alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/519e4a2b48ba541025000009/haruskah-mereka-mati-karena-jualan-kesehatan-gratis
Haruskah mereka mati karena kesehatan gratis
Beberapa tahun lalu saya bertugas di salah satu daerah dengan geografi sulit di Sulawesi yang menerapkan sistem kesehatan gratis sendiri seperti KJS saat ini. Kapitasi dalam sistem tersebut benar-benar rendah hingga kira-kira hanya cukup untuk mengobati amoeba atau jasad renik lain kalau sakit. Rendahnya kapitasi mengakibatkan animo untuk menjalankan pelayanan kesehatan menjadi sangat rendah. Secara langsung atau tidak langsung kapitasi yang kecil mengakibatkan take home pay pelaksana pelayanan juga mengecil. Hampir rutin setiap saya ke UGD salah satu RS di daerah tersebut selalu saja ada ibu yang baru selesai melahirkan tiba dengan kendaraan umum.

Sepintas lalu tidak ada yang mengherankan dari hal itu tapi setelah dilakukan anamnesis baru ketahuan kalau persalinan terjadi di atas kendaraan yang ditumpanginya. Karena rendahnya jasa pertolongan persalinan mitra yang ditempatkan di pedesaan merasa lebih baik merujuk dari pada menunggui dan membantu persalinan yang bisa berjam-jam prosesnya. Dengan mudahnya mereka menulis "Persalinan dengan penyulit" di atas selembar kertas untuk merujuk pasien. Seringkali mencantumkan penyulit yang benar-benar fantastis untuk menakut-nakuti sang ibu dan keluarganya agar
bersedia dirujuk dan segera berangkat. Bahkan konon kabarnya sering merujuk sebelum melihat pasiennya. Bila pasien yang dirujuk sebenarnya
tanpa penyulit pasien sering harus partus di atas kendaraan sebagaimana saya sebut sebelumnya, atau mampir di suatu tempat untuk partus lalu
lanjut lagi ke RS. Jalanan yang buruk dengan geografi yang sulit membuat pasien yang dirujuk harus lama di jalan. Kalau partus normal no with that walau rasanya tetap kurang pantas. Celakanya banyak juga yang benar-benar
dengan penyulit sehingga tidak jarang juga sang ibu sampai di RS sudah terbujur kaku dengan janin dalam rahim yang tidak terselamatkan juga. Seringkali janin masih bisa diselamatkan tetapi dengan banyak morbiditas tambahan. Karena tarif jasa rendah mitra kita di pedesaan malas melakukan ANC sehingga banyak preventable morbidity yang tidak ditemukan
sampai ibu in partu. Suatu fenomena yang menarik tetapi saya tetap mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun untuk fenomena tersebut. Tidak heran kalau daerah tersebut memegang rekor kematian ibu dan anak tertinggi di wilayah tersebut.

Beberapa kali saya menyampaikan keadaan ini kepada kepala daerah tersebut tetapi selalu dijawab dengan berandai- andai dan menyalahkan semua orang kecuali dirinya. Seharusnya dia sadar bahwa siapapun yang salah sebagai kepala daerah dialah yang paling bertanggung jawab atas kesalahan- kesalahan tersebut, dan paling bertanggung jawab untuk memperbaiki dan mengatasi masalah tersebut.

