alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/515aa363562acff55e000005/cerita-pengobatan-saya-di-china
Cerita Pengobatan Saya di China
Saya Bahkan Tidak Rela Memberikan Sisa Hidup Saya Kepada Dokter 10 Menit Saja

"Saya menghabiskan waktu empat jam penuh baru dapat bertemu dokter. Namun, dokter sebentar melihat hasil pemeriksaan mengatakan, saya menderita kanker serviks stadium akhir, dia tidak ada cara apapun untuk membantu saya ..." Setelah berbicara ini semua, Ms Di agak marah, dalam hatinya tidak bisa tenang.
Seorang pasien kanker serviks berusia 32 tahun, Ms Di, karena untuk kepentingan pengobatan, ia tidak lagi seperti sebelumnya, suka berdandan, mengubah rambutnya yang kuncir kuda dan tampak sedikit berantakan. Tapi semangat Ms Di cukup baik, beberapa hari lalu bercerita tentang pengalaman pengobatan di Jakarta dan di China.


"Saya bisa tidak peduli dengan tingkat teknologi medis yang bagaimana, tetapi sikap seorang dokter membuat aku hamper kehilangan kepercayaan diri dan dia hanya membiarkan aku minum obat di rumah saja." Ms Di mengeluh, "Jawaban dokter membuat saya dan keluarga saya merasa sangat kecewa dan sedih, tapi dia tidak bersikap ramah dan membuat saya putus asa. Dari awal sampai akhir, ekspresinya yang serius membuat saya berpikir, dirinya benar-benar tidak memiliki harapan. Saya ingin bertanya lebih tentang rekomendasi pengobatan atau mengenai kehidupan, tapi ia tampak tidak sabar, hanya sebentar saja dia mendiagnosa saya. Saya bahkan tidak rela sisa hidaup saya dihabiskan 10 menit saja dengan dokter. "
Untungnya, ia kemudian memutuskan pergi ke China melakukan pengobatan, sehingga hidupnya telah memiliki harapan baru.


"Meskipun diagnosis dokter di China juga kanker serviks stadium akhir, tapi dokter tersenyum dan berkata kepada saya, Jika Anda hidup, jangan putus asa. Seperti senyum yang tidak biasa, sederhana, memberi saya kekuatan yang tak terbatas dan rasa percaya diri." Saat ini, saya mengerti, bahwa menurut Ms Di dokter China sangatlah penting. "Saya sangat berterima kasih kepada dokter saya, tidak hanya memberi saya pengobatan yang terbaik, tetapi juga pada bisa mengajari saya metode perawatan kehidupan di telepon, membantu saya untuk mengembangkan rencana pola makan. Di samping dokter, staf lainnya juga sangat ramah kepada saya. Semuanya sangat sabar menjawab semua keraguan saya, bahkan waktu pulang kantor, tidak ada yang menolak saya. "

Dari sudut pandang peningkatan jumlah kasus malpraktik medis dalam beberapa tahun terakhir di Negara saya, kasus seperti Ms Di ini sangat banyak ditemukan.
Menurut statistik, dalam kasus-kasus malpraktik medis di negara saya dalam beberapa tahun terakhir memiliki kecenderungan meningkat, sedangkan kepercayaan antara dokter dan pasien, kurangnya komunikasi, terdapat bias kognitif dan dokter yang terkait dengan beban kerja yang tinggi. Dokter tidak memperhitungkan kepentingan pasien, dan tidak mengatakan kepada pasien mengenai pengobatan yang lebih baik. Para dokter malah menganggap bahwa pasien mereka tidak percaya, dirinya terlah memberikan pengobatan terbaik bagi pasien.
Namun, alasan-alasan ini juga merupakan factor penting dalam memberikan kontribusi pertumbuhan pasien di luar negeri untuk pengobatan medis. Setiap tahun orang yang mencari pengobatan di luar negeri mencapai ratusan ribu, dan terus meningkat, seperti China, Singapura, Jerman, Amerika Serikat, Australia, yang menjadi pilihan utama negara. Karena negara-negara ini tidak hanya teknologi canggih, pelayanan yang sempurna, dan juga waktu dan efisiensi komunikasi antara dokter dan pasien jauh melebihi Indonesia. Tentu saja sebagian besar dari rumah sakit ini disebutkan di sini adalah rumah sakit swasta, karena rumah sakit pemerintah perlu untuk membuat reservasi terlebih dahulu untuk menikmati layanan berkualitas tinggi.

Misalnya : Di rumah sakit swasta di China berkonsultasi dengan dokter sekitar 1 jam. Di Indonesia, waktu perawatan pasien tidak lebih dari 10 menit. Selain itu, dokter rumah sakit swasta asing juga bisa memberikan informasi kontak mereka, seperti telepon, email atau SMS dan lainnya kepada pasien setelah pengobatan, sehingga pasien dapat berkonsultasi kapanpun. Tapi di Indonesia, para dokter enggan untuk memberitahu pasien mereka contact mereka sendiri, atau bahkan tidak memberikan waktu pasien mengajukan keluhannya.
Kepala Modern Cancer Hospital Guangzhou mengatakan : "ketidakpedulian lebih menakutkan dari kanker, jadi kami berharap dapat memberikan kehangatan dan merawat setiap pasien, dan membiarkan mereka mendapatkan kepercayaan dan kami akan menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk perawatan medis bagi pasien, melakukan yang terbaik untuk menjawab setiap keraguan pasien. "