alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50960db3552acfb9380000bb/sbsm-2nd-crime-my-neighbour-is-sherlockian
[SbSM 2nd] Crime: My Neighbour is Sherlockian
[CENTER]PLEASE READ[/CENTER]

hanya peserta yang telah berhasil melewati step 1st yang melanjutkan perjalanannya di sini...

Additional Rules:

1. Peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 PM dalam 1 hari (24 jam 00.01-24.00), jika selama itu tidak menggunakan jatahnya maka dianggap hangus dan jatah untuk keesokan harinya tetap 1 PM (tidak ada akumulasi). Sama halnya jika 1 peserta mengirimkan 2 PM atau lebih, maka PM pertama-lah yang valid

2. Format PM:
Tittle : SbSM[step dimana Anda berada]
*contoh : SbSM 2nd

3. Dalam PM tidak diperkenankan menjawab dengan brute force

4, Just in case, PM error atau apalah, kirim saja ke email : 1310341@gmail.com

5. rules bisa berubah sewaktu-waktu,menyesuaikan sikon
Quote:
Memang menyebalkan kalau saat kita sedang asyik tidur kemudian dibangunkan secara paksa, sengaja atau tidak. Seperti pagi ini, padahal baru saja sekitar 2 jam yang lalu tertidur setelah bangun untuk makan sahur, si kecil yang baru beranjak 9 bulan sudah teriak-teriak minta "sarapan". Untung saja istriku sudah terbangun dari sejak sahur tadi dan memang dia punya kebiasaan untuk tidak tidur lagi setelah makan sahur, jadi anakku tidak menangis terlalu lama. Tapi itu semua sudah tidak ada gunanya karena mata dan otakku sudah benar-benar terjaga dan menolak untuk berkompromi dengan badanku yang masih saja merasakan kuatnya tarikan gravitasi kasur.

Akhirnya, kuseret kakiku ke wastafel untuk sekedar mencuci muka dan kemudian menuju halaman belakang agar aku bisa mengirup udara pagi yang segar sembari meregangkan otot-otot yang kaku. Aku lebih menyukai halaman belakang daripada teras di depan rumah untuk sekedar berolahraga ringan. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak senang para tetangga memelototi celanaku yang mungkin saja melorot waktu aku sedang membungkuk, walaupun saat ini sudah hampir tidak ada orang di perumahan ini karena ditinggal mudik oleh para penghuninya.

Ketika kubuka pintu menuju halaman belakang, badanku yang lemas tadi tiba-tiba hampir terlompat saking kagetnya bagai tersengat listrik. Handle dan anak kuncinya kini sudah tidak keliatan seperti biasanya lagi, seperti habis dibongkar dengan paksa karena memang kelihatan ada bekas pencongkelan di sana-sini. Aku segera berteriak memanggil istriku.
"Ma, kok pintunya rusak?"
"Pintu apa sih, Pa?" Rupanya dia masih berada di dalam kamar.
"Kesini dulu deh." Segera setelah dia menghampiriku, aku memperlihatkan pintu yang rusak itu.
"Lho, Mama gak tau. Tadi malem Mama kunci pintunya pas mau berangkat tarawih masih bener, kok."
"Jadi Mama gak buka pintunya dari semalem ya? Hmm, masa' maling sih, Ma?" tanyaku dengan nada menggantung.
"Apa yang diambil, Pa? Perasaan perabotan masih ada semua waktu pagi tadi mama bersih-bersih." Suaranya terdengar khawatir sekaligus tak percaya.
"Coba liat-liat lagi deh. Cek juga surat-surat berharga sama perhiasan Mama."

Sesaat setelah istriku pergi, aku termenung mengamati pintu belakang yang sudah rusak itu. Kucoba untuk tetap tenang dan memikirkan masalah ini dengan kepala dingin. Aku juga melihat keadaan sekitar halaman belakang dan berusaha merekonstruksi dalam pikiran bagaimana maling itu bisa masuk ke dalam rumah.
Tepat saat aku membayangkan si maling ini melompati salah satu dinding di samping rumah yang bersebelahan dengan rumah tetangga, tiba-tiba saja kulihat sesosok kepala yang matanya memandangiku dengan tajam. Aku kaget bukan main. Rupanya hanya di permukaan saja aku bisa mengatur ketenanganku, jantungku berdegup dengan sangat kencang hingga rasanya seperti akan meledak.
Dan sesosok kepala itu kemudian menyeringai memamerkan barisan giginya yang tampak putih dan teratur. Terlebih lagi dia menyapaku,
"Pagi Pak Wilson...Wah, wah, sepertinya saya sudah membuat kaget Bapak. Maaf kalau kesannya menguping, tapi tadi saya mendengar ribut-ribut dari arah rumah Bapak dan rasa keingintahuan saya yang besar memaksa tubuh saya mengambil tindakan seperti ini."

