alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Militer /
Brigade Infantri 4 Dewa Ratna dan Pengabdiannya
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50e1befde374b4df55000042/brigade-infantri-4-dewa-ratna-dan-pengabdiannya

Brigade Infantri 4 Dewa Ratna dan Pengabdiannya

Quote:


Spoiler for wujud bukunya:


Sekilas Sejarah Pembentukan

Brigade Infanteri 4 Dewa Ratna diresmikan pada tanggal 1 0ktober 1961, dan sejalan dengan dinamika yang terus berkembang, Brigif 4 Dewa Ratna ini sempat dibekukan pada tahun 1984, dan baru pada 12 April 2007, Brigif 4 Dewa Ratna kembali diaktifkan.
Brigif-4/Dewa Ratna merupakan satuan tempur yang berada dibawah komando langsung Kodam IV/Diponegoro. Brigif-4/Dewa Ratna sesuai TOP ROI 95 mempunyai susunan yang terdiri dari 1 Detasemen Markas yang dikomandani oleh seorang Mayor dan 3 Yonif yang dikomandani oleh seorang Mayor atau Letkol, sedangkan yang mengomandani Brigif 4/Dewa Ratna adalah seorang Kolonel. Pengaktifan kembali Brigif - 4/Dewa Ratna sebagai satuan tempur yang memperkuat Kodam IV/Diponegoro dalam rangka mengemban tugas pokok TNI AD.

Batalyon organik
Semenjak diresmikan pada tanggal 12 April 2007 bersamaan dengan itu pula terjadi alih status untuk tiga batalyon infanteri dari Korem 071/Wijayakusuma ke Satuan Organik Brigif - 4/Dewa Ratna, ketiga batalyon tersebut adalah:
1. Batalyon Infanteri 405/Surya Kusuma
2. Batalyon Infanteri 406/Candra Kusuma
3. Batalyon Infanteri 407/Padma Kusuma


PENUMPASAN DI/TII DI JAWA TENGAH
a. KOMANDO OPERASI G.B.N.
Untuk meningkatkan Operasi penumpasan Dl/TII DI daerah Pekalongan. Kolonel Gatot Subroto selaku Panglima Divisi III/Gubernur Militer 111 mengeluarkan instruksi siasat Nomer : 130/PS/KS/MOBI1979. tanggal.30 Desember 1949 guna membentuk Komando Operasi Satuan Tugas Gabungan.
Kemudian pada bulan Januari 1950 dIbentuklah Komando Operasi Satuan tugas yang dIsebut Komando Operasi Gerakan Banteng Nasional yang terkenal dengan nama G.B.N. dengan Staf Komando berkedudukan di Slawi sebagai Komandan GBN ditunjuk Letkol M. Sarbini. GBN adalah Komando Operasi Satuan tugas gabungan yang satuan tempumya terdiri dari Satuan-satuan tempur Divisi Siliwangi, Divisi Diponegoro dan Divisi Brawijaya.
Tujuan ulama dibentuknya Komando Operasi GBN adalah untuk memisahkan antara DI Amir Fatah di daerah Jawa Tengah dengan DI Kartosuwiryo di Jawa Barat dan kemudian menghancurkan sampai ke akar•akamya.
Operasi penumpasan DI/TII dilancarkan terus menerus sehingga tidak ada kesempatan istirahat bagi Dl/TII, sedang ruang gerak mereka makin sempit dan karena tekanan tekanan yang terus menerus dari pihak TNI, moril DI/ TII makin merosot. Keadaan demikian berlangsung terus sampai bulan Agustus 1950.
Karena pukulan terus menerus yang dilancarkan oleh TNI , akhirnya kekuatan DI/ TII menjadi kocar kacir, banyak yang terbunuh dan tertawan, maka DII/ TII mulai melakukan teror terhadap rakyat. Gerakan Operasi dari TNI terus berjalan sehingga mengakibatkan kekuatan DI/TII secara operasionil lumpuh.

b. PENUMPASAN PEMBERONTAKAN AOI DI KEBUMEN.
Kekuatan DI/ TII yang telah terpecah belah tidaklah berarti DI telah hancur sama sekali, sebab pada pertengahan 1950 mereka berhasil melakukan infiltrasi ke daerah Kebumen dan berhasil mempengaruhi Angkalan Oemat Islam (AOI). Pasukan AOI yang diIpimpin oleh K. SOMOLANGU akhirnya dapat dItumpas dan K. Somolangu sendiri tewas bersama anak buahnya di Gunung Srandil. Dengan bergabungnya sisa AOI dengan DI/TII maka kekuatan Amir Falah makin bertambah. Situasi daerah GBN makin berlambah gawat lagi, karenanya Operasi yang dilancarkan oleh TNI makin ditingkatkan. Pada saat itu didalam tubuh Divisi DIponegoro terjadi penyempumaan kembali organisasi.

Sesuai Surat Seputusan Organisasi Panglima Divisi Diponegoro Terr IV Nomer : 37/64/0111/1950 tanggal 10 Oktober 1950.

I). Mulai tanggal 26 September 1950 Teritorium Jawa Tengah dibagi menjadi 5 (lima) Sub Teritorium:
a). Sub Teritorium I.
b). Sub Teritorium II.
cI. Sub Teritorium III.
d). Sub Teritorium IV.
d. Sub Teritorium V.
Sub Teritorium I meliputi daerah-daerah Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Cilacap, Banyumas, Purbolinggo dan Banjamegara.

