alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016608119/dahlan-iskan-problem-susu-etawa-di-bukit-menoreh
Dahlan Iskan: Problem Susu Etawa di Bukit Menoreh
Referensi : [url]http://finance.detik..com/read/2012/09/24/074331/2031619/4/dahlan-iskan-problem-susu-etawa-di-bukit-menoreh?[/url]

Jakarta - Sudah terlalu malam ketika saya tiba di Sumowono, sebuah desa di gugusan Bukit Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah. Sudah terlalu gelap untuk bisa melihat kandang-kandang kambing di desa itu.

Saya salah perhitungan. Berbekal alamat saja ternyata tidak cukup. Rencana untuk tiba di desa itu pukul 17.00 pun meleset.

Jarak Jogja-Purworejo yang diperkirakan bisa ditempuh satu jam ternyata harus tiga jam. Untuk bisa keluar dari Jogja saja sudah memerlukan waktu satu jam sendiri. Proyek fly over di ujung ring road Jogja itu membuat lalu-lintas sore hari macet-cet.

Tapi, itu bukan menyebab utama. Kesalahan fatalnya karena saya salah memilih jalan: untuk ke desa Sumowono ternyata bisa lewat Godean. Tidak perlu masuk kota Purworejo. Tapi nafsu besar untuk bisa menikmati dawet hitam yang terkenal itu membuat saya ingin masuk kota Purworejo.

Akhirnya saya baru masuk desa itu pukul 20.30. Sepi. Gelap. Pak Lurah Maryono pun tidak di rumah. Untung bisa dicari untuk segera pulang. Sudah lama saya ingin ke desa ini karena keistimewaan kambingnya. Tapi tidak mungkin di kegelapan seperti itu saya bisa melihat di mana letak kecantikan kambing-kambing Sumowono.

Maka saya putuskan saja bermalam di desa itu. Baru pagi-pagi keesokan harinya keinginan melihat kambing istimewa itu terlaksana. Sambil menikmati hawa sejuk pagi hari di Bukit Menoreh.

Malam itu, di rumah Pak Maryono yang belum sepenuhnya jadi, kami bisa ngobrol lesehan dengan beberapa penduduk yang memelihara kambing bantuan BUMN. Saya ingin melihat sendiri kenyataan di lapangan apakah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN itu benar-benar sebaik yang dilaporkan.

Kian malam obrolan kian menarik. Suguhan singkong goreng dan pisang rebusnya enak sekali. Apalagi Bu Lurah Maryono juga menyuguhkan susu hangat dari kambing etawa, yang manisnya berasal dari gula aren produksi desa sendiri.

Obrolan di lantai malam itu kian lengkap karena Pak Bupati Purworejo, Drs Mahsun Zain, tiba-tiba muncul ikut lesehan. Inilah obrolan yang penuh canda karena banyak juga membicarakan masalah seks! Terutama hubungan seks antar kambing.

"Kalau terjadi hubungan seks, di sini, pihak wanitanya yang harus bayar," ujar Warman, seorang penerima bantuan kambing etawa BUMN PT Jasa Raharja (Persero). "Sekali hubungan Rp 50.000," tambahnya.

Waktu itu, 1,5 tahun lalu, Warman bersama 23 orang penduduk Sumowono menerima pinjaman Jasa Raharja masing-masing Rp 15 juta. Bunganya hanya 6% setahun. Tiap orang bebas menentukan strateginya sendiri. Boleh membeli lima kambing kecil-kecil, boleh juga membeli tiga kambing yang sudah besar. Marwan membeli tiga kambing etawa: dua induk dan satu calon induk.

Sabtu kemarin, ketika saya di sana, kambing Warman sudah 14 ekor! Hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Warman termasuk warga yang cerdas dalam menentukan strategi mengenai jenis kambing yang harus dibeli dengan uang Rp 15 juta itu.

