alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51050e5c552acf267e000010/orific-the-chosen
[Orific] The Chosen
Project Iseng2 bro, jalan ceritanya tentang Mutant dengan various super powers. kalo yang suka Hero, X men, Naruto sama hunter X Hunter pasti suka ama cerita gw dah emoticon-Big Grin pls enjoy. emoticon-Smilie

***


Prologue

Chapter 1 - First Blood (Part 2)

Chapter 2 - Spitter The Air Shooter (Part 1)
Chapter 2 - Spitter The Air Shooter (Part 2)

chapter 3 - Travellers (Part 1)
chapter 3 - Travellers (part 2)



The Chosen - Chapter 1; First Blood [Part 1]

Spoiler for The Chosen-Chapter 1:

The Chosen - Chapter 1; First Blood [Part 2]

Spoiler for The Choosen-Chapter 1:
Bagus ini ceritanya emoticon-Belo


Cuman rasanya agak tanggung dalam perbedaan kekuatan raptor sama predatornya. Awalnya gw kira bakal lebih berpengalaman Raptornya dalam menangkap mutant, tapi dari battle scenenya malah keliatan ga punya peralatan yang memadai.

Misal kayak video game Prototype. Buat nangkep Mercer atau si (panggil saja black guy protagonist from Prototype 2 karena gw lupa namanya) pihak penangkepnya dipersenjatai dengan detektor mutan, pasukan superpower, tank, attack chopper dll.

Kalopun tujuannya buat nangkep hidup2. Kenapa ga diserang sama tembakan tranquilizer gun atau gas tidur dari awal emoticon-Thinking

Di luar itu cerita ini nuansa modern day-nya udah berasa dan bisa mengalir dengan baik. emoticon-thumbsup:
^yep, amateur and reckless lol

tapi cukup ngemodal loh mereka, nyiapin lebih dari 2 helikopter buat invasion (ew.... invasi club ajeb ajeb yang biasanya di gedung tinggi pake heli?, if it were me, i prefered a black van and some special unit for that)

and btw ada yang aneh sama raptor disini, dengan gegabahnya ngeinvasi satu ruangan yang jelas banyak civiliantnya, egh itu kan bisa membahayakan, seolah olah raptor gak peduli sama semua itu & cuma menginginkan bahan penelitian
i am not really supprise for that, tapi buat tim kea gitu pasti butuh research fund yang close to a country
dan cuma instansi pemerintahan atau squad terorist level collosal yang punya dana sebesar itu

tapi judging dari behaviour mereka keanya gak mungkin itu instansi pemerintahan -_-a
dan lagi gimana caranya raptor bisa mengidentifikasikan choosen ditengah keramaian kea gitu @_@

dan satu lagi, ergh ini sebenernya author yang kurang kreatif atau apakah, bisa bisanya ada beberapa orang yang punya kemampuan mirip di satu region, berarti kemampuan choosen cuma itu itu ajakah? . _ .

Tapi bagus banget kok ceritanya, aku aja sampe banyak spekulasi gini lol

666

Quote:Original Posted By MaxMarcel
Bagus ini ceritanya emoticon-Belo


Cuman rasanya agak tanggung dalam perbedaan kekuatan raptor sama predatornya. Awalnya gw kira bakal lebih berpengalaman Raptornya dalam menangkap mutant, tapi dari battle scenenya malah keliatan ga punya peralatan yang memadai.

Misal kayak video game Prototype. Buat nangkep Mercer atau si (panggil saja black guy protagonist from Prototype 2 karena gw lupa namanya) pihak penangkepnya dipersenjatai dengan detektor mutan, pasukan superpower, tank, attack chopper dll.

