alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50bcd1d71c7608987f00004e/frgoa-matu-lampung-barat-a-journey-to-batcave
[FR] Goa Matu (Lampung Barat): a Journey to Batcave
DISCLAIMER

perasaan pernah baca beberapa tulisan di thread ini?
mayoritas tulisan dalam FR ini sama dengan yang ada di FR Blind Travel 2: Edisi Lampung Barat

terus kenapa dibuat lagi?
karena akan ada beberapa cerita lain yang akan ditambahkan, dan sifatnya bukan Field Report (FR). mengupas proses perjalanan menuju Goa Matu, serta hasil perjalanan dari Goa Matu dari perspektif yang lain. *tsaaaelaaaah gayyaaaaa* emoticon-Cool

terus gue harus naik ke atas pohon sambil bilang "pucuk, pucuk..." gitu?
ngga usah, mbro. just fasten your seatbelt, relax, and enjoy this story...


"take nothing but pictures, leave nothing but footprints, and kill nothing but time"

@ujangfahmee
BLIND TRAVEL 2: A JOURNEY TO BATCAVE

Pernah traveling? Pasti sering. Traveling ala backpacker? Hampir selalu. Tapi traveling ala backpacker tanpa tahu destinasi akhirnya? Well, must be interesting..

Perkenalkan konsep inovatif dan revolusioner dalam dunia traveling: BLIND TRAVEL. Blind Travel dirancang untuk menambahkan unsur kejutan dan tantangan, serta memberikan sensasi jalan-jalan dengan cara yang berbeda.

Sekumpulan backpacker pemberani yang telah mendaftarkan diri sebagai peserta Blind Travel dikumpulkan di satu titik pertemuan awal (meeting point), untuk kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 3 orang.

Spoiler for "Anak Panti Asuhan al-Kaskus di Gambir":


Setiap kelompok dibekali sejumlah uang dan petunjuk. Kelompok harus menuju ke destinasi tertentu, mengacu pada petunjuk yang diberikan, dengan mempergunakan uang yang diberikan pada tiap kelompok.

*****

Pengundian kelompok dilakukan. Saya bersama Prima (@primelamperouge) dan Yana (@gwyana) tergabung di kelompok 6. Uang lump sum sebesar 20 ribu per anggota kelompok diberikan, bersama dengan instruksi utama untuk semua kelompok: berkumpul di lapangan Saburai (Bandar Lampung), jam 9 pagi.

Spoiler for "Tim 6, sesaat setelah berangkat dari Gambir":


Jakarta-Bandar Lampung hanya dengan 20 ribu?! Orang biasa akan merespons: impossible. Tapi respons kami, para Blind Traveler, adalah: CHALLENGE ACCEPTED!! Bandar Lampung, sambutlah kami!!

Rencana awal tim kami adalah melakukan hitch hiking, mencari tumpangan kendaraan laik dengan supir berhati baik, dengan rute Gambir-Kali Deres-Tangerang-Serang-Merak. Berjalankaki ke arah Harmoni, kelompok kami bertemu dengan dua kelompok lain yang memiliki rencana serupa sehingga kami memutuskan menempuh perjalanan bersama.

Di bilangan Harmoni, kami mendapatkan tumpangan truk hingga ke daerah Grogol. Lalu Grogol hingga ke Karawaci kami tempuh dengan menumpang truk pasir. Di Karawaci, kami sempat terkatung-katung selama 30 menit karena sulit menemukan kendaraan yang bersedia mengangkut kami ke daerah Tangerang.

Saat kami mulai putus asa, menepilah sebuah mobil pick-up yang bersedia mengantar kami ke pasar Bitung (Tangerang) dengan kompensasi sebungkus rokok. Naiklah kami bersembilan, berdesak-desakan di atas bak mobil pick-up berukuran 2,5 m x 3 m.

Dari pasar Bitung, kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang mobil pick-up yang sepertinya baru saja mengangkut pisang karena masih berserakan beberapa buah pisang di atas baknya. Kami tiba di Serang menjelang pukul 4, sehingga kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan melaksanakan shalat subuh di salah satu masjid di Serang. Setelah subuh, kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Merak dengan bis AC rute Serang-Pelabuhan Merak.

