alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d83a920975b4692b0000a9/sejarah-fatwa-mui-tentang-natal-1981
Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981
http://www.historia.co.id/?c=2&d=1116

Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981

Quote:
Upacara Natal Bersama Haram


Dilatarbelakangi perayaan Natal-Lebaran bersama, MUI keluarkan fatwa.

OLEH: ANNISA MARDIANI




MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan umat Islam tak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal. Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram. Demikian bunyi fatwa tentang perayaan Natal Bersama yang dikeluarkan MUI pada 7 Maret 1981. Kala itu MUI dipimpin Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), sedangkan ketua Komisi Fatwa-nya adalah Syukuri Ghozali.

Fatwa tersebut dilatarbelakangi fenomena yang kerap terjadi sejak 1968 ketika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 1-2 Januari dan 21-22 Desember. Lantaran perayaan Lebaran berdekatan dengan Natal, banyak instansi menghelat acara perayaan Natal dan Halal Bihalal bersamaan. Ceramah-ceramah keagaman dilakukan bergantian oleh ustadz, kemudian pendeta. Menurut Jan S. Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Hamka mengecam kebiasaan itu bukan toleransi namun memaksa kedua penganut Islam dan Kristiani menjadi munafik. Hamka juga menilai penganjur perayaan bersama itu sebagai penganut sinkretisme.

Dalam fatwanya, MUI sendiri melihat bahwa perayaan Natal Bersama disalahartikan oleh sebagian umat Islam dan “disangka sama dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw”. Karena salah pengertian itu, ada sebagian umat Islam ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal. Padahal, lanjut MUI, perayaan Natal bagi umat Kristen adalah ibadah.

Dengan pertimbangan, umat Islam perlu mendapat petunjuk jelas, tak tercampuraduknya akidah dan ibadahnya dengan agama lain, perlu menambah iman dan takwa, serta tanpa mengurangi usaha menciptakan kerukunan antarumat beragama, MUI mengeluarkan fatwa tentang Perayaan Natal Bersama. MUI berharap umat Islam tak terjerumus dalam syubhat (perkara-perkara samar) dan larangan Allah.

Fatwa MUI kemudian ramai diperdebatkan. Kebiasaan saling menghadiri, saling mengucapkan selamat dan merayakan bersama di kantor atau sekolah lantas membuat para pimpinan sekolah maupun instansi dilema.

Menurut Ketua Komisi Fatwa, Syukri Ghozali, dikutip Tempo 30 Mei 1981, fatwa itu sebenarnya dibuat agar Departemen Agama menentukan langkah dalam menyikapi Natalan-Lebaran yang kerap terjadi. “Jadi seharusnya memang tidak bocor keluar,” ujar Syukri. Namun, fatwa yang disiarkan buletin Majelis Ulama 3 April 198 dikutip harian Pelita 5 Mei 1981. Jadilah fatwa itu menyebar ke masyarakat sebelum petunjuk pelaksanaan selesai dibuat Departemen Agama.

Dianggap dapat menegangkan kerukunan antarumat beragama, pemerintah turun tangan. Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam memoarnya H. ARPN: Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu, menuliskan: “Saya undang pimpinan Mejelis Ulama. Saya sarankan agar fatwa tersebut dicabut dan saya akan mengambil-alih dengan mengeluarkan peraturan.”

Hamka tak lantas mencabut fatwa itu. Dia hanya mengeluarkan Surat Keputusan MUI No. 139 tahun 1981 mengenai penghentian edaran fatwa. Namun, dalam surat pembaca yang ditulisnya dan kemudian dimuat di Kompas 9 Mei 1981, dia menjelaskan Surat Keputusan MUI itu tak mempengaruhi kesahihan fatwa tentang perayaan Natal. “Fatwa itu dipandang perlu dikeluarkan sebagai tanggung jawab para ulama untuk memberikan pegangan kepada umat Islam dalam kewajiban mereka memelihara kemurnian aqidah Islamiyah,” tulis Hamka.

