alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016697749/penyakit-sosial-bernama-haji-ulang-renungan
Penyakit Sosial Bernama Haji Ulang (renungan)
KOMPAS.com - Seorang kawan bercerita kepada kami bahwa masyarakat di daerahnya punya anggapan unik. Apabila ada seorang lelaki yang sudah berhaji dua kali, ia akan mudah mendapatkan istri yang kedua.

Anggapan ini berasal dari persepsi masyarakat setempat bahwa orang yang sudah berhaji ulang itu adalah orang yang baik ibadahnya dan baik pula kantongnya. Maka, dari persepsi itu, status sosial seorang yang sudah berhaji ulang jadi semakin tinggi. Oleh karena itu, di lingkungan masyarakat ia jadi rebutan para wanita yang siap jadi istri kedua.

Apabila persepsi seperti itu benar menurut ajaran agama, Nabi Muhammad SAW bukanlah orang yang baik. Karena selama hidupnya, beliau hanya berhaji satu kali. Padahal, beliau punya kesempatan tiga kali untuk berhaji. Beliau juga punya kesempatan berumrah sunah ratusan, bahkan ribuan kali, tetapi beliau hanya berumrah sunah dua kali. Bandingkan dengan kita, masyarakat Muslim di Indonesia, yang rata-rata ingin berhaji setiap tahun dan berumrah setiap bulan.

Mengapa Nabi Muhammad SAW berhaji hanya sekali dan berumrah sunah hanya dua kali? Apakah beliau tak punya uang? Apabila beliau tak punya uang, bukankah beliau tinggal berkata saja kepada sejumlah sahabat yang kaya raya, seperti Abdurahman bin Auf dan Abu Ayyub al-Anshari. Tentu kedua sahabat akan segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan Nabi. Namun, Nabi tak pernah meminta-minta untuk kepentingan pribadi beliau seperti itu.

Setelah Nabi menetap di Madinah, sekurang-kurangnya terjadi tiga hal penting. Pertama, Nabi menghadapi orang-orang yang memusuhi dan memerangi beliau, maka Nabi menginfakkan hartanya untuk kepentingan jihad fisabilillah melawan orang- orang itu. Kedua, akibat perang atau jihad fisabilillah gugurlah para syuhada yang kemudian menimbulkan janda-janda dan anak-anak yatim. Maka, harta Nabi diinfakkan untuk menyantuni para janda, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.

Ketiga, banyaknya pelajar yang menuntut ilmu dari Nabi Muhammad SAW sementara mereka tidak punya apa-apa di Madinah, baik harta maupun keluarga. Mereka tinggal di satu ruangan di Masjid Nabawi yang disebut al-Shuffah. Sementara untuk keperluan makan, Nabi menganjurkan kepada para sahabat untuk menjamin pemberian makan kepada mereka. Nabi sendiri setiap hari memberikan makan kepada 70 pelajar Shuffah.

Keutamaan ibadah sosial

Seandainya berhaji ulang itu lebih utama daripada menyantuni janda-janda, orang miskin, anak-anak yatim, dan para pelajar yang tidak mampu, maka Nabi tentu sudah melakukan haji ulang dan atau umrah berkali- kali. Namun, Nabi tak melakukannya. Nabi justru menegaskan bahwa penyantun anak yatim akan tinggal di surga bersama Nabi dan tidak terpisahkan, ibarat jari tengah dan telunjuk.

Nabi juga menegaskan, orang yang menyantuni para janda dan orang-orang miskin tak ubahnya seperti orang berjihad fisabilillah. Sementara ibadah haji, apabila memenuhi syarat-syarat sehingga dapat disebut haji mabrur, Nabi hanya menjanjikan surga saja kepada pelakunya, tanpa menyebutkan bersama beliau.

Dari sini dapat dipahami bahwa menyantuni anak-anak yatim, para janda, orang-orang miskin, dan para pelajar yang tak mampu jauh lebih unggul nilai pahalanya daripada berhaji ulang. Dengan kata lain, ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual. Begitulah kaidah hukum Islam menyebutkan. Bagaimanapun, Nabi tak pernah mencontohkan untuk berhaji ulang atau berulang-ulang berumrah.

