alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50e55a617c12435a3e00000a/misteri-sebuah-lukisan-wajah
MISTERI SEBUAH LUKISAN WAJAH
By :: D.y. Witanto
Cerita ini hanya sebuah fiksi belaka, jika ada nama dan tempat yang kebetulan sama, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya...


Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagi Heru karena ia akan memulai petualangan baru sebagai dokter PTT di sebuah daerah terpencil di pulau paling ujung Republik Indonesia... sebetulnya daerah itu tidak begitu asing bagi Heru karena sejak mulai sekolah dulu ia sering menyanyikannya dalam sebuah bait lagu "dari Sabang sampai Merauke" hanya saja ia belum pernah menginjakan kakinya ditanah rencong itu karena sebelum tahun 2004, Aceh termasuk daerah yang menyeramkan oleh adanya konflik bersenjata dan peristiwa tsunami yang telah menelan korban sampai ratusan ribu jiwa .

Heru mengawali berangkatannya dari Bandara Sukarno Hatta, ia memegang sebuah tiket pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Banda Aceh... matanya melirik jarum jam pada arloji yang menempel ditangannya, lalu setelah mengambil boarding pas di salah satu loket bandara ia kemudian menaiki tangga berjalan menuju sebuah ruangan di lantai atas, cukup lama Heru duduk termenung di ruang tunggu bandara, sesekali ia membuka lembaran koran yang sejak tadi dipegangnya.

Kurang lebih satu jam, sebuah pesawat terlihat medekati pintu pemberangkatan, lalu tidak berapa lama kemudian seorang petugas Angkasa Pura memberikan pengumuman "bagi para penumpang pesawat Lion Air penerbangan Jakarta-Banda Aceh dipersilahkan memasuki pintu pemberangkatan" Heru kemudian bergegas memasuki koridor yang ditunjukan oleh petugas bandara, ia duduk di kursi nomor 25A berdampingan dengan seorang ibu dan satu orang anaknya.
*****

Selepas menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 3 jam seorang pramugari memberi peringatan agar para penumpang kembali mengenakan sabuk pengaman karena sesaat lagi pesawat akan tiba di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh, cuaca hari itu sangat cerah, hingga perjalanan terasa begitu nyaman... Setelah melayang-layang mengitari wilayah Banda Aceh akhirnya pesawat itu mulai menurunkan ketinggiannya sedikit demi sedikit sampai akhirnya terdengar sentuhan ban dengan landasan bandara... pesawat yang membawa Heru mendarat dengan mulus di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh.

Diluar bandara ia menyetop sebuah taksi gelap karena tidak terlihat ada argo yang terpasang disitu, "mau ke kota ya Bang?"... "ke pelabuhan berapa Bang" jawab Heru... "biasa aja bang limpul" Heru terlihat kebingungan mendengar jawaban itu... menyadari orang yang diajak bicaranya tidak mengerti, si sopir taksi tersenyum sambil berkata "maksudnya lima puluh ribu Bang" "oohh...begitu" sahut Heru sambil membuka pintu taksi... perjalanan itu menempuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai pelabuhan penyebrangan.

Terik matahari di kota Banda Aceh begitu terik menggigit kulit hingga Heru harus beberapa kali mengusap keningnya yang basah dengan keringat, namun perjalanan itu cukup menyenangkan bagi Heru karena ia sempat melihat Mesjid Raya Baiturrahman yang selama ini hanya bisa dilihatnya di televisi, ia juga melewati pemakaman masal korban tsunami... hampir satu jam perjalanan telah ditempuh akhirnya sampailah di sebuah pelabuhan yang cukup besar, di pintu gerbang pelabuhan itu tertulis "Pelabuhan Penyebrangan Ulee Lhee" sebuah nama yang aneh bagi Heru, mungkin nama itu diambil dari bahasa Aceh.

Setelah turun dari taksi Heru kemudian bergegas masuk ke ruangan utama pelabuhan itu, terpampang di papan informasi jadwal-jadwal keberangkatan kapal menuju ke Sabang, ia kemudian melihat jam tangannya ternyata keberangkatan terdekat masih menyisakan waktu setengah jam lagi.. Heru menuju ke loket penjualan tiket... "kelas bisnis satu mba" kata Heru sambil menyerahkan uang seratus ribuan... dengan cekatan petugas tiket itu memberikan sebuah tiket dengan uang kembalian sebesar 20 ribu kepada Heru.