Kalopun tujuannya buat nangkep hidup2. Kenapa ga diserang sama tembakan tranquilizer gun atau gas tidur dari awal emoticon-Thinking

Di luar itu cerita ini nuansa modern day-nya udah berasa dan bisa mengalir dengan baik. emoticon-thumbsup:


sebelumnya terima kasih suhu, uda mau baca cerita di post perdana saya ini.. masukan masukannya saya terima dan emang bener juga si, gw baru kepikiran soal senjata pasukan raptors yang terlalu ordinary. sebagai bahan pembelaan aja, gw ga mensetting cerita ini jauh di masa depan. jadi senjatanya juga seadanya aja di masa ini emoticon-Peace

dan untuk yang di bold, tujuan raptors hanya membawa mutant kembali ke headquarters. tidak peduli apakah mesti hidup atau mati.
chapter 2 ada dibawah nih, kalo ada waktuboleh baca baca lagi.
arigatou-okini.

Quote:Original Posted By UchaUcha
^yep, amateur and reckless lol

tapi cukup ngemodal loh mereka, nyiapin lebih dari 2 helikopter buat invasion (ew.... invasi club ajeb ajeb yang biasanya di gedung tinggi pake heli?, if it were me, i prefered a black van and some special unit for that)

and btw ada yang aneh sama raptor disini, dengan gegabahnya ngeinvasi satu ruangan yang jelas banyak civiliantnya, egh itu kan bisa membahayakan, seolah olah raptor gak peduli sama semua itu & cuma menginginkan bahan penelitian
i am not really supprise for that, tapi buat tim kea gitu pasti butuh research fund yang close to a country
dan cuma instansi pemerintahan atau squad terorist level collosal yang punya dana sebesar itu

tapi judging dari behaviour mereka keanya gak mungkin itu instansi pemerintahan -_-a
dan lagi gimana caranya raptor bisa mengidentifikasikan choosen ditengah keramaian kea gitu @_@

dan satu lagi, ergh ini sebenernya author yang kurang kreatif atau apakah, bisa bisanya ada beberapa orang yang punya kemampuan mirip di satu region,
berarti kemampuan choosen cuma itu itu ajakah? . _ .

Tapi bagus banget kok ceritanya, aku aja sampe banyak spekulasi gini lol

Bold; Right & Wrong at the same time. emoticon-Big Grin
Blue; bocoran dikit, choosen berada didua belah pihak.
Green; yang jelas bro/sis kemampuan choosen ada banyak tidak hanya ini aja. karena masih chapter 1, gw takut pembaca belum terbiasa menangkap istilah2 di cerita ini, makanya sebagai pembuka, gw mencoba memasukkan seminimal mungkin pada jenis kekuatan, tapi semaksimal mungkin pada detail kekuatan. *ngeles emoticon-Ngacir

anyway, i love ur critical comments. it quite stab me in some parts. emoticon-Wink

The Chosen - Chapter 2; Spitter The Air Shooter [Part 1]

Spoiler for The Choosen - Chapter 2; Spitter The Air Shooter:

The Chosen - Chapter 2; Spitter The Air Shooter [Part 2]

Spoiler for The Choosen - Chapter 2; Spitter The Air Shooter:

Gw menemukan fenomena bahwa, good bad guy selalu memberikan protagonis dan kawan-kawannya waktu untuk membuat rencana terlebih dahulu emoticon-Nohope

Dan mungkin karena gw kurang konsen, tapi pas lawan spitter. Ehm, spitter mestinya butuh udara buat ngeluarin powernya (I guess), Itu gimana dia bisa diem ngumpulin tenaga pas dicakar ama elang emoticon-Hammer Pain resistant kah? Dan kalo elangnya berubah raksasa, gw rasa itu bukan cuma bahu doang yang luka. Paru2 mestinya juga udah tembus emoticon-Hammer

Maaf, kebiasaan mempertanyakan logic yang ada di film2 atau game2 emoticon-Hammer

666

Quote:Original Posted By MaxMarcel
Gw menemukan fenomena bahwa, good bad guy selalu memberikan protagonis dan kawan-kawannya waktu untuk membuat rencana terlebih dahulu emoticon-Nohope

