alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/516048171dd7199f41000008/tanggung-jawab-dan-profesionalisme-dokter
Tanggung Jawab Dan Profesionalisme dokter
Thread ini lanjutan Thread ane sebelumnya dengan judul "Jangan Paksa Anakmu Jadi Dokter" : Ane akan mulai dari kronologis cerita tentang temen ibu ane yang meninggal gara-gara malpraktek dokter :
Siang itu temen ibu ane dateng ke rumah sakit swasta X di Cirebon bermaksud untuk kontrol tensinya yang memang sudah memiliki riwayat hipertensi. Kala itu temen ibu ane dateng dengan segar bugar, kontrol ini memang biasa dilakukan tiap bulan untuk memonitoring tensi darah. Pada saat ditensi, tekanan darah temen ibu ane adalah 180/77 normalnya 150, pada kondisi tersebut bisa dikatakan tensi temen ibu ane lagi ga normal. Setelah dikatakan hipertensi, temen ibu ane konsul dengan dokter spesialis penyakit dalam. Temen ibu ane mengeluh dan bilang kalo dia saat sholat terutama rakaat terakhir sering mengalami pegal-pegal. Kemudian si dokter ini yang masih berumur 35 tahunan keatas,bisa dikategorikan dokter spesialis muda ini langsung menyuntikkan obat ke temen ibu ane. Obat ini adalah flamicort, dimana obatnya ternyata kontraindikasi dengan hipertensi.Efek nya adalah mengakibatkan penyempitan pembuluh darah otak. Sekitar 15 menit kemudian temen ibu ane pusing dan langsung tidak sadarkan diri. Lalu dibawa ke ruang gawat darurat. Selang 4harian dirumah sakit, temen ibu ane masih tidak sadarkan diri, kemudian keluarga mulai menuntut ganti rugi dan mendesak pihak rumah sakit untuk bertanggung jawab. Akhirnya, pihak rumah sakit mengakui bahwa itu adalah kesalahan yang dilakukan oleh dokter dan mereka, alhasil pihak rumah sakit mengatakan siap menanggung semua biaya rumah sakit temen ibu ane ini. Akhirnya keluarga mulai percaya lagi terhadap rumah sakit ini, ayah temen ibu ane sempet bertanya "apakah pihak rumah sakit dan dokter masih bisa menangani pasien, kalo tidak saya minta pasien di rujuk ke rumah sakit yang lebih baik lagi dengan biaya dari rumah sakit swasta X ini". Pada saat itu pihak rumah sakit menyanggupi untuk merawat temen ibu ane. Beberapa hari kemudian temen ibu ane meninggal. Mulai timbul kecurigaan, apakah pihak rumah sakit dengan sungguh2 menangani pasien? Setelah meninggal dan pasien dibawa pulang kerumah, pihak rumah sakit tidak ada yang datang ke rumah temen ibu ane,sekedar mengucapkan berbela sungkawa. Malah menyuruh bapak temen ane untuk dateng ke rumah sakit dan membicarakan perihal ini.
Keluarga temen ane ini termasuk orang yang legowo, bapaknya berkata "Untuk apa lagi memperjuangkan atau menuntut ganti rugi, toh yang diperjuangkan juga sudah meninggal"

Sampai saat ini pihak rumah sakit tidak pernah menampakaan batang hidungnya untuk meminta maaf, keluarga juga tidak menuntut lagi, padahal sebelum biaya rumah sakit ini ditanggung oleh pihak rumah sakit. Keluarga masih membayar biaya opname sebelumnya, yang satu malam mencapai 1 juta lebih. Betapa luar biasa kebesaran hati keluarga temen ibu ane.