Setengah jam kemudian para penumpang terlihat mulai masuk satu persatu ke dalam kapal... Heru menyempatkan untuk mengambil gambar suasana di pelabuhan itu, sebuah nama terpampang pada badan kapal di hadapannya "Pulo Rondo" nama yang unik karena menurut bahasa jawa "rondo" itu adalah perempuan yang telah bercerai dengan suaminya... Begitu masuk ke dalam kapal terlihat ruangan yang cukup mewah, Heru naik ke ruangan di atas sesuai petunjuk yang tertera bagi penumpang dengan tiket kelas bisnis.

Tidak berselang lama kapal itu mulai beranjak dari tempatnya, petugas pelabuhan melepas tambang pengikat kapal... Heru yang tadinya duduk di dalam mulai merasa tidak puas, lalu ia berjalan ke arah pintu belakang dimana terdapat sebuah pintu menuju ke ruangan terbuka, disitu ada beberapa kursi yang disiapkan bagi penumpang yang ingin menikmati suasana di luar... sungguh pemandangan yang indah sekali ketika Heru memandang ke sekelilingnya terlihat hamparan pulau-pulau kecil yang mengitari laut...

selama menempuh perjalanan, laut begitu tenang hamparan air membentang bagaikan kilauan kaca berwarna biru, perahu-perahu nelayan yang sedang menangkap ikan terlihat disekeliling laut menambah keindahan panorama alam bumi serambi mekah saat itu, terkadang sesekali terlihat beberapa ikan lumba-lumba berloncatan mengejar laju kapal, suasana indah itu telah menelan sirna segala keraguan tentang seramnya wilayah Aceh di saat konflik.

Satu jam Heru menikmati perjalanan itu, mulai terlihat dari kejauhan sebuah pulau yang tidak lebih besar dari Nusakambangan, wilayah pantai pulau itu berliku-liku membentuk teluk-teluk yang menjorok ke daratan, perlahan-lahan kapal yang dinaikinya mulai mendekati pulau itu, dari kejauhan terlihat sederetan perahu-perahu nelayan yang tertambat di bibir pantai... di sekitarnya terlihat sebuah dermaga yang tidak terlalu besar, namun cukup lapang untuk menambatkan kapal-kapal seukuran roro... tidak berselang lama kapal itu berhasil merapat di bibir dermaga, lalu dengan cekatan para petugas pelabuhan menarik tambang pengikat kapal dan menambatkannya di pilar besi yang telah tersedia.

Satu persatu penumpang kapal Pulo Rondo mulai keluar dari arah pintu samping, cukup banyak jumlah penumpangnya saat itu, mungkin karena bertepatan dengan musim berkunjung para wisatawan... Heru termasuk dalam barisan terakhir yang keluar dari kapal... terlihat tergopoh gopoh membawa sebuah kopor besar dan sebuah tas jinjing, kepalanya terasa agak pusing mungkin ia belum terbiasa dengan perjalanan laut.

Terminal pelabuhan itu begitu ramai dipenuhi oleh para wisatawan yang melancong, ternyata Sabang adalah daerah wisata yang cukup banyak diminati oleh turis-turis mancanegara, hal itu terlihat begitu banyak orang-orang bule yang berkunjung ke kota Sabang... Sebuah plang besar terpampang di mulut pelabuhan bertuliskan "selamat datang di wilayah syariat Islam Kota Sabang... mungkin tulisan itu yang membuat perempuan-perempuan yang berkunjung ke wilayah itu menutupi bagian rambutnya dengan sehelai kain.

