alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50fa10e15b2acf865500000c/inspiratif-indonesia-kisah-dwi-cahya-ningsih-memerangi-kebodohan-di-air-kelubi
(INSPIRATIF INDONESIA) Kisah Dwi Cahya Ningsih Memerangi Kebodohan Di Air Kelubi
Quote:MAAF JIKA THREAD INI emoticon-Blue Repost

Quote:Bermodal Ijazah SD, Membuka Cakrawala Desa Tertinggal

Quote:
(INSPIRATIF INDONESIA) Kisah Dwi Cahya Ningsih Memerangi Kebodohan Di Air Kelubi

Air Kelubi merupakan salah satu desa tertinggal dan terisolir di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Desa yang terletak di gugusan Pulau Buton ini merupakan salah satu pemukiman Suku Laut di Kabupaten Bintan. Selama berabad-abad mereka hidup berpindah-pindah di lautan lepas di atas perahu yang mereka sebut kajang sepanjang 4 meter dan lebar 2 meter.

Oleh Pemerintah Kabupaten Bintan yang dulu masih bernama Kabupaten Kepulauan Riau, Provinsi Riau pada awal tahun 1990-an suku laut ini dibuatkan rumah panggung agar mereka pindah ke darat. Program pemindahan ke darat ini baru berhasil efektif sekitar awal 2000-an. Namun masih ada diantara mereka yang memilih tinggal di laut.

Untuk mencapai desa ini perlu waktu yang cukup lama. Itu pun tergantung kondisi cuaca dan air laut. Jika cuaca lagi baik dan air laut pasang (naik, pen) tinggi, untuk mencapai Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau, menghabiskan waktu sekitar 6 jam. Dan untuk menuju kota terdekat, yakni Kijang, ibukota Kecamatan Bintan Timur dibutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Sebaliknya jika angin bertiup kencang, penduduk di desa ini lebih memilih tidak berpergian karena ombaknya sering tidak bersahabat.

Tidak mengherankan, jika sekarang desa ini masih jauh tertinggal dan terisolir dibandingkang desa-desa lainnya di Kabupaten Bintan. Dari sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di desa tersebut yang sebagian adalah penduduk asal Suku Laut, hanya satu orang yang tamat SLTA. Tamat SD atau SLTP dapat dihitung dengan jari saking sedikitnya. Di desa itu hanya ada satu SD. Dan, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP dan SLTA, anak-anak di desa ini harus keluar ke desa terdekat dengan menyeberangi laut yang cukup luas.

Tidak mengherankan jika banyak anak usia sekolah yang putus sekolah atau tidak pernah sekolah sama sekali karena mereka masih memandang hidup di laut lebih enak daripada belajar di bangku sekolah.

Di desa terisolir inilah Dwi Cahya Ningsih mengabdikan diri mengajar anak-anak tempatan. Bermodal ijazah SD yang diperolehnya dari SD Negeri 003 Kramat 3 Magelang, Jawa Tengah tahun 1984. Pada tahun 2004 dia membentuk kelompok belajar bagi anak-anak dan kelompok pengajian bagi ibu-ibu yang dipusatkan di Mesjid Nurul Iman. Secara rutin kelompok belajar dan pengajian tersebut mengundang ustadz untuk memberikan siraman rohani. Kalau ustadz tak datang, Ningsih menyiasatinya dengan mendengarkan ceramah melalui radio di handphonenya.

“Handphone saya taruh dekat speaker agar suaranya besar. Dari situlah kami mendengarkan suara ustadz yang memberikan ceramah,” ujar Ningsih sapaan akrabnya.

Namun setelah berjalan tiga tahun, kelompok belajar dan pengajian yang didirikannya itu mulai dipertanyakan keberadaannya oleh masyarakat. “Waktu itu saya nyaris putus asa. Rasanya saya mau menangis dan berhenti mengajar,” kenang Ningsih.

Di tengah keputusasaan itulah sang suami tercinta Rustono memberikan dorongan agar jangan terlalu lama larut dengan kesedihan. Suaminya waktu itu adalah satu-satunya orang yang tamat SLTA di desa tersebut. “Dia bilang begini. Kalau tidak ibu yang mengajar anak-anak dan ibu-ibu di sini siapa lagi yang bisa diharapkan. Ibulah yang diharapkan mampu memberikan pencerahan dan penerangan agar desa ini keluar dari kegelapan yang menimpa selama ini. Ayo Bu bangkit! Jika kita berjuang dengan niat yang tulus, niscaya Tuhan membantu kita,” kata Ningsih.

