alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016701855/30gspki-istilah-pki-masih-membuat-muka-sakerah-memerah
Peringatan! 
[30GSPKI] Istilah PKI Masih Membuat Muka Sakerah Memerah
[30GSPKI] Istilah PKI Masih Membuat Muka Sakerah Memerah

PERISTIWA 30 September 1965 berada jauh di belakang. 47 tahun bukanlah masa yang singkat bagi sebuah generasi untuk tumbuh, berkembang, dan melupakan. Sebab darah yang terlanjur tumpah dan nyawa yang beterbangan tidak mudah begitu saja lepas dari ingatan.

Faktanya, Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga kini masih terstigma hitam. Tap MPR No. XXV Tahun 1966 tentang larangan PKI dan segala anasirnya di Indonesia masih berdiri gagah. Gaung peringatan awas bahaya laten komunisme setiap saat masih berkumandang.

Tidak heran, air muka Supardi alias Ardi Kinco (65), mendadak memerah begitu istilah PKI, Ansor, Militer dan Gestapu kembali disebut. Wajah keriputnya menegang. Sorot mata yang semula tenang tiba-tiba menajam. “Lihat, sepertinya Kang Ardi (Supardi) kurang senang istilah itu (PKI) disebut lagi,” tutur Marjuni (62), adik kandung Supardi.

Supardi merupakan salah satu aktivis Gerakan Pemuda Ansor, badan otonom Nahdatul Ulama (NU) asal Desa Podorejo Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung. Di usianya yang tergolong belia, yakni 18 tahun (1965), pria bertubuh kekar dengan tinggi badan sekitar 170 cm itu, aktif terlibat penumpasan sebuah kaum yang diidentifikasi sebagai anggota PKI.

lanjut dibawah ya,,,
“Kang Ardi memang anggota Ansor di Desa Podorejo. Dari dulu aktif, termasuk pada saat peristiwa 1965, “ terang Juni menjawab pertanyaan seputar profil kakaknya. Sebagian warga menjuluki anak ke-8 dari 10 bersaudara pasangan suami istri almarhum Paijo dan Jaenah itu sebagai “Sakerah”.

Sakerah atau populer dengan Pak Sakerah adalah seorang pejuang berdarah Madura yang pernah hidup di abad 19. Mandor tebu kelahiran Raci, Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan yang secara fisik berkumis tebal dengan tatapan mata yang tegas itu, oleh sebagian warga disamakan dengan penampilan Ardi. Sakerah yang begitu berani melawan kolonial Belanda. “Terutama pakaian dan celana komprang yang dikenakan Kang Ardi serba hitam seperti halnya Sakerah,” terang Juni yang pada tahun 1965 masih berusia 16 tahun.

Keterampilan membela diri, kedalaman olah kanuragan, ditambah tingginya ilmu agama membuat Ardi muda jauh dari rasa takut. Nyalinya begitu besar. Tidak pernah gentar menyambut marabahaya dan kematian.

Semua pengetahuan yang bersifat “pagar diri” itu hasil dari ketekunanya berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu guru ke guru lain serta nyantri kalong dari satu pesantren ke pesantren lain. “Keyakinannya sangat kuat bahwa hidup dan mati hanya Allah yang mengatur. Dulu cukup lama mondok (pondok pesantren) di daerah Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu,” jelasnya.

Jiwa yang tidak gampang gemetar, ditambah fisik yang tinggi besar membuat Ardi ditempatkan di posisi terdepan barisan penumpasan. Oleh pimpinan organisasinya (Ansor) ia ditasbihkan menjadi seorang “algojo”.
Sekedar mengingat. Peristiwa 30 September 1965 meletus di Jakarta. Pada Kamis malam, tepatnya Jumat Legi dini hari, sejumlah jenderal TNI diculik dan dihabisi. Pangkostrad Mayor Jendral Suharto (waktu itu) menyebut peristiwa berdarah itu dengan istilah G 30 S/ PKI atau Gestapu. Sebab PKI dituding sebagai dalang dibalik peristiwa pembunuhan berdarah ini.

Efek kupu-kupu pun terjadi. Peristiwa di ibu kota itu memantik gerakan massa di semua daerah yang menjadi basis atau kantong suara PKI. Konflik horizontal yang memakan banyak korban pun tak terelakkan. Tidak perduli siang atau malam, anggota Ansor mengenakan pakaian serba hitam. Selain sebagai “seragam”, bagi Ansor pakaian hitam sekaligus menjadi simbol siap bertempur hingga titik darah penghabisan.