Heru terlihat bagai orang yang sedang kebingungan, ia sibuk menoleh kekanan dan ke kiri... tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya "mau ke kota ya bang?"... "oh iya... tolong saya diantar sampai ke penginapan ya" jawab Heru... Orang itu mengangukan kepalanya, lalu Heru mengikuti langkah laki-laki itu menuju sebuah mobil L 300... tanpa banyak bertanya Heru langsung memasuki mobil itu... "Perimisi bu" sahut heru kepada salah seorang ibu yang kakinya melintang di depan pintu mobil... Ibu itu cuma menoleh kemudian dia menarik kakinya... Heru langsung menuju ke kursi paling belakang... Cukup lama Heru menunggu di dalam mobil, rupanya mobil itu masih menunggu dua orang penumpang lagi agar benar-benar penuh... Terasa begitu sesak dan panas dalam mobil itu, hingga Heru terpaksa harus merelakan koran yang dibelinya ketika untuk mengipas-ngipasii badannya... Terlihat dari arah depan dua orang menuju mobil tersebut diiringi oleh si sopir... "hayo kita berangkat"... teriak si sopir... Tidak lama kemudian mobil melaju kencang meninggalkan pelabuhan.

Perjalanan menuju ke kota ternyata cukup jauh, sepanjang jalan di kiri dan kanan hanya terlihat pohon-pohon kelapa yang melambai-lambail tertiup angin... Kurang lebih 10 kilometer jarak dari pelabuhan ke pusat kota Sabang, setelah setengah jam perjalanan nampak di depan sebuah gapura besar yang menunjukan bahwa kota Sabang telah di depan mata, satu persatu penumpang turun dari dalam mobil, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tersisa... "bang mau ke penginapan mana?" si sopir terdengar bertanya dari depan "ke penginapan mana aja Bang yang penting dekat dengan rumah sakit umum" jawab Heru... Oya nanti ada penginapan di depan simpang tiga rumah sakit" sambil tangan si sopir itu menunjuk ke depan... Tidak berapa lama mobil tersebut belok ke sebuah pekarangan rumah... "nah ini bang penginapannya" Heru kemudian bergegas turun dari mobil, "berapa bang" tanya Heru... "tiga puluh ribu" lalu Heru menyodorkan uang pas kepada si sopir.

Terlihat sebuah bangunan tua namun sangat bersih dan terawat, di halamannya terdapat banyak tanaman yang membuat rumah itu menjadi kelihatan teduh, Heru perlahan-lahan mendekati pintu rumah itu yang terbuka lebar, lalu ia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam "asslamualaikum...assalamualaikum" tidak berapa lama terlihat seorang laki-laki muda keluar dari lorong persis di belakang lobi rumah tersebut "waalaikumsalam...silahkan masuk mas.." terlihat begitu ramah orang itu, dari pakaian yang dikenakan Heru sudah dapat menduga bahwa orang itu adalah salah seorang resepsionis penginapan itu... "maaf bang saya mau tanya apa ada kamar yang kosong?" "oh ada mas...mas mau nginap berapa malam" "kalau per malam berapa atau kalau saya kost selama sebulan boleh ngga?" "ya boleh terserah mas aja" kalau itungan perhari 150.000 tapi kalau mas mau kost selama sebulan harganya 2 juta sudah plus dengan sarapan... "ok kalau begitu saya langsung kost aja satu bulan bang"... "baik saya catat dulu identitasnya" terlihat orang itu mengeluarkan sebuah buku besar dari laci lemarinya... "ada KTP nya mas?" "oh ada" sambil Heru membuka dompetnya, ia disodorkan sehelai KTP... "mas mau bayar sekalian atau mau DP dulu... "saya bayar sekalian aja bang ngga apa-apa" terlihat orang itu manggut-manggut... "Ok mas silahkan istirahat aja dulu, nanti di antar sama petugas disini... "Pak Amad"... "Pak Amad"... Orang itu memanggil seseorang dari dalam rumah itu... Tidak berapa lama muncul seorang bapak tua dengan pakaian sederhana "tolong pak Amad antar tamu ini ke kemar nomor 12 ya" "baik.. mari mas saya antar ke kamarnya" sahut orang tua itu sambil bergegas mengambil kopor dan tas bawaan Heru.