“Drama” kemudian bergulir. Hamka meletakkan jabatan. Dalam buku Mengenang 100 Tahun Hamka, Shobahussurur mencatat perkataan Hamka: “Masak iya saya harus mencabut fatwa,” kata Hamka sambil tersenyum sembari menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai ketua MUI kepada Departemen Agama.

Gonjang-ganjing MUI dan fatwa tersebut sampai ke DPR. Menurut Kompas, 21 Mei 1981, dalam tanggapannya di depan rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Menteri Agama berencana menghelat pertemuan dengan Musyawarah Kerukunan Antar Agama untuk merumuskan batasan kegiatan seremonial atau ibadah mana yang bisa dan tidak bisa diikuti orang di luar umat agama tersebut.

Pada 2 September 1981 Menteri Agama mengeluarkan Surat Edaran Nomor MA/432/1981 kepada berbagai instansi pemerintah. Isinya menjelaskan: selepas acara kegiatan ibadah umat Kristiani, yakni acara seremonialnya, boleh saja pemeluk agama lain hadir mengucapkan dan merayakan Natal. Kegiatan ibadah, menurut surat edaran tersebut, adalah sembahyang, berdoa, puji-pujian, bernyanyi, membakar lilin, dan lain-lain. Demikian juga umat Islam, ketika salat Idul Fitri atau Idul Adha tak pernah mengundang pemeluk agama lain, tapi setelah selesai salat pintu terbuka untuk semua tamu.
Ini teks fatwa-nya:

http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

Sejarah Fatwa MUI tentang Natal, 1981

Quote:KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
PERAYAAN NATAL BERSAMA


Memperhatikan:
1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini
disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama
dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam
yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam
kepanitiaan Natal.
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan
Ibadah.

Menimbang:
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang
Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan
Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan
Taqwanya kepada Allah Swt.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar
ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali:
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:
A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan
bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah
yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:
Al Hujarat: i3; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).
B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah
dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama
lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)
C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan
Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada
para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al
Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)
D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih
daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu
anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al
Maidah:72-73; At Taubah:30.*)
E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada
Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar
mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa
menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah:
116-118.*)
F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu,
berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)
G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri
dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta
untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik
kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin
Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu
telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan
tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti
halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui
yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang
syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya,
tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia
telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang
menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka
mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu.
Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan
ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang
diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan
dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak
dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya
haram.
3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan
larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring):
tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981
M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)

--------
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang
disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab
dan terjemahannya, Bhs Indonesia.
Wah makasih infonya gan.. jadi makin jelas sekarang.
Kemarin baca notesnya temen di FB, ane baru tahu juga kalo pelarangan ucapan selamat natal belakangan ini dipelintir dan mencatut nama Buya Hamka yang thn 81 silam memfatwakan melarang mengikuti upacara keagamaan natal. Ane baru ngeh juga dengan mundurnya Hamka dari MUI.