Di wilayah eks Karasidenan Kediri, ratusan anggota Ansor yang juga santri Ponpes Lirboyo Kediri pertama kali mengenakan seragam hitam. Pemakaian warna gothic itu berlangsung pada hari kelima paska Gestapu meletus di Jakarta (Palu Arit Di Ladang Tebu: 162-163).

Sebagai anggota Ansor yang fanatik dan tidak kenal takut, Ardi pun melakukan hal yang sama. Sepengetahuan Marjuni, kakaknya hanya bertugas melumpuhkan orang-orang PKI yang mencoba melawan saat hendak ditangkap. “Sepengetahuan saya kang Ardi hanya mengikat orang PKI. Sebab tidak sedikit yang mencoba kabur atau nekat mengadu jiwa. Selanjutnya diserahkan kepada Pak Tayib dan Pak Suroso untuk dituntaskan,” terangnya.

Orang-orang PKI itu dijemput paksa di rumahnya. Sepertinya orang-orang yang akan “diambil” tersebut sudah terdaftar dalam data yang bersifat. Mulai anggota partai (PKI), hingga aktivis BTI, Pemuda Rakyat, Lekra, Sobsi hingga CGMI yang semuanya merupakan underbow partai, “dituntaskan”. Dengan tangan terikat mereka dikumpulkan di sebuah tempat yang telah disiapkan.

Marjuni menyebut Desa Trenceng, Desa Sambijajar dan tempat pemakaman umum (TPU) di Desa Domasan Kecamatan Sumbergempol sebagai lokasi pengumpulan orang-orang PKI yang tertawan. Layaknya pesakitan, para penghayat ajaran marxisme dan komunisme itu dibariskan dan diinterogasi.

Dari cerita yang berkembang, karena saking takutnya menjemput ajal, seorang anggota PKI langsung menyatakan tobat. Yang bersangkutan secara spontan mendaras ayat-ayat suci untuk membuktikan diri sebagai manusia yang beragama. Pura-pura atau memang muncul dari kesadaran hati yang terdalam, tidak ada yang tahu. Namun dunia fana sudah menjelma sebagai alam barzah, yang dimana jalan tobat telah tertutup rapat.

“Biasanya eksekusi dilakukan di halaman belakang rumah atau tempat pemakaman umum. Setelah itu jasad orang-orang itu langsung dikuburkan. Setahu saya di sini tidak dibuang di Sungai Brantas,” jelasnya.

Aksi penumpasan itu berlangsung pada musim penghujan. Tidak heran, sejumlah jasad orang-orang PKI yang dibiarkan terlantar tak terurus lebih cepat mengalami pembusukan. Bau tidak sedap yang tersembur dari daging manusia yang digerogoti belatung pun menyeruak ke mana-mana.

Tidak sedikit jasad dengan anggota badan yang sudah tidak lengkap terapung di sepanjang aliran sungai brantas. Sebuah versi menyebut korban peristiwa Gestapu mencapai 1 juta jiwa. Sebuah genocida manusia di tengah peradaban bangsa yang tengah menuju era modernisasi. “Tapi sepengetahuan saya, di Desa Podorejo, orang-orang PKI itu langsung dikebumikan,” tandas Marjuni.

30 Tahun Hidup Dalam Pasungan

Ardi Kinco nampak gelisah. Rancang bangun layang-layang bambu yang berada di tangannya diletakkan. Sebatang rokok ia keluarkan dan lalu disulutnya. Tembakau yang membara tersebut dihisapnya kuat-kuat. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran Ardi Kinco. Namun yang pasti semu merah yang sempat menguasai wajah berangsur angsur pudar.

“Sudah 30 tahun lamanya Kang Ardi sakit jiwa. Karena takut membahayakan keselamatan orang lain, keluarga terpaksa memasungnya,” tutur Marjuni. Seutas rantai dengan panjang sekitar setengah meter membelit kaki sebelah kiri Ardi Kinco.

Ujung rantai yang lain terikat pada sebuah tiang bangunan yang sedianya menjadi tempat berlindung Ardi dari panas dan hujan. Marjuni menyebut bangunan super minimalis itu sebagai “rumah” Ardi Kinco. Namun melihat keadaanya, rumah itu lebih tepat dikatakan sebagai kandang.