Dan mungkin karena gw kurang konsen, tapi pas lawan spitter. Ehm, spitter mestinya butuh udara buat ngeluarin powernya (I guess), Itu gimana dia bisa diem ngumpulin tenaga pas dicakar ama elang emoticon-Hammer Pain resistant kah? Dan kalo elangnya berubah raksasa, gw rasa itu bukan cuma bahu doang yang luka. Paru2 mestinya juga udah tembus emoticon-Hammer

Maaf, kebiasaan mempertanyakan logic yang ada di film2 atau game2 emoticon-Hammer


ahahhahaa.... well said bro. mungkin memang sepertinya gw terlalu banyak memasukkan 'spasi' di awal pertarungan, tar coba gw rombak lagi kapan kapan emoticon-Malu (S):

Bold = betul banget bro,ngumpulin udara doang. dan imo ngumpulin udara di paru paru beda sama ngumpulin tenaga.
dan untuk si elang, maksud gw mah berubahnya ga segede gaban gitu bro emoticon-Frown yaa segede banteng laah.

anyway gw lagi baca cerita lo. gila uda banyak bgt. ga jadiin novel aja bro emoticon-Nohope
Quote:Original Posted By LuciferScream


ahahhahaa.... well said bro. mungkin memang sepertinya gw terlalu banyak memasukkan 'spasi' di awal pertarungan, tar coba gw rombak lagi kapan kapan emoticon-Malu (S):

Bold = betul banget bro,ngumpulin udara doang. dan imo ngumpulin udara di paru paru beda sama ngumpulin tenaga.
dan untuk si elang, maksud gw mah berubahnya ga segede gaban gitu bro emoticon-Frown yaa segede banteng laah.

anyway gw lagi baca cerita lo. gila uda banyak bgt. ga jadiin novel aja bro emoticon-Nohope


Oh begitu toh, i see i see emoticon-Belo

Ga sebanyak keliatannya itu mah. Lagipula masih belum tamat emoticon-Hammer

The Chosen - Chapter 3; Travellers [Part 1]

[spoiler=The Chosen - Chapter 3; Travellers [Part 1]]
Chapter 3 – Travellers

Singa itu berjalan dengan perlahan, kukunya yang entah setajam apa mengeluarkan bunyi kasar setiap dia melangkahkan kakinya, seakan menikmati setiap waktunya sebelum menghabisiku. Aku terlalu takut untuk menghadapi mahluk yang tingginya melebihi diriku ini, bahkan aku tidak bisa fokus untuk mengumpulkan udara di mulutku. Ya, mulutku bergetar karena ketakutanku.

Dalam sekejap, singa itu menerjangku mantap, menindihkan tubuhnya yang ternyata tidak seberat yang kukira. Sekarang singa itu mendekatkan taringnya ke wajahku perlahan-lahan, memamerkan taringnya yang meneteskan darah segar. Dia menyeringai dan mengaum dengan suara yang dapat membuat orang normal pingsan. Seketika aku menutup mataku, dan hal itu terjadi.

Diluar dugaanku, mahluk itu tetap bergeming di atas tubuhku. Dan perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi sosok yang aku kenali. Lem. Hanya saja kali ini aku melihatnya dengan sesuatu yang berbeda. Lengan sebelah kirinya tidak berubah menjadi normal kembali, dan tetap menjadi lengan singa. Lengkap dengan cakar dan jari khas keluarga kucing.

Aku mendorong tubuhnya kasar dari hadapanku dan merasa lelucon ini amat sangat tidak lucu. Dia berhasil membuatku malu. Sial.

“Ternyata kekuatanmu tidak sekuat yang orang-orang bicarakan ya anak kecil?” Lem tersenyum mengejek. “Aku kira kau bisa menghadapi Spitter itu sendirian.”

“Dasar bodoh, aku hampir membunuhnya jika saja kau tidak mengganggu” Aku berusaha memalingkan wajahku yang sudah pasti berwarna merah padam.