Sama-sama dapat pinjaman Rp 15 juta, ada yang saat ini baru memiliki 10 ekor kambing. Program ini memang sangat berhasil. Dari 23 orang yang tergabung dalam kelompok Ngudi Luwih, tidak satu pun yang gagal. Semua kambing mereka berkembang. Semuanya mampu membayar cicilan pertama sebesar Rp 5 juta.

Kalau toh ada yang belum memuaskan, program ini belum menyentuh penduduk yang termiskin di desa itu.

Soal inilah yang malam itu kami obrolkan sampai malam: bagaimana penduduk yang termiskin bisa dientas lewat program yang sama. Menurut Pak Lurah, masih ada 100 KK (dari 350) yang sangat miskin. Seratus KK tersebut kami kelompokkan: mana yang bisa segera ditangani dan mana yang harus tahap berikutnya.

Ternyata ada 40 KK yang bisa segera dibikinkan program yang sama. Pak Lurah bersama penduduk yang sudah terbukti mampu mengembangkan kambing, sepakat untuk bersama-sama menuntun 40 orang itu. “Baik Pak. Kami akan ikut membina mereka,” ujar Pak Lurah.

Awalnya, bantuan tersebut ditawarkan kepada siapa saja di desa itu. Tentu harus untuk membeli kambing etawa. Ini karena memelihara etawa sudah mendarah mendaging di pegunungan itu. Sudah sejak zaman Belanda. Tapi, ternyata, mereka yang tergolong termiskin tersebut tidak mau mendaftar.

Mengapa? “Mereka pada takut. Takut punya utang dan takut tidak bisa mengembalikan,” ujar Pak Lurah. Tapi setelah melihat banyak penduduk yang berhasil, sebagian dari 100 orang tersebut kini mulai berani.

Misalnya Pak Habib Abdul Rosyid.

Habib adalah imam di masjid kecil di desa itu. Bacaan ayat-ayat Al Qurannya sangat baik. Habib hanyalah tamatan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), yang karena kemiskinannya tidak melanjutkan ke tingkat yang lebih atas. Sehari-hari Habib (42 tahun) menjadi buruh tani, mencangkul atau mencari rumput. Habib juga memelihara 6 ekor kambing tapi milik orang lain. Habib hanya menggadu.

Usai salat subuh yang dia imamnya, saya ngobrol lesehan dengan seluruh jamaah di teras masjid. Tentu obrolan mengenai kambing etawa. Habib tiba-tiba mengajukan diri untuk mendapatkan bantuan Jasa Raharja.

“Mengapa tidak ikut kelompok yang pertama dulu?” Tanya saya.

“Waktu itu saya takut Pak. Ternyata bapak-bapak ini berhasil semua,” ujarnya.

“Sekarang sudah berani?” Tanya saya.

“Berani Pak. Saya harus berhasil. Saya harus maju. Dan lagi anak saya tiga. Sudah mulai ada yang masuk SMP. Sudah mulai memerlukan banyak biaya,” tambahnya.

Habib juga segera ingin berubah. Dari memelihara kambing biasa milik orang lain menjadi memelihara kambing etawa milik sendiri. Kambing biasa, kata Habib, memerlukan makan sangat banyak. “Dua kali lipat dari kambing etawa,” tambahnya. “Kambing etawa hanya sekali makan. Kambing biasa tidak henti-hentinya makan. Menjelang tidur pun masih makan,” kata Habib.

“Di musim kemarau seperti ini saya harus cari rumput sampai lima kilometer jauhnya,” katanya.

(ang/ang)


Mari budayakan membaca berita yang positif agar kita bisa berpikir positif terhadap kerja orang lain. Ga cuma berpikir pencitraan.
Ni sambungan yang atas karena kepanjangan makanya dipotong jadi dua bagian..