Rumah itu ternyata sangat luas, setelah habis ruang tengah masih ada sebuah lorong yang panjang, di samping kiri dan kananya terdiri dari kamar-kamar... Kamar nomor 12 terletak di ujung lorong, Heru mengikuti bapak tua itu dari belakang, di sepanjang lorong menempel foto-foto Sabang jaman dulu berderet dari depan sampai hampir ke ujung lorong sedangkan di ujung tembok yang menhadap ke pintu lorong menempel sebuah lukisan wajah perempuan yang berukuran kurang lebih sekitar 70 x 90 cm... wajah perempuan itu begitu cantik, matanya bersinar ke biru-biruan seakan benar-benar hidup... Heru sesaat tertegun di depan lukisan besar itu... Ia raba penghalang kaca di depan lukisan itu, sepertinya ada daya tarik tersendiri dalam lukisan itu... Heru seperti merasa nyaman ketika beradu pandang dengan perempuan di dalam lukisan itu, tanpa sadar ia berkata dalam hatinya "sungguh luar biasa si pelukis yang membuat lukisan ini... meskipun hanya sebuah lukisan tapi terasa ia benar-benar hidup"... Heru terkaget ketika bapak tua itu menegurnya "Mas tas kopornya sudah saya masukan di dalam kamar, kalau Mas butuh apa-apa panggil saja saya..." "baik pak" saya mau istirahat dulu... rasanya badan ini terasa cape sekali"... "iya silahkan mas..." sahut si bapak tua, Heru kemudian masuk ke dalam kamar itu, sekilas ia masih menyempatkan untuk melirik wajah perempuan dalam lukisan itu...
Pejwan diamankan.
Pagi sekali Heru telah bersiap untuk berangkat ke tempat tugasnya yang baru, sepertinya ia sangat bersemangat dengan pekerjaan barunya... Heru membuka pintu kamarnya, sosok perempuan dalam lukisan itu selalu menjadi pemandangan pertamanya... Ia semakin penasaran dengan wanita dalam lukisan itu, sepertinya ada getaran aneh yang ia rasakan ketika matanya memandang lukisan itu, "aneh... saya ko seperti sedang bertatap mata dengan manusia beneran... padahal wanita itu hanya sebuah lukisan... tapi kenapa saya seperti merasakan ada getaran aneh ketika beradu pandang dengannya" gumam Heru dalam hatinya... namun Heru sepertinya tidak mau terbuai oleh suasana pada saat itu... ia langsung mengusap matanya dan membalikan badan bergegas menuju ruangan makan...

"Selamat pagi mas..." sahut Pak Amad yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk tamu-tamunya... "selamat pagi juga pak Amad" "gimana istirahatnya tadi malam" tanya Pak Amad... "wah saya langsung tertidur pulas Pak sampai ngga sempat ganti baju dulu, mungkin saya kecapean selepas naik kapal kemaren" jawab Heru "ya syukurlah mas kalau bisa istirahat dengan nyaman... Oya... mas Heru mau sarapan apa?" tanya Pak Amad... "apa aja boleh pak... udah biar saya yang ambil sendiri" sahut Heru sambil mengambil piring dan sendok di atas meja makan, ia kemudian dengan lahap menyantap nasi goreng dan segelas susu... Kurang lebih setengah jam kemudian Heru bergegas berangkat meninggalkan penginapan itu... "saya berangkat dulu ya pak Amad" oya silahkan Mas... hati-hati" jawab Pak Amad sambil membereskan piring-piring bekas makan para tamu...
*****

Hari pertama itu cukup melelahkan bagi Heru karena disamping ia harus mengurus segala kelengkapan administrasi ia juga harus berkeliling ke ruangan-ruangan yang ada di rumah sakit itu untuk memperkenalkan dirinya, ia pulang ke penginapan setelah hampir magrib, dengan wajah terlihat lusuh ia memasuki rumah penginapan itu, "baru pulang mas" kata resepsionis menegur Heru... "ia bang, hari ini sangat melelahkan sekali, maklum ini kan hari pertama" resepsionis itu hanya membalas dengan senyuman... Heru lalu masuk ke dalam rumah dengan membawa sebuah tas berisi berkas-berkas...