Mirisnya rumah sakit dan dokter di Indonesia. Mereka sibuk menuntut kenaikan gaji, mereka sibuk bilang bahwa mereka adalah pahlawan, tetapi terkadang mereka lupa bahwa pasien mereka adalah manusia. Saya tahu, saya butuh dokter untuk mengobati saya kala sakit, saya tahu bahwa dokter adalah penyelamat. Tapi bisakah proesionalisme seorang dokter di Indonesia ditingkatkan, bisakah kualitas dokter meningkat dikala banyak universitas swasta membuka fakultas kedokteran, dikala saat ini untuk menjadi dokter butuh banyak uang. Saya tahu tidak semua dokter karakternya seperti apa yang saya jabarkan diatas. Saya pernah punya temen kosan dokter yang memang rajin belajar,saya punya paman yang juga dokter. Tapi dominasi dokter menjadi oknum, banyak sekali.

Cerita ini saya publish lagi karena saya sedang berada dirumah temen ane, karena baru sempet dateng dan menginap untuk berbela sungkawa pada temen ane akibat banyak tugas.

Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran buat semua orang yang membaca termasuk dokter, calon dokter atau orang yang bercita-cita jadi dokter : jujurlah pada diri sendiri, pantaskah anda menjadi dokter? yakinkah anda menjadi dokter? dan tolong perbaiki lagi, niat kalian menjadi dokter untuk apa. Jangan hanya idealis saat koas atau saat menjadi residen atau saat awal2 menjadi dokter setelahnya kalian lupa tentang keidealisan kalian. Kalo kalian tidak sanggup menjadi dokter, lebih baik mengundurkan diri/jangan jadi dokter. Karena konsumen dokter adalah manusia yang hanya memiliki 1 nyawa
emoticon-Sorry emoticon-Sorry

Lokasi rumah sakit ini di Plumbon cirebon , Sekedar info lanjutan rumah sakit ini sedang ada dan menjadi berita terhangat di radar cirebon karena menolak dan memulangkan pasien UGD yang tidak sanggup membayar. Tuhan memang tidak pernah tidur, dia membalas perbuatan rumah sakt ini dengan cara lain. Buat orang cirebon, saya yakin kalian tahu rumah sakit apa yang saya maksudkan.
emoticon-Sorryemoticon-Sorry
keputusan anda untuk tidak menyebut nama rumah sakit atau nama dokter, tergolong tepat, karena dasar anda menuduh pihak rumah sakit melakukan malpraktek, dapat dikategorikan sebagai fitnah atau pencemaran nama baik.
hipertensi bukan merupakan kontraindikasi flamicort. hanya sebatas warning ataupun perhatian



Yang perlu diperhatikan juga adalah, kami dokter, tidak pernah berniat untuk mencelakai pasien, dan selalu berusaha sekuat kuatnya untuk bertindak seprofesional mungkin dalam menolong pasien. Ini tercermin dari pendidikan kami, bahkan dari pendidikan dokter umum saja, apalagi pendidikan spesialis, kami sudah ditempa sedemikian rupa, dan anda boleh tanya ke sejawat dokter kenalan anda.

Tetapi yang sering orang lupa, dokter itu juga manusia, bukan tuhan, tubuh manusia itu begitu rumitnya, begitu kompleksnya sehingga walaupun kami sudah berusaha sekuat tenaga, kadang kadang hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

my 2 cents.

Coba baca seksama gan

Quote:Original Posted By adnnin
keputusan anda untuk tidak menyebut nama rumah sakit atau nama dokter, tergolong tepat, karena dasar anda menuduh pihak rumah sakit melakukan malpraktek, dapat dikategorikan sebagai fitnah atau pencemaran nama baik.
hipertensi bukan merupakan kontraindikasi flamicort. hanya sebatas warning ataupun perhatian





