alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016849513/quotte177poquot-memutarbalikkan-fakta-killing-fields
"TE177PO" Memutarbalikkan Fakta Killing Fields
TEMPO Memutarbalik Fakta Killing Fields di Magetan Sebagai Kuburan Massal PKI

Berawal dari berita Liputan Khusus Majalah TEMPO edisi 1-7 Oktober 2012, yang dengan keterlaluan mem-PKI-kan orang yang sudah mati. Padahal, mereka itu bukan PKI. Mereka itu malah orang-orang malang yang menjadi korban kekejaman PKI. Sejarah diputar balik. Orang bukan PKI dibilang PKI.

Orang-orang mati korban kekejaman PKI difitnah jadi PKI oleh TEMPO. Padahal mereka itu tewas dibunuh PKI dimasukkan ke dalam sumur tua. Dalam beritanya di TEMPO sumur-sumur tua itu adalah kuburan PKI yang dibunuh dan dilemparkan di situ. Sama saja dengan menuduh, mayat-mayat yang dimasukkan sumur itu adalah PKI. Sungguh kasihan mereka. Sudah mati masih dituduh sebagai PKI.

Dalam Liputan Khusus TEMPO halaman 65 dijelaskan, ”Tentang sumur “neraka” di Dusun Puhrancang, Desa Pragak, Kecamatan Parang, Magetan. Puluhan tahun silam, ratusan orang yang dicap anggota PKI dibantai dan dilemparkan ke dalam sumur itu. Demikian, menurut Sukiman, 47 tahun, pemilik lahan yang ada sumur “neraka” itu.”

Logikanya kalau Sukiman sekarang usianya 47 tahun, berarti tahun 1965 saat orang-orang PKI dibunuh dan dilempar ke sumur “neraka” itu usianya baru beberapa bulan. Apa mungkin bayi usia belum setahun jadi saksi pembunuhan?”. Menurut TEMPO, Sukiman memperoleh penjelasan tentang sumur “neraka” itu dari mertuanya yang sudah mati dua tahun silam. Jadi, itu hanya “katanya”, yaitu katanya orang yang sudah mati. Jadi tidak tahu sendiri karena saat peristiwa masih bayi.

Meski begitu TEMPO sudah menyimpulkan bahwa sumur “neraka” itu adalah “Ladang Pembantaian” seolah-olah sama dengan peristiwa genocida di Kampuchea yang dilakukan Khmer Merah di bawah Pol Pot yang sudah diangkat jadi film berjudul Killing Fields – Ladang Pembantaian. Berani sekali TEMPO bikin simpulan begitu.

Karena selain Sukiman masih ada narasumber lain, yaitu Kaderun, 69 tahun, Kadus Jombok, Desa Pragak. Kaderun sendiri aktivis Pemuda Muhammadiyah yang menjadi Banser. Menurutnya, “Sumur itu dalamnya 27 meter dengan diameter 2 meter. Ada 82 orang yang dimasukkan ke sumur itu setelah dibunuh. Eksekutornya adalah Yunus, tentara yang bertugas di Perwira Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat (Puterpra) Kecamatan Parang, pangkat terakhirnya pembantu letnan dua. Puterpra itu kini berubah menjadi Komando Rayon Militer alias Koramil.”

Sekarang kita bertanya-tanya, Apa benar itu Puterpra sekarang berubah menjadi Komando Rayon Militer?

Ya itulah narasumber TEMPO. Redaktur pelaksananya pun asal muat tidak check and recheck terhadap data apalagi melakukan triangulasi. Sejak zaman kolonial, daerah militer di kabupaten disebut District Militair yang di era kemerdekaan disebut daerah KODIM (Komando Distrik Militer). Di bawah District Militair atau KODIM adalah daerah setingkat kecamatan yang disebut Onder District Militair yang di masa kemerdekaan disebut KODM (Komando Onder Ristrik Militer) yang berubah menjadi Komando Rayon Militer disingkat Koramil. Mana ada sejarah militer Koramil berasal dari Puterpra. Yang lebih payah, eksekutor para PKI itu adalah Yunus seorang diri.

“Bahkan ada lagi kuburan massal karya Peltu Yunus di hutan Gangsiran di Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang. Para korban dimasukkan ke sejumlah lubang yang dalamnya tidak sampai dua meter. Jumlah yang tewas belasan sampai puluhan. Begitu penuh langsung diuruk dan ditandai dengan pohon.”

Seperti yang disebutkan diatas, bahwa Kaderun menyatakan jumlah PKI yang dimasukkan sumur “neraka” di Dusun Puhrancang itu 82 orang. Darimana angka itu? Apakah jumlah itu sudah pasti? Padahal ini, di halaman 65, TEMPO tegas-tegas menyatakan bahwa “puluhan tahun silam, ke dalam sumur itulah RATUSAN ORANG yang dicap anggota Partai Komunis Indonesia yang mati dibantai dilemparkan.” Manakah yang benar, 82 orang seperti kesaksian Kaderun, ataukah simpulan semaunya TEMPO yang menyebut angka RATUSAN ORANG?”

