alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d5b309e774b4bb3e000032/yuk-mengenal-sejarah-sambal-di-indonesiayuk-mengenal-sejarah-sambal-di-indonesia
Yuk Mengenal Sejarah Sambal Di Indonesia!
Yuk Mengenal Sejarah Sambal Di IndonesiaYuk Mengenal Sejarah Sambal Di Indonesia!

Quote:Jangan lupa gan emoticon-Rate 5 Star Yuk Mengenal Sejarah Sambal Di IndonesiaYuk Mengenal Sejarah Sambal Di Indonesia! biar gak hilang emoticon-Shakehand2 boleh juga bagi emoticon-Blue Guy Cendol (L)


Yuk Mengenal Sejarah Sambal Di IndonesiaYuk Mengenal Sejarah Sambal Di Indonesia!

Kebanyakan lidah orang Indonesia menganggap makan tanpa sambal terasa belum lengkap. Hampir semua masakan Nusantara selalu diiringi dengan sambal. Bahkan di Menado, pisang goreng pun dimakan dengan sambal. Kalau pun sambal tak tersedia di meja, beberapa potong gerusan cabai merah atau beberapa potong cabai rawit dicepluskan ke mulut sebagai teman makan.

Perkara kebiasaan makan sambal ini terbawa sampai di luar negeri. Alasannya, masakan yang disantap terasa hambar, belum pedas. Apalagi bila ada sambal yang tersedia pun tidak sepedas sambal dari tanah air. Maklum saja lidah dan perut orang asing berbeda dengan kita. Oleh karena itu sambal botolan menjadi pilihan untuk dibawa. Untungnya ada sambal botolan. Coba bila harus mengulek sendiri dengan membawa serta cobek batunya. Bayangkan berapa berat bagasi yang harus dibawa.

Mengapa sambal begitu populer di Nusantara dan nyaris menjadi makanan utama, bukan sekedar pelengkap? Hal ini dikarenakan seni kuliner Nusantara bersifat hidangan dingin. Sehingga cabai menjadi hal penting dalam setiap masakan. Rasa pedas cabe tidak hanya memberikan rasa yang menggugah selera tetapi juga memiliki fungsi sebagai pengganti temperatur panas.

Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi Jan Pieterszoon Coen pernah menyebut adanya Ricino Brasiliensi atau lada Chili vocato. Menurutnya ini adalah lombok, cabai merah atau yang dikenal sebagai cabai Brazil. Orang Brazil sendiri menyebutnya Chili lada. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa asal kata nama ricino dari recche atau reche berasal dari bahasa Portugis. Kata ini mengingatkan kita pada kata rica yang juga mengacu pada cabai atau lombok. Tentu kita ingat ‘rica-rica’, masakan khas Menado. Namun, kata reche menurut pendeta P.J Veth tidak ditemui dalam kamus Portugis. Veth berpendapat bahwa yang disebut Spaanse peper, cabai Spanyol adalah Capsicum alias cabai Brazil. Pendapatnya ini juga menolak anggapan bila cabai dibawa oleh orang Portugis dari West Indien/Hindia Barat (Amerika Tengah dan Selatan) ke Hindia Timur pada penghujung abad ke-16.

Pendapat Veth beralasan bahwa cabai pun telah ada sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh arkeolog Titi Surti Nastiti bahwa cabai pada masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung dijual. Bahkan menurut Nastiti dalam teks Ramayana dari abad ke-10, cabai juga sudah disebut sebagai salah satu contoh jenis makanan pangan.

Namun, setidaknya kata reche atau ritsjes pernah populer pada 1669 yang dapat diketahui dari syair Van Overbeeke di Batavia:
“Soya, Gengber, Loock en Ritsjes
Maeckt de maegh wel scharp en spitsjes”.
(Kedelai, jahe, bawang putih dan cabai
Membuat perut melilit karena pedas dan diaduk-aduk)

Pendeta Valentijn pun menyebutkan ada tiga jenis cabai merah. Yaitu cabai merah besar, cabai merah kecil dan cabai kecil yang berwarna kekuningan.

Para budak pada masa VOC yang mahir membuat sambal mendapatkan tempat ‘khusus’ karena disenangi para majikannya. Bisa jadi ‘harga pasaran’ mereka menjadi cukup tinggi.

Sementara itu dalam turisme, sambal pun mendapat catatan tersendiri. Dalam beberapa buku panduan turisme dituliskan peringatan kepada para calon turis untuk “berhati-hati” dalam mengkonsumsi sambal yang pedas karena ini berurusan dengan kesehatan perut. Tentu tidak akan mengesankan bila liburan terganggu karena masuk rumah sakit gara-gara menikmati sesendok sambal.

Namun, tetap saja ada juga turis yang tetap nekat ingin mencicipi. Seperti pengalaman dari Justus van Maurik, pengusaha cerutu asal Amsterdam yang mengunjungi Batavia akhir abad ke-19. Ia menuturkan: “ Salah satu dari hidangan dalam rijsttafel yang menarik perhatian saya adalah Spaanse peper (lada Spanyol/cabai rawit). Suatu kali saya pernah melihat seorang nona muda dengan pipinya yang kemerahan menikmati lada spanyol seperti menikmati permen bon-bon. Matanya tidak berair. Rasanya, saya tak akan bisa menikmati hidangan itu seperti dirinya karena saya pernah merasakan pedasnya Lombok setan itu. Mulut saya terbuka dan mata sepertinya mau keluar karena rasa panas dan pedas. Rasanya mau meledak. Ini semua gara-gara rasa penasaran dan bisikan pelayan yang menawari saya sambil berbisik: Sambal, toewan?”

