alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/509f52bc2675b43e12000044/ini-pencerahan-dari-pakar-hukum-tentang-dahlan-iskan-vs-dpr
INi PENCERAHAN DARI PAKAR HUKUM TENTANG DAHLAN ISKAN VS DPR
Karena kepanjangan awak pisah jadi 2 bagian... emoticon-Malu (S)

PART 1

Telaah Hukum Dahlan Iskan vs Oknum Anggota DPR Tukang Palak

Reff : http://hukum.kompasiana.com/2012/11/...ak-507243.html

TELAAH HUKUM

DAHLAN ISKAN

VS

OKNUM ANGGOTA DPR TUKANG PALAK

Selama 1 (satu) tahun memimpin Kementrian Negara BUMN, sudah cukup banyak gebrakan yang dilakukan oleh Dahlan Iskan untuk memperbaiki kinerja BUMN yang ada di bawahnya dan menghilangkan stereotip BUMN sebagai “sapi perah” partai politik. Pembentukan “The Dream Team” pada Direksi BUMN, proses IPO beberapa BUMN, serta pelimpahan/distribusi sebagian kewenangan Menteri BUMN melalui Peraturan menteri BUMN merupakan beberapa gebrakan yang telah dilakukan Dahlan Iskan.

Nah, gebrakan terakhir yang dilakukan Dahlan Iskan adalah penjelasan dan penyerahan beberapa nama oknum Anggota DPR peminta “jatah” sebagian dana Penyertaan Modal Negara (PMN) pada beberapa BUMN di dalam Rapat Badan Kehormatan DPR pada hari Senin, tanggal 5 Nopember 2012, serta penjelasan tertulis (berisi tambahan nama oknum Anggota DPR peminta jatah) pada hari Rabu, tanggal 7 Nopember 2012.

Penulis mencatat sudah cukup banyak para pengamat, mantan pejabat, sampai para politisi di DPR dan partai politik yang memberikan pendapatnya mengenai pengaduan Dahlan Iskan terhadap oknum Anggota DPR peminta jatah di depan BK DPR. Pendapat mereka mulai dari mendukung, tersinggung, menuding sang menteri sedang pencitraan, sampai menantang sang menteri agar buat laporan langsung saja ke penegak hukum seperti KPK atau kepolisian. Sehingga penulis merasa perlu memberikan pendapat dari kacamata hukum guna menjawab pertanyaan apakah memang permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR itu suatu tindak pidana korupsi, apakah upaya penjelasan peristiwa dan penyerahan nama oknum Anggota DPR ke BK DPR oleh Dahlan Iskan sudah tepat, atau kenapa sang menteri tidak pernah mau mengungkapkan nama-nama oknum Anggota DPR peminta jatah tersebut secara terbuka.

Fakta Permintaan Jatah Oknum Anggota DPR

Telaah hukum dilakukan dengan ruang lingkup yang dibatasi hanya pada fakta-fakta berdasarkan laporan dan penjelasan Menneg BUMN Dahlan Iskan baik lisan maupun tertulis kepada BK DPR, yang disampaikan oleh beliau di media massa dan penulis rangkum, sebagai berikut:

Berdasarkan laporan dari Direksi beberapa BUMN yang memperoleh PMN (PT MNA dan PT Garam) tahun 2012 kepada Dahlan Iskan, diketahui bahwa ada permintaan berulang-ulang dari oknum Anggota DPR RI kepada Direksi tersebut, untuk meminta jatah sebagian dana PMN yang telah disetujui oleh pemerintah dan DPR.

Permintaan baik melalui percakapan telepon, sms, maupun dalam pertemuan tidak pernah dikabulkan dan dipenuhi oleh Direksi beberapa BUMN tersebut.

Meskipun yang aktif meminta dan menemui Direksi BUMN hanya 2 (dua) orang anggota DPR, namun kedua anggota DPR tersebut mengaku mewakili beberapa orang anggota DPR lainnya.

Artinya tulisan ini tidak akan menganalisa peristiwa kongkalikong lain yang mungkin pernah ada antara BUMN dengan oknum anggota DPR RI.

Pertanyaan

Ada beberapa pertanyaan penting sehubungan dengan peristiwa permintaan oknum Anggota DPR terhadap dana PMN beberapa BUMN, dan aksi Dahlan Iskan yang lebih memilih untuk menyampaikan aduan mengenai peristiwa permintaan jatah dana PMN oleh oknum Anggota DPR kepada BK DPR. Apabila jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting ini sudah kita ketahui, maka penulis yakin dengan sendirinya kita akan dapat melihat secara clean and clear pokok permasalahan yang sesungguhnya terjadi serta pertimbangan hukum dari tindakan Dahlan Iskan dalam menanggapi permasalahan tersebut. Adapun pertanyaan-pertanyaan penting itu antara lain sebagai berikut:

Apakah permintaan jatah oleh oknum DPR RI terhadap sebagian dana PMN BUMN sebagaimana dijelaskan oleh Dahlan Iskan di depan BK DPR, merupakan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan?

