnya?” Tanya Melani dengan nada memancing.

“…………. Tinggalkan dia”.

Keempat Orang lainnya masuk kedalam mobil, dan setelah suara mesin terdengar menderu, mobil itu meluncur pergi meninggalkan area stadion Kridhosono yang penuh dengan patung putih dan dua orang Aksaranger yang terluka parah.

#####

Dani, Arta, Santo, Iwan, dan Melani memasuki sebuah aula di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Aula ini sudah disewa oleh Arta dengan kedok konser gamelan. Walaupun aslinya tempat pesanan mereka digunakan untuk ritual pembangkitan arwah.

Begitu membuka pintu besar berdaun dua, yang terbuat dari kayu jati yang di pelitur dengan indah, kelima orang ini mendapati diri mereka berdiri diatas sebuah podium. Berderet kursi kayu tampak disamping kiri dan kanan. Setiap deret berada lebih tinggi daripada deret selanjutnya. Urutan penempatan kursi itu semakin lama semakin turun sehingga membuat ruangan aula tampak seperti kolisium di Roma. Dibagian bawah, terdapat lahan luas yang digunakan untuk kepentingan acara dan pentas. Dani menengok kebelakang, dan melihat sebuah ruang kontrol berada di belakang deretan kursi paling atas. Dirinya mengamati ruangan itu selama beberapa saat, sebelum menjatuhkan pandangan kepada dua sosok yang saat ini tengah menata satu set alat gamelan di pusat aula. Dua orang ini adalah abdi dalem dari Dani dan Melani. Irwanda, seorang empu pembuat keris pusaka, dan Tania, gadis berkuli sawo matang yang tampak judes. Tahu bahwa semua hal yang diperlukan untuk ritual sudah disiapkan, Dani mengajak keempat temannya untuk memulai ritual pemanggilan.

Mereka berlima mengambil posisi di alat gamelan yang sesuai dengan keahlian mereka. Dani menggunakan Rebab, Arta menggunakan Kendang, Santo mengambil Bonang, Iwan menggunakan Seruling, dan Melani mengambil mic, karena posisinya sebagai Sinden. Irwandha mengambil sebilah keris besar seukuran pedang, dan duduk bersila di depan orang-orang ini. Tania duduk disebelah Melani dan membantu Melani untuk melantunkan tembang.

“Tuan-tuan…Ingat, Ritual ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak sedang bermain-main. Karena urusan dengan dunia arwah, akan sangat berbahaya kalau terjadi kesalahan. walaupun itu kesalahan kecil”. Irwandha mengingatkan Dani dan kawan-kawannya. Kelima orang itu mengangguk tanda mengerti, dan mereka memulai ritual.

Melani dan Tania melantunkan tembang jawa yang berfungsi sebagai penggiring Mantra yang diucapkan oleh Irwandha sambil membasuh Keris dengan air yang sudah dicampur bunga tujuh rupa. Dani dan ketiga temannya yang lain, dengan hikmat mendengarkan mantra sambil memainkan alatmusik mereka seiring dengan naik turunnya irama Melani. Hal ini berlangsung selama 20 menit tanpa kejadian apa-apa, hingga saat lirik Melani mencapai pertengahan, usaha mereka menampakkan hasil.

Mula-mula udara mulai dingin, hal ini membuat bulu kuduk ketujuh orang itu menjadi berdiri, tapi mereka masih melanjutkan ritual, kemudian angin malam berhembus kencang, padahal semua pintu dan jendela tertutup rapat. Angin ini hanya berhembus didalam ruangan, berusaha menumbangkan apapun yang dilewatinya. Suara nyanyian Melani mendadak menjadi semakin tinggi dan membuat merinding, karena sesaat kemudian tampak roh-roh halus terbang kesana-kemari. Dani dan Iwan menutup mata, seolah-olah mereka tidak melihat apa yang terjadi, dan berkonsentrasi untuk memainkan alat musik. Irwandha semakin cepat melantunkan mantra, keris yang dibawanya bergetar keras dan bertambah berat. Ritme lagu dan mantra, serta irama musik, makin lama makin cepat, seiring dengan gangguan yang juga semakin intens dan mencekam.

Melani menampakkan raut muka pucat dan bertaburan keringat dingin. Tangannya gemetaran memegang mic, matannya terpejam. Dia berusaha sekuat tenaga menyelesaikan syair yang dinyanyikannya. Sedikit lagi,…tinggal dua bait syair lagi, batin Melani saat dia merasa ada yang memegang bahu kanannya dari belakang. Dan saat mulut Melani mengucapkan kata-kata terkahir dari syairnya, kesunyian mendadak datang. Tidak ada angin, tidak ada roh, semuanya tenang. Hampa,…

Dari hadapan Irwandha, berdiri seorang gadis memakai pakaian perang Jawa kuno. Dari penampilannya, terlihat kalau gadis ini pendekar yang kuat, walaupun itu tidak bisa menyembunyikan paras cantiknya. Matanya tajam bagai elang, pipinya merona, dengan bibir yang tipis bersemu merah. Rambut hitam yang panjang sepunggung, diikat ekor kuda, dan disamping kanannya, terletak sebuah pedang dari besi dengan sarung pedang yang terbuat dari perak.

“Ada keperluan apa kalian memanggilku kesini?” Tanya Gadis itu.

“Maafkan kelancangan kami terhadap anda nona. Tapi kami disini untuk membangkitkan pendekar yang dulu pernah membantu Raden Ajisaka menyegel Prabu Dewata Cengkar”. Irwandha menjawab dengan bahasa krama.

“Aku sudah datang. Dan memang benar, aku adalah salah satu dari 5 orang yang dulu membantu Ajisaka menggulingkan kekuasaan Dewata Cengkar”.

“Tetapi kenapa gerangan, hanya nona saja yang muncul? Bukankah seharusnya 4 yang lain juga datang?” Irwandha tampak heran.

“Jika memang hanya aku saja yang menampakkan diri disini, itu berarti keempat temanku yang lain belum meninggal”.

“Itu tidak mungkin terjadi kan… Tidak ada manusia yang sanggup hidup dengan usia yang sangat lama.”

“Salah satu temanku memang meninggal, tapi arwahnya terlalu kuat untuk dipanggil menggunakan ritual ini. Satu temanku terkena kutukan, satu lagi mengutuk dirinya sendiri dalam penyesalan. Dan yang terakhir,…Dia masih hidup.” Gadis itu menarik nafas seolah-olah dirinya masih bernyawa.

“Hmmmmm Aku bisa mencium baunya dari sini”.

“Nona, mohon tidak mengatakan hal yang membingungkan, Kami membutuhkan kekuatan dari Nona dan teman-teman nona untuk bisa mengalahkan Dewata cengkar”.

“Bukankah Dewata Cengkar sudah disegel?”

“Tetapi segelnya sudah rusak. Dia berhasil lolos beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, Ada 20 pendekar yang harus berkumpul untuk mengalahkannya”.

“Tunggu dulu,…tahun berapa sekarang?”

“Tahun 2011, memangnya ada apa Nona?”

“Hmmmm Dia berkata, bahwa dimasa depan, Dewata Cengkar akan bangkit lagi dan meminta kami untuk berkumpul dan menggabungkan kekuatan. Tahun 2011 ya.”

“Dia siapa? siapa yang Nona bicarakan?”

“Salah satu temanku, Hanya dia yang saat ini memiliki kemampuan untuk menyatukan kami berempat”. Seiring percakapan mereka, tubuh gadis itu perlahan-lahan menjadi padat dan akhirnya berubah kembali menjadi manusia. “Sekarang tubuhku sudah kembali. Aku akan menemui temanku dan menyampaikan pesan kalian agar dia mengumpulkan yang lainnya”.

“Terimakasih banyak atas bantuannya Nona”. Kata Irwandha sambil membungkuk.

“Tidak masalah, sudah kewajiban kita untuk menjaga daerah kerajaan ini”.

“Maaf,….anu, ini sudah bukan satu kerajaan lagi. Tapi satu negara”. Iwan mengoreksi perkataan gadis itu.

“Negara? Seperti China?”

“Iya,.. seperti itu”.

“Di masaku, tempat ini masih menjadi kerajaan, tapi yah, apa boleh buat, jaman sudah berganti. Tak disangka aku benar-benar bisa mencicipi apa yang disebut dengan masa depan”. Kata Gadis itu seraya beranjak pergi.

“Tunggu nona,…siapa nama nona kalau saya boleh tahu?” Tanya Iwan. Semua orang ditempat itu yang tau sifat playboy Iwan segera memandangnya dengan pandangan membunuh. Dani menatap Iwan dengan wajah yang seolah-olah berkata “Kalau sampai hantu saja kau sambet, awas kau”.

“Namaku Restu Sintha”. Kata Gadis itu sambil perlahan-lahan menghilang dalam asap tipis yang menyelimuti tubuhnya.

Dani dan semua orang yang ada disitu menyudahi ritual mereka. Mereka merapikan peralatan, yang nantinya akan dibawa pulang oleh Irwandha dan Tania. Kini, setelah kewajibannya selesai, Dani beranjak pergi meninggalkan teman-temannya, tapi dihalangi oleh Melani.

“Mau kemana kau Dan?” Tanya Melani.

“Bukan urusanmu aku mau kemana”. Jawab Dani kesal.

“Urusanku lah,..apalagi kalau itu menyangkut tunanganmu.. jangan bilang kau mau menyelamatkannya”.

“Lalu kau mau apa? Terserah aku kan. Apa hakmu melarangku!?”

“Cewek itu ga ada bagus-bagusnya. Cantik enggak, kaya juga enggak. sok pintar iya”.

“Jangan…sekali-kali…kau bilang itu soal Ratna”. Dani mendorong Melani hingga terjatuh. “Dia tunanganku. Sadari statusmu sebelum kau menjelek-jelekkan orang”.

“Aku sadar statusku! dan aku sadar kalau aku lebih tinggi derajatnya daripada dia. Dia hanya putri raja biasa. Sedangkan aku…”

“Diam!! Kau boleh menganggap dia sampah dihadapanmu. Tapi tidak denganku. Bagiku dia adalah tunanganku, dan sudah tanggung jawabku untuk menjagannya”.

“Dani!!!”

“Jangan halangi aku… Atau aku akan menghajarmu”. Dani memandang semua orang di aula itu satu-persatu. “Kalian juga…Aku tidak keberatan bertarung dengan kalian jika kalian mencegahku pergi”.

“Bukan aku lo….terserah kau mau apa, asal ga nyenggol aku, aman”. Kata Arta sambil angkat tangan. Orang-orang yang lain hanya diam saja.

Dani meninggalkan Aula itu secepat dia datang, dijalan dia memakai jaket hitamnya dan bergerak mendekati mobil. Dia berdiri selama beberapa menit, sadar kalau kunci mobil dibawa Santo, dan tidak ada gunanya untuk kembali kedalam, Dani memilih untuk berjalan kaki kerumah dan mengambil motor. “Ratna,….tunggu aku, setelah ini giliran kamu yang akan tergila-gila pada penyelamatmu ini”. Kata Dani sambil tersenyum.

#####

Karis mendatangi Jaka dalam keadaan luka parah sambil membopong Ica yang masih gemetaran dan shock. Jaka, yang mendengar cerita yang menimpa pengunjung konser dan Ratna, segera menelpon Pandu yang berada bersama Handi dan Flame. Dari percakapan antara Jaka dan pandu, Karis diminta untuk datang ke sebuah candi, tempat dimana saat ini Flame, Handi dan Pandu sedang menuju.

Karena tidak mau membuang-buang waktu, Karis segera pergi ke lokasi yang dimaksud dengan mengendarai motor bebek yang diparkir di garasi. Perjalanan selama 20 menit terasa sangat lama dan menyakitkan, karena memar-memar disekujur tubuhnya selalu menghalangi dirinya untuk mengalihkan pikiran. Tiga kali dia hampir kecelakaan karena kondisi tubuhnya yang memang tidak cocok untuk mengendarai motor. Dan setelah 20 menit penuh siksaan, akhirnya dia berhenti di depan sebuah sedan hitam yang diparkir dihalaman depan candi. Desebelah mobil itu, berdiri Handi, Pandu, dan Flame. Mereka bertiga memakai jaket hitam bertudung. Hanya Flame yang dijaketnya ada garis merah dan angka Romawi 10 (X), sedangkan Handi dan pandu memakai jaket hitam polos.

“Kau Karis kan?” Kata Flame memastikan. “Biar paman Pandu yang merawat lukamu di mobil. Aku dan Handi akan masuk ke kompleks candi, tunggu kami 30 menit, dan kita akan sama-sama ke rumahku untuk membahas masalah yang menimpa Ratna”.

“Tapi Candi ini ditutup, lagipula sekarang sudah malam”. Protes Karis.

“Justru itu, karena kalau siang hari, akan terjadi kegaduhan akibat ulahku”. Jawab Flame sambil tersenyum.

“Hey…dimana sifat kasar dan sombongmu yang kemarin?”

“Aku akan menunjukkan sifatku berdasarkan situasi. Dan saat ini, aku tidak melihat alasanku untuk mengajakmu berkelahi karena kata-kata yang aku ucapkan”.

“Heh,…tetap saja dingin. apapun sifatmu, kau tidak bisa menyembunyikan saifat dasarmu itu”.

Flame tersenyum dan meminta Pandu untuk memapah Karis dan merawat lukanya. Setelah itu, Flame dan Handi loncat pagar dan berlari masuk kedalam kompleks utama Candi. Di kompleks itu, ada 3 Candi utama yang menjulang bak raksasa, menantang setiap pengunjung dengan keeksotikan dan kemegahannya. Pahatan dan relief rumit namun mengagumkan, terbentuk disetiap sudut dan tubuh Candi itu, dan ditengah gelap malam, Candi itu membuat suasana dalam kompleks seolah-olah kembali kemasa kejayaan tanah Jawa pada masa lalu. tanpa listrik dan barang elektronik, tapi menebarkan kesan oriental dan mistik yang berbaur dengan budaya masyarakat. Handi dan Flame menikmati keindahan peninggalan peradaban masa lampau ini selama beberapa saat, sebelum akhirnya menuju ke candi besar yang ada di tengah.

“Kenapa kita pilih yang di tengah?” Tanya Handi.

“Karena disinilah dia berada. Tidur dalam lautan mimpi yang dalam, tanpa bisa terbangun”. Jawab Flame sambil menaiki tangga Candi.

“Kau yakin dia masih hidup Flame? Ini sudah beratus-ratus tahun”.

“Aku yakin, karena aku tahu apa yang terjadi padanya”.

Flame menghilang dalam kegelapan Candi. Didalam, Dia menatap sebuah batu yang terpahat menyerupai bentuk sesosok manusia. Flame mengusap bagian kepala batu itu dengan lembut.

“Tak kusangka akan jadi begini nasibmu. Dia ceroboh dikuasai kemarahan. Dan membuatmu jadi seperti ini”. Flame kini berdiri di depan Batu itu. Dia berkonsentrasi, memejamkan matanya, dan memusatkan energi pada kedua tangannya. Saat Flame membuka mata, kedua matanya berwarna merah marun yang bersinar di kegelapan malam. Tangannya kini juga bersinar kecoklatan. Dan dengan konsentrasi penuh, dia memegang batu itu dan menekan di kedua sisinya, hingga sesaat, batu itu terlihat akan berbenturan dan hancur. Tapi tidak… Batu itu meleleh, dan menampilkan seorang wanita cantik dengan memakai selendang berwarna jingga dan kemben berwarna hijau. wanita itu terlihat masih tertidur dalam kutukannya. Dan setelah Flame selesai memebebaskan kutukan itu, perlahan-lahan, kedua mata wanita itu terbuka. Pertama kali, setelah ratusan tahun, dia memandang dunia lagi. Dan kali ini, didepannya berdiri Flame sambil tersenyum.

“Yang mulia, selamat datang di Jogjakarta, tahun 2011″. Kata Flame dengan nada lembut kepada Roro Jonggrang.

Perfect Girl…(And Nasty Boy)

Quote:Aku ga habis pikir, Kenapa 80% dari hidupku harus kugunakan buat mikirin tingkah lakunya? Mungkin kalau dia bisa diam bentar, ga banyak tingkah dan ga aneh-aneh, sampai sekarang dia ga akan jadi batu.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran seperti itu terus berputar di otakku. Oke, mungkin ini bukan urusanku. Siapa sih dia? orang tuaku? bukan. Saudaraku? juga bukan. Tapi semua kelakuannya selalu membuatku repot. Dan di mata orang lain, justru seolah-olah aku yang seperti anak kecil. Jelas aku ga bisa terima dong. Kalau kau jadi aku, kau pasti sudah teriak-teriak dan menghajar dia. Tapi aku…yang aku lakukan cuman diam dan pasrah membersihkan semua kekacauan ini.Enam tahun aku berusaha membuktikan ke dia kalau aku ini orang yang punya segalanya. Dia tahu itu… tapi tetap ga mau mengakui. Dan terlebih lagi, ga kayak temen-temenku. ummm..yang playboy, suka berantem, mata duitan, dan mulut ember. Aku ini bertanggung jawab. BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRINYA. Seperti malam ini, kalau ga gara-gara dia, dan masalah yang dia buat, aku ga akan pulang jalan kaki di tengah malam buta cuman buat ngambil motor, terus bepergian napak tilas entah kemana buat nyari dia. Menyebalkan….

Oke, mungkin kau pikir aku orang yang suka menggerutu dan bermulut besar. Tapi kau harus tau, cuman kepadamu aku bisa bicara panjang lebar seperti ini. Di depan teman-temanku? ga mungkin. Aku lebih memilih diam daripada harus menanggung resiko diolok-olok dan di kerjai oleh mereka. Lagipula, kau juga ga bisa laporan ke mereka kan. Jadi, aku tau kalau cuman kau yang bisa pegang rahasia ini. Ngomong-omong, sudah berapa paragraf keluhanku tadi?…. Anh, Ngurus.. yang penting, malam ini, aku akan tunjukkan pada dia kalau aku adalah orang yang bertanggung jawab. Biar dia tau rasa.

Kalau kau bertanya kepadaku, kenapa sampai segitunya aku bela-belain dia? Akan aku ceritakan alasannya. Biar kau juga bisa paham, siapa yang benar, dan siapa yang sok benar. Hitung-hitung kalian temani aku sampai nanti dirumah. hehehehe.

