alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50d31f251ed7197d210000a2/5-pegawai-ponpes-mahad-al-zaytun-dianiaya
Poll: bagimana pendapat anda tentang pesantren alzaytun yang fenomenal ?
sesat menyesatkan ? 75% (3 votes)
tidak tahu 25% (1 votes)
5 Pegawai Ponpes Ma'had Al Zaytun Dianiaya
5 Pegawai Ponpes Ma'had Al Zaytun Dianiaya
Karena melakukan tuntutan upah sesuai Upah Minimum Regional (UMR) Indramayu, sebanyak tujuh orang karyawan Pondok Pesantren (Ponpes) Ma'had Al Zaytun disekap. Dan lima diantaranya sempat dianiaya dan diintimidasi pihak keamanan Ponpes.

Mereka yang telah menjadi karyawan ponpes yang berlokasi di Desa Makarjaya, Kecamatan Gantar Kabupaten Indramayu sempat disekap dan dianiaya dalam kamar beberapa hari. Parahnya lagi, selama penyekapan, tiga orang diantaranya diborgol dalam satu tiang jemuran handuk yang ada di dalam kamar. Kemudian, mereka mendapatkan perlakuan kekerasan alias penyiksaan dari pihak keamanan Ponpes Mahad Al Zaytun.

Setelah terbebas dari penyekapan dan penganiayaan, didampingi karyawan lainnya, mereka melaporkan kasus itu ke Markas Polres Indramayu, Selasa (18/12) siang.

Informasi yang dihimpun, ke lima orang yang disekap dan mendapatkan penyiksaan bagian keamanan Ponpes Ma'had Al Zaytun, yakni Sanusi (39), Sutrisno (32), Tukino (42), Widodo (45), dan Adi Trimojo (36). Sedangkan, dua orang lainnya yang sempat disekap, namun langsung dilepaskan adalah Herman dan Samirejo.

Sanusi (39) yang merupakan karyawan Ponpes Mahad Al Zaytun di bagian unit perawatan bangunan dan sarana, menuturkan, kejadian bermula saat dirinya bersama teman-teman karyawan lainnya hendak melakukan penyebaran pamflet yang berisikan tuntutan upah kerja sesuai Upah Minimun Regional (UMR).

Pasalnya, dari 1.100 karyawan, baru 700 orang yang sudah mendapatkan UMR. Itupun, baru direalisasikan beberapa bulan lalu sejak tahun 1999.

“Ketika itu, kami berencana menyebarkan pamplet tersebut kepada tamu undangan yang hadir. Baik dari lingkungan ponpes maupun lainnya, saat kunjungan menteri Agama RI beberapa hari lalu. Namun sepertinya, upaya tersebut tercium pihak keamanan ponpes. Satu persatu di antara kami pun diamankan,” kata Sanusi pada INILAH melalui sambungan selular, Selasa (18/12) malam.

Ia mengaku diciduk pihak keamanan ponpes ketika sedang beristirahat pada Kamis (13/12) malam, sekitar pukul 20.30 WIB dan langsung diamankan ke sebuah ruangan. Menurut Sanusi, pihak keamanan ponpes melakukan intimidasi dengan memukul wajahnya menggunakan buku tulis, dan tumpukan pamplet yang diperkirakan sebanyak 2 rim.

“Akibat pemukulan tersebut, daun telinga saya mengalami gangguan, dan terpaksa harus segera diperiksakan ke petugas medis,” tuturnya.

Saat diintimidasi, lanjutnya, dirinya mengalami tekanan fisik dan mental. Dia pun menyebutkan nama-nama temannya yang ikut melakukan penyebaran pamflet. Setelah buka mulut, tak lama kemudian pihak kemananan menciduk satu persatu dari tujuh orang tersebut. Namun, dua orang langsung dilepaskan karena dianggap tidak terbukti dalam penyebaran pamplet.

Dirinya bersama dua rekannya, Adi Trimojo dan Widodo diborgol dalam satu tiang selama tiga hari tiga malam. Dan dilepaskan pada Minggu (16/12) sekitar pukul 18.30 WIB. Pasalnya, ada beberapa pihak petugas Polsek Gantar yang mendatangi pihak Ponpes Alzaitun berdasarkan laporan istri-istri mereka terkait kondisi yang dialami.

Melalui Sanusi, Adi mengaku sempat dipukul beberapa kali dan terus dilakukan interogasi secara bergiliran. Dan pada Minggu (16/12) sejak pagi hingga sore hari, mereka terpaksa membeli makan dengan uang pribadi lantaran pihak ponpes tidak memberinya makan.

