alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016933768/waspada-gurita-ical-darimana-bakrie-dapat-uang-beli-saham-berau
Thumbs down 
{Waspada Gurita Ical!} Darimana Bakrie Dapat Uang Beli Saham Berau?
Dari mana Bakrie dapat uang beli saham Berau?
Reporter: Harwanto Bimo Pratomo
Sabtu, 13 Oktober 2012 18:47:00

Rencana tukar guling dan pembelian 84,7 persen saham PT Berau Coal Energy oleh Bakrie & Brothers menyisakan pertanyaan, dari manakah dana pembelian tersebut berasal? Tak hanya itu, pihak otoritas pengawas saham, Bapepam-LK, juga mempunyai pertanyaan yang sama.

Pasca Bumi Plc menghembuskan isu dugaan buruknya tata kelola di PT Bumi Resources, Grup Bakrie mengajukan proposal pelepasan 23,8 persen saham Bumi Plc dan ditukar dengan 10,1 persen saham Bumi Resources yang sebelumnya milik Bumi Plc. Selain itu Bakrie juga akan membeli 84,7 persen saham Berau milik Bumi Plc. Bakrie mengatakan akan membeli saham ini secara tunai dan dilunasi selama enam bulan ke depan.

"Musti dipertanyakan dari mana Bakrie dapat duit untuk membeli saham Berau. Apakah dia punya pundi-pundi cadangan?" tanya analis saham Yanuar Rizky saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Sabtu (13/10).

Di sisi lain, menurut Yanuar, dengan adanya penghembusan isu bahwa Bumi Resources mengalami penyimpangan laporan keuangan, diperkirakan Bakrie akan sulit memperoleh pendanaan. Dengan begitu, kemampuan Bakrie untuk melakukan tukar guling dan membeli saham Berau patut dipertanyakan.

"Keputusan untuk mengaudit pembukuan PT Bumi Resources datang dari perusahaan atau Rothschild sendiri. Ini yang menjadi indikasi dan perlu diperjelas dahulu," ujarnya.

Menurutnya isu ini disinyalir sebagai bentuk pembentukan opsi tidak percaya dari lembaga keuangan kepada perusahaan keluarga Bakrie tersebut. Hal ini akan membuat pengajuan kredit dari Bakrie akan ditolak.

"Ini yang menjadi perhatian. Bakrie berpotensi tidak bisa mengajukan kredit seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya," tuturnya. Berdasarkan laporan keuangan Bakrie & Brothers, perusahaan tersebut per 30 Juni masih memiliki utang sekitar Rp 10 triliun.

Source

Wow, hutangnya Bakrie aja sudah 10T siapa yang bakal berani memberi kredit ya? emoticon-Matabelo
yang jelas jangan berpikiran buruk dulu lah

pat-pat-gulipat

Nanti pasti ada jalan.
Bakrie "Kena Batunya" di London
Minggu, 14 Oktober 2012 | 06:00

Pertarungan Bakrie, salah satu orang terkuat di Indonesia dengan Rotschild di Bumi Plc, perusahaan yang tercatat di bursa London, akhirnya dimenangkan klan Rotschild.

Aburizal Bakrie yang digadang-gadang menjadi kandidat presiden 2014 mendatang, memutuskan untuk hengkang dari bursa London dengan mengambilalih kembali seluruh aset yang dimiliki Bumi Plc.

Bumi Plc dikuasai konglomerasi Indonesia dan Inggris. Grup Bakrie menguasai sekitar 23,8 persen, Recapital melalui Bukit Mutiara 9,8 persen, Samin Tan melalui PT Borneo Lumbung Energy Tbk 23,8 persen, Nat Rothschild 11 persen, dan publik 31,6 persen.

Keluarga Rotschild merupakan salah satu taipan perbankan Inggris yang sudah mendunia. Mereka dikenal sebagai financial engineer yang kerap memberikan pinjaman kepada korporat-korporat global. Kebesaran Rothschild tercermin dari sepak terjang Nathaniel Rothschild, generasi keempat dinasti asal Inggris tersebut.

