alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Konflik Antar Agama di Korea Selatan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/510a5c15e374b4847d000011/konflik-antar-agama-di-korea-selatan

Konflik Antar Agama di Korea Selatan

Ringkasan

Puluhan ribu umat Buddha di Korea Selatan memprotes diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah Presiden Lee Myung-bak.

Mereka menuntut Presiden Lee Myung-bak yang beragama Presbiterian untuk menghentikan diskriminasi agama dan meminta maaf atas perilaku beberapa pejabat senior pemerintahan dan juga dirinya yang cenderung menganaktirikan Buddhisme dan menganakemaskan agama Kristen.

President Lee dikritisi oleh para demonstran karena mengisi Kabinet dalam pemerintahannya oleh anggota-anggotanya yang seagama dengannya dan Lee tidak mengirimkan pesan ucapan selamat di hari kelahiran Buddha, padahal mayoritas rakyat Korea Selatan memeluk Buddhisme.

Park Kwang-seo, wakil dari Institut Korea untuk Kebebasan Beragama, menyatakan bahwa pemerintah telah pilih kasih kepada agama Kristen dan mendiskriminasikan Buddha sejak Republik Korea didirikan tahun 1948.

Professor Buddhist di Universitas Sogang yang dikelola Yesuit di Seoul mengatakan bahwa umat Buddha mengalami diskriminasi di bawah presiden-presiden beragama Kristen. Lee bukanlah orang Kristen pertama yang menjabat sebagai presiden Korea Selatan. 4 dari 10 presiden negeri itu adalah orang Kristen. Tercatat ada beberapa nama lainnya termasuk Syngman Rhee, Kim Young-Sam dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian Kim Dae-jung.

Pelayanan pastoral Kristen di militer dimulai tahun 1948, sedangkan umat Buddha baru dapat memulai pelayanan semacam itu tahun 1968. Sebuah stasiun radio Protestan mulai mengudara tahun 1954, tetapi stasiun umat Buddha baru diijinkan melayanan semacam itu tahun 1990.

Tentang berbagai masalah yang dihadapi agama Buddha Korea, 23,7 persen menyoroti diskriminasi pemerintah, sementara 50,1 persen mengatakan tidak adanya kepercayaan publik terhadap agama Buddha.

Sensus Penduduk 2005, umat Buddha berjumlah 22,8 persen dan umat Protestan 18,3 persen, sementara umat Katolik 10,9 persen 47 juta total penduduk Korea Selatan. Lebih dari 40 persen dari total populasi itu mengaku tidak beragama.
Diubah oleh dragonroar
Thread sudah digembok
Urutan Terlama

2006


Lee Myung Bak dan persekutuan doa mendoakan runtuhnya kuil-kuil Buddha di Korea Selatan.

Ketika Lee Myung-bak masih menjadi walikota Seoul, ia menyatakan kota Seoul ”sebagai tempat suci yang dipimpin oleh Tuhan” dan warga Seoul sebagai ”orang-orang Tuhan”. Ia menyerahkan kota Seoul ”kepada Tuhan”.

Pada bulan Juni 2006, satu aksi vandalisme yang terbesar dan signifikan oleh Kristen adalah di festival "Again 1907 di Busan” oleh Kristen Korea. Para Kristen bersedia agar semua kuil Buddhis dan wihara di area Busan dihancurkan. Sebuah pertemuan jemaat injili di Busan berdoa agar “semua kuil Buddha dihancurkan.” Lee mengirimkan sebuah video pesan doa kepada sebuah perkumpulan Kristen dimana pemimpin kebaktiannya berseru kepada tuhan ”biarkanlah kuil-kuil Buddhis di kota ini luluh lantak”.

Banyak warga Korea kecewa saat Lee Myung Bak sependapat menanggapi event tersebut. Lee Myung-bak mengirim sebuah pesan berisi ucapan selamat untuk pertemuan itu. Ia kemudian meminta maaf, dengan mengatakan bahwa ia tidak tahu tentang doa itu sebelumnya.
Diubah oleh dragonroar
setau gw perseteruan nya ga ampe semua kuil budha di seoul d ancurin deh..cuma ada kuil yang mending di bongkar .. soalnya ada aset budaya yang bisa di temuin kalo d gali d daerah sono..

ini beritanya yang lebay ato gw yang kurang ngerti ya?

2008

Pada tahun 2008, Lee lebih memilih umat Kristen untuk bekerja dalam kabinetnya dan kantor presiden sejak pelantikannya pada bulan Februari. Dari 15 menteri, 10 adalah orang Protestan, 2 orang Katolik dan tiga lainnya tidak diketahui affiliasi agamanya.