Semua ini bermula lima tahun yang lalu. Dimana waktu itu umurku masih tergolong muda. Jadi bisa dibilang kalau aku cowok ingusan–walau aku udah ga ber ingus–. Waktu itu aku masih ingat, aku diminta ayahku untuk melakukan penelitian keuangan di salah-satu perusahaannya….. Apa? Kau heran? kau pikir aku bohong? sorry, aku bukan tipe orang pembohong. Aku benar-benar melakukannya di usiaku yang masih muda. Aku kan sekolah di SMK Akuntansi. Wajar kan, kalau anak tingkat SMK akuntansi meneliti keuangan perusahaan. Aku teruskan ya. Aku melakukan penelitian, langsung di kantor, di ruangan ayahku lebih tepatnya. Dan saat itu ada satu teman ayahku yang datang berkunjung. Aku kenal dia, karena dia sering datang kerumah untuk bersilaturahmi. Aku pikir kedatangannya waktu itu juga hanya kunjungan kantor biasa. Tapi aku salah. Disela-sela pekerjaanku, aku mendengar –menguping sih lebih tepatnya– percakapan antara ayahku dan temannya itu. Arah pembicaraan mereka makin lama makin aneh, dan yang membuat aku terkejut setengah hidup, mereka mengatakan sesuatu tentang menikahkan aku dan Ratna. Anak dari teman ayahku tadi.

Seketika itu, habis sudah masa mudaku. TAMAT. Keinginanku untuk menikah dengan artis luar negeri –yang sudah pasti diimpikan oleh orang-orang, termasuk kau– seakan runtuh dan bertebaran bagai debu yang disapu keluar rumah. Bagaimana mungkin Aku,..yang seorang anak milyader dengan masa depan yang cerah, akan dinikahkan dalam usia yang sedini ini? Apa yang ada diotak mereka? Dunia ini ga adil. Walaupun, ya…sampai sekarang dunia mana pernah adil.

Waktu itu, berkat teknologi dari labolatorium yang dikelola oleh orang tua Santo (temanku yang demen berantem itu) dan dibiayai ayahku, Aku dan keempat temanku yang lain, kalian sudah tau kan, Arta. Santo, Iwan, dan Melani. Bisa memakai baju tempur untuk membasmi monster. Tapi tunggu, jangan keburu menyemprotkan pertanyaan-pertanyaan padaku. Aku jelaskan satu persatu. Soal si Ratna, aku lanjutkan setelah ini.

Sebenarnya aku dan keempat temanku bukanlah keturunan ataupun relasi dari Ajisaka. Si pemimpin tanah Jawa, yang pada dasarnya punya kemampuan untuk memanggil baju tempur secara normal, lewat mantra yang dinyanyikan. Nah, lalu darimana data utama untuk membuat baju tempur yang sekarang bisa aku pakai?…Tebak. Dari daun lontar milik Ibunya Ratna. Jadi dengan meneliti alat perubah itu, ilmuwan-ilmuwan dari labolatorium, berhasil menciptakan 5 alat perubah yang lain. Yang kami gunakan tentu saja.

Lalu siapa lawan kami? Umm…Waktu itu belum ada Caruga, Apa lagi Minakjinggo. Jadi ya…. Seperti generasi sebelum kami, Kami menghajar penjahat secara diam-diam. Penjahat apa saja. Mulai dari preman pasar, mafia, koruptor, sampai penjahat kelamin. Yang sering berakhir dengan batu nisan diatas kepala mereka. Aku ga tanggung-tanggung, buat apa memaafkan penjahat dan mengirim mereka ke sel tahanan? toh mereka bakalan keluar dan melakukan kejahatan lagi. Lebih baik langsung kirim mereka ke alam kubur.

Nah, selama masa menjadi vigilante itulah, yang seharusnya jadi masa-masa keemasanku, kabar pernikahan itu datang. Belum nikah sih, cuman rencana pertunangan. Sekali lagi, umurku masih kepala 1 masih terlalu muda buat nikah atau ditunangkan. Sialan, andai saja aku bisa melawan mereka. Tapi aku ga mau menyakiti orang tuaku, terutama ayahku. Jadi sambil pura-pura menurut, aku melakukan investigasi atas keputusan mereka, mencari titik lemahnya, dan bersiap buat menyerang balik.

Akhirnya, 2 bulan sejak pembicaraan Ayahku dan temannya di kantor, teman ayahku itu datang berkunjung ke rumah. Hari itu hari sabtu, jadi sekolah hanya setengah hari. Dan sorenya aku langsung pulang. Ya,..pulang, hanya untuk melihat satu cewek dengan wajah oriental mirip artis jepang duduk disamping teman ayahku. Dan mereka berdua asyik ngobrol sambil ketawa-ketawa mengenai rencana pertunanganku. Hey….ini masa depanku, bukan bahan ketawaan. Pingin deh aku langsung terbang ke kamar dan menenggelamkan diri ke buku game station yang baru aku beli. Tapi ketika aku berjalan mengendap-ngendap –hal bodoh, kenapa harus mengendap-endap kaya maling didepan muka orang tua sendiri– Ibuku memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi sebelahnya.

Aku dikenalkan kepada anak mereka, Ratna. Hari itu aku belum kenal dia, belum tau juga kalau keluarganya dia adalah keturunan Ajisaka dan segala tetek-bengek soal daun lontar itu. Jadi, Aku pandangi dia, lihat apa dia punya cacat fisik atau apapun yang bisa aku gunakan untuk melepaskan diri dari kekangan masalah ini. Tapi sayangnya tidak,…Aku tidak melihat ada yang salah dengan wajahnya ataupun fisiknya. Sempat bahkan aku berpikir kalau, okelah,…ga masalah aku ditunangin sama cewek ini, toh dia juga cantik, dari keluarga golongan atas, sekolah di sekolah elit –sekolah yang dikelola oleh ayahku juga sih– dan pendiam. oke,…kriteria cewek idaman. Jadi aku mengurungkan niatku untuk memberontak.

Setelah lumayan lama bercakap-cakap, akhirnya kedua orang tua kami memberi kesempatan kami untuk saling mengenal, dengan dalih menyuruhku menemani dia ke halaman belakang. Dia senyum-senyum saja waktu itu, dan aku ga punya pilihan lain. Akhirnya aku antar dia ke halaman belakang. Dan kau tau apa kalimat pertama yang dia ucapkan? Kalau kalian tebak itu adalah kata-kata terima kasih, kalian salah besar. Dia bilang padaku, percayalah itu yang dia katakan…. “Kalau sampai pertunangan ini berhasil, orang pertama yang akan aku jadikan sandbag, adalah kau”.

Waw,…Aku sudah sampai depan rumah sekarang. Tunggu di depan sini ya, aku akan mengambil motorku dan kita akan pergi ke tempat dimana tunaganku ditawan untuk menyelamatkannya.

Oke, ayo berangkat. Ini motorku, keren kan, motor sport dengan cat merah marun ini aku dapat dengan uangku sendiri lo. Hasil dari bekerja sebagai konsultan keuangan. Jadi apa yang kau tunggu? kita selamatkan si damsel indistress itu bersama-sama. Oh ya, soal cerita itu, akan aku lanjutkan sambil jalan.

Aku baru tau sifat aslinya yang galak dan sok kuasa itu saat dia sudah mengacungkan tinjunya didepan muka ku. Aku kaget, dan mundur dua langkah. Bagaimana tidak, Awalnya dia tampak seperti cewek alim pendiam yang jadi impian semua cowok, tapi tiba-tiba saja dia jadi ogre ganas yang siap memakan dan mencabik-cabikku. Tapi itu bukan masalah sih, aku masih bisa mengatasinya, seandainya ayahku tidak mengambil keputusan untuk menyekolahkan aku di sekolah yang sama dengannya.

Mungkin ini terdengar gila, pindah sekolah hanya untuk seorang cewek? Tapi percaya deh, itu lebih baik daripada aku musti tinggal satu rumah dengannya. Resikonya lebih kecil. Paling ga kau ga akan digrebek pak RT dan jadi korban amuk masa kalau hanya bersekolah di satu sekolah yang sama. Tapi kalau sudah tinggal 1 rumah, apalagi 1 kamar, beda cerita. Jadi seperti cowok waras lainnya, aku protes keputusan untuk tinggal bersamanya, dan memilih untuk satu sekolah. Oke, mungkin maksud orang tuaku baik, tapi coba deh….mana yang lebih kau pilih, pola pikir orang tuamu, yang notabene hanya 2 orang, dengan pola pikir masyarakat yang secara ga langsung menentukan norma-norma di lingkungan. Apa kata dunia, dua orang beda kelamin tinggal 1 atap tanpa ikatan pernikahan. Orang buta pun juga bakalan tau kalau mereka kumpul buffalo. Dan aku ga akan ambil resiko itu.

Aku resmi pindah sekolah, dari jurusan Akuntansi di salah satu SMK ternama, menjadi siswa jurusan IPA di SMA elit milik keluarga. Dari penantang, jadi pecundang. Dan semua ini hanya untuk Ratna. Well…rasanya aku pingin membombardir sekolah itu dengan gattling gun. Awal-awal masuk SMA itu, aku jadi artis dadakan dikarenakan identitasku sebagai anak pemilik dana tertinggi disekolah. Seperti yang kau bayangkan, cewek-cewek nempel kayak perangko. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali ga menikmati keadaan itu. Aku suka kebebasan, dan dengan kelakuan mereka yang mengejarku seperti mengejar teroris, aku ga mendapatkan apa yang aku inginkan sedetikpun. Ditambah tampang cowok-cowok lain yang melihatku seolah-olah berkata “Loe mampus aja napa? disini cuman buat nggebet cewek”. Hey….sapa juga yang mau nggebet cewek.

Tiap hari, Ibuku selalu menanyakan soal hubungan kami, dan tentunya aku jawab dengan “Baik,..lumayan kok, makin hari makin mesra”. Walau kenyataannya ga begitu. Dia sama sekali ga nganggap aku ada. Tapi walau begitu, sepertinya dia bisa diajak kerja sama, karena sampai saat ini ga ada komplain dari orang tuannya atas sikap kami yang sebenarnya.

Suatu hari, dia pernah diganggu oleh 3 cowok kelas 12. Kayaknya mereka naksir dia tapi ga kesampaian. eh, apa kau sudah memberitahumu kalau sifatnya di sekolah beda 180 derajat dengan yang dirumah? Dia kayak cewek alim. Putri raja. Ga banyak omong, santun, sopan, lemah lembut. oh tidak, dan sekarang dia kena masalah. Aku cuman lihat dari jauh sih awalnya, ga tertarik ngurusi urusan orang lain. Tapi makin lama tu cowok-cowok makin sok kuasa dan dorong-dorong dia sampai nabrak tembok. Jadi, seperti pahlawan kesiangan, aku lari dari depan kelas dan menendang 3 orang pengganggu itu. Rasanya menyenangkan banget, bisa memberi pelajaran ke orang-orang sok kuasa. Aku mengancam mereka supaya ga ngganggu Ratna lagi. Dan karena hal itu, Ratna akhirnya mau berterima kasih kepadaku. Tapi dirumah, dia ngancam kalau sampai aku sok jadi pahlawan, lain kali aku yang bakalan dapat tanda kaki di wajahku.

Masa SMA berlalu ga jauh-jauh beda dengan awal aku masuk. Satu masalah selesai, masalah lain datang, dan aku yang harus membereskannya. Pernah aku ga ikut campur, yang berakhir dengan dia menghajar perampok perhiasan seorang diri. Tapi dia marah-marah ke aku dan bilang kalau aku ini cowok lemah yang bisanya cuman ngandalin cewek buat nolong orang. Apes kan aku. Gini salah, Gitu juga salah.

Setelah lulus SMA, kami masuk Unversitas yang berbeda-beda. Saat itu aku jadi jarang ketemu dengan dia. Tapi ga begitu dengan apa yang aku rasakan. Walau jauh, tapi aku tetep harus tanggung kawab dengan apa yang dia lakuin. Apalagi setelah dia tahu jati dirinya sebagai keturunan Ajisaka dan bertemu dengan Handi. Dan juga, setelah Caruga muncul entah darimana. Selain kegiatanku dan teman-temanku sebagai vigilante, kami juga musti menghajar Caruga itu dan ikutan membantu dia dan Handi, walau ga secara langsung.

Oke, hal seperti itu berlangsung sampai akhir-akhir ini. Salahku juga sih sebenarnya. Aku pura-pura diare supaya acara pertunangan kami kacau, karena dengan begitu aku bisa mengumpulkan informasi bagaimana membangkitkan salah satu dari kelima orang yang dulu pernah membantu Ajisaka menyegel Dewata cengkar. Aku yakin kok, 5 fragment keris yang dilindungi Handi dan Ratna pasti ke tangan Minakjinggo. Mereka pasti gagal, dan Dewata Cengkar pasti bangkit. Karena kalau ga begitu, ceritanya ga akan seru kan. hehehehe…. Dan seperti yang kalian lihat, hasil dari pengumpulan informasi yang aku lakukan. Kami bisa membangkitkan Restu Sintha.

Tapi di lain pihak hubunganku dengan Ratna jadi tambah buruk. Aku terlihat seolah-olah sebagai cowok sombong ga berperasaan di depan mata dia. Sudah tahu anggota timnya yang ngajak berantem duluan, malah aku yang ditampar. Ga mau datang ke konser, malah dia datang dan jadi batu. Harga diriku sebagai seorang cowok kok jadi kayak diinjak-injak gini ya? Aku yang seharusnya melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatannya, malah jadi bahan bulan-bulanan karena apa yang dia perbuat. Tapi itu ga lagi… Kau yang jadi saksinya. Mulai saat ini, setelah aku menyelamatkan dia dari tangan Minakjinggo, Aku ga akan biarin dia berbuat semaunya. Dia cewek, dan aku cowok. terlebih lagi dia tunanganku. Sudah jadi tugasku untuk menjaga dan mengurus dia. Aku akan tunjukkan itu, sehingga dia ga akan bisa seenaknya lagi. Dan kami bisa hidup tentram bersama, tanpa kekacauan.

Kekuatan Api…(Gunung Meletus) (1)

Quote:Dani memarkir motornya di depan sebuah Hutan lebat yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Dia merasakan aura Minakjinggo yang sudah berbaur dengan aura-aura korbannya, termasuk Ratna, kini bergerak menuju ke tengah hutan. Dani yang tidak mau membuang waktu, membuka jok motor, dan mengambil dua buah sarung tangan hitam, sebuah smartphone, dan sebuah masker hitam untuk menutup mulut. Setelah semua barang yang diperlukan dibawa, Dani berlari masuk hutan, siap menghajar orang yang sudah membuat masalah dengan tunangannya.

Hutan itu sangat lebat, batang-batang pohon saling berhimpit, menyisakan jalan yang terjal dan kecil untuk dilewati. berkali-kali dia harus memelankan langkahnya untuk memastikan agar salah satu kakinya tidak ada yang tersangkut akar.

“Merepotkan, kenapa juga harus di hutan kayak gini sembunyinya”? Matanya memandang kiri kanan dengan waspada sambil menggerutu karena sulitnya lahan yang harus dilalui. Kedua tangannya kini memegang pohon yang berada disisi kiri dan kanan. Kepalanya melongok melihat keadaan area didepannya. Dani diam untuk beberapa saat, memastikan bahwa dia tidak kehilangan jejak Aura Minakjinggo, dan juga memutuskan rute terpendek untuk menyusul. “Tempat ini ga menguntungkan aku. Kalau saja aku diserang sekarang, bakalan kesulitan buat mengatasi musuh”.

Perjalanan menyusuri hutan sudah berlalu selama setengah jam. Tapi Dani sama sekali tidak menemukan titik terang dimana tempat persembunyian Minakjinggo. Berkali-kali dia merasa hanya berkutat disatu tempat. Untuk memastikan apakah dirinya memang tersesat atau tidak, ditempatnya berdiri saat ini, ada sebuah pohon yang cukup besar dan bisa ditandai. Dani mengikatkan masker hitamnya ke salah satu batang pohon. Lalu berjalan lagi lebih dalam ke hutan. Pada belokan pertama, Dani mengarah ke kanan, lalu di belokan selanjutnya, dia mengambil jalur kiri, hingga dia menemukan sebuah sungai kecil. Setelah menyeberangi sungai, dia berjalan lurus lagi. Tapi dia terkejut, saat dihadapannya terpampang pohon besar yang dijadikannya sebagai tanda. Masker hitamnya masih tergantung. Hal ini membuat Dani yakin dirinya sudah diakali.

Dengan amarah yang memuncak, Dani memusatkan konsentrasi. Pikirannya di fokuskan untuk melihat apa yang seharusnya tidak ada di depan mata. Dan untuk melakukan itu, dia tidak boleh memandang dengan kedua matanya, melainkan dengan mata batin. Beberapa saat setelah dirinya memejamkan mata, semilir angin malam yang berhembus pelan menerpa telinga kanannya. Pada awalnya Dani tidak mengindahkan, tapi lama-kelamaan angin itu bertambah kencang dan mengganggu konsentrasi. Sehingga Dani harus menghindar ketempat yang lebih tenang. Kali ini dia berdiri ditanah yanga agak lapang di bagian kiri pohon besar. Disini, walaupun ada angin kencang, akan terhalang oleh pohon, sehingga tidak akan membuyarkan pikirannya.

Mula-mula hanya terlihat kegelapan. Namun seiring dengan makin tingginya fokus Dani, tampak sebuah rute yang mengarah masuk ke hutan, ke jalan yang sama sekali tidak tampak waktu dia menyusuri tempat ini tadi. Tanpa banyak pikir, Dani mengikuti jalan setapak didepannya, yang pada akhirnya mengarahkan dia pada sebuah tanah lapang, dimana diujung bagian yang lain, Minakjinggo duduk disebuah tunggul kayu dengan bersilang kaki.

“Disini kau rupanya!” Dani berteriak mengetahui keadaan Minakjinggo.

“Aku sudah menunggumu bocah. Mau apa kau kesini heh? menyelamatkan salah satu temanmu? atau….hanya mau pamer kekuatan?”

“Banyak omong! Disini, saat ini juga, aku akan menghajar dan merontokkan gigimu sehingga bicaramu akan seperti kakek-kakek”.

“Coba kalu bisa”. Minakjinggo tersenyum mengancam.