Di dalamnya penuh barang rongsokan yang seharusnya menjadi penghuni tetap pembuangan sampah. Sebuah dipan kecil yang diatasnya tergelar kasur tipis kumal dan kotor menjadi tempat tidur Ardi Kinco setelah bosan berlama-lama terpekur di teras “rumahnya. ”Tidur Kang Ardi “lap-lapan” (tidak nyenyak). Sebentar-sebentar terbangun dan biasanya termenung, “terang Marjuni.

Jiwa yang sepertinya terguncang itu terjadi pada saat Ardi merantau ke Moropinang Sumatera bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kopi. Ia pergi setelah menyelesaikan tugasnya sebagai “algojo” penumpas kaum kiri.

Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya, pada tahun ketiga bekerja, prilaku Ardi mendadak berubah aneh. Ia lebih banyak menyendiri. Setiap usai bekerja dimana semua teman-temanya berkumpul, ia memilih menghindari komunikasi.

Puncaknya Ardi kerap komat kamit, berbicara sendiri, mengamuk dan terkadang menyerang orang lain. “Informasi yang diberikan tetangga yang juga bekerja disana, sebelum bertingkah aneh itu, kang Ardi sakit panas tinggi. Katanya kena malaria tropika,” jelasnya.
Karena tidak ingin situasi bertambah buruk, oleh keluarga Ardi Kinco dibawa pulang. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sepanjang perjalanan naik kereta api, kedua tangan Ardi diborgol. “Saat itu borgol yang digunakan pinjam petugas kepolisian Polsek Sumbergempol,” paparnya.

Melihat ketidakwarasan suaminya, istri Ardi Kinco meminta cerai. Perempuan asal Kabupaten Pati Jawa Tengah itu memilih pulang ke kampung halamanya. Untuk mengembalikan kesehatan jiwa Ardi Kinco, keluarga sempat membawa “sakerah” ke rumah sakit jiwa Lawang. Segala nasihat dan obat yang disarankan petugas medis telah dituruti, namun kesehatan jiwa Ardi Kinco tidak juga kunjung pulih.

“Tidak sedikit biaya untuk berobat. Bahkan tanah milik keluarga sampai terjual habis. Namun kang Ardi tidak juga sembuh. Selama dirawat itu sempat dua kali lepas dan mengancam jiwa orang lain. Sebelum marah dan mengamuk biasanya ditandai air mukanya yang memerah. Karenanya kami memutuskan memasungnya,” tegasnya.

Marjuni diam-diam menyimpan rahasia penyebab sakit jiwanya Ardi Kinco. Dari informasi yang diperolehnya, jiwa kakaknya terguncang setelah terhasut omongan orang-orang Partai Nasional Indonesia pimpinan Ali Surahman (PNI ASU), yakni PNI yang berafiliasi dengan PKI.

Secara implisit, hasutan yang dimaksud itu adalah adanya aksi balas dendam dari orang-orang (PKI) yang ditumpasnya dalam peristiwa Gestapu. “Kang Ardi dikacau orang PNI. Mungkin rasa takut yang berlebihan itu yang membuatnya jadi seperti itu,” pungkasnya.

Sarifatu Jannah (75), kakak Ardi Kinco menambahkan, kini hidup adiknya tidak lebih dari panjang rantai yang membelenggu kakinya. Selain membuat layang-layang, aktivitas harian Ardi Kinco mengasah sabit atau pisau milik tetangga yang meminta bantuannya.

“Biasanya setelah mengasah, adik saya ini (Ardi Kinco) diberi rokok. Sebab jatah tembakaunya setiap bulan bisa habis satu kilogram,” tambahnya.

Sementara Putmainah, 84, mantan Ketua Gerwani Kabupaten Blitar asal Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar justru selamat setelah tertangkap petugas dari Angkatan Darat (AD). Selama tiga tahun lamanya Putmainah bersembunyi di gua bawah tanah di wilayah Blitar Selatan.

Sementara Subandi suaminya yang menjabat sebagai Ketua PKI Kota Blitar diduga lebih dulu terbunuh. “Pada peristiwa itu (Gestapu) suami saya sedang berada di Jakarta untuk memenuhi undangan kongres PKI. Informasinya tertangkap dan tidak tahu lagi kabar kejelasannya,” tuturnya.

