alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51899d17db9248b004000000/cerpen-cik-lihan
[Cerpen] Cik Lihan
hanya sebuah cerita pendek ringan emoticon-Ngacir

Spoiler for bagian 1:
Spoiler for bagian 2:
jadi inget ahmad dahlan di cerita sang pencerah emoticon-Matabelo tapi menceritakan hal yang berbeda

TS mau berbagi pengalaman menulis nih, emoticon-Angel.
Konsep cerita sama penyampaiannya bagus
Quote:Original Posted By noprirf
jadi inget ahmad dahlan di cerita sang pencerah emoticon-Matabelo tapi menceritakan hal yang berbeda

TS mau berbagi pengalaman menulis nih, emoticon-Angel.
Konsep cerita sama penyampaiannya bagus


belum baca sang pencerah emoticon-Hammer/
makasih pujiannya emoticon-Malu (S):

iya, itu cuma ide sederhana dari yang saya rasakan selama di sini emoticon-Malu (S)
makasih udah baca dan komen agan noprirf emoticon-Cendol (S)

Entah kenapa momen bisa pas seperti ini, karena cerpen sangat berasa cerpen-cerpen klasik Rusia yang saya baca
penggambaran Cik Lihan nya, walaupun singkat, bisa cukup menarik. Kalau saja lebih panjang saya yakin karakter Cik Lihan itu sendiri bisa jadi jauh lebih aneh lagi
penggambaran dirinya juga pas dengan gaya penulisannya
hanya mungkin pembawaan ide cerpen ini sendiri yang buat saya jadi bagian lemahnya, karena bagi saya kurang samar-samar dan tidak menunjukkan karakter aneh dari Cik Lihan itu sendiri
walaupun saya suka dengan perkataan Cik Lihan di terakhir
kalau mau, saya ingin melihat Cik Lihan atau cerita sejenis ini dengan spektrum yang lebih luas lagi kedepannya.
Quote:Original Posted By Shangar
Entah kenapa momen bisa pas seperti ini, karena cerpen sangat berasa cerpen-cerpen klasik Rusia yang saya baca
penggambaran Cik Lihan nya, walaupun singkat, bisa cukup menarik. Kalau saja lebih panjang saya yakin karakter Cik Lihan itu sendiri bisa jadi jauh lebih aneh lagi
penggambaran dirinya juga pas dengan gaya penulisannya
hanya mungkin pembawaan ide cerpen ini sendiri yang buat saya jadi bagian lemahnya, karena bagi saya kurang samar-samar dan tidak menunjukkan karakter aneh dari Cik Lihan itu sendiri
walaupun saya suka dengan perkataan Cik Lihan di terakhir
kalau mau, saya ingin melihat Cik Lihan atau cerita sejenis ini dengan spektrum yang lebih luas lagi kedepannya.


Cerpen rusia? gak pernah kepikiran sama saya emoticon-Hammer
saya cuma nulis apa yang ada di hati aja sih, tiba2 pengen banget menyampaikan apa yang saya rasakan.
kurang jelas ya karakter cik lihannya? maap, mungkin karena saya terlalu fokus ke pesan yang ingin saya sampaikan.
nanti ke depannya saya juga rencananya mau lebih mengeksplor tulisan2 macam ini.
thanks komentar dan masukannya ngar emoticon-Big Grin
mak jleb banget ini ini pesan intrisiknya...emoticon-Jempol
Quote:Original Posted By raivac
Cerpen rusia? gak pernah kepikiran sama saya emoticon-Hammer
saya cuma nulis apa yang ada di hati aja sih, tiba2 pengen banget menyampaikan apa yang saya rasakan.
kurang jelas ya karakter cik lihannya? maap, mungkin karena saya terlalu fokus ke pesan yang ingin saya sampaikan.
nanti ke depannya saya juga rencananya mau lebih mengeksplor tulisan2 macam ini.
thanks komentar dan masukannya ngar emoticon-Big Grin