Quote:Original Posted By pokerstar
Ini sedikit info dari teman ane:
https://www.facebook.com/notes/achma...50266208849990
bagaimana persisnya posisi Buya Hamka? Sejauh riset yg saya lakukan, posisi beliau kurang lebih sama dg Prof. Shihab. Banyak riset sdh dilakukan, antara lain disertasi Mujiburrahman berjudul Feeling Threatened, Muslim-Christian Relations under the New Order, juga mengupas seputar fatwa MUI thn 1981 itu. Th 1974 Buya Hamka ditanya oleh salah seorang pendengar radio "kuliah shubuh" yg diasuhnya. Krn keterbatasan waktu, beliau kemudian menjawabnya secara tertulis melalui Panji Masyarakat, yang intinya mengijinkan penyampaian ucapan Selamat Natal oleh orang Islam sebagai bagian dari tata krama sosial, sepanjang tindakan itu tdk melemahkan aqidah ybs. Tdk ada kontroversi apa-apa di seputar fatwa pribadi Buya th 1974 itu. Thn 1981 MUI yg dikepalainya dimintai fatwa (internal) oleh kementerian agama menyangkut 'keresahan' (krn kadang ada semacam 'pemaksaan terselubung' (ingat situasi politik th 1980-an) akibat ramainya perayaan Natal bersama di kantor-kantor dan sekolah-sekolah. Dg asumsi keterlibatan kaum Muslim (ingat, waktu itu posisi ekonomi, politik dan sosial Muslim sangat rendah di bawah Orba yg lagi kuat-kuatnya) dalam perayaan Natal bersama akan berakibat pada sinkretisme dan pelemahan akidah, MUI mengharamkan keterlibatan orang Islam dalam perayaan semacam itu (yg diharamkan bukan mengucapkan selamat natal-nya). Fatwa yg sebetulnya utk kepentingan internal kementrian agama ini ternyata kemudian beredar luas dan menimbulkan kontroversi. Alamsjah yg wkt itu jd Menag merasa terpojok dan menyatakan bermaksud mundur. Buya yang merasa bertanggung jawab atas fatwa itu (dan dia adalah satu-satunya ketua MUI yg tdk mau menerima gaji dr pemerintah utk memelihara independensinya) menyatakan dialah yg hrs mundur sbg ketua MUI, bukan Menag. stlh digelar rapat dg Kemenag, MUI menyatakan bahwa fatwa itu dibatalkan peredarannya. Buya Hamka jg menggarisbawahi bhw isi fatwa ttp valid, tp isi di sini adalah "pengharaman keterlibatan orang Islam dlm perayaan Natal yg membahayakan aqidah dan bs mengarah pd sinkretisme". Sedang mengucapkan selamat Natal adalah bolah-boleh saja. kita perlu cermata menempatkan kembali sejarah dan memakai nama orang, agar jgn sampai main pelintir tanpa sadar utk kepentingan politik kita sendiri. Semoga ini sedikit membantu klarifikasi emoticon-Wink


Quote:Original Posted By pokerstar
Wah makasih infonya gan.. jadi makin jelas sekarang.
Kemarin baca notesnya temen di FB, ane baru tahu juga kalo pelarangan ucapan selamat natal belakangan ini dipelintir dan mencatut nama Buya Hamka yang thn 81 silam memfatwakan melarang mengikuti upacara keagamaan natal. Ane baru ngeh juga dengan mundurnya Hamka dari MUI.


Dan sayangnya, dari pihak yang anti mengucapkan selamat natal maupun pihak anti MUI sama-sama memelintir fatwa itu.
Quote:Original Posted By InRealLife


Dan sayangnya, dari pihak yang anti mengucapkan selamat natal maupun pihak anti MUI sama-sama memelintir fatwa itu.



dah kebacakan siapa2 yang anti mengucapkan natal emoticon-Embarrassment
awas di hujat kafir liberal om emoticon-Ngacir
jadi sebenernya MUI jaman Hamka itu tidak memfatwakan haram ucapan selamat natal kan ??

sodara2 gw yang kristen ... waktu kita yang muslim idul fitri pada turut bersuka cita kok .. malah ikutan ngucapin minal aidzin wal faidzin ..

ane ngucapin selamat natal ke sodara2 ane yang beragama kristenemoticon-Selamat
awal dari permusuhan ideologi islam dgn pemerintah orba berawal dari ini lalu berpuncak pada tanjung priok kan ?
cmiiw
umat lain bisa gak yah ngucapin syahadat??
yang merupakan persaksian kepada Allah dan Rasul.

ada hal2 yang tidak boleh kelewat batas dalam meyakininya.

secara logika, kalau mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, maka yang mengucapkan secara otomatis ya mengakui konsep ketuhanan dalam agama orang yang menerima ucapan selamat tersebut, atau minimal dia meyakini tentang konsep bahwa semua agama itu sama.

jelas hal itu merusak akidah pengucapnya, karena iman itu bukan hanya dalam hati, tetapi tercermin dalam ucapan dan tergambarkan dalam perilaku.