Putmainah menuding militer yang berada di balik peristiwa berdarah itu. Namun sebagai manusia, cucu KH Abdurahman, pejuang laskar Pangeran Diponegoro itu telah memaafkan dan melupakan semuanya.


“Saya hidup selama 10 tahun di dalam penjara wanita Plantungan Semarang. Begitu keluar dari penjara, saya sempat mendatangi orang-orang yang dulu memburu saya. Saya jabat tangannya untuk saling memaafkan. Bahwa dalam peristiwa itu semua adalah korban,” pungkasnya.


sejarah PKI memang membuat kuping panas.. ya apalagi yang tidak sepaham dengan ajaran dari timur ini..

saya sendiri sudah diceritakan beberapa hal oleh kakek yang saat itu menjadi ketua PNI Marhaenisme di daerah Kabupaten di Jawa timur emoticon-Big Grin

sungguh ironis

sekedar mengingat kan gan..

ane bukan turunan kanan, juga bukan turunan kiri, tapi dari prespektif yang ane baca dr ribuan literatur menyimpulkan bahwa peristiwa "Gestok" (istilah ini yang dipakai oleh Bung Karno) karena menurut penuturan Beliau sendiri "Gestok" ini merupakan sebuah "kudeta premature" yang banyak sekali muatan politis nya sehingga rakyat kecil semisal yang Agan ceritakan diatas dengan mudah nya di adu domba..emoticon-Najis

Semoga tragedi semacam ini tidak akan terulang lagi sampai kiamat...emoticon-No Sara Please
Harap bersabar bagi turunan "kiri" yang nama nya belum 100% dipulihkan oleh Pemerintah..emoticon-Berduka (S)
yg diatas PKI kau? sini ketemu, mau dmna? asal ente tau keluarga besar sy dulu jg korban aksi2 kelompok pro pki awal2 1960an. ketemu ya?
KEJAGUNG Segera Usut Kasus Pelanggaran HAM 1965

JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) segara mengusut kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi pada 1965. Rencananya, Kejagung akan mulai melakukan pengusutan pada Senin 27 Agustus mendatang.

Hal tersebut disampaikan Jaksa Agung Basrief Arief usai Salat Jumat di Kejagung, pada Jumat (24/8/2012). "Itu nanti baru hari Senin dibahas oleh tim, terkait dengan masalah itu. Jadi dilihat hasil tim itu seperti apa," ungkap Basrief kepada wartawan.

Basief juga menambahkan jangka waktu yang diberikan untuk memepelajari kasus pelanggaran HAM 65 selama satu bulan. "Sehingga saya bilang jangan lewat dari sebulanlah," sambungnya.

Sebelumnya, Ketua DPP Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Leo Nababan, menentang keras bila kasus pelanggaran HAM tahun 1965 di buka kembali ke publik.

Dia khawatir akan terjadi konflik horizontal ditengah masyarakat. Masalahnya, jutaan rakyat Indonesia siap untuk membela Pancasila, karena masih ada aturan tentang pelarangan terhadap PKI.

"Ini akan membuat konflik horizontal di tengah masyarakat. Bayangkan kalau kasus ini dibuka, jutaan orang akan siap untuk membela Pancasila. Ada 127 ormas yang mendukung pancasila saat ini, dibawah pimpinan Kosgoro MKGR, dan ormas lainnya, Pemuda Pancasila. Terutama di garda terdepan adalah Nahdlatul Ulama melalui GP Ansor," simpul Leo.
dari sini sudah jelas ada pembantaian terhadap simpatisan PKI

PKI waktu itu memang kejam terhadap lawan ideologi, tapi apakah semua anggota yang dieksekusi itu jahat?

mencoba menjawab

Quote:Original Posted By Muenchen
yg diatas PKI kau? sini ketemu, mau dmna? asal ente tau keluarga besar sy dulu jg korban aksi2 kelompok pro pki awal2 1960an. ketemu ya?


maksud nya apa gan? ngajak ribut? emoticon-No Sara Please
udah ga zaman lagi gan...sekarang waktunya rekonsiliasi buat kemajuan Indonesia...malu donk kalo masih "emosi" kaya anak SMA ajj..emoticon-Berduka (S)



awas2!!! mulai tumbuh lagi neh benih2nya emoticon-Takut (S)
setuju sama agan satu ini...emoticon-Kiss
Quote:Original Posted By yudhawirawanda
dari sini sudah jelas ada pembantaian terhadap simpatisan PKI

PKI waktu itu memang kejam terhadap lawan ideologi, tapi apakah semua anggota yang dieksekusi itu jahat?


