alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/511d06ac1d76082c70000012/fans-storiesmaaf-kalo-helek-le-enfants
fans stories. story setres about 48
stories… le’s enfants der teribles…

Dedicated untuk para pelaut, para idol, para fans

Dan siapapun yang sedang tidak giting ketika membaca ini, *sayangnya saya sedang giting*

prologue

Pelabuhan sunda kelapa, in not so distant Future.
Malam di jakarta yang gelap, kota yang terbakar hebat, bersama dengan letupan hebat terdengar sesekali. Kolonel laut Elfadel Raihan berdiri sembari menahan dingin dari balik menara komando kapal. Di depannya kota jakarta terbakar hebat, bersama dengan semburat kekuningan ledakan bom, deru pesawat tempur menyambar dan lengkingan bom yang melesat. Suara seperti kain dirobek-robek menandakan senapan mesin dan kanon otomatis mengusir pesawat tempur yang kini menjadikan jakarta lautan api.

Kolonel Raihan menghisap kreteknya dan mendengar sejumlah langkah kaki dari balik pier tempat kapalnya bersandar. Sejumlah pelaut menyebar di dermaga, menunggu dengan cemas truk yang akan mengantar barang yang akan mereka ungsikan jauh-jauh dari jangkauan pihak yang bertikai. Beberapa kali sejumlah mortir nyasar di dalam lingkar perimeter pelabuhan. Kolonel Raihan meraih kantongnya dan mengeluarkan selembar kertas yang baru saja di print dari ruang sandi kapal.

FLASH FLASH FLASH FLASH FLASH IMMEDIATE TO KRI BRAHMANANDA. PROTOKOL PATRIOT X LES ENFANTS DES TERIBLES X
RDV DI PELABUHAN SUNDA KELAPA PADA 0000 X ANGKUT KARGO X RDV DENGAN KRI MULTATULI LEPAS PANTAI MAKASSAR X KARGO TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK JATUH KE TANGAN MUSUH ATAUPUN KOALISI DALAM KEADAAN APAPUN X TTD PRES RI XXXX AKHIRPESAN X

Indonesia, raihan menghembuskan asap kreteknya membentuk lingkar awan kebiruan diatas kepalanya. Indonesia telah berubah, begitu presiden yang sekarang naik, revolusi menyeruak, perang terjadi dimana-mana. Ambisi pria itu yang hanya selevel dibawah hitler membuat semua orang dan rakyat menggelora, menggelora dan memberontak hingga ia menugaskan tentara kembali menumpas gerakan rakyat. Demokrasi terpasung, namun ia sendiri melakukan itu demi kebaikan republik. Ia menyerukan dekrit republik. Menghapus semua peraturan daerah yang mementingkan salah satu etnis,
ataupun agama.

Propinsi yang selama ini tegak dibawah hukum semi syariah memberontak dan mulai menyerang dan bertempur. Korban yang mencapai ratusan ribu, membuat PBB mengirim pasukan intervensi dibawah amerika serikat. Hanya selangkah lagi menuju rubuhnya republik, dan kini presiden memulai evakuasi untuk menyelamatkan simbol-simbol negara dari cengkeraman pemberontak, ataupun koalisi dibawah pimpinan Amerika Serikat. Seperti ketika aktie politie II ketika belanda menyerbu Yogya. Pemerintahan darurat berdiri dan menghilang ke wilayah yang lebih aman.

Dua cahaya terlihat diujung dermaga. Beberapa pelaut mendekat sebelum sejumlah prajurit berbaret merah turun dan melapor kepada wakil komandan Brahmananda. Fadel mendengar interkom berderak, “kapitant, mayor Farisya meminta untuk berbicara dengan anda.”
“baiklah einsvo, kelihatannya penting. Tunggu aku di dermaga, bersiap untuk memuat,” fadel mengangkat tubuhnya dan meluncur di tangga kapal dan kakinya menapak dengan hati-hati di dek yang memang superlicin. Sebelum akhirnya berjalan di dermaga dan menemui seorang komandan baret merah yang kini sebelah matanya diperban. Sejumlah prajurit baret merah yang lain berjaga dan mulai membuka pintu truk yang digembok seperti brankas bank.
Mayor baret merah memberi salut, dibalas dengan sikap sempurna dan salut, “mayor. Brahmananda siap untuk mengangkut kargo. Akomodasi untuk barang sudah disiapkan bersama dengan orang-orangmu. Saya asumsikan kargo anda tidak lebih besar dari diameter dua meter, sesuai dengan hatch torpedo.”