Aku tertegun beberapa detik, tidak tahu harus berbuat apa. Ternyata sosok kepala yang tadi mengagetkanku itu adalah tetangga sebelahku, Pak Omes. Tidak banyak yang kutahu dari dirinya, kecuali kenyataan bahwa dia tinggal sendirian. Kuakui, aku memang kurang bergaul dengan tetangga sekitar. Berbanding terbalik dengan istriku, dia sepertinya tahu latar belakang dan pekerjaan hampir semua orang di lingkungan perumahan ini.
"Jadi, ada apa Pak Wilson?" tanyanya.
"Tuh," aku mengangkat bahu sembari menunjuk pintu belakang, "sepertinya saya habis kemalingan semalam".
"Hah?" Dari nada suaranya, dia terdengar terkejut mendengar perkataanku tadi. Kuamati wajahnya yang semula menunjukkan sikap ramahnya kini berubah serius. Yang lebih mengejutkan lagi, dia kemudian melompati dinding setingi hampir 2 meter itu dan berjalan menghampiriku.
"Permisi sebentar," ucapnya sambil mengamati pintu belakangku. Tak beberapa lama, dia menggumamkan sesuatu. Aku hampir-hampir yakin dia bergumam 'amatiran' atau semacam itulah.
"Lho, ada Pak Omes," seru istriku yang tampaknya sudah selesai melakukan tugasnya, "kok tadi gak denger ya ada orang masuk dari pintu depan?"
"Halo Bu Wilson. Maaf bertamu pagi-pagi begini dan memang saya tidak masuk dari pintu depan," sahut tetanggaku sambil tersenyum ramah. Ah, rupanya dia sudah kembali ke sikapnya yang semula.
"Hah, jadi lewat mana?" tanya istriku yang segera kupotong dengan pertanyaan juga.
"Ada yang hilang nggak, Ma?
"Sudah mama periksa semua, Pa. Tapi beneran deh, gak ada yang hilang."
"Aneh sekali kalo begitu. Mungkin malingnya tidak sempat mengambil apapun karena kita sudah keburu datang." Ya, sepertinya itu memang alasan yang paling masuk akal.
"Ehem..." hampir saja aku melupakan Pak Omes ada di sebelahku, "keberatankah kalau Pak Wilson menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin saya bisa membantu."
Aku melirik ke istriku, meminta persetujuannya. Dia mengangkat kedua alisnya dan sambil menghela napas, aku menceritakan semuanya secara singkat.

"Oh, jadi kalian merasa tidak ada sesuatu yang hilang ya. Walaupun ada bekas-bekas rumah Anda dimasuki secara paksa. Aneh sekali kan."
"Aku juga sudah bicara seperti itu tadi, Pak Omes," sindirku tak sabar dan kurasakan dadaku disikut oleh istriku yang sepertinya tidak suka dengan ucapanku tadi.
"Apa dia salah memasuki rumah ya? Mungkin dia berniat memasuki salah satu rumah kosong di sekitar sini dan mengira rumah kita ini juga kosong."
"Entahlah, Ma. Kejadian ini membuatku bingung. Biasanya jika kemalingan, hal yang paling diperhatikan adalah siapa orang yang melakukannya, kan. Tapi sekarang ini, benda yang diambilnya saja kita tidak tahu."
"Kalau masalah siapa yang mengambilnya sih, sepertinya bukan hal yang sulit," sahut Pak Omes
Aku memandanginya dengan heran. Mana mungkin dia bisa tahu siapa orangnya sedemikian cepat.
"Siapa?"
"Sabar dulu, Pak Wilson. Segala sesuatu itu harus dilakukan secara teratur dan metodis. Bahaya sekali jika kita mengambil kesimpulan dengan sembarangan. Yang kita butuhkan saat ini adalah data dan fakta. Oleh karena itu, tolong jawab dengan jujur, baru-baru ini apakah kalian pernah menerima tamu dari luar perumahan ini? Eh, tidak pernah. Ya, ya, ini petunjuk yang bagus sekali. Tepat seperti dugaan saya semula. Omong-omong, apakah kalian selalu mengunci pintu kamar tidur jika bepergian? Disana kan kalian menyimpan semua benda berharganya?"
"Ya benar, kami selalu menguncinya. Sudah menjadi kebiasaan. Masih terkunci kan semalem, Ma?"
"Masih, Pa. Mama ingat betul."
"Tapi kalian tidak mengecek pintu belakangnya juga ya. Sebab itu kalian baru mengetahui sekarang kalau pintunya sudah dirusak."
Hening sebentar. Semua orang sepertinya sedang memikirkan kejadian aneh itu. Tak berapa lama, Pak Omes kembali angkat bicara.
"Boleh saya melihat-lihat rumahnya?"
Aku pun mempersilahkannya memasuki rumah kami. Sebenarnya aku sempat heran juga dia berkata begitu tadi. Toh, rumah kita setipe dan pasti tata letak ruangannya sama saja. Yang membedakan mungkin hanya perabotannya saja. Tapi aku tidak sempat menanyakannya, karena dia sudah ngeloyor pergi ke teras depan rumah.
Quote:
Deretan perumahan yang sekarang kami tinggali ini bertipe 65 dengan satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur lain yang ukurannya sama. Teras depan rumah bersebelahan dengan garasi kendaraan. Antara ruang tamu dan ruang keluarga tidak terdapat sekat sehingga jika kami membuka pintu depan, dari teras bisa melihat ruang tamu hingga ke ruang keluarga yang saat ini sedang diperiksa oleh Pak Omes. Nampaknya dia tertarik dengan berbagai peralatan dan mainan untuk bayiku. Istriku memang sengaja menaruh semua tetek bengek itu di sana karena katanya agar mudah mengawasi anaknya apabila dia sedang melakukan pekerjaan rumah tangganya. Pak Omes lalu balik ke ruang tamu dan mengamati lemari kaca tempat kami menyimpan berbagai foto dan beberapa souvenir dari beberapa daerah. Aku dan istriku memang sangat suka traveling.
"Kira-kira adakah benda berharga di antara koleksi Pak Wilson ini?" tanyanya kemudian.
"Aku rasa tidak ada. Kebanyakan kami beli di pedagang kaki lima di daerah yang sedang kami kunjungi. Jadi ya harganya juga tidak seberapa."
Kupikir dia akan memeriksa juga kamar tidur kami, namun ternyata dia tidak melakukannya. Mungkin dia tak tertarik karena kami tadi begitu yakin kalau pintu kamar tidur masih terkunci semalam.
"Jadi Pak Wilson membiarkan dua kamar tidur ini kosong ya?"
"Yah, mau bagaimana lagi. Anggota keluarga kami memang cuma 3 orang dan istriku tidak mau menggunakan jasa pembantu."
Dia hanya mengangguk-angguk dan meneruskan langkahnya menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur hingga akhirnya berhenti di pintu belakang.
"Wah, Pak Wilson terus mengikuti saya."
"Aku anggap Pak Omes adalah tamu yang sedang melihat-lihat rumah ini," jawabku sambil tersenyum.
"Boleh saja. Jadi dalam seminggu ini, eh, kurasa terlalu lama. Selain saya, dalam dua atau tiga hari yang lalu, siapa lagi yang datang bertamu ke sini?"
"Setahuku tidak ada. Tapi memang aku jarang berada di rumah sih. Coba aku tanyakan istriku dulu. Ma, baru-baru ini ada yang datang ke sini nggak? Iya, siapa saja boleh. Hah, Bu RT? Nagih uang keamanan ya? Ada lagi nggak?"
"Ada sih, tapi cuma anak laki-laki Bu Isti yang mengantarkan nasi kotakan, katanya sih memperingati kematian ayahnya Bu Isti. Itupun hanya sampai di halaman depan karena waktu itu saya sedang duduk-duduk di teras sambil menggendong anak saya," jawab istriku seraya menghampiri kami.
"Bagaimana dengan Bu RT? Apakah Anda persilahkan duduk di ruang tamu?" tanya Pak Omes.
"Iya, bahkan kami sempat mengobrol lama, biasalah ibu-ibu," sahutnya sambil tersenyum malu-malu.
"Lama? Berarti Bu Wilson juga membuat minuman untuk dia, ya?"
"Saya sudah menawarinya minum, tapi dia menolak karena menghormati saya yang sedang berpuasa."
"Itu si Bella juga hampir setiap hari main kemari, kan?" selaku.
"Oh iya. Maklum, anak kecil kan senang kalau lihat bayi."
Kulirik Pak Omes yang sedang mengelus-elus dagunya.
"Oke, itu saja kan? Nah, sekarang saatnya minta keterangan dari satpam perumahan ini." Pak Omes beranjak pergi tak lupa berterima kasih. "Ayo, Pak Wilson ikut saya, kalau tidak keberatan."
"Boleh saja," timpalku.