Pendirian Vallar Plc, yang berubah nama menjadi Bumi Plc adalah salah satu aksi Nathaniel yang spektakuler. Perusahaan investasi yang tercatat di London Stock Exchange (LSE) 9 Juni 2010 lalu itu didirikan untuk mengakuisisi perusahaan tambang batubara dan bijih besi. Lewat IPO, Nathaniel meraih dana segar hingga US$1,1 miliar. Dana yang terbilang besar mengingat Vallar Plc sebenarnya cuma perusahaan kerang alias tidak memiliki aset.

Juni 2011 lalu, Nathaniel juga melakukan aksi serupa mendirikan Vallares Plc dengan nilai IPO sebesar US$ 2,2 miliar. Sama seperti Vallar Plc, Vallares dilepas sahamnya kepada publik tanpa memiliki aset. Jika Vallar Plc berkutat pada sektor batubara, Vallares fokus pada bisnis minyak dan gas.

Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki yang bernama Genel Energy. Selanjutnya, Vallares berubah nama menjadi Genel Energy Plc pada November dan Nathaniel menjadi pemilik 50 persen sahamnya.

Perkimpoian Rotschild dan Bakrie terjadi di November 2011. Saat itu, Vallar Plc mengumumkan membeli saham dua perusahaan tambang batubara asal Indonesia, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Vallar berganti nama menjadi Bumi Plc, dengan kepemilikan saham 29 persen di BUMi dan 85 persen di BRAU. Rothschild pun mencetak US$3 miliar dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU.

Tak kalah pamornya adalah Aburizal Bakrie. Salah satu orang terkaya di Indonesia ini menjabat ketua umum Partai Golkar, dua besar partai penguasa di Indonesia. Sepak terjang kelompok Bakrie memang kerap menimbulkan kontroversi.

Bakrie memang dikenal licin bongkar pasang portofolio bisnis. Ekspansi usahanya, dilakukan dengan utang, gali lubang tutup lubang. Bahkan sangking licinnya, kasus lumpur Lapindo yang merupakan kesalahan korporasi Lapindo Minarak (milik Bakrie), bisa "memaksa" pemerintah mendanai dampak lumpur dengan anggaran negara alias uang rakyat.

Aksi fenomenal Bakrie juga sempat mendapat kecaman lembaga swadaya masyarakat global. London Metal Mining (LMN) mengecam aktifitas tambang perusahaan batubara milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Kalimantan Timur. Penambangan anak usaha BUMI, Kaltim Prima Coal (KPC) dituding melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena telah merusak lingkungan dan merusak budaya serta masyarakat setempat. BUMI juga dituding melanggar aturan dengan melakukan penggelapan pajak.


Cerai dengan Rotschild
Malang melintang di Indonesia, keluarga Bakrie kena batunya di bursa London. Menghadapi "Mafia Yahudi", Bakrie bertekuk lutut harus hengkang dari Bumi Plc.

Benih-benih perceraian, Bakrie dan Rotschild di Bumi Plc sudah terlihat sejak tahun 2011, atau satu tahun sejak mereka memutuskan tukar guling saham di 2010. Manuver-manuver Bakrie di Bumi Plc kerap membuat gerah Nathaniel Rotschild.

Di 2011, pria yang akrab disapa Nat ini meminta pembersihan dalam manajemen keuangan BUMI menyusul keinginan percepatan pembayaran utang. Namun kenginan Nathaniel membersihkan manajemen BUMI tidak cukup kuat melawan kelompok Bakrie.

Justru perselisihan tersebut berujung dengan didepaknya Nathaniel dari kursi co-chairman Bumi Plc dan menjadi direktur independen. Sementara pengganti Nathaniel adalah Indra Bakrie, adapun Samin Tan menempati posisi chairman.