Mayor itu memandang dengan kosong, membersihkan kerongkongan sebelum angkat bicara, “barang… barang yang anda bicarakan… err, agak sedikit berbeda.”

“maksud anda sedikit berbeda? Apa kargonya? Aku tahu aku tak berhak bertanya, akan tetapi ini penting karena saya tidak diberitahu dengan rinci apa yang akan diangkut.” Fadel menyipitkan mata, “kalian tidak mengangkut emas monas kan? Atau artefak besar lainnya? Saya asumsikan ini adalah naskah asli proklamasi atau semacamnya..”

“bukan..” mayor itu melambai pada truk, dan sersan tersebut membuka pintu truk. Fadel tidak tahan dan menyorotkan cahaya senter ke dalam truk, yang berisi boks khas militer yang biasa dipakai untuk menyimpan dokumen, dan.. cahaya senternya memantul balik.. pantulan yang biasa terjadi bila cahaya mengenai mata makhluk hidup. Fadel meraih pistolnya.. sebelum tangan mayor itu menahannya. “akupun tak mengerti, mengapa mereka merujuk, itu… sebagai barang.”

Para pelaut mendekat dan memandang dengan mulut ternganga ketika melihat kargo yang akan mereka selamatkan. “mayor, apakah disaat terakhirnya sang presiden kita yang terhormat memutuskan mengisap ganja dan memberi perintah sinting seperti ini?”

“aku Cuma mayor, aku tak punya kemewahan untuk tahu hal semacam ini,”
Apa yang disebut sebagai barang, atau sebagian diantaranya… adalah orang, gadis dalam term yang lebih tepat dalam fikiran fadel. Mata gadis itu memandang ketakutan, Fadel memandangi gadis itu. Tepat satu gadis itu dengan sorot mata keheranan. Tepat seusia keponakannya. Dengan hidung mancung panjang, mata yang sayu dan penuh kerak di pipinya akibat airmata yang mengering. Fadel melihat sejumlah mata lain yang memandangnya dengan ketakutan.

“baiklah mayor, persiapkan untuk memuat… barang ke kapal. Einsvo, pastikan mereka memiliki akomodasi yang tepat—“ satu ledakan terdengar, disusul dengan gegar tembakan. Sersan yang berdiri disamping pintu truk terjungkal begitu lehernya tertembus peluru.

“kolonel, segera pindahkan mereka, kami akan menahan mereka disini.”

“jangan bodoh mayor, kita akan keluar dari sini bersama-sama.”

“ini bukan misiku yang terakhir, ungsikan mereka dan pergilah jauh-jauh dari sini. Demi Indonesia Raya kolonel!”

Fadel tidak bisa berkata-kata dan mengangguk, merampas senapan dari mayat sang sersan dan ia berlindung. Sementara para prajurit baret merah melindungi truk, sejumlah pelaut mengeluarkan boks dari truk dan menuntun, menggendong tepatnya, para gadis dari dalam truk menuju kapal. Fadel menembak beberapa kali sebelum ia mendengar teriakan seram. Khas para revos atau revolusioner yang hendak menyerbu.

Prajurit republik melempar granat dan membalas tembakan, fadel bangkit dan mengulurkan tangannya pada sang mayor, “terakhir kalinya mayor! Aku tak mau kau mati konyol!”

Sang mayor hanya tersenyum getir, “terakhir kalinya kolonel, prajurit ke prajurit, ini bukan kekonyolan yang pertama yang pernah aku alami dalam membela negeri ini. Aku beri kau setengah jam untuk berlayar menjauh dari jakarta, aku masih punya tugas.”

“hanya itu saja? Tidak ada pesan, tidak ada surat?”

“kau pikir ini film kolonel? Pion seperti kita tidak punya durasi hingga sepuluh menit untuk mengutarakan kata-kata terakhir. Pergilah kolonel!”

Fadel menyumpah dan berbalik, berlari menuju tangga dek, peluru berkejaran dan ia melompat sembari berteriak, “Down ladder!” dengan mulus meluncur ke dalam tingkap kapal dan berlari menuju ruang kendali atau zentrale kapal.
Enisvo, Mayor Togar Manurung mengangguk, “kapal siap berangkat kapitant.”

“einsvo, aku mengambil alih zentrale.”

