alexa-tracking

[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/510f9075552acf885e000004/belum-ada-yg-buat-tritnya--siti-hartati-tjakra-murdaya--chow-li-ing--2-thn-8-bln
[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln
[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln


Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan hukuman penjara dua tahun delapan bulan serta denda sebesar Rp150 juta kepada Hartati Murdaya dalam kasus suap di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah Juni tahun lalu.

Manurut Hakim, Hartati melalui sejumlah pejabat perusahaan yang dimilikinya terbukti menyerahkan uang sebesar Rp3 miliar kepada Bupati Buol saat itu, Amran Batalipu sebagai imbalan agar Amran selaku pejabat daerah yang berwenang, menerbitkan Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha terhadap tanah seluas 4.500 hektare yang dimiliki PT CCM, salah satu anak perusahaan milik Hartati.

Uang suap menurut Jaksa penuntut mulai diberikan sejak 15 April 2012 saat Hartati Murdaya bertemu Amran Batalipu di arena Pekan Raya Jakarta. uang sebesar Rp3 miliar itu diberikan kepada Amran dua kali, masing-masing Rp1 dan 2 miliar rupiah.

Menurut pembelaan kuasa hukumnya, Hartati tidak terlibat dalam penyuapan sebagaimana dituduhkan karena pemberian Rp1 miliar kepada Bupati Buol saat itu adalah sebagai dana bantuan pengamanan perusahaan yang saat itu sedang diblokade massa, sementara Rp2 miliar lainnya sebagai bentuk sumbangan Pilkada yang saat itu akan diikuti Amran.

Kubu Hartati juga mengatakan Rp1 miliar yang dikeluarkan Hartati mulanya hendak dibagikan kepada masyarakat guna meredam gangguan keamanan namun, 'tanpa sepengetahuan Hartati uang itu diserahkan kepada Amran Batalipu'.

Meski demikian Majelis Hakim tetap berpendapat Hartati bersalah dan menjatuhkan hukuman dua tahun delapan bulan ditambah denda Rp150 juta, dari tuntutan hakim semula lima tahun penjara dengan denda Rp200 juta.
Hubungan dengan Demokrat

Siti Hartati Murdaya, lahir tahun 1946, adalah istri dari Murdaya Poo, pengusaha keturunan Cina yang menurut majalah Forbes merupakan orang terkaya No19 di Indonesia tahun lalu.

Pada era Suharto, keluarga Murdaya dan PT Central Cakra Murdaya yang menjadi induk usaha keluarga ini adalah pendukung partai Golkar.

Hartati kemudian dikenal sebagai pendukung setia Partai Demokrat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintah.

Belakangan setelah kasus suap ini merebak, Hartati menyatakan keluar dari Partai Demokrat, meski pengacara utamanya dalam persidangan tetap Denny Kailimang, juga anggota ternama dalam tubuh Partai Demokrat.

Setelah pembacaan putusan, baik Jaksa Penuntut maupun pengacara Hartati mengatakan masih pikir-pikir. Hartati juga minta majelis Hakim memberi penetapan terkait keinginannya untuk berobat selama menunggu jika mungkin dua pihak menyiapkan permintaan mengajukan banding.

Sementara Hartati sudah divonis, mantan Bupati Buol Amran Batalipu kini tengah menanti putusan hakim dalam kasus yang sama dengan tuntutan Jaksa hukuman penjara selama 12 tahun.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berit...ativonis.shtml

pengusaha kalau tak menyuap mana bisa lancar bisnisnya di bujuknya lah aparat pemerintahan sama uang milyaran untuk memuluskan bisnisnya itu udah dari dulu emoticon-Big Grin

ku tanya sama kelen yang suka membujuk merayu manusia biar mengikuti maunya dan berbuat jahat apa itu namanya lae?? itu namanya setan itu namanya iblis yang selalu mengajak manusia berbuat jahat emoticon-Big Grin sayangnya manusianya pun bengak iman tak ada di ikutinyalah kemauan setan dan iblis itu emoticon-Cape d... (S) kau rasakanlah penjara itu emoticon-Big Grin