“Selama disekap, kami diberi makan 2 kali sehari, dengan kondisi tangan tetap diborgol,” pungkasnya.

Sumber: .[URL="http://m.inilah..com/read/detail/1939069/5-pegawai-ponpes-mahad-al-zaytun-dianiaya"]http://m.inilah..com/read/detail/1939069/5-pegawai-ponpes-mahad-al-zaytun-dianiaya[/URL]

Comentar: Pastinya da sesuatu dengn alzaytu ini...apalagi belakangann alzaytun melanjutkan misinya lewat legal formal.....masyarakat aka lebih susah mengidentifikasi mereka

Misteri Penyekapan Karyawan di Al Zaytun Terkuak dari Nyanyian para Ibu



Jakarta - 5 Orang karyawan Ponpes Al Zaytun mengaku disekap. Mereka pun melaporkan manajemen Al Zaytun ke polisi. Pangkal musabab peristiwa ini karena mereka menuntut kenaikan upah. Penyekapan itu pun terkuak setelah istri para tersangka melapor ke polisi. Sudah 3 hari suami mereka tidak pulang.

"Kita hanya terima laporan saja," kata Kapolsek Gantar, Indramayu, Iptu Acep Hasbullah saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (19/12/2012)

Informasi yang dikumpulkan, pada Minggu (16/12) ada 3 orang ibu-ibu yang juga istri dari karyawan yang diduga disekap. Ibu-ibu itu pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, datang ke Polsek Gantar. Mereka curhat soal nasib suaminya yang sudah 3 hari tidak pulang.

Mendapat laporan itu, Polsek Gantar segera melakukan kroscek. Sore pukul 16.00 WIB, Tim Polsek Gantar yang dipimpin Acep menyambangi Al Zaytun.

Di lokasi pihak kepolisian bersama Koramil Gantar bertemu dengan manajemen Al Zaytun. Perundingan dilakukan dan ternyata suami para ibu itu berada di sebuah ruangan di basement. Mereka pun tidur di ruangan 2x3 dan hanya beralas kardus. Total ada 5 orang di ruangan yakni Sanusi (39), Sutrisno (32), Tukino (42), Widodo (45), Adi Trimojo (36), dan Herman.

Polisi lalu membawa pulang mereka setelah melakukan pembicaraan. Mereka bicara soal tuntutan kenaikan upah hingga penyekapan. Para karyawan itu ditaruh di dalam ruangan karena menuntut upah sesuai standar yang berlaku yakni Rp 900 ribu. Selama ini mereka hanya mendapat upah Rp 300-400 ribu.

"Mereka bekerja di bagian bangunan dan di dapur," terang Acep saat dikonfirmasi.

Pada Senin (17/12), ada 5 orang yang melakukan pelaporan ke Polsek Gantar atas dugaan perampasan kemerdekaan orang lain. Nah, pada Selasa (18/12) Polsek Gantar melimpahkan ke Polres Indramayu.

"Kasus ini masih diselidiki. Silakan ditanyakan ke Polres," tutur Acep.

Hingga berita ini diturunkan pihak Al Zaytun belum memberikan keterangan.

Sumber: [url]http://news.detik..com/read/2012/12/19/124635/2122310/10/misteri-penyekapan-karyawan-di-al-zaytun-terkuak-dari-nyanyian-para-ibu[/url]

INILAH DELIK ADUAN DAN TUNTUTAN KARYAWAN KEPADA MA’HAD AL ZAYTUN


Delik Aduan:
A. Keuangan
1. Gaji setingkat UMD baru diberikan bukan Juni 2012, padahal ada karyawan yang sudah bekerja sejak tahun 1996.
2. Gaji setingkat UMD tersebut tidak serempak diterimakan kepada seluruh karyawan.
3. Potongan gaji tidak jelas pengaturannya, diantaranya:
a. Simpanan pokok masa depan sebesar Rp 100.000, per bulan yang tidak bisa diambil oleh karyawan tersebut selama masih hidup (hanya bisa diambil ahli warisnya).
b. Tabungan wajib simpan pinjam yang besarnya minimal Rp 1.000.000 dalam satu tahun dipotongkan tiap bulan minimal Rp 85.000.
c. Potongan koperasi Rp 5.000 per bulan untuk biaya administrasi yang belum jelas keberadaannya.
d. Sumbangan kepada yayasan minimal Rp 50.000 per bulan yang tidak jelas peruntukannya.
Dan, potongan-potongan tersebut tidak disertai bukti setorannya.
4. Penerimaan gaji selalu mundur dari tanggal penerimaan sebelumnya, bahkan secara komulatif dalam satu tahun penerimaan gaji tidak genap 12 bulan. Kalaupun ada gaji ketiga belas, hanya diturunkan hanya 30% dari gaji bulanan, dan tidak semua karyawan menerimanya.
5. Pemberian gaji tidak menyertakan struk penerimaan gaji.
6. Kenaikan gaji per tahun sangat kecil persentasinya dan tidak layak.
7. Potongan tabungan (idikhor) sejak tahun 1996 sebesar Rp 6.000 (bagi yang belum nikah) dan Rp 12.000 bagi yang sudah nikah. Sampai saat ini tidak pernah mendapatkan bukti setotan dan belum pernah ada pencarian.
8. Upah karyawan yang tugas diluar (Kasus Proyek Bengkalis Riau) dibayar hanya sebagian dan sisanya dibayar setelah delapan tahun kemudian.