Berangkat dari Gambir pukul 23.00 WIB, tiba di Pelabuhan Merak pukul 06.30 WIB. 2 kali naik truk (hitch hike), 2 kali naik pick-up (hitch hike), 1 kali naik bus AC. Masih terdengar seperti perjalanan biasa kan? Relax, my friend. The best parts are yet to come…

Rekap Penggunaan Dana Tim 6 (Gambir-Pelabuhan Merak)
-Dana diterima = Rp 20 ribu/orang x 3 orang = Rp 60 ribu;
-Dana keluar:
1 bungkus rokok (harga Rp 12 ribu, dibagi 3 tim) = Rp 4 ribu/tim
Bis AC Serang-Pelabuhan Merak = Rp 15 ribu/tim
-Total dana terpakai dari Gambir-Merak untuk 3 orang = Rp 4 ribu + Rp 15 ribu = Rp 19 ribu;
-Sisa dana untuk digunakan dari Pelabuhan Merak hingga ke Bandar Lampung = Rp 41 ribu.

Spoiler for "Tim 6, di Pelabuhan Merak":


*****

Harga tiket penyeberangan Merak-Bakauheni adalah Rp 11.500/orang. Apa kami membeli tiket utk menyeberang? Tentu tidak. Kami datangi antrian mobil di pintu 2. Sistem ticketing utk mobil adalah dihitung per kendaraan, tidak peduli berapa pun penumpangnya.

Maka upaya kami adalah mencari pemilik mobil yang berkenan menampung kami saat memasuki kapal feri, setidaknya hingga menyeberang ke pelabuhan Bakauheni. Bagi seorang backpacker, batas antara cerdik dengan sifat pelit alias stingy alias kopet hanya setipis kertas A4 50 gram.

Tersebutlah seorang bapak berusia 60an bernama pak Yulian alias Fikri alias Kaprawi. Ya, nama aliasnya memang sebanyak itu. Kami, dengan tidak sopannya, mengetuk kaca mobil beliau. Mobil beliau yang sedang mengantri untuk masuk ke pelabuhan Merak.

Memperkenalkan diri sebagai peserta ‘acara promosi pariwisata’, kami meminta kesediaan beliau untuk mengizinkan kami menumpang mobilnya, setidaknya hingga pelabuhan Bakauheni. 10 detik adalah waktu yang beliau butuhkan untuk berpikir, mengangguk dan mempersilakan kami untuk memasukkan tas carrier kami ke bagasi mobilnya.

Spoiler for "Tim 6 bersama pak Yulian (kanan, bertopi coklat)":


Pak Yulian berdomisili di Ngambur, Lampung Barat. Dia, dan seorang rekannya yang mengemudikan mobil, baru saja menghabiskan waktu liburannya berkeliling Jakarta dan sekitarnya. Pintu Avanza hitam miliknya terbuka untuk kami atas nama solidaritas sebagai sesama penikmat jalan-jalan.

Menyeberang dari Merak ke Bakauheni pada hari libur panjang (long weekend) merupakan tantangan tersendiri. Antrian mobil dan truk di pintu 2 pelabuhan Merak tidak kalah dari antrian mobil di gerbang tol Cibubur arah Jakarta setiap pagi di hari kerja. Kami yang mulai antri sejak pukul 7 pagi, baru bisa naik ke kapal feri pukul 10.

Setelah berhemat-hemat sepanjang Gambir-Merak, kami memutuskan untuk sedikit memanjakan diri di kapal feri. Biaya Rp 7 ribu per orang untuk kursi empuk dan ruangan sejuk di kelas bisnis. It did worth every penny. Kesempatan beristirahat dengan nyaman dan memulihkan stamina sepanjang perjalanan Merak-Bakauheni kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Pada awalnya, kami hanya meminta tolong kepada pak Yulian untuk mengantarkan kami hingga Bakauheni saja. Namun belakangan, beliau ternyata menawarkan untuk mengantarkan kami hingga ke lapangan Saburai, karena untuk menuju ke Lampung Barat, beliau memang harus melewati kota Bandar Lampung. Tentu saja tidak mungkin kami menolak kemurahan hati beliau.