Jadi hati2 dalam mengucapkan selamat atas hari besar agama umat lain, toh kalau mau toleransi harusnya umat agama lain tidak mengharapkan ucapan dari teman dia yang beragama lain.

yang perlu dilakukan sekarang, adalah toleransi yang sifatnya bukan berhubungan ke dalam ritual ibadah tetapi dalam kehidupan sehari2

MUI zaman Hamka tidak membahas soal ucapan selamat, bukan berarti MUI sekarang gak berhak mengeluarkan fatwa lagi soal larangan ucapan selamat natal. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, ketika MUI dipimpin oleh orang yang berbeda, akan beda lagi fatwanya emoticon-Peace

Kadang dialektika tidak menghasilkan sintesa tetapi malah polaritas. emoticon-Big Grin

Sejarah membuktikan ini. emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By samanosuke20

secara logika, kalau mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, maka yang mengucapkan secara otomatis ya mengakui konsep ketuhanan dalam agama orang yang menerima ucapan selamat tersebut, atau minimal dia meyakini tentang konsep bahwa semua agama itu sama.


Ah itu kan logika samanosuke20 aja.

Dalam studi sejarah kita bisa ngomong tentang agama-agama dan tuhan-tuhan masa lalu maupun sekarang, tentang Zeus, Toutatis, Siwa, Brahma, YHWH, Allah, uang, ideologi, Flying Spaghetti Monster. Itu bukan berarti kita langsung meyakini semua tuhan itu benar Tuhan kan?

Keimanan itu tidak mesti logis, dan tidak mesti objektif.
Quote:Original Posted By reknuj
MUI zaman Hamka tidak membahas soal ucapan selamat, bukan berarti MUI sekarang gak berhak mengeluarkan fatwa lagi soal larangan ucapan selamat natal. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, ketika MUI dipimpin oleh orang yang berbeda, akan beda lagi fatwanya emoticon-Peace



Yang jelas, sejak fatwa 1981, seingat saya MUI belum membuat fatwa lagi terkait Natal. Atau sudah ada? Kalau yang tahu, tolong dibantu thred ini dengan disajikan buktinya.
hmm.... tapi sekarang berkembangnya MUI terlanjur setuju pengharaman ucapan perayaan natal.

Gimana dong TS?
Quote:Original Posted By InRealLife


Yang jelas, sejak fatwa 1981, seingat saya MUI belum membuat fatwa lagi terkait Natal. Atau sudah ada? Kalau yang tahu, tolong dibantu thred ini dengan disajikan buktinya.


Oh iya, sorry.. Fatwa yang resmi yang saya tau juga cuma fatwa taun 1981.

Tapi ulama-ulama MUI sekarang bamyak yang berpendapat tentang pengharaman ucapan selamat natal. Bukankah pendapat yang keluar dari mulut ulama tentang suatu hukum, adalah fatwa juga.
Quote:Original Posted By sang..pencerah
hmm.... tapi sekarang berkembangnya MUI terlanjur setuju pengharaman ucapan perayaan natal.

Gimana dong TS?


Quote:Original Posted By reknuj


Oh iya, sorry.. Fatwa yang resmi yang saya tau juga cuma fatwa taun 1981.

Tapi ulama-ulama MUI sekarang bamyak yang berpendapat tentang pengharaman ucapan selamat natal. Bukankah pendapat yang keluar dari mulut ulama tentang suatu hukum, adalah fatwa juga.


Fatwa MUI harus keluar melalui sidang resmi, dan harus ada teks tertulisnya seperti fatwa Natal 1981 yang saya kutipkan. Sama seperti undang-undang sekuler, harus ada dokumentasi tertulis dan dalil mengapa keputusan fatwa itu dibuat. Prosedur pembuatan fatwa MUI

Kalau baru pendapat lisan sih belum jadi fatwa MUI. Baru pendapat orang itu saja, yang bisa benar dan bisa salah, dan ucapan bisa dipelintir. Soal rokok saja ada ulama yang bilang boleh, ada yang bilang haram. Hukum Islam semuanya berdasarkan teks kan? Bukan "katanya katanya".

(Tapi memang ada sebagian Muslim yang percaya bahwa dalam Islam ada kependetaan, dan apa yang diucapkan pendeta-pendeta mereka adalah hukum, dan mereka beriman kepada pendeta-pendeta mereka. Entah mereka meniru agama mana.)
Quote:Original Posted By InRealLife
(Tapi memang ada sebagian Muslim yang percaya bahwa dalam Islam ada kependetaan, dan apa yang diucapkan pendeta-pendeta mereka adalah hukum, dan mereka beriman kepada pendeta-pendeta mereka. Entah mereka meniru agama mana.)