“Yeah, whatever. You owe me one kiddo.” Lem menunjukku mantap dengan cakarnya yang besar. “Jadi benar apa kata orang-orang itu?” kali ini dia menunjuk tangan kiriku.

Aku melihat lengan kiriku dan melenguh. “Ya begitulah.” Lengan kiriku kini sama persis dengan Lem, mempunyai bentuk lengan singa, lengkap dengan cakarnya yang terlihat barbar.

Inilah konsekuensi yang harus aku hadapi ketika menggunakan kekuatan Copier berantai. Setiap efek negatif yang terjadi pada host yang aku copy akan terjadi padaku juga. Sedangkan para Morpher tidak bisa berubah menjadi manusia yang utuh jika stamina, energi, aura, - atau apapun namanya - yang mereka pakai habis. Sebagian anggota tubuh terakhir yang mereka gunakan akan tetap ada. Tapi tentu saja hal ini hanya sementara.

“Bagaimana kau bisa sampai disini?” Aku bertanya.

“Yah, Spitter itu sebenarnya menyerempetku sedikit, tapi aku berpura-pura terkena telak agar terlihat dramatis. Tapi ternyata peluru itu melukai bagian sayapku, hingga aku tidak bisa merubah diriku lagi menjadi hewan bersayap besar. Dan akhirnya aku memilih menjadi lebah, ke tiga sayapnya ternyata cukup kuat untuk membawaku ke atas sini, meskipun dengan waktu yang lama. Oh ya, dimana Gel?” Tanya Lem.

“Ah, Gel!” Aku tersentak mendengar pertanyaan Lem, teringat akan tubuh Gel yang terkena tembakkan Spitter sebelumnya. Aku berbalik dan terpincang-pincang mencari Gel.

Aku menyapu pandanganku ke sekeliling atap gedung ini, berusaha mencari sosok gempal yang bernasib sial itu. Cukup lama aku mencari Gel hingga aku menyadari bahwa dia tidak ada di tempatnya lagi. Hanya ada genangan darah di tempat Gel terkena tembakkan, kemudian ada beberapa tetesan darah yang menjauh. Setelah itu jejak darahnya benar-benar hilang. Seakan-akan Gel hilang ditelan atap.

“Aku bersumpah dia terbaring disini!” aku menunjuk-nunjuk genangan darah yang ada di hadapanku dengan cakarku.

“Apa yang terjadi? Darah siapa ini!”

“Gel terluka parah oleh Spitter itu, dia tertembak dua kali. Satu tembakkan menghancurkan sisi lengan bagian dalamnya. Dan satu lagi…” Aku menghentikkan ucapanku. “Membuatnya terlempar kesini.”

Lem terlihat panik, dia melihat genangan darah itu sebentar dan berlari mengelilingi gedung mencarinya. Hasilnya nihil. Lem menggelengkan kepalanya ke arahku dari belakang salah satu ventilator.

“Mungkin dia terjatuh kebawah gedung.” Ujar Lem sambil menghampiriku.

“Tidak mungkin, aku sangat yakin dia tidak terpental sejauh itu Lem.”

Meskipun aku menampik pendapat Lem, aku dan Lem menghampiri sisi gedung dan melihat kebawah. Mencoba memastikan perkataanku sendiri. Jika saja aku masih memiliki kekuatan Visoner, aku pasti bisa melihat dengan jelas hingga ke dasar gedung ini.

“Ini tidak mungkin.” Ujarku memecah keheningan.

Lem mengacuhkanku, alih-alih dia menatapku tajam, penuh curiga. “Kau harus menemukannya anak kecil.”

Aku membalas tatapan dinginnya, mencoba memahami arti tatapan tidak percayanya itu. Hingga sebuah teriakan mengalihkanku dari situasi yang tidak nyaman ini.

“LEEM!”

Seorang gadis yang tidak asing melambaikan tangannya sambil berteriak dari seberang gedung. Gadis Porter. Lem melambaikan tangannya dan memberi isyarat untuk datang ke gedung ini. Beberapa menit kemudian, dua orang gadis keluar dari sebuah portal berwarna oranye kekuningan.