“Ja, Zentrale, Kapitant mengambil alih.” Terdengar suara setuju, dan kini Fadel berdiri dari balik panggung di dek. Meraih interkom dan berbicara dengan nada terbaiknya, “enjiniring, disini kapitant, bagaimana kondisi reaktor?”

“output 80 persen, menunggu perintah!”

“naikkan output hingga 110 persen, rig darurat.”
“zentrale, kondisikan kapal untuk melaju. Helms, back, flank, full. Enjiniring, siapkan back, full flank.”

“output 110 persen, back full flank.” Back full flank adalah perintah untuk memundurkan kapal hingga kecepatan penuh, kini fadel memandang denah lautan di teluk jakarta dan kembali memberi perintah, “aktifkan stern thruster! Pivoting menuju bearing 130 derajat!”

Sepuluh menit kemudian, kapal berputar dan fadel kembali memberi perintah, “persiapkan untuk penyelaman. Full ahead Flank, constant bearing, Lapor kondisi!”

“semua palka tertutup, sistem atmofsir hijau, reaktor berjalan normal.”

“COB buka palka balas depan, buka palka balas belakang, helms trimming pada sudut haluan depresi 5 derajat. Rig for dive!”

“ja kapitant! Balas depan, balas belakang buka, trimming sudut depresi lima derajat, rig for dive!”

“balas terbuka! Persiapkan penyelaman!”

“kedalaman 300 kaki!”

“aye kedalaman 300 kaki!” COB atau komandan bintara kapal meraih interkom dan berpindah ke sirkuit umum dimana loudspeaker menggema, “ ACHTUNG, ACHTUNG , BOOTEN SUBMERGE, DIVE, DIVE DIVE!”
WOOONG WOOONG WOOONG WOOONG WOOONG alarm terdengar menggema disekujur kapal.

“kapitant, balas terbuka, sudut kapal mencapai 4 derajat.” Fadel meraih periskop, “Up periscope!” ia memandang haluan sementara udara bercampur air melontar dari haluan, ia memutar periskop dan melihat buritan juga mengeluarkan semburat air, seperti ikan paus mengambil napas.

numpang pertamax aja deh
“balas terbuka! Persiapkan penyelaman!”
“kedalaman 300 kaki!”
“aye kedalaman 300 kaki!” COB atau komandan bintara kapal meraih interkom dan berpindah ke sirkuit umum dimana loudspeaker menggema, “
ACHTUNG, ACHTUNG , BOOTEN SUBMERGE, DIVE, DIVE DIVE!”

WOOONG WOOONG WOOONG WOOONG WOOONG alarm terdengar menggema disekujur kapal.

“kapitant, balas terbuka, sudut kapal mencapai 4 derajat.” Fadel meraih periskop, “Up periscope!” ia memandang haluan sementara udara bercampur air melontar dari haluan, ia memutar periskop dan melihat buritan juga mengeluarkan semburat air, seperti ikan paus mengambil napas.

“bow awash!” semenit kemudian ia memutar periskop dan, “stern awash!” ketika ia melihat haluan mulai terbenam, kembali berteriak, “bow under!” kemudian ia melihat hanya busa dipermukaan, “Scope awash!” dan akhirnya kapal menyelam dengan mulus, “Scope under, down periscope!”

Satu gegar terdengar, fadel terlempar dari konsolenya dan kepalanya menghantam rel.. semuanya gelap.


Disaat yang sama.

Mayor Burhanudin Farisya menghapus darah dari wajahnya, sementara tempik sorak terdengar kembali. Tenggorokannya terasa panas dan kental seperti meminum cairan penuh logam. Faris meludahkan darah dalam mulutnya, asap mesiu terdengar, sementara gegar tembakan kembali tercium. Matanya seolah melekat oleh lem dan dilapisi oleh lensa berwarna kecoklatan.

Yang terlihat hanyalah mayat-mayat berserakan, serangan terakhir, pertarungan tangan kosong, bayonet melawan kepalan, kepalan melawan gigi dan popor beradu tulang. Mayat rekannya, mayat musuh semuanya bercampur baur.. bunyi menyeruak, alunan melodi yang terdengar di kunci rendah, disusul bunyi baja beradu aspal dan derap sepatu lars. Hanya satu benda dimuka bumi ini yang bersuara seperti itu. Tank!

