alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016924538/lapangan-bola-di-jakarta-cuma-18-anak-anak-ujungnya-tawuran
icon-hot-thread
Lapangan bola di Jakarta cuma 18, anak-anak ujungnya tawuran
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menilai anak-anak dan remaja sekarang ini kehilangan ruang untuk berinteraksi. Lapangan olahraga kurang sehingga mereka lebih sering ke mal. Muncul kecemburuan sosial yang bermuara pada tawuran.

"Sekarang ini, jumlah lapangan sepak bola di Jakarta cuma 18 unit. Anak-anak ini kalau mau main (olahraga) di mana? Akhirnya, setiap pulang sekolah kita lihat mereka berkumpul di mal-mal," kata mantan Menpora Adhyaksa Dault di Semarang, Sabtu (13/10). Dia menyampaikan kuliah umum bertema "Aku, Kampus, dan Masa Depan Bangsaku" di Universitas Negeri Semarang.

Akibatnya, kata dia, di antara anak-anak ini terjadi kecemburuan sosial, di satu sisi mereka yang anak orang berduit menampilkan kekayaannya, seperti mobil, sementara sebagian lainnya dari keluarga tidak berpunya.

"Melihat kenyataan semacam ini, anak-anak menjadi terpicu gejala sosial yang mengakibatkan mereka melakukan pelampiasan, seperti menyalahgunakan obat-obatan terlarang, tawuran, dan sebagainya," katanya.

Ia menekankan bahwa potensi pemuda sebenarnya sangat dahsyat, karena ibarat pensil mereka yang menjadi ujungnya, di antaranya kalangan mahasiswa kampus yang menjadi ujung tombak gerakan perubahan.

"Seringkali kita mengatakan pemuda hari ini akan menjadi pemimpin masa datang. Namun, kita melupakan proses-proses keseharian bagaimana menyiapkan mereka ini sebagai pemimpin," kata Adhyaksa.

Dia menambahkan, anak-anak dan remaja juga kehilangan figur panutan sehingga kerap ditemui aksi kekerasan antarpelajar hingga tawuran mahasiswa. "Dulu, waktu saya masih Menpora pernah mengusulkan setiap departemen (kementerian) membuat film tentang rasa nasionalisme, kebangsaan, serta persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

Menurut Adhyaksa, tawuran merupakan penyakit sosiologis masyarakat yang terjadi akibat akses informasi yang kian terbuka dan menjadikan Indonesia sangat ultramodern, akhirnya anak-anak kehilangan figur panutan.

Setiap tahun, kata dia, setidaknya masing-masing kementerian, ditambah pemerintah provinsi sehingga ada sekitar 66 film yang membangkitkan rasa nasionalisme, kebangsaan, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

"Namun, ternyata yang membuat waktu itu cuma kami (Kemenpora), yakni 'Laksamana Keumalahayati'. Sekarang ini anak-anak tidak punya film yang seperti itu, seperti Cut Nya Dien, Teuku Umar," katanya.

http://www.merdeka.com/peristiwa/lap...a-tawuran.html

menpora yang sejati bukan kayak sikumis yang sekarang tukang korupsi emoticon-Bata (S)
tapi ane masih bingung alasannya kenapa sih bisa tawuran
di kota ane ga pernah tuh ane ngedenger tawuran
Kalo sudah mantan memang enak bicaranya.
Quote:Original Posted By Khoontol
Kalo sudah mantan memang enak bicaranya.


tapi khon untuk pak adiyasa bisa di lihat track recordnya coba yang sekarang emoticon-Najis (S)
Quote:Original Posted By GPO2A
tapi khon untuk pak adiyasa bisa di lihat track recordnya coba yang sekarang emoticon-Najis (S)



Oooo ... gitu ya O. emoticon-Belo


Yo wislah aku percaya sama GPO. emoticon-Smilie


Yang disukak GPO2A ,
Khoontol tentunya juga sukak. emoticon-shakehand
nggak harus kurang main bola untuk jadi tawuran...

eniwe, budaya tawuran emang kacrut, beraninya keroyokan, giliran ketangkep mewek
iy...kesian anak sekarang2 emoticon-Big Grin
kalo mo maen bola juga mesti meres emak babanya dulu karena sewa putsal mahal emoticon-Big Grin

ane dulu inget bener pas masih sekolah, pulangnya ngadu bola ma temen beda kelas or beda sekola...di lapangan KPN deket bintaro sonoh (dah R.I.P jadi jalan tol )
paling bayar yang jaga kebon ga seberapa
Quote:Original Posted By moetoen
tapi ane masih bingung alasannya kenapa sih bisa tawuran
di kota ane ga pernah tuh ane ngedenger tawuran


wow ente tinggal dmn?
Bukan Alasan... Di Kasi Lapangan Bola juga sama aja... Habis bermain juga biasanya sukak tawuran... apalagi waktu bermain suka saling ejek... emoticon-Ngacir
Coba di-cek ada ngga kota yg ngga pernah tawuran pelajar
Kota itu punya berapa lapangan sepak bola?

Menurut Bapak yg terhormat, perlu berapa lapangan bola di Jakarta supaya ngga terjadi lagi tawuran?
Berapa rasio ideal antara jumlah lapangan bola dengan pelajar? 1:20? 1:2000? Atau berapa?

emoticon-Cape d... (S)
Percumaa lah, mo lapangan bola ada 100 d jkt juga yg namanya tradisi tawuran pasti bakal tetep ada..
emang olahraga cuman sepakbola aja. diranjang juga bisa olahraga, plus-plus lagi emoticon-Hammer (S)
Emng jaman dia lapangan sepakbola banyak?
Dopost
Jiah si bapak......

Emangnya kl ada banyak lapangan bola jadi ga tawuran ?

Lah kmrn di PON, cabang sepakbola sering banget ribut ampe kejar2 wasit emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By Kimak.Kaw
Bukan Alasan... Di Kasi Lapangan Bola juga sama aja... Habis bermain juga biasanya sukak tawuran... apalagi waktu bermain suka saling ejek... emoticon-Ngacir


setujuh max..............
emang pendidikan budipekertinya rendah.........emoticon-Ngacir

lapangan sepak bola yg di jadiin kambing hitam..........emoticon-Ngacir



.............abis main gak terima kalah.....ada di kompori.........berantam juga tuh emoticon-siul:

coba promo olah raga lain .......olahraga basis permainan bukan hanya sepak bola...
kalau memang dasarnya suka tawuran ya tetap aja tawuran, gak peduli lapangan bolanya ada sejuta....
nanti taurannya malah pada pindah ke lapangan bola emoticon-Ngakak
miris bener yah... lapangan bola semakin langka
ah kurang masuk akal.. emoticon-Cool

memang pendidikan manusia nya aja yg kurang..
×