Tiba di lapangan Saburai tepat pukul 3 sore, check point pertama Blind Travel 2, waktunya berpisah dengan pak Yulian karena beliau akan segera melanjutkan perjalanannya ke Lampung Barat. Dengan tulus kami ucapkan terima kasih atas kemurahan hati dan persahabatan yang beliau tawarkan pada kami, serta kami berdoa semoga kali lain kami diberikan kesempatan untuk bertemu lagi.

Rekap Penggunaan Dana Tim 6 (Gambir-Pelabuhan Merak-lapangan Saburai)
-Dana diterima = Rp 20 ribu/orang x 3 orang = Rp 60 ribu;
-Dana keluar:
1 bungkus rokok (harga Rp 12 ribu, dibagi 3 tim) = Rp 4 ribu
Bis AC Serang-Pelabuhan Merak = Rp 7 ribu/orang x 3 orang = Rp 15 ribu
Upgrade ke kelas bisnis di kapal feri = Rp 7 ribu/orang x 3 orang = Rp 21 ribu
-Total dana terpakai dari Gambir-Merak untuk 3 orang = Rp 4 ribu + Rp 15 ribu + Rp 21 ribu = Rp 40 ribu;
-Sisa dana = Rp 20 ribu.

*****

Panitia telah menanti kelompok kami di check point Saburai. Beristirahat sejenak selama 5 menit, kemudian kami mengambil undian yang akan menentukan ke mana kami harus melanjutkan trip. Setiap tim akan menuju destinasi yang berbeda-beda. Pada kertas undian yang Prima ambil, tertera nama: Goa Matu.

Langkah berikutnya: googling. Prima mengetikkan frase ‘goa Matu’ di kolom pencarian, dan alangkah terkejutnya kami, bercampur antusias, saat hasil pencarian memunculkan frase: “Goa Matu, LAMPUNG BARAT”!!

Tanpa buang waktu, saya langsung meraih telepon untuk menghubungi pak Yulian, menanyakan di mana posisi beliau saat itu. Jawabnya, “terminal Kemiling.”

Saya sampaikan bahwa destinasi kami selanjutnya adalah Goa Matu, dan saya tanyakan apakah beliau berkenan beri kami tumpangan ke arah sana. “Boleh, asal kalian bisa susul kami di Kemiling. Kami tunggu kalian di sini, di terminal Kemiling,” ujar beliau.

Personel tim bertambah satu orang: Diaz. Setiap personel tim mendapatkan bekal dari panitia sebesar Rp 80 ribu, sehingga tim kami mengantongi Rp 320 ribu yang bisa dimanfaatkan untuk menuju ke Goa Matu yang terletak di Kecamatan Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk packing dan bersiap berangkat ke Kemiling.

Kami carter satu angkot untuk menuju terminal Kemiling, dan kembali bertemu dengan pak Yulian. Dengan diiringi kata mutiara dari sebuah truk yang ada di depan kami, “Rindumu Tak Seberat Muatanku”, perjalanan kami menuju Krui dengan si Avanza hitam berlanjut.

******

Melewati Pringsewu, Kota Agung, dan sempat melihat penunjuk jalan bertuliskan Wonosobo membuat kami semakin yakin bahwa ‘statistik sembarang’ yang menyatakan bahwa 90% orang Lampung berasal dari etnis Jawa bisa jadi benar adanya.

Pak Yulian mengantar kami hingga ke Rumah Makan (RM) Prambanan di daerah Pasar Minggu, Ngambur. kami tiba di RM tersebut jam 8 malam. Menurut pak Yulian, RM Prambanan adalah tempat transit bus, truk, travel, maupun mobil pribadi yang mengarah ke Bengkulu dan pasti melewati Kecamatan Krui, yang menjadi tujuan kami.

bersambung di post berikutnya
BLIND TRAVEL 2: A JOURNEY TO BATCAVE (part 2)

Kami beristirahat, menikmati makan malam (baca: jatah nasi bungkus makan siang dari panitia Blind Travel 2), shalat, dan membersihkan diri. Jam 12 malam, kami bergerak ke tepi jalan, kembali berusaha mencari tumpangan. Menyadari sulitnya mendapatkan tumpangan untuk empat orang sekaligus, kami akhirnya memecah tim menjadi dua.