Apakah Dahlan Iskan perlu melaporkan upaya permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR RI terhadap PMN BUMN ke KPK, Kepolisian atau Kejaksaan?

Apakah upaya Dahlan Iskan untuk menjelaskan peristiwa permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR terhadap dana PMN BUMN kepada BK DPR sudah tepat?

Analisa Hukum

Ada beberapa delik korupsi dalam Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU Tipikor”) yang telah mengatur ancaman pidana terhadap peristiwa pemberian hadiah atau janji (baca: uang) kepada penyelenggara Negara atau pegawai negeri. Delik korupsi ini terbagi menjadi 2 jenis delik, yakni:

1) Delik Suap;

2) Delik Pemerasan;

Ad.1) Delik suap dapat dikenakan baik terhadap si pemberi suap maupun penerima suap. Delik suap terhadap penyelenggara Negara atau pegawai negeri ini diatur pada Pasal 5, Pasal 6, 11, Pasal 12 huruf a, b, dan c, Pasal 12 A, Pasal 12 B, dan Pasal 13 UU Tipikor. Menurut penulis, ada 3 (tiga) hal esensial yang menjadi unsur dari delik suap ini, yaitu:

(1) Penyelenggara negara atau pegawai negeri sipil menerima hadiah atau janji;

(2) Adanya kesepahaman bahwa pemberian hadiah atau janji berkaitan dengan kekuasaan yang melekat pada jabatan;

(3) bertentangan dengan kewajiban dan atau tugasnya.

Merujuk fakta-fakta berdasarkan laporan dan penjelasan Menneg BUMN Dahlan Iskan baik lisan maupun tertulis kepada BK DPR, tidak pernah ada pemberian hadiah atau janji dari Direksi BUMN kepada oknum Anggota DPR RI dan permintaan jatah itu pun selalu ditolak oleh Direksi BUMN. Sehingga unsur esensi yang pertama dan kedua dari delik suap tidak terpenuhi. Dengan demikian, peristiwa permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR RI bukan merupakan delik suap.

Ad.2) Sementara itu, delik pemerasan hanya dapat dikenakan terhadap si pemeras (penyelenggara Negara atau pegawai negeri). Delik pemerasan ini diatur pada Pasal 12 huruf e UU Tipikor. Unsur Pasal 12 huruf e UU Tipikor ini antara lain yaitu:

(1) Penyelenggara Negara atau pegawai negeri dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain;

(2) Secara melawan hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya;

(3) Memaksa seseorang;

(4) Memberikan sesuatu, membayar, menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya.

Menurut pendapat R. Wiyono, S.H., dalam buku “Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, halaman 109, selama orang yang dipaksa belum memenuhi apa yang dikehendaki oleh penyelenggara Negara atau pegawai negeri tersebut, maka penyelenggara Negara atau pegawai negeri bersangkutan tidak dapat dikenai delik pemerasan sebagaimana dimaksud Pasal 12 huruf e ini.

Sehingga merujuk fakta-fakta berdasarkan laporan dan penjelasan Menneg BUMN Dahlan Iskan baik lisan maupun tertulis kepada BK DPR, bahwa tidak pernah ada pemberian hadiah atau janji dari Direksi BUMN kepada oknum Anggota DPR RI dan permintaan jatah itu pun selalu ditolak oleh Direksi BUMN, maka permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR RI tidak dapat dikenakan delik pemerasan.

Selain itu menurut penulis, oknum Anggota DPR RI tidak dalam posisi dapat menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan pemaksaan kepada Direksi BUMN, mengingat dana PMN yang dimintakan jatahnya itu secara kelembagaan sudah diputuskan dan setujui oleh pemerintah dan DPR RI. Ketika permintaan jatah terjadi, dana PMN untuk BUMN tersebut telah dicairkan sehingga sudah tidak ada lagi kewenangan oknum Anggota DPR yang dapat disalahgunakan dalam rangka memaksa Direksi BUMN. Dengan demikian unsur memaksa seseorang pada delik pemerasan ini juga sangat sulit untuk dibuktikan.

Dari uraian-uraian di atas, menjadi terang dan jelas bahwa permintaan jatah sebagian dana PMN pada beberapa BUMN yang dilakukan oleh oknum Anggota DPR RI tersebut, menurut pendapat penulis tidak dapat dikenakan delik korupsi baik suap maupun pemerasan.

Dengan merujuk pada uraian pokok pembahasan angka 1, tindakan Dahlan Iskan yang hingga saat ini belum melaporkan peristiwa tersebut ke KPK, Kepolisian atau Kejaksaan, sudah tepat.