Sekretaris presiden bahkan mengatakan dalam wawancara di sebuah surat kabar bahwa “cita-citanya adalah mengkristenkan semua departemen pemerintah.” Kejadian lain adalah menyangkut sekretaris presiden, seorang pendeta Kristen. Menurut laporannya, ia mengatakan dalam sebuah pertemuan kelompok Presbiterian di Seoul pada 5 Juni bahwa orang-orang yang mengikuti tuguran cahaya lilin untuk memprotes impor daging sapi impor dari Amerika Serikat adalah “segerombolan pengikut setan.”

Pada 24 Juni, Ordo Jogye, denominasi Budha terbesar di negeri itu mengeluarkan sebuah pernyataan yang menuduh sistem informasi transportasi di Seoul, yaitu Algoga (temukan jalanmu), “secara sengaja” tidak menyebut satu kuil Buddha pun.

Ordo itu menjelaskan bahwa peta online sistem itu (www.algoga.go.kr) tidak mencantumkan kuil Jogyesa dan Bongeusa yang terkenal dan dikunjungi banyak turis manca negara di ibukota. Departemen Urusan Darat, Laut, dan Transportasi mempertahankan peta itu yang katanya ada 20.000 pemakai internet mengunjungi peta online itu setiap hari.

Yang Mulia Seungwon, juru bicara Jogye, menandatangani surat pernyataan itu, yang berjudul kami benar-benar mengutuk tindakan-tindakan pemerintahan Presiden Lee yang pilih kasih pada agama tertentu. Dalam surat tersebut, biksu itu menuduh pemerintahan Presiden Lee Myung-bak memihak pada agama Kristen, terutama Protestan.

Pada tahun 2003, ketika pemerintah sebelumnya membuat sistem informasi online, kuil-kuil Buddha itu tercantum dalam peta. Namun, versi yang diperbaharui pada 9 Juni tidak mencantumkan nama-nama dan gambar kuil itu. Departemen itu, dalam konferensi press 23 Juni, mengakui ada suatu “kesalahan,” dan kuil-kuil Buddha itu muncul kembali di peta empat hari kemudian.

Namun, pada 25 Juni, semua 28 anggota yang langsung terpilih dari Dewan Pusat Ordo Jogye yang beranggotakan 81 orang itu mengeluarkan sebuah pernyataan lain. Mereka berpendapat bahwa tidak dicantumkannya nama-nama kuil itu dalam peta bukan hanya sekedar kesalahan, karena peta itu bahkan mencantumkan gereja-gereja Protestan yang kecil, yang ditandai dengan salib merah dan namanya. Kemudian, Menteri Chung Jong-hwan meminta maaf. Beberapa hari kemudian ditemukan juga pada peta informasi tentang Sungai Cheonggye yang tidak dicantumkannya informasi tentang vihara.

Pada tanggal 25 Juni 2008, Komisaris Polisi Eo Cheong-soo muncul bersama dengan seorang pendeta dalam sebuah poster yang mengiklankan sebuah acara yang diadakan oleh Gereja Injil Sepenuh. Poster itu dipasang di berbagai pos polisi di seluruh negara itu. Komisi itu menyatakan bahwa Eo Cheong-soo, kepala kepolisian nasional, terang-terangan mendukung anggota polisi yang beragama Kristen dalam “doa-doa puasa untuk Kristenisasi semua polisi.”

Insiden lainny adalah penggeledahan mobil Y.M. Jigwan, pimpinan Buddhis Korea tradisi Jogye oleh polisi dan diperiksa polisi di depan kantornya. Wihara Jogye telah diawasi oleh polisi setelah enam aktivis penentang kebijaksanaan pemerintah mengenai impor sapi dari Amerika Serikat meminta perlindungan di sana. Yang Mulia Jikwan, pemimpin Sekte Jogye, Polisi memantau Kuil Jogyesa karena curiga bahwa biksu itu mengorganisasi protes pada bulan Mei terhadap keputusan pemerintah untuk memasukkan lagi daging sapi dari Amerika Serikat. Mobil dari Yang Mulia Jigwan yang pulang dari kantornya dihentikan dan diperiksa di dalamnya. Para penyelenggara protes berkemah di kuil itu sejak 6 Juli, setelah polisi memasukkan mereka ke dalam “daftar orang yang dicari” karena diduga mengorganisasi protes-protes jalanan penuh kekerasan.