Demikian pula pengalaman jurnalis perempuan yang juga seorang guru, Augusta de Wit yang juga mengunjungi Batavia. Pengalamannya yang tak akan terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi sambal. Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti terbakar sehingga harus diguyur air. Sementara itu air mata bercucuran. Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun, ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut. Ia malah suka dan terbiasa dengan hidangan pedas itu.

Louis Couperus dalam Oostwaarts (1992, 1924) mengingatkan para turis yang belum pernah mencicipi dasyhatnya sambal oelek untuk berhati-hati. “Sebaiknya,” tulis Couperus, “…sambal itu jangan dicampur di nasi, tetapi letakkan di pinggir piring.” Lalu “Setiap suap nasi yang diiringi daging ayam, sapi atau ikan dicocolkan sedikit sambal.”

Memang selain garam, sebagai cara menghilangkan rasa pedas membakar di mulut, dianjurkan meneguk susu, yoghurt. Jangan minum air apalagi air es. Bergelas-gelas air tak akan mampu memadamkan panasnya cabai. Selain susu, bisa juga dengan mengunyah roti, kerupuk, nasi tapi tentunya jangan dicocolkan ke sambal lagi.

Dalam buku resep lama, Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden (1903) yang juga buku pegangan wajib para perempuan Belanda sebelum datang ke Hindia, tercantum resep “Sambal Bajak”. Sambal ini berpenampilan kasar, persis sawah yang baru dibajak. Atau “Sambal Serdadu”, sambal terasi yang khusus disiapkan untuk bekal para serdadu pada saat ekspedisi atau bertempur. Bahkan pada masa itu, para keluarga Indo ada yang gemar mengoleskan sambal sebagai beleg (isi roti) di atas rotinya.

Berikut ini gan kita intip sambal di beberapa daerah di Indonesia: emoticon-Traveller emoticon-Ngacir

Spoiler for sambel:




Hayo mana nih gan sambal favorit agan???
Munafik kalau ente gak suka salah satu aja emoticon-Ngakak


Spoiler for sumber:
Keliatannya enak semua, tapi sayang ane gak bisa makan sambel gan, gak kebiasa makan pedesemoticon-Sorry
sambel terasi mangtabs emoticon-I Love Kaskus (S)
jujur gw kurang suka kalo ada sambelnya
nunggu berenti dulu baru santap lagi emoticon-Genit
ane paling suka nyambel kalo mau tidur gan..

buat ngilangin stress..

apalagi kalo abis nyambel, mandi,..

segerrr emoticon-Traveller
Ane suka sambal Gan, Tapi perut ane g suka emoticon-Frown


#judul tritnya....emoticon-Ngacir
sambal trasi lauknya ikan asin.mangthabh gaaan....
Quote:Original Posted By agentech
Ane suka sambal Gan, Tapi perut ane g suka emoticon-Frown


#judul tritnya....emoticon-Ngacir


kalo makan sedikit ane suka, tapi kalo banyak besok pagi nya waktu beol emoticon-Mad (S) bagaikan terbakar emoticon-Mad (S)
Jawa barat nggak ada ya gan emoticon-Thinking

Kl nggak salah ada deh, namanya "sambel goang" bener nggak ya emoticon-Bingung (S)
nice info tentang sambal emoticon-Ngakak
tobat sambel gan,
meski tar perut udaah mules2 gara2 sambel ampe kagag pengen maem sambel lg tar klo udah ketemu ama sambel bakalan dilalap pulak he he he.
Kalau bagi ane, susah makan jika gak ada sambel karena memang dasarnya suke yg pedes.
btw salah kamar but nice info.
Ternyata banyak yang gak suka sambal emoticon-Big Grin
Maaf gan kepencet dua kalia judulnya emoticon-Big Grin
waah sambal cabe ndak kumplit kalau sampai hilang dari makanan2 indonesia emoticon-Big Grin
"Demikian pula pengalaman jurnalis perempuan yang juga seorang guru, Augusta de Wit yang juga mengunjungi Batavia. Pengalamannya yang tak akan terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi sambal. Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti terbakar sehingga harus diguyur air. Sementara itu air mata bercucuran. Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun, ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut. Ia malah suka dan terbiasa dengan hidangan pedas itu."

Tobat sambel ini mah.... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

ane gk begitu suka sambal, tapi doyan bangt makan cabe, apalagi makan gorengan + Cabe,,, maknyus tenan... emoticon-Cool
emang bener gan, makan gak pake sambel belum puas rasanya emoticon-Ngakak
ini keknya paling enak, dari teksturnya pasti sambal terasi campur jeruk limau....emoticon-Genit

Spoiler for sambal:

sambal buatan bini gw no1 di alam semesta emoticon-Cool
Quote:Original Posted By noebir
waah sambal cabe ndak kumplit kalau sampai hilang dari makanan2 indonesia emoticon-Big Grin


Iya gan paling mantab nih sambel
Apalagi nasinya angat
Tuh lidah kebakar emoticon-Ngakak
jadi lapar gan emoticon-Matabelo