alexa-tracking

[FR] Pelesiran ala Kasta Sudra ke Solo, The Spirit of Java

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50a0fe08e774b4411d000103/fr-pelesiran-ala-kasta-sudra-ke-solo-the-spirit-of-java
[FR] Pelesiran ala Kasta Sudra ke Solo, The Spirit of Java
Hai agan dan sista... emoticon-Kiss
Memanfaatkan libur long weekend Idul Adha kemaren ane dan temen memutuskan untuk pelesiran ala kasta sudra ke Solo.
Waktu 4 hari 3 malam ternyata cukup untuk menjelajahi baik dalam maupun luar kota dengan slogan pariwisata “ The Spirit of Java” ini
Dari wisata sejarah, kuliner, mall, taman-taman kota sampai naik bus tingkat wisata..
Berbekal bantuan informasi dari internet, nanya sana sini, kecanggihan teknologi GPS dan ilmu GPSgugelmepgrafi (terima kasih gan Steve Jobs emoticon-Mewek ), berangkatlah ane ke Solo emoticon-Traveller


Solo, riwayatmu kini…


24 Oktober 2012
Berhubung ane dan temen jalan-jalan ala kasta sudra, maka ane mencari tiket kereta api kelas ekonomi dan ternyata tiket kelas ekonomi sudah habis dari 2 bulan yang lalu emoticon-Hammer emoticon-Ngakak . Akhirnya diputuskan untuk beli tiket kelas ekonomi AC yang ternyata udah habis juga dari 2 minggu yang lalu emoticon-Hammer emoticon-Hammer emoticon-No Hope . Setelah pijit-pijit tombol Hp, ternyata ada temen ane yang kerja di kantor KAI emoticon-Mewek sehingga ane masih kebagian tiket Ekonomi AC untuk perginya dan bisnis untuk pulangnya.

Berangkat dari Sarinah naik bajaj ke Stasiun Tanah Abang. Dari Stasiun Tanah Abang, ane naik kereta ekonomi AC “Bengawan” menuju ke Stasiun Solo Jebres. Berangkat dari pukul 17.40 WIB, diperkirakan bakal nyampe di Stasiun Solo Jebres pukul setengah 7 pagi besoknya. Apa daya, namanya juga kereta ekonomi, jadi kalo berhenti di stasiun-stasiun selalu disalip oleh kereta eksekutif yang emang harus didahulukan. Yang awalnya dikira akan nyampe jam setengah 7 pagi, jadi molor baru nyampe jam setengah 9 pagi besoknya di Stasiun Solo Jebres emoticon-Hammer

25 Oktober 2012
Sampelah ane di kota Solo.. Cihuyyy! Di stasiun Solo Jebres, ane memutuskan buat cuci-cuci muka dulu biar seger sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Yang menarik, toilet disini gratis, tapi bersiiihhhh, dibersihin oleh mas-mas bertato dan bertampang sangar, tapi ramah. Bandingkan dengan toilet-toilet umum di Jakarta, yang udah bayar, tapi jorok.. emoticon-Hammer . Mas-masnya ga minta bayaran cuma akhirnya tetep ane kasih Rp 2rb buat mas-masnya, itung2 buat biaya kebersihan juga sih.. emoticon-Embarrassment

Tujuan pertama kita mau ke Kabupaten Karanganyar, buat berwisata sejarah dan ngeliat candi-candi. Berbekal informasi dari internet dan nanya-nanya sama orang sekitar tentang cara kesini, kesana, kemana-mana, untunglah kami bisa sampe dengan selamat ke tempat-tempat yang emang jadi tujuan kami.

Dari stasiun Solo Jebres, ane nunggu kereta Prameks yang akan lewat Stasiun Solo Balapan. Berdasarkan informasi dari petugas stasiunnya, kereta Prameks akan datang sekitar pukul setengah10, naek kereta ini gratis tis tis, keretanya juga bersih, penumpangnya tertib, beda banget sama komuter di Jakarta yang kotor dan tak terawat. Jarak Stasiun Solo Jebres ke Stasiun Solo Balapan cuma sekali aja berhenti.

Sesampenya di Stasiun Solo Balapan, kita langsung celingak celinguk cari sarapan dan ketemulah warung Soto Kwali Pak Hardjo, persis di seberang Stasiun Solo Balapan. Soto Kwali ini isinya ada nasi, kuah, dan daging sapi, plus juga dengan gorengan tempe dan risoles yang udah disediakan di atas meja. Gurih dan murahhh, perbandingan harga dan rasanya…Wow! Lalu, setelah nanya-nanya sama Pak Hardjo (yang punya warung Soto), dan dijelaskan dengan sabar dan lengkap tentang cara ke Karang Pandan, ane dkk-pun menunggu Bus Atmo lewat di depan Stasiun Balapan, dan berangkat menuju Palur. Lalu dari Palur naek bus lagi ke Karang Pandan, dari Karang Pandan naek minibus yang cukup padet ke Pasar Kemuning (fyuuuhh). Perjalanannya cukup lama dan jauh sampe-sampe ane ketiduran di busnya.