2). Mulai tanggal 5 Oktober 1950 Divisi Teritorium Jawa Tengah bernama Divisi III alau Divisi Diponegoro dan Panglima Divisi tetap dijabat oleh Kolonel Gatot Subroto yang terdiri dari 5 Brigade dan 26 Balalyon.

Balalyon-401 sId 407 Taktis Administratif dibawah Brigade N yang berlokasi didaerah Sub Ter I dibawah Letkol Moh Bahrun dan Slaf Komando berkedudukan di Slawi. Pada saat itu juga Komandan GBN beralih dari Letkol Sarbini kepada Letkol Bahrun. Operasi berjalan dengan lancar dan berhasil dengan memuaskan, kekuatan DII/TII dapat dicerai beraikan, banyak yang tertawan dan menyerah. Sisa•sisa gerombolan yang tidak mau menyerah terus di desak sampai ke hultan•hultan yang sulit dapat dijangkau olch Operasi TNI. Dan saat itu Operasi Tempur mulai secara bertahap dlalihkan menjadi Operasi Teritorial. dari hasil operasi lahun 1950 yang sangat menonjol adalah menyerahnya Amir Fatah bersama 100 orang pengikutnya di desa Cisayang-Ciawi daerah Tasikmalaya pada tanggal 20 Desember 1950.
Pada tanggal 26 Oktober 1951 pimpinan Komandan Operasi GBN diserah terimakan dari Letkol Moh. Sahrun kepada Letkol A. Yani.
Hancurnya kekuatlan DII/ TII di daerah Tegal Brebes dan menyerahnya Amir Fatah bukanlah berarti bahwa DI/TII telah hancur sama sekali. Sisa•sisa DI/TII yang masih ada terus menerus melanjutkan cita•cita mereka dengan melakukan infiltrasi ke daerah•daerah lain diluar Tegal, Brebes.

e. PENUMPASAN PEMBERONTAKAN YON -426.
Infiltrasi DI/TII ke luar daerah Tegal, Brebes berhasil masuk ke daerah Kudus dan berhasill mempengaruhi Yon-426. Ini terbukti dengan tertembaknya Mayor TII Mughny di suatu tempat di selatan Brebes dapat diketemukan dokumen yang berisikan :
I). Perintah kepada Mayor TII Mughny untuk menarik Yon 423 pimpinan Mayor Basuno yang saat itu sedang bertugas di derah GBN.
2). Laporan hasil pelaksanaan tugas dari Mayor TII Mughny.
Setelah diadakan penyelidikan secara cermat maka atas perintah Panglima Divisi Diponegoro ditangkap 3 orang Perwira Yon-423 untuk dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan 3 orang Perwira tersebut mengakui sebagai penghubung antara DI dan Yon-423 yang tersingkap pula bahwa didalam tubuh Yon-426 terdapat beberapa Perwira yang terlibat DI/ TII. Dari hasil pemeriksaan itu maka Panglima Divisi Diponegoro pada tanggal 7 Desember 1951 memerintahkan Mayor Munawar dan Kapten Sufjan selaku Komandan dan Wakil Komandan Batalyon 426 untuk menghadap. Ternyata hanya Mayor Munawar sendiri yang menghadap. sedangkan Kapten Sufjan membangkang bahkan menyatakan berani menanggung segala resiko akibat tindakannya dengan nada yang menantang.
Untuk menghadapi gejala-gejala pemberontakan tersebut, pada tanggal 7 Desember 1951, Panglima Divisi Diponegoro mengeluarkan Keputusan siasat Nomer 15-D/K-I1/o-II1/1951 yang ditunjukan kepada Komandan-Komandan Brigade. Keputusan siasat Panglima Divisi Diponegoro segera dilaksanakan dan dimulai saat itu Komandan•komandan Brigade segera menggerakkan satuan-satuan bawahannya.
Pada tanggal 8 Desember J951 jam 05.00 Komandan Batalyon-424 memberikan ultimatum kepada Kapten Sufjan untuk menyerahkan diri. Dari fihak Batalyon-426 minta waktu 10 menit untuk berpikir. Pada waktu Markas Batalyon-426 dikepung oleh 3 Batalyon, belum lagi 10 menit sudah mulai terdengar tembakan-tembakan Batalyon-426. Pengepungan sampai petang hari, tetapi tidak ada tanda-tanda berhasil. Waktu itu hujan turun dengan derasnya. Kesempatan ini digunakan oleh Batalyon-426, dengan diam-diam mereka meloloskan diri melalui selokan belakang asrama guna melebarkan sayapnya.
Setelah mereka lolos dan pengepungan maka Batalyon-424 terus melakukan pengejaran tanpa memberikan istirahat kepada Batalyon-426. Pada tanggal 20 Desember 1951 Batalyon-426 berhasil pula meloloskan diri dari daerah Semarang, Pati menuju Surakarta dan selanjutnya ke daerah Klaten.
Menghadapi pemberontakan Batalyon-426 didaerah Surakarta ini berdasarkan Instruksi Siasat Panglima Divisi Diponegoro No : 16/0/K-II/B•III/1951 tanggal 19 Desember 1951, maka tugas pengejaran dan penghancuran dibebankan kepada Brigade Mangkubumi, P. Senopati dan Pragola. Gerakan ini disebut Operasi Sapta Marga Merdeka Timur V (OMT V) dan langsung dipimpin oleh Kepala Staf Divisi Diponegoro Letkol M. Bahrun. Pengejaran terus dilaksanakan dan terjadilah pertempuran yang sengit pada tanggal 5-1-1952 di daerah Tanggalan Pedan. Komandan Batalyon 417 Mayor Sunaryo gugur sebagai Kusuma Bangsa sedang dipihak pemberontak juga banyak menderita korban, bahkan ex Kapten Sufjan sendiri luka berat terkena tembakan dan akhirnya tewas disuatu tempat yang dirahasiakan oleh pemberontak.
Pada tanggal 5 Januari 1952 Komandan OMT V menyiapkan semua Satuan yang ada dalam OMT V uptuk melancarkan Operasi besar-besaran akhirnya pada tanggal 18 Januari 1952 musuh menjadi pecah dan bercerai berai. Untuk mengakhiri petualangan Batalyon-426 maka diadakanlah operasi bersama antara OMT V dan AURI di daerah Simo, Boyolali. Operasi berhasil dengan sangat memuaskan. karena tekanan yang terus-menerus dari TNI maka sisa pemberontakan dibawah Mochjidin, Yuslam dan AG. Ismail berusaha meloloskan diri ke daerah GBN. Pengejaran terus dilakukan Batalyon 413, 408 dan 414. Namun demikian dengan susah payah dan banyak menderita korban sisa pemberontak Batalyon-426 akhirnya dapat masuk dan bergabung dengan DI/TII di daerah Tegal, Brebes.