Jangan tanya kebenaran faktual kepada orang-orang musyrik penyembah funding asing. Mereka orang liberal. Orang bebas. Bebas bohong. Bebas memanipulasi data. Bebas kentut. Bebas apa saja, kecuali menyadari bahwa mereka adalah abdi setia funding asing.

Ada saksi lain lagi bernama Sumarwanto yang memberi angka 700 orang korban PKI di hutan Gangsiran. Sumarwanto tidak tahu sendiri, Dia diberitahu bapaknya. Jadi angka pasti berapa isi ‘Ladang Pembantaian’ itu belum jelas karena belum pernah ada yang menggali dan menghitung jumlah mayat di dalamnya,..kecual kalau Kaderun, mertuanya Sukiman dan bapaknya Sumarwanto adalah eksekutor PKI sehingga mereka tahu pasti jumlah angkanya.

Kabupaten Magetan selama ini sudah dikenal di dunia sebagai tempat beradanya Lubang-lubang Sumur Pembantaian (Killing Holes) dan “Ladang Pembantaian” (Killings Fields) sebagaimana dicatat dalam buku “Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun” ditulis Maksum – Agus Sunyoto – Zainuddin terbitan Grafiti Press (1990); Peristiwa Coup berdarah PKI 1948 di Madiun ditulis Pinardi terbitan Inkopak-Hazera (1967); Pemberontakan Madiun: Ditinjau dari hukum negara kita ditulis Sudarisman Purwokusumo terbitan Sumber Kemadjuan Rakjat (1951); De PKI in actie: Opstand of affaire (Madiun 1948: PKI Bergerak) ditulis Harry A.Poeze terbitan KITLV-Yayasan Obor (2011).”

Jadi sebenarnya sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu sejatinya isinya orang-orang yang dibunuh oleh PKI. Itu faktanya! . Ada banyak jumlah sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” karya PKI di Magetan itu. Yang sudah ditemukan ada 7 sumur “neraka” dan 1 “Ladang Pembantaian”, yaitu: 1. sumur tua Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2.Sumur tua I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3.Sumur tua II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab. Magetan; 4. Sumur tua Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan; 5. Sumur tua Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur tua Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab. Magetan; 7. Sumur tua .Desa Bogem, kec.Kawedanan, Kab.Magetan; satu lokasi yang digunakan membantai musuh-musuh PKI adalah ruangan kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-Gareng di Magetan.

Waktu sumur-sumur “neraka” itu dibongkar tahun 1950, yang menyaksikan berpuluh ribu warga kabupaten dari berbagai desa terutama keluarga-keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang diculik PKI. Begitulah, puluhan ribu warga Magetan menjadi saksi kejahanaman PKI yang memasukkan korban-korban kebiadaban mereka ke sumur-sumur “neraka” itu. Jumlah korban dihitung. Diotopsi. Semua terdata rapi. Sebagian besar masih dikenali keluarga maupun tim dokter.

TEMPO mau membelokkan arah sejarah dengan membentuk sudut pandang baru bersifat manipulatif bahwa sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan berisi mayat anggota PKI. Padahal, rakyat Magetan beserta sejarawan dan ilmuwan sedunia sudah menemukan fakta bahwa sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu adalah karya PKI ketika melakukan gerakan makar tanggal 18 September 1948. Hmm,..tendensius sekali Liputan Khusus TEMPO edisi 1 – 7 Oktober 2012 ini.

Gobl*klah kita jika masih percaya pada majalah TEMPO yang dengan data sarat rekayasa nekad mengubah Kebenaran sejarah dengan memutar-balik fakta sejarah. Bumi Magetan yang dalam fakta sejarah jelas-jelas ditebari sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” hasil kebiadaban PKI dibalik total menjadi bumi yang ditebari sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” berisi mayat anggota PKI yang disembelih Banser dan tentara. Begitulah Liputan Khusus TEMPO 1-7 Oktober 2012 itu membentuk Kebenaran Imajiner bahwa PKI adalah organisasi yang sama dengan organisasi seumumnya yang beranggotakan orang-orang baik, yang tidak bersalah, kaum lemah tidak berdaya yang teraniaya dan terzhalimi, yang telah menjadi korban kebiadaban kaum beragama haus darah: NU, Ansor, Banser.

Lalu dengan nada menggurui dalam OPINI-nya Redaktur Senior TEMPO mengimbau pembaca bahwa “tidak selayaknya kita alergi terhadap komunisme.. [..]..karena itu tidak perlu melarang penyebaran ajaran komunisme, Marxisme, Leninisme. Ketetapan MPRS tentang itu sebaiknya dihapus saja”. Tidak hanya mengimbau, TEMPO malah sudah memberi contoh kongkrit berupa usaha menghapus jejak-jejak kebiadaban PKI berupa sumur-sumur “neraka” dan “Ladang pembantaian” di Magetan lewat pembentukan opini baru bahwa sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu adalah jejak kebiadaban Banser dan tentara.

