alexa-tracking

Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d83a920975b4692b0000a9/sejarah-fatwa-mui-tentang-natal-1981
Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981
http://www.historia.co.id/?c=2&d=1116

Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981

Quote:
Ini teks fatwa-nya:

http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981

Quote:
Wah makasih infonya gan.. jadi makin jelas sekarang.
Kemarin baca notesnya temen di FB, ane baru tahu juga kalo pelarangan ucapan selamat natal belakangan ini dipelintir dan mencatut nama Buya Hamka yang thn 81 silam memfatwakan melarang mengikuti upacara keagamaan natal. Ane baru ngeh juga dengan mundurnya Hamka dari MUI.

Quote:


KASKUS Ads
Quote:


Dan sayangnya, dari pihak yang anti mengucapkan selamat natal maupun pihak anti MUI sama-sama memelintir fatwa itu.
Quote:



dah kebacakan siapa2 yang anti mengucapkan natal emoticon-Embarrassment
awas di hujat kafir liberal om emoticon-Ngacir
jadi sebenernya MUI jaman Hamka itu tidak memfatwakan haram ucapan selamat natal kan ??

sodara2 gw yang kristen ... waktu kita yang muslim idul fitri pada turut bersuka cita kok .. malah ikutan ngucapin minal aidzin wal faidzin ..

ane ngucapin selamat natal ke sodara2 ane yang beragama kristenemoticon-Selamat
image-url-apps
awal dari permusuhan ideologi islam dgn pemerintah orba berawal dari ini lalu berpuncak pada tanjung priok kan ?
cmiiw
umat lain bisa gak yah ngucapin syahadat??
yang merupakan persaksian kepada Allah dan Rasul.

ada hal2 yang tidak boleh kelewat batas dalam meyakininya.

secara logika, kalau mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, maka yang mengucapkan secara otomatis ya mengakui konsep ketuhanan dalam agama orang yang menerima ucapan selamat tersebut, atau minimal dia meyakini tentang konsep bahwa semua agama itu sama.

jelas hal itu merusak akidah pengucapnya, karena iman itu bukan hanya dalam hati, tetapi tercermin dalam ucapan dan tergambarkan dalam perilaku.

Jadi hati2 dalam mengucapkan selamat atas hari besar agama umat lain, toh kalau mau toleransi harusnya umat agama lain tidak mengharapkan ucapan dari teman dia yang beragama lain.

yang perlu dilakukan sekarang, adalah toleransi yang sifatnya bukan berhubungan ke dalam ritual ibadah tetapi dalam kehidupan sehari2

MUI zaman Hamka tidak membahas soal ucapan selamat, bukan berarti MUI sekarang gak berhak mengeluarkan fatwa lagi soal larangan ucapan selamat natal. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, ketika MUI dipimpin oleh orang yang berbeda, akan beda lagi fatwanya emoticon-Peace

Kadang dialektika tidak menghasilkan sintesa tetapi malah polaritas. emoticon-Big Grin

Sejarah membuktikan ini. emoticon-Big Grin
Quote:


Ah itu kan logika samanosuke20 aja.

Dalam studi sejarah kita bisa ngomong tentang agama-agama dan tuhan-tuhan masa lalu maupun sekarang, tentang Zeus, Toutatis, Siwa, Brahma, YHWH, Allah, uang, ideologi, Flying Spaghetti Monster. Itu bukan berarti kita langsung meyakini semua tuhan itu benar Tuhan kan?

Keimanan itu tidak mesti logis, dan tidak mesti objektif.
Quote:


Yang jelas, sejak fatwa 1981, seingat saya MUI belum membuat fatwa lagi terkait Natal. Atau sudah ada? Kalau yang tahu, tolong dibantu thred ini dengan disajikan buktinya.
hmm.... tapi sekarang berkembangnya MUI terlanjur setuju pengharaman ucapan perayaan natal.

Gimana dong TS?
Quote:


Oh iya, sorry.. Fatwa yang resmi yang saya tau juga cuma fatwa taun 1981.

Tapi ulama-ulama MUI sekarang bamyak yang berpendapat tentang pengharaman ucapan selamat natal. Bukankah pendapat yang keluar dari mulut ulama tentang suatu hukum, adalah fatwa juga.
Quote:


Quote:


Fatwa MUI harus keluar melalui sidang resmi, dan harus ada teks tertulisnya seperti fatwa Natal 1981 yang saya kutipkan. Sama seperti undang-undang sekuler, harus ada dokumentasi tertulis dan dalil mengapa keputusan fatwa itu dibuat. Prosedur pembuatan fatwa MUI

Kalau baru pendapat lisan sih belum jadi fatwa MUI. Baru pendapat orang itu saja, yang bisa benar dan bisa salah, dan ucapan bisa dipelintir. Soal rokok saja ada ulama yang bilang boleh, ada yang bilang haram. Hukum Islam semuanya berdasarkan teks kan? Bukan "katanya katanya".

(Tapi memang ada sebagian Muslim yang percaya bahwa dalam Islam ada kependetaan, dan apa yang diucapkan pendeta-pendeta mereka adalah hukum, dan mereka beriman kepada pendeta-pendeta mereka. Entah mereka meniru agama mana.)
Quote:


My sides... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
nah luuuuu, ada fakta baru lagi akhirnya menyangkut masalah ini,....yah semoga semakin terang aja deh, jd ga ada yg merasa tersesat / disesatkan lagi, PEACE for Indonesian People

emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2
Quote:


kalau dibandinginnya sama syahadatnya rasanya kurang pas..

Quote:


nah bagi yang merasa itu akan merusak imannya ya ga usah ucapin, tapi bagi yang ngerasa itu ga pengaruh ya silahkan ucapin..

tapi ya bener toleransi bukan berarti harus bersuka cita atas perayaan agama lain.. toleransi lebih menghormati dan ga menggangu perayaan agama lain, bukan saling merayakan semua perayaan agama.

Kalau mau agak ke bahasan agama, ini seperti terjadi pada masa Nabi Muhammad yang pada saat itu agama lain mengajak saling melakukan ibadah untuk menghormati dan di jawab dengan turunnya surat al-kafirun, pada ayat akhir, lakum dinukum waliyadin.
CMIIW

kalo isu toleransi yang di angkat untuk mencounter orang yang ga mau ngucapin juga ga pas. juga bagi yang agamanya yang sedang merayakan terus ga terima ucapan terus "marah" itu lebih aneh lagi.

dan ini bukan buat agama lain aja, yang islam juga ngaco kalo menuntut minta ucapan selamat.

Quote:


Yup, bener, tapi menurut ane mempelajari sama merayakan beda. jadi kurang pas kalo mempelajari agama lain dibandingin sama ngucapin perayaan agama lain.

Sebenernya emang semuanya balik ke diri masing2, dan baliknya itu juga kan tergantung keimanan dan pengetahuan orangnya sendiri, dan tiap orang beda2 dalam hal itu

makanya turun fatwa seperti itu agar yang masih belajar / yang belum tau tidak salah dalam mengartikan, dan lebih berhati-hati.
makanya semua umat, terutama muslim kudu berpikiran kritis dan cpt memahami.. mn yg masuk ranah sosial dan agama. jgn mudah dibelokan olh pihak tak bertanggng jawab
Quote:


ane umat katolik gan dan ane bisa ucapin syahadat, nih gan:
Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.

Asal agan tau aja yg punya syahadat itu bukan cuma umat muslim.
Jadi pengucapan hari raya sama syahadat itu jelas berbeda.