KISAH SEORANG KETUA GERWANI DAERAH BLITAR

http://news.okezone.com/read/2011/10...bupaten-blitar

Selain bergegas menyelamatkan diri, ingatan Putmainah, 83 belum bisa melupakan bagaimana dirinya membawa semua anaknya menyingkir jauh-jauh dari rumah. Ia gendong si bungsu Komara (Komunis Marhaenis dan Agama) yang saat itu belum genap berusia setahun, sekaligus menjelaskan apa yang terjadi kepada si sulung Dinana Amin Handayani yang masih berusia 13 tahun.

Dengan keterbatasan fisik seorang perempuan, Putmainah mengungsikan 7 anaknya ke rumah orang tuanya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Ia mendengar kabar bahwa paska G 30 S/PKI 1965 meletus di Jakarta, sekelompok massa yang berasal dari ormas Islam telah bergerak.

Gerakan itu tidak hanya mengepung ibukota, tapi juga merembes ke daerah. Dari Jakarta, gelombang “serangan” menerjang sejumlah daerah di Jawa Tengah. Kemudian Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara. Dengan didampingi barisan militer angkatan darat (AD), massa menyerbu semua rumah yang diidentifikasi sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejumlah litetarur sejarah menyebut sekitar 1 juta nyawa melayang dan sekitar 1,6 juta orang lagi di tahan tanpa proses pengadilan.

“Sementara saya sendiri adalah Ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Kabupaten Blitar yang juga anggota Fraksi PKI. Tentunya saya juga menjadi sasaran kemarahan berikutnya, “tutur Putmainah mengenang masa suram itu. Tidak ada tarikan nafas dalam.

Begitupun tidak terlihat secuilpun paras kesedihan. Perempuan dengan rambut yang seluruhnya memutih, kulit yang mengeriput, serta bola mata yang tidak jernih lagi karena usia itu, terlihat begitu tegar. Bahkan suaranya masih terdengar bersemangat. Lantang dan berapi-api.

“Memang inilah sejarah perjalanan hidup saya, “katanya tegas tanpa ada nada menyesal. Putmainah duduk di salah satu kursi ruang tamunya. Sejak bebas dari kurungan penjara orde baru, ia hidup sendiri di tanah kelahiranya Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Di belakang kursi yang didudukinya, tampak ilustrasi Bung Karno yang terbingkai rapi di tembok.

Sebuah sketsa strimin yang tersusun dari rajutan benang bol warna warni. Sementara lurus di hadapannya, tampak foto KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Foto cucu pendiri ormas Islam Nahdatul Ulama KH Hasyim Asy’ari itu dibuat pada saat Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI yang keempat. Sedangkan di tembok sebelah kiri, tepat diatas pesawat televisi 21 inchi, terpajang lukisan berukuran besar. Seorang lelaki tua dengan kumis tebal melintang serta udeng (ikat kepala) di kepalanya. Dialah KH Abdurrahman, kakek Putmainah.

Lanjut bawah...
Kisah yang ia ketahui, Abdurahman merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Ia lari ke arah timur (Jawa Timur) setelah Belanda berhasil mengalahkan pasukanya. “Kakek saya adalah seorang Haji yang juga pejuang dari Mataraman, “cetusnya dengan nada bangga. Ayah Putmainah adalah Haji Mansyur, putra KH Abdurahman. Mansyur seorang tokoh (Ketua) Sarikat Islam Merah Kabupaten Blitar yang juga seorang hafal Al Qur’an (Hafidz).

SI Merah merupakan pecahan Sarikat Islam pimpinan HOS Cokroaminoto (Juni 1916) yang pada akhirnya berganti nama menjadi Sarikat Rakyat (SR). Dari ayahnya yang terbunuh dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itulah, Putmainah yang aktif di organisasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) mengenal dasar-dasar ajaran komunis.

Bagaimana berbagi dengan sesama dan bagaimana bertindak ketika dalam kondisi terjepit. Bahwa tidak ada malam tanpa pagi. Seingat Putmainah, paska G30 S/PKI 1965, selain sepotong kebaya dan jarik yang melekat di badan, tak ada secuilpun harta benda yang dibawanya.

