alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/517695ae7c1243f005000008/curhat-guru-tentang-wacana-un
CURHAT GURU TENTANG WACANA UN
Saya adalah seorang guru SMA yang ada di daerah Kalimantan. Beberapa tahun yang lalu saya pernah praktek mengajar di daerah Purworejo, bahkan ketika ambil data skripsi saya saya mengajar di kota Jogjakata. Dari ketiga daerah tersebut, berdasarkan pengalaman saya, para pelajar Indonesia memiliki perilaku yang sebagian besar sama.
Sebagai seorang guru, saya sangat miris melihat ada sekelompok orang yang sangat antusias untuk menghapus UN, dengan alasan yang sangat menyedihkan. Ok, sebagai seorang guru saya mengakui bahwa system pendidikan kita memang belum sempurna, tapi ketidaksempurnaan itu bukanlah suatu alasan bagi kita untuk tidak menjadi manusia yang maju.
Sebagai seorang guru, sayapun takkan bisa menjawab, system pendidikan seperti apakan yang TERBAIK bagi Indonesia. Bahkan mungkin takkan pernah ada.
Kita kembali lagi ke masalah Ujian Nasional. Bagi para pelajar yang membaca tulisan ini, bagi kalian yang mempertanyakan tentang UN, coba kalian tanyakan dalam diri kalian ttg beberapa hal ini :
1. Sudahkah kalian merasa melakukan sesuatu hari ini yang kiranya berguna terhadap mata pelajaran kalian?
2. Sudahkah kalian merasa melakukan sesuatu hari ini yang kiranya akan berguna terhadap pendidikan dan masa depan kalian sendiri ?
3. Lebih banyak mana waktu yang kalian luangkan antara membuka buku pelajaran ketika di rumah atau nongkrong?
4. Apakah anda langsung mengerjakan peer atau mengerjakan di kelas sebelum ngumpul ke guru?
5. Lebih keren mana, jadi murid yang berprestasi atau jadi tukang mabok ?
Hanya kalian sendiri yang bisa menjawabnya…dari 40 orang murid di dalam kelas, tidak lebih dari 10 orang yang benar-benar mempersiapkan dirinya untuk masa depan yang lebih baik. Lihat saja polah para pelajar di Indonesia, apa yang mereka lakukan tidak lebih dari nongkrong, bolos, mabok-mabokan, tawuran, balap liar, free sex, pamer BB. Bahkan status di FB lebih banyak yang galau karena masalah cinta daripad galau karena ulangan dapat 5.
Maka tak heran ketika UN tiba, hanya 10 orang tadi yang benar-benar siap, sementra yang lainnya pada panic lalu ujung-ujungnya minta UN di hapus. Hasil belajar 3 tahun ditentukan dalam 4 hari? 3 tahun ini kamu kemana ja? Bolos? Nongkrong di kantin walau gurunya ada di kelas atau ngerokok di tempat rahasia?
Sebagai seorang guru, kami sadar kalian punya kecerdasan tersendiri, tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa disiplin. Saya masih sering menjumpai murid saya yang terlambat masuk kelas, atau tidak mengerjakan peer dengan alasan lupa, atau baru mengerjakan ketika saatnya mengumpul, padahal waktu yang diberikan sudah 1 minggu. Einstein sendiri aja bilang, kecerdasan itu 1%, usaha 99%. Tidak perlu ngoyo, yang penting teratur. Luangkanlah waktu barang 1 jam untuk palajaran kalian, entah belajar atau mengerjakan peer. Jika kalian teratur, maka prestasi akan kalian raih. Manusia bisa karena terbiasa.
Sebagai seorang guru, tugas kami tidak hanya mengajar, tapi juga mendisiplinkan, karena itu akan menjadi karakter kalian. Jika kalian memiliki KARAKTER YANG BAIK, maka MASA DEPAN YANG BAIK pun akan kalian raih. Lihatlah Jepang dan Jerman, mereka bisa seperti ini karena memiliki sifat yang sangat disiplin. Tapi sekarang, jika ada seorang guru yang berusaha mendisiplinkan siswa yang bandel, yang ada adalah KPAI, sehingga sifat malas dan seenaknya sendiri semakin menjadi-jadi.
Kembali lagi ke UN. Well..sekarang banyak desas desus kalo guru membantu siswa ketika UN, agar gurunya tidak malu atau demi prestise sekolah. Tidak ada keuntungan sedikitpun yang kami daptkan jika kami membantu siswa menghadapi UN, toh gaji kami akan jalan terus. Malah kami akan sangat sedih, itu artinya siswa-siswa yang pemalas, yang suka bolos, yang tukang contek peer teman, yang bahkan ketika UN masih nongkrong, akan ikut lulus. Justru sebaliknya, sebagai seorang guru, saya sangat berharap agar para pelajar yang gak benar dalam pelajaran, menerima akibatnya, dengan tidak lulus.
Jika akhirnya ada guru atau sekolah yang membantu, itu semua karena bukan prestise, tapi demi ORANG TUA kalian. Apa jadinya orang tua kalian jika melihat anaknya gagal, mereka pasti akan sangat terpukul. Yang mereka tahu anak mereka berangkat sekolah, pergi belajar kelompok, minta duit buat les atau beli buku, tapi kok bisa tidak lulus UN? Mereka tidak tahu kalau banyak anak mereka yang telah membohongi orang tuanya dengan alasan sekolah, selama 3 tahun.
Satu lagi, Jika ada guru atau sekolah yang membantu, karena kami percaya masa depan kalian masih baik. Karena kami percaya, entah kapan, kalian akan bisa jadi orang yang bertanggung jawab terhadap diri kalian sendiri. Karena sebagai seorang guru, adalah kebanggan besar bagi kami bila melihat anak didik kami bisa lebih pintar, lebih kaya, atau lebih sukses dibandingkan kami gurunya, meskipun secara perlahan kami akan terlupan.