Spoiler for "Tim 6 (minus Prima, yang pegang kamera) di RM Prambanan mencari tumpangan ke Krui":


Jam 1, saya dan Yana mendapatkan tumpangan truk yang dikemudikan pak Gafur, truk yang menurut beliau penuh dengan muatan sosis. Saya curiga SM*SH, Deddy Mizwar, dan Christian Gonzales termasuk di dalamnya. Sementara Prima dan Diaz menyusul setengah jam kemudian dengan mobil travel. Berbayar.

Kami berkumpul kembali di masjid Krui, tepat pada pukul 02.30. Sempat tidur selama 2 jam, meskipun terasa seperti 20 menit saja, kami dibangunkan oleh jamaah setempat untuk melaksanakan shalat subuh.

Pukul 6, kami bergerak ke warung di seberang mesjid untuk sarapan, bersosialisasi dengan warga sekitar sekaligus mencari cara termudah (dan termurah) menuju Goa Matu. Mayoritas warga yang kami ajak bicara ternyata heran dengan niat kami mendatangi Goa Matu.

"Mau apa ke Goa Matu? Itu tempat dukun-dukun bertapa meminta wangsit. Bahaya, goa itu sudah memakan beberapa korban," ujar penduduk setempat.

Dengan tetap berusaha santai (meskipun agak merinding), kami jelaskan tujuan kami ke Matu sebagai 'agenda promosi pariwisata'. Respons penduduk pun berubah, dari heran menjadi siap menolong. Informasi pun kami dapatkan, bahwa untuk menuju Goa Matu yang berjarak sekitar 10-12 km dari warung tempat kami sarapan saat itu, kami bisa mencapainya dengan ojek.

Spoiler for "the Ojekers. di belakang adalah akses menuju pantai sebelum Goa Matu.":


4 unit ojek mengantar kami dari Krui ke akses terdekat dari jalan raya jalur masuk goa Matu, dengan tarif Rp 10 rb/org. Yang tukang ojek sebut sebagai 'akses menuju goa Matu' adalah jalan setapak tertutup pepohonan, dengan kecuraman sekitar 60-70 derajat. Beruntung malam sebelumnya Krui tidak diguyur hujan, sehingga jalan setapak itu kondisinya kering dan tidak terlalu sulit untuk dilalui.

Spoiler for "kondisi jalan setapak menuju pantai sebelum Goa Matu":


Gemericik air terjun kecil, sungai jernih berbatu, dikombinasikan debur ombak Samudera Hindia yang menghantam karang dengan keras, menyambut kedatangan kami. Setelah mengamati kondisi sekeliling pantai, dan membandingkannya dengan foto yang kami dapatkan dari kanjeng Google, kami menyimpulkan bahwa pintu masuk Goa Matu ada di salah satu bagian dinding karang. Sayangnya kondisi perairan saat itu sedang pasang, sehingga sulit bagi kami untuk mendekati pintu goa.

youtube-thumbnail


Spoiler for "perkiraan lokasi Goa Matu, berdasarkan gambar dr kanjeng Google":


Untuk mencapai pintu goa, kami harus trekking menembus jalan setapak yang dipenuhi pepohonan serta melalui tepian dinding karang yang lebar pijakannya hanya cukup untuk 1 orang saja. Di bawah dinding karang, ombak terus menghantam dengan dahsyatnya. Bila terpeleset dari dinding karang dan jatuh ke laut, sangat kecil kemungkinannya untuk selamat.

Jalan yg sulit dan penuh dengan risiko. Setelah berdiskusi intensif dengan anggota tim, kami memutuskan utk mendokumentasikan jalur menuju pintu goa dari jarak aman saja.

Spoiler for "pendokumentasian pintu Goa Matu, dari jarak aman":


Selesai mendokumentasikan jalur menuju pintu goa, kami berniat naik kembali ke jalan raya. Namun satu hal menghentikan niat kami. Terlihat sebuah gubuk yang agak tersembunyi di kejauhan. Seorang bapak sedang bersantai di depan gubuk. Namanya pak Jalal.

