alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016864665/export-ri-mulai-ancur2an-batubara-amp-sawit-jeblog-039sense-of-crisis039-kok-tak-ada
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?

BPS Catat Impor Turun di Luar Kebiasaan
Senin, 01 Oktober 2012 | 22:01:03

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, biasanya terjadi impor yang terus merangkak naik hingga bulan Agustus ini, tetapi tahun ini impor turun. Ini di luar kebiasayaan yang ada. “Kalau sekarang penurunan impor karena lebaran, stok cukup dan pekerja sedang libur. Nah sekarang pekerja kan sudah mulai masuk," kata Direktur Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Satwiko Darmesto di Jakarta, Senin (1/10), di Jakarta. Dia menuturkan, libur nasional membuat proses produksi industri pengolah impor bahan baku dan penolong terhenti untuk sementara waktu.

Seyogianya, lanjut Satwiko, impor ini diperlukan sebagai pendorong kinerja ekspor. Namun, keadaan dunia yang belum sepenuhnya pulih dari ancaman krisis, membuat harapan ekspor mengecil. "Impor bahan baku memang diperlukan untuk kemudian diolah dan diproses disini kemudian diekspor," tuturnya. Satwiko mengungkapkan, kinerja ekspor Indonesia selama ini hanya bergantung pada dua komoditi pokok batubara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Begitu permintaan keduanya menurun, sambungnya, maka dua komoditi tersebut ikut merosot dan kinerja ekspor pun terpukul signifikan."Ekspor kita cuma gitu-gitu saja. Cuma ya batubara dan CPO, itu turun. Jadi ya masih krisis (neraca perdagangan) sebetulnya," kata Satwiko.

Satwiko juga mengatakan, Indonesia masih belum mampu memanfaatkan hasil migas Tanah Air dan tetap bergantung pada impor. Hal ini salah satu penyebab impor terus-menerus membesar. Meski bulan lalu impor non migas menurun, kata Satwiko, tapi impor sektor migas tetap tinggi. Jika ini berlanjut, sambungnya, akan membahayakan neraca perdagangan ketika kinerja ekspor terus menurun akibat krisis dunia. "Impor BBM termasuk oli, Pertamina ya pakainya oli impor. Jadi bahan hasil minyak kita belum banyak memproduksi," ujarnya.

Menurut Satwiko, neraca perdagangan Indonesia terus terancam. Rendahnya kinerja ekspor juga membuat target US$ 200 miliar hingga akhir tahun sulit tercapai. Satwiko menjelaskan, harapannya hanya pada perbaikan harga komoditas andalan Indonesia ditengah menurunnya permintaan dunia dan juga pengolahan barang mentah sehingga meningkatkan nilai tambah. Ekspor Indonesia hanya tergantung pada dua jenis bahan itu yakni batubara dan CPO. "Sekarang kan baru US$ 127 miliar, kalau dalam empat bulan kedepan, berarti kalau ditambah US$ 15 miliar per bulan kali empat bulan hanya tambah US$ 60 miliar. Jadi sampai akhir tahun hanya sekitar US$ 187 miliar, tidak sampai US$ 200 miliar," terangnya.
http://www.stabilitas.co.id/view_art...le_category=17

Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?

Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?
source: http://www.coalspot.com/news/2431/in...in-in-october/


Oktober, Pengusaha Kumpul Bahas Antisipasi Krisis
Kamis, 27 September 2012 | 14:33 WIB

TEMPO.CO, Balikpapan - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur menyelenggarakan forum chief executive officer (CEO) pengusaha nasional di Balikpapan pada 2 Oktober 2012 mendatang.

Forum CEO ini nantinya akan mengulas soal krisis global yang melanda Eropa dan Amerika Serikat serta cara mengantisipasinya. “Ketua Apindo Sofyan Wanandi sudah menyatakan kehadirannya,” kata Ketua Apindo Kalimantan Timur, Slamet Brotosiswoyo, ketika dihubungi Tempo, Kamis, 27 September 2012. Sekretaris Apindo Kalimantan Timur, Herry Yohanes menambahkan diskusi Forum CEO ini nantinya menjadi masukan pada pemerintah daerah, pengusaha, dan perbankan dalam menyikapi krisis berkepanjangan dunia.