Sepanjang perjalanan ke pos satpam, kira-kira 100 meter dari rumahku, aku terus memikirkan bagaimana bisa Pak Omes merasa yakin kalau pelakunya orang dalam perumahan ini. Aku pun menanyakannya.
"Oh, mudah sekali. Sebelumnya tolong Pak Wilson memanggil saya tanpa embel-embel 'Pak'. Rasanya aneh sekali karena saya belum berkeluarga dan saya kira usia kita hampir sama. 30-an kan? Tentu saja saya bisa tahu, istri Pak Wilson pernah bercerita kepada saya. Oh, baiklah kalau begitu Wilson, kalau kau mau dipanggil seperti itu juga.
"Begini Wilson, seperti yang kau lihat perumahan kita ini dikelilingi dinding-dinding berkawat duri di atasnya tujuannya untuk mencegah orang yang tidak diinginkan masuk. Satu-satunya akses adalah melalui gerbang masuk yang selalu dijaga satpam selama 24 jam. Memang selalu ada kemungkinan orang luar masuk tanpa diketahui oleh satpam kita, tapi kan ada CCTV juga di gerbang masuk. Karena itu sekarang saya ingin menanyai mereka apakah ada orang asing yang masuk ke perumahan kita ini semalam. Nah, itu dia Pak Kadir, salah satu satpam perumahan sini. Pagi, Pak Kadir."
"Oh, pagi Pak Omes. Pak Wilson juga. Mau kemana Bapak-Bapak sekalian?" sapanya hangat.
"Nggak kemana-mana kok, Pak. Hanya lagi jalan-jalan mengelilingi kompleks. Sekarang dapat giliran jaga pagi sampai sore, ya?"
"Iya. Barusan saja saya jaga, gantiin si Hendrik yang kebagian shift malam-pagi."
"Jadi yang nanti jaga sore sampai malam Pak Nunung lagi kan?"
"Benar, pak. Dasar panjang umur, itu orangnya datang. Pasti dia mau mengambil handphone-nya yang ketinggalan. Nung, mau ambil handphone ya? Nih..."
"Trims, dir. Tadi buru-buru pulang," sahut Pak Nunung yang datang dengan mengendarai motor.
"Habis antar istri kemana Pak Nunung? tanya Omes.
Yang ditanya menjawab dengan keheranan.
"Ke terminal, mau mudik duluan istri saya. Darimana Pak Omes tahu?"
"Dari helm lebih yang Pak Nunung bawa dan pijakan kaki di belakang yang habis digunakan di sisi kiri saja. Itu bukti kalau Pak Nunung habis mengantarkan seseorang dan orang itu adalah wanita, sebab cuma seorang wanita yang bisa membonceng dengan cara duduk menyamping menggunakan pijakan kaki cuma di satu sisi saja. Biasanya pagi-pagi begini saya sering melihat Pak Nunung membonceng istri ke pasar, tapi sekarang tidak. Karena itu saya menyimpulkan kalau Pak Nunung membonceng istri sendiri."
"Hebat. Pak Omes seperti peramal. Kalau begitu tolong kasih tahu masa depan saya juga," pintanya setengah bercanda.
"Itu susah, Pak. Masa lalu dan masa kini adalah bidang penyelidikan saya, tapi tidak masa depan."
"Maksudnya?"
"Ah, lupakan saja. Saya hanya mengutip perkataan tersebut dari seseorang," timpal Omes. Dengan segera ia mengalihkan pembicaraan dan kembali ke tujuan awalnya. "Oh iya, Pak Nunung. Kemarin malam sebelum orang-orang pulang shalat tarawih, ada teman saya yang berkunjung ke rumah nggak? Sepertinya saya tertidur waktu itu."
"Ah, masa sih. Bahkan selama saya jaga, sama sekali tidak ada tamu, kok."
"Begitu ya. Mungkin dia lupa alamat rumah saya dan tidak jadi mampir." Setelah percakapan itu, Omes mohon diri.