Kami berbincang singkat dengan beliau. Ternyata hampir setiap hari beliau masuk ke Goa Matu. Mengumpulkan kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk kandang. Dan bagian terbaik dari dialog singkat kami dengan pak Jalal adalah: beliau bersedia memandu kami untuk menuju Goa Matu!!

Spoiler for "dialog singkat dengan pak Jalal":


Akhirnya kami kembali menempuh jalur setapak menuju goa. Yang menarik adalah fakta bahwa ternyata kami telah salah memperkirakan letak pintu Goa Matu. Bagian dinding karang yang kami kira terdapat pintu goa, ternyata hanya dinding terjal tertutup. Pintu goa yang sebenarnya terletak di cekungan berikutnya dari dinding karang tersebut. Rute perjalanan kami menuju pintu goa menjadi lebih jelas berkat bimbingan pak Jalal, meskipun bahayanya tidak berkurang sama sekali.

Spoiler for "lokasi Goa Matu YANG SEBENARNYA":


Salah satu momen paling hebat dalam trip ini adalah saat Yana sempat merasa gentar melangkah di salah satu bagian tepian dinding karang. Dindingnya berbentuk hampir menyiku, dan satu-satunya benda yang bisa dijadikan pegangan adalah akar pepohonan yang menempel di dinding, tepat sejajar kepala. Bila terpeleset atau pegangan terlepas, bebatuan karang yang tajam menanti di bawah. Energi gelombang akan membawa tubuh terhempas langsung ke dinding karang.

Yana sempat hampir menyerah di di bagian dinding siku tersebut, tapi dengan dorongan semangat dari rekan-rekan tim 6, Yana membulatkan tekad utk melangkah, dan akhirnya BERHASIL melewati tepian karang!!

Spoiler for "menyusuri tepian dinding karang":


Akhirnya kami, berhasil mencapai pintu goa. Sebelum masuk goa, beliau menganjurkan kami untuk 'memohon izin'. Alih-alih memohon izin, saya memohon perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT selaku pemilik goa Matu yang sebenarnya.

Spoiler for "pintu masuk Goa Matu":


Kami memasuki pintu goa Matu yg hanya selebar tubuh pria dewasa. Bau tajam amoniak menyambut kami. Kegelapan mendominasi goa, sedikit cahaya terlihat di sebelah kiri goa. Terdengar kepak sayap dan cicitan kelelawar seiring langkah kami yang masuk semakin dalam. Senter kami arahkan ke bawah.

Beberapa kelelawar terlihat beterbangan saat saya mengarahkan cahaya senter ke dinding goa. Semakin ke dalam, bau amoniak semakin kuat. Sekitar 50 m dari pintu masuk, di bagian goa yg paling luas, terasa hembusan angin sepoi. Angin sepoi itu ternyata berasal dari kepakan sayap RIBUAN kelelawar.

Saat senter kami arahkan ke dinding samping dan atas goa, terlihat cahaya dari ribuan pasang mata kelelawar yang sedang tidur bergelantung. Seakan-akan ribuan pasang mata itu memandang kami secara bersamaan. Karena terusik oleh cahaya senter kami, sebagian kelelawar terbangun dan terbang berseliweran di atas kepala kami. Kebisingan yang ditumbulkan dari cicitan ribuan kelelawar itu berada di kisaran 60-70 dB. *trust me, i'm an engineer*

Spoiler for "kelelawar yang bergantung di dinding goa":


youtube-thumbnail


Sekarang saya paham mengapa Bruce Wayne kecil (di film Batman Begins) takut akan kelelawar. Mengagumkan sekaligus menggentarkan di saat bersamaan. Terasa kotoran kelelawar jatuh di pundak serta rambut saya. Membuat saya sibuk bersugesti, "bukan tai, bukan tai, bukan tai..."

Saat napas terasa semakin sesak, Diaz mengeluarkan sebuah tips keren nan penuh faedah: bila merasa sesak karena aroma amoniak, berjongkok dan hirup udara 30 cm dari tanah. Amoniak lebih ringan dr oksigen, sehingga amoniak akan ada di lapisan atas udara, sedangkan oksigen ada di lapisan bawah.