Nathaniel juga pernah mengirim surat kepada Presiden Direktur BUMI Ari Hudaya, meminta agar dana-dana investasi BUMI segera dicairkan untuk membayar utang. Surat tersebut merespons penundaan pencairan dana investasi BUMI sebesar US$423 juta (Rp2,3 triliun) pada PT Recapital Asset Management.

Padahal jika dana tersebut cair, BUMI bisa mempercepat penyelesaian utangnya ke CIC senilai US$638 juta (Rp6,38 triliun) yang jatuh tempo pada Oktober 2012 mendatang. Alhasil, bisa mengurangi beban bunga dan utang perseroan yang mencapai Rp30 triliun hingga 2014. Jika beban keuangan BUMI berkurang, tentu akan menguntungkan induk usahanya Bumi Plc.

Yang terbaru adalah Rotschild meminta audit investigasi BUMI dengan tuduhan penyimpangan dana. Dugaan muncul setelah auditor Bumi Plc, Price Waterhouse Coopers LLP, menurunkan dana pengembangan BUMI sebesar US$247 juta dan biaya eksplorasi PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai US$390 juta menjadi nol dalam laporan keuangan konsolidasi Bumi Plc 2011. Konflik tersebut membuat Ari Sapta Hudaya yang merupakan representasi Group Bakrie di jajaran direksi Bumi Plc mengundurkan diri dari jabatan CEO.

Namun Bakrie punya jawaban lain soal "perceraiannya" dengan Rotschild di Bumi Plc. Senior Vice President Bakrie Group, Christoper Fong mengungkapkan tindakan Rotschild merugikan kelompok Bakrie.

"Tindakan yang dilakukan sebagian pemegang saham Bumi Plc merugikan perusahaan, terutama Grup Bakrie. Ini yang membuat Bakrie meminta balik saham BUMI dan mengembalikan saham Bumi Plc," kata kepada Beritasatu.com, Kamis (11/10).

Dia mengatakan, Rotschild ingin menguasai dan mengambilalih saham-saham milik keluarga Bakrie. "Kami sudah tahu rencana itu dari awal," kata Fong.

Delam beberapa kali kesempatan, Rotschild memang kerap melakukan manuver. Pada Oktober tahun 2011, Rothschild mengirim surat terbuka melalui media massa kepada Ari S. Hudaya (waktu itu CEO Bumi Plc) mengenai tata kelola perusahaan. Tindakan itu dinilai merugikan Bumi Plc karena berdampak pada penurunan harga saham perusahaan di bursa London.

Fong juga mengungkapkan, aset batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang memiliki wilayah operasi di Tanah Air sebaiknya dimiliki dan dikuasai putra bangsa Indonesia, bukan oleh asing.

Keluarga Bakrie akan memproteksi BUMI sebagai aset national bagi Indonesia. "Bakrie tidak akan melepaskan BUMI dikuasai oleh seseorang yang bukan dari Indonesia," kata Fong.

Kini Bakrie harus gigit jari. Niat awal ingin memperluas ekspansi usahanya melalui kendaraan Bumi Plc, namun apa daya, harus rela hengkang dari perusahaan di bursa London tersebut. Jika di Indonesia, Bakrie leluasa melakukan manuver bisnisnya, kini di Inggris Bakrie tidak berdaya.
Penulis: Whisnu Bagus

Source

Gimana rasanya kena batunya, pak Ical? emoticon-Matabelo

Hikmah lagi kah? emoticon-Matabelo
alamak hutang 10 T emoticon-Hammer2
uangnya dapat dari forward kalo jadi Presiden RI emoticon-Big Grin

makanya makin gelap mata aja dia mao jadi presiden
Pemerintah aja bisa dibodoh2in buat klaim Lapindo bencana alam, ntar kalo dia yang jadi pemerintah, habislah natural resources indo dijadikan jaminanemoticon-Big Grin
Uangnya dari ngegeblekin calon investor tajir diluar sono kalo dia bakal menang jadi Presiden RI, tuh investor dikasi blablabla.....seraya menyodorkan data data versi dia .....