"Kau tahu kan kalau saya berkata begitu untuk mengelabuinya? Ya, orang cenderung akan menyembunyikan sesuatu kalau dirasa hal itu penting bagi orang lain. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang akan bertamu ke rumah saya semalam. Semua itu menguatkan kesimpulanku sebelumnya kalau maling yang masuk ke rumahmu adalah salah satu penghuni sini dan kalau saya tidak salah, pasti salah satu dari orang yang kau sebutkan pernah bertamu ke rumahmu dalam beberapa hari lalu. Kita beruntung banyak penghuni sini yang sedang mudik, tapi itu juga yang membuat maling itu nekat melakukan aksinya. Dia dengan mudahnya memanjat dinding halaman belakang rumah, seperti yang saya lakukan tadi, lalu merusak pintu belakangmu. Seandainya letak rumahmu tidak berada paling pinggir di tengah-tengah perumahan, melainkan ada di sepanjang sisi cluster perumahan yang berbentuk "U" ini, mungkin dia akan berusaha masuk lewat pintu depan."
"Rumah itu pilihan istriku," selaku.
"Well, semoga saja orang-orang yang ingin kita temui berada di tempat semua. Sebaiknya kita mulai dari rumah Bu RT dulu, jadi kita bisa sekalian menanyakan siapa saja orang-orang yang masih berada di sini."
Sesampainya di sana, ternyata yang kita temui hanya Pak RT yang sedang merokok sambil minum kopi di depan televisi. Pak RT rupanya sedang menonton berita pagi di salah satu channel televisi lokal yang saat itu menyiarkan penemuan sesosok mayat wanita. Mayat itu ditemukan pada kemarin malam oleh rekan kerjanya yang merasa curiga karena korban tidak bisa dihubungi seharian. Dia berinisiatif mendatangi rumah kost tempat dimana korban tinggal yang saat itu sedang sepi karena semua penghuni kost sudah pulang kampung. Begitu sampai di sana, ternyata temannya sudah menjadi mayat.
Diduga mayat tersebut adalah korban pembunuhan dan perkiraan kematiannya terjadi pada siang sampai sore hari, karena teman korban mengaku sempat meneleponnya pada pagi hari itu. Diketahui korban bekerja sebagai seorang "wanita nakal" di sebuah night club. Sampai saat ini, kepolisian masih mengupayakan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan tersebut yang ditengarai adalah pria teman kencan korban. Aku jadi memikirkan bagaimana kalau kasusku nanti masuk berita juga.

"Lho," kata Pak RT setelah Omes menjelaskan maksud kedatangan kami kepadanya, "Ibu ikut tour pengurus PKK ke luar kota sejak kemarin. Memangnya ada apa Pak Omes, Pak Wilson?"
Sekilas kulihat raut wajah kecewa Omes karena tidak berhasil menemui "buruannya".
"Tidak ada apa-apa, Pak. Saya sebetulnya ingin bayar uang keamanan untuk bulan depan karena saya mungkin akan ke luar kota dalam waktu yang lama."
"Ibu besok lusa sudah kembali, kok. Lagipula jika begitu mendesak bisa dititipkan kepada saya. Apa? Keluarga Bu Isti kan sudah berangkat mudik. Hmm, kayaknya dua hari yang lalu, hari Senin. Itu lho, setelah sorenya antar-antar nasi kotak, malamnya mereka sudah berangkat. Waktu itu saya mendapatkan kesan mereka berangkat dengan terburu-buru. Karena ketika itu Boy, anak laki-laki Bu Isti, yang disuruh mereka lapor ke saya kalau mau berangkat mudik malam itu."
Lalu kami pamit sesudah menolak ajakan Pak RT untuk duduk-duduk dulu di rumahnya.
Quote:
"Perasaan baru 2 minggu yang lalu Bu RT sekeluarga jalan-jalan ke luar kota, sekarang dia sudah pergi lagi. Dia punya hobi yang sama denganmu, Wilson."
Walaupun nada bicaranya terdengar biasa saja, kulihat ekspresi wajah Omes tampak tak begitu senang. Dia menundukkan kepalanya begitu dalam sampai-sampai dagunya menyentuh dadanya. Kemudian dia memutuskan untuk melihat keadaan rumah keluarga Bu Isti sebelum menuju ke rumah Bella.
Tampaknya tidak ada yang aneh di sana. Namun tak diduga-duga, Omes melompati pagar rumah itu dan mencoba mengintip ke dalam lewat jendela. Dia mendapati salah satu jendela belum terkunci dan sambil menoleh ke arahku, Omes mengangkat kedua alisnya seolah-olah mengatakan, 'mereka benar-benar terburu-buru, hingga lupa menutup jendela ini'. Omes lalu mengambil sebuah pot yang tumbuhannya memiliki batang yang tinggi dan meletakkannya di depan jendela yang tidak terkunci itu, mungkin maksudnya untuk menyamarkannya dari pandangan orang yang memiliki niat tidak baik.

"Yah begitulah tetanggaku Wilson," katanya dalam perjalanan kami menuju ke rumah Bella, "kita memang tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Sekarang yang tersisa cuma gadis kecil 7 tahun yang secara logis tidak mungkin bisa melompati dinding yang tingginya dua kali dari tinggi badannya."
"Entahlah," kemudian aku ingat dia masih belum menyelesaikan penjelasannya tentang keyakinannya kalau pelaku kejadian ini adalah orang dalam perumahan, aku mencoba untuk memancingnya lagi. "Bisa saja kan pelakunya malah bukan salah satu diantara mereka bertiga?"
"Curiga saja kau ini, Wilson. Saya akan menyimpulkan hal tersebut jika penyelidikan ini sudah menemui jalan buntu. Seperti sudah saya bilang tadi, perumahan ini dibangun dengan sistem keamanan yang tinggi. Hal itu yang membuat saya mengesampingkan teori kalau pelakunya orang luar. Juga dari bekas-bekas perusakan yang saya lihat, itu pekerjaan orang amatir. Dengan kata lain, dia tidak pernah melakukan tindakan ini sebelumnya. Ditambah lagi, dia tahu kebiasaanmu."
Aku mengerutkan dahi keheranan dengan pernyataan terakhirnya.
"Kebiasaan?"
"Ya, kebiasaan sehari-seharimu, yang hanya bisa diketahui oleh orang yang tinggal berdekatan denganmu."
"Kebiasaan apa?"
"Kau hampir pasti berangkat tarawih bersama istrimu saat akhir pekan atau sedang hari libur seperti seperti sekarang ini. Saat hari-hari kerja, kadang-kadang pulangmu bisa sampai malam sehingga tidak mungkin mengikuti tarawih di masjid."
"Wah, ada ya tetangga yang seperti itu?"
"Kalau pun mereka tidak hobi mengamati seperti yang biasa saya lakukan," aku bergidik ngeri dengan perkataannya barusan, "pastilah dia mendengarnya dari istrimu yang memang gemar bersosialisasi dengan para tetangga."
Itulah sebabnya terkadang aku benci kalau istriku sedang ngerumpi dengan ibu-ibu di sini.
"Yah, sebenarnya aku bukan muslim yang baik, istriku lah yang sering menyuruh agar kami berangkat bersama. Saat sedang shalat, anak kami dititipkan ke..."
"Orang yang sering datang ke rumahmu tuk bantu-bantu membersihkan rumah kan?" selanya. "Tidak usah terkejut begitu, istrimu juga yang bercerita."
Sungguh, baru kali ini aku merasa kesal terhadap istriku atas kegemarannya itu.
"Tapi mungkin secara kebetulan saja dia memilih rumah secara acak dan ternyata rumahku yang sedang sial."
Omes menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menatapku tajam.
"Saya sebenarnya juga memiliki belasan teori lain tentang kejadian ini. Namun, teori orang dalam sebagai pelakunya yang sedang saya selidiki ini merupakan teori dengan tingkat persentase kemungkinan terbesar dibanding teori lainnya. Biarlah saya menyelidikinya terlebih dahulu hingga saya mendapatkan semua faktanya. Toh, kau tidak rugi apa-apa kan. Jika ternyata saya salah, maka saya sarankan kau memanggil pihak yang berwenang karena pelakunya sudah di luar jangkauan kita."
Dengan itu hilanglah semua niatku untuk bersikeras kalau malingnya adalah orang luar.

Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Bella. Kulihat Ibu Bella, Bu Danu, sedang menyirami halaman rumahnya yang banyak ditanami berbagai macam bunga.
"Hei, kau tidak akan bertanya macam-macam kan?" tanyaku.
"Apa maksudmu?"
"Kau akan menginterogasinya, kan?"
"Menginterogasi anak kecil? Jangan berpikiran aneh-aneh. Saya punya cara sendiri, lihat saja nanti."
Omes lalu menyapa Bu Danu sambil tersenyum ramah.
"Pagi Bu.."
"Eh, Pak Omes dan Pak Wilson. Tumben nih. Ayo silahkan masuk." Bu Danu mempersilakan kami duduk di dalam ruang tamunya.
Ketika aku duduk, kurasakan pantatku tak nyaman. Aku bangkit dan mengambil benda yang bentuknya sudah tak karuan karena telah kududuki tadi.
"Nggak apa-apa, Pak Wilson. Itu kerjaannya si Bella. Dia sedang suka membuat perahu kertas, katanya baru diajarin sama gurunya."
"Omong-omong, Bella kemana? Kok dari tadi tidak kelihatan?" tanya Omes kemudian.
"Bella sedang keluar, diajak ayahnya bermain ke pantai."
Omes dan aku kemudian saling berpandangan, rasanya ingin tertawa karena tidak ada seorang pun yang berhasil kami temui dari ketiga "tersangka" kami.
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya kami pamit dari sana.

Nah, sekarang bagaimana? Kami tidak mendapatkan satupun keterangan dari ketiga orang yang kami curigai. Semuanya sedang tidak berada di rumah.
"Kau tahu," Omes angkat bicara, "alasan kenapa saya mengajakmu untuk ikut mendatangi rumah mereka? Ya, tak lain adalah untuk mengamati ekspresi wajah mereka saat melihatmu. Jika benar orangnya adalah salah satu dari mereka, dia pasti akan terkejut melihat kehadiranmu dan menyangka perbuatannya telah diketahui. Memang ada orang yang bisa menyembunyikan ekspresi dan perasaan dengan sangat baik. Tapi dengan berasumsi kalau pelakunya adalah amatiran, saya menyingkirkan kemungkinan tadi."
"Jadi, sia-sia kan pencarian kita tadi?"
"Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semuanya berguna. Saya hanya perlu memikirkan hal ini dengan seksama..."
Perkataan Omes semakin lama semakin mirip dengan gumaman saja. Matanya lalu menerawang jauh ke langit biru di atas sana. Aku heran dia tidak tersandung sewaktu melakukan itu sambil berjalan.
Tiba-tiba dia menepuk jidatnya dan berseru.
"Dear me, kenapa aku baru menyadarinya. Ah, tidak. Pasti sudah terlambat. Kita telah kalah langkah. Jika saja kau segera menyadari pintumu sudah dirusak kemarin malam, dan bukan baru pagi ini, mungkin masih ada harapan, Wilson. Sial sekali."
Aku tidak mengerti apa maksud perkataannya itu. Sepertinya ada dua tubuh yang sedang berkonflik pada diri Omes. Dia berbicara seperti orang gila.
"Apa kau sudah tahu siapa malingnya?"
"Bahkan semuanya. Tapi itu semua sudah tidak berguna, tanpa bukti itu kita tak mungkin bisa membuat maling itu mengaku."
"Bukti apa?"
"Apa kau belum sadar juga? Ayolah, apa yang kulihat selama pencarian kita ini kan kau lihat juga."
Kembali aku membayangkan pencarian kita ini mulai dari rumahku, pos satpam, rumah Pak RT, lalu...itu dia! Pasti dia melihat sesuatu di rumah Bu Isti tadi. Tapi entah kenapa, jawaban ini tak memuaskanku.

Suara sepeda motor yang lewat membuyarkan lamunanku. Ternyata yang mengendarainya adalah seorang...oh, tak disangka, Omes menyuruhnya untuk berhenti dan mulai melancarkan beberapa pertanyaan.
"Dalam seminggu ini, sudah berapa kali Anda ke sini?"
"Engg, 4 kali mungkin. Kenapa?"
"Dan apakah..." aku tidak lagi mendengar kata-kata Omes selanjutnya karena hp-ku berbunyi. Ternyata istriku yang menelepon. Segera kutekan tombol reject dan kembali menyimak percakapan mereka.
"Ya benar, yang ini sudah kedua kalinya," jawabnya seraya pergi meninggalkan kami.
Lalu kulihat Omes tampak senang. Senyum mengembang di mulutnya dan matanya berbinar-binar.
"Kita beruntung, Wilson."
Aku terbengong-bengong karena tidak tahu apa yang sedang dia maksud.
"Sabar sebentar, Wilson," katanya seolah-olah mengetahui kebingunganku, "saya akan segera menjelaskan misteri ini setelah kita mendapatkannya," kata Omes sambil berjalan dengan langkah lebar-lebar.
Aku merasakan adrenalin terpompa ke darahku yang beku. Secercah cahaya mentari pagi menyeruak menembus awan tebal di langit sana. Sinarnya tepat jatuh ke arah tetanggaku yang kini sudah berada jauh di depanku. Aku segera berlari menyusulnya. Berlari mengejar cahaya pengusir keraguan itu.