Salon Kambing

Kambing etawa adalah kambing yang dipelihara bukan karena dagingnya, tapi karena kecantikannya. Tubuhnya tinggi (90 cm), besar, indah, dan bulunya (khususnya bulu panjang yang tumbuh di bagian pantatnya) sangat seksi. Bentuk wajahnya manis seperti ikan lohan. Telinganya panjang menjuntai dengan bentuk yang mirip hiasan di leher.

Memang, orang memelihara kambing etawa karena harga jualnya yang tinggi. Satu ekor bisa mencapai Rp 10 juta. Mengalahkan harga kerbau sekali pun. Memang, memelihara kambing etawa seperti memelihara ikan lohan atau burung cucakrowo: untuk hobi. Karena itu peternak etawa harus amat rajin merawat kambingnya. Agar terlihat selalu cantik. Kalau perlu sesekali membawa kambingnya ke salon kambing.

Pagi itu kebetulan lagi hari pasaran kambing etawa di Kaligesing. Pak Bupati, yang pagi-pagi kembali ke Sumowono, mengajak saya ke pasar hewan. Seru! Inilah satu-satunya bursa kambing etawa di republik ini. Pemilik etawa datang dari berbagai kabupaten. Menurut catatan pintu retribusi, lebih 700 ekor etawa yang ditransaksikan hari itu.

Di tengah-tengah bursa itulah salon kambing dibuka. Pagi itu saya lihat banyak pemilik kambing yang antre: ada yang ingin mempercantik tanduknya ada pula yang ingin memotongkan kuku kambing mereka.

Dari segi penyakit pun, hanya satu yang ditakutkan: kanker payudara. Karena itu peternak harus rajin meraba-raba payudara kambing mereka. Begitu payudara itu terasa lebih panas dari suhu tangan yang meraba, haruslah segera disuntik. Kalau tidak, payudara itu akan mengeras, membiru, dan tidak sampai seminggu akan mati.

Apalagi, dalam setiap lomba, keindahan payudara termasuk yang dinilai. Kian indah payudaranya, kian mahal harga jualnya.

Tapi yang paling menentukan adalah kemampuannya memproduksi anak. Untuk itu peternak harus hafal kapan kambingnya mulai birahi. Ini bisa dilihat dari kemaluannya yang memerah, atau yang sepanjang malam gelisah, tidak mau tidur dan terus mengembik. Kalau sudah begini, peternak harus segera membawanya ke pejantan untuk dikimpoikan.

Betina yang lagi birahi tersebut dimasukkan ke kandang pejantan. Pemiliknya harus selalu mengintip. Ini untuk memastikan apakah perkimpoian sudah terjadi. Biasanya tidak lama. Dalam waktu setengah jam, perkimpoian sudah terjadi dua kali. Cukup. Betinanya segera dikeluarkan dan dibawa pulang. Tentu setelah membayar Rp 50.000.

Setengah bulan kemudian, kalau belum terjadi tanda-tanda kehamilan, sang betina dikimpoikan lagi. Kali ini gratis.

Di satu desa Sumowono ini hanya ada tiga pejantan handal. Satu milik bersama di kelompok Ngudi Luwih. Yang dua ekor lagi milik perorangan. “Satu pejantan bisa melayani 40 betina dalam sebulan,” ujar Marwan. Berarti satu pejantan menghasilkan uang Rp 2 juta sebulan.

“Tidak boleh terlalu sering mengawini. Kualitas keturunannya bisa kurang baik,” tambahnya. Semua peternak mengharapkan kualitas kambing mereka baik agar harga jualnya kelak bisa tinggi.

Tidak boleh juga habis mengawini satu betina langsung mengawini betina lainnya. “Pernah terjadi”, kata Marwan, “yang diharapkan lahir kambing dengan kepala hitam, ternyata yang lahir merah,” katanya. Padahal jantannya berkepala hitam dan betinanya juga berkepala hitam. “Ini karena jantannya baru saja mengawini betina yang berkepala merah,” katanya.

Entahlah.