“Karena suasana sudah demikian gentingnya. Saya harus pergi dengan segera, “terangnya. Saat itu (1965), Subandi suaminya masih berada di Jakarta. Ketua PKI Kota Blitar yang juga Ketua Front Nasional Blitar serta Ketua DPRGR (Sekarang DPRD) Kota Blitar itu tengah menghadiri Kongres PKI.

Kabupaten dan Kota Blitar merupakan basis massa PKI. Dari sebanyak 45 kursi di DPRGR, 25 diantaranya milik PKI. Sedangkan sisanya dibagi rata partai Islam (NU dan Masyumi), PNI serta partai lainya. Informasi yang diterima Putmainah dari para “kamerad” yang selamat, Subandi dalam perjalanan pulang ke Blitar.

Kendati demikian sejak itu (1965), ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan pria yang pertama kali dijumpainya di organisasi Pesindo tersebut. “Secara pasti saya tidak tahu nasib suami saya. Namun kalau masih hidup tentunya sekarang ini kami sudah bertemu lagi, “terangnya secara tidak langsung lebih meyakini Subandi telah meninggal dunia.

Dorongan ingin selamat membuatnya tidak berfikir panjang. Rumah beserta isinya ia tinggalkan begitu saja. Tempat tinggal pribadi itu berada di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, bersebelahan dengan Istana Gebang -nama lain rumah mendiang Ny Soekarmini Wardojo (Kakak Kandung Bung Karno).

“Saya tidak takut mati. Karena saya yakin apa yang saya lakukan untuk rakyat adalah sesuatu benar. Saya hanya ingin selamat untuk meneruskan perjuangan selanjutnya, “paparnya. Setelah para petinggi PKI dieksekusi, seperti Njoto ditembak pada 6 November, kemudian Dipa Nusantara Aidit pada 22 November serta Wakil Ketua PKI M.H Lukman sesudahnya, giliran para petinggi PKI di daerah diserbu. Siapapun yang teridentifikasi dalam barisan wanita (Gerwani), buruh (SOBSI), Pemuda (Pemuda Rakyat), petani (BTI) dan kebudayaan (Lekra) “dibersihkan”. Penghuni rumah dibawa paksa untuk dieksekusi.
Quote:Original Posted By ithil.hunter
awas2!!! mulai tumbuh lagi neh benih2nya emoticon-Takut (S)


benih2 apa sih gan? emoticon-Blue Guy Peace

takut ma cuma ama Tuhan, hehe

PKI layak mendapat hukuman atas kebiadabannya selama ini, namun anggota2nya belum tentu, apalagi keturunan2nya

bagi korban PKI, perasaannya mungkin sama deh dengan keturunan korban tertuduh PKI..
Quote:Original Posted By pilus16
maksud nya apa gan? ngajak ribut? emoticon-No Sara Please
udah ga zaman lagi gan...sekarang waktunya rekonsiliasi buat kemajuan Indonesia...malu donk kalo masih "emosi" kaya anak SMA ajj..emoticon-Berduka (S)


ngajak debat doang kali. jelas sy emosi, nantangin pancasila itu namanya. sy tau orang2 ekstrim kiri udah menjelekk2an organisasi2 Islam yg dianggap tidak pancasilais pdhal mereka sendiri anti pancasila. ente jg anti pancasila? orang2 yg menolak pancasila adalah orang2 yg aneh. Pancasila yg selama ini menjaga bangsa ini
Jika tidak ditemukan, isi rumah dijarah, bahkan tidak jarang langsung diobrak-abrik. “Tempat tinggal saya juga dirusak, “terang Putmainah yang sampai hari ini tidak mampu mendapatkan kembali haknya atas rumah di lingkungan Istana Gebang tersebut.

Selama tiga tahun, tokoh komunis Blitar ini hidup di hutan belantara sebagai pelarian politik. Harta satu-satunya hanya pakaian yang melekat di raga. Untuk menghindari kejaran tentara angkatan darat (AD) dan massa ormas Islam, Putmainah memilih bersembunyi di dalam Gua Gayas, gua yang menghadap pantai selatan di wilayah perbukitan kapur Blitar Selatan.