Secara tidak langsung, menurut dia, krisis yang melanda dunia sudah mulai dirasakan dunia usaha Kalimantan Timur yang mengandalkan sektor minyak dan gas bumi, pertambangan batu bara, dan kelapa sawit. “Sudah mulai dirasakan. Pengusaha mengevaluasi produksi. Alat berat banyak yang menganggur dan pendapatan menurun drastis,” katanya.

Herry mencontohkan harga batu bara yang sekarang ini turun hingga 50 persen dari harga normal di pasar dunia. Demikian juga minyak sawit mentah yang turun menjadi 2.600 ringgit per ton dari 3.000 ringgit per ton.“Permintaan turun sehingga otomatis pasaran harganya juga turun,” ujarnya.

Pada 2011, Kalimantan Timur memproduksi batu bara sebanyak 210 juta metrik ton. Produksi batu bara menyumbang 56,8 persen produksi nasional yang diperkirakan mencapai 370 juta metrik ton. Penyumbang terbesar perekonomian Kalimantan Timur didominasi sektor pertambangan sebesar 49,6 persen, kemudian pengolahan minyak dan gas 18,9 persen, perdagangan dan hotel 8 persen dan pertanian 6 persen. Akibat krisis, beberapa negara tujuan ekspor sumber daya dari Kalimantan Timur seperti India, Cina, Amerika Serikat dan lainya mulai mengurangi konsumsi batu bara dan minyak sawit mentah. Akibatnya ekspor Kalimantan Timur pun terancam turun.

Karena itu, lanjut Herry, forum CEO akan merumuskan langkah antisipasi atas dampak negatif krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat.Wakil Ketua Apindo Kalimantan Timur, Dody Achadiyat, menambahkan bahwa forum CEO tersebut nantinya akan menghadirkan Ketua Apindo, Sofyan Wanandi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Duta Besar Uni Eropa Julian Wilson, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, dan lainnya
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...isipasi-Krisis

------------------

Ingatlah krismon 1997 sodara-sodaraku, se bangsa dan se tanah air ... waktu itu kita terlalu ternina-bobokkan akibat dibuai dengan puji-pujian IMF, World Bank dan negara maju tentang keperkasaan ekonomi nasional...sementara pejabat Pemerintah begitu yakinnya bahwa perekonomian Indonesia sangat kuat secara makroekonomi. Nyatanya? Kini kita juga mulai mengalami hal sama, kenyang puji-pujian darimana-mana, bahkan SBY merasa 'ge er' karena terus dipuji asing atas kehebatan ekonomi kita yang kebal pengaruh krisis ekonomi dari AS dan Eropa. Nyatanyai? Coba lihat data-data diatas,, dan pada halaman-halaman berikutnya dari thread in
Semoga dampaknya nggak terkena masyarakat.
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?

Dampak Krisis Makin Nyata
Senin, 10 September 2012 | 07:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga tiga komoditas ekspor unggulan, yaitu batubara, karet, dan minyak kelapa sawit mentah, yang tahun lalu menyumbang devisa 32,80 miliar dollar AS, atau lebih dari 16 persen dari total ekspor nasional, terus berjatuhan. Dampak krisis ekonomi global mulai memukul petani dan petambang kecil.

Laporan dari sejumlah daerah, Minggu (9/9/2012), menunjukkan, petani karet, petani sawit, dan perusahaan tambang batubara menyatakan dampak krisis itu sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Harga ketiga komoditas yang merupakan tulang punggung ekspor Indonesia itu terus menurun di pasar internasional. Penurunan harga yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah penurunan harga batubara. Harga di pasar internasional untuk kualitas 6.322 kilokalori per kilogram, yang pada Maret lalu mencapai 112 dollar AS per ton, kini hanya 84 dollar AS per ton. Harga saham perusahaan tambang, yang didominasi batubara, juga anjlok sekitar 25,03 persen dibandingkan awal tahun.

