alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000017020779/mirispak-presiden-sby-kami-ingin-sekolah
[miris]Pak Presiden SBY, Kami Ingin Sekolah!
[miris]Pak Presiden SBY, Kami Ingin Sekolah!
Remigius Tau (baju merah) sambil dan Rofinus Mba (13) saat hendak menjajakan pisang masak ke pegawai yang sedang menata Lapangan Motang Rua, tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ceramah kepada 20.000 umat Katolik Manggarai pada perayaan 100 Gereja Katolik Manggarai.



RUTENG, KOMPAS.com — Remigius Tau (10) dan Rofinus Mba (13) dari Desa Lalong, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terpaksa menjadi pedagang pisang keliling di Kota Ruteng. Kedua bocah ini sebenarnya ingin sekolah. Namun, karena orangtuanya tidak punya biaya, keinginan tersebut pun dipendam.

Remigius Tau, warga Kampung Lalong, Desa Lalong, setiap pagi membawa pisang ambon untuk dijual di Kota Ruteng. Ia berjalan kaki ke Kota Ruteng menjajakan pisang ke semua warga di Kota Ruteng.

Remigus Tau sudah enam tahun menekuni pekerjaan menjual pisang di Kota Ruteng. Dia tidak bisa bersekolah karena orangtuanya tidak mampu. Kini, putra kedua dari enam bersaudara pasangan Stefanus Darung dan Mama Genota Muel malah menjadi penopang hidup keluarga dengan menjual pisang.

"Saya tahu Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung di Kota Ruteng. Saya diberi tahu oleh om saya bahwa ada kunjungan Presiden RI," tuturnya dengan polos kepada Kompas.com, saat ditemui di bawah pohon beringin dekat Lapangan Motang Rua di depan Kantor Bupati Manggarai. Kebetulan Kantor Bupati Manggarai akan menjadi tempat Presiden SBY memberikan ceramah kepada 20.000 umat Katolik dan umat lainnya pada Jumat (19/10/2012).

Sambil memikul dua tandan pisang ambon yang sudah masak, Remigius Tau mencoba menjajakan pisang ke pegawai yang sedang menata panggung persiapan kunjungan Presiden SBY di depan Kantor Bupati Manggarai. Ternyata pisangnya laku. Beberapa pegawai menghampiri Remigius, lalu membeli pisangnya.

"Saya setiap hari datang dari Kampung Lalong untuk menjual pisang ke Kota Labuan Bajo, dan sore harinya saya pulang ke kampung sambil membawa uang hasil jualan saya.... Dalam hati saya, saya ingin sekolah," tuturnya sambil menundukkan kepala.

Teman jualannya, Rofinus Mba dan Wihelmus, yang juga dari Kampung Lalong, juga tidak bisa bersekolah. Keduanya pun memilih berjualan pisang ambon.

"Kami ingin sekolah dan kami mohon dengan hormat perhatian dari Pak Presiden pada anak-anak yang tidak sekolah di Kabupaten Manggarai," ucap Rofinus diamini Remigius dan Wihelmus

kompas

miris y gan gaji PNS naik,DPR naik,BUMN naik,presiden naik..tapi masih ada rakyat Indonesia tidak bisa sekolahemoticon-Berduka (S)
masih banyak anak2 yg seperti mereka,
perhatian pemerintah emang agag kurang terhadap pemenuhan pendidikan ke setiap kalangan masyarakat.
cuman masyarakat berduit aja yg bisa sekolah dgn nyaman.
wajib belajar 9 tahun, bahkan sekarang katanya 12 tahun,, itu hanya mitos gan.. emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
duit sitaan koruptor harusnya langsung aja digunakan buat yg langsung bermanfaat untuk masyarakat seperti bangun sekolah, ketimbang ngga jelas kemana larinya itu uang sitaan
itu kepala daerahnya kemana ???percuma ada kepala daerah...,,,APBD kan bersumber dari APBN. itu ada tuh anggarannya yang dipake oleh kepala daerah saat kampanye...koar-koar sekolah gratis,,,tagih dong,,,masak..apa-apa SBY....emoticon-Hammer (S)
dananya dah abis buat gaji pns gan emoticon-Najis
maaf dek uang utk sekolahnya sudah untuk jalan2 pejabat & friends
Quote:Original Posted By wasntmee
[miris]Pak Presiden SBY, Kami Ingin Sekolah!
Remigius Tau (baju merah) sambil dan Rofinus Mba (13) saat hendak menjajakan pisang masak ke pegawai yang sedang menata Lapangan Motang Rua, tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ceramah kepada 20.000 umat Katolik Manggarai pada perayaan 100 Gereja Katolik Manggarai.



