alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d423831cd7193331000003/aktivis-quotgayo-merdekaquot-berdemo
Aktivis "Gayo Merdeka" Berdemo!
http://theglobejournal.com/politik/a...-pks/index.php

Aktivis "Gayo Merdeka" Berdemo!

Quote:Aktivis Gayo Merdeka Demo
Rayful Muddassir | The Globe Journal
Kamis, 20 Desember 2012 19:27 WIB


Banda Aceh – Puluhan Mahasiswa Gayo yang menamakan dirinya Gerakan Gayo Merdeka (GGM), melakukan unjuk rasa di Simpang Lima, Kota Banda Aceh, Kamis sore tadi (20/12/2012). Aksi itu dilakukan untuk mengecam sekjen Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) PKS Aceh yang mengatakan Gayo merdeka adalah bodoh.

Dalam unjuk rasa yang dilakukan mulai pukul 16:40 WIB tersebut para mahasiswa mengatakan Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai rasis lantaran ucapan sekjen DPW PKS Aceh, Saifunsyah yang mengatakan tindakan gerakan Gayo Merdeka yang ingin merdeka dari Aceh adalah tindakan bodoh, pada sebuah diskusi publik di Hermes Hotel, Senin Malam (17/12/2012) yang dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari aktivis serta elemen partai politik.

Demonstran Gayo Merdeka Foto: Maskur | Kontributor The Globe JournalDemonstran Gayo Merdeka
Aktivis Gayo Merdeka Waladan Yoga, yang juga sebagai saksi mata pada malam itu, mengatakan saat diskusi itu dimulai tidak ada masalah apapun.

“Saya malam itu datang sebagai undangan mewakili teman-teman Gayo Merdeka. Pada malam itu kami menyampaikan kalau kami menolak Qanun Wali Nanggroe lantaran tidak sesuai MoU dan RUU PA,” katanya.

Kemudian masalah baru muncul saat sekjen DPW PKS Aceh mengatakan kalau orang Gayo bodoh.

“Disaat giliran pak Saifunsyah bicara menyampaikan pendapatnya, secara emosional sambil menunjuk-nunjuk ke saya, dia mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan teman-teman Gayo Merdeka adalah tindakan bodoh, siapapun yang meminta merdeka dari Aceh adalah bodoh, orang Gayo bodoh,” katanya dengan nada keras.

Koordinator aksi, Muhammad Darul mengatakan jika Saifunsyah tidak meminta maaf maka pada Pilkada 2014 ia melarang orang Aceh untuk memilih PKS karena perkataan rasisnya.

“Jika tidak mau meminta maaf ,kami menyatakan bahwa masyarakat haram memilih PKS pada pemilihan 2014,” teriak Darul di sela-sela unjuk rasa.

Terkait demo tersebut, The Globe Journal menghubungi Saifunsyah untuk minta konfirmasi. namun tiga kali dipanggil dengan handphone, tidak satupun diangkat oleh yang bersangkutan.


...merdeka dari Aceh?
Pemekaran provinsi kali' maksudnya. Aceh kan bukan negara sendiri yang punya dasar negara sendiri emoticon-Shutup
lhooo ini yang kemarin ribut ribut karena wali aceh harus bisa bahasa aceh itu ya?
Quote:Original Posted By InRealLife
http://theglobejournal.com/politik/a...-pks/index.php

Aktivis "Gayo Merdeka" Berdemo!




...merdeka dari Aceh?
Pemekaran provinsi kali' maksudnya. Aceh kan bukan negara sendiri yang punya dasar negara sendiri emoticon-Shutup


ane juga bingung emang aceh udah pisah dari indonesia
merdeka? emoticon-Bingung (S)

Bukanya Gayo itu nama suku ya? cmiiw
Merdeka emoticon-Bingung yang boneng gan

bukannya sudah 17 agustus 1945 yaaak emoticon-Big Grin gam khan sudah didamaikan JK

aktifis GAY oh MERDEKA ... ???

maksudnya gerombolan GAY di aceh pengen merdeka bikin negara GAY .... ????
palingan tukang kompor emoticon-Stick Out Tongue
yang saksi mata dia yg ngajak demo dia emoticon-Stick Out Tongue
lagi2 aktivis sampah ... di katain bodoh ngamuk2 padahal emang beneran bodoh .. emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By InRealLife


...merdeka dari Aceh?
Pemekaran provinsi kali' maksudnya. Aceh kan bukan negara sendiri yang punya dasar negara sendiri emoticon-Shutup


pemekaran provinsi gan, bukan merdeka

ah, kader PKS makin keliatan aja begonya, berani banget manasin suasana emoticon-thumbdown

Quote:Original Posted By iqhoe


Bercermin Pada Tuntutan Gayo Merdeka
Muhajir Juli | The Globe Journal
Senin, 12 November 2012 21:46 WIB


Semua tersentak. Pasca pengesahan Qanun Kelembagaan wali Nanggroe, para pemuda dataran tinggi yang menamakan dirinya Gayo Merdeka melakukan demonstrasi menolak qanun tersebut.