Lubang dalam tanah itu begitu sempit dan pengap. Ditambah banyaknya orang yang bersembunyi membuat persediaan oksigen di dalamnya semakin terbatas. “Berdiri saja harus berhimpitan.

Saya keluar pada malam hari, untuk mencari makan. Kalau siang bertahan di dalam gua, “kenangnya. Untuk mengusir rasa lapar, Putmainah memilih bergantung dari “lezatnya” dedaunan hutan. Ia selalu memulai dengan menggigit kecil pada bagian pinggir daun. Cara itu untuk menguji apakah daun tersebut layak makan atau tidak. “Kalau gatal tidak saya teruskan. Berarti beracun. Karenanya saya cari yang lain, “paparnya.
Untuk menghilangkan dahaga, para pelarian politik ini bergantung pada tetesan air di dalam gua. Kondisinya yang serba tandus itu justru menjadikan Blitar selatan sebagai wilayah pertahanan paling aman bagi pengikut PKI paska gestapu meletus.
Sebab sebagian besar warga yang bertempat tinggal di perbukitan kapur tersebut memiliki tradisi Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang kuat. Warga memilih menggelengkan kepala sebagai ungkapan tidak tahu ketika para serdadu bertanya tentang ada tidaknya tokoh komunis yang bersembunyi di daerah mereka. “Bahkan anak kecil pun bisa menjadi kurir pengantar surat dalam gerakan kami, “terangnya.

Namun, bagaimanapun hebatnya pertahanan orang-orang PKI, jumlah tentara lebih banyak. Apalagi mereka mendapat sokongan penuh dari ormas Islam. Satu persatu pengikut komunis mulai tidak tahan. Tekanan fisik dan mental serta rasa lapar dan dahaga yang tak terhingga mendorong mereka untuk keluar dari lobang-lobang persembunyian. Sebab selain gua gayas, masih banyak gua lain di Blitar selatan yang menjadi lokasi “tiarap” para gerilyawan PKI.

Putmainah sendiri mengaku tidak bersedia keluar, ketika “kawanya” yang bernama Murjani, tokoh PKI asal Tulungagung mengajaknya keluar, istri Subandi itu memutuskan bertahan di dalam gua.

“Karena saat itu kondisi saya sudah sangat lemah. Saya lapar dan tidak bisa berjalan lagi, “papar Putmainah. Ia berhasil ditangkap setelah salah seorang pengikut PKI memberitahu tentara bahwa masih ada seorang perempuan yang bertahan di dalam gua.

“Ini orangnya yang memberitahukan saya ada di dalam gua, “terang Putmainah yang menunjuk seorang laki-laki dalam sebuah foto hitam putih. Kedua tangan laki-laki yang berperawakan kurus itu tampak terikat. Putmainah duduk jongkok di sebelahnya dengan kedua tangan terikat. Sementara sejumlah tentara angkatan darat yang berdiri di belakang dan di sampingnya tampak bahagia. Semuanya memperlihatkan senyum kemenangan.

“Mungkin mereka semua itu (tentara) merasa bangga telah berhasil menangkap saya. Sebab saya dianggap tokoh PKI di Blitar, “pungkasnya.
cuman isu tahunan kok, deket2 30 september mah wajar....ntar kelelep lagi kok...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin


yahh kakek-nenek yang dulu ngga bersalah tapi jadi korban "konflik PKI" ini mudah2an diberi ketabahan...emoticon-norose
fakta kok kalo PKI berontak, fakta kalo ada korban di kedua belah pihak....
soooooo.....
udah deh, saling maafin aja...nggak usah dibuka2 lagi nih kasus....
komunis se dunia udah nggak laku kok...emoticon-Stick Out Tongue
sekarang mikirin gimana caranya supaya korupsi di negri ini bisa ditumpas, rakyatnya pinter2, dan negara bisa makmur.....emoticon-Big Grin

emoticon-Ngacir

Sebaiknya peristiwa ini menjadi pelajaran berguna bagi generasi kini, bukan peringatan ini malah membangkitkan dendam lama, contoh aja bangsa-bangsa lain bisa bangkit dari keterpurukan tapi generasi nya tidak akan lupa akan sejarah,,
emoticon-I Love Indonesia (S)
Dari Plantungan, Korea dan Mahasiswa

Hari pertama penangkapan, Putmainah langsung di tahan di koramil daerah Lodoyo, Kabupaten Blitar. Seperti biasa, interogasi tentang sejauh mana keterlibatan dalam G30 S/PKI menjadi sarapan sehari-harinya. “Soal itu (G 30 S PKI) saya tidak tahu apa-apa. Kami tidak pernah memberontak.