Dani melompat kearah Minakjinggo sambil mengepalkan tinju. Tapi saat tangannya hanya berjarak beberapa centimeter, seekor Caruga menyerangnya, sehingga Dani terhempas, kembali ketempat dimana dia datang. Melihat hal ini, Minakjinggo tertawa, dia memanggil 3 Caruga lain yang keluar dari semak-semak rimbun disekelilingnya.

“Ups,…Aku lupa memberitahu kalau ada empat reptil disini. Caruga-caruga ini adalah makhluk yang patuh padaku. Dan sekarang, mari kita lihat kau bersenang-senang dengan mereka sebelum masuk ke menu utama”.

“Terserah!” Dani mengeluarkan smartphone yang ada di saku celana kirinya. Dia mengangkat benda itu sehingga sejajar dengan bahu kiri. Dengan tangan kirinya, dia menekan beberapa tombol, dengan tombol enter menjadi yang terakhir ditekan. Tak lama setelah tombol enter ditekan, keluar suara COSTUME READY. Dani mengayunkan Smartphone yang ada di tangan kanannya kearah bahu kanan dengan layar menghadap kedepan. Bersamaan dengan mendorong tangan kanan kedepan, Dani berteriak ACTION!!! Dan dari dalam layar keluar kostum berwarna kuning menyala, yang kemudian membalut tubuhnya. Dan huruf Jawa DA membentuk Helm. Kini kostum tadi berubah warna menjadi merah maroon. “Kalian mau main kasar, aku turuti”. Dani memencet beltnya dan keluar Rebab besi yang memiliki warna senada dengan baju tempurnya.

Dani Menghajar Caruga-caruga yang menyerangnya dengan brutal. Satu Caruga yang menyerang arah kanan, dipukul dengan rebabnya sehingga terpelanting menabrak Caruga dibelakang. Belum puas, Dani melompat kearah Caruga yang terjatuh tadi dan mengahajar mukannya dengan Rebab. Tiga caruga yang lain menyergapnya dari atas, Tapi Dani memutar tubuhnya dan menendang mereka satu-persatu. Dan dengan memusatkan berat tubuh di senjatanya, Dani menghempaskan tubuhnya keatas dan mengayunkan Rebab yang dibawanya sehingga menghantam kepala tiga Caruga tersebut secara bersamaan. Monster- monster kadal itu akhirnya jatuh ke tanah dengan bunyi berdebam keras. Mereka tidak bergerak lagi.

“Anak buahmu sudah keok. Sini kau!!!”

“Jangan sok jago bocah!” Minakjinggo menghilang, dan tiba-tiba berada di belakang Dani.

Dani yang merasakan tekanan aura kuat yang berasal dari Minakjinggo langsung kaget sehingga tidak bisa menggerakkan badannya. Kesempatan itu digunakan oleh Minakjinggo untuk mencengkeram leher Dani dan menghempaskannya ketanah. BLAMMMMMMM!!! “Sekarang gantian kau yang akan aku hajar”. Kata Minakjinggo dengan senyum jahatnya.

#####

Satu Jam sebelumnya….

Flame, mengendarai mobilnya bersama Pandu, Handi, Karis, dan Jonggrang. Mereka berlima menuju ke rumah Flame di Jogja. Tepatnya di daerah Condong Catur. Setelah sampai ditempat yang dituju, Flame memarkir mobilnya digarasi. Cream yang mendengar deru mesin mobil Flame, berlari ke garasi sambil tergesa-gesa. Flame baru membuka pintu mobil, saat melihat adik sepupunya ini membuka pintu dengan hanya memakai satu sandal dan bertampang panik.

“Ada apa Cream? Wajahmu kok jadi lucu begitu”.

“ANATA….moouuu Dicari teman ANATA didepan tuh Nyaaa”.

“Teman? Aku ga merasa di sms atau di telpon kalau ada yang mau datang”.

“Pastilah….mana ada hantu bisa telpon Nyaaa”.

“Hantu? Jangan bercanda ah. Ga ada yang namanya hantu ketok pintu bertamu kerumah orang”.

“MMMMMMBBBHHHH” Cream menutup mulut sambil menahan nafas, yang membuat kedua pipinya menggembung, mengakibatkan wajahnya yang bulat makin imut dan memerah. “ANATA tidak percaya pada Cream. Lihat sendiri di runag tamu sana Nyaaa”.

“Oke-oke, jangan mewek gitu. Aku keruang tamu sekarang. Handi, Pandu, kalian bawa Karis ke kamar belakang saja, nanti aku minta temanku untuk menyembuhkannya”.

“Secepat itu, mana mungkin?” Handi sangsi dengan perkataan Flame.

“Tenang saja, temanku itu healer”. Kata Flame sambil pergi bersama Cream ke ruang tamu.

Di sofa panjang berwarna hijau daun, duduk seorang gadis muda dengan rambut diikat model ekor kuda. Dia memakai jumper putih dengan kaos berwarna biru muda. Celana kain yang dikenakannya juga berwarna putih. Terlihat dia sedang meminum teh dari cangkir porselen, saat Flame dan Cream datang. Flame terkejut melihat tamu yang menunggunya itu. Dan saat gadis itu melihat Flame, dia juga berteriak histeris.

“FLAME!!!!! Masih sama juga rupanya penampilanmu”. Kata Gadis itu seraya menghampiri Flame dan merangkulnya dengan tangan kanan. “Jaket hitam dengan garis merah, Celana Hitam, baju kuning, sepatu hitam, dan pedang jepang di punggung”.

“Katana…ini Katana, lagipula…hey..kenapa kau bisa ada ditahun ini?” Kata Flame heran.

“Dia Hantu ANATA…..HANTU. Arwah yang tidak tenang. mungkin minta diterbangkan ke alam kubur”. Kata Cream sambil sensi melihat perlakuan gadis itu terhadap kakaknya.

“Sintha?? Kau ada disini juga”. Jonggrang yang kebetulan melewati ruang tamu untuk menuju ke belakang rumah, terkejut dan menghentikan langkahnya.

“Waaaa….Nona Jonggrang juga ada ditempat ini? Seingatku nona dikutuk jadi”

“Jangan teruskan kalimatmu Sintha”. Flame membekap mulut sintha sambil melirik korban kata-kata temannya itu. Dia melihat Jonggrang berdiri terdiam dengan rambut menutupi kedua matanya. Dibelakangnya, aura kegelapan menyebar ke seluruh ruangan. “Ini yang aku takutkan”.

PLAKKK BRAKKK BUUKKK TASSSS Suara keras itu membuat Handi dan Pandu berlari menuju ruang tamu. Disana mereka berdua melihat Sintha yang babak belur, duduk disofa sambil memegangi pipinya yang bekas tamparan. Flame dan Cream duduk di ujung kanan Sofa, merapat ke dinding. Dan Jonggrang, berdiri sambil berkacak pinggang di sebelah kiri.

“Ada apa ini? tadi seperti ada suara kapal pecah”. Tanya Handi.

“Kapal pecah gigimu… tidak lihat apa, aku babak belur begini”. Sintha protes.

“Siapa suruh kau bilang kalimat itu. Sudah tau Ratu yang satu ini judes”. Kata Flame.

“Hmph…Jangan ingatkan aku lagi soal lelaki brengsek yang sok ganteng itu”. Ucap Jonggrang sambil memalingkan muka.

“Omong-omong, Kenapa kau bisa ada di masa sekarang? Aku ragu kau gentayangan selama lebih dari satu abad. Tidak ada hantu yang betah selama itu”. Flame bertanya kepada Sintha.

“Aku dibangkitkan. Ummm, oleh sekelompok orang. satu, dua, tiga,..tujuh orang”. Sintha menghitung jumlah orang-orang yang telah membangkitkannya dengan jari tangannya.

“Dan…..dengan alasan apa mereka membangkitkanmu?”

“Mana aku tau”.

“Moshi moshi, orang mau bersusah payah untuk orang lain, pasti ada tujuannya nyaaa”. Cream mengoreksi perkataan Sintha.

“Apa ya….. Aku mendengar sesuatu soal Dewata Cengkar yang katanya bangkit lagi. Dan mereka memintaku untuk membantu mengumpulkan tim yang dulu sudah menyegelnya. Begitu kurasa”.

“Yakin? Selama ini yang aku tau, kau agak plin plan”. Kata Jonggrang.

“Enak saja, aku ini pendekar, bukan tukang catat perkamen. Jadi jangan salahkan aku kalau ingatanku agak lambat. Aku ngomong ke musuh saja pakai pedang, ga pakai mulut”.

“Sudah sudah..kalian berdua”. Flame menghentikan adu mulut kedua temannya. “Kita sudah terkumpul tiga orang saat ini. Tinggal dua lagi. Tapi seperti yang kalian tahu, untuk membangkitkan yang satu, butuh kekuatan dari pemilik baju tempur NA, TA, dan Dha. Sedangkan yang satu lagi….”

“Jangan bangkitkan yang satu lagi. Kita berempat sudah cukup untuk menyegel Dewata Cengkar”. Jonggrang memotong kalimat Flame.

“Siapa yang bilang akan membangkitkannya?”

“Tadi kau…..HEIII Jangan katakan kalau dia belum mati. Ini sudah lebih dari satu abad”.

“Saa naa…”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Dari kita bertiga, hanya kamu yang sampai saat ini masih muda dan mengikuti perkembangan jaman. Seingatku dulu kau membual datang dari masa depan. Sekarang aku percaya”. Jonggrang makin marah.

“Aku tidak mau menyinggungmu saat ini, kalau memang yang satu itu bermasalah buatmu, aku tidak akan mengurusnya hingga saat terakhir. Tapi yang satu tadi, harus segera dibangkitkan. Mengingat Aku sudah bertemu dengan pemilik baju tempur NA, dan menurutku, tinggal tunggu waktu sebelum TA dan DHA menampakkan diri”.

“Flame….Aku punya segudang pertanyaan untukmu”. Handi berkata dengan serius kepada Flame,

“Simpan nanti saja Handi. saat ini ada masalah yang lebih penting”.

“AKU MOHON, SELAMATKAN RATNA DARI TANGAN MINAKJINGGO”!!!! tiba-tiba Karis yang masih lemah berlari keruang tamu. Dia terkulai lemas di karpet setelah berteriak. Sehingga mengagetkan semua orang yang ada disitu.

#####

“Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya dihina dan diremehkan oleh orang yang kau puja”. Minakjinggo berkata sambil menendang dan menginjak kepala Dani. Dani berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan Minakjinggo, tapi kekuatan yang dimiliki lawannya saat ini lebih besar, dikarenakan jiwa-jiwa korban yang bergabung dengan auranya. “Susah payah aku membangkitkannya, tapi apa yang aku dapat. Tak satupun keluar kata terima kasih dari mulutnya. Malah aku diperlakukan seperti pembantu”.

“Heh, siapa suruh kau membangkitkan buaya itu. Tau rasa kau sekarang”. Kata Dani sambil berusaha tersenyum.

“Tapi sekarang, dengan kekuatan yang aku miliki, bahkan Ajisaka pun akan bertekuk lutut dihadapanku”.

“Mimpi kali ye…”

“Tutup mulutmu!!!!” Minakjinggo menendang Dani hingga menabrak pohon. Hantaman yang keras, dan luka yang dideritanya, membuat Dani kembali ke wujud asal.

Dari kejauhan, Santo mengintip diantara semak dan akar pohon. Sejak awal, dirinya memang sengaja mengikuti Dani, karena dia yakin, seorang diri mengalahkan Minakjinggo adalah suatu hal yang mustahil. Kini pemikirannya terbukti benar. Dan dia bersiap untuk menyelamatkan ketua timnya itu. Tapi sebelum mampu menggerakkan satu otot tubuh pun, Santo diterjang suatu perasaan aneh. Aura berwarna merah yang kuat, terpancar dari arah yang tidak jauh dari situ. Aura ini membuat Santo terkejut dan membatu. Tekanan yang dihasilkan oleh aura merah ini sangat kuat dan menandakan bahwa yang kini mendekati arah Minakjinggo bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.

“Cukup, sampai disitu perbuatanmu”. Pandu mengawali perkataan. Dia, Handi, dan Flame berjalan kearah Minakjinggo dengan tatapan membunuh. Setelah dekat dengan Dani, Handi membantu Dani untuk berdiri, sedangkan Flame dan pandu tidak melepas pandangan terhadap Minakjinggo.

“Kau…Kenapa kau datang kesini hah? membuntuti ku ya”? Dani tidak terima kalau harga dirinya jatuh karena ditolong oleh bangsawan kelas menengah.

“Siapa pula yang nguntit kau. Kami kesini karena dimintai tolong Karis. Tau tau kau sudah tergeletak babak belur kayak berkedel”. Kata Handi santai.

“APA KAU BILANG HAH??”

“Apa? Mau menghajarku? Yakin?? Kali ini kau yang bakal aku hajar lo”.

“Pede banget! menghina!”

“Bisa diam tidak kalian berdua. Kalau kalian mau adu jotos seperti anjing dan kucing, silahkan lakukan. Tapi nanti, setelah kita pulang dari tempat ini”. Flame membuat Handi dan Dani diam dengan perkataannya yang dingin dan tajam. “Karena saat ini, kita berempat akan membuat orang sok kuat di depan itu menyesal telah dilahirkan ke dunia”.

“Hemph….Aku tidak kenal siapa kau. Tapi bicaramu boleh juga. Kami bertiga disini adalah pengguna baju tempur peninggalan Ajisaka. Aku DA, si bodoh ini HA, dan paman mesum disana itu PA. Lalu siapa kau? Kau hanya orang asing”. Kata Dani meremehkan.

“Terserah kau menganggapku apa. Aku tidak peduli, jadi cepat angkat bokongmu dan hajar Orang yang punya nama sama dengan merek rokok itu bersama kami”.

Dani berjalan bersama Handi dan berdiri disebelah kanan Pandu. Handi berdiri di kanan Dani, sehingga posisi keempat orang itu jadi sejajar dengan urutan dari paling kanan Handi, Dani, Pandu, Flame. Mereka berempat membuat pose untuk memanggil baju tempur masing-masing.

Handi memegang daun lontar ajaib ditangan kanan sambil membaca syair mantra, lalu meletakkan tangan kanannya sejajar dengan pundak kiri dan berkata GO AKSARA. Kemudian dia melempar daun lontar itu kedepan. Huruf-huruf jawa keluar dari daun lontar dan membentuk baju tempur menyelimuti tubuhnya, dengan huruf jawa HA menjadi helm.

Dani mengambil smartphonenya dan memegangnya dengan tangan kanan, dia menggerakkan tangan kanannya ke pundak kiri, dan tangan kirinya memencet smartphone itu. Terdengar suara COSTUME READY. Dani berteriak ACTION!!! dan mengarahkan smartphone itu ke depan untuk mengeluarkan baju tempur yang kemudian menyelimuti tubuhnya, dengan huruf jawa DA membentuk helm.

Pandu menciptakan bola api di tangan kanannya. Dia melemparkan bola api itu ke atas sambil membaca mantra. Percikan api itu jatuh dan menutupi tubuhnya membentuk baju tempur, dengan huruf jawa PA membentuk helm.

Flame menyilangkan tangannya hingga masing-masing tangan sejajar dengan pundak. Dia berkata AWAKENING, sambil memetik jari dan menarik kedua tangannya, sehingga sekarang posisi tangan sejajar dengan pundak masing-masing. Lingkaran merah muncul di tanah dan menciptakan sinar emas yang menutupi tubuh Flame membentuk baju tempur dengan huruf Jawa MA membentuk helm dan jubah.

“What….Kau…Tapi aku kira semua tim 4 sudah berumur lebih dari satu abad. Seharusnya kau sudah mati”. Dani terkejut melihat Flame yang memakai baju tempur MA. “Terlebih lagi,.. Kau orang asing. Darah Jawa sama sekali tidak mengalir di nadimu”.

“Persetan dengan darah pribumi. Yang penting aku bisa memakai armor ini kan”. Sanggah Flame.

“Oke teman-teman. Saatnya beraksi”. Teriak Handi sambil menerjang Minakjinggo.

#####

Kali ini keadaan berbalik, Minakjinggo bagai di terjang oleh lahar panas yang datang bertubi-tubi. Flame menyerangnya dengan dua pedang andalannya Hikari dan Hoono. Handi dan Dani, masing-masing menggunakan pedang Garuda dan Rebab besi, sedangkan Pandu sebagai support, menyerang menggunakan tembakan bola api.

Menghindari satu serangan, membuat Minakjinggo dihantam serangan yang lain. Keempat orang itu tidak memberi ruang bagi lawan mereka untuk memikirkan taktik balasan, sehingga saat ini Minakjinggo hanya bisa menahan gempuran silih berganti dari Handi, Flame, Dani, dan Pandu.

Handi menebas pundak kiri Minakjinggo yang ditahan oleh tangan kanan lawannya itu. Tapi hal ini memberi kesempatan Dani untuk memukul rusuk kanan Minakjinggo dengan keras. Menjerit kesakitan, wajah mikajinggo ditendang oleh Flame, sehingga tubuhnya jatuh ketanah. Minakjinggo tidak sempat menjaga keseimbangan, dan seketika itu tiga orang melompat di atasnya dan menebaskan senjata mereka untuk menjatuhkan Minakjinggo lebih cepat lagi. BRUAKKKKK tubuh berat Minakjinggo Amblas tertelan tanah.

Terbakar amarah karena dirinya dipermainkan oleh empat orang yang berelemen api, Minakjinggo menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk berubah menjadi gagak hitam yang sangat besar. Dirinya melayang ke udara, membumbung tinggi, sehingga lawan-lawannya tidak bisa mencapai dirinya. Dari ketinggian, dia melontarkan halilintar yang menyambar dan membakar area hutan. Flame dan teman- temannya menghindar, tapi tidak cukup cepat, sehingga beberapa halilintar berhasil mengenai tubuh mereka.

Minakjinggo lalu terbang dengan cepat dan menyambar Dani serta Pandu sehingga kedua orang ini melayang. Handi melompat untuk menangkap Pandu, dan Flame menggunakan Hikari, untuk membuat pijakan bagi Dani, dan melempar Dani kembali kearah Minakjinggo. Dani dengan kecepatan penuh, memukulkan rebabnya ke paruh gagak itu, KRAAKKKKK suara paruh retak terdengar dan tubuh gagak itu oleng ketanah. Masih dalam wujud gagak rasasa, kali ini Minakjinggo menghempaskan lawannya dengan angin kencang. Handi dan ketiga temannya mundur hingga menabrak pohon. Mereka menjaga jarak dari angin kencang yang berasal dari sayap Minakjinggo.