Atas inisiatif suaminya yang bekerja sebagai pencari kayu dan nelayan tradisional tersebut pada tahun 2007, proses pembelajaran dipindahkan ke rumahnya yang berjarak 2,5 Km dari Mesjid Nurul Iman. Jadilah rumah panggung berukuran 8 X 6 meter milik mereka sebagai tempat belajar. Karena ruang kelas belajar tak ada, sekat-sekat ruang tamu dan dua kamar itu dibuka sehingga menjadi plong dan digunakan sebagai ruang kelas belajar.
(INSPIRATIF INDONESIA) Kisah Dwi Cahya Ningsih Memerangi Kebodohan Di Air Kelubi

Karena tidak punya dana untuk membeli alat peraga, Ningsih mengolah bahan-bahan yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggalnya sebagai alat peraga. Jadilah kardus, kulit kerang, gonggong, ranga, daun-daun, serbuk kayu, serbuk kelapa, dan lainnya sebagai alat peraganya. “Habis belajar, alat peraga sederhana itu dicampakkan anak-anak ke laut. Ya, bagaimana lagi, rumah panggung saya berdiri di atas laut,” ujar Ningsih sembari tersenyum.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, sekolah PAUD yang didirikan Ningsih mengalami kendala, terutama soal perizinannya. Sebab, salah satu syarat untuk mendirikan sekolah itu adalah pengelola dan pengajar harus memiliki ijazah minimal setingkat SLTA. Ningsih tak punya ijazah sebagaimana yang dipersyaratkan karena dia hanya memiliki ijazah SD. Ini problem serius untuk kelangsungan proses belajar dan mengajar di lembaga yang dirintisnya dengan susah payah.

Lagi-lagi atas dorongan suami tercinta, Ningsih ikut Paket B dan C di PKBM Karang Bertuah di Desa Kelong yang berjarak sekitar 2 Km dari desanya. Perjuangannya ikut paket itu cukup melelahkan karena dia harus menyeberangi lautan. Sekali dalam seminggu, jika tidak ada angkutan perahu bermotor atau pompong, dia diantar oleh suaminya dengan menggunakan perahu menyeberangi lautan menuju tempatnya belajar.

Berkat kegigihan, akhirnya Ningsih berhasil lulus Paket B tahun 2009 dan Paket C tahun 2011. “Setelah lulus Paket C saya sebenarnya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Univeritas Terbuka. Namun ada sedikit persoalan yang mengganjal. Sampai sekarang ijazah Paket B dan C belum saya ambil karena secara administrasi saya belum melunasi biaya selama mengikuti kedua Paket tersebut,” ujarnya dengan raut dan mimik sedih.

Menurut Ningsih untuk menebus kedua ijazahnya itu perlu biaya sekitar Rp4 juta dengan rincian Rp1,5 juta untuk mengambil ijazah Paket B dan Rp2,5 juta untuk Paket C. Uang tersebut merupakan akumulasi dari jumlah biaya yang harus diselesaikannya selama mengikuti Paket ditambah administrasi saat ujian.

Merasa keberatan dengan biaya sebanyak itu, selulus Paket B tahun 2009 dibantu guru SD 005 Air Kelubi yang peduli dengan pendidikan, Ningsih nekad membuka Paket A, B, dan C di kampung halamannya itu. Warga belajar yang ikut Paket di lembaganya tidak dikenakan biaya alias gratis. Dan kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Pada tahun 2012 Paket yang diselenggarakannya sudah meluluskan 68 orang warga belajar dengan rincian 15 orang Paket A, 22 orang Paket B dan 23 orang Paket C.

“Sekarang 107 warga belajar sedang mengikuti proses pembelajaran di lembaga yang kami kelola,” ujar Ningsih bersemangat.

Aktifitas Ningsih mengajar tanpa pamrih itu, rupanya terdengar sampai ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan. Tahun 2008, tim yang dipimpin Pengawas Sekolah Taman Kanak-kanak (TK), Jamilah turun mengecek proses pembelajaran yang dilakukan Ningsih. Betapa terkejutnya mereka ternyata proses pembelajaran itu berlangsung di rumah panggung dan tenaga pengajarnya hanya lulusan SD.