Tahu tujuan kami mau ke Candi Cetho, sopir minibus nawarin buat mengantar kami sampe Candi Cetho tok lalu ke terminal Karang Pandan dengan harga Rp 150rb, waks! Karena keterbatasan dana (maklum, bekpekere (bekpeker kere) dari kasta sudra emoticon-Hammer ), kamipun menolak tawaran itu dan memutuskan buat naek ojek ke tempat-tempat wisata tadi. Akhirnya ane turun di Pasar Kemuning dan tawar menawar harga dengan tukang ojek. Tukang ojek setuju buat mengantar kami ke Candi Cetho, Candi Sukuh dan Grojogan Jumog sekaligus, dan dianter sampe ke terminal Karang Pandan lagi, dengan harga Rp 60rb per orang! Wow…! *kemudian koprol*

Setelah jalan, barulah ane merasa emang biaya segitu termasuk murah buat jalanan lereng gunung yang nanjaknya kejam dan jarak dari satu tempat ke tempat laen cukup jauh, meski agak deg-degan juga sih karena ga pake helm... Yang bikin deg-degan lagi, salah satu motor yang dinaiki temen ane agaknya keluaran lama, sempet kwatir banget ga bisa nanjak, sampe pas di tanjakan tercuram dia bela-belain jalan kaki biar motornya bisa naek emoticon-Ngakak . Terus di akhir perjalanan motor temen ane ini sempet hampir ketabrak sama motor laen *sial benerlah temen ane ini emang* , tapi bukannya marah atau apa, dua pengendara motor baik yang nabrak maupun yang hampir ditabrak malah ketawa-tawa aja tuh. Bayangin kalo di Jakarta, mungkin udah saling caci maki.

Sejauh mata memandang, perjalanan diiringi oleh pemandangan berbukit-bukit hijaunya kebun teh Kemuning yang luas dan menyejukkan mata emoticon-Matabelo

Tibalah dengan cantik di Candi Cetho emoticon-Malu (S) , yang terletak di ketinggian sekitar 1400-an mdpl di lereng Gunung Lawu. Sewaktu memasuki kawasan Candi Cetho, ane disambut dengan arca-arca khas agama Hindu yang sudah tergerus zaman dan wangi dupa. Di setiap arca yang ane lewatin, terdapat sesajian bunga dan dupa. Ternyata, waktu ane berkunjung kesana, ada peziarah-peziarah dari pulau Bali yang sedang melakukan upacara di halaman Candi Cetho. Wangi dupa yang bercampur dengan bunga samar-samar, sejuknya cuaca dan rapalan doa, menambah syahdunya suasana siang itu #terlena..


Spoiler for Candi Cetho:


Biar ga mengganggu jalannya ibadah, ane berjalan mengendap-endap undakan demi undakan. Ane sampe di undakan ketiga yang terdapat tatanan batu berbentuk lingkaran, segitiga dan phallus (bahasa halusnya buat simbol alat kelamin laki-laki emoticon-Malu ), yang kalo dilihat secara keseluruhan seperti gambar kura-kura raksasa, diapit oleh 2 arca penjaga di sebelah kanan-kirinya.

Spoiler for Candi Cetho:


Di undakan keempat Candi Cetho, terdapat relief yang menceritakan tentang Dewa-Dewa Hindu zaman dahulu kala.

Spoiler for Candi Cetho:


Sewaktu lagi ngeliat-liat relief disini, tau-tau para peziarah menaiki undakan dan kami terjebak dengan canggung di antara para peziarah, pelan-pelan melipir ke sudut. Disini ane baru pertama kali ngeliat dari dekat, bagaimana pemimpin upacara yang berpakaian hitam membaca rapalan doa, menempelkan dupa dan meletakkan sesaji bunga di depan relief, lalu satu-persatu peziarah mempersembahkan sejumlah uang diatas sesaji bunga tersebut. Semuanya berlangsung begitu khusyuk.. emoticon-Matabelo

Spoiler for khusyuk:


Di undakan-undakan berikutnya terdapat gazebo-gazebo mini berisi patung-patung dewa yang di depan mereka terdapat sesajian berupa bunga dan dupa. Undakan terakhir dari Candi Cetho dilarang buat dimasuki karena masih menjadi tempat ibadah untuk umat Hindu.

Spoiler for Candi Cetho:


Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto, mengejar waktu biar ga kesorean sampe kota Solo, kamipun berangkat lagi menuju tujuan kedua, Candi Sukuh, yang terletak pada 1000-an mdpl di lereng Gunung Lawu.

Spoiler for Candi Sukuh:


Di Candi Sukuh, beruntunglah kami karena ada seorang bapak pemandu yang menerangkan tentang pengertian dan kebijakan yang bisa diambil dari bentuk-bentuk lingga, yoni, arca-arca yang kurang sempurna dan dari mana mereka berasal, juga cerita tentang legenda Dewa-Dewa umat Hindu di masa lalu lewat relief-relief yang ada. Walaupun beberapa arca berkesan erotis, tapi sebenarnya mengandung makna dan kebijakan tersendiri. Misalnya, arca di foto berikut :

Spoiler for Arca Candi Sukuh:


Yang ternyata melambangkan rahim seorang ibu, mengandung makna bahwa ibu melahirkan kita ke dunia dan selalu mendoakan kita, maka kita harus selalu menghargai orang tua kita. Di sebelah kanan arca tersebut terdapat arca yang melambangkan kejantanan pria. Yang berarti pria harus selalu berada di sebelah kanan wanitanya dan senantiasa melindunginya. Selain itu terdapat juga arca tanpa kepala yang sedang memegang kemaluannya, yang berarti di dunia ini kita harus menjaga tingkah laku kita, dan lain sebagainya..