Di Provinsi Jambi, ekspor batubara Jambi yang selama ini hanya mengandalkan tujuan China dan India mengalami penurunan hingga 75 persen akibat anjloknya harga batubara dunia. Sejumlah kalangan usaha menyetop sementara aktivitas tambang batubara sambil berharap harga kembali normal. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Provinsi Jambi, volume ekspor saat ini diperkirakan di bawah 100.000 ton per bulan, atau turun drastis dibandingkan tahun lalu yang masih 400.000 ton per bulan. ”Pertambangan batubara Jambi sedang lesu,” ujar Mirza, Direktur Eksekutif APBI Provinsi Jambi, di Jambi.

Kepala Kantor APBI Nur Hadi mengatakan, di Jambi ada sekitar 150 izin eksploitasi batubara, tetapi tidak sampai 10 usaha yang aktif beroperasi. Selain mengalami kekurangan modal investasi, sebagian pengusaha memilih berhenti beroperasi untuk menunggu kondisi harga batubara dunia membaik. ”Untuk sementara, pengusaha batubara hanya melakukan penambangan untuk menyelesaikan kontrak-kontrak lama, tetapi menyetop atau menunda pembuatan kontrak baru dengan importir sampai harga dunia membaik,” ujar Nur Hadi. Di Sumatera Selatan, para sopir angkutan batubara juga mengeluhkan sepinya pengguna jasa karena sejumlah perusahaan tambang batubara swasta di Kabupaten Lahat, Sumsel, mengurangi produksinya. Ketua Forum Transportasi Batubara Sumsel Tirta Jaya Wiharman mengatakan, setidaknya 500 sopir angkutan batubara di Lahat sudah beralih ke pengangkutan galian C sejak sebulan terakhir. ”Pendapatan kami jelas turun drastis karena hanya mengantar galian C,” ucapnya.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, kelesuan tambang batubara menjadikan sejumlah perusahaan mengurangi produksi. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Kalsel Heryozani Dharma mengatakan, krisis yang terjadi di Eropa berimbas ke Asia dan Amerika. Banyak industri di sana yang mengalami penurunan produksi sehingga kebutuhan batubaranya berkurang. Data Distamben Kalsel memperlihatkan, produksi batubara tahun 2012 mencapai 61,34 juta ton. Jumlah ini separuh dari angka produksi tahun 2011 yang mencapai 138,78 juta ton. Dari angka produksi 2011, yang terjual (termasuk ekspor) mencapai 123,84 juta ton.

Direktur APBI Supriyatna Suhala di Jakarta menyatakan, harga komoditas batubara di pasar internasional sedang anjlok sejak beberapa bulan terakhir. Penurunan harga itu disebabkan China, yang merupakan negara tujuan utama ekspor batubara, mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi. Penyebab lain adalah terjadi kelebihan produksi batubara, terutama dari Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, dan Mongolia.

Karet

Komoditas karet juga terkena dampak krisis ekonomi. Di Sumatera Selatan, pendapatan petani karet mengalami penurunan hingga separuh dibandingkan pertengahan tahun lalu. Pertengahan 2011, harga karet di tingkat petani Sumsel Rp 13.000-Rp 22.000 per kilogram tergantung kualitasnya. Namun, kini, harganya anjlok hingga sekitar Rp 7.000 per kilogram. Para buruh sadap kebun karet mengaku hasil dari menyadap getah karet tak memadai lagi untuk kebutuhan sehari-hari. ”Pendapatan saya sekarang ini sekitar Rp 500.000 sebulan, beda sekali dengan tahun lalu sekitar Rp 1 juta sebulan. Utang menumpuk untuk makan sehari-hari,” kata Amriyadi (63), buruh sadap di Kabupaten Musi Banyuasin.