2010-2012

Konflik Antar Agama di Korea Selatan
Pada 2010, seorang pendeta dan mahasiswa yang berkeyakinan Kristen menginvasi kuil Bongeunsa dan memulai ritual agar tanah tersebut kembali menjadi tanah Tuhan. Kejadian ini menyebar luas melalui youtube dan internet. Berbagai aksi vandalisme ini menimbulkan ketakutan akan diskriminasi Buddhis di Korea Selatan.

Pada Februari 2011, terdapat skandal lain dimana tiga pendeta datang ke kuil Jogye dan menyuruh para anggota monastik untuk "percaya pada Yesus, sebagai (warga korea) kita adalah anak Tuhan."

Pada November 2011, prasasti yang berada di stupa National Preceptor Jigwangguksa di Kuil Beopcheonsa, Warisan Nasional Korea No. 59 dirusak. Sebuah tanda silang besar digambar pada patung batu setinggi 5 meter dan diperlihatkan kepada publik pda laman facebook dan twitter seorang laki-laki kristen.

Hal yang mirip, dekat Haewundae di Busan, Korea. Empat kuil Buddhis dilaporkan dirusak dan diinvasi oleh komunitas Kristen Korea, mereka menyemprotkan cat pernis merah pada tangan dan muka rupang Buddha. Berbagai vandalisme pada properti budaya Buddhis dan kuil Buddhis, vandalisme dan perusakan warisan nasional Korea telah berlangsung selama beberapa dekade, dan aksi ini adalah akar yang menyebabkan disharmoni agama antara komunitas religius Korea.

Pada 20 Agustus 2012, seorang pendeta Protestan, Seong, melakukan aksi vadalisme di aula dharma Kuil Donghwasa. Pendeta tersebut mengklaim dirinya dari Gereja SoonBokEum, ditangkap saat megencingi aula dharma dan merusak lukisan Buddhis dengan penanda permanen. Tindakan tidak terpuji ini ditangkap pada CCTV yang dipasang di aula dharma.

Komunitas Buddhis sangat marah atas tindakan ini dan meminta pelaksanaan hukum untuk memperberat hukuman sebagaimana tindakan ini tidak dapat dikenakan hukuman invasi dan vandalisme biasa. Meskipun petugas hukum menangkap pendeta tersebut, mereka menganggap tindakan tersebut sebagai "tidak biasa" dan melepaskan pendeta tersebut dengan pernyataan bahwa ia berada dalam masalah disorientasi mental. Maka dari itu, komunitas Buddhis menjadi marah karena pemerintah Korea dan penegak hukum menjadi sangat lembut terhadap perusakan artifak Buddhis dan warisan Nasional.

Pada tanggal 4 Oktober 2012, seorang pelaku mencoba untuk membakar Gakhwangjeon Hall di Kuil Hwaomsa di Daerah Gurye, Korea. Untungnya, api hanya membuat kerusakan kecil pada gerbang aula dikarenakan tindakan cepat dari para bhiksu dan alat pencegah kebakaran yang dibuat pada tahun 2008.

Di CCTV, video menangkap seorang laki-laki menyebarkan zat yang mudah terbakar di sekitar aula, dan menurut saksi, mereka mencium zat yang sangat beracun datang dari aula sebelum orang tersebut melemparkan korek api untuk membakar Gakhwangjeon Hall.

Atas insiden ini, komunitas Buddhis Korea kembali terkejut dan memperjuangkan pelaksanaan hukum bagi para pelaku vandalisme dan pembakaran terhadap properti budaya penting Korea dan warisan Nasional.

Vandalisme dan pengrusakan terhadap kuil dan warisan Buddhis, dan properti budaya penting yang berhubungan dengan Buddhisme oleh komunitas Kristen dan Protestan Korea masih berlanjut. Meskipun beberapa hukum telah diubah untuk melindungi properti budaya dan warisan nasional setelah aksi pengrusakan tragis atas "Gerbang Namdaemun", Warisan Nasional No. 1, vandalisme terhadap kuil Buddhis dan warisan Buddhis tetap berlanjut di Korea.
Diubah oleh dragonroar
Quote:


Sepertinja ada jang berniat memantjing fitna terhadap penganoet kepertjayaan tertentoe.

DJANGAN LAGI KOMMENTAAR!

VERBODEN!!!!
setau gw emang konversi agama di korsel ini lagi pesat2nya, sama kaya cina yg pertumbuhan penduduk kristennya cukup drastis
heeee baru tau di korsel ada konflik horizontal antar pemeluk agama... padahal tetangganya di utara gak ada masalah
Quote:


Tentu saja tidak ada 'masalah', soalnya kalau ada yang berani macam2 langsung dikarungin.emoticon-Ngakak
×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di