Diubah oleh binbin1979
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
d. MENGAKHlRI PEMBERONTAKAN DI/TII
Dengan bergabungnya sisa-sisa ex Batalyon-426 dengan DI/TII di daerah GBN maka DI/TII di daerah Tegal-Brebes mulai menyusun kekuatan baru sehingga situasi GBN makin gawat lagi. Untuk mengatasi hal ini maka timbul ide dari Letkol A. Yani selaku Komandan GBN untuk membentuk pasukan pemukul yang diberi nama Banteng Raiders (BR).
Pada awal tahun 1952 disusun pasukan BR dengan kekuatan 2 Kompi. Komandan Kompi-I Kapten Yasir Hadibroto dan Komandan Kompi-II Kapten Poedjadi dan dikirim ke BTC Purworejo untuk dilatih. Kemudian baru pada bulan Juni 1952 pasukan BR dikirim ke GBN untuk melakukan tugasnya. Dengan dibentuknya BR gerakan Operasi GBN mulai ditingkatkan lagi, akibatnya tekanan yang terus-menerus dilakukan oleh Komando Operasi GBN maka DI/TII mengalami kerugian yang tidak sedikit dan akhirnya DI/TII memusatkan pertahanannya di Semedo perbatasan Tegal - Pernalang dan tempat inilah tempat markas DI/TII. Karena disamping medannya yang sulit dijangkau oleh Operasi juga pertahanan mereka dibuat sangat kuat. Dan pihak TNI sendiri pada tanggal 5 Nopember 1952 selama 3 hari gagal menyerang Semedo. Kemudian baru pada tanggal 9 Nopember 1952 selama 3 han dengan kekuatan 1 Batalyon dan 2 Kompi BR dibantu oleh senjata bantuan dari AURI, Semedo berhasil dihancurkan.
Guna lebih mengintensifkan penghancuran DI/TII serta menahan bahkan menggagalkan sama sekali usaha ekspansi maka Letltol M. Bahrun selaku Panglima IT IVIDivisi Diponegoro dengan surat Keputusan No. A-54/KPTS/IV/1954. tanggal 26 Mei 1954 melancarkan operasi "Guntur".
Operasi Guntur ini dipimpin oleh Lelkol A. Yani dan untuk sementara Komandan operasi GBN dipegang oleh komandan RI 12 Letkol Suharto.
Operasi Guntur berhasil dengan memuaskan, musuh gagal total dalam melakukan "Gerakan kembali ketimur" bahkan mengalami kerugian yang tidak sedikit, sedang sisa- sisa mereka kembali ke daerah GBN. Akhirnya berdasarkan Perintah Operasi GBN No. 42/PO/GBN/1954 tanggal 30 Nopember 1954 operasi Guntur dinyatakan selesai.
Dengan berakhirnya operasi Guntur bukanlah berarti operasi di daerah GBN ini selesai. Operasi di daerah GDN terus dilancarkan dengan sistim blokade ekonomi terhadap DI/TII. Musuh belum juga mau menyerah bahkan tetap melakukan perang urat syaraf dan gerilya.

Berdasarkan Surat Keputusan Panglima IT IV No. KPTS/011711956 Tanggal 11 Juli 1956, Komando Operasi GBN yang semula merupakan POSKO RI 12 secara permanen ditarik menjadi TT IV dan GBN diserahkan dari Letkol A. Yani kepada Letkol Pranoto. Operasi GBN
terus dilakukan. namun perubahan situasi yang menonjol tidak begitu nampak. Operasi GBN secara bertahap berubah sifatnya dan Operasi Tempur menjadi operasi Teritorial.
Sejak tanggal 20 Mei J958 Komando Operasi GBN ditetapkan statusnya menjadi Korem Petalongan dan Staf Korem berkedudukan di Slawi - Tegal.