Di bagian kiri goa, terlihat cahaya yg berasal dari sebuah lubang. Pak Jalal memberitahu bahwa itu jalan menuju goa lain: goa Peyeyuhan. Setelah mengalkulasi waktu yang kami punya, kami memutuskan untuk mengeksplorasi tempat lain. Naiklah kami ke lubang itu, menuju goa Peyeyuhan.

Spoiler for "lobang keluar Goa Matu, menuju ke Goa Peyeyuhan":


*****

bersambung ke post berikutnya
BLIND TRAVEL 2: A JOURNEY TO BATCAVE (part 3)

Tantangan berikutnya untuk menuju goa Peyeyuhan: hamparan batu karang keras, serta dinding batu karang setinggi 3-4 m yg memanjang hingga lepas pantai. Dinding batu karang tinggi yang harus kami panjat.

Spoiler for "hamparan batu karang menuju Goa Peyeyuhan":


Spoiler for "dinding karang yang harus dilewati untuk menuju Peyeyuhan":


Spoiler for "perjuangan menuju Peyeyuhan":


Di balik dinding karang adalah pintu masuk goa Peyeyuhan. Berbentuk setengah oval, dengan lebar 25-30 m dan tinggi 9-10 m. Terdapat jejeran stalagtit kecil dan satu stalagtit besar di bibir pintu goa. Batu-batu besar menghalangi air masuk ke dalam goa, meski saat pasang tertinggi sekalipun.

Spoiler for "pintu masuk Goa Peyeyuhan (dari dalam goa)":


Spoiler for "debur ombak yang menghantam pintu masuk Goa Peyeyuhan":


Spoiler for "debur ombak yang menghantam pintu masuk Goa Peyeyuhan":


Goa Peyeyuhan lebih menyerupai lapangan berbentuk setengah lingkaran, dengan atap batu yang semakin menyempit di bagian dalam goa. Yang menakjubkan, di dalam goa Peyeyuhan terdapat banyak batang2 kayu. Bukan sekedar kayu dari pohon biasa, melainkan kayu dari pohon dengan panjang 8-10 m, dengan diameter 80-100 cm.

Spoiler for "gelondongan kayu yang ada di Goa Peyeyuhan":


Dari situlah nama Peyeyuhan diambil. Yeyuh artinya kayu, dalam bahasa Lampung. Besar kemungkinan, pohon-pohon itu terbawa masuk ke dalam goa saat tsunami menghantam pesisir barat Sumatra di akhir Desember 2004.

Spoiler for "pose kalender Eiger 2013":


Spoiler for "pose kalender Eiger 2013":


Waktu yang kami miliki semakin menipis. Kami harus tiba di Liwa yang berjarak sekitar 35-40 km dari Matu, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, paling lambat jam 1 siang. Kami berpamitan dgn pak Jalal, memanggil 4 ojek utk menjemput, dan bernegosiasi untuk meminta ojek mengantar kami langsung ke Liwa. Kesepakatan tercapai. Rp 35 ribu per org, sampai Liwa. Kami akan melintasi kawasan Bukit Barisan Selatan dgn ojek.

Spoiler for "tim Ojekers Krui-Liwa":


Di wilayah Bukit Barisan Selatan, hujan turun dengan derasnya. Saya kenakan jas hujan yang saya bawa dari Bogor, lalu saya meminta abang tukang ojek bertukar posisi dgn saya. Saya yang mengemudikan motor, dan abang tukang ojek yang dibonceng. Hal tersebut saya lakukan semata-mata karena pertimbangan teknis, yaitu karena saya merasa pegal bila dibonceng selama 2 jam dengan tas carrier besar yang menempel di punggung saya.

Jam 12 lebih sedikit, tepat saat adzan shalat Jumat berkumandang, tim 6 menjadi tim pertama yg check in di check point Liwa.

