alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/509df0ec20d7191e16000036/kisah-sanusi-pembalap-olimpiade-yang-jadi-loper-koran
Ngakak 
Kisah Sanusi, Pembalap Olimpiade Yang Jadi Loper Koran
Kisah Sanusi, Pembalap Olimpiade Yang Jadi Loper Koran

Quote:Muhammad Sanusi (82) pernah berjuang untuk Indonesia di banyak ajang balap sepeda internasional, termasuk Olimpiade Roma 1960. Setelah tak bisa lagi jadi atlet, dia jadi pengantar alias loper koran.

Pria kelahiran Kebun Klumpang, Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, 21 September 1930, ini terpaksa melakoni pekerjaan sebagai pengantar koran untuk menafkahi keluarganya. Setiap hari, dia harus mengayuh sepedanya puluhan kilometer untuk mengirim surat kabar dari Kantor Wali Kota Medan ke sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Kota Medan.

"Hasilnya Rp 200 ribu sebulan ya buat makan, bisa beli apa ya?" ucap Sanusi dengan logat Jawa yang kental.

Pekerjaan mengantar koran sudah dilakoni Sanusi sekitar 30 tahun. Selain itu, setiap Jumat dia juga membantu-bantu di Masjid Agung Medan. "Dulu saya juga pernah bekerja jaga malam di Jalan Hang Tuah bersama anak saya," tutur Sanusi.

Melihat aktivitas dan kehidupannya sekarang, banyak yang tak menyangka Sanusi pernah menorehkan prestasi dan mengharumkan bangsa di masa mudanya. Dia merupakan pembalap sepeda andalan Indonesia bersama Munaip Saleh, Theo Pelupesy, Hamzin Rusli, Endra Gunawan, Wahyu Wahdini, Aming Priyatna, Frans Tupang, Hendrik Tan, Hendarto, Sofyan Rosihan, Tio Tik Hong, dan Nick.

Selain juara beregu, Sanusi muda juga berulang kali menjuarai nomor perseorangan di ajang balap internasional. "Di Olimpiade Roma, saya pebalap Asia pertama yang sampai di finis. Selain itu, saya pernah juara di Belanda, Maroko, Jepang, Yunani, Pakistan, Malaysia dan banyak lagi, saya sampai lupa. Medalinya ada di rumah, saya simpan takut hilang," sebutnya sambil menyusun tumpukan koran yang akan dibawa dengan sepeda bututnya.

Sebelum membalap di Olimpiade Roma, Sanusi ikut lomba dan menang di Belanda. Di sana dia bertemu Irma Meeweisen, pembalap perempuan negeri kincir angin itu. Mereka menikah di Yogya setelah Olimpiade Roma.

"Istri saya dulu bekerja di Malaysia Airlines, dia kan bisa Bahasa Belanda dan Inggris, sekarang sudah pensiun," ucapnya.

Dalam keterbatasan keluarganya, Sanusi dan Irma terus bersama. Mereka dikaruniai lima anak, 12 cucu, dan seorang cicit. Setelah belasan kali pindah kontrakan, kini pasangan Sanusi dan Irma bersama dua cucunya yang yatim piatu menetap di kawasan Kampung Lalang, Sunggal, Deli Serdang.

"Saya dibelikan rumah sama Menteri Olahraga Adhyaksa Daud, tahun 2008. Harganya Rp 100 juta, saya 85 kali cari rumah yang pas, akhirnya ketemu rumah milik orang Aceh yang perlu uang jadi harganya miring, ukurannya 12,5 x 12,5 meter," ucap Sanusi.

Sanusi hanya satu dari sekian banyak pahlawan bangsa yang harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Di momen Hari Pahlawan ini, Sanusi berharap mantan atlet mendapat perhatian dari pemerintah. "Maunya ada semacam pensiun ya," pungkasnya.



sumber


sedih liat para atlet yg dl berjasa skrng hidupnya kurang layak..
tp hebat jg bpk ini prestasinya emoticon-2 Jempol


Kisah Sanusi, Pembalap Olimpiade Yang Jadi Loper Koran
maklum gan ini indonesia, negeri dongeng. pahlawan sama skali ga di hargai, cuman koruptor doank yg di hargai di sini emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By guycecile
maklum gan ini indonesia, negeri dongeng. pahlawan sama skali ga di hargai, cuman koruptor doank yg di hargai di sini emoticon-Ngakak



itu udah dibeliin rumah sama menpora 100 juta bro...emoticon-Nohope
heran juga, bininya pramugari pinter, anaknya 5, tapi kok rada melarat yee...emoticon-Amazed
banyak yang lebih nggak berpendidikan dan anaknya belasan tapi bisa jadiin anak2nya jadi sukses...