Diubah oleh binbin1979

PENUMPASAN PRRI/PERMESTA

2. PENUMPASAN PRRI/PERMESTA
a. PENUMPASAN P.R.R.I.
Dalam penugasan penumpasan PRRI, Yonif 433 (sebagai inti dari pembentukan Yonif 405, ditugaskan Ke Sumatera Barat,
Dalam operasi ini melaksanakan 2 kali operasi,
Hasil-hasil yang menonjol dalam operasi ini mendapat 350 pucuk senjata campuran hasil pcnyerahan 2 (dua) Resimen PRRI di Muara labuh.

b. PENUMPASAN PERMESTA
Dalam rangka penumpasan pemberontakan PERMESTA ini Yonif 432 (yang menjadi inti dan pembentukan Yonif 405) ditugaskan ke Sulawesi Utara, dalam rangka Operasi penumpasan pemberontakan PERMESTA, Operasi ini dinamakan Operasi "MERDEKA" .
Yonif 432 kekuatannya lengkap, terdiri dari 6 Kompi (4 Kipan I Ki Markas dan I Ki Bantuan senjata berat), dibawah pimpinan Mayor Kusworo.
Setelah diinspeksi oleh Menpangad Jenderal AH Nusution di Slawi, dan setelah mengadakan latihan-latihan pendaratan di TegaI, maka pada tanggal Jusi 1958 Yon berangkat menuju ke Surabaya, kemudian ke Sulawesi Utara, Untuk persiapan pendaratan, di Sulawesi Utara, selama di Surabaya dibentuk taks Force pasukan-pasukan gabungan pendaratan yang terdiri dari :
a. Yonif 432,
b. Pasukan Amphibi yang mesiputi unsur-unsur KKO,
c. Yon Cadangan.
Pada tanggal 10 Juni 1958, dengan dikawal pesawat-pesawat AURI pasukan berangkat dari Surabaya menuju sasaran, Perjalanan memakan waktu 1 minggu dan tepat tanggaI 16 Juni 1958 jam 04,00 pagi mendarat di Kema. Untunglah selama perjalanan tidak ada gangguan apapun dari pihak musuh. Pasukan kita ini terdiri dari 3 (tiga) Batalyon Infanteri termasuk Yonif 432 dan setengah Batalyon KKO.

Keadaan Musuh :
Musuh mempunyai potensi dan kemungkinan masih ada bantuan dari luar dengan pesawat udara, sekalipun pada saat itu Allan Pope sudah kita tembak jatuh di perairan Ambon, Estimate ini ternyata benar, terbukti dengan masih adanya pemberian pembekalan dari Kapal Udara di sementara daerah Sulawesi Utara yang ditujukan kepada pasukan•pasukan PERMESTA, Kekuatan musuh pada saat itu ada 8 (delapan) Batalyon dan dikonsentrasikan di sekitar Menado, Mepanget lapangan terbang Menado dan di perbatasan Sulawesi Tengah, Daerah Sulawesi Tengah ini dijadikan basis daerah suply oleh lawan karena daerah ini banyak menghasilkan beras.

Selanjutnya menjelang tanggal 26 Juni 1958 Yon 432 bergerak menuju ke utara bergabung dengan pasukan•pasukan kita yang telah membuat pertahanan sebelumnya, Pasukan Yonif 432 turut serta dalam penyerangan kota Menado berarti melalui pintu belakang. Sedangkan pintu depan (pulau-pulau di depan Menado) seperti Sangir Talaut, Jailolo, dan lapangan terbang Morotai sebelumnya telah dapat kita rebut. Bahkan di sekitar Woro lebih kurang 1 km utara dari Menado sudah diduduki oleh pasukan kita dari operasi Sapta Marga IV. Dengan demikian praktis Menado telah kita kepung dari segala penjuru.

Tujuan utama operasi Merdeka ialah merebut Sulawesi Utara dengan Kota Menado dan tujuan samping adalah merebut daerah sekitar tujuan utama (Gorontalo, Sangir Talaud, Morotai, Jailolo dan Palu-Donggla) untuk mengepung Menado dan membuat daerah tumpuan taktis.
Setelah melalui pertempuran-pertempuran yang sengit Menado jatuh pada tanggal 26 Juni 1958. Dapat dikatakan bahwa mulai saat itu kekuatan pokok PERMESTA di Sulawesi Utara sudah dilumpuhkan, namun demikian gerakan-gerakan penumpasan terhadap sisa-sisa pasukan PERMESTA masih berjalan terus hingga akhir tahun 1961 yakni pada waktu pasukan-pasukan PERMESTA dibawah ex Kolonel AB, Kawilarang, DJ, Somba dan kawan-kawan, memenuhi seruan pemerintah untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,
Kembalinya eks Kolonel Kawllarang Cs, disusul oleh Samuel, Runtu rambu Cs beberapa waktu kemudian, maka selesailah penumpasan PERMESTA, dan daerah Sulawesi Utara mmjadi aman,
Sukses-sukses Yonif 432 selama kurang lebih 1 tahun bertugas di Sulawesi Utara :
a. Dapat menghancurkan dan menawan 2 Batalyon PERMESTA yaitu Batalyon Mondong, dan Batalyon Siwi,
b. Senjata-senjata yang dapat dirampas, cukup untuk mempersenjatai satu Batalyon lengkap. Dari sekian banyak senjata-senjata yang dirampas 6 (enam) pucuk STB dan beberapa pucuk Bazoka.


Diubah oleh binbin1979

Operasi TRIKORA dan DWIKORA

3. OPERASI TRIKORA
Dalam peristiwa pembebasan Irian Jaya dari belenggu imperialis Belanda yang lebih dikenal dengan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) Briaif-4 hanya menugaskan satu Kompi Bantuan dibawah pimpinan Kapten Kliwon B/ p Komando Mandala dan berkedudukan di Seram.


4. OPERASI DWIKORA
Dalam rangka Operasi Dwikora, pada tanggal 25 Agustus 1965 Brigif 4 dibawah pimpinan Letkol Yasir Hadibroto selaku Dan Brigif 4 berangkat ke Sumatra Utara B/ p KOPUR II/ Rencong.
Rencana Operasi Brigif 4 akan menyerang, merebut, dan kemudian menduduki Malaysia. Pemberangkatan pasukan diatur secara berrgelombang; Gelombang pertama Yonif E, Gelombang kedua Yonif G bersama-sama dengan Ma Brigif, kemudian disusul oleh Ton Penembak mahir kemudian baru Yonif F sebagai gelombang terakhir.