Harga karet di Provinsi Jambi terus melemah bersamaan dengan kondisi pasar internasional. Tidak hanya itu, hasil panen yang menurun sepanjang musim kemarau ini membuat petani karet semakin lesu. Pekan ini, harga getah karet di tingkat petani anjlok menjadi Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram untuk kualitas karet 50-55 persen. Padahal, harga karet masih menyentuh Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram pada Januari lalu.

Menurut Darmi, petani karet di kawasan perkebunan rakyat Ness, Kabupaten Muaro Jambi, penurunan harga terus terjadi khususnya sejak akhir Mei lalu. Petani sulit mengendalikan harga karena perkembangan mengacu pada kondisi pasar dunia. ”Harga yang ditetapkan pabrik terus turun, katanya karena pasar global sedang lesu,” ujarnya. Hal senada dikemukakan pengurus Koperasi Tani Karet Budi Utomo, Karyadi. Menurut dia, penurunan disebabkan melemahnya permintaan pasar yang terdampak oleh krisis ekonomi, khususnya di wilayah Eropa. Banyak pabrik di Jambi kini kesulitan order sehingga hasil karet tidak terserap.

Sawit

Harga jual tandan buah segar (TBS) sawit di Kalimantan Selatan cenderung fluktuatif. Ketua Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia Kalsel Untung Joko W mengatakan, fluktuasi harga TBS tahun ini 10 persen lebih, padahal tahun lalu hanya sekitar 5 persen. ”Penurunan tajam terasa Juni lalu. Saat itu harga di bawah Rp 1.500 per kilogram,” ucapnya. Menurut Untung, setelah turun pada Juni-Juli, harga TBS sempat naik pada Juli-Agustus. Namun, pada Agustus-September harganya diperkirakan akan turun lagi. Untuk kondisi di lapangan, kata Untung, sejauh ini belum ada pengusaha atau petani yang mengurangi produksi karena panen TBS tidak bisa ditunda.
http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...20%20kin.Nyata

Penurunan Export Batubara dan Sawit Berimbas pada Harga Sahamnya. Akibatnya Investor Asing mulai Ngacir & Lepaskan Saham Energi & Perkebunan


Dampak PHK Buruh Tambang & Sawit Tak Bisa Dihindari Lagi


Sumber Krisis, AS dan Eropa, Masih Belum Pasti kapan akan ada Pemulihan Ekonominya
Indonesia pasar utamanya masih di dalam negeri.. mudah2an ngga terlalu berdampak...
itu sawit bisa bikim minyak bio...biar mengurangi impor minyak
Lah, RI kan emang dah ga mengandalkan ekspor. Apalagi sedang krisi global. Sekarang kayaknya yang diurus itu dana investasi dan pertumbuhan ekonomi domestik


Atau ada pendapat lain?

Dalam kuatin dulu baru urus luar. jangan gantungkan ekonomi ke negeri seberang
yg punya kebun sawit siapa?yg nambang batubara siapa? emoticon-Big Grin
katanya kedua komoditi tersebut paling cepat merusak alam
Impornya dibikin-bikin sih emoticon-Big Grin
Indonesia lg sibuk ngurus KPK, POLRI, FPI etc
jadi sense of crisis ttg ekonomi sedikit terlupa kan emoticon-Big Grin
temen gw yg kerja di tambang batubara.. banyak yg pulang kampung sekarang


perusahaan tutup emoticon-Shutup



emoticon-Ngacir
Keadaan seperti ini, buruh pun masih demo minta naik gaji gila2an!

emoticon-Malu

Ga ada sense of crisisnya sama sekali emoticon-Malu (S)

Lagian juga pemerintah mengetatkan export batu bara, ga bole ore tapi harus di olah dulu emoticon-Malu (S)