Spoiler for Arca Candi Sukuh:


Spoiler for Lingga Yoni Candi Sukuh:




..to be continued, masih panjang nih ceritanya emoticon-Big Grin
Di undakan paling atas Candi Sukuh, terdapat petak segi empat kosong, yang melambangkan surga. Candi Sukuh memang memiliki 3 undakan, undakan paling bawah melambangkan neraka, undakan berikutnya manusia hidup di dunia dan undakan paling atas melambangkan pada akhirnya akan ke surga. “Jadi Candi Sukuh ini menceritakan tentang awal manusia diciptakan sampai pada akhirnya dia ke surga,” kata bapak pemandu, yang sehari-hari juga berprofesi sebagai guru TK setempat.

Spoiler for Candi Sukuh:


Setelah istirahat sebentar, perjalanan berlanjut ke Grojogan Jumog. Tentunya ga kelewatan buat mencicipi sate kelinci di warung-warung yang ada di Grojogan Jumog. Grojogannya menurut ane biasa aja sih, gan/sis. Menurut tukang ojek, harusnya ada satu lagi air terjun, namanya air terjun Parangijo, yang sayangnya lagi kering kerontang karena musim kemarau.

Spoiler for Grojogan Jumog:


Setelah puas menjelajahi tempat-tempat wisata di kabupaten Karanganyar, kamipun akhirnya menuju ke kota Solo, tujuannya ke Jl. Selamet Riyadi yang merupakan pusat dari kota Solo. Setelah diturunkan tukang ojek di Terminal Karang Pandan, lagi-lagi berbekal ‘nanya-nanya’ sama sopir bus, sopir angkot, kami sampe dengan selamat di Jl. Selamet Riyadi pada sore hari menjelang malam.

Dari terminal Karang Pandan, kami naik bus jurusan Tawangmmangu-Solo (Terminal Tirtodadi) dan dari info sopir bus tersebut, kami turun di perempatan Panggung, untuk selanjutnya sambil nunggu di halte Batik Solo Trans yang ternyata Batik Solo Trans udah berhenti beroperasi jam 4 sore *jeduerrr. Lalu tak disangka, tak diduga, ada bus Nusa yang stop di depan kami. Kernek nanya kami mau kemana, waktu bilang mau ke Tugu Selamet Riyadi, kernek bilang bisa dengan bus Nusa. Akhirnya kami naek, setelah jalan beberapa saat, tugu Selamet Riyadi akhirnya keliatan juga… emoticon-Mewek *Segera bilang kiri! Kiri!*

Waktu pertama melangkah di Jl. Selamet Riyadi, ane kagum sama pedestrian road a.k.a. trotoarnya yang gede dan bersih, yang ane bayangkan kalo di Jakarta udah habis dilahap sama pengendara motor emoticon-Hammer . Banyak penjual-penjual bunga, abang becak di sekitarnya dan kebanyakan toko-toko disana ga buka, mungkin karena sedang libur Idul Adha. Setelah nemu penginepan murah di daerah Keprabon, bersih-bersih setelah seharian keliling, kami bersiap buat kuliner malam di Solo.

Malam itu kami mendatangi Gladag Langen Bogan (Galabo), lapangan yang disulap menjadi pusat kuliner Solo. Gerobak-gerobak makanan seperti tengkleng kambing, nasi liwet, wedang dongo/asle, nasi timlo, dan lain-lain bisa ditemui disitu. Ane mencicipi wedang dongo, wedang asle dan nasi timlo.. *sluuurp* enak dan kenyang... Btw, disini pengamen jalanannya ga datang dari meja ke meja, kayak yang sering kita jumpai di Jakarta, mereka bawa keyboard, alat musik lainnya dan sound system sendiri, lalu tampil di pinggir lapangan, sesekali melayani request lagu para tamu, mungkin mereka lebih tepat disebut seniman jalanan ya… Jadi walaupun makan di lapangan terbuka dan gerobak-gerobakan, rasanya seperti di café, haha, apalagi ditambah dengan sejuknya udara malam di Solo… Nyamannn rasanya. Perut kenyang, ngantukpun datang, pulanglah kami ke hotel.

26 Oktober 2012
Bangun kesiangan emoticon-Hammer , dan kami baru mulai berjalan-jalan lagi pukul 10.00 siang emoticon-Traveller dengan berjalan kaki, beda dengan di Karanganyar yang sejuk (secara lereng gunung..), cuaca kota Solo panas terikkkk. Tujuan kami hari ini adalah wisata kota dan wisata kuliner kota Solo!