Yonif E, G dan Ma Brigif - 4 berangkat sesuai rencana dengan menggunakan kapal laut. Setelah sampai di daerah Sumatera Utara Yonif E berkedudukan di Pulau Rakyat, Yonif G berkedudukan di Pulau Batu dan Ma-Brigif 4 berkedudukan di Kisaran .
Dalam rangka Operasi Dwikora Yonif E, G dan Ma Brigif 4 yang telah berada di Sumatera mengadakan latihan indoktrinasi Wilayah di daerah Sondiraya dengan pelatih dari Separkoad Bandung, sementara itu Peleton Penembak Mahir yang anggotanya gabungan dari Yon-Yon Brigif 4 masih dalam latihan di Bandung.
Sekitar akhir September 1965 setelah Ton Penembak Mahir selesai latihan segera diberangkatkan menuju ke Sumatera Utata. Baru saja Ton Penembak Mahir sampai di Mako Pur II/ Rencong Jakarta guna menunggu kapal yang akan mengangkut ke daerah tugas, tiba-tiba meletuslah pemberontakan PKI yang lebih dikenal gerakan 30 September atau G.30.S/ PKI. Sambil menunggu pcmberangkatan selanjutnya Ton Penembak Mahir dimanfaatkan unluk mengamankan Mako Pur II/ Rencong . Setelah menerima perintah dari Atasan Ton Penembak Mahir melanjutkan perjalanannya menuju ke daerah tugas Sumatra Utara. Sementara ilu Yonif F masih di pangkalan guna menunggu pemberangkatan pada gelombang terakhir.
Akibat meIetusnya pemberontakan G.30.S/ PKI maka pemberangkatan Yonif F dibatalkan. Situasi di Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak menentu dan tidak adanya pasukan. karena Brigif -5 sedang melaksanakan tugas Operasi Dwikora di Kalimatan Barat sedangkan Brigif - 6 pada waktu itu diragukan kesetiaannya dan Yonif – A/BR berada di Jakarta dalam rangka persiapan upacara HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965. Satu-satunya yang masih ada di Home Base hanyalah Yonif - F yang tidak diragukan kesetiaannya dan beberapa Kesatuan Bantuan Tempuf lainnya, maka Brigif 4 yang berada di Sumatera Utara, pada tanggal 23 Oktober 1965 segera diperintahkan kembali ke Jawa Tengah guna mengatasi situasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


Diubah oleh binbin1979
apaan tuh?

kayaknya Pujitsu Lifebook emoticon-Hammer2

5. PENUMPASAN G.30.S/PKI

Meletusnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang lebih dikenal dengan peristiwa gerakan 30 September/PKI di Jakarta meluas ke seluruh Nusantara. Untuk mengatasi situasi di daerah Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta Pangdam VII/Dip. memerintahkan Yonif - F Brigif – 4 untuk mengadakan pengamanan.

Yonif F dibawah pimpinan Mayor Soenarto pada tanggal 5 Oklober 1965 berangkat dari Gombong menuju Semarang dengan kekuatan terdiri dari Ko Yon, Kima, Ki-1, Ki-2 dan Ki-4.
Dalam perjalanan ke Semarang singgah di Magelang untuk mengadakan koordinasi dengan Yon Kav dan selanjutnya berangkat ke Semarang dengan dikawal Panser. tiba di Semarang dengan selamat dan bertempat di Kesatrian Yonif - 454/BR, Semarang. Ko Yon, Kima dan Ki-A tetap berada di Semarang sedang Ki-2 dan Ki-4 dibawah pimpinan Kapten Mukhayat menuju ke Klaten guna mengamankan ex Karesidenan Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian untuk selanjutnya KOYON dan KIMA menyusul ke Klaten. Ki-1 dibawah pimpinan Lettu A. Khusaini tetap berada di Semarang KO KI bertempat di asrama PHI guna mengamankan instalasi instalasi vital yang berada di Semarang dan menjaga tempat pengamanan Pamen/Pama ABRI yang terlibat G.30.S/PKI.

Yonif F dibawah pimpinan Mayor Soenarto pada tanggal 5 Oklober 1965 berangkat dari Gombong menuju Semarang dengan kekuatan terdiri dari Ko Yon, Kima, Ki-1, Ki-2 dan Ki-4.
Dalam perjalanan ke Semarang singgah di Magelang untuk mengadakan koordinasi dengan Yon Kay dan selanjutnya berangkat ke Semarang dengan dikawal Panser. tiba di Semarang dengan selamat dan bertempal di Kesatrian Yonif - 454/BR, Semarang. Ko Yon, Kima dan Ki-A tetap berada di Semarang sedang Ki-2 dan Ki-4 dibawah pimpinan Kaplen Mukhayat menuju ke Klaten guna mengamankan ex Karesidenan Surakarta dan daerah Istimewa Yogyakarta kemudian untuk selanjutnya KOYON dan KIMA menyusul ke Klaten. Ki-1 dibawah pimpinan Leuu A. Khusaini tetap berada di Semarang KOKI bertempat di asrama PHI guna mengamankan instalasi instalasi vital yang berada di Semarang dan menjaga tempat pengamanan Pamen/Pama ABRI yang terlibat G.30.S/PKI.