_______________________________________________________
Kunci Pintu Digital com

Quote:Original Posted By

------------------

Ingatlah krismon 1997 sodara-sodaraku, se bangsa dan se tanah air ... waktu itu kita terlalu ternina-bobokkan akibat dibuai dengan puji-pujian IMF, World Bank dan negara maju tentang keperkasaan ekonomi nasional...sementara pejabat Pemerintah begitu yakinnya bahwa perekonomian Indonesia sangat kuat secara makroekonomi. Nyatanya? Kini kita juga mulai mengalami hal sama, kenyang puji-pujian darimana-mana, bahkan SBY merasa 'ge er' karena terus dipuji asing atas kehebatan ekonomi kita yang kebal pengaruh krisis ekonomi dari AS dan Eropa. Nyatanyai? Coba lihat data-data diatas,, dan pada halaman-halaman berikutnya dari thread in


ts nya lol emoticon-Big Grin
lah jelas aja ekonom seluruh dunia memuji Indo dan pejabat sini gak terlalu khawatir dengan krisis ekonomi di eropa-amerika, lha wong penopang ekonomi Indo selama inikan memang dari sektor KONSUMSI PUBLIK (>65%) emoticon-Stick Out Tongue

Klau yg kudu khawatir dengan anjloknya ekspor ya negara2 Industri macam China, Jepang, Taiwan, Singapore, dll yang menopang ekonominya dr eksport barang keluar emoticon-Embarrassment
gak usah parnok laaah taon nya century ngasih bandar LC buat maen palas di hong kong aje jauuuh lebih parah dari tuh data, yg YUAKIIIIIN kagak ade krisis banyak koq tong emoticon-Ngacir

otong koq mao nyalahin yang udeh ngecegah krisis emoticon-Ngakak (S)
kayaknya ekonomi kita gak cuma ngandelin eksport doank, tapi juga ada sektor konsumsi dalam negeri.

semua yang ngandelin ekspor ya bakal banyak yang susah, krn negara2 tujuan ekspor banyak yg lagi kena krisis, beruntunglah kita, punya penduduk yang banyak dan cukup konsumtif, sehingga banyak produk2 yg kita produksi dan dipakai oleh kita sendiri.

toh waktu krismon 98 dulu, Para petani karet dan sawit, dan mereka yg berorientasi ekspor pada "menikmati" krismon, kalo sekarang mereka "sengsara" apa berarti kita akan krismon lagi?
Quote:Original Posted By Uthe18
ts nya lol emoticon-Big Grin
lah jelas aja ekonom seluruh dunia memuji Indo dan pejabat sini gak terlalu khawatir dengan krisis ekonomi di eropa-amerika, lha wong penopang ekonomi Indo selama inikan memang dari sektor KONSUMSI PUBLIK (>65%) emoticon-Stick Out Tongue

Klau yg kudu khawatir dengan anjloknya ekspor ya negara2 Industri macam China, Jepang, Taiwan, Singapore, dll yang menopang ekonominya dr eksport barang keluar emoticon-Embarrassment


TS mau nunjukin kalo dia pinter, dengan memberikan banyak grafik dan data ekspor yang mengkhawatirkan, seolah2 dia cukup mengerti ekonomi nasional.
tapi dia sendiri kurang ngerti kalo ternyata ekonomi kita dia dukung oleh 2 hal Ekspor dan Konsumsi, dan nota bene sektor konsumsi kita menyumbang cukup besar.
Quote:Original Posted By HonGisFirE
Lah, RI kan emang dah ga mengandalkan ekspor. Apalagi sedang krisi global. Sekarang kayaknya yang diurus itu dana investasi dan pertumbuhan ekonomi domestik


Atau ada pendapat lain?

Dalam kuatin dulu baru urus luar. jangan gantungkan ekonomi ke negeri seberang


Setuju dgn agan yg satu ini. pemerintah perlu mencari jalan agar bisa membangun industri pengolahan CPO untuk langsung dimanfaatkan untuk keperluan domestik. batubara diserap sepenuhnya untuk industri domestik termasuk PLN.

dengan populasi indonesia saat ini, kita bisa mengolah dan menyerap sendiri hasil kekayaan alam. kenapa harus pusing mikirin expor mulu.
bangun jalur transportasi dan distribusi yg baik antar pulau2 diIndonesia aja.
Quote:Original Posted By
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?
Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?