Perlahan, proses pembelajaran dibenahi. Tim dari Bappeda Kabupaten Bintan pun menyusun program pembangunan gedung sekolah PAUD. Alhamdulillah, gedung PAUD bantuan Pemerintah Kabupaten Bintan kini sudah berdiri walau baru hanya satu ruangan kelas belajar. Anak-anak yang semula berdesakan belajar di rumah panggung milik Ningsih, kini sudah pindah ke gedung yang baru itu.

Dan, Ningsih pun mulai mendapat perhatian. Sejak 2008 s/d 2010 Ningsih menerima insentif Rp300 ribu setiap bulannya dari Pemerintah Kabupaten Bintan. Kemudian sejak 2011 s/d sekarang insentif naik menjadi Rp400 ribu setiap bulannya. Sejak 2011 dari Provinsi Kepulauan Riau, Ningsih menerima Rp1 juta setahun yang diterima Rp500 ribu per-enam bulan.

Oleh Ningsih, insentif yang diterimanya disisihkan Rp150 ribu setiap bulannya untuk dua orang temannya yang membantunya mengajar PAUD yang dikelolanya. “Teman saya, Halimah dan Tri Yulianti yang sekarang sedang mengikuti Paket C belum mendapatkan insentif dari Pemerintah Kabupaten Bintan. Saya dan suami berinisiatif, insentif yang saya peroleh disisihkan untuk mereka,” ujar Ningsih.

Kemudian bantuan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pun mengalir ke PAUD yang dikelola Ningsih sebesar Rp21 juta. Dana itu digunakannya untuk membeli alat peraga dan pakaian seragam anak PAUD.

Kini dukungan masyarakat Air Kelubi terus mengalir. “Dulu orang boleh tertawa dengan apa yang saya lakukan, sekarang masyarakat melihat apa yang saya lakukan juga untuk anak-anak mereka. Saya ingin hidup saya ini terasa ada di mana saya berada, bukan sebaliknya. Saya tak pernah berhenti mengabdi untuk anak-anak Air Kelubi yang saya cintai ini,” jelasnya seraya mengatakan dulu sempat dicurugai, sekarang alhamdulillah mulai dihargai.***



Quote:SUMBER

Quote:Sungguh mulia niat ibu ningsih ini untuk memerangi kebodohan,semoga semua kebaikan yang beliau lakukan atas dasar ikhlas tanpa ada embel2 dan maksud tertentu,LANJUTKAN PERJUANGANMU BUK..

Quote:KASKUSER YANG BAIK ADALAH KASKUSER YANG MEMBUDAYAKAN KOMENTAR dan MEMBERI emoticon-Rate 5 Star,juga MEMBERI emoticon-Blue Guy Cendol (L)

Lanjutan

Quote:Demi Mimpi, Tidur di Surau

Quote:

(INSPIRATIF INDONESIA) Kisah Dwi Cahya Ningsih Memerangi Kebodohan Di Air Kelubi

Suatu ketika tahun 2008, Ningsih nekad mendatangi kediaman Dewi Kumalasari, istri Bupati Bintan, Ansar Ahmad. Butuh waktu enam jam lama perjalanan dia baru sampai di rumah Dewi yang terletak di Jl. MT Haryono Gg Eboni No. 11 Tanjungpinang tersebut.

Namun sayang, yang dicari waktu itu tak di rumah karena lagi keluar daerah. Ningsih sudah bertekad tidak akan pulang sebelum bertemu dengan istri Bupati Bintan tersebut.

Ketika hari kian larut yang dicari belum juga pulang ke rumah, Ningsih nekad tidur di Surau Ashhabul Yakin yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah Dewi. “Waktu itu saya tak punya uang untuk menginap di hotel. Atas seizin pengurus surau saya numpang nginap di surau itu,” kenang Ningsih yang tidur seorang diri di surau tersebut.