Ketika keadaan masyarakat kita sedang sangat terpuruk, potret kemiskinan di mana-mana. Para pakar ekonomi mengatakan, sampai akhir 2011, di Indonesia masih terdapat 117 juta orang miskin. Tempat ibadah banyak yang terbengkalai. Apabila keadaan negeri kita masih seperti itu, pantaskah lalu kita berkali- kali berhaji dan berumrah? Ayat Al Quran mana yang menyuruh kita melakukan itu? Hadis manakah yang menganjurkan kita untuk berbuat seperti itu?

Inilah penyakit sosial yang menimpa masyarakat kita dan perlu segera diobati. Obatnya adalah mengikuti perilaku Nabi dalam beribadah, yaitu berhaji cukup sekali dan berinfak ribuan kali. Pertanyaan berikutnya, maukah kita mengobati diri kita dari penyakit sosial yang menimpa kita itu? Atau kita justru ingin memperparah penyakit yang sedang kita derita itu?

Ali Mustafa Yaqub Imam Besar Masjid Istiqlal

SUMBER

Bagus nie , syukur2 dana buat hajinya yg ke 2 ke 3 dan ke seratus bisa di sumbangin buat orang lain yg mau beribadah haji tetapi tidak bisa di karenakan tidak mampu

bener juga mending dana buat haji berulang-ulang bisa dipakai menggerakkan sektor ekonomi mikro sehingga meningkatkan kesejahteraan......
padahal saudaramu yang terdekat adalah tetanggamu

padahal haji ke-2 adalah sunnah

padahal istri ke-2 di sunnahkan janda

padahal ......hemmm ,apa lagi yaaa padahal selanjutnya emoticon-Hammer2
Quote:Original Posted By japek
bener juga mending dana buat haji berulang-ulang bisa dipakai menggerakkan sektor ekonomi mikro sehingga meningkatkan kesejahteraan......


Yap setuju Minimal kalo mau bisa disedekahin kepada yang belum mampu(naik haji), Kasihan Quota haji Ngantrinya tahunan,,.emoticon-Matabelo

haji????

ibadah kok dipersulit, cari yg murah meriah aja... gt aja kok diributin.....

kalau mampu gak usa ikut indonesia, pinjem KTP MALAYSIA, cepet!!!!
jd inget shitnetron kesukaan istri ane, si mukidin, mau haji ke 3 x tapi gagal,haji ampe 100 x kalau sifatnya masih kek si mukidin tu ya sama aja bo'ong hajinya,lagian naik haji berulang ulang bikin daftar antre semakin banyak,kasian yg blm pernah naik haji
Padahal Rasul bisa aja haji tiap tahun karena beliau sendiri tinggal di arab. Ini nyandang status haji aja pada bangga bener. Padahal klo dilliat dari sejarah, tokoh2 quraisy zalim jaman dahulu jg bisa saja disebut haji seperti abu lahab karena beliau juga berhaji.
orang yang sudah berhaji, seperti nya mereka masih belum "puas" untuk sholat di masjidil haram, mereka selalu merindukan ka'bah, kubur nabi dll.

itu sebabnya bagi yang punya duit,merasa ingin terus berada di makkah madinah, namun apa daya kan ada batas nya...makanya tahun berikutnya berangkat lagi...

klo orang2 arab sendiri kan emang selalu berada disitu,makanya melaksanakan haji cuma sekali dua saja,...secara mereka tiap saat bisa sholat di masjidil haram dll, beda sama orang indo yang ada batasnya.

=======

ni pengalaman ane ya, mungkin bisa jadi bahan perbandingan emoticon-Smilie

ane orang kalimantan, punya rejeki(nabung) ane ziarah ke makam para wali songo di jawa. begitu mau pulang ke kalimantan ane merasa gimana gitu, masih belum puas gitu, masih ingin berlama lama tinggal di jawa, tapi apa daya kan ada kerjaan di kalimantan.

sehingga tahun depan klo ada rejeki lagi rasanya ingin ziarah kembali ke wali songo, ingin merasakan suasana adem nya komplek sunan ampel,sunan giri dll emoticon-Smilie . masa ia kita bisa "ikhlas" klo ada uang trus kita suruh orang yang belum pernah ziarah ke wali songo ??sementara kita sangat menginginkan lagi ?? teori gampang,praktek yang sulit.