Hari itu hari Idul Adha, sewaktu berjalan kaki menuju ke Keraton Surakarta Hadiningrat, kami melihat barisan-barisan rakyat berpakaian daerah membawa 2 buah gerobak besar diiringi gending gamelan Jawa. Ternyata setiap hari Idul Adha di kota Solo dirayakan dengan ritual Grebeg besar, Grebeg yang dibuat dari bahan makanan (yang satu didominasi oleh kerupuk rengginang, yang satu oleh sayur-sayuran kacang panjang, jeruk, cabe dan buah yang warnanya kayak kiwi). Grebeg itu digiring dari Keraton Surakarta Hadiningrat ke Mesjid Ageng Surakarta untuk didoakan.

Spoiler for Mesjid Ageng Surakarta:


Spoiler for Grebeg Idul Adha:


Ane nonton ritual doanya, disana warga sudah berkumpul di depan Mesjid Ageng. Ane pikir awalnya mereka cuma mau ngeliat ritual doa aja. Trus ane kaget pake banget, karena setelah upacara doa selesai, tahu-tahu para warga mengerubuti salah satu gerobak dan mulai berebut membabi buta ngambil bahan-bahan makanannya, suasanapun mulai ga terkendali, salah satu abdi dalem Keraton teriak,”Bentar!! Bentar!!” tapi ga ada yang ngegubris, warga tetep sibuk berebut makanan, dan Grebeg itupun langsung kosong dalam waktu singkat. Grebeg yang lain buru-buru diamankan dan digiring lagi menuju keraton Surakarta.

Spoiler for Serbuuuu!:


Spoiler for Selamatkan!:


Ane tercengang buat beberapa saat dan mengamati para warga yang saling memamerkan dan juga membagi hasil ‘tangkapan’nya. Belakangan, baru ane tau, dipercaya kalo bisa ngambil bahan-bahan makanan di Grebeg, maka akan mendapat berkat. Ane jalan menelusuri halaman Masjid Ageng, yang dipenuhi oleh sapi-sapi malang untuk dikurbankan, menuju ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Padahal ga butuh waktu lama buat kami jalan kesana, tapi pas sampe disana, ternyata Grebeg yang satu lagi juga udah habis dilahap massa, yang tersisa cuma tinggal remah-remahnya aja. Sayangnya, keraton Surakarta hari itu lagi tertutup untuk umum karena ada perayaan Idul Adha. Akhirnya ane beli wedang dongo dingin di depan keraton, lalu lanjut jalannn emoticon-Traveller .

Spoiler for Keraton Surakarta Hadiningrat:


Tujuan berikutnya kami ngelewatin Pasar Klewer, yang hari itu sepi karena hari libur. Setelah menyantap bakso dan es teler duren *eh, makan lagi emoticon-Hammer *. Kami jalan lagi melewati lorong-lorong perumahan melewati Kampung Batik Kauman, yang juga sepi dan banyak yang tutup. Btw, disini plang alamat dan gangnya ditata dengan bagus dan juga dilengkapi dengan aksara Jawa dibawahnya.

Dengan bantuan GPS, kami lanjutkan perjalanan emoticon-Traveller emoticon-Traveller dari Jl. Slamet Riyadi menuju Solo Grand Mall dengan berjalan kaki. Berhenti di tengah-tengah untuk mengunjungi Taman Sriwedari, yang merupakan taman kesenian dan taman bermain anak-anak. Ane juga ngelewatin Museum Radyapustaka dan pusat informasi turis di Solo. Berjalan kaki di kota Solo ini terbilang nyaman karena trotoarnya yang besar, bersih, ditumbuhi pohon-pohon di sisi kanan kirinya dan terkadang dihiasi oleh kanopi yang diatasnya ditumbuhi oleh tanaman rambat dan bunga-bunga. Walau lumayan meneduhkan tapi tetep ga bisa menahan cuaca panas..

Spoiler for Pedestrian Kota Solo:


Sampe di Solo Grand Mall dengan ngos-ngosan, ngadem dulu menikmati AC di mallnya, lalu beli minum dan cemilan di hypermart. Ngecek lagi jalur yang harus dilalui dengan bantuan GPS, kali ini tujuan kami mau ke Gelora Manahan dan Taman Balekambang. Setelah istirahat secukupnya untuk siap-siap menempuh perjalanan panjang dengan kaki, kami lanjut berjalan dibawah terik matahari kota Solo menuju ke Gelora Manahan. Tujuan kami adalah wisata kuliner, karena menurut hasil gugling-gugling, disana banyak warung-warung makan (Yah, hari ini memang soal makan..). Yaaaang ternyata pas kita sampe, setelah berjalan jauuuuh, warung-warungnya dah pada tutup dan stadionnya tutup karena Idul Adha.. emoticon-Hammer emoticon-Ngakak

Perjalanan jauh dan kepanasan, energi mulai terkuras, ane berhenti dulu buat makan sate bakso bakar dan minum air kelapa muda. Rasa dan harganya mangstap, gan…, yah, lumayanlah buat mengganjal perut lapar. Duduk-duduk di depan Gelora Manahan, di bawah pohon gede pinggir jalan. Suasana kota Solo hari itu lagi sepi pi pi, mungkin karena Idul Adha ya, tapi karena itulah jadinya terasa menentramkan hati, walau panasnya tetep kurang berkompromi.