Protokol patriot sekunder, menolak dan membumihanguskan republik dari intervensi musuh. Jangan biarkan musuh dan asing mengambil alih indonesia. Faris merayap menyeret tubuhnya menuju truk yang tadi mengangkut kargo. Menyingkirkan mayat seorang prajurit yang menutupi sebuah laptop, toughbook tepatnya. Ia membuka toughbook sementara tangan kirinya menahan agar isi perutnya yang tercabik tidak keluar.

WARNING MILITARY SOFTWARE DETECTED, TOP SECRET CLEARANCE REQUIRED. PLEASE INSERT IDENTIFICATION CODE. Faris memasukkan nomor register prajuritnya. WELCOME MAJOR FARIS, faris mengetik dan memilih boks bertuliskan protokol sekunder. SECONDARY PATRIOT PROTOCOL INITIATED. PLASE INSERT KEYCARD OR SELECT BYPASS. Ia membypass sistem dan memasukkan beberapa perintah. BYPASSING COMPLETE, INSERT PERMISSIBLE ACTION LINKS SEQUENCE. PAL atau permissible action links adalah satu-satunya cara untuk mengaktifkan protokol patriot. Faris telah memikirkan kemungkinan ia takkan sempat untuk memasukkan sembilan angka yang rumit sehingga kini kodenya hanyalah 000-000-000, PERMISSIBLE ACTION LINKS ACTIVATED, DETONATION IN FIVE, FOUR, THREE…faris tersenyum kecut, misinya telah berakhir. Dan ia memandangi rekannya untuk terakhir kali, tersenyum dan menyadari kelak di neraka atau didalam kubur, ataupun dalam debu-debu radioaktif yang mengorbit di angkasa, dirinya dan rekannya akan abadi.

Begitu sekuens mencapai angka nol, sejumlah sinyal terkirim ke sebuah kerucut didalam truk, bertuliskan B61 Thermonuclear Warhead. Didesain untuk dilepaskan dari pesawat, sinyal yang terotorisasi kemudian disalurkan ke op-amp dan rangkaian penguat untuk melepas energi dari delapan capasitor bank dan tersalur ke konsole kedua. Melewati soket MC4142, membuat sistem komputer bom mengakui bahwa sinyal yang masuk adalah perintah yang sah. Dari sistem kini menunjuk ke posisi F, dimana detonasi maksimal telah disetting ke 340 kiloton, setara dengan 340 juta ton TNT. Sinyal itu juga dikirim ke sebuah tabung piston helium yang menyuntikkan tritium ke dalam primer inti plutonium.

Sinyal dari konsole kemudian dilepaskan ke kapasitor bank kedua dan melepaskan muatan ke 96 blok peledak HMX yang dibentuk secara pentagonal dan heksagonal. Panjang kabel yang sama membuat sinyal mencapai kereta detonator (sebuah detonator elektrik yang dibalut oleh peledak sekunder), sinyal kemudian meletupkan detonator, memulai reaksi kimia di bahan peledak TNT, bahan peledak TNT yang memiliki karakter laju reaksi lebih cepat namun memiliki laju ledakan lebih lambat kemudian mengompres HMX, dan memberikan kelajuan awal bagi proses implosion.

Peledak HMX yang memiliki power paling besar kemudian melepaskan energinya kearah dalam, blok-blok yang dilapisi casing dari U-238, memastikan arah ledakan lurus menuju inti plutonium yang kini dibentuk seperti bola donat berongga. Tekanan yang besar, memastikan 15 kilogram plutonium (Pu-239) dikompress menjadi sebesar biji kacang, kompressi tersebut memanipulasi massa plutonium hingga mencapai fase dimana sejumlah besar neutron membombardir inti plutonium membuat plutonium terurai menjadi unsur yang lebih ringan dan melepas dua neutron yang lain, dua neutron kini menghantam atom plutonium yang lain, melepas empat neutron, dan seterusnya menerapkan prinsip yang disebut doubling, melepaskan panas, sinar gamma, beta dan partikel yang tidak memiliki massa namun memiliki energi yang disebut foton.

Energi yang dibawa oleh foton dan neutron kemudian menghantam casing dari alloy U-238 dan tabung tabung kaca yang disebut pemantul neutron atau holraum menuju bagian sekunder. Dimana sejumlah tabung berisi litium deuterida dan tritium terdorong dan ikut terkompress. Neutron kemudian kembali membombardir inti tritium, dan membenturkan tritium dan deutrium, membentuk helium dan melepas dua neutron, suatu proses yang disebut fusi yang biasa terjadi di inti matahari. Panas dan sinar x, beta, gama, alfa dan memanaskan udara disekitarnya, menciptakan gelombang energi melelehkan casing Co-60 dan U-238 memindahkan massa menjadi energi seperti pada E = M.C kuadrat.