Menurut mereka, peraturan daerah yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh itu, tidak menghargai keberadaan etnis Gayo yang juga penduduk asli tanoh pusaka ini.

Anak-anak muda energik itu menilai, Qanun Wali Nanggroe disriminatif, sebab yang menjadi Wali Nanggroe (WN) harus mampu berbahasa Aceh. Padahal Gayo dan etnis minoritas (tapi asli Aceh) juga bagian sah dan tidak dapat dipisahkan dari Provinsi Aceh.

Gerakan yang dibangun oleh Gayo Merdeka pun kian meluas. Semakin hari, tuntutan mereka bukan lagi sekedar menolak pengesahan Qanun WN, tapi sudah pada tataran minta pisah dan mendirikan propinsi tersendiri yang bernama Aceh Lauser Antara (ALA).

Menyikapi isu pemekaran yang kian gencar dilakukan oleh Gayo Merdeka, berbagai pendapat pun muncul kepermukaan.

Semua pihak berlomba “mencoba” memberikan pandangan terkait tuntutan dan penolakan Qanun WN yang dilakukan oleh anak muda yang bergabung dalam Gayo Merdeka.

Tentu saja, dalam memberikan pendapatnya, pihak-pihak yang merasa diuntungkan akan berusaha secara getol untuk membela Qanun WN yang sudah disahkan oleh DPRA. Bahkan Gayo sebagai bangsa tertua di Aceh pun mulai disebut-sebut.

Namun, dari sekian banyak yang memberikan komentar, tidak satupun mampu memberikan solusi bagi “Bangsa Gayo” yang merasa tidak diakui eksistensinya oleh “kelompok pesisir” yang merasa lebih mewakili Aceh daripada orang lain.

Penulis bukanlah ahli sejarah. Bukan pula seorang sosilog handal.

Namun dalam kacamata penulis, sejak konflik bersenjata sampai dengan sekarang ini, banyak orang Aceh yang dilanda eforia keacehan yang sempit. Bangsa ini larut dalam “pengakuan diri” sebagai orang paling hebat dan paling berhak untuk dianggap lebih “Aceh” di negeri ujong Sumatera.

Penyakit ini semakin hari bukannya sembuh, tapi malah menjadi-jadi dan semakin nyata sulit untuk disembuhkan. Dalam hemat penulis, kegemaran sebagian besar dari mereka memuja diri dengan pengkultusan tertentu sudah berada pada level sombong. Akibatnya lupa untuk berkaca.

Ide pemberontakan yang diprakarsai oleh Gayo Merdeka dengan aktor anak-anak muda yang masih mengenyam bangku kuliah, merupakan bukti bila keangkuhan keacehan kembali tidak disukai oleh orang-orang yang selama ini ikut diklaim sebagai bagian tak terpisahkan dari Aceh.

Gayo Merdeka dituduh sebagai antek-antek orang lain. Dituduh sebagai orang yang suka memprovokasi dan menghendaki Aceh terbelah.

Tuduhan seperti ini muncul baik di diskusi warung kopi, di jejaring Facebook serta pula di komentar-komentar narasumber di berbagai media yang serba miring kepada Gayo Merdeka.

Tulisan ini bukan bermaksud mendukung ide Gayo Merdeka untuk “memerdekakan” ALA dari Aceh.

Ide pemecahan wilayah tetap tidak penulis sukai.

Namun bukan pula harus melupakan bila orang-orang pesisir juga punya salah. Salah satu bentuk kesalahan adalah, kewajiban mampu berbahasa Aceh bagi calon WN.

Mengapa salah?

Tentu itu pertanyaan yang akan muncul kemudian. Sebab dengan adanya syarat tersebut, rasa tak diakui akan membuat Aceh terbelah dalam berbagai kelompok. Sehingga tujuan dari Lembaga WN itu sendiri tidak akan kesampaian.

Merujuk pada bab II, prinsip dan tujuan Lembaga Wali Nanggroe, pasal 2 menyebutkan: prinsip Lembaga Wali Nanggroe adalah sebagai berikut:

Pemersatu yang independen dan berwibawa serta bermartabat;
Pembina keagungan dinul Islam, kemakmuran rakyat, keadilan dan perdamaian;
Pembina kehormatan dan kewibawaan politik, adat, tradisi, sejarah, tamaddun Aceh; dan
Pembina/pengawal/penyantun pemerintahan Aceh.