Yang jelas mayoritas peternak menginginkan bagian kepala sampai leher dan dada berwarna hitam. Batas warna hitam dengan warna putih di bagian tubuhnya juga harus rapi. Telinganya juga harus hitam yang panjangnya mencapai 30 cm. Untung-untungan seperti inilah yang membuat tidak semua peternak bernasib baik. “Ada peternak yang waris dan ada yang tidak waris,” katanya.

Tentu saya akan meminta Jasa Marga untuk meneruskan program ini. Sampai yang 100 orang termiskin tersebut bisa tertangani. Desa ini memang sudah berhasil keluar dari status desa tertinggal, tapi 100 KK termiskin tersebut masih mengganjal.

Apalagi BUMN Hutama Karya juga sedang membangun jembatan yang roboh di desa itu dan sudah mengaspal jalan sepanjang 500 meter yang menanjak ke gunung.

Tentu masih ada lagi yang belum memuaskan: susunya! Belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengkoordinasikan susu kambing etawa ini. Penduduk memang sudah mulai biasa minum susunya, tapi belum sampai tingkat melakukan pemerahan tiap hari. Ini karena belum ada perusahaan yang bisa sepenuhnya menampung seluruh susu kambing etawa di Kaligesing.

Padahal di kecamatan ini terdapat 70.000 ekor kambing etawa. Padahal keistimewaan kambing ini, sebenarnya, karena kualitas air susunya itu!

“Satu liter susu sapi hanya berharga Rp 6.000. Satu liter susu kambing etawa Rp 15.000!” Ujar Agus Suherman, kepala bidang di Kementerian BUMN yang mengurus PKBL.

Apalagi minat ber-etawa terus meningkat. Pak Solikun, misalnya.

Tahun lalu Pak Solikun memiliki 6 ekor kerbau. Kini kerbau itu dia jual semua. Dia belikan etawa. Memelihara kerbau, katanya, bukan main susahnya. (Ini saya benarkan karena waktu kecil saya juga sering memandikan kerbau). Padahal harga seekor kerbau kalah dengan seekor etawa yang baik.

Tak ayal bila di seluruh desa ini kini hanya tinggal ada lima ekor kerbau. Ini pun rasanya tidak akan lama. Kerbau akan segera hilang dari desa etawa ini.


(ang/ang)
panjang amit....ijin nyimak dech kakak
set dah, beritanya udah seperti cerpen aja,,
capek bacanya emoticon-Cape d... (S)
permasalahan utama peternakan kambing ettawa :

1. sudah jarang ada yang memiliki galur murni, kebanyakan adalah PE (peternakan ettawa) hal ini mempengaruhi produkstifitas susu (ettawa adalah kambing tipe penghasil susu pada dasarnya, no 2 setelah sanen seinget ane), selain itu pertumbuhan badannya pun sudah tidak sepesat galur murni.
ini permasalahan umum semua komoditas di Indonesia TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN KUALITAS BIBIT

2. daya dukung lingkungan mulai berkurang karena banyak peralihan lahan menjadi permukiman. kambing lebih menyukai daun2an sebagai makanan utama, padahal.. ketergantungan pada alam sangat riskan dengan kondisi iklim yang yang tidak menentu. pemberian feedlot sistem kering tidak banyak membantu karena organ pencernaan kambing tidak seperti sapi.