Energi panas dan ledakan menyerap, menyerang siapapun yang disekitarnya memanggang dan mengurainya menjadi energi radioaktif, korban pertama adalah Mayor Faris yang tak sempat menyadari apapun sebelum seluruh syaraf tubuhnya dibanjiri oleh gelombang elektromagnetik dan terurai menjadi debu partikel karbon. Efek panas yang hanya sepersejuta detik membuat udara menjadi kosong, dan kini udara yang lebih dingin menyusup dan membuat efek termobarik dan meledakkan diri menggulung dan menyapu jakarta menjadi reruntuhan dan isotop kobalt-60 membuat jakarta takkan bisa dihuni setidaknya 100 tahun ke depan. Mengubur republik indonesia dan sejumlah besar kekuatan Amerika di pasifik.

Namun suatu fenomena terjadi, suatu gangguan di teluk jakarta terjadi. Massa yang berubah menciptakan suatu dilasi gravitasi. Memindahkan sejumlah besar massa air dan isinya ke suatu celah kosong dimana terjadi perubahan dimensi panjang lebar dan tinggi tetap, namun satu dimensi waktu berubah. Sesuai dengan persamaan dx/dt x dy/dt x dz/dt kini waktu, atau dt berubah. Menarik seluruh wilayah kedalam fenomena yang disebut lubang cacing. Panjang lebar dan tinggi yang tidak berubah memaksa kedua sudut waktu untuk berpindah… suatu efek yang disebut lubang cacing. Massa air kini bergerak ke seluruh arah, termasuk didalamnya, KRI brahmananda yang bergerak ke arah yang salah, ke arah belakang, membuatnya kini berlayar ke suatu wilayah.. wilayah dimana dimensi tetap, namun diwaktu yang sama sekali berbeda….
Dunia yang engkau ketahui sudah tidak ada, seberapa jauh kau mengiginkannya kembali. Fadel membuka matanya, namun tidak bisa, suara itu mengganggunya namun tetap selalu ada, ada bayangan seseorang, berlatar pepohonan berwarna cerah dan sebuah kolam bening. Para pencipta kami menciptakan perang, hanya kami, kamilah yang tersisa dari apa yang sudah mereka ciptakan. Fadel kini bisa membuka matanya lebih jelas dan kakinya menatapi rerumputan. Aneh rumput dan taman ini… sperti begitu nyata, ia menatap gadis yang kini berbalik menatapnya.

Dengan gaun kotak-kotak dan korsase besar yang membuatnya terlihat lucu, aneh dimata Fadel, ia memiliki mata besar, bibir tipis dengan lingkar wajah seperti hati dan rambut panjang sebahu. Fadel memandang bayangan dirinya di kolam, dengan seragam putih dan wajah muda dirinya tepat seperti apa yang ia lihat ketika kelulusan di Akmil. “tentu saja aku menginginkan duniaku kembali, nona.”

“cantik sekali bukan? Aku bertaruh kau tidak pernah melihat sakura mekar… kolonel.” Gadis itu mengalihkan pembicaraan… beberapa kelopak berjatuhan diantara dirinya dan Fadel. “sakura mekar adalah saat terindah di dunia yang akan kau tempuh kelak.”

Fadel meraba kelopak yang berjatuhan dan terasa begitu nyata. “aku tidak tahu kalau tuhan ternyata orang jepang. Dan juga ini agak aneh untuk sambutan di alam kubur nona.” Fadel membuka perhatiannya, gadis ini terasa mirip dengan seseorang.. namun ia tidak begitu tahu karena bertemu gadis dalam pekerjaannya sama anehnya dengan bertemu kucing bertanduk di seberang jalan. “dan juga bagaimana aku bisa keluar dari sini? Atau aku sudah tidak bisa kemana-mana?”

Gadis itu terkejut, namun sepertinya ia sudah tahu fadel akan bertanya, “tentu saja bisa kolonel, aku Cuma ingin bercakap-cakap sebentar denganmu.”