[url=http://news.detik..com/read/2012/06/18/072904/1943527/10/apa-kabar-penanganan-kasus-blbi]Apa Kabar Penanganan Kasus BLBI?[/url]

KPK kasusBLBI cam mana 650 triliyun jangan kau lupakan

[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln

[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln

kita tunggu aja lah emoticon-Big Grin

kalau kelen mau ngasih komentar jangan pake maki maki ya lae emoticon-Big Grin
bah tak laku trit pertama yang ku buat emoticon-Ngakak (S)

ya sudahalah emoticon-Big Grin memang berita cam gini kurang menarik juga ku tengok emoticon-Ngakak (S)

emoticon-Ngacir
2 tahun 8 bulan..belum termasuk remisi dia lapas....halah emoticon-Cape d... (S)
Quote:


price tag emoticon-Malu

apalagi buat orang super kaya kek ny.hartati ini.
disogok panitera sampai hakim juga mampu emoticon-Malu (S)
Ini ketua Walubi itu ya???
emang parah neh dia emoticon-Cape deeehh
Tambah jelek aja nama etnis **** pdhal udh lumayan dng naeknya Ahok
memberi malah dihukum lebih berat dari pelaku penerima dan pemeras (Angelina Sondakh)
Lain hakim, lain hukum
Quote:


hubungan Walubi sama etnis apa ya koh... emoticon-Big Grin
Quote:


marga kau apa, jangan suka buat rusuh dimedia online punya cokin lah. mana ada yang suka, bego kau. emoticon-Big Grin pura2 jadi batak pulak kau. emoticon-Big Grin
+ denda ganti rugi 150 juta... kalo gak dibayar... hukum kurungan 3 bulan...

nyolong semangka/ambil singkong karena lapar... dihukum juga 3 bulan...


Miris... miris...



layak lah... BEMOkrat... TURUN ELEKTABILITAS NYA...!!!!! jadi cuman 8%...

PEDANGNYA SUDAH TUMPUL...!!!





SEMOGA MASIH MENDAPAT HUKUMAN TAMBAHAN BUAT KORUPTOR DAN APARAT HUKUM YANG BERMAIN MATA DI AKHERAT...!!!

Quote:


cuma di indonesia yang bisa buron seperti ini, tanya kenapa ? emoticon-Big Grin kalau dinegara lain sudah dorrr !! emoticon-Big Grin
bah salah room aku .............

ku kira room daging sapi berjanggut yg 10 juta itu punya...........
hukum memang lembek liat aja di kamar penjarnnya pasti ada AC,kulkas,TV,dll
liat aja entar emoticon-Ngakak
[ Belum ada yg buat tritnya ] Siti Hartati Tjakra Murdaya ( Chow li ing ) 2 Thn 8 bln
Pengusaha Indonesia Duduki Peringkat ke Empat Tukang Suap Saat Berbisnis di Luar Negeri kalau di dalam negeri cam mana lae

Hasil survei Transparansi Internasional (TI) terbaru menunjukkan perusahaan-perusahaan Indonesia cenderung memberi suap saat menjalankan bisnis di luar negeri. Dari daftar Bribery Payers Index (BPI) yang terdiri dari 28 negara, Indonesia menempati peringkat ke-4 daftar pengusaha yang gemar memberi suap untuk memuluskan urusan bisnisnya.

"Dalam wawancara responden di 30 negara yang disurvei, nama pengusaha Indonesia selalu disebut kerap memberi suap," kata Manajer Tata Kelola Ekonomi Transparansi Internasional Indonesia, Franky Simanjuntak, seperti dilansir BBC, Rabu (02/11/2011).

Sayangnya, survei ini tidak menjelaskan di negara mana saja pengusaha Indonesia ditengarai kerap memberi suap. Namun, setidaknya survei ini bisa menjelaskan kebiasaan membayar suap para pengusaha Indonesia.
Menurut Franky kecenderungan membayar suap ini adalah perpaduan antara kebiasaan yang dilakukan di Indonesia dan lemahnya hukum di negara tempat mereka berbisnis.