Pimpinan Yonif F untuk selanjutnya dipegang oleh Kaplen Mukhayat karena Mayor Sunarto diragukan kesetiaannya dan untuk sementara ditempatkan di Skodam VII/Dip, untuk selanjutnya diamankan. Karena situasi di daerah tugas sangat keruh maka pada tanggal 10 Oktober 1965 Ki- 3 pimpinan Sudimin diperintahkan menyusul ke daerah tugas penggabungan diri dengan induk pasukan. Selanjutnya Ki Bant pimpinan Peltu Surajiman pada tanggal 11 Oktober 1965 menyusul pula ke daerah tugas.
Yang sangat menonjol dalam tugas ini ialah pada saat pengamanan kota Solo. Yonif - F menggunakan Kartosuro sebagai garis awal, selanjutnya Kapten Mukhayat dengan beberapa orang pengawal dan seorang pengemudi masuk kota Solo. Dan Ki-4 dibawah pimpinan Lettu Sukarno siap di Kartosuro. Kota Solo dapat diamankan oleh Yonif - F tanpa perlawanan.
Karena situasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak menentu, maka Brigif- 4 dengan Yon E dan G pada tanggaI 23 Oktober 1965 kembali dari Sumatera dan langsung mendarat di Semarang selanjutnya bertugas bersama-sama Yonif F menumpas G.30.S./PKI di daerah Surakarta (Ko Brigade berkedudukan di Solo).
Setelah situasi di daerah tugas dapat dikuasai sementara Yonif E dan G tetap bertugas di ex Karesidenan Surakarta, Yonif - F dikirim ke daerah Pekalongan pada tanggal 7 Januari 1966 untuk menggantikan Yonif 454/BR.
Pada tanggal 14 Februari 1966 setelah menyelesaikan tugas di daerah Pekalongan Yonif-F diperintahkan untuk latihan indoktrinasi wilayah
Pada tanggal 26 Februari 1966, latihan baru berjalan kurang lebih 10 hari dihentikan, Yonif-F mendapat tugas untuk pengamanan Ibukota
Selanjutnya pasukan berangkat dengan KA ke Jakarta dengan pimpinan Ws Dan Yonif Kapten Mukhayat.

Diubah oleh binbin1979
Quote:


Alamaaakk apal bener emoticon-Malu (S)

Nice thread.. ditunggu lanjutannya...
Lanjut, Gan. Kisah2 heroik yg asyik disimak sambil menikmati kembang api emoticon-Blue Guy Cendol (L)

Spoiler for Prototype KFX/IFX yg sedang diuji terbang:

tanya

m. bahrun, a. yani, suharto kemudian menjadi panglima diponegoro, yg mau saya tanyakan adalah RM soesalit anak dari RA KARTINI beliau adalah atasan ketiga jendral diatas, ada yg tau riwayatnya ga? l
Quote:


Kalo soal biografi dan perjalanan karir beliau secara rinci ane belum pernah lihat bukunya bro, ane ada nemu di sebelah:

Quote:

Kronologi Penangkapan dan Eksekusi Mati DN.AIDIT

Dalam penumpasan G.30.S./PKI di daerah Surakarta berhasil ditangkap pimpinan tertinggi G.30.S./PKI DN. AIDIT di Sambeng Solo (Surakarta) oleh team yang dipimpin oleh Letda Ning Prayitno Kasi-1 Yonif G dan menangkap hidup ir. Sakirman oleh Yonif E pada tanggal 1 Oktober 1966
Kisah tentang tamatnya Ketua PKI DN.AIDIT seperti yang diberitakan oleh Mayjen TNI Yasir Hadibroto kepada Drs. Suryo Sumarwoto yang dimuat dalam Surat Kabar KARTIKA dapat kita ikuti di bawah ini:

Sesudah pecah usaha perebutan kekuasaan oleh PKI terhadap Pemerintah Republik Indonesia yang sah, kapal yang mengangkut pasukan Brigade-4 Divisi Diponegoro membuang sauh di teluk Jakarta.
Kami dilarang mendaratkan pasukan. Oleh sebab itu saya beserta beberapa orang perwira Staf dengan menumpang sekoci meninggalkan kapal itu. Pasukan yang saya pimpin itu pada waktu aksi Dwikora, ditempatkan daerah di Sumatera, untuk melakukan operasi apa yang pada waktu itu disebut "Aksi Ganyang Malaysia”
Dari kabar-kabar yang dapat saya himpun, saya mengetahui , bahwa kaum komunis mengadakan “ Coup D’etat” yang menamakan diri G30S, membentuk dewan Revolusi mendemisionirkan kabinet dan menuduh adabya "Dewan Jenderal" . Yang menjadikan saya amat sakit hati adalah berita berita tentang gugurnya beberapa Perwira tinggi kita diantaranya yang saya kenal dengan baik yaitu Pak Yani. Lebih•lebih setelah saya dengar gugurnya para perwira tinggi kita itu karena penganiayaan orang-orang komunis yang tiada berperikemanusiaan
Saya berbesar hati karena mengetahui bahwa yang memimpin operasi melawan orang-orana komunis itu adalah Mayor Jenderal SOEHARTO,
yang dulu juga pernah menjadi atasan saya di Divisi Diponegoro, di Jawa Tengah. Saya segera melapor kepadanya. ;
Pertanyaan Pak HARTO pada waktu itu : Kolonel Yasir dimana pada waktu pemberontakan PKI pada tahun 1948?
Jawab saya : "Waktu itu saya harus melawan tiga Batalyon Komunis di daerah Wonosobo Pak ! Setelah Kompi saya dihijrahkan dari Jawa barat ke Banjarnegara".
Kata Pak HARTO : "Nah sekarang yang memberontak itu adalah anak-anaknya PKI Madiun, sekarang bereskan itu semua
Aidit sekarang ada di Jawa Tengah, bawa pasukan-pasukan ke sana!”
"Siap Kerjakan ''