Setelah energi lumayan terisi, berjalanlah kami lagi ke Taman Balekambang…

emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Traveller *lap keringet..* emoticon-Nohope

Melewati jalan yang cukup jauh *hosh hosh hosh*, di sore hari, sampelah kami di Taman Balekambang. Di ujung jalan sebelum mencapai Taman Balekambang, terdapat spanduk yang menuliskan rangkaian acara di Taman Balekambang untuk bulan Oktober. Ane liat hampir tiap hari ada pertunjukan tari, ketoprak, dan lain sebagainya. Para seniman Solo benar-benar diberi tempat untuk berekspresi ya.. emoticon-Big Grin . Hari itu, kebetulan ada Sendratari Ken Arok, yang akan dipertunjukkan pukul 19.30 *glek*, pengen sih nonton, cuma malemnya itu loh.. emoticon-Nohope

Sewaktu memasuki gerbang Taman Balekambang yang dihiasi gapura besar, terdapat tulisan ‘Taman Balekambang’ besar berwarna merah di sebelah kanan.

Spoiler for Taman Balekambang:



..still to be continued emoticon-Malu (S)
Berjalan sedikit lagi, ane liat anak-anak muda dan keluarga kecil bermain-main dengan permainan tradisional yang emang disediakan disitu, yaitu enggrang dan bakiak (itu loh, gan, permainan yang dimainin 3 orang yang harus melangkah bareng2, yang ga tau masa kecilnya kurang bahagia nih..). Ane baru kali ini liat enggrang emoticon-Malu (S) , ternyata ga semudah keliatannya, begitu udah naek enggrangnya, susah ngatur keseimbangannya dan bawaannya takut jatuh mulu, habis tinggi sih.. Padahal ane liat beberapa anak muda dan anak kecil dengan enaknya ngelangkah santai pake enggrang emoticon-Malu

Spoiler for Taman Balekambang:


Di Taman Balekambang ini ada penangkaran rusa timur, rusa-rusanya jinak dan bebas berkeliaran di area taman. Di tengah-tengah ada kolam yang dinamakan Partina Bosch, lalu di sisi kirinya ada Selasar tempat pementasan-pementasan seni dilakukan. Berjalan lebih ke dalem, melewati stand-stand makanan, sampelah kita di kolam luas. Beberapa pemancing dengan antengnya lagi duduk di pinggir kolam, melamun sambil memegang pancingannya. Beberapa warga bermain sepeda air di tengah kolam, menikmati sore hari yang cerah di Taman Balekambang.

Kami memasuki Taman Reptil Balekambang, yang di dalamnya terdapat macam-macam hewan. Iguana yang dibiarkan bebas, duduk dengan tenangnya di pinggir kolam, ga terganggu oleh pengunjung-pengunjung yang melihat dan yang cukup berani mengelus-elus si iguana. Kelinci-kelinci angora saling berkejar-kejaran, sesekali memakan rumput dan tidur-tiduran. Ada batu asmara di tengah-tengah Taman Reptil ini dan di belakang batu asmara tersebut ada kandang burung parkit, burung merak dan burung unta. Beberapa burung seperti kalkun dan kasuari, angsa dan ayam dibiarin bebas berkeliaran. Ada aquarium berisi kura-kura besar, lalu siamang yang dikurung dan monyet, ada yang dirantai dan ada yang dibiarin bebas. Burung kakatua, kepodang dan macam-macam burung lainnya yang ane juga ga tau namanya emoticon-Malu (S): pada asyik bertengger di batangnya masing-masing. Melihat-lihat ular-ular berukuran besar yang lagi bergelung malas, rajawali yang lagi bertengger sambil sesekali bersuara nyaring, kadal-kadal besar kebanyakan dari luar negeri, sampe ke kuda-kuda poni (yang baunya aduhai…). Lalu ane duduk-duduk di kursi sambil ketawa-tawa nontonin 2 ekor monyet lagi bahu membahu nyari kutu di badan mereka, ekspresi monyetnya itu loh..kayak nikmat bener.. emoticon-Ngakak emoticon-Hammer2

Spoiler for Macam-macam fauna di Taman Balekambang:


Spoiler for garuk-garuk:


Spoiler for apa liat-liat?:


Udah sore menjelang malam, waktu ane mau meninggalkan Taman Balekambang, di sekitaran selasar mulai dipenuhi warga yang mau menonton Sendratari Ken Arok. Saatnya melanjutkan perjalanan emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Traveller , tujuan berikutnya adalah ingin mencicipi Soto Sumur yang letaknya di belakang Pasar Legi. Maka kami melalui Jl. RM. Said emoticon-Traveller emoticon-Traveller menuju ke Pasar Legi. Setelah jalan jauhhh (fyuuuhh…) akhirnya sampe di Pasar Legi, saat itu udah gelap, tapi Pasar Legi masih rame aja sama pedagang dan pembeli. Setelah melewati Pasar Legi, eeeeh, Soto Sumurnya tutup.. :hopeless emoticon-Ngakak ternyata Soto Sumur emang cuma buka sampe jam 1 siang aja.

Terseok-seok, kamipun melangkah pulang sambil berpikir buat makan di warung makan manapun. Pas perjalanan pulang, kami menemukan Wedangan Pak Di, yang termasuk dalam daftar kuliner di Solo. Akhirnya ane makan nasi kucing sayur asin, tahu isi dan 2 tetelan *burp* (Note : Wedangan Pak Di ini ternyata non-halal, agan2, jadi hati-hatilah milih makanan, tanya dulu itu daging apa).