Nah, bagaimana menjadi pemersatu yang independen seperti diharapkan oleh butir a diatas?

Keharusan mampu berbahasa Aceh telah secara tegas “menjelaskan” bila kalau tak bisa berbahasa Aceh, jangan harap untuk dapat menjadi WN.

Tentu ini mencirikan bila belum pun dijadikan lembaran daerah, WN sudah tidak mampu menjadi alat pemersatu.

Dengan tidak diakuinya bahasa selain Aceh pesisir timur sebagai syarat menjadi WN, berarti tidak adanya penghormatan terhadap budaya, tradisi, sejarah serta tamaddun bagi mereka yang bersuku Gayo, Aneuk Jamee, Tamiang, Kluet dan suku lainnya yang asli Aceh, tapi minoritas.

Dengan sedikit telaah bab II pasal 2 tersebut, telah memberikan kita cermin bila terus dipaksakan untuk diterapkan tanpa adanya koreksi disana sini, jangan harap tujuan Lembaga WN akan terwujud seperti diamanatkan oleh bab II pasal 3 butir a yang berbunyi : Mempersatukan rakyat Aceh.

Justru akan menjadi bumerang dan bom waktu bagi kelangsungan perdamaian itu sendiri.

Akhirnya, penulis menghimbau, sebagai kaum yang dominan, Aceh pesisir janganlah terlalu “arogan” mengklaim diri lebih Aceh dari orang lain.

Siapapun tahu bila WN merupakan kontrak politik antara GAM dan RI yang tercantum dalam klausul MoU Helsinki butir 1.1.7. yang mengamanatkan pembentukan WN dengan segala perangkat upacara dan gelarnya.

Namun bukankah GAM dulunya “berjuang” untuk pembebasan Aceh secara menyeluruh?

Saran penulis, bilapun kita tidak menyukai suara-suara yang berbeda dan menetang dominasi mayoritas, sudah sepatutnya yang banyak juga menghargai mereka yang kecil.

Karena dengan saling menghargailah, maka Aceh akan terus damai dalam persaudaraan.

Mari kembali berkaca di cermin yang baru dibeli ditoko. Jangan melihat diri di cermin peninggalan zaman baheula.



* Penulis merupakan peminat masalah sosial. Sekarang berkhidmat di Koalisi NGO HAM Aceh.

sumbernya gan: http://theglobejournal.com/opini/ber...deka/index.php

yang bener pemekaran daerah kali, mungkin salah berita atau salah pemahaman emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By Flamigo
merdeka? emoticon-Bingung (S)

Bukanya Gayo itu nama suku ya? cmiiw


Gayo itu nama masyarakat di suatu tempat
Baik takengon maupun bener meriah
Pernah denger kopi gayo ?? emoticon-Smilie

Padahal kan bener meriah baru aja jadi kabupaten baru ??kenapa harus di pisah lg ??
btw

di sini ada orang aceh/gayo?

pengen tau, seberapa jauh bedanya sih antara orang aceh dan gayo.

juga pandangan politiknya, termasuk ketika masa ketegangan GAM dulu.
mahasiswa kw....aceh aja masih bagian suatu negara...
Sabar bang, jangan buru2 demo dulu lah...
Coba ente datang ke psikolog setempat. Test IQnya dulu. Jangan2 emang bener bodoh...?? kalau terbukti ya ngaku aja thoo...emoticon-Ngakak........emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By boy 867


Gayo itu nama masyarakat di suatu tempat
Baik takengon maupun bener meriah
Pernah denger kopi gayo ?? emoticon-Smilie

Padahal kan bener meriah baru aja jadi kabupaten baru ??kenapa harus di pisah lg ??


Kalau minta pisah sih biasanya biar bisa dapat jatah kursi kekuasaan emoticon-Najis (S)

Kalau kopi gayo blm pernah dengar gan, kopi aceh sih sering emoticon-Big Grin
wkwkwkwkw ketularan GAM ya emoticon-No Sara Please
Quote:Original Posted By Flamigo
Kalau minta pisah sih biasanya biar bisa dapat jatah kursi kekuasaan emoticon-Najis (S)

Kalau kopi gayo blm pernah dengar gan, kopi aceh sih sering emoticon-Big Grin

bukan krna kursi gan, tpi bnyk hal yg menjadi diskriminasi aceh pada kabupaten yg lainnya..
pernah denger sh slh satunya pas rapat dewan resmi masa harus pake bhasa aceh emoticon-Cape d...

penghasil kopi satu2nya di aceh. cuma dari gayo gan emoticon-Big Grin
Jangan ada gerakan GAM jilid II. emoticon-Matabelo
emoticon-Ngakak


karma is a biaaaaaaaaaaaatttccccchhhhhhhhhhhhhh.....