Yahhh trik trik KPSI ala Syalala Mataitil lah....
bakri bangkrut, kayanya ga bakal deh.
ga ada tanda tandanya juga.
wah tukang cuci uang laku nih emoticon-Big Grin
lumayan seru lah sinetronnya bakrie yg 1 ini..
Utang Menumpuk, Bakrie Harus Jual Aset?
Penulis : Didik Purwanto | Rabu, 10 Oktober 2012 | 10:02 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga analis independen Kata Data mencatat, utang 10 perusahaan terafiliasi dengan Bakrie Brothers menumpuk. Solusinya, perseroan diminta untuk menjual asetnya untuk melunasi utang-utangnya.

Direktur Eksekutif Kata Data, Metta Dharmasaputra, menjelaskan, utang rupiah 10 perusahaan grup Bakrie hingga kuartal I-2012 mencapai Rp 21,4 triliun dengan utang jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp 7,1 triliun. Adapun utang dalam dollar AS mencapai 5,7 miliar dollar AS dan jatuh tempo tahun ini sebesar 275 juta dollar AS.

"Kalau mau melunasi utang-utangnya, grup Bakrie hanya memiliki satu cara, yaitu menjual aset-asetnya," kata Metta kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Namun, Metta menyangsikan grup Bakrie mau melepas aset-aset yang digenggamnya selama ini. Alasannya, selama ini aset-aset tersebut menjadi jaminan untuk mendapatkan utang dari kreditor lain.

Metta menjelaskan, menurut laporan keuangan kuartal I-2012, ada tiga perusahaan Bakrie dengan utang terbesar, yakni Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) yang memiliki total utang Rp 8,6 triliun dengan total jatuh tempo 2012 Rp 2,3 triliun. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat berutang 3,69 miliar dollar AS dengan total jatuh tempo pada 2012 62 juta dollar AS. PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berutang 295 juta dollar AS dengan total jatuh tempo 12 juta dollar AS.

Tingginya rasio utang grup Bakrie tersebut membuat harga saham sejumlah perusahaan Grup Bakrie di bursa Jakarta dan London terus tertekan sejak awal 2011. Kata Data mencatat saham BUMI turun sebanyak 77 persen dan saham BNBR turun 29 persen. Sementara itu, harga saham Bumi Plc di London merosot 74 persen dan saham BRMS anjlok sebesar 36 persen.

Menurut Metta, Bakrie telah beberapa kali menghadapi ancaman default. Pada 2011, Bakrie melakukan pembayaran sebagian dari total utang senilai 1,35 miliar dollar AS. Bakrie menjual separuh kepemilikan Bumi ke Borneo Lumbung Energi dan Metal. Pada 2012, Credit Suisse Group meminta Bakrie Group membayar 100 juta dollar AS.

"Tambahan jaminan (top up) setelah nilai saham Bumi Plc yang dijadikan jaminan untuk pinjaman Bakrie anjlok di bursa London," ucapnya.

Sementara total utang ke Credit Suisse yang tersisa sebesar 440 juta dollar AS. "Anehnya, bagaimanapun kondisi Bakrie sejak dulu hingga kini bahkan sampai anjlok sekalipun, grup Bakrie selalu mendapat kreditor dari pihak lain. Itu dilakukan sepanjang asetnya masih bagus. Jadi, isinya refinancing saja," katanya.

Source

Jadi modusnya memang gali lubang tutup lubang dong. emoticon-Matabelo
Keluarga Bakrie akan memproteksi BUMI sebagai aset national bagi Indonesia. "Bakrie tidak akan melepaskan BUMI dikuasai oleh seseorang yang bukan dari Indonesia," kata Fong.-----> luar biasa ane terharu dengernya

btw, bagaimana LAPINDO bakrie?
btw, bagaimana nasib nasabah Bakrie Life
btw, bagaimana saham newmont yg digadein udah ditebos belon?