Besok harinya barulah Ningsih bertemu Dewi yang baru pulang. Ketika bertemu dengan orang yang dicarinya itu, Ningsih mengutarakan isi hatinya ingin mendirikan sekolah PAUD di kampung halamannya. Berharap restu, yang didapat malah sebaliknya. Dewi malah menyarankan agar Ningsih mengurungkan niat mewujudkan impiannya mendirikan sekolah. “Ngapain ibu capek-capek ngurusin anak-anak seperti itu,” kata Dewi ketika itu kepada Ningsih.

Namun Ningsih tetap ngotot. Kepada Dewi, ia bilang apapun yang terjadi di kampung halamannya harus berdiri sekolah PAUD. “Ibu Dewi terkejut dengan jawaban saya. Lalu bertanya mengapa ibu senekad itu. Saya katakan saja. Saya memang orang tidak berpendidikan tinggi, namun anak-anak di kampung saya tidak boleh seperti saya.”

Hati Dewi akhirnya luluh. Dewi pun memberikan dukungan kepada Ningsih. “Silahkan Ibu jalan dulu nanti kami pantau bagaimana perkembangannya,” nasehat Dewi.

Mendapat “restu”, Ningsih pulang dengan hati gembira dan berbunga-bunga. Pelan tapi pasti dia memulai merajut untuk mewujudkan impiannya itu. Bermula dari rumah yang layak dikatakan “gubuk”, kini sudah berdiri bangunan bantuam dari Pemerintah Kabupaten Bintan untuk mendidik anak usia dini belajar sambil bermain. Alhamdulillah.

Tak hanya PAUD melalui PKBM Insan Cendikia yang dirintisnya, Ningsih melebarkan sayapnya dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sengkuang Mandiri akhir tahun 2008 dan Keaksaraan Fungsional (KF) tahun 2012. Bahkan, Ningsih kini mengelola empat PAUD di Desa Air Kelubi yang terletak di Tanjungprindit, Pulau Buton, Tanjungsengkuang, dan Pulau Kecil.***

Biodata

Nama : Dwi Cahya Ningsih
Lahir : Magelang, 6 Februari 1974
Suami : Rustono
Anak : Yan Budi Prasetyo, Indrayan Cahyono, Febby Azahra Putri, Melati Indah Sari

Pendidikan :

- SD Negeri 003 Keramat 3 Magelang, Jawa Tengah lulus 1984
- Paket B lulus tahun 2009
- Paket C lulus tahun 2011

Alamat : Desa Air Kelubi, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau

Prestasi dan Penghargaan
1. Wanita Pelopor Pedesaan Kabupaten Bintan tahun 2012
2. Taman Bacaan Masyarakat Terbaik (TBM) se Kabupaten Bintan tahun 2012
3. Pustakawan Terbaik II se Kabupaten Bintan tahun 2012

Kegiatan Sosial

1. Ketua Pengajian Mesjid Nurul Iman Desa Kelubi
2. Ketua HIMPAUDI Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan
3. Pengelola PKBM Insan Cendikia
4. Pengelola TBM Sengkuang Mandiri




Quote:Ningsih Menebarkan “Virus” PAUD di Bintan

Quote:

(INSPIRATIF INDONESIA) Kisah Dwi Cahya Ningsih Memerangi Kebodohan Di Air Kelubi


KETUA Tim Penggerak PKK Kabupaten Bintan Dewi Kumulasari menyebut Ningsih merupakan salah seorang yang memberikan inspirasi dalam perjalanan hidupnya dalam memandang arti penting pendidikan bagi anak usia dini. Dan inspirasi itu berawal dari sebuah kekesalan yang membuat dirinya merasa berdosa sampai saat ini.

Kekesalan itu kata Dewi bermula ketika Ibu Ningsih ngotot mendatangi kediamannya. “Saya sempat menyarankan agar dia mengurungkan niat mewujudkan impiannya tersebut. Jika dulu dia mau menerima saran saya, niscaya di Desa Air Kelubi akan tetap ketinggalan. Untunglah dia tak mau menerima saran saya,” ujar Dewi tersenyum.

Dewi menyebutkan Ningsih telah menyebarkan “virus-virus” PAUD di Kabupaten Bintan. Ke depan diharapkan akan bermunculan Ningsih-Ningsih lainnya di Kabupaten Bintan. Dewi mengaku berdosa dengan Ningsih yang telah membuatnya sadar bahwa masih ada orang yang mengabdikan dirinya mengajar secara tulus dan ikhlas di daerah terpencil di kabupaten yang dipimpin suaminya itu.