bukan kurang jelas sih, cuma karakter Cik Lihan-nya itu sendiri keseret sama pesan atau ide yang ada
sebenarnya sangat bisa ceritanya jadi lebih menarik dengan keanehan karakter Cik Lihan dan ide nya juga dapet, yaitu lewat interaksi antar dua karakter yang sama anehnya
damn this is interesting. emoticon-Belo

karakter si Cik Lihan disini bisa ditampilkan dengan menarik. gaya bahasanya juga lancar dan enak dicerna. emoticon-Add Friend (S)
@nowbitol: makasih udah baca dan komen. saya senang kalau cerpennya bisa memberi pesan emoticon-Big Grin

@shangar: iya sih, memang harusnya bisa lebih digali karakteristik cik lihan. nanti akan saya tingkatkan di cerpen berikutnya emoticon-Big Grin

@poland: makasih udah baca dan komen agan poland. saya juga masih belajar nulis genre macam ini emoticon-Malu
ga tau ini sebuah cerpen

atau

sebuah writing tips



emoticon-Ngacir
Quote:Original Posted By giande
ga tau ini sebuah cerpen

atau

sebuah writing tips



emoticon-Ngacir


Bagian awalnya sih memang cerpen, namun paruh keduanya itu memang menjadi sintetik ceritanya karena ide yang dia bawa
kalau aja misalnya dibawa lebih alami, menjadi organik dengan menjadi bagian langsung asli bagi dalam permasalahan karakternya bakal lebih bagus
leehan? emoticon-Thinking

anyway, tulisannya ngalir emoticon-Belo si cik leehan bener-bener keliatan nyentrik. apalagi endingnya emoticon-Ngakak (S)
yang agak ganjel sih waktu gw liat ada kata catchy. enaknya sih diganti sama kata yg lebih merakyat emoticon-Malu



[Cerpen] Cik Lihan
nah ini tipikal cerita yang kata orang bilang memaksa pembacanya menelan apa yang author inginkan secara ekplisit.

Quote:“Menulis cerita dengan membuat lagu itu tidak ada bedanya. Semuanya sama-sama membutuhkan bahan dasar. Bahan dasar dari cerita adalah ide, sementara untuk lagu adalah kunci atau chord. Mungkin kau berpikir semakin bombastis ide-ide yang kau kumpulkan, semakin hebat juga cerita yang kau buat. Itu bisa saja benar, namun bisa juga sangat salah. Jika tidak bisa meraciknya, kemungkinan besar yang akan kau buat hanyalah lagu sumbang seperti yang kumainkan tadi itu.”

wajar klo ada pembaca yang bilang ini suatu writing tips. itu bisa terlihat dari sosok cik lihan sendiri yang sedang berbicara dengan Sanurdi. bentuk wejangan bijak dari orang yang dianggap ahli atau bisa memberikan petunjuk (guru sprititual eyang subur? kidding)

endingnya itu kayak tukang komentator yang bersikap bijak sok tahu tapi gk pernah ciptain apapun. emoticon-Wink
untuk wa terllihat seperti cerpen yang terkesan curhatan seorang penulis yang diramu di kamuflasekan dengan percakapan dua orang yang berbincang. not bad.. untuk wa ini kayak mata pedang yang memiliki dua arti setelah beres membacanya.

Quote:Original Posted By giande
ga tau ini sebuah cerpen

atau

sebuah writing tips

emoticon-Ngacir


wogh... komentator cerpen turun gunung.
apa yang gw mau sampaikan udah ditulis ama sepuh2 di atas semua emoticon-Add Friend (S)

intinya gimana yah, sebenernya ide cerita ini bisa dibilang menarik tentang orang bijak di sebuah desa yang bisa dimintai tolong untuk mendapat wejangan soal apapun guna menyelesaikan masalah mereka yang pelik, cuman apa gw doang yah yang ngerasa ada suatu sense dejavu antara Cik Lihan dengan tokoh Winchester yang ada di noveletnya Dantd emoticon-Bingung (S) mungkin kemiripan ini tidak disengaja jadi ya sudahlah emoticon-Smilie