BPS Catat Impor Turun di Luar Kebiasaan
Senin, 01 Oktober 2012 | 22:01:03

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, biasanya terjadi impor yang terus merangkak naik hingga bulan Agustus ini, tetapi tahun ini impor turun. Ini di luar kebiasayaan yang ada. “Kalau sekarang penurunan impor karena lebaran, stok cukup dan pekerja sedang libur. Nah sekarang pekerja kan sudah mulai masuk," kata Direktur Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Satwiko Darmesto di Jakarta, Senin (1/10), di Jakarta. Dia menuturkan, libur nasional membuat proses produksi industri pengolah impor bahan baku dan penolong terhenti untuk sementara waktu.

Seyogianya, lanjut Satwiko, impor ini diperlukan sebagai pendorong kinerja ekspor. Namun, keadaan dunia yang belum sepenuhnya pulih dari ancaman krisis, membuat harapan ekspor mengecil. "Impor bahan baku memang diperlukan untuk kemudian diolah dan diproses disini kemudian diekspor," tuturnya. Satwiko mengungkapkan, kinerja ekspor Indonesia selama ini hanya bergantung pada dua komoditi pokok batubara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Begitu permintaan keduanya menurun, sambungnya, maka dua komoditi tersebut ikut merosot dan kinerja ekspor pun terpukul signifikan."Ekspor kita cuma gitu-gitu saja. Cuma ya batubara dan CPO, itu turun. Jadi ya masih krisis (neraca perdagangan) sebetulnya," kata Satwiko.

Satwiko juga mengatakan, Indonesia masih belum mampu memanfaatkan hasil migas Tanah Air dan tetap bergantung pada impor. Hal ini salah satu penyebab impor terus-menerus membesar. Meski bulan lalu impor non migas menurun, kata Satwiko, tapi impor sektor migas tetap tinggi. Jika ini berlanjut, sambungnya, akan membahayakan neraca perdagangan ketika kinerja ekspor terus menurun akibat krisis dunia. "Impor BBM termasuk oli, Pertamina ya pakainya oli impor. Jadi bahan hasil minyak kita belum banyak memproduksi," ujarnya.

Menurut Satwiko, neraca perdagangan Indonesia terus terancam. Rendahnya kinerja ekspor juga membuat target US$ 200 miliar hingga akhir tahun sulit tercapai. Satwiko menjelaskan, harapannya hanya pada perbaikan harga komoditas andalan Indonesia ditengah menurunnya permintaan dunia dan juga pengolahan barang mentah sehingga meningkatkan nilai tambah. Ekspor Indonesia hanya tergantung pada dua jenis bahan itu yakni batubara dan CPO. "Sekarang kan baru US$ 127 miliar, kalau dalam empat bulan kedepan, berarti kalau ditambah US$ 15 miliar per bulan kali empat bulan hanya tambah US$ 60 miliar. Jadi sampai akhir tahun hanya sekitar US$ 187 miliar, tidak sampai US$ 200 miliar," terangnya.
http://www.stabilitas.co.id/view_art...le_category=17

Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?

Export RI Mulai Ancur2an, Batubara & Sawit Jeblog, 'Sense of Crisis' kok Tak Ada?
source: http://www.coalspot.com/news/2431/in...in-in-october/


Oktober, Pengusaha Kumpul Bahas Antisipasi Krisis
Kamis, 27 September 2012 | 14:33 WIB

TEMPO.CO, Balikpapan - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur menyelenggarakan forum chief executive officer (CEO) pengusaha nasional di Balikpapan pada 2 Oktober 2012 mendatang.