emoticon-Cape d... (S)emoticon-Cape d... (S)
duit segitu bisa bwt rakyat miskin kenyang gak ya?
moga2 diberi petunjuk. apa coba, gak nyambung?
lha reputasi bakri kan emang reputasi tukang putar uang utang emoticon-Bingung

dia sendiri yang bilang di otobiografinya.. pernah lebih miskin dari gelandangan karena hutangnya menumpuk emoticon-Malu (S)

sepertinya bakrie menggunakan dana operasional perusahaan untuk modal politik.. mangkanya kacau gini perusahaannya emoticon-Ngakak
waduh kurang ngerti masalah saham atau utang piutang gan, yang ane tau bakrie punya utang banyak aja dan hutang itu harus di bayar kalo ga di bayar paling bangkrut emoticon-Blue Guy Peace
Quote:Original Posted By not4given
lha reputasi bakri kan emang reputasi tukang putar uang utang emoticon-Bingung

dia sendiri yang bilang di otobiografinya.. pernah lebih miskin dari gelandangan karena hutangnya menumpuk emoticon-Malu (S)

sepertinya bakrie menggunakan dana operasional perusahaan untuk modal politik.. mangkanya kacau gini perusahaannya emoticon-Ngakak

Salah satu penyebab pembayaran ganti rugi korban lumpur Lapindo dan nasabah Bakrie Life gak selesai sampai sekarang ya. emoticon-Matabelo


Bakrie Plantations Bubarkan Anak Usahanya di Singapura
Widi Agustian - Okezone
Kamis, 11 Oktober 2012 08:53 wib

JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) telah melakukan pembubaran anak usahanya, International Rubber Investment Pte Ltd. Perusahaan ini berdomisili di Singapura.

"Pembubaran tersebut telah dilakukan pada 27 September 2012 berdasarkan konfirmasi dari agent corporate secretary yang menangani hal ini di Singapura," kata Corporate Secretary UNSP Fitri Barnas, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/10/2012).

International Rubber Investment, lanjut dia, didirikan sebagai suatu special purposes vehicle untuk suatu rencana transaksi tertentu. "Dikarenakan satu dan lain hal, rencana transaksi dimaksud tidak dilanjutkan dan oleh karenanya perlu dilakukan pembubarannya," jelas dia.

Anak usaha Grup Bakrie ini mencatatkan laba sebesar Rp3,749 miliar atau sebesar Rp0,27 per lembar. Laba perseroan ini turun 99 persen dibandingkan dengan labanya di periode yang sama tahun lalu Rp178,181 miliar.

Penjualan neto perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan ini mengalami penurunan dari Rp2,303 triliun di 2011 menjadi Rp1,830 triliun di periode ini.

Penurunan penjualan ini, tidak bisa menutupi usaha perseroan yang mulai bisa mengurangi beban. Laba sebelum pajak perseroan telah turun drastis dari RpRp546,4 miliar ke Rp77,373 miliar di posisi ini. (wdi)

Source

Dahsyat sekali labanya bisa turun 99%. emoticon-Matabelo
kalo si bakrie jadi presiden dijamin hutang lunas
kalo ga jadi presiden dia dan keluarga besarnya bangkrut
jangan salahkan Sri Mulyani kalo dulu dia jadi musuh berbuyutan si tukang roti
Quote:Original Posted By soipon
Bakrie "Kena Batunya" di London
Minggu, 14 Oktober 2012 | 06:00

Pertarungan Bakrie, salah satu orang terkuat di Indonesia dengan Rotschild di Bumi Plc, perusahaan yang tercatat di bursa London, akhirnya dimenangkan klan Rotschild.

Aburizal Bakrie yang digadang-gadang menjadi kandidat presiden 2014 mendatang, memutuskan untuk hengkang dari bursa London dengan mengambilalih kembali seluruh aset yang dimiliki Bumi Plc.

Bumi Plc dikuasai konglomerasi Indonesia dan Inggris. Grup Bakrie menguasai sekitar 23,8 persen, Recapital melalui Bukit Mutiara 9,8 persen, Samin Tan melalui PT Borneo Lumbung Energy Tbk 23,8 persen, Nat Rothschild 11 persen, dan publik 31,6 persen.

