alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5115e322db9248ba32000012/imlek-bagian-dari-keindonesiaan
Imlek Bagian dari Keindonesiaan
Pontianak – Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalbar A Mukti Rouf mengungkapkan, perayaan Imlek dan Capgome harus ditempatkan pada harmoni keberagaman dan keberagamaan di Indonesia.

“Karena Imlek itu merupakan bagian dari Indonesia. Tanpa ada Konghucu, Buddha, Islam, Hindu, Kristen Katolik, itu bukan Indonesia. Jadi, Imlek itu juga bagian dari keindonesiaan,” tutur Mukti Rouf diwawancarai Rakyat Kalbar, Jumat (8/2).

Mukti sendiri melihat hadirnya suasana Imlek yang identik dengan warna merah, lampion, dan atraksi liong barongsai. Bagi warga Tionghoa, lanjutnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar hura-hura dan tanpa makna. Pada perayaan Imlek terselip harapan untuk terus terciptanya kerukunan antarumat beragama dan masyarakat luas.

“Indonesia itu semua, semuanya menyatu dalam keberagaman beragama. Seiring dengan berjalannya waktu, peleburan masyarakat menjadi suatu hal yang umum dan bukan hanya euforia semata. Masyarakat Tionghoa harus bisa menjaga keharmonisan hidup antarumat beragama maupun antaretnis tanpa pengelompokan antarras,” ungkap Mukti Rouf.

Mukti mengatakan umat lain juga harus mewujudkan toleransi yang nyata karena jika tidak ditoleransi berarti itu bukan bagian dari Indonesia. “Imlek itu kan sah, diakui oleh pemerintah. Sudah seharusnya sikap toleransi kita junjung,” ucapnya.

Terpisah, salah seorang tokoh pluralis Kalbar DR H Haitami Salim MAg mengatakan Imlek itu harus diposisikan sebagai perayaan keagamaan, sebagaimana agama lain mempunyai hari besar keagamaan.

Namun Haitami mengingatkan setiap perayaan keagamaan tentulah harus dilihat dari dua hal, yakni yang sifatnya ritual dan seremonial. Dari aspek kerukunannya perlu toleransi, untuk aspek ritual umat lain tak bisa mencampurinya.

“Kalau unsur ritualnya sangat bergantung pada keyakinan pemeluk agamanya dan tak boleh dicampuradukkan. Kita lihat unsur mana yang bisa masuk untuk umat lain,” ucap Haitami, mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar.

Untuk itu kepada umat Islam Haitami mengatakan jangan sampai masuk pada sisi ritualnya. “Kalau sifatnya seremonial, kita boleh saja ikut atau tidak. Tapi kita berikan kesempatan seseorang untuk mengamalkan keyakinannya dan merayakan hari besarnya,” ungkap Haitami yang juga Koordinator Pascasarjana STAIN Pontianak.

Secara umum, Haitami menilai sejauh ini perayaan-perayaan hari besar keagamaan di Kalbar tidak ada yang namanya benturan-benturan sosial atau konflik sosial yang berlatar agama, sama sekali tidak ada.

Manfaat ekonomi dan kebersamaan
Imlek 2564 dan perayaan Capgome 2013 harus memberikan manfaat ekonomi dan kebersamaan sosial kemasyarakatan kepada seluruh warga Kalbar tanpa membedakan latar suku, agama, dan golongan.

“Intinya, merayakan Imlek bukan dengan hura-hura tapi rasa kebersamaan, saling memberi mulai dari memberikan kasih sayang dan perhatian, hingga bantuan kepada saudara kita yang tidak mampu. Dan secara ekonomi, event Capgome harus diakui memberikan nilai tambah bagi perekonomian Kalbar sektor pariwisata,” tutur Ketua Umum Yayasan Bhakti Suci The Iu Sia SH MH kepada Rakyat Kalbar di kantornya, Jumat (8/2).

Rasa kebersamaan, lanjut The Iu Sia, adalah toleran satu sama lain sebagaimana dicontohkan oleh KH Abdurahman Wahid, mantan Presiden ke-4 RI yang menolak rasialisme di Indonesia.

“Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme adalah guru bangsa yang patut kita hormati. Sehingga, ketika merayakan Imlek, bukan saja kita mengingat Nabi Konghucu sebagai pedoman hidup. Tapi juga ingat Gus Dur yang tidak membeda-bedakan SARA agar kita menjadi bangsa yang besar,” kata Asia, begitu bos Asia Jaya Group ini biasa disapa.

Terkait Capgome, Asia yang menggagas nuansa kemeriahan Kota Pontianak menyambut event pariwisata itu telah menghiasi kawasan Jalan Gajah Mada, Diponegoro, Tanjungpura, dan Jalan Pahlawan dengan 13.000 lampion melalui Yayasan Bhakti Suci.

Dipastikan bahwa Capgome sudah jadi kalender wisata Kalbar yang bisa mengundang turis nasional maupun wisatawan mancanegara. Inilah promosi untuk memperkenalkan kepada calon investor.

“Jadi bukan saja nuansa kemeriahan, menjadikan Kota Pontianak yang ramah, tersenyum dan rendah hati, bersahabat, toleran. Kalau damai atau akur di rumah tangga kan rezeki datang,” ujar The Iu Sia dengan senyum.

