alexa-tracking

[Orific] Animus

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51011e027d12439a3b000003/orific-animus
[Orific] Animus
Halo para penghuni fanstuff
izinkan nubi ini meng-share karyanya emoticon-Malu
masih chapter 0 sih, masih cari-cari referensi dulu soalnya hehe emoticon-Malu emoticon-Hammer

Genre : Drama, Supernatural, Romance

enjoy emoticon-Angkat Beer
ditunggu kripik pedasnya emoticon-Malu

Spoiler for chapter 0:



reserved ah emoticon-Malu
baru kelar baca emoticon-Thinking

masih belum bisa banyak komentar, karena belum ngerti ceritanya apa.
jujur aja, ane paling gak ngerti cerita2 yang abstrak/konotatif/simbolik emoticon-Hammer

yang bisa dikomenin cuma penulisannya aja. sejauh ini oke, udah tau kalo imbuhan -pun harus dipisah (kecuali untuk walaupun dll.) emoticon-Hammer

ada beberapa kalimat yang kerasa ganjil sih, tapi di chap2 awal fict ane juga banyak yang kayak gitu. sering2 baca buku dan baca ulang fictnya, nanti kalo ngerasa ada yang janggal langsung edit biar makin mantep deh emoticon-Cendol (S)
Quote:


emoticon-Ngakak (S)

iya, aku inget ajaran guruku dulu soalnya emoticon-Hammer
katanya kalau dipisah dan bisa diganti jadi kata 'juga'. berarti bener hehe
makanya kadang ngebayangin ulang kalimat yang ada pun-nya emoticon-Ngakak (S)

yang mane? emoticon-Hammer
Panduan nulis kalimat langsung:

  1. "Udelsmith, kemarin kamu ke mana, sih?" aku bertanya dengan nada ketus.
  2. "Udelsmith, jangan pernah kembali lagi ke sini!" aku membentaknya kasar.
  3. "Udelsmith, asal kau tahu saja, kakakmu sudah jarang berkeliaran di daerah ini," aku menghela napas panjang.
  4. "Udelsmith, sebenarnya..," ucapanku terputus oleh suara gaduh kereta yang lewat di rel sebelah kami.


Jangan kebanyakan membubuhi tanda titik berturut-turut. Dua-tiga titik cukup untuk menggambarkan kalimat terputus atau bentuk keragu-raguan.

Untuk kalimat yang terpotong, jangan tiru literatur asing, such as, "What the he-"
Nope, ain't gonna work. Looks awkward anyway, to me. Just cut it per word. Never cut it half word.

As for story, I haven't read. I just skimmed through anything.

Hindari menggunakan efek suara dalam bentuk cerita tertulis. Efek suara hanya cocok untuk karya dalam bentuk gambar.

--After reading
Bedakan kata depan sama imbuhan ya, masih ada yang salah emoticon-Hammer (S)

Sisanya ya emang lantaran ketrampilan nulisnya perlu diasah, terutama untuk mendeskripsikan kejadian emoticon-Hammer (S) Emang susah, sih, aku aja juga baru belajar. Banyak banget yang masih kerasa ganjil di bagian tengah.

Adegan berlarinya kurang bagus. "Memajukan tubuh"?

Adegan lantai yang pecah satu persatu juga kurang bagus. Lebih tepatnya, awal kejadiannya juga agak kagok. Pertama, kalau mau mendobrak sesuatu, orang cenderung memukul, bukan meninju. Beda lho, bagian tangan yang dipakai meninju sama memukul. Meninju kan pakai bagian depan genggaman tangan. Memukul itu biasanya memakai sisi lain dari genggaman tangan. Apalagi mengingat yang berusaha didobrak ini bagian lantai, orang mustinya secara insting menggunakan anggota badan yang paling dekat, yaitu kaki. Jadi cara yang paling wajar itu menendang permukaan lantai, berikutnya mungkin menginjak-injak atau melompat-lompat, baru diikuti memukul. Kalau yang didobrak itu bagian tembok, yang wajar itu memukul atau mendobrak menggunakan badan, baru menendang.

Penyebab cerita kurang ngalir ya kemungkinan karena pilihan perilaku si protagonis ini kurang alami. Mungkin pengecualian juga sih kalau si protagonis ini petinju, jadi dia memilih menggunakan jab. Tapi kalau target tinjunya lantai, rasanya posisi jab tidak memungkinkan, deh.

Terus adegan lantai mulai retak dan tenggelam satu persatu itu kelihatan kalau bingung deskripsinya karena pakai jalan pintas dengan kata "seperti kaca yang mulai hancur dan jatuh", langsung memberikan perbandingan perumpamaan dengan benda lain padahal sebelumnya tidak pernah diceritakan bahwa si protagonis berdiri di atas kaca.

Menurutku bisa deh diceritakannya gini: (cuma contoh, belum tentu bener juga, sih -_-)
* * *

Tepat pada pukulanku yang terakhir, retakan pada permukaan lantai itu akhirnya semakin besar dan membuatnya hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang kemudian jatuh dan menghilang. Aku mencoba melongok ke dalam lubang yang muncul dari retakan tadi untuk memeriksa ruangan apa yang ada di bawah sana, tapi yang kulihat hanyalah ruang hitam pekat dan kelihatannya tidak ada batasnya.

Pada beberapa detik berikutnya aku mulai mendengar bunyi gemeretak dari sekitarku. Firasatku menjadi tidak enak dan benar saja, ternyata retakan-retakan lain mulai merambat dari lubang kecil yang baru saja kujebol tadi. Tak perlu waktu lama sebelum akhirnya permukaan lantai di sekitarnya juga akan segera jatuh menjadi kepingan-kepingan.

Aku pun berlari menjauhi lubang tersebut, berusaha mengindari bagian permukaan yang retak agar aku tidak ikut jatuh ke dalam ruangan hampa hitam itu. Namun suara gemeretak itu semakin keras dan tanpa kusadari, permukaan yang saat itu kupijak telah menjadi kepingan kecil dan aku pun terjatuh.

Sensasi jatuh itu terasa begitu memualkan. Kamu seperti tenggelam dan terus tenggelam jauh ke dalam lautan hampa berwarna hitam, yang seolah tampak pekat tapi ternyata begitu kosong. Aku terus terjun bebas ke bawah tanpa kendali, sebelum akhirnya aku dibangunkan oleh suara teriakan keras.
* * *

I'm not a fan of written sound effect in written fiction. Menurutku adegan mimpi dan adegan kenyataan bisa disambung tanpa menggunakan pemisah jelas.

Itu dulu, deh, mungkin, 4Rt emoticon-Hammer (S) emoticon-Betty (S)
Masih banyak sebenernya, tapi biar nemuin sendiri aja emoticon-Cendol (S)