Baca lagi dengan seksama gan, ini pihak rumah sakit akhirnya juga mengakui dan menanggung biaya opname temen ibu ane di rumah sakit,dia uda mengakui ada kesalahan, udah jelas dong itu diakui malpraktek dokter. Gimana dah si agan? dokter ya gan? Warning/perhatian setahu ane juga kalo hipertensi ga boleh asal masuk obat, apalagi dalam bentuk injeksi gan, bener ga gan? Kalo agan bilang gak, buka lagi kamus kedokterannya coba tanya sama sesepuhnya. Sebenernya ane pengen nyebut nama rumah sakitnya gan, cuma malas buat nambah perkara, wong keluarganya temen ane aja udah close book sambil bilang "ngapain lagi ini diperkarakan kalo yang diperjuangkannya juga udah ninggal dan ga bisa balik lagi".
Dari pada sibuk bilang ini bukan malpraktek,fitnah dsb, bukannya ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Ane buat thread ini juga siapa tahu bisa jadi pelajaran buat agan dan rekan2 yang jadi dokter. Ane tahu gan, dokter susah dan kerja mati2an, tapi yang ada dihadapan agan juga pasien yang bisa mati2an gara2 kerjaan agan2 semuanya.

Ane harus tanya apa gan?

Quote:Original Posted By reverser
Yang perlu diperhatikan juga adalah, kami dokter, tidak pernah berniat untuk mencelakai pasien, dan selalu berusaha sekuat kuatnya untuk bertindak seprofesional mungkin dalam menolong pasien. Ini tercermin dari pendidikan kami, bahkan dari pendidikan dokter umum saja, apalagi pendidikan spesialis, kami sudah ditempa sedemikian rupa, dan anda boleh tanya ke sejawat dokter kenalan anda.

Tetapi yang sering orang lupa, dokter itu juga manusia, bukan tuhan, tubuh manusia itu begitu rumitnya, begitu kompleksnya sehingga walaupun kami sudah berusaha sekuat tenaga, kadang kadang hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

my 2 cents.


Ane harus tanya apa gan ke temen dokter ane? Setahu ane juga ada kok gan dokter spesialis yang beli? atau selama lagi ikut kuliah spesialis banyak alasan untuk ga dateng kuliah karena lagi inilah itulah, hehee bukan ane sotoy ya gan, ane pernah juga diceritain masalah dokter residen yang banyak alasan ga masuk kuliah gara2 lagi ada pasien / dsb nya. Alhasil nilai yang dikasih sama dosen nilai kasian, ini cerita dikasih langsung sama dosen ane yang latar belakang dokter dan profesor gan.
Ane tahu kok gan jadi dokter itu susah, kudu belajar sepanjang malem, apalagi kalo ada ujian, kudu dari jauh2 hari belajarnya, ane dulu juga punya temen kosan yang dokter dan rajin gan. Tapi ya ini cuma sebagian kali ya gan,sisanya kebanyakan outputnya jadi oknum, entah sistem pendidikan yang salah, atau gimana sih ya gan, tapi banyak kok gan kasusnya. Masalahnya ini gan, coba agan cari tahu lagi, bener ga orang yang lagi hipertensinya kambuh disuntik? Hayoo bener ga? setahu ane ya gan, orang hipertensi itu ga boleh asal obat masuk. Hal paling simple deh, ini kan suntikan dikasih sama orang2 yang KB ya gan kalo ga salah, itu kalo orang2 KB lagi hipertensi, boleh ga tuh gan di suntik? mbok dikasih obat oral dulu, atau paling ga inform concent dulu dah ke suami pasien.
Ane tahu ga ada guna lagi nyalahin dokter,ane cuma berharap ini bisa jadi pelajaran buat agan2 yang dokter/calon dokter/ orang yang bercita2 jadi dokter, kalo emang sekiranya ga sanggup jadi dokter, jangan deh coba2. Mending jadi pembisnis nih ya kalo dari keluarga kaya.
Ane tahu, dokter itu masih kurang, dan masih terjadi resistensi dokter terutama untuk daerah2 yang sulit transportasi dan masih terbelakang. Ane tahu dokter masih banyak dibutuhkan, tapi ane berharap yang jadi dokter itu juga bener2 orang pilihan, orang yang pinter,setidaknya dia mau berusaha dan belajar bener2. Banyak sebenernya orang yang ga mampu, pengen jadi dokter, cuma gara2 sistem pendidikan di Indonesia yang kacrut dan matre aja jadi mereka ga bisa mimpi untuk jadi dokter.