mungkin ini cuman gw doang aja yah, soalnya yang lain bilang pembawaannya udah enak. tapi di gw rasanya pembawaan ini bener-bener datar tanpa emosi, seperti kata Shangar, kalo delivernya lebih menarik dan natural, bisa jadi ceritanya jadi lebih mudah dicerna dan karakter si Cik Lihan bisa terlihat ngejreng dan bombastis. gw sampe sekarang selesai baca cerpen ini gak nyadar,

ini sebenernya si Cik Lihan itu orang yang kayak gimana sih, rasanya lebih ke karakter yang sekedar lewat buat ngasih wejangan aja, beserta kebiasaan-kebiasaan yang aneh, cuman kepribadiannya secara global gak gitu kegubris. mungkin lantaran ini cerpen aja kali yah

Okelah, ini komentar subjektif aja, sepertinya situ mau coba menjelaskan suasana desa tersebut tanpa benar-benar membayangkan diri sebagai salah seorang yang masuk ke dalamnnya, maka dari itu suasana yang diberikan terasa lewat sambil lalu tanpa adanya sesuatu yang nampol dari gw. maksud gw, mungkin lebih baik situ ambil setting yang bener2 familiar aja kayak yang ada di Seven Serpents situ, gw enjoy ama pembawaan ide di situ cuman kalo pada cerpen ini gw rasa banyak pengurangan sih.

Bagian kedua, gw setuju ama agan Heilel mengenai soal ini. Gw kadang menganggap bahwa pemberian makna dari cerita ini terkesan agak eksplisit, dan rada menggurui. Gak jelek sih, cuman menurut gw kurang bagus juga. Penjelasan analoginya soal musik aja bikin gw serba mindajimak, gw langsung pengen nyeletuk aja:

Bleh...ini orang beneran bisa main musik ato si Sanurdi nya aja yang dongdong yah jadi percaya aja kali si Cik Lihan bener2 maestro. Gw nangkepnya itu kalo soal musik dia lebih ke orang yang banyak tahu mengenai jargon2 tertentu yang membuat orang lain berdecak kagum, cuman soal dia bener2 mendalami apa yang sungguh ia khotbahkan....entahlah. Kalo buat bagian yang ini gw jadi rada tersinggung sih, jujur. sepertinya para musisi serius jadi direndahkan dengan delivery seperti ini, moga2 gw salah, emoticon-Ngacir

lain misalnya situ ngejelasin kepiawaian musiknya si Cik Lihan kayak di video ini, gw bakal langsung respek malah.

youtube-thumbnail


intinya kalo musisi ngejelasin tentang musik pada orang awam, ngapain juga mesti diibaratin dengan jargon musik yang ngejelimet supaya orang terkagum, dan intinya bakal bikin orang gak ngerti juga. mereka langsung bicara tentang FEEL, tentang ENJOYMENT mereka saat bermusik, bukan teori omong kosong. bukan maksud gw buat melakukan generalisasi yah, tapi itu yang gw tangkap dari musisi2 yang gw kagumi emoticon-Ngacir

intinya keep on writing aja, dan mohon maaf apabila komen2 gw tidak berkenaan di hati emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By giande
ga tau ini sebuah cerpen

atau

sebuah writing tips



emoticon-Ngacir


gatau ini komentar

atau

komentar... emoticon-Hammer

Quote:Original Posted By Shangar


Bagian awalnya sih memang cerpen, namun paruh keduanya itu memang menjadi sintetik ceritanya karena ide yang dia bawa
kalau aja misalnya dibawa lebih alami, menjadi organik dengan menjadi bagian langsung asli bagi dalam permasalahan karakternya bakal lebih bagus


bahasa yang terlalu deep buat saya emoticon-Hammer
semoga kedepannya saya bisa lebih alami lagi emoticon-Add Friend (S)