Bicara soal ekonomi, dia yakin puluhan miliar rupiah mengalir dan beredar di Kalbar terutama di Kota Pontianak selama Imlek hingga Capgome. Perhotelan, restoran, penerbangan, transportasi, kuliner, dan lainnya menyumbangkan pendapatan bukan hanya kepada pemerintah tapi hingga rakyat kecil kebagian.

“Tukang jual es, pisang goreng, pedagang langsat, pedagang makanan di kaki lima, dan sebagainya akan merasakan kemeriahan dan nyaman berjualan,” katanya dan mengingatkan agar semua menjaga ketertiban. “Kita berharap tahun depan akan lebih siap lagi bagaimana memanfaatkan event pariwisata.”

Dirayakan dengan pesan kebangsaan
Capgome, perayaan hari ke-15 bulan pertama Tahun Imlek, dirayakan secara meriah dan kolosal di dua kota, Kota Pontianak dan Singkawang. Capgome juga dirayakan dengan pesan kebangsaan, yang rutin digelar sejak tahun 2000 (pascareformasi). Dilaksanakan secara inklusif, dengan melibatkan berbagai suku dan agama lain di luar warga Tionghoa.

Semua kelompok etnis di Kota Pontianak, Minggu (24/2), akan berbaur dalam Pawai Budaya Nusantara, rangkaian perayaan Capgome yang dipusatkan di Yayasan Bhakti Suci Jalan Gajah Mada.

“Persiapan panitia Capgome 2013 hampir rampung, termasuk para peserta Pawai Buadaya Nusantara juga sudah mendaftarkan diri. Nanti berbagai budaya etnis berbaur dalam karnaval tersebut,” kata Buyung Bunardi, Ketua Panitia CGM 2013, kepada Rakyat Kalbar, Jumat (8/2).

Sebagai keberagaman dan menggiatkan wisata daerah, perayaan CGM tidak hanya menampilkan replika naga yang mewakili kekhasan warga Tionghoa. “Tali persaudaraan dengan etnis lain harus dipererat. Kota Pontianak sebagai gerbang Kalbar cerminan masyarakat sangat heterogen,” ujar Buyung.

Diharapkan semua luka-luka lama akibat konflik sembuh dan terhapuskan dari peta toleransi baik antarumat beragama maupun etnis. Konflik di Sambas, Bengkayang, Monterado, dan lainnya di Kalbar pernah mengoyak kebersamaan. “Kinilah saatnya kita bersatu dalam NKRI, memperkaya budaya Indonesia,” ajaknya.



Imlek bersama

Sementara itu, Buyung yang juga Ketua Panitia Imlek Bersama yang diselenggarakan YBS akan digelar Minggu malam (17/2) di Hotel Aston. Selain tokoh masyarakat, adat, pimpinan paguyuban, panitia mengundang Forkopimda I dan II serta para petinggi daerah ini. Selain itu juga mengundang seluruh pengurus yayasan yang ada di bawah YBS.

“Untuk malam Tahun Baru Imlek kita tidak ada acara. Kita serahkan kepada keluarga masing-masing. Termasuk tradisi bakar kembang api di malam pergantian tahun yang rutin dilakukan di Jalan Gajah Mada. Yang penting tertib dan menjaga keamanan bersama,” pungkasnya. (fiq/kie)

http://www.equator-news.com/utama/20...-keindonesiaan

semoga perayaan nya sukses aman di semua tempat emoticon-Big Grin

gong xi fa cai emoticon-Big Grin
Yng penting pertamax
Makan kue keranjang
Di rumah temen cokin
org2 China udah menjadi bagian dari bangsa ini sejak abad ke-5 Masehi. semenjak itu pula, mereka membawa budaya mereka dari China dan mempraktekkannya di wilayah yang kini menjadi "Indonesia". selama itu pula, budaya yang mereka bawa dari China udah bercambur-baur dengan budaya org2 India dan Melayu, hingga akhirnya menciptakan budaya2 baru seperti Betawi, Sunda, Jawa, Palembang, dll.

budaya China udah menjadi bagian dari Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.
maka Imlek yg jadi budaya China pun otomatis menjadi bagian dari Indonesia.
menurut ane, Indonesia itu mempunyai suku bangsa yang banyak banget macemnya.

kalo masing2 bisa diekspos sebagai promosi pariwisata, jamin banyak banget turis yg dateng.

ane sendiri sebagai turis, bosen banget kalo ke luar negeri cuma liat pemandangan doang. kagak ada kebudayaan nya
duh, puyeng bacanya ane..
btw, ane punya banyak teman chinese, tapi kalo misal ada perlu hal dengan orang pribumi selain ane sebagai temannya, mereka agak takut untuk sekedar bertanya hanya karna melihat tampang pribumi yang agak sangar. mungkin itu alasannya kenapa rata2 yang temen ane chinese atau beberapa warga yang lain agak sulit bergaul. CMIIW deh.. betewe kalo mau beteman sama chinese minimal ente mesti anggap mereka itu seperti pribumi, tidak ada perbedaan RAS yang menghalangi persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. NO SARA
yang ini gak bakal dilarang ama gubernur babi dan jilbaber

nguik nguik
×