Saya pernah menjadi nara sumber non resmi dalam penyusunan dan pembahasan Perda tarif RS Propinsi dan RS Kabupaten di DPR Propinsi dan DPRD di daerah tersebut. Di semua pertemuan--presentasi terbuka, konsultasi tertutup hingga obrolan ngalor ngidul sambil menikmati kopi saat rehat--topik yang paling menarik untuk diperbincangkan adalah "Kesehatan gratis." Tentu saja paling menarik karena kesehatan gratis adalah cara pencitraan utama, cara pertama dan utama untuk menarik simpati para calon pemberi suara, dan "Janji" yang harus dibayarkan. Senantiasa takjub saya
mendapati bahwa sebagian besar pemberi janji ini sudah menjanjikan kesehatan gratis tanpa mereka mengerti makna, cara, metoda dan
implementasinya. Bahkan ada satu atau dua orang yang mengira bahwa kesehatan gratis itu betul-betul gratis tanpa cost. Well, dudes, money never grows on trees! Dalam setiap kesempatan untuk menjawab pertanyaan tentang kesehatan gratis saya selalu mendahului penjelasan saya dengan kalimat, "Kalau Bapak- Bapak mendengar tentang kesehatan gratis ada
dua hal yang harus langsung muncul dalam pikiran Bapak-Bapak sekalian, pertama "Tidak ada yang gratis di dunia ini;" dan, kedua, "Biaya kesehatan itu mahal, sangat mahal dan teramat mahal."" Alhamdulillah setelah beberapapertemuan saya bisa menggugah rasa ingin tahu beberapa anggota Dewan, beberapa tampaknya mulai mengerti dengan baik. Kepedulian? Itu yang tidak pernah berhasil saya bangkitkan.


Saya benar-benar takjub dengan Rancangan Perda Tarif kedua RS yang diajukan ke saya untuk dipelajari. Semua tarif sangat rendah. Tidak berdasarkannperhitungan unit cost. Semua tarif jauh dari real cost di pasaran. Keduanya hanya hasil copy paste Perda RS lain yang sudah
sangat kedaluwarsa dan tidak pernah diupdate. Saya dapat banyak contoh Perda dari RS lain di beberapa daerah dari berbagai tahun anggaran, semuanya sama dengan kedua Ranperda yang diserahkan kepada saya. Sama untuk beberapa tahun anggaran sementara real cost di pasaran sudah meningkat beberapa kali lipat. Ketika saya memberi masukan dengan pongahnya tim dari kedua RS berkata, "Di RS lain dan di daerah lain juga begitu tarifnya. Ini kami bawa beberapa Perda tarif RS lain dari beberapa daerah sebagai perbandingan!" Saya menjawab bahwa perbandingan bisa berarti dua, membandingkan dengan hal yang buruk dan membandingkan
dengan yang baik. Perda dari tempat lain itu contoh perbandingan yang salah. Sangat bodoh mereka tidak mengetahui bahwa unit cost bisa berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya. Tidak heran kalau RS selalu defisit. Dan pada saat defisit dan rekanan menagih karena belanja sudah jatuh tempo yang paling mudah untuk "dipinjam" adalah jasa medik. Dokter kan paling
jarang nagih, gampang diintimidasi, dan tidak pernah memberi batas jatuh tempo. Celakanya yang meminjam jasa medik seringkali tidak punya kepedulian untuk mengembalikan pinjamannya. Dengan tarif serendah itu tentu RS dijalankan dengan metoda "Gali lubang tutup lubang." Celakanya para direktur sangat sering menguburkan para dokter (dan staf pelayanan
lainnya) saat mereka menutup lubang yang mereka gali. Lebih celaka lagi karena sebagian besar direktur RS adalah teman sejawat kita sendiri. Kedua Ranperda deadlock karena sanggahanku. Saya berhasil memasukkan usulan
tarif operasi yang rasional pada Ranperda salah satu RS walau tidak bisa memperbaiki yang lain.

Sebagai seorang Ortoped saya benar-benar bertahan dengan berbagai cara untuk memperbaiki tarif operasi sekalipun saya tidak berhasil memperbaiki yang lain. Ranperda RS yang satu lagi tetap deadlock sampai saya mengundurkan diri sebagai nara sumber.

Kalau teman-teman sejawat bertanya kenapa mereka begitu bodoh mengajukan Perda seperti itu saya akan memberi dua jawaban; pertama mereka memang bodoh, dan kedua terlalu banyak kepentingan dalam penyusunan Perda tersebut.

Menurutku pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini adalah sebuah ironi, kesehatan gratis adalah komedi. Nasib dokternya benar-benar tragedi.

*dr. Erry Yunus, SpOT