Penulis juga berpendapat bahwa, laporan ke penegak hukum atas peristiwa permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR RI itu secara gegabah justru dapat menjadi senjata makan tuan atau boomerang dari sisi hukum bagi Dahlan Iskan. Karena apabila penegak hukum tidak menemukan delik suap atau pemerasan pada peristiwa itu karena alasan sebagaimana telah penulis jelaskan pada pembahasan angka 1 di atas, maka pihak yang dirugikan atas laporan Dahlan Iskan pada penegak hukum tersebut (baca: oknum Anggota DPR peminta jatah), mendapatkan celah untuk melaporkan balik Dahlan Iskan atas tindak pidana laporan Palsu (atau pengaduan fitnah) sebagaimana dimaksud Pasal 317 KUHP sub Pasal 220 KUHP.

PART 2

Sulitnya membuktikan delik suap atau pemerasan ini diketahui betul oleh pihak oknum Anggota DPR RI peminta jatah itu dan para pendukungnya (termasuk para penasehat hukumnya). Maka tidak heran apabila sering sekali dalam berita yang ada di media massa, mereka justru menantang Dahlan Iskan untuk langsung membuat laporan resmi saja ke KPK, kepolisian atau kejaksaan.

Upaya Dahlan Iskan yang menjelaskan peristiwa permintaan jatah dari oknum Anggota DPR RI terhadap dana PMN pada beberapa BUMN ke Badan Kehormatan DPR sudah tepat. Tindakan oknum Anggota DPR yang meminta jatah PMN kepada beberapa BUMN tersebut jelas telah melanggar kode etik Anggota DPR, khususnya ketentuan Pasal 16 ayat (2) Kode Etik DPR yang mengatur bahwa anggota DPR tidak diperkenankan melakukan hubungan dengan mitra kerjanya (mitra kerja di sini termasuk BUMN) dengan maksud meminta atau menerima imbalan atau hadiah untuk kepentingan pribadi.

Sesuai ketentuan Pasal 13 ayat (2) huruf b Peraturan Tata Tertib DPR, Anggota DPR RI yang melanggar kode etik DPR dapat dikenakan sanksi pemberhentian melalui mekanisme Pemberhentian Antarwaktu (PAW).

Tindakan Dahlan Iskan yang membawa permasalahan peristiwa permintaan jatah oleh oknum Anggota DPR ke BK DPR juga sudah sangat tepat untuk melindungi Dahlan Iskan dari tuntutan balik, yakni tuntutan pencemaran nama baik dari oknum Anggota DPR peminta jatah yang disebutnya. Mengapa? Karena Dahlan Iskan tidak pernah menyebutkan nama-nama oknum Anggota DPR dan peristiwa permintaan jatah tersebut di depan umum. Maka menurut penulis Dahlan Iskan tidak bisa dikenai tindak pidana pencemaran nama baik ataupun fitnah sebagaimana diatur 310 dan 311 KUHP, karena salah satu unsur pidananya, yakni “dengan maksud agar diketahui umum” tidak dapat terpenuhi.

Rapat BK yang dilakukan pada hari Senin, 5 Nopember 2012 dilakukan secara tertutup dan penjelasan tertulis ke BK DPR tanggal 7 Nopember merupakan surat yang bersifat confidential (rahasia). Penyebutan nama-nama oknum Anggota DPR yang meminta jatah dan BUMN yang dimintakan jatah di depan umum (di depan media massa) itu, justru dilakukan oleh Anggota BK DPR sendiri.

Memang Dahlan Iskan sudah menegaskan telah menyerahkan sepenuhnya kewenangan penyebutan nama-nama oknum Anggota DPR RI yang meminta jatah itu kepada BK DPR. Penulis berkeyakinan dan berharap masyarakat luas juga paham, karena pertimbangan hukum sebagaimana dijelaskan di atas pulalah yang menyebabkan Dahlan Iskan sampai saat ini menutup rapat nama-nama oknum Anggota DPR RI yang meminta jatah tersebut di depan media massa. Bukan karena ingin bargaining (tawar menawar) dibelakang layar, atau tidak mendukung pemberantasan korupsi, apalagi pencitraan.

Dari uraian-uraian penulis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap dan tindakan yang dilakukan Dahlan Iskan dengan mengadukan peristiwa permintaan jatah yang dilakukan oleh oknum Anggota DPR kepada BK DPR, sudah didasari pertimbangan hukum yang sangat matang dan tepat. Ibarat dalam sepakbola, Dahlan Iskan telah berhasil melancarkan serangan untuk mencetak gol, namun di saat yang sama menutup pergerakan lawan untuk melakukan serangan balik.

Hendi Sucahyo S, S.H.

Advokat
itu kesimpulan secara teori... gimana kalo bener2 dibawa ke pangadilan....kite atunggu