Sumber : http://www.sarkub.com/2012/tempo-maj...#ixzz28lO05OYy
Banyak tulisannya. emoticon-Belo

Nunggu koment TS nya saja, aahhh .... emoticon-Cool
Quote:Lalu dengan nada menggurui dalam OPINI-nya Redaktur Senior TEMPO mengimbau pembaca bahwa “tidak selayaknya kita alergi terhadap komunisme.. [..]..karena itu tidak perlu melarang penyebaran ajaran komunisme, Marxisme, Leninisme. Ketetapan MPRS tentang itu sebaiknya dihapus saja”. Tidak hanya mengimbau, TEMPO malah sudah memberi contoh kongkrit berupa usaha menghapus jejak-jejak kebiadaban PKI berupa sumur-sumur “neraka” dan “Ladang pembantaian” di Magetan lewat pembentukan opini baru bahwa sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu adalah jejak kebiadaban Banser dan tentara.

ideologi macam yang disebutkan buat gw jelas bertentangan dengan pancasila..
karena bertentangan dengan pancasila, buat gw pribadi jelas gw alergi..
itu gw, terserah apa kata orang.. emoticon-Big Grin

yang penting gw kagak jadi orang yang asal banyak teman saya ngikut ajah emoticon-Big Grin
macam anggota dpr aja yang suka nyanyian lagu "setuju" pas orde baru emoticon-Big Grin
Yang telah meninggal masih aza di curigai emoticon-Turut Berduka
apa susahnya mendoakan mereka terlepas dari apa yg mereka lakukan baik ato benar untuk negara ini.
Baiknya mengenai PKI ini di buka terang benderang... Pemerintah tidak perlu takut salah... Negara ini tidak akan maju dengan sejarah yang penuh dengan tanda tanya... Kasihan generasi muda yang tidak mengetahui sejarah yang sebenarnya... Katakan salah pada yang salah... katakan benar pada yang benar emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
Ts cuma kopas aja kok Vbot diam aja sih emoticon-Marah
biasanya galak
komunis sama kapitalis apa bedanya ? sama aja!

sama2 minta darah. komunis minta darah saat 1948 n jaman sebelumnya, pro-US jga minta darah paska g30S.

semua harus dilihat sebab musababnya. dulu jaman susah dan jarang org pinter. PKI dulu jga partai resmi. PKI dgn jargonnya menjanjikan tanah kepada petani buat bekal hidup. ditawarin begitu sapa yg ga mau jd anggota PKI? mereka ga tau klo dgn mendaftarkan diri jd anggota PKI berarti udah sign kontrak mati konyol.

sekarang klo pemerintah pasca sukarno mau fair, apa iya semua anggota PKI adalah pemberontak ? kalo pukul rata begitu, ya mari kita limpahkan kesalahan masa orde baru juga kepada g0lk4r. kalo ada bahaya laten komunis, sebaiknya kumandangkan juga bahaya laten g0lk4r.

jgn dikit2 klaim bahwa ini adalah titipan asing, justru ini masalah bangsa kita sendiri yg harus kita sendiri serius menguraikan. bahwa dari sejak awal hingga saat ini, selalu ada kepentingan bangsa lain di indonesia.

faktanya G30S terjadi karena kepentingan asing. yg melesapkan anggota PKI jga kepentingan asing. jika dibiarkan, PKI dipastikan akan menang telak pada pemilu setelah 1955 (ga tau ge jadwal pemilu setelah 1955 cmiiw). untuk sebuah partai yg besar, untuk apa meresikokan dirinya melakukan kudeta ?

Sukarno jga punya andil menciptakan blunder ini dgn memberikan payung kepada PKI. dia teriak2 jas merah2, dia tahu pemberontakan komunis masa pendudukan belanda, masa 1948, tapi kenapa PKI bisa jadi parpol di 1955 ? Sukarno saat itu mana tau kalo PKI justru kelak dijadikan bola panas di tahun 1965, setelah beberapa tahun sebelumnya sukarno memutuskan melawan dunia (US).

itulah sebabnya, menjadi pemimpin itu bukan hanya sekedar mengandalkan kepandaian diri sendiri. karena pengetahuan manusia hanya terbatas apa yg ia indra-kan. Kalo ia sudah mampu memutuskan sesuatu dlar batasan indra-nya, saat itu pemimpin kita bisa memutuskan untuk kepentingan bangsanya, bukan kepentingan bangsa lain.
ideologi yang paling cocok di Indonesia ya Pancasila kalau menurut anne. komunisme, Marxisme, Leninisme sudah gak laku gan. Bahkan di negeri asalnya sendiri sudah mulai kabur
Quote:Original Posted By zibay
ideologi yang paling cocok di Indonesia ya Pancasila kalau menurut anne. komunisme, Marxisme, Leninisme sudah gak laku gan. Bahkan di negeri asalnya sendiri sudah mulai kabur


Betul nih kata master emoticon-Add Friend (S)

TEMPO sekarang terkesan memaksakan dalam menulis berita ttg komunis

jangan2 Tempo jadi alat Komunis emoticon-Big Grin
×