“Kalian bertiga, keluarkan senjata kalian. Salurkan energi kalian di senjata itu dan berdiri dibelakangku serta gabungkan senjata kalian dengan dua pedangku ini.” Kata Flame.

“Apa yang akan kau lakukan dengan hal itu”? Tanya Dani tidak paham.

“Kau akan lihat nanti”.

Handi, Dani, dan Pandu memegang pedang, rebab, dan bola api di belakang Flame. Mereka bertiga mengangkat senjata mereka keatas sambil berkonsentrasi menyalurkan energi. Hal ini tidak mudah, karena disaat yang bersamaan, terpaan angin kencang terus menerus datang dari Minakjinggo. Flame yang sudah tahu bahwa ketiga orang dibelakangnya sudah mulai menyalurkan energi, mengangkat kedua katananya keatas dan menyalurkan energinya ke kedua katana itu.

Kekuatan Api…(Gunung Meletus) (2)

Quote:Aura keemasan berbalut api yang melilit aura itu dari bawah keatas terlihat mulai memancar di ujung kedua katana Flame. Aura ini makin lama makin terang dan membentuk sebuah pedang yang besarnya mencapai lima kali pohon beringin. Api yang melilit aura pedang itu, berubah menjadi seekor burung api yang kemudian melebarkan sayapnya hingga melingkupi keempat orang dibawah. Flame menjaga keseimbangan dengan memegang pedang besar bernama Jatayu itu sambil menahan dirinya dari terpaan angin. Saat Pedang itu sudah semakin solid, karena energi dari keempat orang itu sudah cukup, Flame, dengan satu tebasan besar, menebas Minakjinggo yang berwujud Gagak hitam sehingga terbelah menjadi 2. BLARRRRRRRRRRRRRRRRR Ledakan dahsyat menggema diseluruh hutan, membutakan penghuninya dengan sinar emas dan jilatan api.

#####

Dani melihat jiwa-jiwa beterbangan dari tubuh Minakjinggo yang makin lama makin memudar. Jiwa-jiwa ini kembali ketubuhnya masing-masing. Meninggalkan Minakjinggo dan melemahkan kekuatannya. Setelah jiwa yang terakhir menghilang, Minakjinggo lenyap ditelan malam. Bulu-bulu hitam gagak menyebar disekitar tempatnya berada terkahir kali.

“Kau pikir dia mati”? Tanya Dani.

“Tidak. Aku rasa dia tidak akan mati semudah itu”. Jawab Flame sambil berjalan pergi.

“Kemana kalian setelah ini”?

“Pulang, aku sudah bertemu dengan Sintha. Orang yang kau dan teman-temanmu bangkitkan. Dan kami akan berkumpul dirumah Handi untuk membahas langkah selanjutnya”.

“Aku sarankan kau untuk ikut juga. Tapi tanpa tim mu. Aku belum bisa tahan melihat kelakuan mereka yang kayak kurawa itu”. Kata Handi.

“Mau mu… Kau pikir mudah memisahkan diri dari mereka. Lagipula aku akan dianggap berkhianat kalau sampai ketahuan bertemu denganmu”.

“Ada Ratna juga lo”.

“Apa urusanku dengan dia”.

“Bukankah kau datang kesini untuk menyelamatkannya? Aku dengar dari Karis kalau mukamu seperti kepiting rebus waktu melihat Ratna jadi batu”.

“Aku hanya menunaikan tanggung jawabku. Tidak ada hubungannya dengan dia”.

“Paling tidak kau bisa menampakkan mukamu sebagai tempat untuk dia berterimakasih kan”.

“Kau ini banyak omong ya”.

“Terserah”. Handi pergi bersama Pandu keluar dari Hutan. Mereka tidak menyadari kalau Santo juga menyelinap keluar bersamaan dengan mereka.

“Aku katakan padamu”. Flame mengawali pembicaraan dengan Dani. “Cewek dimana-mana memang menyebalkan. Itu sudah jadi sifat dasar mereka, karena mereka sebenarnya tidak menemukan kata-kata dan kalimat yang sesuai untuk mengatakan bahwa mereka ingin diperhatikan”.

“Maksudmu? Aku sudah memperhatikan cewek itu sejak aku SMA. Masih kurang”? Jawab Dani.

“Kesalahanmu adalah, kau bertingkah seperti anak kecil. Cewek mana yang mau diperhatikan oleh anak-anak”.

“Aku berbuat seperti ini karena tanggung jawab yang diserahkan kepadaku atas dirinya”.

“Tanggung jawab tidak termasuk dalam bersifat sok cool dan ganteng didepan cewek. Ratna itu tipe orang yang suka debat. Dia menilai seorang cowok bukan dari tampang dan harta. Tapi dari otak mereka. Kau bicara masalah tanggung jawab didepannya? Jangan bergurau. Tidak heran dia selalu mendepakmu.”

“Apa maksud kalimatmu barusan”!?

“Akuilah….dia lebih dewasa daripada kau. Dia lebih paham apa itu tanggung jawab. Jadi jangan berlagak seolah-olah kau itu prince charming, yang selalu bisa menjaga dia. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Rubah sikapmu, karena jika kau terus begini, jangan harap kau dapat menjalin hubungan baik dengannya”.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Semua tindakan ku akan berakhir sebagai kesalahan dimata dia”.

“Jika dia marah-marah didepanmu, peluk dia dan cium dia. Beres, masalah selesai. Karena dengan begitu, dia bisa tau seberapa besar kau peduli dengannya tanpa harus sok kuasa dan bicara soal tanggung jawab”.

“Kau yakin”?

“Aku sudah berpengalaman”. Flame berkata sambil melangkah meninggalkan Hutan bersama Dani.

Di depan Hutan, Dani mengikuti mobil Flame menuju kerumah Handi. Disana sudah terlihat Ica, Ratna, Jaka, Jonggrang, Cream, dan Sintha. Handi menanyakan pada Ica dimana Karis, dan Ica memberitahu kalau Karis dirawat di kamar tamu. Kondisinya masih belum stabil, sehingga Cream yang akan mengurusnya. Jonggrang mengajak Flame dan Sintha untuk berdiskusi. Handi, Pandu, Jaka, dan Ica memikirkan cara bagaimana melacak Dewata Cengkar, sedangkan Ratna, bersama dengan Dani pergi ke halaman belakang rumah.

“Jangan kira apa yang kau lakukan akan merubah pemikiranku terhadapmu”. Kata Ratna.

“Aku tidak mengharapkan hal itu. Sifatmu yang sekarang ini sudah cukup. Paling tidak kegalakanmu sudah berkurang”. Jawab Dani.

“Lalu apa maumu datang kesini? bukannya kamu paling anti dengan Tim kami karena keturunan darah kami”?

“Cepat atau lambat, Tim ku dan Tim kalian akan bersinggungan. Aku lihat tinggal dua orang lagi yang belum muncul untuk menggenapi jumlah 20 orang”.

“He? bukannya kurang empat orang. Siapa dua orang lagi yang sudah kau ketahui”? “Akhirnya, kau penasaran dengan pembicaraanku. Ini pertama kalinya kau ingin tahu informasi dariku”.

“Jadi….kau mau jawab atau tidak”?

“Dua orang itu adalah Irwandha dan Tania”.

“Orang-orang yang ada dipihakmu. Iya kan”. “Bisa dibilang begitu. Dan jika kita ingin 20 orang ini berkumpul, Tim ku dan Tim mu harus disatukan. Tidak ada jalan lain”.

“Koalisi sementara, Oke. Penggabungan permanen, jangan harap”.

“Fine by me”. Dan Dani mencium Ratna.

“Lho,…ANATA, dimana Ratna dan Dani? Cream lihat tadi mereka berdua masih ada di ruang ini Nyaaa”.

“Heh? mana aku tahu? Coba ka tanya Handi atau temannya”. Jawab Flame yang masih berbincang- bincang dengan Jonggrang dan Sintha.

“Ratna ya, tadi dia ke halaman belakang dengan tunangannya”. Jawab Handi.

“Umm, mungkin mereka masih ada urusan. Karena Cream rasa, tim kalian harus disatukan, dan perselisihan antar anggota juga harus disudahi”.

“Aku pikir juga begitu”. Jawab Handi sekenanya.

“Handi,..ngomong-ngomong, aku tidak melihat kucing garong hitam itu disini”.

“Nanda? Dia ada di halaman belakang. Sejak dirinya tidak bisa berubah menjadi manusia, dia selalu bersemedi untuk mengatur energinya”. Jawab Ica.

“Waduh gawat ini”. Flame panik sambil memegang jidatnya.

“Gawat kenapa”? Handi tiba-tiba waspada dengan perkataan Flame.

“Aku meminta Dani untuk sendirian bersama Ratna. Tapi tidak menyangka akan ada seekor macan ditempat mereka sekarang”.

“ANATA….apa Yang ANATA lakukan nyaaa”? Cream curiga kepada Flame.

“Heheheheehhe”

Dan dari arah halaman belakang terdengar suara yang sangat keras. PLAKKKKKKKKK

Singo Barong…(Singo maho -.-a)

Quote:Tubuh Nanda yang berwujud macan kumbang, terbungkus bola berwarna hijau terang. Didalam bola tersebut, Nanda seperti tertidur, tidak mempedulikan lingkungan di sekitarnya. Semakin dalam tenggelam terbawa mimpi dan khayalan.

Flame membungkus Nanda dengan selubung energi untuk memisahkan aura manusia dan hewan yang terdapat di dalam tubuhnya. Dibantu oleh Cream, Flame mengekang kesadaran Nanda, agar dirinya tidak memberontak saat tubuhnya dipaksa melepaskan hawa siluman. Setelah semua persiapan selesai, dan Nanda sudah masuk kedalam selubung energi, Flame, Cream, Jonggrang, dan Sintha pergi meninggalkan rumah Handi. Mereka berkata akan menyusun rencana untuk membangkitkan salah satu teman mereka. Dan Karena itu membutuhkan Nanda, dengan tubuh manusia tentu saja, maka mau tidak mau Flame mengembalikan tubuhnya. Kini, 1 jam sudah berlalu sejak mereka pergi.

“Lamanya, Apa aku musti jadi satpam buat njaga macan tidur ini”? Handi menggelengkan kepala, dia ingin segera pergi melakukan pekerjaan yang lain. Tapi dia diminta oleh Flame untuk mengawasi Nanda.

“Loh, bukannya tadi persiapannya cepat ya? Mungkin sebentar lagi juga selesai”. Ica menyemangati Handi.

“Persiapannya sih cepat, tapi prosesnya kayak rebounding rambut. Flame bilang paling tidak butuh waktu 3 jam agar aura silumannya keluar sepenuhnya”.

“Dan kau akan terus berdiri disitu seperti patung”?

“Apalagi yang bisa aku lakukan”?

“Banyak loh… Seperti..” Ica berfikir sambil menempelkan telunjuknya di bibir. “Debat kusir dengan Ratna, atau membantu paman Pandu dan Paman Jaka melacak lokasi Dewata Cengkar, atau… Hey, kau kenapa”? Ica memotong kalimatnya saat melihat Handi menutup kedua telingannya dengan tangan.

“Jangan kau bilang nama itu di depanku. Pamalih, ntar bisa kena kutuk”.

“Oh… Oke. Ya udah, kalau kau mau tetap disini. Aku mau jenguk Karis dulu. Takut lukanya makin parah”.

“Omong-omong, aku heran kenapa dia bisa terluka sampai seperti itu”?

“Minakjinggo”. Ica menjawab sambil menunduk. “Dan aku tidak bisa menolongnya… Waktu dia membutuhkan bantuan, aku justru jadi beban”. Ica berlari ke ruang depan.

“Anak aneh, tidak ada yang minta dia untuk punya phobia itu. Tapi dia tetap menanggungnya sendirian”. Handi melipat tangannya dan kembali berkonsentrasi mengawasi Nanda.

Tak lama kemudian, Ratna datang. Wajahnya masih beruap karena menahan amarah. Begitu melihat Handi, dia berhenti dan duduk di kursi sebelahnya. Handi menoleh sambil tersenyum. Ia tahu bahwa mengajaknya berdebat sama saja dengan menyulut api dimulut naga. Handi mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Waktu berlalu tanpa terasa, Ratna dan Handi sama-sama menghabiskan waktu dalam diam. Ica belum kembali dan Pandu serta Jaka juga belum menampakkan kemajuan dalam percarian mereka. Dengan keadaan yang demikian, Mata Handi menjadi berat. Sebentar-sebentar kepalanya terangguk karena terlalu berat. Tiap kali dia bangun tiba-tiba dari kantuknya, dia segera menoleh kesekeliling ruangan, takut kalau seseorang memperhatikan wajah bodohnya karena kalah oleh kantuk. Tapi sepertinya tidak ada yang tahu, karena Ratna pun juga tidak menghiraukan Handi dan sibuk dengan urusannya sendiri.

Handi kembali mengawasi bola hijau dimana Nanda terlelap. dalam hati dia protes, memikirkan betapa enaknya Nanda sekarang, tidur pulas tanpa peduli dengan keadaan. Pokoknya bangun langsung segar bugar dan berwujud orang. Tak terasa, sambil menggumamkan makian tidak jelas, Handi mengingat-ingat kembali bagaimana dirinya bisa sampai seperti sekarang. Saat pertama kali mendapatkan daun lontar dari orang tuanya, saat pertama kali menghajar Caruga, pertama kali tahu kalau ada fragment keris yang menyegel Dewata Cengkar, hingga pertemuannya dengan Flame dan mengalahkan Minakjinggo. Tiba-tiba terdengar suara Ica menjerit dari arah depan.

“KYAAAAAAAAA”

Handi terkejut dan menoleh kebelakang. Ratna tanpa pikir panjang langsung berlari kearah asal suara. Pintu depan meledak karena energi proyektil. Dari sela-sela engsel pintu, terselip bulu merak. Handi marah-marah melihat rumahnya hancur. Dia dan Ratna keluar ke halaman depan dan melihat Ica pingsan dengan luka di bahu kiri. Masih berlumuran darah, tubuh lemasnya dibawa oleh Ratna untuk menghindar dari apapun yang sudah menyerangnya.

“Siapa yang berani-beraninya menghancurkan pintu depan rumahku!? Udah sok jago HAH”!!? Handi berteriak sambil mengepalkan tinju. Dia melihat dari bayang-bayang gelap pepohonan, seseorang atau sesuatu yang memiliki mata berwarna merah menyala, keluar perlahan-lahan untuk menampakkan diri. Saat sosok itu sudah terlihat sepenuhnya, Handi terperanjat. “Karis?? sudah gila kau ya? seenaknya menjebol pintu orang”.

Dari mulut Karis, hanya terdegar raungan seperti seekor singa, dan dia menyerang Handi tanpa banyak bicara. Handi yang berusaha mengelak, akhirnya terpaksa melawan balik dan memakai baju tempurnya. Karis secara insting juga memakai baju tempur untuk mengimbangi lawan. Perkelahian mereka membuat seisi rumah keluar. Pandu dan Jaka melerai mereka, tapi Karis seperti hilang akal, dirinya tidak mengindahkan Pandu dan Jaka, juga Handi yang masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Itu bagian mata di helmnya kok warnanya merah? bukannya seharusnya hitam”? Ratna memperhatikan keanehan dalam tubuh Karis. Selain warna matanya berubah, kelakuannya juga jadi seperti hewan buas. “Paman, buat dia pingsan”!!!

Jaka meminta Handi untuk mundur. Handi melompat satu kali untuk memperlebar jarak, dan Pandu serta Jaka memukul kepala Karis hingga tubuhnya melayang menabrak pohon. Karis terjatuh dengan bunyi berdebam keras. Semua orang kecuali Ratna, segera membawa Karis kedalam rumah.

Tak lama kemudian Karis sadar. Dirinya melihat sekeliling, heran dengan pandangan teman- temannya yang mengintimidasi. “Apa? kalian melihatku seperti melihat penjahat”.

“Kau benar-benar tidak ingat”? Kata Handi curiga melihat kelakuan Karis yang berbeda 180 derajat dari yang tadi dihadapinya.

“Memangnya aku kenapa? jangan memandangku seperti itu. Kayak maho”.

“APA KAU BILANG!!! SETELAH SUKSES MERUSAKKAN PINTU DEPAN, KAU MENGATAIKU MAHO”!!!

Handi menjitak kepala Karis dengan keras karena tidak terima dengan kata-kata Karis barusan.

“JETAKKKKK”

“ADOH!!! Sakit tahu”!!! Karis memegangi kepalanya.

“Ris, yakin kau tidak ingat apa-apa”? Ica ganti bertanya. Bahunya yang terluka kini nampak dibalut perban.

“Sumpah. Kalau bohong rela deh, digigit anjing rabies”.

“Suruh Nanda nggigit tuh”. Handi makin sebal.

“Hush diam”. Kata Ratna.

Pandu menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh penghuni rumah. Dimana Karis tiba-tiba kalap dan menyerang membabi buta. Mulanya Karis berusaha menutupi dengan bercanda, tapi melihat luka yang diderita oleh Ica, akhirnya Karis mau mengakui dan menjelaskan kepada semua orang mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku tanya kepada kalian ya,…sudah ada yang pernah dengar cerita reog ponorogo belum”? Tanya Karis sambil berusaha duduk bersila di lantai.

“Yang versi mana? sebelum dicuri maling sial, atau sesudah dicuri”? Tanya Handi.

“Ada ye??? halah, negara itu cuman bisa ngaku-ngaku. Ga ada yo, asal usul Reog dari sana”. Karis melipat tangan. “Mau-maunya saja orang-orang di troll sana-sini”.

“Oke, lanjutkan. Lebih cepat lebih baik”. Kata Ratna.

“Kau ini mau dengar cerita apa mau kampanye”? Tanya Karis heran.

“Ada yang salah dengan kalimatku”?

“LANJUTKAN….” Kata Ratna sambil mengepalkan tangan kedepan. “Paham…” Karis melihat

Ratna yang bengong memandangnya. beberapa saat kemudian, masih dengan mulut terbuka, Ratna mengangguk pelan dua kali. “Dan satu lagi….LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”!!

“Ini bukan ajang duet SBY VS JK, Tuh cerita mo dimulai ga!!? Kalau ga, aku yang bakalan maksa kamu buat buka mulai pakai bogemku”. Handi sudah panas-panasan dengan Karis yang tidak kunjung memberikan penjelasan.