Ketika ia mulai memasuki lorong menuju kamarnya, dari jarak sepuluh meter mulai terlihat seraut wajah yang sejak dua haru ini menjadi perhatian Heru... mata kebiru-biruan wanita dalam lukisan itu seperti terus memperhatikan gerak-geriknya, ketika ia hendak membuka pintu kamarnya terlihat pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya tidak tertutup dengan rapat... Ia melihat angka 13 tertempel di pintu itu, ada rasa penasaran dalam diri Heru siapa sebenarnya penghuni di kamar 13 tersebut, perlahan-lahan ia mendekati kamar itu, lalu setelah badannya begitu dekat dengan pintu itu Heru mulai mengintip dari celah pintu yang agak terbuka, namun baru saja wajah Heru tertempel di celah pintu tiba-tiba pintunya terbuka lebar, sesosok laki-laki keturunan keluar dari balik pintu itu... "hei sedang apa kamu disini" tanya orang tua itu... "oh maaf pak saya kira tidak ada yang menginap di kamar ini"... "iya memang kamar ini tidak diperuntukan buat tamu" mendengar perkataan itu Heru langsung berfikir mungkin orang yang dihadapannya ini pasti adalah pemilik rumah ini... "kamu siapa?" tanya orang tua itu... "saya tamu baru di kamar 12 pak" "oohhh begitu... Perkenalkan saya pemilik penginapan ini, tapi saya tinggal di belakang penginapan ini" orang itu menyodorkan tangannya... "panggil saja saya Pak Liem"... "oya nama saya Heru pak, dokter yang sedang tugas PTT di rumah sakit umum Sabang"... "saya permisi untuk istirahat dulu pak"... "Ya silahkan" jawab orang tua itu... lalu Heru masuk kedalam kamarnya... namun entah apa yang membuat Heru menjadi penasaran terhada prang tua itu... ia kemudian mengintip dari lubang kunci pintu kamarnya, dari lubang kecil itu terlihat Pak Liem sedang mengunci pintu kamarnya... rasa penasaran Heru semakin menjadi ketika terlihat Pak Liem berdiri di depan lukisan wanita itu, lama ia memandangi lukisan itu... tangannya terlihat mengusap-usap kaca pembatas pigura lukisan itu... bibirnya berkumat kamit dan tidak berselang lama Pak Liem membalikan tubuhnya meninggalkan lukisan itu.
*****
Setelah selesai mandi dan Shalat Magrib Heru merebahkan tubuhnya di atas kasur... Lamunannya terus melayang memikirkan beberapa keganjilan yang terjadi di penginapan ini, lambat laun matanya terlihat mulai berat hingga akhirnya ia tertidur lelap... tiba-tiba Heru terjaga oleh samar-samar suara perempuan menangis, ia pasang kedua telinganya seakan ingin memastikan bahwa itu benar-benar suara manusia, suara itu semakin jelas terdengar dari arah luar kamar... Perlahan-lahan Heru bangun dari pembaringannya, ia kemudian mulai mendekati pintu kamarnya, suara itu terdengar semakin nyata... Ia begitu penasaran dengan suara itu, lalu mulai ia putar anak kunci yang menggantung di pintu kamarnya... terdengar suara "krek" tanda bahwa kunci kamar itu telah terbuka, ia raih gagang pintu lalu ia putar perlahan-lahan seiring dengan daun pintu itu mulai terbuka... Heru mengintip ke arah luar, namun tidak ada seorang pun diluar kamar itu selain sebuah lukisan wajah... Heru semakin merasa penasaran, karena suara itu terus semakin terdengar, ia beranikan diri untuk keluar dari kamar mengikuti arah suara itu berasal, alangkah kagetnya... ternyata suara itu berasal dari dalam lukisan wajah dihadapannya, terlihat mata biru perempuan itu bergerak-gerak sambil mengeluarkan air mata... tengkuk Heru terasa dingin bagaikan es menyaksikan kejadian di depan matanya... lukisan wajah itu ternyata bisa menangis dan mengeluarkan air mata... Heru mulai merasakan ketakutan yang hebat, namun rasa penasaran dalam dirinya telah mengalahkan rasa takutnya... ia amati lebih dekat wajah perempuan itu... tiba-tiba kedua mata wanita itu berkedip... Heru terkejut "astagfirullohaladzim ternyata aku bermimpi" ia langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan Shalat Isya...
*****