Forum CEO ini nantinya akan mengulas soal krisis global yang melanda Eropa dan Amerika Serikat serta cara mengantisipasinya. “Ketua Apindo Sofyan Wanandi sudah menyatakan kehadirannya,” kata Ketua Apindo Kalimantan Timur, Slamet Brotosiswoyo, ketika dihubungi Tempo, Kamis, 27 September 2012. Sekretaris Apindo Kalimantan Timur, Herry Yohanes menambahkan diskusi Forum CEO ini nantinya menjadi masukan pada pemerintah daerah, pengusaha, dan perbankan dalam menyikapi krisis berkepanjangan dunia.

Secara tidak langsung, menurut dia, krisis yang melanda dunia sudah mulai dirasakan dunia usaha Kalimantan Timur yang mengandalkan sektor minyak dan gas bumi, pertambangan batu bara, dan kelapa sawit. “Sudah mulai dirasakan. Pengusaha mengevaluasi produksi. Alat berat banyak yang menganggur dan pendapatan menurun drastis,” katanya.

Herry mencontohkan harga batu bara yang sekarang ini turun hingga 50 persen dari harga normal di pasar dunia. Demikian juga minyak sawit mentah yang turun menjadi 2.600 ringgit per ton dari 3.000 ringgit per ton.“Permintaan turun sehingga otomatis pasaran harganya juga turun,” ujarnya.

Pada 2011, Kalimantan Timur memproduksi batu bara sebanyak 210 juta metrik ton. Produksi batu bara menyumbang 56,8 persen produksi nasional yang diperkirakan mencapai 370 juta metrik ton. Penyumbang terbesar perekonomian Kalimantan Timur didominasi sektor pertambangan sebesar 49,6 persen, kemudian pengolahan minyak dan gas 18,9 persen, perdagangan dan hotel 8 persen dan pertanian 6 persen. Akibat krisis, beberapa negara tujuan ekspor sumber daya dari Kalimantan Timur seperti India, Cina, Amerika Serikat dan lainya mulai mengurangi konsumsi batu bara dan minyak sawit mentah. Akibatnya ekspor Kalimantan Timur pun terancam turun.

Karena itu, lanjut Herry, forum CEO akan merumuskan langkah antisipasi atas dampak negatif krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat.Wakil Ketua Apindo Kalimantan Timur, Dody Achadiyat, menambahkan bahwa forum CEO tersebut nantinya akan menghadirkan Ketua Apindo, Sofyan Wanandi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Duta Besar Uni Eropa Julian Wilson, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, dan lainnya
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...isipasi-Krisis

------------------

Ingatlah krismon 1997 sodara-sodaraku, se bangsa dan se tanah air ... waktu itu kita terlalu ternina-bobokkan akibat dibuai dengan puji-pujian IMF, World Bank dan negara maju tentang keperkasaan ekonomi nasional...sementara pejabat Pemerintah begitu yakinnya bahwa perekonomian Indonesia sangat kuat secara makroekonomi. Nyatanya? Kini kita juga mulai mengalami hal sama, kenyang puji-pujian darimana-mana, bahkan SBY merasa 'ge er' karena terus dipuji asing atas kehebatan ekonomi kita yang kebal pengaruh krisis ekonomi dari AS dan Eropa. Nyatanyai? Coba lihat data-data diatas,, dan pada halaman-halaman berikutnya dari thread in


tatut sekali saia....mesti gimana gan? apa langsung kiamat dunia ini gan?
TS NGENTOD TOLOLL OONENG ente tau keadaan ekonomi eropa? ameriki? masih untung pertumbuhan ekonomi endonesah positip, lo liat sono malingsiah yang export eriented ngap-ngapan ekonomi nye.... endon masih bernapas lega, karena orang2 kismin dan melarat masih sok2an beli blekberi, beli gejet walau gaji sebulan ngepas..... emoticon-Cape d... (S)
wah udah punya banyak kebun sawit disni......

kacau dong, bahaya karna hutan hutan sudah berubah jadi kebon sawit


emoticon-linux2