Quote:Original Posted By mca_trane
leehan? emoticon-Thinking

anyway, tulisannya ngalir emoticon-Belo si cik leehan bener-bener keliatan nyentrik. apalagi endingnya emoticon-Ngakak (S)
yang agak ganjel sih waktu gw liat ada kata catchy. enaknya sih diganti sama kata yg lebih merakyat emoticon-Malu



[Cerpen] Cik Lihan


siapa itu leehan? emoticon-Bingung (S)
iya, saya juga pas baca ulang rada aneh sih. tapi pas dipikir pikir nge pas kok sama karakternya cik lihan yang... ehem

Quote:Original Posted By Heilel_Realz012
nah ini tipikal cerita yang kata orang bilang memaksa pembacanya menelan apa yang author inginkan secara ekplisit.



wajar klo ada pembaca yang bilang ini suatu writing tips. itu bisa terlihat dari sosok cik lihan sendiri yang sedang berbicara dengan Sanurdi. bentuk wejangan bijak dari orang yang dianggap ahli atau bisa memberikan petunjuk (guru sprititual eyang subur? kidding)

endingnya itu kayak tukang komentator yang bersikap bijak sok tahu tapi gk pernah ciptain apapun. emoticon-Wink
untuk wa terllihat seperti cerpen yang terkesan curhatan seorang penulis yang diramu di kamuflasekan dengan percakapan dua orang yang berbincang. not bad.. untuk wa ini kayak mata pedang yang memiliki dua arti setelah beres membacanya.



wogh... komentator cerpen turun gunung.


nah ini tipikal komentar yang suka nge judge keinginan author
j/k lol emoticon-Peace

saya gak maksa orang lain buat nelen semua nasehat Cik Lihan yang 'dianggap' sebagai pesan yang ingin saya sampaikan kok emoticon-Malu

itu kalo kesimpulannya udah nyampe ke kalimat yang bold, harusnya ngerti keinginan saya itu apa emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By VermilionHelix
apa yang gw mau sampaikan udah ditulis ama sepuh2 di atas semua emoticon-Add Friend (S)

intinya gimana yah, sebenernya ide cerita ini bisa dibilang menarik tentang orang bijak di sebuah desa yang bisa dimintai tolong untuk mendapat wejangan soal apapun guna menyelesaikan masalah mereka yang pelik, cuman apa gw doang yah yang ngerasa ada suatu sense dejavu antara Cik Lihan dengan tokoh Winchester yang ada di noveletnya Dantd emoticon-Bingung (S) mungkin kemiripan ini tidak disengaja jadi ya sudahlah emoticon-Smilie

mungkin ini cuman gw doang aja yah, soalnya yang lain bilang pembawaannya udah enak. tapi di gw rasanya pembawaan ini bener-bener datar tanpa emosi, seperti kata Shangar, kalo delivernya lebih menarik dan natural, bisa jadi ceritanya jadi lebih mudah dicerna dan karakter si Cik Lihan bisa terlihat ngejreng dan bombastis. gw sampe sekarang selesai baca cerpen ini gak nyadar,

ini sebenernya si Cik Lihan itu orang yang kayak gimana sih, rasanya lebih ke karakter yang sekedar lewat buat ngasih wejangan aja, beserta kebiasaan-kebiasaan yang aneh, cuman kepribadiannya secara global gak gitu kegubris. mungkin lantaran ini cerpen aja kali yah

Okelah, ini komentar subjektif aja, sepertinya situ mau coba menjelaskan suasana desa tersebut tanpa benar-benar membayangkan diri sebagai salah seorang yang masuk ke dalamnnya, maka dari itu suasana yang diberikan terasa lewat sambil lalu tanpa adanya sesuatu yang nampol dari gw. maksud gw, mungkin lebih baik situ ambil setting yang bener2 familiar aja kayak yang ada di Seven Serpents situ, gw enjoy ama pembawaan ide di situ cuman kalo pada cerpen ini gw rasa banyak pengurangan sih.