“sangat aneh nona, karena terakhir kali yang aku ingat aku sedang berlayar menjauh dari kekacauan dan kemudian aku terbangun disini… berkencan dengan seorang gadis.. ya kau boleh menganggap ini berkencan. Pertama kali yang terpikir olehku, apakah aku sudah mati atau ditanyai oleh malaikat atau bagaimana?”

“apa kau tidak keberatan kencan dengan gadis yang usianya sudah lewat dari setengah usiamu OOM fadel?” gadis itu tertawa, dan melirik fadel yang kini wajah pucatnya memerah sampai ke telinga. “aku bukan malaikat, kenalkan, namaku stella.” Gadis itu mengulurkan tangannya yang disambut dengan genggaman mantap dalam sikap sempurna oleh fadel. Stella membalikkan tangannya dan melirik jam ditangan kanannya, “waktu kita tidak banyak om fadel..”

Fadel merengut dan mengangkat telapak tangannya, “beberapa batasan, nona.. stella. Aku memang berusia 31 bukan 38, jangan panggil aku oom, dan yang terakhir bagaimana aku keluar dari sini?”

“om, yang akan aku jelaskan mungkin akan sedikit gila, tetapi begini, aku tidak tahu bagaimana bertemu denganmu lagi, tetapi fakta pertama. Aku sudah mati, tetapi aku tak tahu bagaimana aku tidak mengikuti prosedur—itu yang biasa kamu sebut ya—yang seharusnya, adikku ada dikapal om, aku mau kamu menjaganya, menjaga dia dan teman-temannya.
Sejak lahir aku tahu, aku bukan anak biasa, demikian pula dengan sonia. Mereka, orang-orang yang ikut campur dalam kelahiran aku dan sonia dan beberapa yang lain menyeretku dari rumah, memisahkan sonia dariku, dan ketika sonia dibawa ke arah pelabuhan, aku dibawa ke arah halim, yang terakhir kali kulihat hanyalah kilatan cahaya dan kemudian aku sudah ada disini bersamamu. Aku hanya bisa memohon pada om untuk menjaga adiku.”
Fadel terdiam, “aku setuju, asalkan kau bisa menunjukkan jalan keluar dari sini.”

“kolonel, apa om sadar apa yang om minta itu sudah sama dengan meminta Tuhan menghidupkan kembali Lazarus? Aku meminta om menjaga adikku, sementara om memintaku untuk mengeluarkanmu dari lembah kematian.”

“aku sadar stell, aku sadar… aku akan menjaga adikmu, dengan nyawa kalau perlu. Bagaimana kalau begini.. kau sudah meminjamkan padaku waktu lebih untuk berada di dunia. Meskipun duniaku menyebalkan tetapi aku tak berminat berada di dunia sana, baik itu isinya surga dan neraka versi tuhanku dan tuhanmu.”

Stella tersenyum dan menunjuk ke belakang Fadel, “om ikuti saja kemana melangkah ke belakang sana… dan ketika kita bertemu lagi, aku harap tidak dalam waktu dekat, aku tak mau sonia memandang dunianya dalam rasa sesal.”

Fadel melangkah dan mengulurkan tangannya, “Deal, sumpah prajurit. Kuharap kita tidak bertemu lagi dalam waktu dekat nona cantik. Oh ya, jika kau bertemu dengan istriku di seberang sana. Katakan padanya, ‘nyawa dan badan putus janjian, memang akan bercerai. Cinta padamu kubawa mati.”
Sonia mengangguk dan fadel berbalik dalam seragam putihnya. Ia kemudian memandang punggung pria yang lebih tua itu menghilang dibalik kabut, air mata membasahi pipinya ketika siang yang indah itu berubah menjadi gelap dan berubah tempat dimana beberapa temannya telah menunggunya.

Tangisnya berceceran dan stella berlutut, membuat tanda salib, mengatupkan tangannya dan berbisik

“Tuhan adalah gembalaku, aku takkan mengingkari

Dia membuatku terbaring di rerumputan hijau, memandu jiwaku

Dia menuntunku menuju mata air

Dia memulihkan jiwaku

Dia menuntunku dalam jalan yang benar dalam Nama dan FirmanNya

Ya, meskipun aku berjalan diantara lembah kematian. Aku takkan takut akan Kejahatan, demiNya yang denganku.

Dan semestinya kebaikan dan pengampunan akan mengikutiku selama hidupku, dan aku akan berlindung dalam Rumah Tuhanku.. selamanya.” (Psalms 23, KJV) Stella terisak dan semuanya kembali gelap.