nah ini baru wali songo, apalagi lagi daya tarik kota makkah madinah, komplek kubur nabi, semuanya kan meninggalkan kesan yang lebih dalam lagi kepada orang yang pernah kesana,sehingga orang yang pernah kesana masih ingin kembali lagi.

ane sering nanya ama jamaah haji/umroh yang datang,rata rata masih ingin kesana lagi ya itu tadi alasannya, memang sih kedengarannya egois. sekali lagi teori gampang,praktek yang sulit.

maaf kalo ada salah kata, sepertinya kalimat penyakit sosial haji ulang kurang baik kedengarannya. emoticon-Blue Guy Peace
Quote:Original Posted By japek
bener juga mending dana buat haji berulang-ulang bisa dipakai menggerakkan sektor ekonomi mikro sehingga meningkatkan kesejahteraan......


masalahnya gan kangen gitu ama suasana makkah madinah, tapi orang beda beda juga sih, emang ada yang masih ingin berulang ulang, ada juga yang 1 kali udah cukup trus bikin usaha UKM yang bermanfaat bagi banyak orang emoticon-Smilie sam sama pahala

Quote:Original Posted By INCUBATOR
haji????

ibadah kok dipersulit, cari yg murah meriah aja... gt aja kok diributin.....

kalau mampu gak usa ikut indonesia, pinjem KTP MALAYSIA, cepet!!!!


mesti kerajaan saudi nih ngasih solusi, jatah kouta malingsia over ke indo biar jamaah indo kagak numpuk bertahun tahun.

Quote:Original Posted By jantuk reborn
Padahal Rasul bisa aja haji tiap tahun karena beliau sendiri tinggal di arab. Ini nyandang status haji aja pada bangga bener. Padahal klo dilliat dari sejarah, tokoh2 quraisy zalim jaman dahulu jg bisa saja disebut haji seperti abu lahab karena beliau juga berhaji.


bangga gak bangga itu masing2 gan, tapi ya kebiasaan di indo klo udah datang haji, di tambahin "H" nama depannya emoticon-Hammer ntar klo udah puasa nama depan di kasih "P"
Quote:Original Posted By 80RN30_H4CK3R
orang yang sudah berhaji, seperti nya mereka masih belum "puas" untuk sholat di masjidil haram, mereka selalu merindukan ka'bah, kubur nabi dll.

itu sebabnya bagi yang punya duit,merasa ingin terus berada di makkah madinah, namun apa daya kan ada batas nya...makanya tahun berikutnya berangkat lagi...

klo orang2 arab sendiri kan emang selalu berada disitu,makanya melaksanakan haji cuma sekali dua saja,...secara mereka tiap saat bisa sholat di masjidil haram dll, beda sama orang indo yang ada batasnya.

=======

ni pengalaman ane ya, mungkin bisa jadi bahan perbandingan emoticon-Smilie

ane orang kalimantan, punya rejeki(nabung) ane ziarah ke makam para wali songo di jawa. begitu mau pulang ke kalimantan ane merasa gimana gitu, masih belum puas gitu, masih ingin berlama lama tinggal di jawa, tapi apa daya kan ada kerjaan di kalimantan.

sehingga tahun depan klo ada rejeki lagi rasanya ingin ziarah kembali ke wali songo, ingin merasakan suasana adem nya komplek sunan ampel,sunan giri dll emoticon-Smilie . masa ia kita bisa "ikhlas" klo ada uang trus kita suruh orang yang belum pernah ziarah ke wali songo ??sementara kita sangat menginginkan lagi ?? teori gampang,praktek yang sulit.

nah ini baru wali songo, apalagi lagi daya tarik kota makkah madinah, komplek kubur nabi, semuanya kan meninggalkan kesan yang lebih dalam lagi kepada orang yang pernah kesana,sehingga orang yang pernah kesana masih ingin kembali lagi.

ane sering nanya ama jamaah haji/umroh yang datang,rata rata masih ingin kesana lagi ya itu tadi alasannya, memang sih kedengarannya egois. sekali lagi teori gampang,praktek yang sulit.