“Sabar tuan…” Kata Jaka menenangkan Handi.

“Yosh, Kerana kalian sudah tidak sabar dengar cerita awak”.

“JANGAN PAKAI LOGAT ITU!!!!! AWAKMU WES BOSEN URIP YO”!!! Handi berdiri sambil ancang-ancang untuk memukul Karis.

“Oke, kembali ke masalah, sekarang kita serius. Aku mulai… Begini ceritanya”.

“Selamat datang di kismis, kisah-kisah misteri”. Kata Ica. Tapi dia tidak meneruskan kalimatnya setelah melihat tatapan membunuh dari mata Handi. Ica hanya tersenyum sambil menjulurkan lidah.

#####

Pada jaman dahulu, di kerajaan Kediri, ada seorang ratu cantik yang bernama Dewi Sanggalangit.

“Wuih, namanya sombong banget,…Nyangga langit. Kayak Atlas ja”. Handi berkomentar.

“Diam, tak plester loh mulutmu”. Ancam Ratna

Selain berwajah cantik, Sanggalangit juga berhati baik, sehingga menarik perhatian semua lelaki dan pangeran dari kerajaan tetangga. Tapi seperti kebanyakan wanita karir sekarang, Sanggalangit belum juga mau menikah. Hal ini membuat pusing raja dikarenakan banyaknya lamaran yang datang, namun belum juga ada jawaban.

Suatu hari, saking jenuhnya dengan pria-pria yang datang melamar, Sanggalangit akhirnya memberikan jawaban. Tapi jawaban ini malah membuat Ayahnya, sang raja tambah pusing dan juga… orang-orang yang melamarnya tujuh keliling.

“Kalimatmu yang bener donk, pusing sama tujuh keliling tu satu kalimat. Jangan dipisah.” Koreksi Ratna.

“Bawel, suka-suka aku mendramatisir cerita donk”. Protes Karis.

“Mau mati ya”. Ratna mengacungkan tinju.

“Ampun mbah…eh mbak, ampun”.

Apa gerangan jawaban Sanggalangit? Ternyata…. tak disangka….. akhirnya Sanggalangit mau menikah juga. Tapi siapa yang diterima lamarannya? Siapa? Siapa?….

“Siapa sih”? Tanya Ica heran.

“Mau tahu”? Pancing Karis.

“Mau mau”.

“Tunggu episode selanjutnya”.

TASSSSSS!!!!! Karis di tampar Ratna tanpa banyak omong.

“Lanjutin ga? jangan bikin orang penasaran satu minggu cuman buat tau siapa yang mau married“. Kata Ratna marah.

“Hu um….” Ica mengangguk.

“Ga ada yang diterima lamarannya”. Jawab Karis sambil memegang kepala.

“WHAT”!!!! Ratna dan Ica berteriak bersamaan.

“NAH!!! Ekspresi seperti itulah yang tercipta di muka semua orang yang mendengar perkataan Sanggalangit”. Karis meringis melihat wajah Ratna dan Ica.

Kontan terjadi kekacauan dalam istana, saura-suara sumbang terdengar dari setiap arah. Tapi keputusan Sanggalangit tetap pada tempatnya. Dia hanya akan menerima lamaran dari lelaki yang sanggup memenuhi syaratnya. Aku buatkan list syaratnya dulu.

Sang lelaki harus mampu menghadirkan keramaian dan kesenian yang belum pernah ada sebelumnya.
Harus mampu menghadirkan tontonan dengan tarian yang diiringi gamelan.
Harus membawa 140 kuda kembar.
Harus membawa binatang berkepala dua.

“Dia gila”. Kata Nanda yang datang ikut nimbrung, dengan memakai baju tempur, tapi bagian helmnya dilepas.

“Wogh…sudah bangun kau ternyata”. Kata Karis. “Tapi kenapa kau pakai baju tempur? mau pamer cosplay”?

“Aku ga pakai baju, tolol. Apa kau pernah melihat macan hitam jalan-jalan pakai jumper dan celana jeans”?

“Pingin sih. Lihat yang gituan. Akan terjadi keramaian yang belum pernah ada sebelumnya”. Kata Karis sambil meringis.

“Lha itu tadi syaratnya aneh bener. Pasti Sanggalangit asal ngomong. 140 kuda kembar? Ngimpi!!!! Jadi perawan tua aja sekalian”. Komentar Handi.

“Hah,…lihat siapa yang bilang. Lupa ya sama temannya Flame. Si Jonggrang. Dia malah minta dibuatkan 1000 candi dalam semalam. Makin edan pula tuh”. Jawab Ica.

“Sudah aku bilang kan, cewek seperti mereka itu gila. Itu sebabnya aku benci keturunan ningrat”. Kata Nanda.

“No comment“. Ratna berkata tegas.

Dengan keempat syarat nan mustahil diatas, pastilah ga ada satu batang hidung pun yang bisa memenuhi. Dan Sanggalangit bisa terbebas dari maho-maho yang melamarnya. Paling enggak untuk sementara sih. Karena setelah ini akan kau kenalkan 2 tokoh utama lagi.

#####

Diantara beratus-ratus pemuda yang galau dan mengundurkan diri untuk melamar Sanggalangit, ada seorang Raja dari tanah Lodoyo yang bernama Singo Barong, yang mengatakan bahwa dia mampu memenuhi segala persyaratan dari Sanggalangit. Singo Barong sendiri terkenal sebagai seorang tiran mirip Hitler yang memimpin kerajaannya dengan kejam dan tangan besi. Selain kejam dan jahat, dia juga berwujud menyeramkan, dimana dia adalah werelion. ummm….kayak werewolf gitu. Cuman tubuhnya manusia tapi kepalannya singa. Kayak Gado, kalau pernah main game Bloody Roar. Nah, tahu kan kalau singa tu banyak rambutnya, juga banyak kutunya. Maka dari itu, Singo Barong memelihara seekor merak untuk mematuki kepalanya yang penuh kutu. Dari sini kalian pasti sudah dapat gambaran besar ceritanya.

Disisi lain, ada seorang raja lagi yang mengatakan bahwa dia bisa memenuhi persyaratan Sanggalangit. Dia adalah Kelana Swandana dari Bandarangin. Bagaikan pinang dicincang, kelana adalah kebalikan dari Singo barong. Selain berwajah tampan rupawan, dia juga adalah raja yang adil dan bijaksana. Tapi….ada tapinya loh. Setiap manusia pasti memiliki sisi buruk. Tak terkecuali kelana. Dibalik wajahnya yang tampan dan sifat baik hatinya, dia punya kebiasaan buruk suka menciumi pemuda.

“MAHOOOOOOOO!!!!!!!!” Handi berteriak histeris sambil tangannya menekan kedua pipi.

“DIAM!!!!” Ratna marah-marah lagi.

Tapi Kelana sudah berjanji, jika kelak menikah dengan Sanggalangit, dia akan meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Dan begitulah, Kedua raja memerintahkan penduduknya untuk menyiapkan segala persyaratan. mulai dari kesenian yang belum pernah ada, hingga 140 kuda kembar. Saranku…. Cinta memang buta, hingga membuat orang jadi gila. 140 kuda, KEMBAR!!!!…-__-a

Dipihak Kelana, semua persyaratan sudah disiapkan. hanya tinggal binatang berkepala dua saja yang belum. Raja Singo Barong, yang ingin tahu seberapa jauh persiapan Kelana, mengirim patihnya sebagai mata-mata. Dari sang patih, diketahui kalau persiapan Kelana hanya tinggal persyaratan terkahir saja. Hal ini membuat Singo Barong kalang kabut dan memerintahkan untuk melacak jalur yang nantinya akan digunakan Kelana untuk pergi ke Kediri. Untuk kemudian disergap dan dibantai.

Kelana sendiri sudah tau niat bulus Singo Barong yang mengirimkan mata-matanya. Sehingga perang antara Lodoyo dan Bandarangin meledak bak petasan tahun baru. Singo Barong sendiri tidak tahu akan niat Kelana, sehingga dengan santainya dia pergi ke taman sari dan meminta merak peliharaannya untuk mematuki kutu.

Peperangan besar dimenangkan oleh Bandarangin, dan pasukan Kelana mengepung kerajaan Lodoyo, lagi-lagi tanpa diketahui oleh Singo Barong yang sedang asik berendam di taman sari. Betapa terkejutnya Singobarong ketika Kelana, dengan membawa cemeti amal rasuli…eh salah, cemeti samandiman datang di depannya dengan petentang-petenteng. Kedua raja inipun akhirnya saling adu jotos dan adu jurus. Kelana yang berada diatas angin, akhirnya mengalahkan Singobarong dan memberikan kutukan lewat cemetinya. Kutukan itu membuat merak yang ada dikepala Singo Barong bersatu dengan tubuhnya. Sehingga kini Singo Barong berubah menjadi hewan berkepala dua, dan hilang pula akalnya. Tak ubahnya seperti hewan buas, Singo Barong dibawa oleh Kelana, dan dijadikan pemenuh persyaratan yang terakhir, yang membuat Kelana akhirnya dapat menikah dengan Sanggalangit.

Begitu ceritanya…..

#####

“Loh, terus apa hubungannya dengan kau Ris? dan kenapa pula Kau berserk“? Tanya Ica penasaran.

“Iya, ceritamu tadi sama sekali ga menyinggung soal keadaan dirimu yang aneh”. Tambah Handi.

Karis memandang orang-orang yang duduk didepannya satu persatu. setelah memandang Handi, yang berada di ujung, Karis tersenyum sambil memejamkan mata. Sesaat kemudian dia berkata.

“Itu hanya setengah dari keseluruhan cerita”. Kata Karis sambil memperlihatkan bola matanya yang berubah semerah darah.

Warisan…(Duit, Duit, Duit)

Quote:Handi beserta keempat temannya keluar dari mobil sedan hitam yang saat ini berada didepan sebuah rumah besar di wilayah Ponorogo, Jawa Timur. Mereka berlima melakukan perjalanan selama lima jam dari Jogjakarta, hanya untuk menemui seseorang yang mampu menyembuhkan Karis. Karena dari cerita yang didengar Handi, hanya Cemeti Samandiman, yang dulu dimiliki oleh Kelana Sewandana lah yang dapat mencabut kutukan yang ditimpakan pada temannya itu.

Seperti yang sudah diceritakan oleh Karis, disaat terakhir dimana Raja Singobarong dikutuk oleh Kelana Sewandana untuk berubah menjadi hewan berkepala dua, Raja Singobarong sempat mengucapkan kutukan, yaitu setiap anak laki-laki keturunan Kelana, nantinya akan menjadi medium roh bagi Raja Singobarong untuk membalas dendam. Itulah mengapa keturunan Kelana selalu perempuan, sehingga seiring berjalannya waktu, anak cucu Kelana semakin lupa akan kutukan Singobarong. Hingga saat ini, dimana Karis adalah satu-satunya anak laki-laki keturunan Kelana Sewandana.

Dan seperti yang dikatakan Singobarong, dalam tubuh Karis, terdapat roh dari Raja Lodoyo itu yang sewaktu-waktu bisa keluar dan membuat Karis bertingkah bagaikan binatang buas.

Handi mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu jati bermutu, dan dihiasi oleh ukiran khas Jawa. Pada ketukan ketiga, pintu rumah terbuka, tampak seorang perempuan berumur sekitar 23 tahunan, berambut panjang yang diikat ekor kuda dan berponi. Mata tajam dan bibir tipis, menandakan dia tipe perempuan mandiri, berpendirian kuat, dan tidak suka diperintah. Tapi sisi buruknya, nada bicaranya gampang menyinggung orang lain.

“Malam mbak, umm Mbak Dhika nya ada”? Tanya Handi berbasa-basi.

“Saya Dhika, Mas siapa ya? kok datang malam-malam begini”? Jawab Dhika sambil membuka pintu agak lebar.

“Anu mbak…”

“Halah, banyak omong”. Nanda menyenggol Handi dan berdiri di depan Dhika. “Kami mau pinjam cemeti pusaka milik keluarga anda, teman kami butuh bantuan”.

“Apa maksudmu”? Tanya Dhika tidak paham.

“Kutukan di keluarga kita jadi kenyataan kak”. Karis berjalan kedepan, agar Dhika bisa melihat dirinya. “Roh Singobarong ada di tubuhku”.

“Karis..” Dhika berfikir sebentar. “Oke, ayo masuk”.

Mereka berlima masuk kedalam rumah, dan menunggu diruang tamu sementara Dhika berjalan keruangan disebelah kiri untuk mengambil barang pusaka yang diperlukan oleh Karis. Beberapa menit kemudian Dhika keluar dengan membawa sebuah cemeti bergagang emas.

“Ini yang kalian maksudkan”? Tanya Dhika.

“Tidak salah”. Handi berdiri sambil mengambil cemeti dari tangan Dhika. Tapi saat tangan Handi menyentuh cemeti itu, aliran listrik pendek berwarna merah menyengat tangannya, sehingga Handi cepat-cepat menarik tangan agar tidak tersetrum.”Aduh.. cemetinya nyetrum”.

“Sebenarnya,..ada sedikit masalah mengenai hal ini”. Dhika meletakkan cemeti diatas meja yang terbuat dari batang Kayu berukuran besar. “Coba kalian berempat, masing-masing memegang cemeti ini”. Kata Dhika kepada keempat teman Handi.

Masing-masing orang mencoba memegang cemeti samandiman, tapi setiap kali tangan mereka akan mendekat ke cemeti itu, sebuah aliran listrik berwarna merah, menyengat mereka. Melihat hal ini, Dhika menghembuskan nafas sejenak, lalu memposisikan duduknya agar lebih santai.

“Aku akan jelaskan pada kalian”. Kata Dhika. “Cemeti ini adalah pusaka keluarga seperti yang kalian dengar dari adikku.” Dhika melirik Karis. Karis menanggapi dengan menganggukkan kepala perlahan. “Dan karena hal itu, Cemeti ini hanya bisa dipegang oleh keturunan Kelana”.

“Tapi tadi Karis kok ga bisa memegang cemeti itu”.!? Protes Ica.

“Karena didalam tubuhnya ada Roh Singobarong, dan roh itu bukan keluarga ataupun keturunan dari Kelana”. Jawab Dhika sambil memejamkan mata. “Karis, untuk membebaskanmu dari kutukan Singobarong, aku sendiri yang harus menggunakan cemeti samandiman”.

“Oke, apalagi yang kakak tunggu”? Tanya Karis.

“Dari kalimatnya barusan, ada hal lain yang jadi masalah”. kata Ratna yang dari tadi diam.

“Hu um, Sebelum aku menggunakan cemeti ini, aku harus memastikan kau tidak punya kemampuan untuk menggagalkannya”. Kata Dhika.

“Apa maksud kakak”?

“Serahkan Daun Lontar milik keluarga kita”.

“Jangan bercanda”!! Teriak Nanda.

“Dia benar, jika Karis masih punya daun lontar itu, maka saat Singobarong mengambil alih tubuhnya, kejadiannya akan sama seperti waktu dia mengamuk dirumahku”. Kata Handi menjelaskan.

“Kita semua tau, apa jadinya kalau singa itu punya kekuatan untuk berubah jadi Aksaranger”.

“Apa itu Aksaranger”? Tanya Dhika tidak paham.

“Umm,, Itu nama dari tim kami. Karis termasuk didalamnya. Dan yah,…Kami berempat, juga punya Daun lontar untuk memakai baju tempur”. Kata Handi sambil menunjukkan daun lontar miliknya.

“Aku paham, jadi begitu keadaannya. Oke Karis, aku bawa dulu daun lontarmu, setelah ini kalian berlima temui aku di depan rumah”. Dhika membawa daun lontar milik Karis dan pergi ke depan.

#####

Tak lama setelah Dhika pergi kedepan rumah, Handi dan keempat temannya mengikuti. Dhika meminta Handi, Nanda, Ica, dan Ratna untuk merjaga di empat arah mata angin, selagi dirinya menggambar segel lingkaran ditanah. Segel ini dimaksudkan untuk mengunci pergerakan Karis agar saat dirinya mengamuk, tubuhnya tetap terperangkap dalam lingkaran.

“Kau yakin ini akan berhasil”? Tanya Ratna ke Karis. Saat ini Karis hanya berdiri diam di tengah lingkaran.

“Aku yakin, lagipula aku percaya kakakku”.

“Jangan serahkan semua tanggung jawab ini ke pundakku. Aku belum pernah melakukan ini. Jadi aku sendiri juga tidak tahu tingkat keberhasilannya.” Jawab Dhika sambil mulai membaca mantra sambil memegang cemeti.

Tiba-tiba dari arah barat, segerombolan caruga, berjumlah empat ekor datang menyerbu rumah Dhika. Handi dan ketiga temannya melindungi Dhika sambil memakai baju tempur mereka. Teriakan GO AKSARA terdengar seiring dengan sinar yang memancar dari daun lontar mereka.

“Kalian bawa Monster-monster itu jauh dari sini, jangan biarkan mereka menggagalkan usaha kita untuk membantu Karis”! Teriak Dhika sambil masih berkonsentrasi menyalurkan energi ke arah cemeti, yang mebuat cemeti itu bersinar keemasan.

“Baiklah, Semuanya, ikut aku”!! Handi berteriak sambil bersama keempat temanya menjauhkan Caruga dari lokasi.

Dhika, yang saat ini hanya bersama Karis, tetap menyalurkan energi ke cemeti. Karis sendiri berusaha menekan kekuatan Singobarong agar tidak membuatnya lepas kontrol dan menyerang kakaknya. Saat Dhika sudah selesai membaca mantra dan menyalurkan energi, lingkaran dimana Karis berdiri bersinar, membentuk sebuah kubah emas yang memenjarakan Dhika dan Karis didalamnya. Dhika memegang Cemeti erat-erat, dan mengarahkannya ke Karis. Tubuh Karis serasa terbakar, semua kekuatannya dihisap habis oleh cemeti itu dan dia merasa ada kekuatan lain yang perlahan-lahan keluar dari tubuhnya. Makin lama, tubuhnya makin panas, dan dengan hentakan cepat, seraya melepaskan cemeti dari tubuhnya, Karis ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri.

Dari belakang tubuh Karis, tampak siluet makhluk bermata merah, dia mengenakan armor yang mirip dengan baju tempur Karis, hanya saja didominasi warna emas. Dhika yang melihatnya, segera membaca mantra dan mengenakan baju tempur, bersiap untuk mengalahkan lawan yang berdiri di depannya.