Aku menghampiri mereka, “Bagaimana dengan Irish?”

“Kami mengenali seorang Healer di dekat sini, tapi dia kehabisan medium untuk menyembuhkan dan menutup lukanya.” Seorang gadis yang berdandan retro menjawab dengan cepat.

“Kita harus segera menemukan medium. Pendarahannya sangat parah.” Ujar gadis yang lain menambahan.

Aku berfikir sejenak dan teringat akan sosok Spitter yang tewas mengenaskan. “Kita bawa dia.” Aku menunjuk sosok pria yang wajahnya sudah tidak dapat dikenali lagi.

Gadis retro itu meringis, dan aku bisa melihat wajahnya yang terlihat sedikit mual. “Apakah dia..”

“Ya, dia orang yang menembak Irish, aku, dan dua temanmu. Sekarang dia harus bertanggung jawab.”

“Coral, bawa mayat Spitter itu ke tempat Healer, dan gunakan tubuhnya sebagai medium. Kami akan menyusul. Yuri, kau tetap disini, aku membutuhkan kekuatanmu” Ujar Lem memberi perintah.

“Dimana Gel?” Gadis retro itu –Yuri, bertanya dengan suaranya yang seperti anak kecil.

“Nanti kuceritakan. Sekarang buka Portal waktumu menuju 20 menit sebelum sekarang, dan kau ikut denganku anak kecil.” Lem kembali menunjukku.

Aku menganggukkan kepalaku. Sepertinya dia kesal denganku. Seakan-akan hilangnya Gel menjadi tanggung jawabku. Bodoh.

“Kalian terluka, sebaiknya kalian ikut denganku untuk mengobati luka itu.” Coral menunjuk daguku dan ke arah ketiak sebelah kanan Lem. Aku juga baru menyadari, ternyata Lem terluka di bagian itu karena sebelumnya tertembak peluru senapan Spitter.

“Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil.” Lem mengangkat lengannya dan memperlihatkan lukanya. “Hanya satu goresan yang tidak dalam, mungkin butuh sedikit jahitan.”

“Ya, aku bisa bertahan dengan luka ini.” Aku menambahkan.

“Baiklah, terserah. Aku akan menunggumu di tempat biasa Lem.” Coral beranjak dari tempatnya dan mulai membuka Portal berwarna biru tepat dibawah Spitter itu terbaring. Portal Yuri terbuka lebih dulu, dan kami masuk satu persatu setelah memastikan Coral pergi dengan aman.

[/spoiler]

The Chosen - Chapter 3; Travellers [Part 2]

[spoiler=The Chosen - Chapter 3; Travellers [Part 2]]
Ini pertama kalinya aku memasuki Portal waktu, rasanya agak aneh. Tempat aku berjalan saat ini adalah sebuah lorong besar berbentuk lonjong dengan atap-atau langit yang sangat tinggi. Seluruh ruangannya berwarna putih susu, cahaya berwarna-warni yang berpendar secara acak di atapnya mengingatkanku pada pemandangan bintang di malam hari. Dan ketika aku menyentuh dinding lorong ini, aku merasakan material yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku, rasanya seperti memegang air dan agar-agar secara bersamaan, hanya lebih kenyal dan empuk. Diluarnya terasa dingin dan agak panas didalam dindingnya. Yah seperti itulah.

“Lem, apa yang kita cari?” Tanya Yuri.

“Saudara kita, Gel”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Nanti lihatlah sendiri, Yuri.” Lem menjawab tidak sabar.

Yuri mengerutkan mukanya dan menoleh ke arahku “Kau yakin bisa bertahan denga luka itu-“

“Ya, tidak usah khawatir.” Yuri ternyata khawatir melihatku berjalan dengan sedikit pincang. “Tempat apa ini?” Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.