kek nya para atlet kudu diajarin juga gimana cara mengelola keuangan dengan baik....emoticon-linux2
kirain pemerintah lupa sama pejuang olah raga satu ini ... ternyata sudah di beliin rumah toh ... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By bonbenk



itu udah dibeliin rumah sama menpora 100 juta bro...emoticon-Nohope
heran juga, bininya pramugari pinter, anaknya 5, tapi kok rada melarat yee...emoticon-Amazed
banyak yang lebih nggak berpendidikan dan anaknya belasan tapi bisa jadiin anak2nya jadi sukses...

kek nya para atlet kudu diajarin juga gimana cara mengelola keuangan dengan baik....emoticon-linux2


Tanya juga anaknya pada jadi apa sekarang. Kok bapaknya dibiarin seperti itu.

katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. klo kayak gini bisa dibilang bangsa besar gak indonesia
Quote:Original Posted By InRealLife


Tanya juga anaknya pada jadi apa sekarang. Kok bapaknya dibiarin seperti itu.



Jangan lupa juga tanyain sanusi nya langsung gan, kenapa anaknya kok bisa kayak gitu kepadanya. emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By vancruff


Jangan lupa juga tanyain sanusi nya langsung gan, kenapa anaknya kok bisa kayak gitu kepadanya. emoticon-Ngakak (S)


sekalian nitip tanyain ke istrinya gan, bagaimana memenej keuangan kluarga kok sampai jadi loper koran emoticon-Bingung (S)


hebat pak emoticon-Cendol (S)
halo pak kumis yg menjadi kemenpora... apa kabar?
Quote:Original Posted By guycecile
maklum gan ini indonesia, negeri dongeng. pahlawan sama skali ga di hargai, cuman koruptor doank yg di hargai di sini emoticon-Ngakak


semua profesi memang tidak dihargai, kecuali artis & penguasa.ha
Masih banyak Sanusi Sanusi yg lain....

Selama ni aq blm baca Wacana d Indonesia ttg Kesejahteraan bwt Mantan atlet yg telah Mengharumkan nama bangsa...

apa Negara ni masih bisa d katakan negara yg menghargai Para Pejuang...mdh2an masiiiiiih......emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
memang prihatin negeri ini,,disaat para pejabatnya menghambur-hamburkan uang,,para pahlawan justru dianggap angin lalu saja emoticon-Cape d... (S)
Quote:Original Posted By babhaskar


Sebelum membalap di Olimpiade Roma, Sanusi ikut lomba dan menang di Belanda. Di sana dia bertemu Irma Meeweisen, pembalap perempuan negeri kincir angin itu. Mereka menikah di Yogya setelah Olimpiade Roma.

"Istri saya dulu bekerja di Malaysia Airlines, dia kan bisa Bahasa Belanda dan Inggris, sekarang sudah pensiun," ucapnya.


mestinya tetep di belanda
ntar klo udah gede bisa dinaturalisasi ke sini jadi pemain bola
lumayan jadi bintang iklan pocari ato jadi pacar artis emoticon-Smilie

Sungguh miris gan dengar berita yang satu ini... banyak pahlawan yang sudah berjuang untuk bangsa ini namun kurang dihargai... untuk atlet semacam bapak sanusi ini mungkin juga pada masa jayanya uangnya kurang terkontrol dengan baik , hingga lupa menabung untuk masa tuanya atau juga sebaliknya mungkin bapak sanusi menggunakan uangnya untuk keperluan yang sangat mendadak dan sangat dibutuhkan... semoga altel atlet di Indonesia mendapat penghargaan dari negara walaupun sudah tidak berkiprah lagi,,

Dan menjadi catatan atlet tidak harus mendapat pelatihan yang menonjolkan kemampuan fisik sang atlet, tetapi harus juga mendapat materi pelajaran manajemen keuangan untuk atlet sehingga pada masa tuanya tidak serba kekurangan
Indonesia mah abis manis sepah dibuang
hanya ada di indonesia gan,wong cilik benar2 di lupakan tapi pak sanusi biarpun wong cilik punya prestasi
banyak pemberitaaan tentang atlet yang setelah pensiun kehidupannya banyak yang menderita, tapi kenapa pemerintah seolah2 ga ngambil tindakan?
emoticon-Mewek
emoticon-Matabelo wah dilema
disatu sisi berjasa
dilain sisi gak ada kemajuan berarti

kalo atlet2 singapura pada kerja ya.
Mengapa nasib masa tua atlit ,

Kok kebanyakan menuju ke pra sejahterah .... emoticon-Bingung (S)
duh menyedihkan sekali melihat sepak terjang pak sanusi....padahal prestasinya banyak sekali....kenapa bisa jadi terlantar seperti ini....emang nya gak ada uang pensiun...di manakah pemerinta ?