Keluarga Rotschild merupakan salah satu taipan perbankan Inggris yang sudah mendunia. Mereka dikenal sebagai financial engineer yang kerap memberikan pinjaman kepada korporat-korporat global. Kebesaran Rothschild tercermin dari sepak terjang Nathaniel Rothschild, generasi keempat dinasti asal Inggris tersebut.

Pendirian Vallar Plc, yang berubah nama menjadi Bumi Plc adalah salah satu aksi Nathaniel yang spektakuler. Perusahaan investasi yang tercatat di London Stock Exchange (LSE) 9 Juni 2010 lalu itu didirikan untuk mengakuisisi perusahaan tambang batubara dan bijih besi. Lewat IPO, Nathaniel meraih dana segar hingga US$1,1 miliar. Dana yang terbilang besar mengingat Vallar Plc sebenarnya cuma perusahaan kerang alias tidak memiliki aset.

Juni 2011 lalu, Nathaniel juga melakukan aksi serupa mendirikan Vallares Plc dengan nilai IPO sebesar US$ 2,2 miliar. Sama seperti Vallar Plc, Vallares dilepas sahamnya kepada publik tanpa memiliki aset. Jika Vallar Plc berkutat pada sektor batubara, Vallares fokus pada bisnis minyak dan gas.

Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki yang bernama Genel Energy. Selanjutnya, Vallares berubah nama menjadi Genel Energy Plc pada November dan Nathaniel menjadi pemilik 50 persen sahamnya.

Perkimpoian Rotschild dan Bakrie terjadi di November 2011. Saat itu, Vallar Plc mengumumkan membeli saham dua perusahaan tambang batubara asal Indonesia, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Vallar berganti nama menjadi Bumi Plc, dengan kepemilikan saham 29 persen di BUMi dan 85 persen di BRAU. Rothschild pun mencetak US$3 miliar dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU.

Tak kalah pamornya adalah Aburizal Bakrie. Salah satu orang terkaya di Indonesia ini menjabat ketua umum Partai Golkar, dua besar partai penguasa di Indonesia. Sepak terjang kelompok Bakrie memang kerap menimbulkan kontroversi.

Bakrie memang dikenal licin bongkar pasang portofolio bisnis. Ekspansi usahanya, dilakukan dengan utang, gali lubang tutup lubang. Bahkan sangking licinnya, kasus lumpur Lapindo yang merupakan kesalahan korporasi Lapindo Minarak (milik Bakrie), bisa "memaksa" pemerintah mendanai dampak lumpur dengan anggaran negara alias uang rakyat.

Aksi fenomenal Bakrie juga sempat mendapat kecaman lembaga swadaya masyarakat global. London Metal Mining (LMN) mengecam aktifitas tambang perusahaan batubara milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Kalimantan Timur. Penambangan anak usaha BUMI, Kaltim Prima Coal (KPC) dituding melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena telah merusak lingkungan dan merusak budaya serta masyarakat setempat. BUMI juga dituding melanggar aturan dengan melakukan penggelapan pajak.


Cerai dengan Rotschild
Malang melintang di Indonesia, keluarga Bakrie kena batunya di bursa London. Menghadapi "Mafia Yahudi", Bakrie bertekuk lutut harus hengkang dari Bumi Plc.

Benih-benih perceraian, Bakrie dan Rotschild di Bumi Plc sudah terlihat sejak tahun 2011, atau satu tahun sejak mereka memutuskan tukar guling saham di 2010. Manuver-manuver Bakrie di Bumi Plc kerap membuat gerah Nathaniel Rotschild.

Di 2011, pria yang akrab disapa Nat ini meminta pembersihan dalam manajemen keuangan BUMI menyusul keinginan percepatan pembayaran utang. Namun kenginan Nathaniel membersihkan manajemen BUMI tidak cukup kuat melawan kelompok Bakrie.