"Jika pengusaha Indonesia berbisnis di negara yang hukumnya longgar maka kecenderungan memberi suap ini semakin tinggi. Tetapi jika mereka berbisnis di negara yang aturannya ketat maka kecenderungan itu menurun," papar Franky.

Fakta ini, tambah Franky, dalam jangka panjang dapat merugikan karena menurunkan kredibilitas para pengusaha Indonesia di mata rekan bisnis mereka di luar negeri.

Terakhir kali TI merilis daftar BPI adalah tahun 2008 lalu dan saat itu Indonesia belum menjadi salah satu negara yang disurvei.

Sementara itu, survei yang melibatkan 3.000-an eksekutif perusahaan ini menunjukkan pengusaha-pengusaha Rusia dan Cina menjadi yang teratas dalam urusan memberi suap.

Sedangkan pengusaha asal Belanda dan Swiss menjadi pengusaha-pengusaha yang nyaris tidak pernah memberi suap untuk memuluskan bisnis mereka di luar negeri.

Lewat hasil surveinya ini, TI menyerukan kepada komunitas internasional untuk melakukan langkah tegas bagi perusahaan yang membayar suap. "Para pemimpin G20 harus segera mencegah praktik suap di luar negeri. Investigasi dan hukuman harus ditingkatkan," kata Ketua TI, Huguette Labelle.

Rusia yang menjadi pemuncak daftar ini dinilai TI sebagai sebuah kasus khusus. "Sayangnya tak ada istilah integritas dalam kehidupan bisnis Rusia," kata Direktur TI Rusia, Elena Panfilova.

Survei TI ini juga menunjukkan pengusaha yang biasa menyuap biasanya berasal dari negara yang pemerintahnya juga dianggap memiliki integritas rendah terkait persepsi korupsi yang dirilis TI tahun lalu.

Dari hasil survei itu, terlihat sektor yang paling terpengaruh dengan supa menyuap adalah sektor layanan publik dan infrastruktur. Di sektor inilah perusahaan berkompetisi untuk memenangkan kontrak kerja dari pemerintah, mulai dari pengelolaan sampah hingga pembangunan jalan raya.

TI mencatat proyek-proyek sektor publik yang biasanya berskala besar, kompleks dan melibatkan banyak sub kontraktor, sangat mudah untuk menggelembungkan biaya dan menyembunyikan pengeluaran-pengeluaran tak tercatat.

Pengusaha yang menyuap untuk mendapatkan proyek infrastruktur dalam penilaian TI sama dengan menipu rakyat pembayar pajak dan menurunkan standar keamanan proyek itu.

Sektor lain yang rawan suap adalah pertambangan serta eksplorasi migas seperti yang banyak dilakukan pengusaha Rusia dan Cina. Sementara sektor pertanian relatif paling bebas suap, sedangkan perbankan menduduki urutan keempat bebas suap dari 19 sektor industri.

emoticon-Ngacir
Quote:


kurang menarik karena ga ada unsur PKS dan FPI emoticon-Ngakak
kasus blbi udh tidak d usut lagi kyk nya
krn udh d gilas sm kasus korupsi sapi yg cuma 1 miliar doank
emoticon-Ngakak
semoga buronan-buronan yang terpampang tuh dapat segera tertangkap emoticon-linux2
pengusaha sudah tidak mengherankan emoticon-Blue Guy Smile (S)

kan ada ungkapan bahwa tidak ada tembok yang tidak dapat ditembus dengan peluru :“emas” emoticon-Blue Guy Smile (S)
hukum diindonesia bisa dipermainkan seenaknya oleh mafia mafia emoticon-Marah
Quote:


kalau berita agan dikasi ilustrasi ngeri2 sedap dijamin laku emoticon-Ngakak
DUIT emang cocok buat ngibulin manusia sok suci cem pejabat indonesiaemoticon-Big Grin