Bagian kedua, gw setuju ama agan Heilel mengenai soal ini. Gw kadang menganggap bahwa pemberian makna dari cerita ini terkesan agak eksplisit, dan rada menggurui. Gak jelek sih, cuman menurut gw kurang bagus juga. Penjelasan analoginya soal musik aja bikin gw serba mindajimak, gw langsung pengen nyeletuk aja:

Bleh...ini orang beneran bisa main musik ato si Sanurdi nya aja yang dongdong yah jadi percaya aja kali si Cik Lihan bener2 maestro. Gw nangkepnya itu kalo soal musik dia lebih ke orang yang banyak tahu mengenai jargon2 tertentu yang membuat orang lain berdecak kagum, cuman soal dia bener2 mendalami apa yang sungguh ia khotbahkan....entahlah. Kalo buat bagian yang ini gw jadi rada tersinggung sih, jujur. sepertinya para musisi serius jadi direndahkan dengan delivery seperti ini, moga2 gw salah, emoticon-Ngacir

lain misalnya situ ngejelasin kepiawaian musiknya si Cik Lihan kayak di video ini, gw bakal langsung respek malah.

youtube-thumbnail


intinya kalo musisi ngejelasin tentang musik pada orang awam, ngapain juga mesti diibaratin dengan jargon musik yang ngejelimet supaya orang terkagum, dan intinya bakal bikin orang gak ngerti juga. mereka langsung bicara tentang FEEL, tentang ENJOYMENT mereka saat bermusik, bukan teori omong kosong. bukan maksud gw buat melakukan generalisasi yah, tapi itu yang gw tangkap dari musisi2 yang gw kagumi emoticon-Ngacir

intinya keep on writing aja, dan mohon maaf apabila komen2 gw tidak berkenaan di hati emoticon-Malu (S)


ini typo apa gimana, seinget gua Winchester itu si lajang tua yang suka ngerengek deh. yang suka sok2 ngasih nasehat itu Julius emoticon-Stick Out Tongue

yang saya bold, coba disambung sama komentarnya agan helel yang saya bold juga, trus disambung sama endingnya emoticon-Big Grin

agan vermil keliatan banget pecinta musik nih, ampe serius banget ditroll sama Cik Lihan emoticon-Ngakak
saya sering nonton video tutorial gitu tapi gak jago jago emoticon-Sorry


afterall, terimakasih banyak buat semua yang komennya udah saya quote, apalagi vermil yang komennya hampir nyaingin panjang cerpen saya emoticon-Peace
semua masukan dan kritiknya saya terima, semoga saya bisa lebih baik lagi emoticon-Add Friend (S)
Chordnya boleh juga nih. Melodi bagian 1 nya asik, tapi bagian 2 melodinya rada datar gan emoticon-Stick Out Tongue

Spoiler for hmmm:
Ini cerita yang sederhana dan nyaman untuk dibaca. Nilai yang dibawakan dibalik cerita ini juga jelas dan menurut pendapat saya sendiri amat baik.

Kalo ada kata-kata Cik Lihan yang ga gw suka, itu cuma satu. Mengenai ada orang lahir berbakat ama orang latihan. Gw sih percaya sama "tabula rasa", manusia dilahirkan kosong dan semua 'bakat' itu mesti dia dapetin sendiri.

Tapi ini sebenernya cuma satu detail kecil yang ga begitu penting dibanding nilai utama cerita ini. Rather than observing this tiny spec of cookie crumbles, let's move on to the big picture. Secara pribadi gw menyimpulkan nilai cerita ini sebagai kepedulian terhadap audiens. Seorang performer bisa membawakan hal-hal bombastis yang tidak terduga, tapi apakah audiens dapat memaknainya? Atau itu hanya akan membawakan keterkejutan tanpa makna bagi audiens?
Quote:Original Posted By ekka4shiki
Chordnya boleh juga nih. Melodi bagian 1 nya asik, tapi bagian 2 melodinya rada datar gan emoticon-Stick Out Tongue

Spoiler for hmmm:


Chord saya cuma E sama Am7 kok gan, makanya gak terlalu wow karena saya masih kurang latian menurut Cik Lihan emoticon-Ngakak (S)

yep, that's the point. cuma sekedar intermezzo, tapi bukan berarti pointless (setidaknya itu harapan saya)
saya emang cute kok emoticon-Malu

Quote:Original Posted By MaxMarcel
Ini cerita yang sederhana dan nyaman untuk dibaca. Nilai yang dibawakan dibalik cerita ini juga jelas dan menurut pendapat saya sendiri amat baik.