maaf kalo ada salah kata, sepertinya kalimat penyakit sosial haji ulang kurang baik kedengarannya. emoticon-Blue Guy Peace


ketika ente mendahulukan yang sunnah daripada wajib, maka itu sudah bisikan setan

jangan ente kira karena sudah pernah berhaji maka keinginan balik untuk haji itu dari hati nurani, bisa jadi itu bisikan setan

fakta bahwa banyak haji yang lebih suka balik lagi berhaji daripada membantu tetangga yang miskin, jelas merupakan masalah sosial
ketika manusia lebih memperdulikan kesenangan mereka daripada penderitaan orang lain

ngomong2, apa kira2 beda manusia semacam ini dengan misalkan penikmat narkoba/bir yang tidak peduli kalau misalkan orang lain jadi mampus/tetap menderita akibat tindakannya ?
atau orang kaya yang membuang2 uang mereka untuk berjudi tanpa peduli saudaranya atau tetangganya yang melarat

perbedaan cuma ada di simbolisasi saja, tapi secara esensi, mereka sama persis

memang berat, tapi godaan setan itu selalu muncul, dimanapun diri kita
haji ulang asal tidak melalui jalur belakang seperti nya tidak apa-apa kalau menurut ane

jadi haji ulang tetapi mengantri untuk keberangkatan nya

tapi bukankah lebih bermanfaat bila disedekahkan emoticon-Smilie
biarin aja deh, itu kan duit2nya dia sendiri

kalau ternyata dia mentingin haji ulang tapi tetangga sekitarnya pada kelaperan

ya bener apa yang ditulis di berita itu

kalau enggak ya berarti mungkin dia beneran uangnya berlebih dan kangen berat ama suasana haji di sana

emoticon-Embarrassment
yah klo sdh namanya gelar, pasti jadi status sosial juga emoticon-Big Grin
emoticon-Sorry iya nih..pdahal di INdonesia kan banyak orang miskin...lucunya, di Indonesia pula jamaah hajinya paling banyak... 1 kali haji cukuplah, klo tuk umrah, mnurut aneh lbih dari 2 kali jg ga apa2, asalkan org2 miskin disekeliling kita sdh ga klaparan lagi.emoticon-cystg
lucu juga klo sudah berhaji 2 kali boleh nambah istri 2 kali pula,,,,,,

hanya di indonesia ganemoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By japek
bener juga mending dana buat haji berulang-ulang bisa dipakai menggerakkan sektor ekonomi mikro sehingga meningkatkan kesejahteraan......


setuju banget gan...
vbot gimana pendapatnya?
Quote:Original Posted By maspenewu
lucu juga klo sudah berhaji 2 kali boleh nambah istri 2 kali pula,,,,,,

hanya di indonesia ganemoticon-I Love Indonesia (S)


berarti kalo udah haji 3 kali boleh nambah istri 3 kali gan?emoticon-Bingung (S)
Hebat dah haji dimarih sampe mengalahkan nabi yg hanya sekali emoticon-Cape d... (S)
lha wong orangnya kaya gan
mau diapain
wkwkwkwkwk
Quote:Original Posted By AntiKemunafikan
ketika ente mendahulukan yang sunnah daripada wajib, maka itu sudah bisikan setan

jangan ente kira karena sudah pernah berhaji maka keinginan balik untuk haji itu dari hati nurani, bisa jadi itu bisikan setan

fakta bahwa banyak haji yang lebih suka balik lagi berhaji daripada membantu tetangga yang miskin, jelas merupakan masalah sosial
ketika manusia lebih memperdulikan kesenangan mereka daripada penderitaan orang lain

ngomong2, apa kira2 beda manusia semacam ini dengan misalkan penikmat narkoba/bir yang tidak peduli kalau misalkan orang lain jadi mampus/tetap menderita akibat tindakannya ?
atau orang kaya yang membuang2 uang mereka untuk berjudi tanpa peduli saudaranya atau tetangganya yang melarat

perbedaan cuma ada di simbolisasi saja, tapi secara esensi, mereka sama persis

memang berat, tapi godaan setan itu selalu muncul, dimanapun diri kita


ngemeng2 ente sudah haji belum ???
ane coba memberi gambaran dari sisi haji yang ingin lagi ke makkah emoticon-Smilie

sekali lagi ane katakan teori gampang,praktek nya sulit. anti kemunafikan bray...