B. Disiplin Kerja
1. Tidak ada kontrak kerja dan pengangkatan sebagai karyawan secara tertulis.
2. Kerja over time tidak pernah diperhitungkan sebagai kerja lembur, yakni pada tahun 1996-2002 jam kerja dari pukul 06.00-23.00. Tahun 2002-2005 jam kerja dari pukul 06.00-21.00. Tahun 2006-2007 jam kerja dari pukul 06.00-19.00. Tahun 2007-sekarang jam kerja pukul 07.00-17.00. Jam kerja tersebut tidak sesuai dengan ketentuan Depnaker. Dan, kelebihan kerja (over time) tidak diberikan uang lembur.
3. Tata tertib kerja tidak tertulis dan aturan yang dibuat berubah-ubah hanya untuk kepentingan sepihak dan semena-mena.
4. Karyawan tidak pernah diberikan hak cuti tahunan maupun cuti panjang dan tidak ada libur pada tanggal merah kalender nasional.
5. Karyawan diwajibkan untuk menyiapkan dan menggunakan perlenghkapan kerja (seperti: sepatu bot, helm kerja, safety belt, sarung tangan, alat makan, perlengkapan tidur dll) termasuk seragam (uniform) yang dibiayai sendiri tanpa ada subsidi dari pihak yayasan.
6. Karyawan keluar masuk Al Zaytun harus menggunakan Buku Izin Tinggal (BIT) yang dikenakan biaya pembuatan sebesar Rp 50.000 dan untuk perpanjangan sebesar Rp 20.000.
7. Pemutusan hubungan kerja sepihak tanpa ada pesangon dan tanpa penghargaan serta dengan alasan yang dibuat-buat.

C. Santunan
1. Karyawan dan keluarganya tidak dilindungi dengan asuransi Jaminan Sosial tenaga Kerja (Jamsostek) dan tidak ada tunjangan kesehatan.
2. Karyawan tidak mendapatkan santunan pada kecelakaan kerja walapun mengalami cacat permanen.
3. Penghapusan paket konsumsi dan beras bulanan sejak tahun 2010, namun tidak ada pengalihan (konversi) pada nilai gaji bulanan.
4. Janji bahwa anak karyawan akan mendapatkan pendidikan gratis di Ma’had Al Zaytun tidak ada realisasinya. Padahal sudah ada potongan gaji setiap bulan untuk pendidikan akan, minimal Rp 120.000 per anak.
5. Tidak ada ketentuan pensiun karyawan.
6. Tidak ada tunjangan perumahan atau kontrakan serta tunjangan transportasi, bahkan parkir motor di komplek kerja pun harus membayar. Bahkan, tidak ada penggantian saat motor hilang.

Tuntutan Karyawan
1. Gaji disesuaikan dengan UMD yang berlaku
2. Penerimaan gaji tepat waktu
3. Potongan gaji tidak memberatkan dan transparan penggunaannya
4. Penerimaan gaji harus disertai struk
5. Harus ada Standar Operating Prosedure (SOP) yang jelas pada semua unit kerja di Ma’had Al Zaytun dan disosialisasikan kepada semua karyawan.
6. Pembentukan serikat pekerja internal Al Zaytun sebagai badan penyeimbang.
7. Kebijakan yayasan harus adil terhadap karyawan dan hasilnya harus disosialisasikan kepada seluruh karyawan.
8. Undang-undang ketenagakerjaan diberlakukan di Ma’had Al Zaytun.

Sumber: www.nii-crisis-center.com
kl emang busuk pasti akan kecium. Semoga cepat menyebar sehingga cpt dibersihkan kl emang busuk.

Bangunan mewah masa gaji karyana dibawah UMD?bujug dah