Kalo ada kata-kata Cik Lihan yang ga gw suka, itu cuma satu. Mengenai ada orang lahir berbakat ama orang latihan. Gw sih percaya sama "tabula rasa", manusia dilahirkan kosong dan semua 'bakat' itu mesti dia dapetin sendiri.

Tapi ini sebenernya cuma satu detail kecil yang ga begitu penting dibanding nilai utama cerita ini. Rather than observing this tiny spec of cookie crumbles, let's move on to the big picture. Secara pribadi gw menyimpulkan nilai cerita ini sebagai kepedulian terhadap audiens. Seorang performer bisa membawakan hal-hal bombastis yang tidak terduga, tapi apakah audiens dapat memaknainya? Atau itu hanya akan membawakan keterkejutan tanpa makna bagi audiens?


*guglingtabularasaituapa
ooh, gitu toh. hmm, kalau saya sih sependapat sama Cik Lihan, karena ada ayatnya di kitab suci emoticon-Hammer
tapi debat filosofi emang gak ada gunanya juga emoticon-linux2
wow kesimpulannya emoticon-Belo
saya malah gak kepikiran ke situ. tapi masuk akal juga dan saya setuju, kadang yang menurut kita 'masterpiece' dan 'tiada duanya' menurut audiens malah sampah karena gak bisa nangkepnya.
entah audiens yang sense nya kurang atau memang apa yang dibawakan performer memang sampah, hanya saja dia tidak menyadarinya dan tetap ngotot kalo itu 'masterpiece' emoticon-Hammer

btw thanks udah baca dan komen semuanya emoticon-Add Friend (S)



Quote:Original Posted By raivac

*guglingtabularasaituapa
ooh, gitu toh. hmm, kalau saya sih sependapat sama Cik Lihan, karena ada ayatnya di kitab suci emoticon-Hammer
tapi debat filosofi emang gak ada gunanya juga emoticon-linux2
wow kesimpulannya emoticon-Belo
saya malah gak kepikiran ke situ. tapi masuk akal juga dan saya setuju, kadang yang menurut kita 'masterpiece' dan 'tiada duanya' menurut audiens malah sampah karena gak bisa nangkepnya.
entah audiens yang sense nya kurang atau memang apa yang dibawakan performer memang sampah, hanya saja dia tidak menyadarinya dan tetap ngotot kalo itu 'masterpiece' emoticon-Hammer

btw thanks udah baca dan komen semuanya emoticon-Add Friend (S)


Konsep tabula rasa yang pake bukan cuma filsuf, ilmuwan juga banyak pake. Ya tentu saja ga semua kemampuan manusia datang dari pengalaman, beberapa didapet dari lahir. Macam insting2 dasar, kemampuan persepsi, kondisi fisik. Tapi kalo soal bakat, ya kalau dikaitkan dengan kemampuan dasar (paling gampangnya IQ deh) cukup masuk akal. Walau gw tetap berpegangan pada human free will untuk membentuk kemampuan mereka sendiri.

Ya mari dilewatkan saja konsep yang saat ini tidak terlalu penting.

Kalo persepsi mengenai suatu cerita, tiap orang pasti beda pandangannya. Satu buku, isinya pasti beda untuk setiap orang.

Setidaknya itu nilai yang saya tangkap dari cerita pendek ini. Nilai paling dasar adalah kepedulian. Orang harus peduli terhadap yang lain. Dalam kepenulisan ataupun pembuat lagu, seseorang tidak dapat menetapkan diri sebagai pencipta semata dan menjauhkan diri dari yang lain. Ia juga harus menetapkan dirinya sebagai penikmat.