Demikian rangkaian catatan perjalanan tim 6 menempuh rute Gambir-Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Krui (Goa Matu)-Liwa. Perjalanan tim 6, bersama tim lainnya & panitia, berlanjut dari Liwa-Krui-Tanjung Setia. Insya Allah, akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Rekap Penggunaan Dana Tim 6 (lapangan Saburai-Krui-Liwa)
-Dana diterima = Rp 80 ribu/orang x 4 orang = Rp 320 ribu;
-Dana keluar:
Carter angkot lapangan Saburai-terminal Kemiling = Rp 30 ribu
Ongkos Travel Prima dan Diaz (Ngambur-Krui) = Rp 30 ribu
Ojek Krui-Matu = Rp 10 ribu/orang x 4 orang = Rp 40 ribu
Uang kadeudeuh untuk pak Jalal = Rp 30 ribu
Ojek Matu-Krui-Liwa (4 orang) = Rp 150 ribu
-Total dana terpakai dari Saburai-Krui-Liwa untuk 4 orang = Rp 30 ribu + Rp 30 ribu + Rp 40 ribu + Rp 30 ribu + Rp 150 ribu = Rp 280 ribu;
-Sisa dana = Rp 40 ribu.

*****

#BlindTravel2: Let's Get Lost, and Create Our Story!!
reserved
reserved untuk foto, video, atau cerita lainnya.
reserved untuk foto, video, atau cerita lainnya.

reserved untuk foto, video, atau cerita lainnya.
segini dulu deh reservednya. nanti ditambah lagi cerita lainnya. emoticon-Big Grin
wah keren gan emoticon-thumbsup
Keren ceritanya gan.... emoticon-2 Jempol
Ane juga pernah beberapa kali traveling ke lampung barat melalui rute yang agan TS jalani. Lewat kemiling, pringsewu, kota agung, TNBBS, ngambur, bengkunat, tanjung setia, dan krui... terus dari krui ke liwa lewat sebagian TNBBS lagi. Di jalur krui ke liwa sempat macet karena ada tebing longsor. Di jalur krui ke liwa ini juga ada pemandangan unik, orang sana bilangnya air menangis.... tetesan air dari akar-akar pepohonan dan tebing batu yang menggantung di pinggir dan atas jalan tersebut... keren banget seperti sedang hujan, padahal gak ada hujan.
Pantai di lampung barat, terutama di antara ngambur dan bengkunat hingga krui emang keren banget gan..... emoticon-2 Jempol emoticon-I Love Indonesia
Quote:Original Posted By rjt1504
wah keren gan emoticon-thumbsup

makasih, kk. silakan mampir ke Kab Pesisir Barat. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By batmanhadir
Keren ceritanya gan.... emoticon-2 Jempol
Ane juga pernah beberapa kali traveling ke lampung barat melalui rute yang agan TS jalani. Lewat kemiling, pringsewu, kota agung, TNBBS, ngambur, bengkunat, tanjung setia, dan krui... terus dari krui ke liwa lewat sebagian TNBBS lagi. Di jalur krui ke liwa sempat macet karena ada tebing longsor. Di jalur krui ke liwa ini juga ada pemandangan unik, orang sana bilangnya air menangis.... tetesan air dari akar-akar pepohonan dan tebing batu yang menggantung di pinggir dan atas jalan tersebut... keren banget seperti sedang hujan, padahal gak ada hujan.
Pantai di lampung barat, terutama di antara ngambur dan bengkunat hingga krui emang keren banget gan..... emoticon-2 Jempol emoticon-I Love Indonesia


iya, kemaren sebenernya pengen eksplor TNBBS, tapi sayang waktunya terbatas. emoticon-Smilie
Antara pelit dan cerdik itu beda tipis.
This is quote of the day
[QUOTE=ujangfahmee;50c05978eb74b4f32f000038]
makasih, kk. silakan mampir ke Kab Pesisir Barat. emoticon-Big Grin

sama2 gan. tertarik sih kesana. semoga ada kesempatan bisa kesana emoticon-Big Grin

perjalanan yang cukup mendebarkan yah emoticon-Matabelo
lanjutannya mana gan emoticon-Big Grin

yang di FR BT ane udah baca.. ditunggu emoticon-Big Grin
Wah hebat ente brani banget ke sana, ane sih mau ke sana tapi takut.
Dari cerita nenek ane tuh goa pernah makan korban mistis gitu deh