My sides... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
nah luuuuu, ada fakta baru lagi akhirnya menyangkut masalah ini,....yah semoga semakin terang aja deh, jd ga ada yg merasa tersesat / disesatkan lagi, PEACE for Indonesian People

emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2
Quote:Original Posted By samanosuke20
umat lain bisa gak yah ngucapin syahadat??


kalau dibandinginnya sama syahadatnya rasanya kurang pas..

Quote:Original Posted By samanosuke20

secara logika, kalau mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, maka yang mengucapkan secara otomatis ya mengakui konsep ketuhanan dalam agama orang yang menerima ucapan selamat tersebut, atau minimal dia meyakini tentang konsep bahwa semua agama itu sama.

jelas hal itu merusak akidah pengucapnya, karena iman itu bukan hanya dalam hati, tetapi tercermin dalam ucapan dan tergambarkan dalam perilaku.

Jadi hati2 dalam mengucapkan selamat atas hari besar agama umat lain, toh kalau mau toleransi harusnya umat agama lain tidak mengharapkan ucapan dari teman dia yang beragama lain.

yang perlu dilakukan sekarang, adalah toleransi yang sifatnya bukan berhubungan ke dalam ritual ibadah tetapi dalam kehidupan sehari2


nah bagi yang merasa itu akan merusak imannya ya ga usah ucapin, tapi bagi yang ngerasa itu ga pengaruh ya silahkan ucapin..

tapi ya bener toleransi bukan berarti harus bersuka cita atas perayaan agama lain.. toleransi lebih menghormati dan ga menggangu perayaan agama lain, bukan saling merayakan semua perayaan agama.

Kalau mau agak ke bahasan agama, ini seperti terjadi pada masa Nabi Muhammad yang pada saat itu agama lain mengajak saling melakukan ibadah untuk menghormati dan di jawab dengan turunnya surat al-kafirun, pada ayat akhir, lakum dinukum waliyadin.
CMIIW

kalo isu toleransi yang di angkat untuk mencounter orang yang ga mau ngucapin juga ga pas. juga bagi yang agamanya yang sedang merayakan terus ga terima ucapan terus "marah" itu lebih aneh lagi.

dan ini bukan buat agama lain aja, yang islam juga ngaco kalo menuntut minta ucapan selamat.

Quote:Original Posted By InRealLife

Ah itu kan logika samanosuke20 aja.

Dalam studi sejarah kita bisa ngomong tentang agama-agama dan tuhan-tuhan masa lalu maupun sekarang, tentang Zeus, Toutatis, Siwa, Brahma, YHWH, Allah, uang, ideologi, Flying Spaghetti Monster. Itu bukan berarti kita langsung meyakini semua tuhan itu benar Tuhan kan?

Keimanan itu tidak mesti logis, dan tidak mesti objektif.


Yup, bener, tapi menurut ane mempelajari sama merayakan beda. jadi kurang pas kalo mempelajari agama lain dibandingin sama ngucapin perayaan agama lain.

Sebenernya emang semuanya balik ke diri masing2, dan baliknya itu juga kan tergantung keimanan dan pengetahuan orangnya sendiri, dan tiap orang beda2 dalam hal itu

makanya turun fatwa seperti itu agar yang masih belajar / yang belum tau tidak salah dalam mengartikan, dan lebih berhati-hati.
makanya semua umat, terutama muslim kudu berpikiran kritis dan cpt memahami.. mn yg masuk ranah sosial dan agama. jgn mudah dibelokan olh pihak tak bertanggng jawab
Quote:Original Posted By samanosuke20
umat lain bisa gak yah ngucapin syahadat??


ane umat katolik gan dan ane bisa ucapin syahadat, nih gan:
Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.

Asal agan tau aja yg punya syahadat itu bukan cuma umat muslim.
Jadi pengucapan hari raya sama syahadat itu jelas berbeda.