Inget gan, ane tahu ga semua dokter begini, paman ane juga dokter, temen kos ane juga ada yang dokter, jadi ane tahu, mana yang bener2 dokter, dan mana orang yang maksa jadi dokter. Kalo agan ga merasa terpaksa jadi dokter, seharusnya ga marah baca thread ini. Bisa kali gan, ambil hikmah dari setiap kejadian.
Toh itu rumah sakit udah dapet balasannya perlahan dengan masuk ke berita gara2 mulangin orang koma yang nunggak uang 50 juta. Ane juga berharap semoga tuh dokter akhirnya dipindahkan, soalnya kasian gan, namanya jadi ga bagus dan ga dipercaya lagi sama orang2 sekitar karena omongan mouth to mouth berbahaya.

emoticon-Sorry
Beda mslhnya kl administratif ama fungsional medis, g bs disamaratakan, setiap dokter pny hak memilih rencana terapi dan pengobatan/tindakan brdasar diagnosa yg digali dari pemeriksaan,riwayat anamnesa, penunjang dll,byk!klpun opsi dokter 1 ama yg dokter 1 nya itu laen, ya wajar, krn smua itu adl berdasar empiris, hak pasien adl mengetahui penyakitnya, memilih perawatan, mengetahui resiko, perawatan dsb...jd g ad hub nya antara dokter yg dulu kuliahnya gmn2, skrg gmn, apalagi sekolah spes bayar??yg berhak pny pend dokter spes itu cm pt negeri!apalg yg diurusi nyawa...nilai kasihan?cb liat ke rshs ato rscm,gmn hidupnya kerjaannya yg lg pend spes...sy rasa akar permslhan topik ini g sinkron ama kesimpulannya, trm ksh
Ini pendapat pribadi ane gan.kdokteran masa skarang berkiblat pd pmikiran ilmiah.dr pglman yg ane liat,sering kali dokter ktika pasien dtg lgsung priksa,diagnosis,vonis. Sakit a obat nya b,trus udah.kdang mmbawakan brt buruk misal sakit si pasien parah,y gitu aja lgsung vonis,hrus gini gitu,obat/perawatannya gini gitu.sangat jarang dokter2 saat mghadapi pasien ingatkan dulu ttg hakikat pnyakit,siapa yg mmberi penyakit dan siapa yg menyembuhkan.kunjungan pasien ke dokter kadang bukanny mnmbah semgat utk sehat,mlh kdang jd racun,mmbuat demotivasi.mka dr itu ane cm mngingtkan pd kwan2 dokter,ingatlah lgi.anda2 ini hanya dititipi Allah sedikit ilmu.jgn anda mnggunakan ilmu itu dg sembarangan,jgn seolah2 anda berbicara ttg penyakit/hidup seseorang seolah2 anda penentu segalanya,kmbalikan pada Allah ta'ala.lupakah kalian kalian bpk kdokteran anda Alzahrawi,menekankan pd murid2nya dulu pentingnya berbuat baik pd pasien.atau malah tak taukah anda,krn kiblat kdokteran kalian sudah beralih ke pmikiran ilmiah spenuhnya?

Dan bgi kita para pasien,jgn lah terburu2 utk mndatangi dokter,ingatlah dulu Allah yg memberi dan mngbgkat penyakit anda.bersabarlah.ingatlah sakit sbg penggugur dosa.dokter hanya perantara.
Jadi dokter memang harus kuat secara mental dan pikiran. Ga kuat, yauda jangan jadi dokter. mantaaaap