Worm Hole.” Ujar Yuri mantap. “Ketika para pelintas waktu menggunakan kekuatannya, mereka harus menyeberangi jembatan ini. Dan cahaya berwarna warni yang kau lihat diatas sana adalah para Porter Time seperti kita yang sedang berjalan menyeberangi Worm Hole.”

Ternyata jumlah pelintas waktu sangat banyak. Tidak heran, menurut sepengetahuanku mereka adalah mutant berkasta rendah tipe Observer. Dan jumlah mereka memang sangat banyak. Berbeda denganku yang bertipe Favorable, jumlah kami sedikit, dan -kata orang-orang- kami memiliki kekuatan yang terlalu kuat. Well, mereka ada benarnya, tapi kurasa mereka melupakan satu hal. Dengan kekuatan yang besar, selalu ada konsekuensi yang sama besarnya bagi pemakai kekuatannya. Seperti yang kurasakan saat ini, pandangan mataku mulai kabur dan sedikit buram. Sesaat lagi pandanganku akan berubah menjadi mode duotone atau hitam putih. Aku tahu pasti hal ini, karena aku sering meminjam kekuatan Irish sebelumnya. Inilah efek samping dari seorang Visioner. Mematikan seluruh fungsi retina dalam mengurai warna. Sehingga aku hanya bisa melihat warna hitam dan putih, hal ini akan terus bertahan tergantung dari berapa lamanya kau memakai kekuatan Visioner. Tinggal satu lagi efek negative yang belum kurasakan, Gigantros. Andai kalian mengerti beratnya menanggung kekuatan seperti ini, mungkin kalian akan berbalik mendukung dan menyemangatiku.

Setelah kira-kira berjalan sejauh 100 meter, kami sampai dan keluar dari pintu Portal berwarna merah. Letak Portal tempat kami keluar sama persis dengan letak Portal kami masuk sebelumnya.

“Mulai saat ini apa yang kalian lihat adalah kejadian di tempat ini, tepat 20 menit yang lalu, kalian tidak bisa melakukan apa-apa di dalam sini. Termasuk berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Begitu pula sebaliknya.” Ujar Yuri memberi penjelasan.

Aku dan Lem menganggukan kepala bersamaan.

Sekarang aku sedang berdiri di atap gedung yang kosong, berusaha mencari diriku dan Gel di 20 menit yang lalu. Dan suara hembusan angin besar di atas kepalaku membuatku menoleh ke arah suara itu. Itu dia, Aku melihat Gel-yang berbentuk elang- sedang mencengkeram Spitter itu di bahunya. Pada saat Gel tertembak di sayapnya, Yuri Cumiik pelan. Dan pada saat Gel tertembak di kali kedua, dia memalingkan wajahnya. Aku juga mengakui, ini bukan pemandangan biasa yang dapat dilihat semua orang. Apa yang kusaksikan ternyata lebih sadis dari yang dapat kuingat.

Sesaat setelah Gel terpelanting dan tergeletak tidak sadarkan diri, aku tidak mengalihkan pandanganku dari tempat Gel terbaring. “Kau lihat sendiri Lem? Sekarang kau bisa memalingkan tatapan kecurigaanmu itu pada orang lain”

“Aku baru mengenalmu anak kecil, wajar jika aku menaruh curiga padamu.”

“Sudahlah kalian berdua, ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan disini.” Ujar Yuri menengahi.

Kami bertiga mengamati suasana di sekitar tempat ini sambil mengawasi Gel. Dan tiba-tiba tubuh Gel hilang dalam sekejap. Aku yang keheranan menoleh ke arah Lem, dan dia pun terlihat sama herannya denganku.

“Kalian melihatnya?” Ujarku sambil melihat ke sekeliling. Mencoba mencari sesuatu yang dapat menjadi petunjuk.

“Tidak sama sekali. Yuri?”

