alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d356ef48ba545e4e000002/antara-mahasiswa-dan-politik-nasional
Antara Mahasiswa dan Politik Nasional
Kondisi antara mahasiswa dan politik nasional itu sama-sama atau kalau diskalakan sekitar 10-10 (skala 100). Keduanya sama-sama lemah. Dari pihak politik nasionalnya, saya rasa sih mereka tidak kuat dan bisa dibilang tidak punya dasar ataupun ideologi. Contohnnya parpol, karena yang paling dekat dan paling sering diisukan, jangan salahkan masyarakat kalau banyak yang sudahh tidak percaya lagi, soalnya mereka sendiri nggak jelas garis ideologinya. Kanan, kiri, atau tengah. Kalau parpol ideologinya kuat, mereka pastinya nggak akan mau koalisi dengan partai yang tidak seideologi, tapi kenyataannya tidak begitu. Mereka hanya memikirkan kepentingan jangka pendek, bukan kesesuaian paham. Yang kemudian mengakibatkan banyaknya kericuhan di intern saat pengambilan keputusan. Ini juga yang bikin DPR yang seharusnya menjadi perwakilan rakyat, malah menjadi perwakilan partainya. Yang seharusnya mensejahterakan rakyat, malah mensejahterakan partainya. Bahkan saya pernah baca, Golkar saat pemerintahan SBY-JK menyatakan bergabung dlm koalisi pemerintah. Tapi menjelang pemilu selanjutnya JK pecah dgn SBY dan mengajukan diri caPres dari Golkar. Dan setelah pemilu dimenangkan SBY, Golkar kembali menyatakan bergabung dengan pemerintah. Jadinya kelihatan seperti pemerintahan itu mainan untuk mereka. Padahal parpol itu penting sekali karena dia fasilitas dan pilarnya demokrasi.

Sementara dari pihak mahasiswa, waaaahh bingung juga saya bilangnya -_-“

Mahasiswa kenal PFM, Sumpah Pemuda, bahkan Sumpah Mahasiswa Indonesia, tapi ya Cuma sekedar tau saja. Hanya bersisa sedikit mahasiswa yang dulu dibilang kelas tengah, penyambung lidah rakyat, nasionalis, yang fungsinya sebagai elemen yang pendengar aspirasi rakyat dan kontroling ke pemerintah karena bilangnya sih pemerintah terlalu tinggi untuk mendengar aspirasi masyarakat. Sepertinya karena sudah beda generasi, akhirnya hilang sudah sosok mahasiswa yang di elu-elu kan rakyat itu. Terlalu banyaknya hal-hal instan yang mereka lihat dan rasakan, telah mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan mahasiswa sekarang. Akhirnya lupa siapa saja yang ambil andil bayarin kuliah mereka, Cuma ingat akademik IP harus cumloud. Dan saat yang di atas-atas itu buat pelanggaran-pelanggaran, ya Cuma sedikit yang peduli. Sekarang pun hanya sedikit sekali mahasiswa yang mau demo, kebanyakan bilangnya tidak penting, buang-buang waktu. Nanti gimana kuliahnya? Ah Cuma bisa rusuh nanti. Atau lebih baik itu nggak usah koar-koar, langsung aja turun ke masyarakat. Padahal semuanya penting dan harus dilakukan, kan atasan kita itu juga butuh di kontrol, evaluasi, ataupun ditekan, bahkan di apresiasi. Sampai-sampai saya kadang berkesimpulan, sebobrok apapun presiden bangsa ini nantinya mahasiswa tidak akan pernah bisa menggulingkan. Karena terlalu sibuk dengan urusannya, dan pemerintah merasa sudah sangat aman meskipun melakukan pelanggaran.

Saat ini antara mahasiswa ataupun politik nasional seperti sudah berjarak jauh dan tidak berhubungan lagi. Keduanya seperti memiliki dunia sendiri-sendiri. Lupa bahwa mereka berada dalam satu rumah, yang sedang butuh saran dan kritik untuk pembangunannya.
curhat gan ?

satu dua tiga empat lima