RUTENG, KOMPAS.com — Remigius Tau (10) dan Rofinus Mba (13) dari Desa Lalong, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terpaksa menjadi pedagang pisang keliling di Kota Ruteng. Kedua bocah ini sebenarnya ingin sekolah. Namun, karena orangtuanya tidak punya biaya, keinginan tersebut pun dipendam.

Remigius Tau, warga Kampung Lalong, Desa Lalong, setiap pagi membawa pisang ambon untuk dijual di Kota Ruteng. Ia berjalan kaki ke Kota Ruteng menjajakan pisang ke semua warga di Kota Ruteng.

Remigus Tau sudah enam tahun menekuni pekerjaan menjual pisang di Kota Ruteng. Dia tidak bisa bersekolah karena orangtuanya tidak mampu. Kini, putra kedua dari enam bersaudara pasangan Stefanus Darung dan Mama Genota Muel malah menjadi penopang hidup keluarga dengan menjual pisang.

"Saya tahu Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung di Kota Ruteng. Saya diberi tahu oleh om saya bahwa ada kunjungan Presiden RI," tuturnya dengan polos kepada Kompas.com, saat ditemui di bawah pohon beringin dekat Lapangan Motang Rua di depan Kantor Bupati Manggarai. Kebetulan Kantor Bupati Manggarai akan menjadi tempat Presiden SBY memberikan ceramah kepada 20.000 umat Katolik dan umat lainnya pada Jumat (19/10/2012).

Sambil memikul dua tandan pisang ambon yang sudah masak, Remigius Tau mencoba menjajakan pisang ke pegawai yang sedang menata panggung persiapan kunjungan Presiden SBY di depan Kantor Bupati Manggarai. Ternyata pisangnya laku. Beberapa pegawai menghampiri Remigius, lalu membeli pisangnya.

"Saya setiap hari datang dari Kampung Lalong untuk menjual pisang ke Kota Labuan Bajo, dan sore harinya saya pulang ke kampung sambil membawa uang hasil jualan saya.... Dalam hati saya, saya ingin sekolah," tuturnya sambil menundukkan kepala.

Teman jualannya, Rofinus Mba dan Wihelmus, yang juga dari Kampung Lalong, juga tidak bisa bersekolah. Keduanya pun memilih berjualan pisang ambon.

"Kami ingin sekolah dan kami mohon dengan hormat perhatian dari Pak Presiden pada anak-anak yang tidak sekolah di Kabupaten Manggarai," ucap Rofinus diamini Remigius dan Wihelmus

kompas

miris y gan gaji PNS naik,DPR naik,BUMN naik,presiden naik..tapi masih ada rakyat Indonesia tidak bisa sekolahemoticon-Berduka (S)


emang di pimpin presiden yang satu ini indonesia semakin ancur kog gan......
Pendidikan buat anak negeri sendiri, buat anak bangsa sendiri, jangan dibebankan biaya ina itu, kasihan yang ga punya duit.
kemarin peraasaan ada berita mengenai "YANG SEKOLAH SAJA" anak-anak tertidur dengan lelapnya coba bayangkan kisah tersebut terukir manis disaat syair merdunya berkumandang emoticon-Big Grin protocooler notebook pun akhirnya disomasi "tolong bangunkan ya kakak adik ,sekarang waktunya meronda ,sudah siang emoticon-Embarrassment emoticon-Malu
untuk yang di ibu kota aja masih banyak kasus anak gak sekolah,
apalagi di daerah2 pedalaman yang jelas2 gak terekspos oleh media,
buat pejabat mah yg penting anaknya bisa sekolah keluar negri yg mahal walaupun otaknya ga mampu, tp yg penting anak gue lulusan luar negri walau jurusan ato uni abal2x emoticon-Big Grin, bisa foya2x, punya simpenan banyak, "istri" banyak, mobil rumah tanah juga banyak
simpenan di luar negri, jadi kalo ada apa2x bisa kabur keluar negri dan hidup aman tentram disana emoticon-Big Grin

kalo ditanya tentang rakyat?
hah? apaan tuh? emoticon-Amazed
yang nggak mampu, pengen sekolah..
yg mampu sekolah, eh malah tawuran..
Kenyataan di lapangan tidak seindah retorika diatas podium
“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh NEGARA.” –UUD pasal 34 ayat (1)

pasal tersebut hanyalah mitos dan fiksi belaka.

jawaban presiden : " Sebentar ya nak, anggarannya kita subsidi BBM dulu " emoticon-Big Grin