“Lama sekali aku tidak menghirup udara luar. Terjebak dalam tubuh bocah itu membuatku bosan setengah mati”. Kata Singobarong sambil melemaskan otot tangannya.

“Sudah kuduga, kau terlalu lama didalam tubuh adikku sehingga secara tidak langsung kau juga menyerap sebagian kekuatan baju tempur yang dipakainya”. Kata Dhika.

“Oh, maksudmu baju tempur yang berasal dari daun lontar itu. Aku sendiri juga tidak menyangka kalau musuh besarku, Kelana Swandana adalah keturunan dari Ajisaka”. Singobarong berjalan perlahan kearah kanan. “Aku sudah dengar desas-desus tentang Raja tanah Jawa yang memberikan kekuatan kepada keturunannya untuk menjaga tanah ini dan meneruskan kejayaan dirinya”.

“Dan sekarang, dengan kekuatan dari Ajisaka, aku akan mengembalikanmu ke kebun binatang”.

“Jaga ucapanmu!! kau kira bisa dengan mudah mengalahkanku?

Jika tanpa tipu muslihat, Kelana sendiri kalah sakti melawan kekuatanku. Dia bisa menang hanya karena dia menyerangku saat aku sedang tidak siap bertempur. Apa kau pikir itu tingkah laku seorang Raja!? Menikam lawannya dari belakang”!!!

“Kau sendiri mengendalikan tubuh adikku untuk melakukan kekacauan. Apa itu juga tindakan seorang Raja”?

“Siapa duluan yang main curang. Aku hanya membalaskan dendam dan sakit hatiku pada keturunan Kelana, bukan pada orang lain. Dia sudah mengutukku dan mengambil calon istriku dengan cara curang. Sudah sewajarnya aku melakukan hal serupa kepadanya”.

“Makanya, aku ada disini untuk menggagalkanmu”.

Singobarong dan Dhika bertempur di dalam kubah. Dhika menyerang dari arah kiri, yang ditangkis Singobarong dengan lutut kanannya, mementalkan pukulan dhika. Singobarong lalu menyikut Dhika sehingga menghempaskan tubuh lawannya ke dinding kubah. Dhika menggunakan kakinya untuk menambah momentum dan menghempaskan tubuhnya ke arah Snigobarong. Setiap pukulan dan tendangan dari Dhika ditangkis dengan cepat. Tapi semakin cepat gerakan Singobarong, semakin Dhika bisa melihat ritme pertahanannya. Sehingga dalam satu gerakan tipuan, seolah-olah Dhika akan memukul dari arah kanan, membuat Singobarong menangkis, tapi ternyata Dhika dengan cepat menendang muka Singobarong dari arah kiri.

Singobarong melepaskan bulu merak dipunggungnya dan menggunakan bulu-bulu itu sebagai pedang. Setiap pedang melayang dan dikendalikan oleh kekuatannya. Dhika juga mengeluarkan panah dan menembakkan bulu-bulu merak kearah Singobarong. Singobarong berlari sambil melontarkan setiap pedang yang dimilikinya kearah Dhika. Dhika melompat menghindar dan membidikkan anak panah tepat diwajah Singobarong, tapi Singobarong mengumpulkan semua pedangnya ke tengah dan menggunakannnya sebagai perisai. Energi dalam anak panah Dhika terkumpul, dan dia menembakkan anak panah itu kearah perisai pedang milik singobarong. Hantaman energi dari masing-masing serangan, menimbulkan ledakan besar yang menghancurkan kubah emas dimana Dhika dan Singobarong berada.

#####

GLARRRRRRR!!!!!!

Suara ledakan besar membuat Handi, Nanda, Ica, dan Ratna segera menuju ke lokasi awal mereka. Crauga-caruga yang menyerang pun tiba-tiba juga menghilang. Setelah sampai di tempat Karis dan Dhika berada, mereka berempat melihat Dhika berdiri diam, ditangannya masih memegang panah, dan Karis yang tergeletak tak sadarkan diri disamping kirinya.

“Apa yang terjadi barusan”? Tanya Ica.

“Dia kabur, Singobarong berhasil kabur dari kubah perangkapnya”.

“Bukannya Singobarong ada ditubuh Karis”?

“Aku memisahkan mereka berdua. Sebenarnya aku bermaksud mengalahkannya di sini, tapi dia memanfaatkan energi dari panahku untuk membuat jalan keluar dan kabur”.

“HHAHAAHAHAHHA jangan kira aku cukup bodoh untuk masuk perangkapmu”. Terdengar suara Singobarong dari arah atas. Dia melayang di tengah malam, sambil melipat tangan, mengawasi semua orang dibawahnya dari balik helm baju tempurnya.

“Itu,…itu baju tempur Karis”. Handi terkejut.

“Bukan, dari jauh memang mirip, tapi kalau dilihat lebih teliti, armornya berbeda”. Jawab Nanda.

“Dia berhasil menyerap kekuatan daun lontar, dan sekarang dirinya punya baju tempur sendiri”. Kata Dhika sambil mengarahkan panahnya kearah Singobarong.

“Tiap baju tempur merefleksikan penggunanya. Dia seorang raja, tidak heran kalau baju tempurnya mirip dengan Flame”. Kata Ratna sambil mengamati armor singobarong. “Dan aku takut kalau kekuatannya juga setara dengan Tim 4, tim para Raja. Karena jika benar, kita tidak mampu menghadapinya saat ini”.

“Benar sekali, sebaiknya kalian ikuti kata-kata gadis berpakaian putih itu. Sekarang bukan waktunya kita untuk adu kekuatan”. Kata Singobarong sambil menghilang ditelan malam.

“Sial!!!” Teriak Dhika.

#####

Jogjakarta, Keesokan Harinya…

Karis duduk diteras rumah Handi bersama dengan Nanda dan Ratna. mereka bertiga membahas masalah Singobarong yang terpisah dari tubuh karis, dan bagaimana dia bisa keluar dari kubah emas, yang seharusnya digunakan untuk menangkapnya. Daun lontar yang dipakai Dhika, juga sudah dikembalikan lagi. Sehingga sekarang, tim 1 sudah bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Tetapi lawan yang harus mereka hadapi juga bertambah. Handi datang sambil membawa jus jeruk segelas besar. Tadi pagi, Dia mendapat kabar dari Dani, kalau Arta dan Irwandha sudah siap untuk membangkitkan anggota tim 4, dan sekarang mereka membutuhkan Nanda untuk membantu.

Tentu saja Nanda ogah-ogahan. Dia skeptis pada Tim 2, sehingga tidak mau membantu. Tapi Ratna yang menjelaskan situasi yang saat ini dihadapi oleh semua tim, mau tidak mau memaksa Nanda untuk pergi ketempat Arta dan Irwandha. Ica dan Ratna sendiri akan pergi kerumah Ratna untuk menyembuhkan phobia yang dimilki Ica terhadap tempat luas, sehingga di dalam rumah, hanya tinggal Handi dan Karis, karena Jaka dan Pandu, saat ini sedang bertemu dengan Tania dan Yanuar untuk membahas pembentukan tim 3.

“Sepi juga ya kalu tidak ada mereka”. Kata Karis sambil memutar-mutar daun lontar ditangannya.

“Hehe, aku lebih suka suasana seperti ini. daripada penuh teriakan ga jelas”. Jawab Handi.

“Kau tau, kadang aku bingung. Banyak hal yang sampai saat ini masih belum bisa aku mengerti. Seperti kenapa ada tim 2, sedangkan mereka bukan keturunan Ajisaka, lalu tentang tim 4, dan juga….”

“Hey hey, antri dulu pertanyaannya, bukan cuma kau yang pusing dengan semua hal ini. Tapi aku yakin, suatu saat semua hal yang belum kita ketahui akan terjawab, hanya saja belum waktunya”.

“Halah, waktu kan relatif. Sekarang atau nanti, juga sama saja kan”.

“Hehehehe, ga seru nanti kalau semua hal di beberkan terlalu cepat. Kau pernah dengar istilah remaja karbitan kan…ya kira-kira sama lah perumpamaannya”.

“Apa itu remaja karbitan? buah karbitan aku tau”.

“Anak kecil yang terlalu cepat dewasa, jaman sekarang kan lagi musim tuh. Anak SD ja sudah pacaran. hahahahaha”

“Dan hubungannya dengan informasi yang tadi kau atakan soal tim 2 dan tim 4″?

“Sama kan,….kalau kita tau informasi terlalu cepat, bisa saja kan kita belum cukup data sehingga bisa salah mengambil keputusan”.

“Ga paham… -_-a”

“Soal Flame, waktu pertama kali kita bertemu dia, dia kayak bajingan yang suka main jotos dan sok kuat”.

“Hum hum aku sepaham denganmu”. Karis mengangguk2.

“Tapi ternyata sifatnya tidak seperti itu”.

“Kesan pertama begitu menipu. selanjutnya terserah anda”.

Karis dan Handi tertawa.

Ganesha…(Kaki Gajah)

Quote:The Shell, Sebuah club malam yang terletak ditengah jantung kota Jogjakarta, saat ini dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang asyik melepas penat sambil menari dan minum alkohol. Tujuan mereka datang ke tempat seperti ini hanya satu, apapun pekerjaan dan golongan mereka, semua orang datang untuk bersenang-senang. Mungkin pada siang hari, mereka adalah mahasiswa, sopir, pegawai, direktur, atau bahkan pemegang saham. Tetapi ketika mereka melangkahkan kaki memasuki The Shell, mereka semua sama. Tidak ada yang akan memperhatikan status sosialmu. Karena hal inilah, tempat seperti klub malam, jadi tempat yang cocok untuk menyembunyikan identitas, sambil menjaring koneksi. Tak terkecuali dengan keempat cowok dari tim 2.

Dani, Arta, Santo, dan Iwan memesan lima botol bir favorit mereka. Sambil menunggu minuman datang, keempat orang ini duduk santai sambil mengobrol di sofa ukuran XL yang berada di pojok selatan. Tempat yang pas, karena dari tempat ini, mereka bisa melihat seluruh isi klub. Mulai lantai dansa, kelap-kelip lampu diatas ruangan, lantai atas yang penuh cewek seksi, bahkan sampai lokasi bertender yang penuh dengan atraksi juggling.

“E ngapain mata mu belalakan kesana kemari”? Tanya Arta kaget melihat Iwan, sambil berekspresi seakan-akan ada kotoran di depan hidungnya.

“Ini surga, tau gak loe. Lebih indah daripada cuman nonton group idol Jepang nyanyi di pantai sambil pakai bikini”. Jawab Iwan tanpa memandang Arta.

“Bah,.. mending nonton idol Jepang, lebih yahud”.

“Yahud sih, tapi ga bisa loe pegang kan? HAH…. makan tu idol jepang. Sorry men, gua mo ke sana dulu ya, I have date with destiny“. Kata Iwan sambil melenggang pergi ketengah-tengah cewek yang berkerumun untuk menari dan bergoyang. Sejenak kemudian, terlihat Iwan sudah mengeluarkan rayuan maut ala Tony Stark.

“Buset dah,…Perasaan disini yang gudang duit tu aku. La kok malah dia yang gampang dapet gebetan”. Kata Arta sambil melongo.

“Pantes lah, la wong awakmu kencan e karo saham”. Timpal Santo. “Tu minumannya udah datang, buruan bayar”.

“Weeee….nyuruh bayar. Kamu yang bayar, mank sapa yang ulang tahun!? Grrrr”.

“Urusan gratisan otakmu ga pernah lupa Ta”. Kata Dani sambil tertawa kecil.

Santo mengambil lima botol minuman, kemudian membayarnya dan menambahkan tip untuk pelayan yang tadi mengantarkan minum. Musik Klub bertambah kencang seiring dengan susana yang makin panas. Santo dan Arta meneguk minuman tanpa tanggung-tanggung.

“Dan, jangan diam mulu, keburu habis minumannya ntar”. Kata Arta.

“Jar no ae. Ra sah diurus, engko lek entek ya ben kapok”. Kata Santo setengah mabuk. Dani hanya melihat kedua temannya sambil tersenyum.

“Gimana To, katanya kamu mau beli lahan baru di Jogja buat bisnis”.

“Udah nego sih Ta, cuman alot. Ga kayak di Tempatku, beli diskotik ja musti bertele-tele”.

“Tempatmu yang mana? Yang di Indo pa yang diluar indo”?

“Yang di Indo lah. Ngapain aku ngurusin tempat yang diluar”.

“Sapa tau….”

Tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan dengan dering handphone Santo yang berbunyi seperti ratapan anak tiri.

“WUAHHHH….. Ringtone horrormu belum diganti juga? Pingin bikin orang jantungan ya”? Protes Dani kaget.

“Sorry bro..” Kata Santo sambil mengangkat handphone. Untuk beberapa saat, Arta dan Dani diam, memberikan kesempatan pada Santo untuk bercengkarama dengan seseorang yang ada di seberang jalur. Setelah Santo selesai bicara, mereka bertiga santai lagi.

“Sapa To? Nyokapmu”? Tanya Dani.

“Bukan, Ce ce ku yang dari Jatim mo maen ke Jogja minggu depan”.

“Ce ce mu? Bukan yang kerja di Bank itu kan”?

“Huum, yang kerja di Bank. Mank ada apa”?

“Ampun deh, mending minggu depan kamu ajak kabur deh ce ce mu, daripada ketahuan Iwan. Di gasak, habis ntar.” Kata Arta.

“Kayak ga tau Iwan aja, Mak lampir membo-membo jadi cewek seksi ja dia gasak”. Tambah Dani.

“Hmmmm….musti cari kost cewek yang jauh dari jangkauan Iwan”. Santo mulai berfikir.

“HEY!!!!! Inikan Singkek Jowo yang dulu suka di gantungin di tiang bendera waktu SMA kan”. Terdengar teriakan dari sebelah kanan sofa, yang mengagetkan Dani, Arta, dan Santo. Kontan mereka bertiga menoleh serentak kearah asal suara.

“Sapa loe”? Tanya Dani marah.

“Ga tau sapa gue? Kenalin, Juragan Batubara se Jogja. Dhimas Arto Wibowo”. Kata Cowok yang berteriak tadi sambil memasang wajah sok pamer. “Makanya, jangan gaul sama singkek, ntar ikut-ikutan jadi kaum terbuang”.

“Apa maksud loe? Gua ga paham, kalo ngomong pake bahasa manusia donk”.

“HAhaahhahaha…..Udah ketularan bahasa Cina ya loe? fung tang cong hang hong buih.. Pantesan, Heh To, Santo, Singkek Jowo. Makin gaya loe sekarang, pake temanan sama orang pribumi segala. Ingat status donk, ini Indonesia bukan Cina. Bukan tempat orang mata sipit kayak loe. Ketawa dikit ja, ditinggal sembunyi loe ga akan tau kan gara2 mata loe kayak gini”. Kata Dhimas sambil menyipikan mata menggunakan kedua tangannya. “HAHHAHAHAHAHAHHHAA”

BUAKKKKKK!!!!!!!

Santo memukul Dhimas tanpa banyak omong. Begitu Dhimas jatuh terjengkang di lantai, Santo segera menerjunkan bogemnya untuk meremukkan muka Dhimas. Teman-teman Dhimas yang melihat perlakuan Santo, segera bangkit dari sofa dan berusaha membantu Dhimas, tapi dihadang oleh Dani dan Arta. Perkelahian pun pecah, membuat kegiatan klub jadi berhenti dan berubah menyoraki kedua partai yang sedang adu kampanye lewat jotosan bukan coblosan.

“Sorry cantik, Robin butuh bantuan”. Kata Iwan yang dari tadi sibuk ciuman dengan cewek di pinggir toilet klub.

“So,…Apa yang akan Batman lakukan”. Tanya cewek itu sambil bertingkah nakal. Iwan tersenyum kecil, lalu melanjutkan ciuman sebelum berjalan menjauh kearah perkelahian.

“Hey…” Kata cewek itu menahan Iwan. Iwan menoleh sejenak kearah cewek itu.

“Call me” Cewek itu berkata tanpa suara, sambil memperagakan telphon dengan tangan kanannya.

“Pasti”. Kata Iwan sambil tersenyum sok ganteng. Lalu berlari menjauh”.

“OEY Cassanova!!!!! Bantuin napa”!? Teriak Arta kearah Iwan.

“Okky Dokky”!!!! Balas Iwan.

Dani dan kedua temannya makin menjadi ketika Iwan datang membantu. Hal ini membuat Dhimas dan teman-temannya jadi babak belur dihajar empat orang, dan mereka dipermalukan di tengah-tengah kerumunan pemngunjung klub. Setelah Dhimas dan kawan-kawannya tidak bisa bergerak karena luka-luka memar ditubuh mereka, Dani, Arta, Santo, dan Iwan baru menghentikan pukulan.

“Ada apa sih Dan? tiba-tiba maen sikat”? Tanya Iwan yang tidak tau apa-apa.

“Tanya Santo aja gih”.

“Ada apa San…”? Iwan memandang Santo yang diam ditempat “To”.

“Aku ga bisa tahan lagi dihina-hina terus kayak gitu. Mentang-mentang aku orang keturunan Cina, selalu ja diremehin dan direndahin dimata pribumi”.

“Hah??? Orang macam apa yang ngrendahin keturunan Cina? Gua mah, kalo disodorin cewek Indonesia sama Cewek Cina, mending milih cewek Cina.”

“Kamu disodorin cewek negro ja digasak”. Timpal Arta santai.

“Tutup mulutmu”.

“WEEEkk” Arta Menjulurkan lidah.

“Sekarang udah ga jaman diskriminasi ras, jangan bikin malu orang Indonesia yang lain dengan sok nasionalis tapi rasis, bilang aja ga mau ngakuin kalo orang Cina lebih sukses daripada orang pribumi”. Kata Iwan sambil beranjak pergi. “Ayo San, tinggalin ja orang Indonesia ga berguna kayak mereka”.

Iwan, Santo, Arta dan Dani pergi dari klub malam itu dengan perasaan jengkel campur puas. Jengkel karena sampai saat ini ternyata masih ada kasus rasis diantara orang-orang di masyarakat. Puas karena mereka bisa menghajar orang-orang rasis itu hingga babak belur. Ketika akan naik ke sepeda motor mereka masing-masing, Arta teringat dengan janjinya untuk bertemu Irwandha. Dia lalu pergi sendirian meninggalkan ketiga temannya.