Analisa cerita tadi...
siapa malingnya dan apa yang sebenarnya dilakukan di sana? mengapa? bukti apa yang dimaksud? dll
clue day #1
[deleted scenes]
"Apa kau menyadarinya dari perkataan mereka tadi?"
"Kau mengira salah satu dari mereka ada yang berbohong begitu ya, Wilson? Tidak, tidak. Malah sebaliknya, saya yakin sekali mereka mengatakan yang sebenarnya. Saya punya keahlian untuk mendeteksi kebohongan dengan sangat baik.
"Sudah kubilang kan, apa yang kulihat, kau lihat juga. Seharusnya kau bisa mulai membangun analisamu dari sana."
"Lalu, apa benda milikku yang dicuri?"
"Oh, kau masih mengira dia maling ya? Mungkin kita bisa panggil dia dengan pembobol rumah saja."
"Hah?"

clue day #2
[deleted scene]
...
"Hah? Maksudmu dia bukan maling?" seru Wilson.
"Sebelum saya menjawabnya, coba kau definisikan dulu apa itu 'maling'?"
"Eh, orang yang mengambil benda milik orang lain dengan diam-diam, kan."
"Kalau begitu, kau sebut apa orang yang diam-diam mengambil benda miliknya sendiri?"
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu barusan."
Omes mendekatkan wajahnya kepadaku dan berkata sambil setengah berbisik,
"Dia masuk ke rumahmu bukan untuk mencuri, Wilson. Melainkan untuk mengambil benda kepunyaanya sendiri yang berada di rumahmu. Itulah alasan kau tidak merasa kemalingan, karena memang kau tidak kehilangan apapun. Dan juga, benda itu sangat tidak berarti bagimu sehingga kau tidak menyadarinya."

clue day #3

si pengendara motor itu adalah...pak pos!


==============

The Solver

-nakasani
-paimopaijo
-Myeekodok
-FourBrothers
-nileajah
-pasirjengkol
-rezico
-AP25
-ayikridic
-Wiryosableng
-CloudyTama
-Saya...A

====================

SOLVED
reserved
fiuh,,,
kelar juga baca nya emoticon-Hammer (S)

jawabannya juga panjang lebar dah ini ntar,,
untung kasa ama 4bro blm lolos
mereka kan expert emoticon-Shutup


sebelum mencoba jawab,,,
aku mo nanya dulu ni,,
kalo ada info yg kurang jelas, atau ada sesuatu yg ganjil dari cerita itu boleh nanya disini atau gak dit?
Quote:Original Posted By Myeekodok
fiuh,,,
kelar juga baca nya emoticon-Hammer (S)

jawabannya juga panjang lebar dah ini ntar,,
untung kasa ama 4bro blm lolos
mereka kan expert emoticon-Shutup


sebelum mencoba jawab,,,
aku mo nanya dulu ni,,
kalo ada info yg kurang jelas, atau ada sesuatu yg ganjil dari cerita itu boleh nanya disini atau gak dit?


bolehlah,di rules jg ada kan...
Quote:"Ibu besok lusa sudah kembali, kok. Lagipula jika begitu mendesak bisa dititipkan kepada saya. Apa? Keluarga Bu Isti kan sudah berangkat mudik. Hmm, kayaknya dua hari yang lalu, hari Senin. Itu lho, setelah sorenya antar-antar nasi kotak, malamnya mereka sudah berangkat. Waktu itu saya mendapatkan kesan mereka berangkat dengan terburu-buru. Karena ketika itu Boy, anak laki-laki Bu Isti, yang disuruh mereka lapor ke saya kalau mau berangkat mudik malam itu."

Pak RT itu muridnya Ki Joko Bodo ya? Kan Wilson ataupun Omes belum nanyain tentang Bu Isti, tapi tiba-tiba Pak RT langsung ngebahas Bu Isti. Tau aja kalo Wilson dan Omes lagi nyari Bu Isti, padahal Wilson/Omes belum nanya tentang Bu Isti.

Mau tanya lagi. Kan bentuk kompleknya mirip huruf U, rumahnya itu di sebelah mananya? Kalau dari penjelasan di atas, masih ngebingungin. emoticon-Hammer

Tanya lagi. Kan katanya handle dan anak kuncinya rusak? Anak kunci itu apa sih?

Maaf kalau gak penting. emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By WiryoSableng


Pak RT itu muridnya Ki Joko Bodo ya? Kan Wilson ataupun Omes belum nanyain tentang Bu Isti, tapi tiba-tiba Pak RT langsung ngebahas Bu Isti. Tau aja kalo Wilson dan Omes lagi nyari Bu Isti, padahal Wilson/Omes belum nanya tentang Bu Isti.

Mau tanya lagi. Kan bentuk kompleknya mirip huruf U, rumahnya itu di sebelah mananya? Kalau dari penjelasan di atas, masih ngebingungin. emoticon-Hammer

Tanya lagi. Kan katanya handle dan anak kuncinya rusak? Anak kunci itu apa sih?

Maaf kalau gak penting. emoticon-Embarrassment


aq ikut-ikutan gaya penulisannya doyle...
waktu dia bilang "apa", itu sebelumnya dia udah ditanya ma omes cuman gak aq ketik di sana...