KE JAWA TENGAH
Dcngan bekal perintah Panglima KOSTRAD untuk membereskan anak-anaknya PKI Tahun 1948 itu saya bersama Brigade-4 menuju ke Jawa Tengah, kembali ke induk Divisi Diponegoro
Pasukan-pasukan Batalyon E, G yang tergabung di dalam Brigade-4 ini ditempatkan di daerah-daerah Boyolali dan Surakarta mulai 23 Oktober 1965, sedangkan Yonif-F sudah ditempatkan di Klaten I (satu) minggu terlebih dahulu.
Bulannya Oktober menjelang Nopember I965, pada waktu itu di daerah Jawa Tengah, di Klaten juga beroperasi satu Batalyon RPKAD yang begitu mashur.
Komandan Resimen Komando Angkatan Darat, Kolonel Sarwo Edhi Wibowo pada waktu itu, mendapat keterangan bahwa DN.AIDIT bersama beberapa orang pengawal bersenjata sedang bersembunyi di daerah Klaten dan sedang bersiap melarikan diri ke daerah Merapi Merbabu. Hal ini disampaikan kepada saya, dan ia menambahkan bahwa salah satu Batalyonnya akan mengepung daerah itu, untuk kemudian menangkap DN.AIDIT hidup•hidup. Tetapi saya memperoleh informasi dari Perwira seksi Intelejen Brigade 4, Mayor SM bahwa DN.AIDIT telah tidak berada di tempat persembunyiannya di Klaten tetapi telah berpindah tempat sembunyi di dalam kota Surakarta, di sebelah selatan Stasiun Purwosari. Keterangan yang diberikan oleh seksi satu itu benar
Saya kemudian mendapat keterangan dari Kolonel Sarwo Edhi bahwa operasinya di sekitar Klaten untuk menangkap DN.AIDIT tidak membawa hasil karena AIDIT telah meninggalkan persembunyiannya
Menjadi masalah bagi kami, bagaimana dapat menangkap ketua PKI itu seolah-olah menangkap ikan, tanpa mengeruhkan airnya. Terlintas di benak saya bahwa DN.AIDIT pasti membawa beberapa orang pengwal yang bersenjata yang setia
Salah seorang dari pengawal-pengawal buronan itu saya dengar telah menyeberang ke pihak kita, walaupun masih mempunyai hubungan baik dan erat dengan DN. AIDIT yang secara formal masih menjawbat Koordinator Wakil Ketua MPR(S).
Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah membujuk sang pengawal yang katanya telah menyeberang ke pihak kita itu

PENGAWAL AIDIT
Dengan perantaraan seorang teman karib saya, kepada siapa saya amat berterima-kasih. Pengawal AIDIT itu dapat dipertemukan dengan saya di Markas Brigade. Orang itu bernama S.H.
S.H. ini dikenal baik oleh teman saya W, yang telah mempertemukan kami berdua, di Surakarta itu. Maka setelah itu pertemuan pengawal MENKO WAKIL KETUA MPRS dengan saya berlangsung beruIang kali, di tempat yang dirahasiakan.
Pertemuan-pertemuan itu selalu dilakukan pada maIam hari setelah keadaan kota Surakarta sunyi senyap, demi keselamatan SH itu sendiri.
Saya pertama•tama bertanya kepada SH apakah betul-betul ia pengawal pribadi MENKO WAKIL KETUA MPRS itu, yang juga ketua umum PKI?
Juga saya tanyakan bagaimana mungkin sehingga ia menjadi pengawal gembong Komunis itu, SH kemudian memperlihatkan secarik kertas yang bercorat coret tulisan tangan SH yang menyatakan bahwa SH memang ditugaskan itu secara khusus. Surat itu ditanda tangani oleh Pak Nas