“Aku juga tidak melihat apa-apa, biar kulihat sekali lagi.” Yuri mengibaskan lengannya ke udara dan keadaan di sekitar kita kembali pada saat-saat Gel terpelanting. Dan berulang-ulang kami melihat, hal yang terjadi tetap sama. Tubuh Gel hilang secara tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahiku. “Ini tidak mungkin.”

“Kita belum menyelesaikan rekaman waktu ini, tetaplah waspada mencari sesuati.” Ujar Yuri.

Dan kami melihat saat-saat Spitter diterjang oleh singa itu, sekali lagi Yuri menolehkan pandangannya. Lalu saat Lem menindihku, Hingga tiba saat dimana aku dan Lem menoleh kebawah gedung mencari Gel. Saat itulah aku melihat tubuh Gel muncul kembali di tempatnya semula, namun kali ini tubuhnya ditopang oleh seorang laki-laki berbadan besar di bahunya. Tentu saja pada saat itu aku tidak melihatnya karena teralihkan oleh panggilan Yuri & Coral dari seberang gedung.

“Yuri, pause.” Ujar Lem memberi perintah. Dan seketika semua gerakan di rekaman waktu itu terhenti. Lem mengamati pria itu lekat-lekat.

“Siapa dia?” Yuri bertanya padaku seakan-akan aku mengenalnya.

“Entahlah, bukan seseorang yang kukenal.” Aku berjalan mendekat pada pria berbadan besar itu. “Yuri, kau yakin aku tidak bisa melakukan apa-apa padanya saat ini?”

“Ya, coba saja”

Aku mengeluarkan cakar di tangan kiriku dan mencoba menebasnya. Hasilnya nihil. Aku hanya menebas angin. Aku mencobanya berkali-kali dan hasilnya sama. Aku menggelengkan kepalaku.

Yuri melanjutkan rekaman waktunya dan aku semakin yakin bahwa pria berbadan besar itu sepertinya seorang Blinker. Tidak lama kemudian tubuh pria itu terbang mundur dengan cepat menuju gedung lain yang lebih tinggi dan menghilang.

“Blinker.” Aku memecah keheningan.

“Apa itu?” Tanya Yuri.

“Salah satu mutant yang memiliki kemampuan untuk menghilang setiap kali dia berkedip. Dan selama dia memejamkan matanya, dia akan tetap menghilang. Termasuk apapun yang mereka sentuh.” Ujar Lem sambil melipat kedua tangannya di dadanya. “Tapi selama yang kutahu, mereka tidak memiliki kemampuan untuk terbang.”

“Mungkin ada seorang Puller diatas gedung itu.” Aku menunjuk ke arah gedung yang dituju pria tadi. “Mereka bisa menarik dan mendorong sebuah objek. Namun mereka harus menyentuh objeknya terlebih dahulu jika ingin mengontrol objek yang berada dalam radiusnya.”

“Apa yang kita lakukan sekarang?” Yuri terlihat khawatir “Apa… apa… mereka akan membunuh Gel?”

“Kurasa tidak, mereka membutuhkan cerebro spinal fluidnya dalam kondisi terbaik. Pertama-tama mereka akan memulihkan Gel, lalu mungkin dia akan ditahan dan di jadikan sumber kekuatan untuk membuat mutant-mutant baru, satu hal yang pasti, dia akan terlihat lebih kurus jika kalian menemuinya lagi,” Aku mencoba berkelakar. Namun sepertinya ini saat yang buruk, karena tidak ada yang tertawa. Aku menyesali kebodohanku.

“Yuri, kita kembali sekarang.” Sekilas aku melihat tatapan mata lem berkilat. Dia tampak sangat marah. Mudah-mudahan bukan karena lelucon burukku tadi.

“Kembali kemana?” Aku bertanya pada Lem.

The Vault” Ujar Yuri sambil beranjak.

Sedangkan Lem kembali mengacuhkanku. Sial, dia marah karena leluconku tadi.

***
[/spoiler]
damn I forgot to continue this story. anyway, sundul gan

The Chosen - Prologue

The Chosen - Prologue
Spoiler for The Chosen-Prologue: