alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50879cd80b75b4e00d000001/keluarga-sun-ang-dan-ang-ho-mengaku-diperas-rp1-m-oleh-jaksa
Peringatan! 
Keluarga Sun Ang dan Ang Ho Mengaku Diperas Rp1 M oleh Jaksa
Keluarga korban dugaan rekayasa hukum yang menimpa Sun Ang dan Ang Ho mengatakan pihaknya juga mengalami pemerasan yang dilakukan oleh pejabat kejaksaan Medan.

Sia Kim, istri Ang Ho, mengatakan telah berusaha sejak setahun lebih menghentikan pemerasan pihak pengadilan dan lepasnya jeratan hukum sang suami atas dugaan pembunuhan di Medan awal tahun lalu.

"Saya minta suami saya dibebaskan. Sampai sekarang, satu setengah tahun, bukti-buktinya dan pelaku sebenarnya nggak ketahuan," kata Sia Kim.

Ang Ho, 34, dan Sun Ang, 51, saat ini mendekam di rutan Kelas 1 kota Medan, Sumatra Utara atas kasus pembunuhan dengan senjata tajam yang menewaskan Kho Wie To, 33, pemilik gudang penitipan kapal dan istrinya, Lim Chi Chi alias Dora Halim, 28.

Ditemani pengurus Kontras, Sumiati dan Sia Kim Tui, istri Sun An, bertemu dengan anggota Wantimpres Albert Hasibuan untuk mengadukan ketidakadilan hukum yang menimpa suami mereka.

"Jaksa hukum Sumatra Utara meminta Rp1 M (1 miliar) untuk dua orang. Enggak saya kasih, langsung dikasih P21 (berkas dinyatakan lengkap)," kata Sia Kim di Kantor Wantimpres, Jakarta, Selasa (23/10).

Dirinya menjelaskan, jaksa juga pernah meminta lagi Rp20 juta untuk membantu pembangunan rumah. Selain itu, ada jaksa yang juga minta Rp12 juta supaya Sun Ang tidak disiksa lagi.

Ia juga mengungkapkan ada perintah dari Brimob di mana dirinya harus mengaku suaminya adalah otak pembunuhan.

"Tapi saya dan suami saya enggak tahu apa-apa. Saya mau dipukulin, saya bilang enggak apa-apa pukul saja. Saya tidak mau disuruh mengaku suami saya otak pelaku," kata Sia Kim.

Sia Kim mengatakan sampai sekarang pelaku sesungguhnya belum juga tertangkap, sehingga ia mencari bantuan keadilan hukum ke Kontras dan Wantimpres.

"Tidak ada bukti yang kuat tapi hakim dan jaksa sudah menuntut seumur hidup. Berarti kan mereka berdua otak pelaku sebenarnya," ujarnya kesal.

Kontras mengatakan hingga kini belum ada hasil forensik yang pernah disampaikan di pengadilan. "BAP direkayasa. Penyiksaan dilakukan setiap malam. Dicekik, ditelanjangin, ditutup matanya, dilakban mulutnya, sampai pingsan terus disiram air," kata Edwin Partogi, koordinator Kebijakan Publik Kontras.

Edwin mengatakan dirinya heran karena tidak ada pistol sebagai alat bukti. Selain itu, pengadilan mengetahui adanya empat orang eksekutor berdasarkan keterangan dari saksi yang mengatakan kejadian tersebut terjadi tanggal 29 Maret 2011 pada jam 21.00.

"Ketika gerbang dibuka, langsung dihadang di tempat (oleh empat eksekutor). Saksinya pembantu rumah korban itu, tukang ojek, dan tukang sate. Mereka pakai helm dan jaket," kata Edwin.

Edwin mengatakan hakim memutuskan vonis seumur hidup tanpa ada eksekutor kepada kedua tersangka.

Kasus salah tangkap dan ketidakadilan hukum di negeri ini membuat terdakwa harus menjadi saksi bisu tidak adanya perjuangan hukum yang dapat membebaskan mereka.

Selain diduga sebagai otak pembunuhan sepasang suami istri di kota Medan, Sun Ang dan Ang Ho ditangkap tanpa surat penahanan pada awal April tahun lalu di Hotel JW Marriott, Medan.

Saat penangkapan, keduanya sedang mengadakan pameran di hotel tersebut dan tidak ada penjelasan yang nyata atas motif proses hukum yang banyak mengandung rekayasa, kekerasan, dan juga pemerasan

gila ni jaksa....
berita terkait..:

Kontras: Banyak Cacat Hukum di Kasus Sun Ang dan Ang Ho
Selasa, 23 Oktober 2012 | 19:05
Istri dari korban rekayasa di Medan, Sun Ang dan Ang Ho menemui anggota Wantimpres Albert Hasibuan di kantor Watimpres Jakarta, Selasa (23/10). Mereka didampingi pengurus Kontras antara lain, Edwin Partogi dan Usman Hamid. (Beritasatu.com/Firdha Novialita)
Istri dari korban rekayasa di Medan, Sun Ang dan Ang Ho menemui anggota Wantimpres Albert Hasibuan di kantor Watimpres Jakarta, Selasa (23/10). Mereka didampingi pengurus Kontras antara lain, Edwin Partogi dan Usman Hamid. (Beritasatu.com/Firdha Novialita) (sumber: BERITASATU.COM)
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) masih terus mendalami kasus dugaan rekayasa hukum yang menimpa Sun Ang dan Ang Ho.

Mereka divonis hukuman mati atas dakwaan pembunuhan senjata api terhadap sepasang suami istri di Medan tahun lalu. Padahal bukan mereka pelakunya.

"Eksekutor enggak ada, saksi enggak ada, bukti enggak ada, motor yang dipakai saat kejadian enggak ada, pistol juga enggak ada. Langsung didakwa pengadilan negeri seumur hidup," ungkap Edwin Partogi, koordinator Kebijakan Publik Kontras, seusai menyambangi kantor Wantimpres, Jakarta, Selasa (23/10).

Menurut Edwin, banyak kecacatan hukum terjadi karena bukti kasus itu hanya berdasarkan berita acara penyidikan (BAP) dan adanya pelanggaran HAM atas tindak kekerasan yang dilakukan aparat polisi terhadap mereka.

Keduanya diduga mengalami proses cacat hukum dan kini telah lebih dari satu tahun lamanya mendekam di Rutan Negara Kelas 1 Medan, Sumatra Utara.

"Sekarang jadi terdakwa dengan vonis penjara seumur hidup oleh hakim. Saat ini sedang proses kasasi," ujar Edwin.

Edwin menyatakan, proses hukum hanya berdasarkan BAP yang didesain dan direkayasa kemudian kedua terdakwa dipaksa tanda tangan serta mengakui melakukan pembunuhan.

"Itu (BAP) jadi dasar yang membuat vonis seumur hidup. Hampir tidak ada saksi yang memberatkan keduanya sebagai otak pembunuhan," ujarnya.

Pendiri Kontras itu mengatakan kasus tersebut mengandung banyak rekayasa hukum dan penyalahgunaan wewenang hukum. Dua korban itu tidak mendapat keadilan hukum dan sudah dilakukan hingga ke Komnas HAM.

"Ditangkap tanpa surat penangkapan. Empat orang diduga eksekutor dan sampai sekarang tidak ditangkap," ungkapnya.

Kontras dan kedua istri terdakwa, Sumiati dan Sia Kim Tui, meminta dukungan kepada anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Albert Hasibuan, agar ikut serta melakukan pemeriksaan oleh kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.

"Pak Albert menyatakan akan terus mencoba upaya terbaik untuk Sun Ang dan Ang Ho," ujar Edwin.

Sementara perancang atau pelaku sebenarnya sampai saat ini tidak tersentuh oleh hukum di pengadilan negeri Sumatra Utara.

"Dengan bukti yang dipaksakan. Mereka ini disiksa. Kami berharap agar Wantimpres mempelajari berkas yang kami ajukan dan mengoordinasikan dengan instransi lain," ungkapnya.

Setelah menemui Albert Hasibuan, dirinya mengatakan harapan besar kepada pihak-pihak terkait untuk mencari jalan terbaik penyelesaian kasus ini.

"Tidak ada upaya dari penyidik untuk mencari tahu kebenarannya. Memang sudah ditargetkan kedua orang ini sebagai otak pembunuhan, tetapi otak di lapangan tidak pernah tahu," kata Edwin menyayangkan.

Sampai sekarang Kontras menyatakan belum ada kejelasan bukti dan saksi yang bisa menghubungkan ada keterkaitan terdakwa dengan pem
bunuhan pemilik gudang penitipan kapal PT Putra Berombang Perkasa itu.

sumber : http://www.beritasatu.com/hukum/7925...an-ang-ho.html
waduh kasihan banget ya klo memang bkn mereka pelakunya ....
Ini kasus korban suami-istri diberondong AK-47 yah?

F*CK YOU NEW KASKUS!

shit happens..especially with laws here..without a proof a couple can be put in jail and extorted..emoticon-Gila
Quote:Original Posted By 112358132134
Ini kasus korban suami-istri diberondong AK-47 yah?


Ah yang boneng gan? Emangnya si pelaku dapet dari mana senapan serbu sejuta umat itu?
yg ginian mah udah sering kali...makanya disini banyak banget yg mendewakan si AA, udh ane bilang jaksa ama polkis tu 11-12 emoticon-Nohope