Jika memberontak tentu persiapan itu sudah ada di daerah. Namun kenyataanya semua itu (persiapan pemberontakan) tidak ada, “ujar Putmainah. Dari tahanan militer Lodoyo, Putmainah dilayar (dipindah) ke Kediri. Tidak lama dari sana, ia dipindah lagi ke penjara militer Madiun dan akhirnya dibuang ke penjara Plantungan, Kabupaten Kendal, sebelah selatan Kota Semarang. Penjara plantungan merupakan bekas rumah sakit penderita kusta. Bagi orang-orang eks tapol (PKI), Plantungan merupakan pulau burunya Gerwani. “Sebab semua penghuninya adalah perempuan, “terangnya.

Selama 10 tahun lamanya Putmaniah hidup di sana. Selain bercocok tanam, aktivitas sehari-harinya adalah membuat kerajinan tangan termasuk bermain kesenian. Selama di Plantungan, ia juga mendapat kunjungan anak sulungnya yang diantar eyangnya. “Penjaga disana baik-baik.

Meskipun ada interogasi tetapi tidak ada penyiksaan, “kenangnya. Keluar dari “pengasingan”, Putmainah langsung pulang ke kampung halamanya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat. Bermodalkan dari menjual harta warisan mendiang suaminya, ia berdagang sayuran dan sembako.

Ia besarkan anak-anaknya seorang diri. Kecuali si sulung, seluruh anak Putmainah mengenyam bangku perguruan tinggi. Bahkan beberapa diantaranya lulusan universitas negeri terkemuka di Surabaya. Putmainah sendiri hanya lulusan sekolah Taman Siswa di Tulungagung (setingkat SMP) “Hanya anak sulung saya yang hanya lulusan sekolah dasar. Sejarah hitam yang membuatnya kehilangan masa depan pendidikanya, “tuturnya.

Selain merawat rumah yang ditempatinya seorang diri, kegiatan hidup Putmainah sehari-hari adalah membaca buku dan melihat berita di televisi. Baru pada tahun 2003 lalu, setempel eks tapol terhapus dari identitasnya (KTP) dan dia tidak lagi melakukan absen rutin di Koramil Srengat. Di luar semua kegiatan itu, sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat kerap mengundangnya sebagai pelaku sekaligus korban sejarah 1965. Sekitar tahun 2009 lalu, Putmainah dibawa ke Korea Selatan untuk menceritakan kisah, seperti apakah sesungguhnya peristiwa 1965 yang terjadi di Indonesia. Apakah memang PKI menyiapkan pemberontakan? Atau itu semua merupakan skenario Amerika untuk menggulingkan Bung Karno?. Di luar itu, Putmainah sering menghadiri undangan di acara seminar atau dialog yang menyangkut persitiwa 1965.

Sejumlah mahasiswa tidak sedikit yang datang ke rumahnya hanya untuk menyelesaikan tugas akhir (skripsi) yang terkait dengan peristiwa 1965. “Saya di negerinya kapitalis (Korea Selatan) selama 10 hari. Terakhir pada tahun 2011 ini saya juga diajak ke Blitar selatan untuk menunjukkan langsung gua yang dulu menjadi tempat persembunyian. Saya suka dengan anak muda yang tertarik dengan sejarah, “paparnya.

Dendamkah dengan negara yang telah menorehkan sejarah pahit ini? Putmainah mengatakan tidak merasa dendam. Kendati demikian ia tidak bisa melupakan hal itu.

Menurutnya, mereka yang menghabisi orang-orang PKI juga sebagai korban yang tidak mengetahui politik. “Yang saya harapkan saat ini adalah kepada anak muda, khususnya mahasiswa untuk bisa mengambil peran yang baik untuk perubahan negara yang lebih baik, “pungkasnya.



Quote:ya 2 versi dari arus berlawanan udah gw ambil.. silakan ambil pemikiran kalian sendiri, mana yang harus berbicara merenggut HAM atau direnggut HAM nya.. JANGAN ADA BALAS DENDAM
kayaknya cerita begini kudu jadi sampul depan majalah Hidayah... "muda membantai orang, tua gila&sengsara;"
×