Justru perselisihan tersebut berujung dengan didepaknya Nathaniel dari kursi co-chairman Bumi Plc dan menjadi direktur independen. Sementara pengganti Nathaniel adalah Indra Bakrie, adapun Samin Tan menempati posisi chairman.

Nathaniel juga pernah mengirim surat kepada Presiden Direktur BUMI Ari Hudaya, meminta agar dana-dana investasi BUMI segera dicairkan untuk membayar utang. Surat tersebut merespons penundaan pencairan dana investasi BUMI sebesar US$423 juta (Rp2,3 triliun) pada PT Recapital Asset Management.

Padahal jika dana tersebut cair, BUMI bisa mempercepat penyelesaian utangnya ke CIC senilai US$638 juta (Rp6,38 triliun) yang jatuh tempo pada Oktober 2012 mendatang. Alhasil, bisa mengurangi beban bunga dan utang perseroan yang mencapai Rp30 triliun hingga 2014. Jika beban keuangan BUMI berkurang, tentu akan menguntungkan induk usahanya Bumi Plc.

Yang terbaru adalah Rotschild meminta audit investigasi BUMI dengan tuduhan penyimpangan dana. Dugaan muncul setelah auditor Bumi Plc, Price Waterhouse Coopers LLP, menurunkan dana pengembangan BUMI sebesar US$247 juta dan biaya eksplorasi PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai US$390 juta menjadi nol dalam laporan keuangan konsolidasi Bumi Plc 2011. Konflik tersebut membuat Ari Sapta Hudaya yang merupakan representasi Group Bakrie di jajaran direksi Bumi Plc mengundurkan diri dari jabatan CEO.

Namun Bakrie punya jawaban lain soal "perceraiannya" dengan Rotschild di Bumi Plc. Senior Vice President Bakrie Group, Christoper Fong mengungkapkan tindakan Rotschild merugikan kelompok Bakrie.

"Tindakan yang dilakukan sebagian pemegang saham Bumi Plc merugikan perusahaan, terutama Grup Bakrie. Ini yang membuat Bakrie meminta balik saham BUMI dan mengembalikan saham Bumi Plc," kata kepada Beritasatu.com, Kamis (11/10).

Dia mengatakan, Rotschild ingin menguasai dan mengambilalih saham-saham milik keluarga Bakrie. "Kami sudah tahu rencana itu dari awal," kata Fong.

Delam beberapa kali kesempatan, Rotschild memang kerap melakukan manuver. Pada Oktober tahun 2011, Rothschild mengirim surat terbuka melalui media massa kepada Ari S. Hudaya (waktu itu CEO Bumi Plc) mengenai tata kelola perusahaan. Tindakan itu dinilai merugikan Bumi Plc karena berdampak pada penurunan harga saham perusahaan di bursa London.

Fong juga mengungkapkan, aset batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang memiliki wilayah operasi di Tanah Air sebaiknya dimiliki dan dikuasai putra bangsa Indonesia, bukan oleh asing.

Keluarga Bakrie akan memproteksi BUMI sebagai aset national bagi Indonesia. "Bakrie tidak akan melepaskan BUMI dikuasai oleh seseorang yang bukan dari Indonesia," kata Fong.

Kini Bakrie harus gigit jari. Niat awal ingin memperluas ekspansi usahanya melalui kendaraan Bumi Plc, namun apa daya, harus rela hengkang dari perusahaan di bursa London tersebut. Jika di Indonesia, Bakrie leluasa melakukan manuver bisnisnya, kini di Inggris Bakrie tidak berdaya.
Penulis: Whisnu Bagus

Source

Gimana rasanya kena batunya, pak Ical? emoticon-Matabelo

Hikmah lagi kah? emoticon-Matabelo





si bakrie otak yahudi kena batunya, dan akhirnya kena gulung sama the real yahudi emoticon-Big Grin


si nat mau ditipu ama si dagu akhirnya malah si dagu yg kena gulung, bakrie orang indo otak yahudi fraud dimana2 emoticon-Busa:
yang 10T itu duit semua tuh emoticon-Najis