Setelah makan nasi kucing yang berporsi mini, jalaaaan lagi menuju Jl. Slamet Riyadi, kami menjumpai penjual Srabi Solo dan memutuskan buat membeli yang rasa pisang dan nangka, harganya hanya Rp 1,500 saja satunya :twothumbsup . Begitu udah di penginepan lagi, ane langsung terkapar..

27 Oktober 2012
Kami sengaja bangun pagi buat sarapan di sekitaran GOR Manahan, sambil juga cari informasi mengenai tiket bus tingkat Werkudara. Melalui jalan Ngarsopuro dengan trotoar yang besar dan bersih, ane baru kali ini liat kota yang trotoarnya lebih besar daripada jalanannya emoticon-Matabelo .

Spoiler for Pedestrian Ngarsopuro:


Jalan beberapa saat, lalu naek becak ke GOR Manahan (Disuruh jalan lagi? Ane bakal bilang,”Ciyus? Miapah? Mialoh…” emoticon-Hammer2 ). Ane nyobain nasi liwet mbok Parni di GOR Manahan, sambil duduk-duduk di angkringannya. Lalu dari GOR Manahan, kami jalan menuju Dinas Perhubungan untuk beli tiket bus tingkat Werkudara. Ternyata, pas kami sampe sana, Dinas Perhubungannya masih tutup emoticon-Hammer . Kami tunggu sampe jam 8, kemudian datanglah mbak Indri, yang lemah lembut dan penuh senyum, menjaga loket untuk pembelian tiket Bus Tingkat Werkudara. Ternyata, kami ga kebagian yang pagi (pukul 09.00), oleh karena itu, kami membeli tiket bus yang siang (pukul 12.00).

Sampe waktu buat berangkat tiba, kami memutuskan buat mengisi waktu mencicipi Soto Sumur dan ke Pura Mangkunegaraan. Lalu panggil becak lagi, buat ke Pasar Legi (Setabelan) daaaannnn…Soto Sumurnya buka! Ane langsung nyobain Soto Buntut Sapi, walau namanya Soto, tapi kuahnya bening kayak sop. Ada perkedel, tempe, tahu, jeroan-jeroan seperti paru disediakan di meja. Rasanya, gan? Gurihhhnya passsss mantabbb, dagingnya juga empukkk…

Spoiler for Restoran Soto Sumur:


Setelah kenyang makan Soto Sumur, kami memutuskan berjalan ke Pura Mangkunegaraan, karena emang jaraknya ga begitu jauh.

Sewaktu kami datang, ternyata Pura Mangkunegaraan lagi rame-ramenya didatengin pengunjung, dan kebanyakan pengunjung mancanegara.

Spoiler for Pura Mangkunegara:


Spoiler for halaman belakang Pura Mangkunegara:


Setelah nunggu sebentar dan ngeliat-liat souvenir koin-koin kuno yang dijual dengan harga mahal, akhirnya kami dapet pemandu juga. Bapak pemandu dengan sabar dan pelan menjelaskan tentang pembagian ruang-ruangan di Pura Mangkunegaraan, mengenai sejarah Mangkunegara. Dia menceritakan kalau beberapa hiasan-hiasan patung singa diimpor dari Jerman, tiang-tiangnya yang masih kokoh sampe sekarang merupakan asli kayu jati, patung-patung pendeta yang diimpor dari China, lalu lukisan dan potret Mangkunegara IX, Mangkunegara VIII dan Mangkunegara VII di sebelah kiri dan istri-istri mereka di sebelah kanan.

Spoiler for Mangkunegara IX:


Spoiler for Permaisuri Mangkunegara IX:


Di dalam Pura Mangkunegaraan ada beberapa tempat yang sakral sehingga tidak diperbolehkan untuk mengambil dokumentasi apapun, baik foto maupun video. Alas kaki juga harus dilepas untuk menjaga kebersihan dan kesucian tempat tersebut. Di dalam Museum Mangkunegaraan, banyak koleksi-koleksi keratin dari zaman dahulu. Perhiasan-perhiasan bernilai tinggi, souvenir dari negara lain, mainan-mainan zaman dulu para putri-putri, lukisan-lukisan Mangkunegara sebelumnya, singgasana Mangkunegara dengan patung dewi Sri dan suaminya.

Bapak pemandu juga menunjukkan kepada kami patung-patung yang menghiasi halaman keraton, yang kesemuanya dipesan oleh Mangkunegara IV. Lalu menunjukkan pada kami ruang pertemuan dan ruang makan, pada saat Mangkunegara dan istri menyambut tamu-tamu keraton. Terakhir dia menunjukkan kepada kami sirap (atap) Pura Mangkunegara yang baru saja dipugar sebagian, dimana perbaikannya memakan biaya sampai Rp 15 M dan diambil dari APBD.

Setelah puas berfoto-foto di halaman Pura Mangkunegara, kami melalui jalan Ngarsopuro dan kembali ke penginepan untuk check out. Lalu dari Keprabon tempat kami menginap, kami naik becak sampai ke Dinas Perhubungan untuk bersiap-siap naik bus tingkat Werkudara.