"kriiing" jam beker di kamar Heru berdering keras, Heru bangun dari tempat tidurnya, kemudian ia bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai aktifitasnya hari ini... dengan menggunakan pakaian berbalut jas putih Heru bersiap untuk berangkat... ia lihat jam di tangannya menunjukan pukul 7.15 wib, Heru merasa kaget ketika ternyata pintu kamarnya tidak terkunci, ia terdiam sesaat mengingat-ingat sesuatu "seingatku kemarin saya kunci pintu ini... tapi sekarang ko tidak terkunci... tapi... Ya sudahlah mungkin kemaren saya lupa" lalu ia menarik gagang pintu dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka, seperti biasanya begitu Heru keluar dari kamar, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah perempuan dalam lukisan itu... sebenarnya ia enggan untuk melihat wajah perempuan itu, namun entah ada kekuatan apa yang membuat Heru tetap saja melihat wajah perempuan itu, sepertinya ada yang tidak biasa dalam wajah lukisan itu hari ini, Heru tergerak untuk mengamati lebih dekat wajah lukisan itu... Ia terkejut bukan main karena warna cat pada kedua ujung mata perempuan itu seperti luntur meleleh sampai ke pipinya... Heru terus mengamatinya sambil menggosok-gosok kedua matanya seakan ia tidak percaya bahwa mata perempuan dalam lukisan itu seperti habis menangis dan air matanya telah melunturkan cat di ujung mata sampai ke pipi lukisan itu... "ya Allah apakah saya masih bermimpi... sebuah lukisan ko bisa menangis.... lalu... apakah mimpi tadi malam itu sebenarnya adalah nyata" merindinglah seketika bulu kuduk Heru... seluruh tubuhnya menjadi menggigil melihat kejadian aneh di depan matanya... disaat sedang terpaku tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang... "mas...mas.." Heru terkejut setengah hendak meloncat lalu ia membalikan tubuhnya "eh Pak Amad mengagetkan saja" sahut Heru... "Mas Heru sedang lihat apa... ko sepertinya sedang melamun?" "Pak Amad coba lihat apa lukisan ini benar-benar menangis?" Pak Amad malah tersenyum lalu ia memegang bahu Heru "sudahlah mas mendingan sarapan dulu" tangan Pak Amad seperti memaksa Heru untuk meninggalkan lukisan itu... akhirnya Heru mengikuti Pak Amad ke ruang makan disitu telah tersedia banyak hidangan, terlihat ada dua orang tamu lainnya yang sedang asik sarapan, dengan menganggukan kepala kepada dua orang itu Heru kemudian mengambil piring dan sendok di atas meja makan, lalu ia dengan lahap menyantap menu sarapan pagi...

(Bersambung)
nanti ane sambung lagi gan,pengen tau yang baca masih mau lanjut ato ngak.klo lanjut ntar ane terusin lagi ntar..klo ga ada yang minat ya ga ane terusin ceritanya emoticon-Smilie
lanjut gan...gantung nihemoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By a814n
lanjut gan...gantung nihemoticon-Ngakak


kayaknya ngak gan...
puyeng bacanya gan emoticon-Matabelo
anjir serem amat sih...jam sgini lg bacanya
denger2 di aceh emang ada sih cw2 bermata biru, mereka turunan org2 eropa yg mengungsi, dari kerajaan islam cordoba kalo ga salah
LANJUTIN DONG GANNN!!!
Nyimak dulu.. emoticon-Ngacir
Nyimak dulu dah..panjang bener soalnya..emoticon-army



© 2013 Kaskus – The Largest Indonesian Community
bagus juga ceritanya gan,, bisa buat inspirasi
Wahhh lanjutkan dong gan
Ane baca dulu dah, panjang bener ini tulisannya. emoticon-Thinking
sukaa banget sama ceritanya, sampai bela2in bikin account kaskus.. lanjut dong gaan pleaseee
Novel kah ini? emoticon-Bingung (S)
kosong adalah hampa, hampa adalah kosong, hampa adalah hampa dan kosong adalah kosong emoticon-Malu (S)
cerita panjang
misteri yang bukan seperti misteri