[SbSM 2nd] Crime: My Neighbour is Sherlockian

yg ditunjuk lingkaran merah...
tanda panah menunjukkan rumah menghadap ke arah mana..

anak kunci itu yg tempat dimana situ nyolokin kunci...
emang apa sih namanya?
Quote:Original Posted By adithellman


aq ikut-ikutan gaya penulisannya doyle...
waktu dia bilang "apa", itu sebelumnya dia udah ditanya ma omes cuman gak aq ketik di sana...

[SbSM 2nd] Crime: My Neighbour is Sherlockian

yg ditunjuk lingkaran merah...
tanda panah menunjukkan rumah menghadap ke arah mana..

anak kunci itu yg tempat dimana situ nyolokin kunci...
emang apa sih namanya?


Oh, niru Doyle ya. Pantesan agak bingung.

OOT:
Kayaknya aku doang penghuni sini yang gak pernah baca novel detektif. Sebenarnya pernah sih sekali di perpus sekolah, tapi cuma baca beberapa menit aja buat ngisi waktu. emoticon-Hammer

Kembali ke topik:
Tempat nyolokin kunci itu, biasanya disebut lubang kunci.
Quote:Original Posted By WiryoSableng


Oh, niru Doyle ya. Pantesan agak bingung.

OOT:
Kayaknya aku doang penghuni sini yang gak pernah baca novel detektif. Sebenarnya pernah sih sekali di perpus sekolah, tapi cuma baca beberapa menit aja buat ngisi waktu. emoticon-Hammer

Kembali ke topik:
Tempat nyolokin kunci itu, biasanya disebut lubang kunci.


ooh,lha trus anak kunci itu apa?
intinya pintunya dirusak deh...
Kalau kata kamus, anak kunci bukannya batangan yang gerak-gerak kalau kuncinya dimaenin? emoticon-Hammer Tapi dulu ta'kira anak kunci itu kayak kunci cadangan soalnya kunci induk itu kunci utama, kunci master emoticon-Hammer
Penonton boleh ngepost gak sih? emoticon-Hammer
Maaf kalo gak boleh emoticon-Hammer
Quote:Original Posted By cobaltblue
Kalau kata kamus, anak kunci bukannya batangan yang gerak-gerak kalau kuncinya dimaenin? emoticon-Hammer Tapi dulu ta'kira anak kunci itu kayak kunci cadangan soalnya kunci induk itu kunci utama, kunci master emoticon-Hammer
Penonton boleh ngepost gak sih? emoticon-Hammer
Maaf kalo gak boleh emoticon-Hammer


pokoknya maksudku yg dipasang di pintu itu,buat tutup,buka,ngunci,dll...

ah,wiryo nambahin masalah aja...
apaaa ini..panjangnya... emoticon-Hammer
baca dulu emoticon-Ngacir

pmin perkiraan jawaban nte dok..kali2 gw ga bingung jawab apa malem ini biar jatahnya ga ilang emoticon-Hammer
ikut nimbrung tentang 'anak kunci' yah..
dulu punya tetangga tukang kunci, orang aceh, ini lupa2 inget juga

kalo bahasanya dia (melayu)
'kunci' dikata ini, itu gembok/'ibu kunci'
jadi anaknya ya kunci(key) itu sendiri.

kalo bahasa indonesia
anak kunci itu silindernya..
kunci masuk dari lubang kunci ke dalam silinder/anak kunci.


etapi, yang dibilang cobi juga bener.. orang2 bilang anak kunci itu kunci cadangan emoticon-Ngakak
blind emoticon-Hammer


dit, bisa minta denah tata ruang rumah pak wilson gak?

aku ga bisa menggambarkan sendiri soalnya dmana kamar dmana dapur nya, ruang tamu, dsb
oya,bener berarti kalo pake anak kunci kan...
pertama nulis pake kata kunci juga;"kunci pintunya dirusak"...
akhirnya jd aq jelasin "handle dan anak kunci" gitu,trnyata masih aja masalah...emoticon-Nohope

@kodok, kira2 kek gini...

[SbSM 2nd] Crime: My Neighbour is Sherlockian

A=garasi
B=teras
C=ruang tamu
D=kamar tidur
E=ruang keluarga
F=ruang makan+dapur
G=kmr tidur utama

yg ijo2 itu halaman...
kamar mandi ada 2, satu di kmr tidur utama,satu lg di ruang keluarga...
Quote:Original Posted By adithellman
oya,bener berarti kalo pake anak kunci kan...
pertama nulis pake kata kunci juga;"kunci pintunya dirusak"...
akhirnya jd aq jelasin "handle dan anak kunci" gitu,trnyata masih aja masalah...emoticon-Nohope

@kodok, kira2 kek gini...

[SbSM 2nd] Crime: My Neighbour is Sherlockian

A=garasi
B=teras
C=ruang tamu
D=kamar tidur
E=ruang keluarga
F=ruang makan+dapur
G=kmr tidur utama

yg ijo2 itu halaman...
kamar mandi ada 2, satu di kmr tidur utama,satu lg di ruang keluarga...


yg kotak merah emoticon-Confused:

maap nanya2 mulu emoticon-Hammer (S)

edit : pintu ya itu emoticon-Hammer (S)
jawab ngasal dulu untuk hari ini..... emoticon-Hammer2

malingnya si WIlson
alesannya biar dia nyuri perhatian kita biar mikir ke tetangga2nya
buktinya liat aja kita ga nyurigain Wilson dari awal ampe akhir....emoticon-Hammer2