Sewaktu kami sampai di Dinas Perhubungan, busnya belum datang dan beberapa tamu lain terlihat sudah menunggu. Tepat pukul 12.15, bus tingkat wisata Werkudara muncul, lalu penumpangpun mulai memasuki bus, ada yang duduk di tingkat atas dan di tingkat bawah. Posisi tidak masalah karena sewaktu berhenti di Jurug, posisi akan dirolling, sehingga yang tadinya di atas bisa di bawah, begitu juga sebaliknya.

Busnya nyaman dan bersih, dengan pemandu di depan yang menerangkan tempat-tempat yang kami lalui. Bus ini mengelilingi kota Solo dan melewati hampir semua tempat-tempat wisatanya termasuk titik nol kilometer kota Solo, Gedung Bank Indonesia yang lama dan baru, Sungai Bengawan Solo, Gedung Balai Kota, Pasar Kliwon, dan lain sebagainya. Berhenti sejenak di Tugu Selamet Riyadi, foto-foto, lalu melanjutkan perjalanan melewati Pasar Gedhe, sampai di Jurug, kami yang tadinya duduk di bawahpun akhirnya pindah ke atas. Melewati Jl. Veteran dan beberapa jalan lainnya, kami akhirnya kembali ke Dinas Perhubungan di Manahan.


..to be continued
KASKUS Ads
Disana, penumpang bus untuk giliran berangkat jam 3 sudah menanti dan begitu pintu bus dibuka, kami langsung berdesak-desakan dengan penumpang yang mau naik dan juga yang turun.

Spoiler for Bus Tingkat Werkudara:


Lalu dari Manahan sudah menjelang sore, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum ke Stasiun Solo Balapan untuk pulang ke Jakarta. Setelah sedikit berjalan tidak jauh dari situ, kami menemukan warung makan Burjo Pemuda dan menikmati mie dhokdhok yang berkuah kental dengan nutrisari dingin. Heummmm…, lagi-lagi perpaduan rasa dan harga yang mantap..

Setelah kenyang makan, kami langsung berjalan kaki emoticon-Traveller ke Stasiun Solo Balapan. Sengaja mencari toilet terlebih dahulu untuk mandi, karena badan udah lengket bin keringetan. Di Stasiun Solo Balapan ini toiletnya bersihhhh, bisa mandi disana dengan tarif hanya Rp 1,000 saja, gan!

Setelah segar mandi dan beres-beres, kamipun menunggu di depan Stasiun Balapan, sambil menikmati para pengamen jalanan yang membawakan lagu-lagu keroncong, sesekali menggoda para penonton dan melayani request juga. Sebentar lagi harus pulang ke Jakarta… emoticon-Mewek emoticon-Sorry

Lalu tepat pukul 18.00, kereta bisnis Senja Utama Solo pun berangkat meninggalkan Stasiun Solo Balapan, menuju ke Stasiun Pasar Senen, tiba kembali di Jakarta pada pukul 05.00 pagi


...dan berakhirlah perjalanan kami ke Solo emoticon-Malu (S)

emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia

Quote:


Quote:


emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:

ALBUM FOTO

Spoiler for Kereta Prameks Solo:


Spoiler for Kraton Surakarta Hadiningrat:


Spoiler for Mesjid Ageng Surakarta:


Spoiler for Hotel Kuno Zaman Jepang:


Spoiler for Dinas Pariwisarta Solo:


Spoiler for Museum Radya Pustaka:


Spoiler for Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Pedestrian Jl. Slamet Riyadi:


Spoiler for Stadion Gelora Manahan:


Spoiler for Peta Taman Balekambang:


Spoiler for Batu Asmara Taman Balekambang:


Spoiler for Kelinci Angora:


Spoiler for Burung Unta, Merak dan Kelinci Angora:


Spoiler for Kandang Burung Parkit:


Spoiler for Taman Balekambang:


Spoiler for Si 'Anteng' Iguana:


Spoiler for Pasar Ikan Balekambang:


Spoiler for Pasar Legi:


Spoiler for Komplek Masjid Muhammadiyah Mangkunegaraan:


Spoiler for Gerbang Komplek Masjid Muhammadiyah Mangkunegaraan:


Spoiler for Gedung Kavalerie Artilerie Mangkunegaraan:


Spoiler for Gerbang Pura Mangkunegara:


Spoiler for Inside Bus Tingkat Werkudara:


Spoiler for Stasiun Balapan:


Spoiler for Burjo Pemuda Stadion Manahan:


Spoiler for Governor Surakarta:


Spoiler for Rumah Tua Belanda di Solo:


Spoiler for Railbus Jl. Slamet Riyadi Solo:


Spoiler for Stadion R. Maladi Sriwedari:


Spoiler for Meriam Taman Sriwedari Solo:


Spoiler for Gedung Gramedia Solo:


Spoiler for Museum Batik Surakarta:


Spoiler for Kampung Muhammadiyah Keprabon:


Spoiler for Kampung Muhammadiyah Keprabon:


Spoiler for Rutan Surakarta:


Spoiler for Pasar Klewer:


Spoiler for Benteng Vestenburgh:


Spoiler for Gereja Kristen Perempatan Galabo:


Spoiler for Gedung BI Lama:


Spoiler for Titik 0 Km Kota Solo:


Spoiler for Pasar Gedhe Solo:


Spoiler for Gereja St. Antonius Solo:


Spoiler for Gerbang Komplek Mangkunegaraan:


Spoiler for Lampu Jalan Pedestrian Ngarsopuro:


Spoiler for Balaikota Solo:


Spoiler for Lampu Jalan Pedestrian Ngarsopuro:


Spoiler for Pedestrian Ngarsopuro:


Spoiler for Kampung Batik Kauman Solo:
Penginepan yang ane pake selama disana :

Hotel Rumah Kost AC KEPRABON
Jl. Ahmad Dahlan no. 8 Surakarta
Telp. 0271-632811 / 081390332811


Ojek yang ane pake buat ke Candi Cetho, Candi Sukuh dan Grojogan Jumog :

Pak Suradi 085225882402
Pak Warto 082323206460


matep bener dah....makasih dah maen kesolo...tau gitu mampir rumah ane gan deket ma stasiun purwosari....
kapan2 maen solo lagi ya gan????
emoticon-thumbsupemoticon-thumbsupemoticon-thumbsup
sekaliyan rate

Smile 

Tripnya mantap sis. Keliling Solo udh jd impian ane. Mudah2an bisa menyusul bisa ke Solo emoticon-Smilie

Itu 753.500 udah all in ongkos, makan, transport dan tinggal selama disolo dari jakarta? emoticon-Matabelo Makan2nya Wisata Kuliner ya sis? emoticon-Matabelo

Itu kebanyakan jalan kaki gitu sis? emoticon-Matabelo

Foto2nya juga buat ngiler emoticon-Matabelo
emoticon-Matabelo lengkap bgd sis.... emoticon-thumbsup

di tunggu share cerita perjalanan lainnya emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
sekedar menambahkan info...untuk yang tiket prameks sebenarnya tidak gratis.mei kemren harganya kl gak salah 10rb.digratiskan dr tanggal 24-28okt CMIIW karena sebelumnya ada kereta prameks yang anjlok dan ngguling
Quote:


Iya, gan emoticon-Cendol (S) ane dan temen ane pengen balik lagi suatu hari nanti
terutama nyicipin lebih banyak lagi kuliner Solo emoticon-Malu (S)

Quote:


makasih komengnya, sis emoticon-Cendol (S)

Quote:


makasih, gan.. emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


thanks infonya, gan, iya, kami beruntung karena pas lagi gratis.. emoticon-Big Grin
mantap sis eFeRnya emoticon-Matabelo
kalo kayak gini sie ane pengen banget diajak
di buat lagi donk sis emoticon-Traveller yang murmer aka sharing cost emoticon-I Love Indonesia (S)
Memang Solo pantas menjadi The Spirit of Java
emoticon-Kiss

Akhir tahun ini ane pengen menikmati keindahan Solo
emoticon-Toast

terima kasih untuk infonya yaa, Gan Lucia
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
mantap bener reportnya
jadi pingin ke solo
emoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toast
btw pingin tau foto kamar hotel keprabon,,klo ada upload yaaa
salam kenal ya sis.......
banyak juga yah tempat" yg menarik di solo emoticon-I Love Indonesia (S)
Keren sist, sangat khas tulisan Tasia: Sangat komplit, detail, informatif, menarik & kocak tp malu2. hehehe emoticon-2 Jempol

Ayohh ditunggu ep er yg lainnya & update an dr "book & Sunset".
btw SIALLL, ente bikin ane kangen t4 ini, jd
pengen kesana lg nih..tanggung jawab klo jumat bsk tau2 ane udah nge gas kesini. heheheemoticon-I Love Indonesia (S)
jempol dah sis, dari manahan sampe pasar legi jalan kaki ... untung dah sore, coba kalo pas siang hari....
Quote:


okeh, gan.. emoticon-2 Jempol
makasih udah mampir ke FR ane *walaupun agak dipaksa :P *

Quote:


sama2, gan, ane setuju.. emoticon-Big Grin
have a safe trip ya, gan, makasih komennya emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


wah, sayangnya ga ada, gan, maaf ya..
kamarnya cukup luas kok, dengan 2 ranjang singlebed, kamar mandi, AC dan tivi, sayang, banyak kecoa.. emoticon-Ngakak
namanya juga cari murah.. emoticon-Embarrassment

Quote:


tentu, gan emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


jadi malu... emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) makasih, blih Revan..
ayo segera tancap gassssss, blih!!! emoticon-Ngacir

Quote:



bukan dari manahan aja sih, gan, tepatnya dari Tugu Slamet Riyadi, Solo Grand Mall, Manahan, Balekambang, Pasar Legi, Mangkunegaraan, Keprabon emoticon-Cool

kaki ane sampe lecet semua emoticon-Malu
Nice thread, thanks for sharing. Ane bangga jadi kelahiran Solo, kotanya bersih, rapi, teratur, makanannya cadas2 emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup
Ane terakhir ke sana Juli 2010, baca trit ini jadi mikir, lucu juga nih kalo tahun depan balik lagi... Solo traveling ke Solo emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
jadi pengen juga ngerasain kota solo