#####

Arta bertemu dengan Irwandha yang sedang duduk minum kopi dengan Flame di sebuah warung kopi disekitar stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Warung itu adalah warung kecil biasa yang tidak mencolok, sehingga anak-anak muda jarang ada yang mampir. Kebanyakan pengunjungnya adalah bapak-bapak, tukang ojek, ataupun orang-orang tua yang sudah biasa dengan warung seperti itu.

“Wah, jarang-jarang aku lihat cewek Cina minum kopi di warung”. Kata Arta melihat Flame. Flame hanya diam tidak menganggapi. “Ini temanmu paman”? Tanya Arta ke Irwandha.

“Tuan Arta, mohon tuan jangan asal bicara. Pemuda yang duduk disebelah saya adalah pemuda yang akan membantu kita membangkitkan salah satu dari teman Raja Ajisaka dulu”.

“HAH??? pemuda? jadi dia cowok”. Arta kaget, tapi Flame hanya diam sambil menyeruput kopinya. Tak lama kemudian Nanda datang sambil memasang muka cemberut.

“Flame!!? Dimana kau”? Tanya Nanda. Flame hanya mengangkat tangan kanan, untuk menunjukkan lokasi dirinya, dan Nanda menghampiri.

“Apa yang mau kau perbuat heh? mengumpulkan aku dengan tim 2 dan antek nya? Jelaskan”!!

“Osh….Semuanya sudah ada disini ya. Satu, dua, tiga”. Flame berkata tanpa mempedulikan Nanda. “Kita berangkat ke Blitar sekarang”. Flame menoleh ke arah Nanda sejenak. “Kau.. Ikut aku, atau aku sulap kau jadi macan garong”.

“Grrrrr” gumam Nanda.

“Kita ke Blitar naik apa Tuan”? Tanya Irwandha.

“Teleport”.

“HAH!!!??? Jangan gila donk. Memangnya aku anak kecil yang bisa kamu tipu dengan hal begituan”? teriak Arta.

“Banyak omong”. Flame memegang pundak Irwandha dan Arta, sedangkan Irwandha memegang Nanda. Tak lama kemudian kedua warna mata Flame yang merah maroon menjadi makin terang dan keempat orang ini tiba-tiba saja sudah berada di lokasi reruntuhan candi di Blitar, Jawa Timur.

“Woagh…dimana ini”? Arta kaget karena sedetik yang lalu dia masih berada diwarung kopi.

“Keren kan. Bahkan kalaupun kau mandi uang, kau tidak akan bisa bertranportasi secepat ini”. Kata Flame agak mengejek. Flame kemudian berjalan agak jauh kedepan Nanda, Irwandha, dan Arta lalu membalikkan badan. Kini Flame berhadapan dengan ketiga orang tersebut. Dan dengan pose agak membungkuk, Flame berkata…. “Selamat datang di Candi para Raja. Candi Penataran”.

Irwandha terkejut mengetahui dimana sekarang dia berada. Dia segera melihat sekeliling untuk memastikan kebenaran perkataan Flame. Ketika pandangannya menyisir candi, dia tidak menemukan adanya kesalahan, relief candi, arca yang ada di sekitar taman, dan posisi bangunan, mengindikasikan bahwa tempat itu benar-benar candi Penataran. Tapi Irwandha belum yakin.

“Tuan Flame, Dimana pohon maja yang tumbuh di Candi ini”?

“Itu, didepan. Dekat pos satpam”. Jawab Flame sambil tersenyum. Aku tahu kenapa kau memperlihatkan ekspresi setengah tidak percaya dan takjub seperti itu paman Irwandha.

“Pohon Maja? Jangan bergurau. Tidak mungkin ini….” Nanda berkata.

“Majapahit, Candi para raja, tempat dimana abu Ken Arok dan Raden Wijaya berada. Dan tempat salah satu Patih Majapahit yang terkenal”. Jawab Irwandha.

“Aku beritahu, wahai kalian yang tidak suka sejarah”. Flame memandang ke Nanda dan Arta.

“Saat ini kalian berdiri di atas reruntuhan bagian dari kemegahan Majapahit. Akhir dari Singosari, dan saksi dari sebuah sumpah seseorang yang akan berjanji menyatukan Nusa Antara”.

“Maksudmu….” Arta bertanya tidak yakin.

“Ya…Ini tempat dimana Gajah mada mengucapkan sumpah palapa. Dan aku butuh bantuan kalian, terutama kau Nanda, untuk membangkitkan Gajah Mada”. Flame memandang ke arah Nanda yang masih melongo karena dirinya tidak menyangka akan bisa datang ke tempat dimana terdapat salah satu kerajaan paling jaya di Indonesia. “Tentu saja, kalau kau menolak, aku bisa mengembalikanmu ke wujud silumanmu”. Ancam Flame.

#####

“Hey Nanda… Aku dengar tadi Flame berkata kalau dia akan mengembalikanmu kewujud siluman. Jangan bilang kalau kau ini bukan manusia”. Tanya Arta sambil menyiapkan tempat untuk membangkitkan Gajah Mada.

“Aku manusia,….Hanya saja gara-gara aku suka gonta ganti wujud ke macan kumbang, hawa siluman di tubuhku makin menumpuk. Makin lama, aku jadi tidak berbeda dengan siluman”. Jawab Nanda.

“Aku tidak mencium bau siluman ditubuhmu”.

“Flame sudah menghilangkannya”.

“Memangnya kenapa kamu bisa sampai punya kekuatan untuk gonta-ganti wujud? Jangan-jangan kau maen ajian terlarang ya”?

“Bukan….ummm bagaimana mulainya ya”. Nanda berfikir sejenak. “Kau tau kisah tentang akhir hidup prabu Siliwangi”?

“Yang dia pergi dari kerajaan bersama pengikut setianya”?

“Ya, Kau pasti juga tau kalau legenda mengatakan mereka berubah jadi Maung. Prabu siliwangi jadi macan putih, sedangkan pengikutnya jadi macan hitam”.

“Lalu apa hubungannya kau dengan pengikut Prabu Siliwangi. Kalau kau keturunan dari salah satu pengikutnya, tidak mungkin kau ada disini, karena pengikutnya cowok semua. Dan tidak mungkin punya keturunan”.

“Keturunan, Iya. Secara langsung, tidak”.

“Jadi….anak siapa kamu”?

“Anak Ibuku lah… Kakekku, adalah adik dari salah satu pengikut setia Prabu Siliwangi. Dia secara diam-diam mendapatkan ajaran bagaimana cara berubah wujud menjadi maung hideung. Dan seperti kutukan dari tiap ilmu yang terlarang, ilmu itu menurun kepadaku. Dulunya sih aku senang punya kekuatan seperti itu, sehingga aku sering menggunakannya tanpa tau efek sampingnya”.

“Dan lama kelamaan kau jadi siluman”.

“Begitulah”.

“Kalian sudah siap”? Tanya Irwandha mengembalikan Arta dan Nanda kepada kenyataan.

“Siap paman, Ini tidak jauh beda dengan waktu membangkitkan Restu Sintha kan”? Tanya Arta.

“Lebih mudah malah, karena ini adalah tempat yang paling berpengaruh bagi Gajah Mada, jadi akan lebih mudah memanggil dia. Tapi dibutuhkan kekuatan dari satu golongan di tiap Tim untuk membangkitkannya. Bukan hanya sekedar memanggil rohnya”.

“Maksud Paman”?

“Tuan Nanda, sebagai orang yang mewakili huruf kedua dari tim 1 NA, Tuan Arta, yang mewakili huruf kedua dari tim 2 TA, dan saya, yang mewakili huruf kedua dari tim 3 DHA, akan memanggil Gajah Mada yang mewakili huruf kedua dari tim 4 GA”.

“Hmmm….makanya Flame butuh Bantuanku dan Nanda. Hey…memangnya dia siapa”?

“Aku Salah satu anggota Tim 4. MA, Kawamata Flame”. Jawab Flame.

“HAH??? Masak? Kau sendiri bahkan bukan orang Indonesia. Nama mu jepang begitu”. Teriak Arta.

“Protes ya? ga trima kalau aku bisa punya kekuatan ini? Mau duel”!! Tantang Flame sambil tersenyum.

“Tapi bukannya Tim 4 adalah tim yang dulu pernah membantu Ajisaka, tidak mungkin Anda bisa hidup selama itu dari jaman dulu sampai sekarang kan”? Tanya Irwandha.

“Itu cerita lain, sekarang yang penting kita bangkitkan dulu Gajah Mada”.

#####

Prosesi pembangkitan berjalan sesuai perencanaan. Irwandha, dengan keris super gede nya mengumpulkan kekuatan untuk menarik roh Gajah Mada. Nanda dan Arta menyalurkan kekuatan mereka kedalam keris untuk membantu Irwandha, dan dengan sebuah mantra kuno yang dipelajari Irwandha dalam pemanggilan roh, prosesi ini selesai makin cepat.

Kurang dari 30 menit, keris Irwandha yang sudah penuh energi menyala berwarna hijau. Mengetahui hal ini, Irwandha makin cepat membaca mantra, dan akhirnya menghujamkan keris itu ketanah. Dari bekas retakan yang diakibatkan oleh keris itu, muncul secara perlahan sosok laki-laki bertubuh gempal dengan jidat yang agak menonjol dan rambut ikal, memakai sarung dan bertelanjang dada. Makin lama sosoknya makin memadat. Flame mendatangi sosok itu untuk melakukan tugasnya, membuat tubuh Gajah mada menjadi solid. Tapi sebelum Flame sempat melakukan hal itu, dia terkejut melihat sosok yang telah dipanggil ketiga orang tadi.

“Loh, siapa ini? Ini bukan Gajah Mada”. Kata Flame

“Tuan Flame, Lihat baik-baik, itu Gajah Mada”. Kata Irwandha.

“Tapi Gajah mada yang aku kenal tidak gendut kayak gini, haduh…salah mantra ini pasti”.

“Flame…Kau Flame ya”? Kata Sosok Itu.

“Kau kenal aku”? Flame bertanya balik.

“Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan teman sepermainannya waktu muda. Kau lupa dulu pernah aku jeburkan ke kolam ikan waktu kita sedang bertamu kekediaman Ajisaka”.

“Jangan buka kartu”!!! Flame sewot. “Tapi, hey…bagaimana kau bisa tau. Hanya Gajah mada yang tau akan hal itu”.

“Karena aku memang Gajah mada”.

“Tapi Gajah mada ga kayak gini…Dia pemuda tegap, agak culun, yang porsi makannya teratur”.

“Maksudmu wujud yang ini”? Gajah Mada berubah kewujudnya waktu masih muda. Waktu dirinya masih dalam era pemerintahan Raden wijaya, dan dirinya belum terkenal.

“Nah, Ini baru Gajah mada yang aku kenal”.

“Halah sewot, bilang saja kau baru kebakaran jenggot”.

“Aku ga punya jenggot ya”.

“Ini bukan Flame yang kita kenal deh”. Arta bilang ke Nanda, melihat perubahan sikap Flame.

“Cowok cool pendendam dan pengancam tadi sudah berubah jadi tukang ngomel”. Jawab Nanda.

“Tunggu….bagaimana Gajah mada yang hidup pada jaman dahulu, bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan berbicara denganmu seprti ini”? Tanya Arta ke Flame.

“Ini bukan plothole, aku sudah menyesuaikan logat bahasa mereka ke era kita. Sama seperti yang dilakukan Irwandha kepada Sintha, dan yang kulakukan pada Jonggrang”. Jawab Flame.

“Jonggrang….maksudmu Rara Jonggrang”.

“Siapa lagi kalau bukan dia”.

“Ya TUHAN…bunuh aku karena dulu waktu SMP nilai sejarahku dapat lima”. Kata Arta meratap.

“Kalau saja aku tahu kisah dan tokoh jaman dulu bisa sekeren ini. Tim 4, Isinya hantu semua”.

“AKU BELUM MATI”!!!!!! BUAKKKKK Flame menjitak kepala Arta.

Setelah perdebatan kecil itu, Flame memberi tubuh fisik pada Gajah Mada sehingga dirinya bisa jadi manusia, bukan hanya roh. Kini tim 4 sudah terkumpul 4 orang, dengan Flame, Gajah Mada, Sintha, dan Jonggrang. Hanya tinggal satu lagi agar duapuluh orang bisa terkumpul dan mengalahkan Dewata Cengkar. Arta, dan keempat orang di Candi penataran itu bersiap untuk kembali ke Jogja. Saat Irwandha berhenti dan bertanya pada Gajah Mada.

“Tuan, kenapa diperlukan duapuluh orang untuk mengalahkan Dewata Cengkar, padahal dulu hanya dibutuhkan enam orang”? Tanya Irwandha.

“Pertanyaan yang bagus, ada dua jawaban untuk hal itu paman”. Gajah Mada mulai menjelaskan.

“Yang pertama adalah karena Keris Empu Gandring, sebagai keris yang digunakan untuk menyegel Dewata Cengkar, sudah hancur. Paling tidak itu yang aku dengar dari Flame”. Gajah Mada menghela nafas. “Yang kedua, karena kekuatan Ajisaka sudah menyebar menjadi lima daun lontar yang diberikan kepada keturunannya, dan masing-masing dari kami tim 4, menyumbangkan sebagian kekuatan kami kepada pengawal Ajisaka untuk melindungi keturunan Ajisaka”.

“Dengan kata lain, kekuatan dari tim 3, didapat karena adanya tim 4. Lalu Tim 2, sebagian kekuatannya didapat dari penggabungan mistis tim 3 dan daun lontar tim 1″. Sambung Irwandha menanggapi penjelasan Gajah Mada.

“Benar sekali”. Jawab Gajah Mada sambil tersenyum.

“Oh ya Flame, ngomong-ngomong, bagaimana Nusa Antara sekarang”? Tiba-tiba Gajah Mada bertanya pada Flame.

“Heh, kenapa kau tanya hal itu”?

“Ummmm…..Pada masa tua ku, aku pernah bersumpah untuk menyatukan Nusa Antara, dan Berhasil. Aku ingin tahu bagaimana keturunanku merawat wilayah kekuasaan Majapahit”.

“HAHAHAHAHAHAHHAHAHA”

“Kenapa kau tertawa? ngejek ya”?

“Mending dulu kau makan sekalian itu buah palapa sampai kau kenyang”.

“Maksudmu”????

“Nusa Antara sekarang udah hancur, pecah-pecah ga karuan. Timur leste keluar, Kalimantan bagian atas, jadi negara lain. Irian, tinggal setengah. Apalagi yang kurang? Pemimpin-pemimpin negara ini bego semua sih, cuman mikirin perut sama duit. Tanya tuh si Arta.” Flame meninggalkan Gajah mada yang cemberut tidak percaya atas apa yang terjadi saat ini.

“Ngomong-ngomong, Nanda, kamu orang Sunda kan, pulau Jawa bagian Barat? disana kalau ada orang mudik ke arah Timur, apa masih suka dibilang MUDIK KE JAWA”? Tanya Flame ke Nanda.

“Iya lah… Kan mereka memang mudik ke Jawa”.

Flame tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Nanda. Dan dia menoleh ke Gajah Mada. “Hey, Ini ada request,…Pisahin saja Jawa bagian barat menjadi pulau tersendiri, biar jadi pulau Sunda sekalian. Kan mereka ga mau ngakui kalau mereka berdiri diatas tanah pulau jawa”.

“HAH!!!!!????????” teriak Arta dan Gajah Mada bersamaan.

Episode Cewek…(Angka sial,Racun Dunia, apalagi?)

Quote:Sore itu Ica berjalan-jalan di taman sebelah rumah Ratna. Dia menikmati keindahan bunga-bunga yang mekar dan menawan seiring dengan semakin mengecilnya sinar matahari, yang akhirnya tenggelam di ujung barat. Hari itu jadwal psikoterapi untuknya yang akan dilakukan pada pukul 7 malam memberinya banyak waktu untuk menenangkan diri. Ica duduk dibangku taman sambil melamun. Mengenang masa lalunya sebagai seorang penari keraton disalah satu sanggar tari di Jogjakarta. Dia sedikit merindukan hari-hari dimana dia harus bangun pagi untuk olahraga, melenturkan badan, sarapan dan berangkat ke sanggar untuk latihan. Hal itu memang menguras tenaga, tapi tidak bisa ditutupi, Ica memang dilahirkan untuk itu. Dirinya sangat menikmati detik demi detik saat tubuhnya melenggok, mengikuti irama musik dan mempertunjukkan salah satu kesenian yang hampir punah. Seperti ada kebanggan tersendiri dalam diri Ica atas apa yang dilakukannya. Ica tersenyum mengingat hal itu.

Dari arah pintu dapur, Ratna memanggil Ica. Dia mengatakan bahwa sekarang sudah waktunya makan malam, dan sesi psikoterapi akan dilakukan setelah makan. Ica segera bergegas ke dapur dengan tingkah riangnya lalu duduk dan mengambil beberapa sendok gudhek dan tiga potong paha ayam. Mereka berdua makan dengan tenang, hingga jam menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Ratna dan Ica pergi ke ruang tengah.

“Itu piringnya tidak dibersihkan”? Tanya Ica sambil berjalan dibelakang Ratna.

“Tidak usah, ada orang rumah yang bertugas membersihkannya”. Jawab Ratna tenang.

“Enaknya….. Wah, jadi Putri Keraton menyenangkan banget”.

“Heheheh, tidak juga kok. Aku malah merasa terkekang dengan semua status ini”.

“Kok bisa”?

“Tentu saja bisa, aku tidak bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Bak putri Raja, banyak peraturan yang mengikatku”.

“Kalau aku jadi Putri Keraton. Apa aku bisa lebih pendiam daripada ini ya”?

“Kamu bercanda? heheehehe Kamu tidak cocok jadi cewek pendiam Ca”.

“Heeee….”

Mereka berdua akhirnya sampai diruang tengah. Disana sudah ada meja bulat yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran khas Jawa disisinya. Di sebelah kiri dan kanan meja, terdapat kursi kayu berwarna putih. Ica dan Ratna duduk di masing-masing kursi itu. Setelah dilihat, kira-kira Ica sudah siap untuk terapi, Ratna mulai mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ratna, beberapa ada yang bisa langsung dijawab oleh Ica, beberapa membutuhkan waktu yang agak lama. Dari sudut pandang Ratna, dia menarik kesimpulan kalau Ica mengalami phobia tempat luas, karena selama ini dia terlalu sering berada dalam ruangan yang kecil. Dari rumah, naik kendaraan umum, dalam hal ini angkutan kota, ke sanggar, pulang ke rumah. Hal ini dialami oleh Ica sejak kecil, sehingga lambat laun, interkasinya saat berada ditempat yang luas, baik secara motorik maupun psikis, menurun dan akhirnya terganggu.

