alexa-tracking

Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5094a9c7562acf193e00013f/khalid-ibn-al-walid-the-sword-of-god
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed karya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl (Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...

...(sambungan)
Bagian Awal Kehidupannya

Khalid dilahirkan sekitar tahun 592 di Makkah dengan Walid ibn Al-Mughira sebagai ayahnya, kepala Banu Makhzum, sebuah klan dari Suku Arab Quraysy. Khalid adalah saudara sepupu Umar. Ayahnya dikenal di Makkah dengan gelar Al-Wahid atau Yang Utama.[3] Tiga klan tertinggi dalam Suku Quraysy saat itu adalah Banu Hasyim, Banu Abdud Dar, dan Banu Makhzum. Banu Makhzum bertanggung jawab dalam permasalahan peperangan. Segera setelah ia lahir, berdasarkan adat Quraysy, Khalid dikirim kepada sebuah suku Badui Arab di gurun, dimana seorang ibu susu akan merawat dan membesarkannya di udara gurun yang bersih, kering, dan tidak terpolusi. Di usianya yang keenam, ia kembali pada orang tuanya di Makkah. Di masa kecilnya, Khalid mendapat serangan cacar air ringan, namun cacar air itu meninggalkan beberapa bekas cacar di pipi kirinya.

Khalid dan Umar (radhi Allahu'anh), Khalifah kedua, adalah sepupu dan wajah mereka sangat mirip. Khalid dan Umar sama-sama berbadan tinggi, Khalid memiliki badan kekar dengan bahu yang lebar. Ia berjanggut tebal yang memenuhi wajahnya.[5] Ia juga adalah salah seorang pegulat terhebat di masanya. Sebagai seorang anggota Klan Makhzum, yang memiliki spesialisasi dalam peperangan dan termasuk penunggang kuda terbaik di Arab, Khalid yang masih kecil dididik untuk berkuda dan menggunakan senjata-senjata seperti tombak, lembing, panah, dan pedang. Lembing dikatakan sebagai senjata favoritnya. Di masa mudanya, ia dikagumi sebagai prajurit dan pegulat masyhur di antara orang-orang Quraysy.


Era Muhammad (610–632)

Tidak banyak yang diketahui tentang Khalid di masa awal dakwah Muhammad. Ayahnya dikenal karena kebenciannya pada Muhammad. Setelah hijrahnya Muhammad dari Makkah ke Madinah, banyak pertempuran terjadi antara komunitas baru Muslim di Madinah dengan konfederasi Quraysy.[7] Khalid tidak berpartisipasi dalam Pertempuran Badr—pertempuran pertama antara Muslim dan Quraysy—tetapi saudara laki-lakinya, Walid ibn Walid, tertawan dalam pertempuran itu. Khalid dan kakaknya, Hisyam ibn Walid, pergi ke Madinah untuk menebus Walid, tetapi segera setelah ditebus, Walid, melarikan diri di tengah-tengah perjalanan pulang ke Madinah dan kembali pada Muhammad. Walid masuk Islam.[8]

Kepemimpinan Khalid memegang peran penting dalam membalikkan kondisi dan memastikan kemenangan Makkah dalam Pertempuran Uhud (625).[9] Tahun 627 M, ia merupakan bagian dari operasi militer melawan Muslim, yang menjadi sebab terjadinya Pertempuran Parit, pertempuran Khalid yang terakhir melawan Muslim.[10]

Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 1. Peta Pertempuran Uhud, menunjukkan pergerakan Khalid mengapit pasukan Muslim, sebuah manuver yang memberi kemenangan bagi Quraysy dalam Pertempuran.


Masuk Islam
Perjanjian damai sepuluh tahun disepakati antara Muslim dan Quraysy Makkah dalam Perjanjian Hudaybiyyah tahun 628. Tercatat bahwa Muhammad berkata pada saudara Khalid, Walid bin Walid, bahwa, “Seorang laki-laki seperti Khalid, tidak bisa terlalu jauh dari Islam untuk waktu yang lama.”[11] Walid menulis surat kepada Khalid untuk mengajaknya pindah agama. Khalid merupakan seseorang yang tidak terlalu dalam kecintaannya pada berhala-berhala di Ka’bah. Ia memutuskan untuk masuk Islam dan dikatakan bahwa ia menyampaikan hal ini kepada teman sejak masa kecilnya, Ikrimah ibn Abi-Jahl. Ikrimah menentangnya. Khalid diancam oleh Abu Sufyan ibn Harb dengan konsekuensi yang berat, tetapi dihalangi oleh Ikrimah yang diberitakan telah berkata, “Tahan dulu, wahai Abu Sufyan! Kemarahanmu bisa saja membuatku juga bergabung dengan Muhammad. Khalid bebas untuk mengikuti agama apapun yang ia pilih.”[12] Pada bulan Mei 629, Khalid berangkat ke Madinah. Dalam perjalanannya, ia bertemu ‘Amr ibn Al-‘As dan Utsman ibn Talha, yang juga hendak ke Madinah untuk masuk Islam. Mereka tiba di Madinah pada tanggal 31 Mei 629 dan langsung pergi ke rumah Muhammad. Khalid disambut oleh kakaknya Walid bin Walid. Khalid adalah yang pertama masuk Islam di antara ketiga orang tadi.[13]

Operasi-Operasi Militer di Era Muhammad
Pertempuran Mu’tah
Tiga bulan semenjak tibanya Khalid di Madinah, Muhammad mengirim diplomat kepada pemimpin Ghassan di Syam, negara vasal Imperium Bizantin. Diplomat itu membawa surat yang isinya mengajak untuk masuk Islam. Ketika melewati Mu’tah, diplomat ini dihadang dan dibunuh oleh seorang pimpinan lokal Ghassan bernama Syurahbil ibn Amr. Dalam ketetapan internasional zaman itu (maupun zaman sekarang-pent), diplomat memiliki imunitas dari serangan. Berita tentang perlakuan ini menimbulkan kemarahan di Madinah.[14]

Sebuah ekspedisi militer segera dipersiapkan untuk mengambil tindakan hukum pada Ghassan. Muhammad menunjuk Zayd ibn Haritsah sebagai panglima pasukan. Jika Zaid gugur, komando akan diambil alih oleh Ja’far ibn Abi Talib, dan jika Ja’far gugur, komando akan diambil alih oleh ‘Abdullah ibn Rawahah. Jika ketiganya gugur, pasukan akan menunjuk seorang panglima di antara mereka sendiri.[14]

Ketiga panglima gugur dalam pertempuran dan Khalid dipilih sebagai panglima. Ia berhasil mempertahankan pasukannya yang kalah jumlah, 3000 pasukan melawan pasukan besar Imperium Bizantin dan Arab Ghassan berjumlah 200.000 orang, dalam pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Mu’tah. Khalid mengambil komando pasukan Muslim di saat krusial dan mengubah sebuah pembantaian besar-besaran menjadi sebuah strategi mundur dan menyelamatkan pasukan Muslim dari kehancuran total.[15]

Di malam hari, Khalid mengirim beberapa kolom pasukan ke belakang pasukan utama, dan di pagi esoknya sebelum pertempuran dimulai, mereka diinstruksikan untuk bergabung dengan pasukan utama Muslim dalam kelompok-kelompok kecil, yang datang satu demi satu, memberikan kesan adanya bala bantuan pasukan baru, sehingga menurunkan semangat musuh. Khalid entah bagaimana menstabilisasikan barisan pertempuran untuk hari itu, dan di malam hari, pasukannya mundur kembali ke Arab. Karena mengira ada sebuah jebakan yang menunggu mereka, pasukan Bizantin tidak mengejar.[16] Khalid dikatakan bertarung dengan gagah berani dalam Pertempuran Mu’tah dan mematahkan sembilan pedangnya dalam pertempuran tersebut. Setelah Pertempuran Mu’tah, Khalid diberi gelar Pedang Allah karena membawa pulang pasukannya untuk bertempur di hari lainnya.[17][18] Gelar Pedang Allah diberikan oleh Muhammad, sehingga ia dikenal secara luas dengan julukan ini setelah Pertempuran Mu’tah.

Operasi Militer Berikutnya
Setahun kemudian, tahun 630 M, Muslim keluar dari Madinah untuk menaklukkan Makkah. Dalam Penaklukan Makkah, Khalid mengomando salah satu dari empat pasukan Muslim yang memasuki Makkah dari empat rute berbeda, dan ia berhasil memukul mundur kavaleri Quraysy. Akhir tahun yang sama, ia berpartisipasi dalam Pertempuran Hunayn dan Pengepungan Ta’if.
Ia ikut serta dalam Operasi Militer Tabuk dibawah pimpinan langsung Muhammad, dan dari sana, ia dikirim ke Daumatul Jandal dimana ia bertempur dan menawan Pangeran Arab dari Daumatul Jandal, memaksa Daumatul Jandal untuk tunduk.[19]
Tahun 631 M, ia berpartisipasi dalam haji perpisahan Muhammad. Di saat haji ini, ia dikatakan mengumpulkan sejumlah rambut Muhammad, sebagai peninggalan yang ia gunakan untuk memotivasi dirinya untuk memenangkan berbagai pertempuran.[20]

Operasi Militer sebagai Komandan
Pada bulan Januari 630 M, 8 H, bulan kesembilan penanggalan Islam,[21] Khalid ibn Al-Walid dikirim untuk menghancurkan berhala Dewi Al-Uzza yang disembah oleh kaum musyrik. Ia melakukannya dan berhasil,[22][23] dan seorang wanita Ethiopia, yang diklaim oleh Muhammad sebagai Al-Uzza yang sebenarnya, juga dibunuh.[24]

Khalid ibn Al-Walid juga dikirim untuk mengajak suku Banu Jadzimah untuk masuk Islam. Mereka menerima ajakan tersebut, tetapi Khalid menawan mereka semua dan tetap mengeksekusi mati sebagian anggota suku tersebut (sebelum ia dihentikan), karena perseteruan masa lalu.[22][23][25][26][27]

Muhammad juga mengirim Khalid dalam sebuah operasi militer Daumatul Jandal, untuk menyerang Pangeran Kristen bernama Ukaydir yang tinggal di sebuah kastil. Kejadian ini terjadi pada bulan Maret 631 M, 9 H, bulan kesebelas penanggalan Islam. Dalam operasi ini, Khalid menawan Pangeran dan mengancam akan membunuhnya sampai gerbang kastil dibuka. Muhammad kemudian mengambil tebusan untuk membebaskannya. Tebusannya berupa 2000 unta, 800 domba, 400 baju besi, dan 400 lembing, termasuk juga persyaratan kewajiban membayar Jizyah.[28][29][30][31]

Pada bulan April 631 M, Muhammad mengirim Khalid kembali dalam sebuah operasi militer kedua ke Daumatul Jandal untuk menghancurkan berhala pagan yang disebut Wadd. Khalid menghancurkan patung beserta kuil dan membunuh siapapun yang memberi perlawanan.[28][29][30][32]
(bersambung)...
...(Sambungan)
Era Abu Bakr (632-634)
Penaklukan Arabia
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 2. Peta yang merinci rute Khalid ibn Walid dalam Penaklukan Arabia.

Setelah wafatnya Muhammad, banyak suku-suku Arab yang melepaskan diri, memberontak melawan pemerintahan Madinah. Khalifah Abu Bakr mengirimkan pasukannya untuk menumpas pemberontak dan kaum murtad.[33] Khalid adalah salah satu penasehat utama Abu Bakr dan seorang arsitek perencanaan strategis dalam Perang Ridda. Ia diberikan kekuasaan komando pada pasukan terkuat Muslim dan dikirim ke Arab Tengah, area paling strategis di mana kebanyakan suku-suku pemberontak berada. Daerah ini juga paling dekat dengan pusat kekuatan Muslim di Madinah dan merupakan ancaman terbesar bagi kota itu. Khalid pertama-tama berangkat menuju suku pemberontak Tayy dan Jalida, di mana Adi ibn Hatim, seorang sahabat Muhammad yang utama sekaligus kepala suku Tayy bernegosiasi, dan suku-suku itu pun kembali tunduk pada Kekhalifahan.[34]

Pada pertengahan September 632 M, Khalid mengalahkan Tulayha,[35] seorang pimpinan utama pemberontak. Tulayha mengklaim dirinya nabi sebagai alat untuk menarik dukungan untuk dirinya sendiri. Kekuatan Tulayha dihancurkan setelah pengikutnya dikalahkan dalam Pertempuran Ghamra.[33] Khalid kemudian bergerak menuju Naqra dan mengalahkan suku pemberontak Banu Salim dalam Pertempuran Naqra. Daerah ini kemudian diamankan setelah pada Pertempuran Zafar di bulan Oktober 632, pasukan yang dipimpin wanita pemimpin suku pemberontak, Salma, berhasil dikalahkan.[36]

Saat daerah sekitar Madinah, ibukota Islam, berhasil direbut kembali, Khalid memasuki Nejd, daerah pertahanan suku Banu Tamim. Banyak klan bergegas menemui Khalid dan kembali tunduk pada pemerintahan Kekhalifahan. Tetapi suku Banu Yarbu’, di bawah pimpinan Syaikh Malik ibn Nuwayrah, tidak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan suku lainnya. Malik menghindari kontak langsung dengan pasukan Khalid dan Malik memerintahkan pengikutnya untuk menyebar. Ia dan keluarganya kemudian pindah menjauh menyeberangi gurun.[37] Ia juga mengumpulkan pajak dan mengirimnya ke Madinah. Meskipun demikian, Malik dituduh memberontak melawan Madinah dan bergabung dengan aliansi anti Kekhalifahan di bawah pimpinan Sajjah, seorang perempuan yang mengklaim dirinya Nabiyah.[38] Malik kemudian ditangkap bersama sejumlah anggota sukunya,[39] dan diinterogasi oleh Khalid tentang kejahatannya. Setelah mendengar respon Malik, “Tuanmu berkata begini, tuanmu berkata begitu” dengan mengacu pada Abu Bakr, Khalid menyatakan bahwa Malik tergolong kaum murtad pemberontak dan memerintahkan eksekusi mati.[40]

Abu Qatada Ansari, seorang sahabat Muhammad yang menemani Khalid dari Madinah, sangat terkejut dengan keputusan tersebut sampai-sampai ia segera pulang ke Madinah dan melaporkan kepada Abu Bakr bahwa ia menolak untuk dipimpin oleh seorang komandan yang telah membunuh Muslim.[41] Kematian Malik dan tindakan Khalid menikahi istri Malik, Layla, menciptakan kontroversi. Beberapa komandan bawahan-termasuk Abu Qatadah- menganggap Khalid membunuh Malik untuk menikahi istrinya. Setelah adanya tekanan oleh Umar-sepupu Khalid dan salah satu penasehat utama Abu Bakr-, Abu Bakr memanggil Khalid ke Madinah untuk menjelaskan perkara ini.[42] Meskipun Khalid telah memutuskan bahwa Malik seorang yang murtad, ‘Umar berkata pada Khalid, “Kau musuh Allah! Kau membunuh seorang Muslim dan kemudian mengambil istrinya. Demi Allah, aku akan merajammu.”[43]

Setelah insiden tentang Malik terselesaikan, Abu Bakr kembali mengirim Khalid untuk menghancurkan ancaman paling besar terhadap Negara Islam Madinah yang baru lahir: Musaylimah, seorang nabi palsu yang telah mengalahkan dua pasukan Muslim. Pada pekan ketiga bulan Desember 632, Khalid memenangkan Pertempuran Yamamah, sebuah kemenangan penting melawan Musaylimah. Musaylimah tewas dalam pertempuran dan hampir semua kekuatan suku-suku pemberontak menyerah.[33]

Invasi ke Imperium Persia
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 3. Peta yang merinci rute Khalid ibn Walid dalam Penaklukan Mesopotamia Bawah (Iraq).

Dengan redanya pemberontakan dan Arabia bersatu kembali dalam otoritas sentral Khalifah di Madinah, Abu Bakr memutuskan untuk memperluas imperiumnya. Tidak terlalu jelas apa tujuan awalnya, apakah berupa sebuah rencana skala besar untuk ekspansi atau serangan untuk mengamankan lebih banyak teritori dan menciptakan zona penyangga antara negara Islam dengan Imperium Sassanid dan Bizantin yang berkekuatan besar.[44] Khalid dikirim ke Imperium Persia memimpin pasukan yang terdiri dari 18.000 pasukan sukarela untuk menaklukkan provinsi terkaya Imperium Persia, yaitu daerah Eufrat di Mesopotamia Bawah (Iraq modern). Khalid memasuki Mesopotamia Bawah dengan pasukan ini.[45]

Ia memenangkan kemenangan-kemenangan cepat dalam lima pertempuran yang berurutan: Pertempuran Rantai, April 633; Pertempuran Sungai, pekan ketiga April 633; Pertempuran Walaja, Mei 633 (dimana ia berhasil menggunakan sebuah manuver double envelope), dan Pertempuran Ullays, pertengahan Mei 633.[46] Di pekan terakhir Mei 633, Al-Hirah, ibukota daerah Mesopotamia Bawah, jatuh ke tangan Khalid. Warganya diberikan kebebasan dengan syarat memberikan pembayaran jizyah tahunan dan menyediakan mata-mata untuk Muslim.[47] Setelah mengistirahatkan pasukannya, pada bulan Juni 633, Khalid mengepung Anbar yang meskipun melawan dengan keras, jatuh pada bulan Juli 633.[48] Khalid bergerak ke selatan dan merebut ‘Ainul Tamr pada pekan terakhir Juli 633.

Di saat itu, hampir semua Mesopotamia Bawah (daerah utara Eufrat) berada dalam kontrol Khalid. Saat itu, Khalid menerima permintaan bantuan dari utara Arabia di Daumatul Jandal, dimana seorang jenderal Muslim lainnya, Ayaz bin Ghanam, dikepung oleh suku-suku pemberontak. Pada bulan Agustus 633, Khalid pergi ke Daumatul Jandal dan mengalahkan pemberontak dalam Pertempuran Daumatul Jandal, merebut benteng kota.[46] Dalam perjalanan kembali ke Mesopotamia, Khalid dikabarkan melakukan perjalanan rahasia ke Makkah untuk berhaji.[50]

Sekembalinya dari Arabia, Khalid menerima laporan mata-mata bahwa ada konsentrasi pasukan Persia dan bantuan Arab Kristen yang cukup besar jumlahnya.[46] Pasukan-pasukan ini terpencar di empat perkemahan terpisah di daerah Eufrat: Hanafiz, Zumayl, Saniyy, dan yang terbesar berada di Muzayyah. Khalid menghindari pertempuran besar dengan pasukan-pasukan tersebut. Ia memutuskan untuk menyerang dan menghancurkan setiap perkemahan dalam sebuah serangan malam dari tiga arah.[51] Ia membagi pasukannya dalam tiga kesatuan dan menyerang pasukan Persia dalam sebuah serbuan terkoordinasi dari tiga arah berbeda di malam hari, dimulai dari Pertempuran Muzayyah, kemudian Pertempuran Saniyy, dan terakhir Pertempuran Zumayl, semuanya pada November 633 M.[52]

Kemenangan beruntun Muslim membatasi usaha Persia untuk merebut kembali Mesopotamia Bawah dan meninggalkan Ibukota Persia, yaitu Ctesiphon, tidak terjaga dan rentan terhadap serangan Muslim. Sebelum menyerbu ibukota Persia, Khalid memutuskan untuk mengenyahkan semua pasukan Persia di selatan dan barat, dan dengan demikian bergerak ke kota perbatasan, Firaz, dimana ia mengalahkan sebuah pasukan sekutu: Persia Sassanid, Bizantin Romawi, dan Arab Kristen, serta merebut benteng kota dalam Pertempuran Firaz pada bulan Desember 633.[53] Pertempuran ini adalah pertempuran terakhirnya dalam penaklukan Mesopotamia Bawah. Ketika Khalid dalam perjalanan menyerbu Qadissiyah, sebuah kota kunci di jalan menuju Ctesiphon, ia menerima surat dari Abu Bakr dan ia dikirim ke front pertempuran melawan Bizantin di Syam. Ia diperintahkan untuk mengambil alih komando pasukan Muslim dengan tujuan menaklukkan Syam milik Romawi. Selama keberadaannya di Iraq, Khalid juga diangkat sebagai gubernur militer untuk daerah taklukan.[54]
(Bersambung)...
KASKUS Ads
...(Sambungan)
Invasi ke Imperium Romawi Timur
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 4.Peta rinci invasi Kekhalifahan Rasyidun pada daerah Levant.

Setelah keberhasilan dalam invasi terhadap Iraq, provinsi dari Persia Sassanid, Khalifah Abu Bakr mengirim ekspedisi militer untuk merebut Levant (Syam) milik Romawi. Invasi ini dilaksanakan oleh empat korp, masing-masing dengan target berbeda. Bizantin merespon ancaman ini dengan mengonsentrasikan satuan-satuan pasukan mereka di Ajnadayn (sebuah lokasi di Palestina, kemungkinan Al-Lajjun) dari sejumlah garnisun.[55] Pergerakan ini mengunci pergerakan pasukan Muslim di daerah perbatasan, karena dengan adanya pasukan musuh dalam jumlah besar di belakang mereka, pasukan Muslim tidak lagi bebas untuk bergerak ke arah Syam tengah apalagi utara.[56] Pasukan Muslim terlalu kecil untuk membalas ancaman Bizantin, dan Abu 'Ubaydah ibn Al-Jarrah, komandan tertinggi pasukan Muslim di front Syam, meminta bala bantuan tentara kepada Abu Bakr. Abu Bakr merespon dan mengirim bala bantuan tentara yang dipimpin oleh Khalid.[56]

Ada dua rute berbeda untuk menuju Syam dari Iraq, rute pertama via Dawmatul Jandal (sekarang dikenal sebagai daerah Skaka) dan rute lainnya dengan melewari Ar-Raqqah. Karena pasukan Muslim di Syam memerlukan bala bantuan dalam waktu cepat, Khalid menghindari jalur yang biasa via Dawmatul Jandal karena jalur tersebut terlalu jauh dan menghabiskan berpekan-pekan untuk mencapai Syam. Ia juga menghindari rute Mesopotamia karena keberadaan garnisun Romawi di Syam utara dan Mesopotamia.[57] Opsi untuk langsung berhadapan dengan Bizantin di saat pasukan Muslim sedang dikepung di Syam juga tidak mungkin dipilih karena artinya, mereka harus bertempur di dua front. Khalid memilih sebuah rute yang lebih dekat menuju Syam yang tidak biasa, yaitu melewati Gurun Syam.[56] Ia membawa pasukannya melewati gurun, di mana dikabarkan bahwa pasukannya berjalan tanpa minum selama dua hari,[55] sebelum akhirnya tiba di suatu lokasi yang memiliki oasis. Khalid juga diberitakan menyelesaikan masalah kekurangan air dengan metode orang Badwi Arab. Unta-unta dengan sengaja tidak diberi minum untuk waktu yang lama sehingga mendorong mereka untuk meminum air dalam jumlah banyak dalam satu waktu. Unta memiliki kemampuan untuk menyimpan air di perutnya yang pada saat dibutuhkan bisa diambil dengan menyembelih unta tersebut. Semua pasukan Muslim bekendara di atas unta dan metode ini sangat efektif.[56]

Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 5. Peta rinci rute Khalid ibn Walid dalam perjalanan menuju Syam.


Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 6. Peta rinci geografis rute Khalid ibn Walid dalam perjalanan menuju Syam.

Khalid memasuki Syam pada bulan Juni 634 dan dengan cepat merebut benteng perbatasan di Sawa, Arak, Palmyra, Al-Qaryatayn, dan Hawarin. Al-Qaryatayn dan Hawarin direbut setelah Pertempuran Al-Qaryatayn dan Pertempuran Hawarin. Setelah menundukkan benteng-benteng gurun ini, pasukan Khalid maju menuju Busra, sebuah kota kecil di dekat perbatasan Syam-Arabia dan ibukota Kerajaan Arab Kristen Ghassan, negara vasal Imperium Bizantin. Ia melewati Damaskus dengan menyeberangi celah pegunungan yang sekarang dikenal dengan Sanitul Uqab (Celah Al-Uqab), sama dengan nama panji pasukan Khalid. Dalam perjalanannya menuju Marajur Rahat, Khalid memukul mundur sebuah pasukan Ghassan dalam sebuah pertempuran singkat, Pertempuran Marajur Rahat.[58]

Dengan beredar kabar tibanya Khalid, Abu Ubaydah memerintahkan Syurahbil ibn Hasanah, salah seorang komandan dari empat korp, untuk menyerang Kota Busra. Syurahbil ibn Hasanah kemudian mengepung Busra dengan 4.000 pasukan. Garnisun Bizantin dan Arab Kristen yang berjumlah lebih banyak dibanding pasukan Syurahbil, keluar kota untuk menyerang dan terlihat akan memenangkan pertempuran sampai kavaleri Khalid tiba dari gurun dan menyerang garis belakang pasukan Bizantin, menyelamatkan pasukan Syurahbil.[59] Garnisun Bizantin mundur ke dalam benteng kota. Abu Ubaydah bergabung dengan Khalid di Busra. Khalid, dengan instruksi Khalifah, mengambil alih komando tertinggi. Benteng Busra jatuh pada pertengahan Juli 634, secara efektif meruntuhkan dinasti Ghassan.[60] Setelah merebut Busra, Khalid menginstruksikan semua korp untuk bergabung dengannya di Ajnadayn dimana mereka bertarung dalam pertempuran penting melawan Bizantin pada tanggal 30 Juli 634. Sejarawan modern menilai pertempuran ini memegang kunci dalam mematahkan kekuatan Bizantin di Syam.[61]

Kekalahan dalam Pertempuran Ajnadayn membuat Syam terbuka bagi Pasukan Muslim. Khalid memutuskan untuk merebut Damaskus, kubu pertahanan Bizantin. Di Damaskus, Thomas bertanggung jawab atas pertahanan kota. Thomas merupakan menantu Kaisar Bizantin, Heraklius.[62] Ketika menerima laporan mata-mata bahwa Khalid bergerak ke arah Damaskus, Thomas mempersiapkan pertahanan kota. Ia menulis surat pada Heraklius, yang saat itu berada di Emesa, meminta bala bantuan. Thomas juga mengirim pasukannya untuk menghambat gerakan Khalid dan menambah waktu baginya untuk mempersiapkan diri menghadapi pengepungan. Dua pasukan yang ia kirim dipukul mundur dari Yakusa pada pertengahan Agustus dan dari Marajus Saffar pada tanggal 19 Agustus.[63] Sementara itu, bala bantuan yang dikirim Heraklius tiba di Damaskus, namun sebagiannya terlambat saat kota sudah mulai dikepung oleh Khalid pada tanggal 20 Agustus. Untuk mengisolasi Damaskus dari daerah sekitar, Khalid menempatkan detasemen di selatan pada jalur menuju Palestina dan di utara pada rute Damaskus-Emesa, serta sejumlah detasemen lainnya yang berukuran lebih kecil di rute-rute lainnya menuju Damaskus. Bala bantuan dari Heraklius yang terlambat berhasil dihadang dan dipukul mundur oleh Khalid dalam Pertempuran Sanitul Uqab, 30 km dari Damaskus.[64]

Khalid memimpin penyerbuan Damaskus dan menaklukkannya pada tanggal 18 September 634 setelah pengepungan selama 30 hari. Dalam sumber lainnya, disebutkan bahwa pengepungan berlangsung selama empat atau enam bulan.[65] Setelah mendengar kabar jatuhnya Damaskus, Kaisar Heraklius meninggalkan Emesa menuju Antiokia. Kavaleri Khalid berhasil mengejar dan menyerang garnisun Bizantin yang meninggalkan Damaskus dalam Pertempuran Marajul Dibaj,[66] 150 km di utara Damaskus. Abu Bakr wafat saat Pengepungan Damaskus dan Umar menjadi khalifah baru. Umar memberhentikan Khalid dari jabatannya dan menunjuk kembali Abu Ubaydah ibn Al-Jarrah sebagai komandan tertinggi pasukan Muslim di Syam. Abu Ubaydah menerima surat penunjukan dirinya dan pemberhentian Khalid saat pengepungan berlangsung, tetapi ia menunda pengumumannya sampai Damaskus ditaklukkan.[67]
(Bersambung)...
...(Sambungan)
Era Umar (634-642)
Pemberhentian Khalid dari Jabatan Komandan Tertinggi

Pada tanggal 22 Agustus 634, Abu Bakr wafat setelah sebelumnya mengangkat 'Umar, sepupu Khalid, sebagai Khalifah.[56] Kebijakan pertama 'Umar adalah mencopot Khalid dari jabatannya sebagai komandan tertinggi pasukan Muslim dan mengangkat kembali Abu Ubaydah sebagai pengganti Khalid.[65] Hubungan antara Khalid dan 'Umar telah tegang sejak insiden Malik ibn Nuwayrah. Khalid telah menjadi “cobaan bagi keimanan” kaum Muslim (karena ia tidak terkalahkan dalam peperangan) sehingga mereka menganggap kemenangan-kemenangan mereka dalam pertempuran adalah karena sosok Khalid; 'Umar diberitakan berkata, “Aku tidak memecat Khalid ibn Al-Walid karena aku marah kepadanya atau karena berkhianat pada kepercayaan atau tanggung jawabnya, namun alasanku hanyalah bahwa aku hendak rakyat tahu bahwa Allah-lah yang memberikan kemenangan.”[67] Dengan demikian, Khalid diberhentikan sebagai komandan tertinggi dan kemudian pada tahun 638 kelak,diberhentikan total dari ketentaraan. Khalid menunjukkan kesetiaannya pada khalifah baru dan terus melanjutkan karir ketentaraannya sebagai komandan biasa di bawah pimpinan Abu Ubaydah. Ia diberitakan telah berkata, “Jika Abu Bakr wafat dan 'Umar menjadi Khalifah, maka kami dengar dan kami taat.”[68] Mau tidak mau, pergerakan militer pasukan Muslim melambat karena Abu Ubaydah memimpin dengan lebih hati-hati. Penaklukan Syam berlanjut dibawah komandonya, dan Abu Ubaydah yang sebenarnya pengagum Khalid, menjadikan Khalid komandan kavaleri dan penasehat militernya.[67]

Penaklukan Levant Tengah
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 7. Peta rinci rute Khalid ibn Walid dalam invasi Syam Tengah.

Segera setelah penunjukan kembali Abu Ubaydah sebagai komandan tertinggi, ia mengirim detasemen kecil ke pasar tahunan yang diselenggarakan di Abul Quds, sekarang daerah Abla, dekat Zahl, 50 km di timur Beirut. Garnisun Bizantin dan Arab Kristen menjaga pasar ini, tetapi jumlah pasukan garnisun ini ternyata jauh lebih besar dari informasi mata-mata. Garnisun ini dengan cepat mengepung pasukan Muslim yang berjumlah kecil. Sebelum pasukan tersebut dihancurkan, Abu Ubaydah mengirim Khalid untuk menyelamatkan pasukan Muslim. Khalid menghadapi dan mengalahkan mereka dalam Pertempuran Abul Quds pada tangal 15 Oktober 634 dan kembali dengan membawa rampasan perang dari pasar tahunan tersebut sekaligus ratusan tawanan Romawi, semuanya dalam jumlah luar biasa besar.

Dengan direbutnya Syam Tengah, Muslim telah memberikan pukulan telak pada Bizantin. Komunikasi antara Syam Utara dan Palestina terputus. Abu Ubaydah memutuskan untuk bergerak menuju Fahl (Pella), yang berada di ketinggian 150 m di bawah muka laut, dimana garnisun Bizantin yang kuat beserta pasukan yang selamat dari Pertempuran Ajnadayn berada.[70] Daerah tersebut sangat strategis karena dari sana, pasukan Bizantin bisa menyerang ke arah timur dan memotong jalur logistik dan komunikasi pasukan Muslim ke Arabia.[71] Apalagi dengan keberadaan pasukan Bizantin yang besar ini, Palestina belum bisa diserang. Pasukan Muslim bergerak ke Fahl dengan Khalid memimpin pasukan garda depan. Ternyata, dataran di sekitar telah dibanjiri air luapan Sungai Jordan yang dibendung oleh ahli teknik pasukan Bizantin. Pasukan Bizantin akhirnya dikalahkan dalam Pertempuran Fahl pada malam hari tanggal 23 Januari 635.[56]

Pertempuran Emesa dan Pertempuran Damaskus Kedua

Setelah meraih kemenangan di Fahl, pasukan Muslim berpencar. Amr ibn Al-'Ash dan Syurahbil ibn Hasanah bergerak ke selatan untuk merebut Palestina, sementara Abu Ubaydah dan Khalid bergerak ke utara untuk merebut Syam Utara. Ketika Muslim masih sibuk di Fahl, Heraklius melihat kesempatan dan dengan segera mengirim pasukan dipimpin Jenderal Theodras untuk merebut kembali Damaskus.[72] Tidak lama setelah Heraklius melepas pasukan baru ini, Muslim telah menyelesaikan urusan di Fahl dan dalam perjalanan mereka ke Emesa. Pasukan Bizantin bertemu pasukan Muslim yang baru menyelesaikan setengah perjalanan ke Emesa, tepatnya di Marajur Rum. Pada malam hari, Theodras mengirim setengah dari pasukannya ke Damaskus untuk melancarkan serangan mendadak kepada garnisun Muslim.[73] Mata-mata Khalid menginformasikan tentang gerakan ini, kemudian ia mendapat izin dari Abu Ubaydah untuk segera berangkat ke Damaskus dengan Garda Gerak Cepat-nya (Mobile Guard). Selagi Abu Ubaydah bertempur dan mengalahkan pasukan Romawi dalam Pertempuran Marajur Rum, Khalid bergerak ke Damaskus dengan Garda Gerak Cepat-nya, menyerang dan memukul mundur Jenderal Theodras dalam Pertempuran Damaskus Kedua.[71] Satu pekan kemudian, Abu Ubaydah merebut Baalbek (Heliopolis), dimana sebuah Kuil Jupiter berdiri, dan Khalid dikirim langsung menuju Emesa.[74]

Emesa dan Chalcis meminta gencatan senjata untuk satu tahun.[75] Abu Ubaydah menerima permintaan tersebut dan daripada menyerbu kedua kota itu, ia memilih untuk mengonsolidasi kekuatan di tanah yang telah ditaklukkan dan merebut Hama, Ma’arrat, dan Nu’man. Namun, gencatan senjata tersebut merupakan instruksi dari Heraklius untuk membuat pasukan Muslim lengah dan memberi Heraklius waktu yang cukup untuk mempersiapkan pertahanan Syam Utara. Setelah mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar di Antiokia, Heraklius mengirim mereka untuk memperkuat daerah-daerah di Syam Utara, terutama benteng Chalcis yang cukup kuat.[76] Dengan tibanya pasukan Bizantin di kota tersebut, perjanjian gencatan senjata dilanggar. Abu Ubaydah dan Khalid kemudian bergerak ke Emesa dan sebuah pasukan Bizantin yang menghambat Garda Gerak Cepat Khalid berhasil dipukul mundur. Pasukan Muslim pun mengepung Emesa yang akhirnya berhasil direbut pada bulan Maret 636 setelah pengepungan selama dua bulan.[77]
(Bersambung)...
...(Sambungan)
Pertempuran Yarmuk
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 8. Pergerakan Pasukan Muslim dan Bizantin sebelum Pertempuran Yarmuk.

Setelah merebut Emesa, pasukan Muslim bergerak ke utara untuk merebut keseluruhan Syam Utara. Sementara itu, Heraklius telah mengonsentrasikan pasukan besar di Antiokia untuk merebut kembali Syam. Khalid mendapat berita ini dari tawanan Romawi di Syam Utara. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, Heraklius berencana menghindari pertempuran besar dengan pasukan Muslim. Ia berencana untuk mengisolasi dan memisahkan korp-korp pasukan Muslim satu sama lain dan menghancurkannya satu per satu. Lima pasukan besar diluncurkan ke Syam dari rute-rute berbeda pada bulan Juni 636 untuk merebutnya kembali.[78] Khalid memahami rencana Heraklius dan khawatir pasukan Muslim akan dihancurkan secara terpisah. Dalam rapat dewan militer, ia menyarankan Abu Ubaydah untuk menarik mundur semua pasukan Muslim ke satu tempat untuk bersiap menghadapi pertempuran besar melawan Bizantin.[79] Abu Ubaydah mengikuti saran Khalid dan memerintahkan semua pasukan Muslim untuk mengevakuasi diri, meninggalkan semua kota yang telah ditaklukkan dan berkumpul di Jabiya.[80] Manuver ini mengacaukan rencana Heraklius karena ia sangat tidak mengharapkan pasukannya bertarung dalam pertempuran besar dengan pasukan Muslim, dimana kavaleri ringan Muslim bisa digunakan secara efektif melawan kavaleri Bizantin yang lebih berat dan lebih lambat. Dari Jabiya, sesuai saran Khalid, Abu Ubaydah memerintahkan pasukan Muslim untuk mundur lagi ke dataran Sungai Yarmuk yang memiliki persediaan yang cukup untuk makanan kuda dan air sehingga kavaleri dapat digunakan dengan lebih efektif.[81] Abu Ubaydah, dalam rapat dewan militer berikutnya, menyerahkan komando tertinggi pasukan Muslim kepada Khalid untuk sementara. Khalid bertindak sebagai komandan lapangan dalam pertempuran dan menjadi otak dari penghancuran pasukan Bizantin.[82]

Pada tanggal 15 Agustus, Pertempuran Yarmuk terjadi, berlangsung selama 6 hari, dan berakhir dengan kekalahan telak pasukan Bizantin. Pertempuran Yarmuk dinilai sebagai salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah.[83] Kekalahan ini adalah kekalahan bersejarah yang menutup kekuasaan Bizantin di Syam. Pentingnya kekalahan ini sangat besar sampai-sampai pasukan Bizantin tidak mampu bangkit kembali dalam beberapa waktu ke depan. Kekalahan ini juga membuat semua wilayah Imperium Bizantin rentan terhadap serangan pasukan Muslim Arab. Pertempuran ini merupakan pertempuran terbesar yang pernah terjadi di tanah Syam sampai saat itu dan dipercaya sebagai pertunjukan keajaiban taktis militer dari Khalid.[2]

Merebut Yerusalem

Dengan terpukulnya pasukan Bizantin, Muslim dengan cepat merebut kembali semua wilayah yang telah mereka rebut sebelum Pertempuran Yarmuk. Pasukan Muslim bergerak ke selatan, tempat kubu pertahanan terakhir Bizantin, yaitu Yerusalem. Di sana, banyak pasukan Bizantin yang selamat dari "bencana" Yarmuk berlindung.[84] Pengepungan Yerusalem berlangsung empat bulan sampai kota tersebut bersedia untuk menyerah, tetapi dengan syarat khalifah sendiri harus hadir di sana. 'Amr ibn Al-'Ash, salah satu dari empat komandan korp, menyarankan agar Khalid dikirim menyamar sebagai khalifah karena kemiripannya dengan Khalifah 'Umar. Namun penyamaran Khalid diketahui dan akhirnya 'Umar sendiri yang hadir. Yerusalem menyerah pada bulan April 637.[85] Setelah Yerusalem direbut, pasukan Muslim menyebar kembali. Korps yang dipimpin Yazid berangkat ke Damaskus dan merebut Beirut. Korps yang dipimpin 'Amr dan Syurahbil menaklukkan sisa daerah Palestina, sementara Abu Ubaydah dan Khalid dengan 17.000 pasukan berangkat ke utara untuk menaklukkan keseluruhan Syam Utara.[86]

Penaklukan Syam Utara
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 9. Peta rinci rute Khalid ibn Walid dalam Invasi Syam Utara.

Dengan telah direbutnya Emesa, Abu Ubaydah dan Khalid bergerak menuju Chalcis yang merupakan pertahanan Bizantin yang paling penting. Melalui Chalcis, Bizantin akan mempertahankan Anatolia, Armenia (kampung halaman Heraklius), dan Antiokia, ibukota Romawi untuk daerah Asia. Abu Ubaydah mengirim Khalid dengan garda elit gerak cepatnya menuju Chalcis.[87] Benteng Chalcis dijaga oleh pasukan Yunani di bawah kepemimpinan Menas yang dilaporkan memiliki kedudukan penting, langsung di bawah kaisar. Menas melancarkan strategi yang tidak lazim dilakukan oleh pasukan Bizantin. Ia memutuskan mengirim pasukan untuk berhadapan langsung dengan Khalid dengan tujuan menghancurkan elemen pasukan garda depan sebelum pasukan utama Muslim tiba. Pasukannya bertemu Khalid di Hazir, 5 km di timur Chalcis. Pasukan Romawi ternyata dihancurkan dalam Pertempuran Hazir yang memaksa 'Umar untuk memuji kejeniusan Khalid dalam bidang militer.[88] Ia diberitakan telah berkata, “Khalid merupakan komandan sejati, semoga Allah mengampuni Abu Bakr. Ia menilai orang lebih baik dari pada aku.”[89]

Abu Ubaydah segera bergabung dengan Khalid di depan bentang Chalcis yang tampaknya tidak mungkin ditembus, namun ternyata menyerah pada bulan Juni 637. Dengan kemenangan strategis ini, daerah di utara Chalcis terbuka lebar bagi Muslim. Khalid dan Abu Ubaydah berikutnya merebut Aleppo dari pasukan Bizantin yang telah putus asa pada Oktober 637.[90] Tujuan berikutnya adalah kota indah, Antiokia, ibukota Imperium Bizantin untuk wilayah Asia. Sebelum bergerak menuju Antiokia, Khalid dan Abi Ubaidah memutuskan untuk mengisolasi kota ini dari Anatolia; hal ini dilakukan dengan merebut benteng-benteng yang menyediakan bantuan pertahanan bagi Antiokia, terutama A'zaz di timur laut Antiokia. Dalam rangka menyelamatkan imperium dari kebinasaan, sebuah pertempuran mati-matian dilakukan oleh pasukan pertahanan Antiokia melawan pasukan Muslim di luar kota dekat Sungai Orontes, yang dikenal sebagai Pertempuran Jembatan Besi.[91] Pasukan Bizantin disusun atas pasukan yang selamat dari tragedi Yarmuk maupun mereka yang selamat dari kekalahan-kekalahan Bizantin lainnya di Syam. Setelah dikalahkan, pasukan Bizantin mundur ke dalam Antiokia dan pasukan Muslim mengepung kota tersebut. Karena tidak ada harapan lagi, Antiokia menyerah pada tanggal 30 Oktober 637 dengan syarat semua pasukan Bizantin diberikan keamanan untuk pulang ke Konstantinopel.

Abu Ubaydah kemudian mengirim Khalid ke utara, sementara ia sendiri menuju ke selatan dan merebut Lazkia, Jabla, Tarsus, dan daerah pantai barat Pegunungan Lebanon. Khalid bergerak ke utara dan menyerbu teritori sampai ke Sungai Kizil (Kizilirmak) di Anatolia. Kaisar Heraklius telah meninggalkan Antiokia menuju Edessa sebelum kedatangan Muslim. Ia mempersiapkan pertahanan penting di daerah Jazira dan Armenia, kemudia pergi menuju ibukota, Konstantinopel. Dalam perjalanannya menuju Konstantinopel, ia berhasil kabur dari Khalid yang setelah merebut Marash, langsung menuju selatan menuju Munbij.[92] Heraklius dengan terburu-buru mengambil jalan pegunungan, melewati Gerbang Cilician (Celah Cilician) dan dilaporkan telah berkata,
"Selamat tinggal, selamat tinggal yang panjang untuk Syam, provinsiku

tercinta. Engkau menjadi milik kafir (musuh) sekarang. Damai sejahtera bagi kamu,

Wahai Syam - tanah yang akan menjadi begitu indah di tangan musuh."[93]
-Kaisar Heraklius

Setelah berbagai kekalahan dialami, terutama di Yarmuk, imperiumnya sangat rentan diserbu pasukan Muslim. Dengan sedikit sumber daya militer yang tersisa, ia tidak punya kesempatan untuk kembali menguasai Syam. Dalam rangka memperoleh waktu untuk mempersiapkan diri mempertahankan sisa imperiumnya, Heraklius harus membiarkan pasukan Muslim merebut Syam. Ia meminta Arab Kristen dari Jazira untuk mengumpulkan pasukan besar dan bergerak menuju Emesa, markas Abu Ubaydah. Abu Ubaydah kemudian menarik semua pasukannya dari Syam Utara menuju Emesa, dan Arab Kristen mengepung Emesa.[94] Khalid lebih memilih untuk bertempur di luar kota, tetapi Abu Ubaidah lebih memilih untuk menyerahkan masalah ini langsung kepada 'Umar yang pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah ini dengan brilian. Sebuah detasemen bala bantuan dikirim ke Emesa dari Iraq di bawah pimpinan Qa’qa ibn Amr,[95] seorang veteran Yarmuk yang setelah Pertempuran Yarmuk dikirim ke Iraq untuk membantu dalam Pertempuran Al- Qadisiyyah (pertempuran puncak dalam Penaklukan Persia-Sassanid-pent). 'Umar sendiri berangkat dari Madinah dengan membawa 1.000 pasukan. Arab Kristen membatalkan pengepungan dan pulang ke Jazira setelah mendengar berita ini. Melihat kondisi ini, Khalid dan Garda Gerak Cepat-nya keluar dari Emesa dan mengalahkan pasukan yang sedang mundur itu dengan menyerang mereka dari belakang.[96] Inilah usaha terakhir Heraklius untuk mencoba merebut kembali Syam.
(Bersambung)...

...(Sambungan)
Ekspedisi Militer di Armenia dan Anatolia
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Gambar 10. Peta rinci rute Khalid ibn Walid dalam invasi Anatolia dan Armenia.

Setelah pertempuran, 'Umar mengeluarkan perintah untuk menaklukkan Jazira dan berhasil diselesaikan pada akhir musim panas tahun 638. Setelah penaklukan Jazira, Abu 'Ubaydah mengirim Khalid dan Ayaz ibn Ghanam (penakluk Jazira) untuk menyerbu teritori Bizantin di utara Jazira.[97] Mereka bergerak secara terpisah dan merebut Edessa, Amida (Diyarbakir), Malatya, dan masuk ke daerah Armenia milik Bizantin sampai ke daerah Ararat. Mereka juga dilaporkan memasuki Anatolia tengah. Heraklius telah meninggalkan semua benteng di antara Antiokia dan Tarsus untuk membuat zona penyangga antara area di bawah pemerintahan Muslim dan bagian utama Anatolia.[98] 'Umar untuk sementara menghentikan pasukannya agar tidak menusuk lebih dalam ke Anatolia dan memerintahkan Abu 'Ubaydah yang sekarang menjadi gubernur Syam, untuk mengonsolidasi pemerintahan baru di Syam. 'Umar dilaporkan telah berkata, “Aku berharap ada sebuah dinding api antara kita dan Romawi sehingga mereka tidak bisa memasuki wilayah kita dan kita tidak bisa memasuki wilayah mereka.”[99] Karena pemecatan Khalid dari pasukan dan rentetan kemarau serta wabah penyakit di tahun berikutnya, pasukan Muslim tidak meneruskan invasi ke Anatolia. Ekspedisi militer di Anatolia dan Armenia menandai berakhirnya karir militer Khalid.[100]

Pemecatan dari Pasukan

Khalid yang sedang berada di puncak karirnya merupakan sosok yang sangat terkenal dan dicintai pasukannya. Masyarakat menganggapnya pahlawan nasional,[101] dan ia dikenal secara luas sebagai Sayfullah (Pedang Allah). Dalam suatu kesempatan saat Khalid berada di Emesa, ia mandi dengan air yang dicampur sejenis campuran alkohol.[102] Mata-mata 'Umar menginformasikan hal ini pada Khalifah. Karena alkohol dilarang dalam Islam, 'Umar meminta Khalid untuk menjelaskan perkara ini. Khalid menyampaikan bahwa hal ini terlalu berlebihan mengingat larangan Islam terhadap alkohol adalah larangan untuk meminum, bukan pada penggunaan di luar badan. Alasan ini diterima oleh 'Umar dan majelis musyawarah tinggi di Madinah. Sebuah kejadian lainnya berlangsung tidak lama setelah Khalid berhasil merebut Marash (Kahramanmaras) pada musim gugur tahun 638. Ia bertemu dengan Ash’as, seorang penyair terkenal dan veteran dari front Penaklukan Persia. Ash’as bersya’ir yang isinya memuji Khalid dan kemudian, Khalid menghadiahkannya uang 10.000 dirham (sekitar Rp 670.000.000 zaman sekarang-pent), yang tampaknya dari kas negara.[103]

'Umar dan majelis musyawarah tinggi di Madinah menilai perbuatan ini sebagai penyalahgunaan kas negara. Meskipun kasus ini tidak mengharuskan dicopotnya jabatan, 'Umar menggunakan kasus ini sebagai alasan. Ia dengan segera menulis surat kepada Abu 'Ubaydah yang isinya memerintahkan Abu 'Ubaydah untuk membawa Khalid ke pengadilan serta mencopot sorban dan tutup kepalanya. 'Umar memerintahkannya untuk menginterogasi Khalid, dari mana asal uang yang Khalid berikan kepada Ash’as: apakah dari kantongnya sendiri atau dari kas negara. Jika ia mengaku bahwa ia mengambil uang dari rampasan perang, ia dinyatakan bersalah atas penyalahgunaan kas negara.[104] Jika ia menjawab bahwa uang itu dari kantongnya sendiri, ia dinyatakan bersalah atas tindakan berlebih-lebihan. Atas jawaban apapun, Khalid akan dipecat dan Abu 'Ubaydah diperintahkan untuk mengambil alih semua tanggung jawabnya. Abu 'Ubaydah yang merupakan pengagum Khalid sekaligus mencintainya seperti adik sendiri,[105] berkata bahwa ia tidak sanggup melakukannya. Akhirnya, Bilal bin Rabah ditunjuk untuk menjalankan tugas ini dan memanggil Khalid untuk berangkat dari Chalcis ke Emessa, di mana ia akan diadili.[106] Dalam pengadilan tersebut, ia menyatakan bahwa uang itu adalah uangnya sendiri sehingga ia dibebaskan dari tuduhan penyalahgunaan kas negara. Namun, saat ia berangkat menemui Abu 'Ubaydah, Abu 'Ubaydah berkata kepadanya bahwa ia telah dipecat atas perintah 'Umar dan diharuskan untuk pulang ke Madinah.[107] Khalid kemudian pulang dahulu ke Chalcis dan mengucapkan kata-kata perpisahan dengan pasukan Garda Gerak Cepat-nya. Ia kemudian berangkat ke Madinah untuk menemui 'Umar. Ia memprotes pemecatannya yang ia nilai tidak adil. 'Umar diberitakan memberikan pujian kepadanya, “Tugasmu telah selesai; dan tidak seorangpun yang meraih apa yang telah kamu capai. Tetapi itu semua bukanlah manusia yang menentukan; Allah-lah yang berkehendak…”[108]

Dilaporkan juga bahwa belakangan, 'Umar menjelaskan tentang pemecatan Khalid,
“Aku tidak memecat Khalid karena kemarahanku atau karena ia telah berlaku buruk, tetapi karena manusia memuja-mujanya dan masuk dalam kesesatan. Aku khawatir manusia akan bergantung kepadanya. Aku ingin mereka paham bahwa Allah-lah yang memberikan kita kemenangan; dan agar tidak terjadi kerusakan di atas muka bumi ini.”[109]
-Khalifah 'Umar.

Demikianlah bagaimana kesuksesan karir militer Khalid berakhir.

Wafat

Meskipun banyak yang menilai hubungan kedua saudara sepupu, 'Umar dan Khalid, selalu kurang “mesra”, keduanya tidak pernah menyimpan perasaan benci satu sama lain. Saat Khalid wafat, ia mempercayakan semua barang peninggalannya kepada Umar dan menjadikan 'Umar sebagai eksekutor pesan wasiat dan pembagi harta warisnya.[110]

Belum sampai empat tahun sejak pemecatannya, Khalid wafat dan dikuburkan di Emesa, tempat tinggalnya semenjak pemecatan tersebut. Makamnya sekarang menjadi bagian dari sebuah masjid yang bernama Masjid Khalid ibn Al-Walid. Batu nisannya menunjukkan 50 pertempuran yang ia pimpin tanpa pernah terkalahkan (tidak termasuk pertempuran kecil).[111] Dilaporkan bahwa ia menginginkan mati sebagai syahid di medan pertempuran dan terlihat kecewa ketika ia tahu akan meninggal di tempat tidurnya.[112] Khalid menyatakan kesedihannya dalam sebuah kalimat terakhirnya,
“Aku telah mengikuti begitu banyak pertempuran mencari kesyahidan sampai-sampai tidak ada satu tempat tersisa di tubuhku yang tidak memiliki goresan atau bekas luka akibat tombak atau pedang. Dan di sini aku berada, mati di atas tempat tidur seperti seekor unta tua. Semoga mata para pengecut tidak pernah tertidur.”[113]
-Khalid ibn Walid

Istri Khalid yang merasa sedih atas ucapan suaminya berkata pada Khalid, “Engkau diberi gelar Sayfullah yang berarti Pedang Allah, dan Pedang Allah tidaklah untuk dipatahkan, jadi, demikianlah Engkau tidak ditakdirkan untuk menjadi syahid, tetapi wafat seperti seorang penakluk.”
(Bersambung)...
...(Sambungan)
Warisan
Bidang Militer

Khalid diberitakan telah mengikuti sekitar seratusan pertempuran, baik pertempuran besar maupun kecil, termasuk dalam sejumlah duel. Karena tidak pernah terkalahkan, ia dinilai sebagai salah satu jenderal perang terbaik sepanjang sejarah.[114]

Khalid adalah arsitek dari hampir seluruh doktrin militer awal pasukan Muslim.[115] Ia merupakan pelopor taktik utama yang digunakan pasukan Muslim di masa Penaklukan Awal Islam. Salah satu prestasi Khalid dalam konteks ini adalah pemanfaatan keterampilan keprajuritan Badwi Arab dalam skala besar. Ia dipercaya telah mengembangkannya dalam sebuah kesatuan semi-reguler yang dikenal dengan nama Mubarizun (Jagoan-jagoan) yang akan menantang atau menerima tantangan duel kapten-kapten musuh. Ahli-ahli pedang yang sangat terlatih dan terampil ini diberdayakan secara efektif untuk membunuh sebanyak mungkin kapten-kapten musuh sekaligus memberikan pukulan psikologis pada semangat musuh. Pertempuran Ajanadayn mungkin merupakan contoh terbaik penerapan bentuk peperangan psikologis ini. Selain itu, prestasi terbesarnya adalah konversi doktrin taktik Arab menjadi sebuah sistem strategi.[115] Sebelum Khalid, orang-orang Arab dasarnya adalah penyerbu dan ahli pertempuran-pertempuran kecil. Khalid mengubahnya menjadi taktik yang dapat digunakan di mana saja. Ia senantiasa berusaha melakukan pertempuran-pertempuran kecil dengan sabar sampai musuh hancur. Awalnya, ia akan membawa pasukannya maju dan menunggu sampai keseluruhan pertempuran menjadi sejumlah besar pertempuran kecil antara kesatuan-kesatuan kecil. Kemudian, setelah membuat musuh kelelahan, ia akan meluncurkan kavalerinya menuju sayap musuh untuk menjalankan taktik memukul dan menahan (hammer and anvil).[116]

Kebanyakan dari kejeniusan strategi dan taktik Khalid ada pada penggunaan metode ekstrem. Ia terlihat menekankan upaya penghancuran musuh secara total daripada hanya memenangkan pertempuran dengan mengalahkan musuh secara sederhana atau memukul mundurnya. Contohnya, ketika ia menerapkan manuver double envelopment melawan pasukan Persia yang berjumlah lebih besar dalam Pertempuran Walaja,[117]. Manuver brilian lainnya terlihat pada Pertempuran Yarmuk di mana ia secara jelas menjebak pasukan Bizantin antara tiga tebing sungai curam dengan diam-diam merebut dan menutup jalur pelarian mereka, yaitu sebuah jembatan.

Khalid memanfaatkan pengetahuannya tentang bentuk muka bumi dalam setiap kesempatan untuk memperoleh lokasi menguntungkan terhadap musuh. Dalam ekspedisi militer di Persia, ia tidak pernah masuk terlalu jauh ke dalam teritori Persia dan selalu menempatkan gurun Arabia di belakangnya agar pasukannya bisa mundur kapan saja jika kalah.[118] Baru setelah semua pasukan terkuat Persia dan sekutunya hancur, ia menusuk jauh ke dalam daerah Eufrat dan merebut ibukota daerah Iraq, Al-Hirah. Lagi-lagi di Yarmuk, bentuk muka bumi membantu dalam mengeksekusi strategi besarnya menghancurkan pasukan Bizantin.

Pasukan Khalid tidak tertandingi dari segi mobilitas sampai munculnya gerombolan Mongol pada abad ke-13.[119] Faktanya, taktik orang-orang Arab dari gurun identik dengan taktik orang-orang Mongol penghuni stepa. Semua tentara Khalid naik unta saat berjalan jauh sedangkan orang Mongol naik kuda. Perbedaannya adalah bahwa pasukan Arab bukanlah pemanah berkuda.[120] Manuver yang paling umum Khalid gunakan adalah serangan mendadak. Beberapa serangan dadakan yang ia lakukan adalah serangan malam dari tiga sisi pada kemah-kemah Persia di Zumail, Muzayyah, dan Saniyy. Pasukannya yang berkecapatan tinggi dengan cepat menghancurkan perkemahan Persia dan sekutu Arabnya dalam jarak sekitar 100 km. Tidak terkecuali dalam Pertempuran Marajul Dibaj, pasukannya yang cepat, bermanuver mengelilingi pasukan Bizantin, lalu muncul dari empat sisi berbeda dan membuka beberapa front dalam satu waktu, sebuah manuver yang pada Abad ke-13 menjadi salah satu prinsip manuver pasukan Mongol.[121]

Sebuah contoh kegesitan dan kecepatan strategi Khalid adalah pergerakannya masuk ke daerah Syam milik Romawi.[122] Kaisar Heraklius telah mengirimkan semua pasukan garnisunnya yang ada di sana menuju Ajnadayn dengan tujuan menahan pasukan Muslim di daerah perbatasan Syam-Arab. Heraklius mengira satu-satunya jalur yang akan dilalui Khalid adalah jalur di perbatasan ini. Namun Khalid yang saat itu berada di Iraq, mengambil jalur yang tidak diduga-duga: berjalan melewati gurun kering Syam dan memberi kejutan bagi Bizantin dengan muncul tiba-tiba di Syam Utara. Dengan cepat, Khalid merebut beberapa kota dan memotong jalur komunikasi pasukan Bizantin di Ajnadayn dari pusat komando mereka di Emesa, tempat Heraklius berada.[123]

Kavaleri ringan Khalid, Garda Gerak Cepat (Mobile Guard), berperan sebagai inti dari kavaleri Muslim selama invasi di Syam. Garda tersebut beranggotakan pasukan yang sangat terlatih dan berpengalaman, dengan mayoritas di antara mereka telah menjadi bawahan Khalid selama ekspedisi Arabia dan Persia.[124] Kavaleri Muslim adalah sebuah kavaleri ringan bersenjatakan lembing sepanjang 5 meter. Mereka bisa menyerbu dalam kecepatan luar biasa tinggi dan biasanya menerapkan taktik kar wa far yang secara harfiah berarti “serbu dan mundur” atau dalam istilah modernnya: “hit and run”. Mereka akan menyerang sisi sayap dan belakang musuh. Kemampuan manuvernya sangat efektif dalam menghadapi kavaleri berat Bizantin dan pasukan Cataphract dari Persia.[116] Serangan sayap Khalid dalam Pertempuran Yarmuk menunjukkan bagaimana ia sangat memahami potensi dan kekuatan pasukan berkudanya.

Prajurit-prajurit Arab juga jauh lebih ringan (baju bajanya) daripada prajurit Romawi dan Persia. Akibatnya, mereka rentan dalam pertarungan jarak dekat dan serangan panah.[115] Oleh karena itu, Khalid tidak pernah membuat kesalahan dalam pertempuran dan sangat efektif dalam menggunakan laporan intelijen yang ia angkat dari orang-orang lokal dengan bayaran yang cukup tinggi. Sejarawan Persia, Ath-Thabari berkata,
“Dia (Khalid) tidak membiarkan dirinya tertidur dan tidak pula mengizinkan musuhnya tidur; tidak ada yang bisa disembunyikan darinya.”[125]
-Ath-Thabari, Sejarah para Nabi dan para Raja

Bidang Politik

Khalid juga menjadi Gubernur Militer Iraq tahun 632-633 dan Gubernur Chalcis, daerah paling strategis di Syam Utara. Meskipun dia tidak pernah aktif secara politik, ketenarannya mengangkat perhatian 'Umar, yang kemudian memecat Khalid dari ketentaraan.

'Umar juga dilaporkan menyesali keputusannya tersebut.[126] Diberitakan bahwa setelah Musim Haji tahun 642, 'Umar memutuskan untuk menunjuk Khalid kembali ke jabatan militer, kemungkinan untuk melanjutkan kembali Penaklukan Persia. Namun takdir berkata lain. Ketika 'Umar tiba kembali di Madinah, berita wafatnya Khalid juga datang.[127] Berita ini datang seolah badai yang menerjang Madinah. Para wanita keluar ke jalan, dipimpin oleh wanita-wanita Banu Makhzum (klan Khalid), menangis dan menepuk dada mereka. Meskipun 'Umar sangat kukuh dalam menerapkan ajaran agama (Islam melarang meratapi kematian seorang Muslim), kali ini ia membuat pengecualian. 'Umar berkata,
“Biarkan wanita-wanita Banu Makhzum berkata apa saja tentang Abu Sulaiman (Khalid), karena mereka tidak berbohong, patutlah mereka menangis atas pribadi seperti

Abu Sulaiman.”[128]
-Khalifah 'Umar

Tercatat juga bahwa suatu kali, 'Umar duduk bersama sahabat-sahabatnya. Salah seorang dari mereka mengangkat pembicaraan tentang Khalid. 'Umar berkata, “Demi Allah, dia adalah perisai Islam melawan musuh-musuh, hatinya bersih dari dendam.” Ali yang juga sedang berada di sana, diberitakan berkata, “Lalu mengapa Engkau memecatnya dari ketentaraan?” 'Umar dengan jujur menjawab, “Aku salah.”[129] Menurut berita lainnya, di saat 'Umar mendekati ajalnya, ia memberi nama-nama orang yang akan ditunjuknya sebagai penggantinya sebagai khalifah. Nama Khalid termasuk di dalamnya.
(Bersambung)...

...(Sambungan)
Posisi Keagamaan

Khalid ibn Walid adalah seorang Sahabat (Muhammad), sebuah fakta yang membuatnya seorang yang sangat dihormati di kalangan Muslim Sunni. Namun Muslim Syi’ah tidak menaruh penghormatan yang sama karena mereka percaya bahwa ia membantu Abu Bakr dalam menekan pendukung Imam Ali mereka, yang menurut mereka ditunjuk oleh Muhammad sebagai penerus jabatan politik.[131]

Dalam Kultur Modern

  • Reputasi Khalid sebagai jenderal yang hebat membuat namanya dimasukkan sebagai salah seorang Jenderal Agung (Great General) dalam game Civilization IV: the Warlords. Game ini memang memasukkan tokoh-tokoh sejarah nyata dalam permainannya.
  • Tank tempur utama milik Pasukan Pakistan dinamai Al-Khalid atau MBT 2000, di ambil dari nama Khalid ibn Al-Walid.
  • Pasukan Pakistan juga menamai kapal selam kelas Agosta 90b milik mereka dengan nama PNS/M Khalid (S137),
  • Angkatan laut Bangladesh menamai kapal tempur pergatnya dengan nama BNS Khalid Bin Walid.
  • Kazi Nazrul Islam menulis sebuah syair terkenal berjudul Khaled ketika ia menderita malaria untuk menunjukkan penghormatannya pada Khalid dan kesedihannya terhadap penjajahan yang membekap negaranya.
  • Pasukan yang dikirim Pakistan dalam Operasi Badai Gurun pada Perang Teluk, dinamakan Khalid Bin Walid Independent Armoured Brigade Group. Brigade ini masih aktif di Arab Saudi sejak saat itu.


Keluarga

Ayah Khalid bernama Walid ibn Al-Mughira dan ibunya bernama Lubabah As-Saghirah. Walid diberitakan memiliki banyak istri dan anak. Hanya sejumlah nama anaknya yang tercatat dalam sejarah. Anak-anak lak-laki Walid yang dikenal (selain Khalid) adalah
  • Hisyam ibn Walid
  • Walid ibn Walid
  • Ammarah ibn Walid
  • Abdusy Syams ibn Walid.[4]


Anak-anak perempuan Walid adalah
  • Faktah bint Walid,
  • Fatimah bint Walid,[4]
  • Najiyah bint Al-Walid (masih diperdebatkan).


Jumlah anak Khalid ibn Al-Walid tidak diketahui, tetapi tiga anak laki-laki dan satu orang anak perempuannya tercatat dalam sejarah:
  • Sulaiman bin Khalid,
  • Abdurrahman ibn Khalid, dan
  • Muhajir bin Khalid.[132]


Sulayman, anak tertua Khalid, gugur dalam Penaklukan Mesir,[132] meskipun sumber lainnya mengklaim bahwa ia gugur dalam Pengepungan Diyarbakir pada tahun 639.[13] Muhajir bin Khalid gugur dalam Pertempuran Siffin di mana ia berpihak pada Khalifah Ali. Sedangkan Abdurrahman ibn Khalid menjadi Gubernur Emesa di masa pemerintahan Khalifah Ketiga, 'Utsman ibn 'Affan. Abdurrahman juga terlibat di Pertempuran Siffin sebagai salah satu komandan dalam pasukan Muawiyah. Abdurrahman juga mengikuti Pengepungan Konstantinopel tahun 664. Abdurrahman kemudian hendak ditunjuk sebagai penerus Khalifah Muawiyah, tetapi menurut sebagian sumber, ia diracun oleh Muawiyah yang menghendaki anaknya, Yazid, untuk menjadi penerusnya. Jalur keturunan laki-laki Khalid dipercaya telah habis saat cucunya, Khalid bin Abdurrahman bin Khalid wafat.[132]
(Bersambung)....
...(Sambungan)
Catatan Kaki

  1. ^ a b c Khalid ibn al-Walid, Encyclopaedia Britannica Online. Diambil tanggal 17 October 2006.
  2. ^ a b Akram 2004, hlm. 496
  3. ^ Akram 2004, hlm. 2
  4. ^ a b c Akram 2004, hlm. 3
  5. ^ Akram 2004, hlm. 4
  6. ^ Akram 2004, hlm. 5
  7. ^ Akram 2004, hlm. 9
  8. ^ Akram 2004, hlm. 14
  9. ^ Weston 2008, hlm. 41
  10. ^ Akram 2004, hlm. 70
  11. ^ Akram 2004, hlm. 75
  12. ^ Al-Waqidi 8th century, hlm. 321
  13. ^ Walton 2003, hlm. 208
  14. ^ a b Nicolle 2009, hlm. 22
  15. ^ Akram 2004, hlm. 80
  16. ^ Akram 2004, hlm. 90
  17. ^ Al-Waqidi 8th century, hlm. 322
  18. ^ Ibnu Hisyam 9th century, hlm. 382
  19. ^ Akram 2004, hlm. 128
  20. ^ Akram 2004, hlm. 135
  21. ^ "List of Battles of Muhammad". Military.hawarey.org. 2005-10-28. Diambil tanggal 2011-08-28.
  22. ^ a b The sealed nectar, Oleh S.R. Al-Mubarakpuri, hlm. 256. Books.google.co.uk. Diambil tanggal 2011-08-28.
  23. ^ a b ""He sent Khalid bin Al-Waleed in Ramadan 8 A.H", Witness-Pioneer.com". Witness-pioneer.org. 2002-09-16. Diambil tanggal 2011-08-28.
  24. ^ The life of Mahomet and history of Islam, Volume 4, Oleh Sir William Muir, hlm 135 Lihat di bawah, bagian Catatan
  25. ^ The life of Mahomet and history of Islam, Volume 4, Oleh Sir William Muir, hlm 135. Books.google.co.uk. Diambil tanggal 2011-08-28.
  26. ^ Ibnu Ishaq, Sirat Rasul Allah (Life of Muhammad), terjemahan Guillaume, Oxford 1955, hlm. 561-562
  27. ^ ath-Thabari, Victory of Islam, terjemahan Fishbein, Albany 1997, hlm. 188 ff.
  28. ^ a b Abu Khalil, Shawqi (1 Maret 2004). Atlas of the Prophet's biography: places, nations, landmarks. Dar-us-Salam. hlm. 239. ISBN 978-9960-897-71-4.
  29. ^ a b Abu Khalil, Shawq? (2003). Atlas of the Quran. Dar-us-Salam. hlm. 244. ISBN 978-9960-897-54-7.
  30. ^ a b Rahman al-Mubarakpuri, Saifur (2005), The Sealed Nectar, Darussalam Publications, hlm. 277
  31. ^ Muir, William (10 August 2003). Life of Mahomet. Kessinger Publishing Co. hlm. 458. ISBN 978-0-7661-7741-3.
  32. ^ Muir, William (10 August 2003). Life of Mahomet. Kessinger Publishing Co. hlm. 458. ISBN 978-0-7661-7741-3.
  33. ^ a b c Nicolle 2009, hlm. 25
  34. ^ Akram 2004, hlm. 167
  35. ^ Walton 2003, hlm. 17
  36. ^ Akram 2004, hlm. 178
  37. ^ Ath-Thabari 915, hlm. 501-502
  38. ^ Ath-Thabari 915, hlm. 496
  39. ^ Ath-Thabari 915, hlm. 502
  40. ^ Ath-Thabari: Vol. 2, Halaman no: 5)
  41. ^ (A Restatement of the History of Islam and Muslims, Ali Razwy, Bab 55)
  42. ^ Akram 2004, hlm. 183
  43. ^ Ath-Thabari: Vol. 2, Halaman no: 274)
  44. ^ Akram 2004, hlm. 188
  45. ^ Morony 2005, hlm. 223
  46. ^ a b c Morony 2005, hlm. 224
  47. ^ Morony 2005, hlm. 233
  48. ^ Morony 2005, hlm. 192
  49. ^ Jaques 2007, hlm. 18
  50. ^ Akram 2004, hlm. 215
  51. ^ Akram 2004, hlm. 217
  52. ^ Morony 2005, hlm. 225
  53. ^ Morony 2005, hlm. 230
  54. ^ Morony 2005, hlm. 149
  55. ^ a b Allenby 2003, hlm. 68
  56. ^ a b c d e f Gil 1997, hlm. 40
  57. ^ Akram 2004, hlm. 267
  58. ^ Gil 1997, hlm. 41
  59. ^ Akram 2004, hlm. 270
  60. ^ Jaques 2007, hlm. 155
  61. ^ Jaques 2007, hlm. 20
  62. ^ Nicolle 1994, hlm. 58
  63. ^ Jaques 2007, hlm. 636
  64. ^ Nicolle 1994, hlm. 57
  65. ^ a b Walton 2003, hlm. 28
  66. ^ Nicolle 1994, hlm. 59
  67. ^ a b c Allenby 2003, hlm. 70
  68. ^ Al-Waqidi 8th century, hlm. 62
  69. ^ Akram 2004, hlm. 305
  70. ^ Nicolle 1994, hlm. 52
  71. ^ a b Allenby 2003, hlm. 71
  72. ^ Akram 2004, hlm. 319
  73. ^ Akram 2004, hlm. 323
  74. ^ Allenby 2003, hlm. 72
  75. ^ Akram 2004, hlm. 338
  76. ^ Akram 2004, hlm. 345
  77. ^ Akram 2004, hlm. 389
  78. ^ Akram 2004, hlm. 409
  79. ^ Gil 1997, hlm. 45
  80. ^ Weston 2008, hlm. 50
  81. ^ Nicolle 1994, hlm. 63
  82. ^ Walton 2003, hlm. 29
  83. ^ Walton 2003, hlm. 30
  84. ^ Gil 1997, hlm. 51
  85. ^ Gil 1997, hlm. 53
  86. ^ Jaques 2007, hlm. 491
  87. ^ Nicolle 1994, hlm. 84
  88. ^ Akram 2004, hlm. 429
  89. ^ Al-Tabari 915, hlm. 98
  90. ^ Jaques 2007, hlm. 28
  91. ^ Akram 2004, hlm. 445
  92. ^ Haykal 1990, hlm. 145
  93. ^ Akram 2004, hlm. 448
  94. ^ Akram 2004, hlm. 451
  95. ^ Haykal 1990, hlm. 144
  96. ^ Akram 2004, hlm. 453
  97. ^ Haykal 1990, hlm. 146
  98. ^ Haykal 1990, hlm. 146-147
  99. ^ Haykal 1990, hlm. 147
  100. ^ Haykal 1990, hlm. 152
  101. ^ Weston 2008, hlm. 43
  102. ^ Weston 2008, hlm. 51
  103. ^ Gil 1997, hlm. 49
  104. ^ Akram 2004, hlm. 481
  105. ^ Weston 2008, hlm. 45
  106. ^ Akram 2004, hlm. 482
  107. ^ Gil 1997, hlm. 50
  108. ^ Akram 2004, hlm. 487
  109. ^ Akram 2004, hlm. 488
  110. ^ Akram 2004, hlm. 493
  111. ^ Akram 2004, hlm. 501
  112. ^ Akram 2004, hlm. 494
  113. ^ Ibnu Qutaybah 9th century, hlm. 267
  114. ^ Akram 2004, hlm. 499
  115. ^ a b c Pratt 2000, hlm. 82
  116. ^ a b Pratt 2000, hlm. 83
  117. ^ Akram 2004, hlm. 230
  118. ^ Nicolle 2009, hlm. 8
  119. ^ Walton 2003, hlm. 19
  120. ^ Harkavy 2001, hlm. 166
  121. ^ Malik 1968, hlm. 39
  122. ^ Malik 1968, hlm. 87
  123. ^ Malik 1968, hlm. 89
  124. ^ Malik 1968, hlm. 90
  125. ^ Malik 1968, hlm. 118
  126. ^ Haykal 1990, hlm. 155
  127. ^ Haykal 1990, hlm. 156
  128. ^ Al-Tabari 915, hlm. 614
  129. ^ Haykal 1990, hlm. 157
  130. ^ Haykal 1990, hlm. 319
  131. ^ Ath-Thabari 915, hlm. 186-187
  132. ^ a b c d Akram 2004, hlm. 497
  133. ^ Ring dan Salkin, 1996, hlm.193.


Bibliografi
Sumber Primer

Al-Baladhuri, Ahmad ibn Yahya (Abad Ke-9), Kitab Futuh al-Buldan
Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir al-Tabari (915), History of the Prophets and Kings
Al-Waqidi, Abu Abdullah Muhammad Ibn 'Umar (Abad Ke-8), Fatuh al Sham (Penaklukan Syam)
Dionysius Telmaharensis (774), Chronicle of Pseudo-Dionysius of Tell-Mahre
Ibnu Hisyam, Abd al-Malik bin Hisyam (Abad Ke-9), As-Sirah an-Nabawiyyah (Biografi Nabi Muhammad)
Ibnu Ishaq (750), Sirah Rasul Allah
Ibnu Qutaybah, Abdullaah bin Muslim (Abad Ke-9), ‘Uyun al-Akhbar (Dalam Sejarah)
The Maronite Chronicles, 664
"Chronicles of 637 and 819", West-Syrian Chronicles, 637 & 819
Khalid Bin Waleed, Sword of Allah

Sumber Sekunder

Akram, Agha Ibrahim (2004), The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed - His Life and Campaigns, Oxford University Press, ISBN 0-19-597714-9
Allenby, Viscount (2003), Conquerors of Palestine Through Forty Centuries, Kessinger Publishing, ISBN 0-7661-3984-0
Eggenberger, David (1985), An encyclopedia of battles: accounts of over 1,560 battles from 1479 B.C. to the present, Courier Dover Publications, ISBN 0-486-24913-1
Haykal, Muhammad Husayn (1990), Al-Faruq, ''Umar, Dar al-Ma'arif Publishers, ISBN 977-02-3092-8
Gil, Moshe (1997), A history of Palestine, 634-1099, Cambridge University Press, ISBN 0-521-59984-9
Harkavy, Robert E (2001), Warfare and the Third World, Palgrave Macmillan, ISBN 0-312-24012-0
Hoyland, Robert G. (1997), Seeing Islam as Others Saw It, Darwin Press, ISBN 0-87850-125-8, OCLC 36884186
Jaques, Tony (2007), Dictionary of Battles and Sieges: A-E, Greenwood Publishing Group, ISBN 0-313-33537-0
Jaques, Tony (2007), Dictionary of Battles and Sieges:F-O, Greenwood Publishing Group, ISBN 0-313-33538-9
Jandora, John W. (1986), "Developments in Islamic Warfare: The Early Conquests", Studia Islamica (Maisonneuve & Larose) (64): 101-113, JSTOR 1596048
Kaegi, Walter Emil (1995), Byzantium and the Early Islamic Conquests, Cambridge University Press, ISBN 0-521-48455-3
Malik, S. K. (1968), Khalid bin Walid: the general of Islam: a study in Khalid's generalship, Ferozsons publishers, India.
Morony, Michael G. (2005), Iraq After the Muslim Conquest, Gorgias Press LLC, ISBN 1-59333-315-3
Nicolle, David (1994), Yarmuk 636 A.D.: The Muslim Conquest of Syria #31, Osprey Publishing, ISBN 1-85532-414-8
Nicolle, David (2009), The Great Islamic Conquests AD 632?750, Osprey Publishing, ISBN 1-84603-273-3
Palmer, Andrew (1993), The Seventh Century in the West-Syrian Chronicles, Liverpool University Press, ISBN 0-85323-238-5
Pratt, Fletcher (2000), The Battles That Changed History, Courier Dover Publications, ISBN 0-486-41129-X
Ring, Trudy; Salkin, Robert M. (1994). International Dictionary of Historic Places. Taylor & Francis. ISBN 1-884964-03-6.
Walton, Mark W. (2003), Islam at war: a history, Greenwood Publishing Group, ISBN 0-275-98101-0
Weston, Mark (2008), Prophets and Princes: Saudi Arabia from Muhammad to the Present, John Wiley and Sons, ISBN 0-470-18257-1
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

emoticon-Matabelo mantap bro emoticon-thumbsup:
Tapi panjang amir... sisakan buat diskusi gan emoticon-Malu (S)
Nyimak dulu emoticon-coffee
lengkap banget gan emoticon-thumbsup

btw nama resmi pasukan kavaleri khalid apa ya?
Mantep, gan emoticon-thumbsup
Unbeatable army.
Quote:


Tidak diketahui secara pasti nama pasukan kavaleri elit ini, tetapi sebagian sejarawan Islam awal menyebut mereka dengan nama متحرك طليعة Mutaharrik Tulay'ah, yang diartikan ke Bahasa Inggris menjadi Mobile Guard, kemudian saya artikan secara bebas menjadi Garda Gerak Cepat. Monggo kalo ada yang bisa memberi terjemahan yang lebih baik.
Nerjemahin Wiki? Gapapa, start yang bagus.

Dulu kayaknya pernah ada thred Khalid di Forum Sejarah, tapi ilang kena migrasi[?]

=====

Untuk Khalid, salah satu sumber terbaik mengenai riwayat lengkapnya adalah The Sword of Allah karya Letjen A.I. Akram dari AD Pakistan. Bukunya bisa dibaca di link berikut:
http://www.grandestrategy.com/2007/1...al-waleed.html
Quote:


komandannya keren emoticon-thumbsup: Dhirar bin al-Azwar yang tiap kali mau bertarung malah copot zirah.
Keren ceritanya, tapi banyak kontroversi tentang khalid al walid musti didiskusikanemoticon-Cool
Quote:


Wah, maaf kalo ternyata repost.
Sudah coba nyari di kaskus lama maupun baru, memang ga ketemu.
Mungkin di archive ya? Tapi setidak-tidaknya bisa untuk anggota-anggota newbie kayak saya.

Quote:


Gapapa, kalau yang lama sudah ga ada, memang lebih baik dibikin yang baru. Yang penting diskusinya berjalan dengan sehat dan ilmiah.
mantap om threadnya... ane juga salah satu penggemar Khalid Bin Walid.. sayang ga ada film tentang dia.. coba Hollywood bikin film tentang Khalid.. pasti ane koleksi...