Dan, ketika dirinya menerima gelar sebagai “Bunda PAUD” April tahun lalu, Dewi menyebut gelar tersebut secara khusus dipersembahkannya untuk Ningsih. “Ibu Ningsihlah yang seharusnya menerima gelar itu bukan saya,” katanya.

Sementara itu Pengawas Sekolah TK Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Jamilah mengatakan Ningsih merupakan sosok pendidik sejati di Kabupaten Bintan. Kamauannya kuat, keinginan belajarnya juga sangat tinggi. Apapun akan dihadapi untuk menggapai impiannya itu. “Saya salut dengan kegigihan Ibu Ningsih. Mana ada orang yang mau mengabdikan dirinya mengajar di daerah tertinggal seperti itu,” ujar Jamilah.

Menurut Jamilah, sebagai pengawas TK yang berhubungan langsung dengan Ningsih, dia melihat Ningsih sebagai sosok yang ulet dan tahan banting untuk mengangkat pendidikan di desa tempat tinggalnya. Kediamannya bagaikan “sekolah mini” yang tak pernah sepi dari berbagai aktifitas pendidikan dan pengajaran.

Lalu soal administrasi yang belum dilunasi Ningsih, Jamilah mengatakan akan membicarakan dengan atasannya. “Saya baru tahu tentang hal ini. Selama ini Ningsih tak pernah mengeluh soal itu. Sekarang ketika dia mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dia perlu ijazah itu,” ujar Jamilah seraya mengatakan persoalan administrasi yang dialami Ningsih pasti ada jalan keluarnya.

Di sisi lain, Sekretaris Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Pulau Bintan, Suhono juga memberikan apresiasi positif atas atensi dan kepedulian Ningsih dalam mengelola PKBM di desanya. Sebagai bentuk apresiasi, melalui organisasi yang dipimpinnya, Suhono berjanji akan membantu Ningsih dalam mengembangkan PKBM nya.

Menurut Suhono, langkah awal yang akan dilakukan adalah mengumpulkan buku-buku yang akan didistribusikan untuk TBM yang dikelola Ningsih. Setelah itu nanti akan mengundang secara khusus Ningsih untuk berdialog dengan pengurus ISPI membicarakan problem yang dihadapinya.

“Ningsih perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kiprahnya memajukan pendidikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat di pulau yang terpencil itu perlu diapresiasi. Bahkan, Ibu Ningsih pantas menerima award atas pengabdiannya terhadap dunia pendidikan,” ujarnya.***

kampung halaman ane gan emoticon-Rate 5 Star
emang inspiratif.niat banget emang ibu ini... emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Up
kemana para orang2 pintar indonesia yang lain????
miris ya gannn liat negara kita ini...
Quote:Original Posted By pink_laava
kemana para orang2 pintar indonesia yang lain????
miris ya gannn liat negara kita ini...


mungkin yang lain juga sedang berjuang mencerdaskan anak-anak Indonesia yang lain gan. Di pelosok Indonesia yang lain..
emang inspiratif ya gan
Quote:Original Posted By fornewbie


mungkin yang lain juga sedang berjuang mencerdaskan anak-anak Indonesia yang lain gan. Di pelosok Indonesia yang lain..

semoga saja gan
Quote:Original Posted By versailles.p.q
emang inspiratif ya gan


bantu emoticon-Rate 5 Star gan..emoticon-Smilie
ane numpang ngeramain thread ya gan. emoticon-Ngakak (S) emoticon-Malu (S)
Inspiratif banget gan
benar2 mulia hati ibu ini, ingin memberantas kebodohan di kampungnya, meskipun banyak rintangan dan cobaan tapi tetap dilaluinya...
salut buat ibu ini emoticon-thumbsup
orang kyak gini nih yg harusnya dijadiin presiden emoticon-Embarrassments
wah jadi terharu gan emoticon-Mewek

emoticon-rose
salut dech gan buat semangat nya,,
orang gak berpendidikan aja maju
,, tapi yang berpendidikan kemana??emoticon-Cape d... (S)
PNS boro2 mau ky gt..
Kisah nya bener2 bikin terharu emoticon-Mewek