Ratna kemudian menyarankan Ica untuk terapi lapangan. Mereka berdua akan mencoba untuk jalan-jalan ke tempat yang luas, tapi hanya 2 orang. Hal ini untuk melatih Ica agar sedikit demi sedikit dirinya bisa menyesuaikan dan mengurangi ketakutannya. Mereka berdua akhirnya berjanji untuk pergi ke sanggar tari Ica besok pagi, tapi tanpa menggunakan kendaraan umum, maupun pribadi, melainkan dengan berjalan kaki.

“Oke, jadi besok kamu tidak boleh bangun kesiangan”. Kata Ratna sambil menutup catatannya yang berisi data-data dari terapi barusan.

“Siip…Aku paling jago kalau harus bangun pagi”. Jawab Ica sambil meringis.

“Hush.. memangnya kamu ayam jago”.

“Bukan..bukan, bukan ayam jago. Aku kan memang terbiasa bangun subuh”.

“Oke”.

#####

Esoknya, Ica dan Ratna mengunjungi sanggar yang dulu merupakan tempat Ica belajar Tari. Sanggar yang mengkhususkan diri dalam tari Gambyong ini terletak di wilayah Malioboro, dekat dengan Stasiun Tugu. Kira-kira butuh waktu setengah jam untuk berjalan kaki dari rumah Ratna.

Disini, Ica dan Ratna disambut oleh teman-teman dan guru tari Ica. Mereka bercakap-cakap mengenai masa lalu Ica, bagaimana dia bisa tertarik dengan dunia tari, usahanya untuk belajar, hingga akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk menari di acara-acara keraton.

“Bukankah Ica memiliki Phobia terhadap tempat luas, apakah hal ini tidak mengganggu dirinya dalam menari”? Tanya Ratna kepada salah satu guru tari di sanggar itu.

“Kami paham dengan apa yang dialami oleh Ica, bagaimanapun juga dia salah satu murid terbaik yang kami punya”. Wanita setengah baya itu tersenyum sebentar. “Untuk itu, kami hanya meminta Ica menari saat ada acara keraton, karena acara di dalam keraton hanya di lakukan di ruangan yang tidak begitu luas, tidak seperti di lapangan atau di stadion”.

“Aku sendiri juga, kalau ada tawaran acara menari di tempat yang luas, juga akan menolak”. Jawab ica dengan senyum khasnya.

“Oh iya, kebetulan saat ini ada acara tari untuk menyambut ulang tahun sanggar, kalian bisa melihatnya di samping sanggar. Itu….sepertinya acara sudah dimulai”. Kata Guru tari itu.

Ratna dan Ica pergi ke samping sanggar, kearah kerumunan. Disana mereka melihat tiga gadis menari dengan elok dan gemulai. Gerakan-gerakan mereka indah dan lentur, seakan menyatu dengan alunan irama yang berasal dari pemain gamelan. Ica sangat menikmati pertunjukan itu.

Tiba-tiba Ratna merasakan sesuatu yang ganjil. Hawa dingin menerpanya bersamaan dengan tiap gerakan gemulai para penari. Ratna merasakan ada kekuatan yang seolah menariknya untuk terus memusatkan perhatiannya pada tarian ketiga gadis itu. Berfikir sejenak, Ratna menoleh kekiri dan kekanan untuk melihat reaksi orang-orang yang menyaksikan pertunjukan tari.

“Sepertinya benar, ada yang tidak beres disini”. Kata Ratna dalam hati. Dia memusatkan konsentrasi agar tidak terpengaruh dengan aura dari penari. Sehingga dirinya terlepas dari hawa dingin yang seakan menghipnotis setiap orang yang ada disitu. Ratna melihat Ica, ternyata Ica pun tak luput dari hipnotis, sehingga Ratna menepuk pundak Ica untuk menyadarkannya dan mengajaknya untuk pulang. Awalnya Ica ogah-ogahan, tapi setelah dipaksa, akhirnya mau tidak mau Ica menurut. Dijalan, mereka berdua mengobrol masalah pertunjukan tari barusan.

“Ica, kamu merasa ada yang aneh tidak di pertunjukan tadi”? Tanya Ratna.

“Tidak tuh, aku ga ngarasa apa-apa”. Ica agak melongo mendengar pertanyaan Ratna.

“Yakin”?

“Banget. Tadi pertunjukannya keren kok”.

“Haduh,….anak ini benar-benar gampang dihipnotis”. Kata Ratna dalam hati. “Aku mau tanya sesuatu, jawab jujur ya”.

“Tanya apa sih? kok agak mekso gitu, jangan-jangan…..”

“Hey, hilangkan pikiran anehmu. Aku cuma mau tanya-tanya seputar sanggar”.

“Hehehehehe kau tertarik buat nari ya”?

“Enggak. Itu bukan duniaku. Aku punya hobi sendiri”.

“Iya deh..iya aku kalah. Tanya apa”?

“Kamu dulu waktu pertama ikut latihan tari, ada ritual-ritual khusus tidak yang kamu lakukan”?

“Enggak. Aku ga nglakuin apa-apa. Cuman daftar, trus latihan. Ga lebih.”

“Hmmm…. aneh”.

“Aneh gimana”? “Tidak apa-apa. Terus, kalau mau pertunjukan”?

“Nah, kalau itu ada. Biasanya penari yang akan manggung, musti puasa dulu tiga hari, terus lakuin amalan-amalan apaaa gitu…”

“Kamu dulu juga begitu”?

“Hu um. Katanya udah dari dulu sanggar tempatku kayak gitu”.

“Kamu tidak takut? Bahaya lo, kalau melakukan amalan dan kita tidak kuat”.

“Iya sih, Tapi aku kuat kok. Buktinya aku ga apa-apa, hohohoho”.

Ketika sampai dirumah Ratna, Ica istirahat sebentar lalu melanjutkan terapi. Saat Ica istirahat, Ratna berkonsultasi pada Yanuar tentang apa yang tadi dia rasakan di sanggar. Setelah menyelidiki ciri-ciri yang diutarakan Ratna, Yanuar mengatakan kalau itu adalah efek dari salah satu aliran ilmu pengasihan, atau yang dalam bahasa agak kasar, disebut pelet. Dalam hal ini, amalan dan ritual yang dilakukan oleh penari itu, ditujukan agar penonton makin terpikat dan mau melihat pertunjukan hingga akhir tanpa beranjak dari tempat duduk. Hal itu juga secara tidak langsung akan membantu sanggar untuk makin terkenal.

“Kalau seperti itu, bukannya malah ilmu sesat, Paman”? Tanya Ratna ke Yanuar.

“Tidak bisa dibilang seperti itu juga Nona. Kebanyakan ritual dan amalan yang dilakukan orang, sekarang ini asalnya dari turun temurun. Mereka banyak yang lupa tujuan sebenarnya dari ritual itu. Yang mereka tahu, ritual dan amalan itu hanya suatu kewajiban yang dilakukan turun temurun sebelum mengadakan pertunjukan”. Jawab Yanuar.

“Kebiasaan deh, orang sekarang sukanya ikut-ikutan kayak bebek. Alasannya mau melestarikan kebudayaan, ternyata cuman tau setengah-setengah”.

“Jangan marah begitu, tiap orang punya pola pikir berbeda”.

“Iya, ada yang dangkal kayak kodok. Ada yang ngentol kayak gorila”.

“Ada juga yang gontok kayak macan”. Tiba-tiba Ica datang sambil tersenyum.

“Jadi paman, bagaimana cara menghentikan efek dari ritual itu. Paling tidak, dengan menghilangkan efeknya, mereka bisa tetap melestarikan apa yang turun temurun diajarkan, tanpa membahayakan orang lain, dan diri mereka sendiri”. Tanya Ratna lagi.

“Mau tidak mau, harus dihilangkan dari akarnya”.

“Lalu…..”

“Akar dari ilmu pelet, ada di satu wilayah di Cirebon. Tepatnya di Gunung Ciremai. Ada perempuan di gunung itu yang dijuluki Ratu dari segala ilmu Pelet dan pengasihan”.

“Begitu rupanya, kita kalahkan ratu itu, hilang sudah semua khasiat pelet melet nya”. Jawab Ratna. “Oke, Ica,…Kita ke Ciremai besok lusa”.

“Kok Ga besok aja”? Protes Ica.

“Besok aku ada kuliah, jadi tidak bisa bepergian jauh. ehehehehe”.

#####

Esok lusanya, Ratna dan Ica berangkat subuh ke Cirebon. Mereka mengendarai mobil Toyota Picanto warna putih milik Ratna. Sedangkan Yanuar, pergi ke tempat Irwandha untuk menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Tim 3. Berhubung Irwandha sudah pulang, jadi mereka bisa membahas apa yang sudah dicapai saat proses pembangkitan.

Perjalanan dua cewek ini ga seru, kita skip saja ke tim 3. Ntar kalau mereka udah nyampe Ciremai, baru settingnya dibalikin lagi. Yosh, Loncat ke Tim 3 (Ini bahasa penceritaan kok jadi ngasal gini, sapa sih penulis scriptnya? Grrrr)

Ditempat itu sudah ada Jaka, Pandu, dan Irwandha. Kemudian disusul oleh Yanuar, sedangkan 15 menit kemudian, Tanya menampakkan diri.

“Telat mbak, saiki lo wes jam songo esuk”. Kata Jaka sambil setengah tertawa.

“Telat sebentar saja kok protes”. Jawab Tanya.

“Kebiasaan wes, Lek diomongi kon nglumpuk jam 8.15, mangkat teka omah yo jam 8.15″. Kata Irwandha sambil mengasah keris.

“Wes lah, jo gegeran, iki sido mbahas masalah regu 3 ga”? Tanya Yanuar.

“Lah, memang e awakmu wes mari ta nggawe kata-kata di enggo awake dhewe lek nggawe klambi sakti Ndha”? Tanya Jaka.

“MARI ngombe Obat”. Jawab Yanuar seketika.

“Waduh, la lali aku a. Maklum wong Jawa Timur. Lek ngomong rampung kuwi mari”.

“Wes rampung. Lek regu 1 ngomong Go Aksara, ra menakne kuping, sok ke inggris-inggrisan”. Irwandha menjelaskan tanpa menoleh dari keris yang di asah nya. “Terus regu 2, seng diarani regu brandalan, ngomong Action….”

“Opo meneh kuwi”? Tanya Pandu.

“Awakmu gung tau ndelok regu 2 ganti klambi ta”? Kata Jaka sambil melongo menoleh ke Pandu.

“Heh, tutuk mu lo, umur wes ndas 4, ngomong gonta-ganti klambi sak karep e dhewe”. Tanya marah-marah.

“Sori sori, Ndha,…lanjut”.

“Regu 4 malah ra kalah nginggris i… ngomong e, AWAKENING”.

“Tangi turu”?

“Yo wes ngono kuwi lah. Makane kuwi, aku usul, piye lek awake dhewe ngomong e sing njawani,eling umur lah, regu iki isine wong tuwo-tuwo”. Irwandha memandang Tanya (yang umurnya masih 29 tahun). “Kecuali Tanya, koreksi omonganku mau. Piye lek regu iki ngomong MALIH RUPA”.

“Rupa mu”. Kata Jaka seketika.

“Di guyu lak an mengko karo regu liyane”. Kata Pandu.

“Beh, nggak cucok. golek sing liyane ae lah”. Kata Tanya.

“Hmmmm… ngomong Shakti ae piye”? Kata Yanuar.

“Oke oke….kuwi ae”. Kata Jaka sambil tersenyum.

“Setuju”. Kata Tanya.

“Lek kaya ngono nyapo ngongkon aku golek kata-kata ne”. Irwandha protes.

“Wes, wes, rasah gegeran. Ndha, piye acaramu karo cah-cah dhek ingi”? Tanya Yanuar.

“Aku wes niliki nggone Flame, wes ana Ratu Jonggrang, Restu Sintha, Karo Patih Gajah Mada. Kurang siji meneh, gek komplit 20 uwong”.

“Heh, Awakmu iki, niliki panggonan. Ra pait ta ilat mu”? Tanya Jaka. “Maksudmu opo”?

“Niliki lak berarti awakmu ndilati tembok omah”.

“Kuwi Ngicipi…. HADUH”. Pandu menyela perkataan Jaka sambil menepuk jidat Jaka.

“La nak nggon ku niliki kuwi karo ngicipi artine podho”.

“Lak nak Jogja, Jawa Tengah wes. Niliki kuwi njenguk. Ngicipi kuwi Njajal”. Jelas Pandu.

“Ya wes, kurang siji meneh kan, berarti mari ngene awake dhewe kudhu melok mbantu langsung nglawan Dewata Cengkar”. Kata Tanya.

“Mesti lah, la wong awake dhewe ki abdi dalem, yo kudhu ngewangi keraton lan keturunan e”.Jawab Irwandha.

“Rasah nyawang aku. Aku dudu abdi dalem maneh. Nak Jawa Timur wes ga enek istilah kaya ngono kuwi. Saiki wong sing ngabdi nak kerajaan, nak Jawa Timur wes ga enek”. Kata Jaka.

“La terus, awakmu opo”? Tanya Yanuar.

“Aku yo wong biasa, kerjo biasa nunggu toko”.

“Heleh alasan”. kata Tanya.

“Timbang awakmu lo, jeneng TANYA ae njaluk di celuk TANIA”.

“Jenengku wi mbingungi yo, mosok lek enek wong ngomong. “Arep nyapo mbak? Tanya Tanya”.”Wajah tanya merah padam. “Kudhu ne lek Tanya Tania”.

“Wes wes, rasah gegeran”. Kata Yanuar.

#####

Di Gunung Ciremai, Perjalanan Ratna dan Ica tidak selancar yang mereka perkirakan. Kabut tebal yang aneh, dari tadi terus membatasi pandangan mereka. Hampir saja Ica terperosok ke jurang karena kabut ini. Seolah-olah memang mereka berdua dihalang-halangi.

Akhirnya mereka menemukan sebuah gua yang tertutup daun merambat, Ratna merasakan hawa negatif sedingin es merayap keluar dari mulut gua. Dia mengistruksikan Ica untuk memakai baju tempur. Karena tanpa baju tempur yang melindungi tubuh mereka, mereka tidak akan kuat melawan hawa negatif itu. Setelah Memakai baju tempur, Ratna dan Ica masuk ke dalam Gua.

Jalan didalam sangat licin dan berliku. Lebar jalan yang dilalui hanya 1,5 meter. Curam pula. Ratna dan Ica harus memperhatikan langkah mereka sehingga kemajuan perjalanan dua orang ini sangat lambat. Kira-kira di belokan keempat, Ratna dan Ica sampai disebuah ruangan luas. Di dalam ruangan ini ada sebuah patung seorang wanita memakai selendang dan dandanan Khas penari jaman dulu. Rambut wanita ini panjang sepinggang, dibiarkan terurai dihiasi ukiran kembang melati. Patung ini seolah hidup, mengawasi Ratna dan Ica.

Ratna menggunakan Pedangnya untuk menghancurkan patung yang merupakan sumber dari hawa negatif itu. Tapi Patung itu sekeras berlian, pedang Ratna sendiri tidak mampu untuk menghancurkannya. Saat Ratna mundur, patung itu berubah menjadi wanita cantik, hidup dan menatap Ratna dengan pandangan membunuh.

Ratna dan Ica tidak banyak bicara untuk memperkenalkan diri, mereka berdua menghajar lawan menggunakan senjata mereka. Mulanya Ratna menerjang dengan pedang terhunus. Lawannya juga mengeluarkan sebuah ranting kayu yang panjang untuk menangkal serangan. Ica tiba-tiba suda melompat dari arah belakang Ratna mengibaskan kipasnya dan menciptakan hembusan angin kencang. Wanita itu mundur beberapa langkah, tapi tangannya berhasil memegang kaki Ratna dan menariknya, sehingga Ratna terjatuh. Ica mengayun-ayunkan Kipasnya untuk menyerang, dari arah kanan, berlanjut ke bahu kiri. Dan saat wanita itu lengah, Ratna yang ada di tanah, menendang kaki wanita itu.

Merasa akan jatuh, wanita itu menekan berat tubuhnya ke kedua telapak tangan. Melempar ranting kayunya hingga menyambar wajah Ica, membuat Ica terpelanting, dan melambungkan tubuh wanita itu hingga melayang ke langit-langit gua. Ratna memandang lawannya dan bersiap untuk berdiri. Mengayunkan pedang keatas untuk menusuk. Tapi wanita itu menghembuskan hawa negatif dari mulutnya. Hawa negatif itu mematikan tumbuhan, menurunkan suhu ruangan, dan membekukan tulang. Ratna dan Ica tidak bisa bergerak saat hawa negatif itu merasuk ke sendi-sendi tulang mereka.

Keadaan ini dimanfaatkan wanita itu untuk menyerang balik. Ratna dihajar hingga terlempar menabrak tembok, begitu pula dengan Ica. Serangan dari wanita itu membuat tubuh Ica dan Ratna kesakitan, tapi mereka bisa bertahan dikarenakan efek yang ditimbulkan oleh hawa negatif tadi tidak maksimal. Baju tempur mereka melindungi dari kerusakan yang lebih parah. Maka dengan satu hentakan ke tembok, Ratna dan Ica melayang sesaat, kemudian bersama-sama menendang Lawan mereka bertubi-tubi. Lalu mengayunkan dan menebaskan senjata mereka. Terkahir, saat lawan mereka sudah kualahan, Ratna menyalurkan energi di pedanganya dan menebaskannya dari arah bawah ke atas, dan Ica mengibaskan kipasnya dengan pola setengah lingkaran, sehingga menimbulkan angin puyuh yang mengoyak dan menyayat lawan mereka hingga hancur. Puing-puing atau sisa dari lawan mereka, berjatuhan dalam bentuk serpihan batu. Ratna memandang lokasi dan aura disekitarnya sejenak. lalu berjalan mendekati serpihan batu didepannya.

“Selesai, YES,….sekarang ga ada yang namanya melet melet lagi”. Kata Ica riang.

“Sepertinya belum. Kita hanya melawan penjaganya saja. Orang yang kita cari…..sudah tidak ada disini sejak lama”. Jawab Ratna.

“Wah….gawat”.
×