Meskipun demikian saya belum sepenuhnya yakin dan karena itu akan saya buktikan sejauh mana SH terlibat ke dalam masalah Aidit, dan seberapa jauh ia benar setia kepada politik kita.
Saya lalu mengajukan usul kepada SH agar DN. AIDIT segera ditangkap saja, sebab nanti bisa Iari lagi. SH agak terperanjat mendengar usul saya itu, dan menasehatkan agar tidak segera diadakan penangkapan dulu, sebab itu akan bisa menimbulkan kecurigaan kepada Aidit. Jawab itu aneh sekali, namun saya belum habis kesabaran dan juga belum habis kepercayaan saya kepada SH itu. Dalam pada itu kontak SH dengan fihak kami selalu berlangsung dan dilaporkan selalu tentang keadaan DN. AIDIT itu.
Selang beberapa hari SH datang menemui saya dan mengabarkan bahwa DN. AIDIT itu minta pindah tempat, ia minta pindah di belakang Markas Batalyon K di Kleco. Aneh pikir saya tetapi kemudian saya bisa mengerti.
Sebab konon Batalyon ini mempunyai simpati kepada G.30.S. Oleh sebab itu mungkin gembong Komunis tadi akan merasa ada yang melindungi. Saya tanyakan kepada SH berapa lama DN. AIDIT akan bersembunyi di belakang Markas Batalyon K. Kata SH lebih kurang satu minggu. Tetapi malam berikutnya, ia melapor kepada saya, bahwa DN. AIDIT minta pindah tempat lagi, kali ini di belakang stasiun Balapan. Maksudnya ia akan ikut kereta api dari timur yang akan menuju Jakarta selekasnya ada kesempatan untuk itu. Usul ini menjadi gawat bagi kami. saya bahkan khawatir kalau-kalau SH telah mengatakan kepada DN. AIDIT tentang rencana kita semua untuk menangkapnya, tetapi sebaliknya juga SH khawatir kalau akhirnya DN. AIDIT mengetahui bahwa ia telah mengadakan kontak dengan kami. Saya akan menguji sekali lagi kesetiaannya SH kepada kami, sampai dimana benarnya kata SH itu. Berkatalah SH kepada saya pada malam hari kira-kira pukul 20.00 bahwa kepindahan DN. AIDIT dari belakang Markas Batalyon-K ke Sambeng di belakang stasiun Balapan direncanakan esok harinya jam 11.00 siang kala SH nanti bapak lihat saya akan naik scooter,
pakai topi yang saya blesekan ke bawah sehingga tertutup mata saya dua-duanya. Aidit akan saya boncengkan di belakang.
Esok harinya sesuai janji SH tadi saya dengan berpakaian preman, berdiri di tepi jalan Purwosari di bawah sebuah pohon rindang menantikan lewatnya SH yang katanya akan memboncengkan Aidit. Memang betul, belum lama saya berdiri di situ, saya melihat seorang pengendara scooter dengan topi yang diblesekan ke bawah menutupi kedua matanya. Di belakang diboncengkan seorang yang berpakaian tersamar. Memang sukar untuk mengenal bahwa ia DN. AIDIT. Saya perhatikan lalu scooter itu yang kemudian membelok ke utara agaknya ke Sambeng. Kemudian saya kumpulkan para prajurit dan saya adakan apel umum di tepi jalan. Saya umumkan kepada mereka bahwa mereka diberikan cuti selama satu minggu, karena situasi sudah aman. Sebenarnya hal itu sekedar muslihat, untuk menimbulkan perkiraan bahwa memang di Surakarta tidak akan ada apa-apa. Namun hal itu sudah jelas bagi para prajurit, sandi apa yang telah saya sampaikan kepada mereka itu berani bahwa mereka harus siap siaga sewaktu-waktu

bersambung
Diubah oleh binbin1979
Quote:

thanks bro keep on posting about our forgotten heroes, banyak pahlawan-pahlawan kita yang kisahnya tidak kalah heroik dari pahlawan yg kita pelajari di sejarah dan hampir terlupakan
Gan ane mau tanya ni tentang sejarah pembrontakan PKI sebenarnya partai ini apa benar dia melakukan itu, apa cuma pembodohan sejarah aja,mohon pencerahan agan2 suhu yg tau tentang hal ini?
Quote:


Di buku Fakta dan Rekayasa G30S menurut Kesaksian Para Pelaku tulisan A.Pambudi ada 6 (enam) versi tentang siapa yang jadi dalang G 30 S

- Pelaku Utama G30S adalah PKI dan Biro Khusus
- G30S adalah persoalan internal AD
- G30S digerakkan oleh CIA
- Bertemunya kepentingan Inggris dan AS
- Soekarno dalang G30S
- Teori Chaos

Dari enam versi tersebut juga belum sampai pada kesimpulan yang final, persoalannya banyak pengakuan para saksi sejarah yang belum bisa dijadikan sebagai bahan analisis.
Dibutuhkan pengakuan yang benar-benar jujur, bukan pengakuan yang dikemas dengan tujuan "mencuci dosa di masa lampau", atau pengakuan akibat "tekanan selama masa penahanan" dan juga bukan pengakuan untuk sebuah kepentingan politik tertentu.

Dan tentunya jika ditarik garis besarnya, jika menurut buku sejarah Brigif 4 Dewa Ratna ini, akan ditemukan pernyataan bahwa G30S dalangnya adalah PKI, karena Brigif 4 DR yang saat itu di bawah kepemimpinan Mayjen Yasir Hadibroto ini adalah unit pelaksana di level bawah dan kebetulan juga berhasil menangkap dan mengeksekusi mati DN AIDIT,
Pengakuan DN.AIDIT sebelum di eksekusi mati " Saya adalah satu-satunya yang memikul tanggung jawab paling besar dalam peristiwa G30S yang gagal dan yang didukung oleh anggota-anggota PKI yang lain, dan organisasi massa, di bawah pimpinan PKI. Sebagaimana diketahui saya mengerjakan rencana untuk menghimpun kekuatan komunis di Jawa Tengah,..."

Diubah oleh binbin1979
Quote:


==================
catatan sejarah yg wajib disimak..lumayan buat dongeng bocah sebelum bobo..
Quote:


Dongeng yang masih misteri dan harus segera diluruskan emoticon-Stick Out Tongue

Quote:


agak susah kayaknya
orang tua ane dan kakek ane bilang kalo PKI itu nyasarnya cendekiawan, sarjana, PNS, dan ulama (kalangan terdidik)
pemberantasan PKI sebenarnya adalah kumpulan rasa dendam korban2 PKI
Quote:


masbro coba bedah buku Fakta dan Rekayasa G30S menurut Kesaksian Para Pelaku, setidaknya di situ diungkapkan pengakuan dari para pelaku yang selama ini tidak pernah terdengar suaranya karena dibungkam oleh penguasa order baru,

Harganya 86ribu di Gramedia, atau nanti ane kupas 1-1 juga boleh...
ada perintah kalau aidit harus di tangkap hidup2
tapi kenapa ada perintah mendadak untuk mengeksekusi di tempat??
banyak fakta yang baru terungkap....emoticon-Matabelo
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di