3. masalah permodalan bukan masalah utama emoticon-Big Grin
karena peternak banyak mental maling.. yang diberi bantuan bukannya dipelihara baik2 malah dilaporkan mati.. emoticon-Nohope

4. masalah paling utama adalah eksklusifitas penjualan susu kambing
harga susu kambing ituh mahal.. karena produksi sedikit dan kualitas memang lebih baik dari susu sapi emoticon-Big Grin
sayangnya... harga mahal itu tidak dinikmati peternak karena rantai pemasaran yang terlalu panjang.. konon kebanyakan produk susu kambing malah di MLM kan emoticon-Bata (S)emoticon-Bata (S)

komen ane: analisa mentah gitu aja bisa masuk koran gara2 yang ngomong DI
Quote:Original Posted By not4given

komen ane: analisa mentah gitu aja bisa masuk koran gara2 yang ngomong DI


Koran korannya sendiri kok gan.. Ya wajar to.. emoticon-Blue Guy Peace
Quote:Tapi nafsu besar untuk bisa menikmati dawet hitam yang terkenal itu membuat saya ingin masuk kota Purworejo.

dawet jembut purworejo emang bikin ketagihan emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By not4given


komen ane: analisa mentah gitu aja bisa masuk koran gara2 yang ngomong DI


kalo yang ngomong sutan batubata gimana yah gan ? masup koran juga kaga yah ?

emoticon-Bingung (S)
wewww salut ma pak DI nih, sederhana dan merakyat.... Capres 2014... emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Blue Guy Peace
Quote:Original Posted By not4given
permasalahan utama peternakan kambing ettawa :

1. sudah jarang ada yang memiliki galur murni, kebanyakan adalah PE (peternakan ettawa) hal ini mempengaruhi produkstifitas susu (ettawa adalah kambing tipe penghasil susu pada dasarnya, no 2 setelah sanen seinget ane), selain itu pertumbuhan badannya pun sudah tidak sepesat galur murni.
ini permasalahan umum semua komoditas di Indonesia TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN KUALITAS BIBIT

2. daya dukung lingkungan mulai berkurang karena banyak peralihan lahan menjadi permukiman. kambing lebih menyukai daun2an sebagai makanan utama, padahal.. ketergantungan pada alam sangat riskan dengan kondisi iklim yang yang tidak menentu. pemberian feedlot sistem kering tidak banyak membantu karena organ pencernaan kambing tidak seperti sapi.

3. masalah permodalan bukan masalah utama emoticon-Big Grin
karena peternak banyak mental maling.. yang diberi bantuan bukannya dipelihara baik2 malah dilaporkan mati.. emoticon-Nohope

4. masalah paling utama adalah eksklusifitas penjualan susu kambing
harga susu kambing ituh mahal.. karena produksi sedikit dan kualitas memang lebih baik dari susu sapi emoticon-Big Grin
sayangnya... harga mahal itu tidak dinikmati peternak karena rantai pemasaran yang terlalu panjang.. konon kebanyakan produk susu kambing malah di MLM kan emoticon-Bata (S)emoticon-Bata (S)

komen ane: analisa mentah gitu aja bisa masuk koran gara2 yang ngomong DI




makelum gan kudu positip sinking emoticon-Ngakak



etawa mah sensi banget sama lingkungan, masih mending piara sapi kalo buat daerah situ, kecuali kuat bikin etawa modip (ngarti ndak neh babeh di emoticon-Ngakak (S))
beritanya panjang amat... jadi inti ceritanya tuh apa ya??? emoticon-Bingung
Quote:Original Posted By kesepian311
Referensi : [url]http://finance.detik..com/read/2012/09/24/074331/2031619/4/dahlan-iskan-problem-susu-etawa-di-bukit-menoreh?[/url]

Saya salah perhitungan. Berbekal alamat saja ternyata tidak cukup. Rencana untuk tiba di desa itu pukul 17.00 pun meleset.

Jarak Jogja-Purworejo yang diperkirakan bisa ditempuh satu jam ternyata harus tiga jam. Untuk bisa keluar dari Jogja saja sudah memerlukan waktu satu jam sendiri. Proyek fly over di ujung ring road Jogja itu membuat lalu-lintas sore hari macet-cet.



analisa DI ternyata bisa ngaco juga. mana ada yogya-purworejo 1 jam
Quote:Original Posted By laresundoro


analisa DI ternyata bisa ngaco juga. mana ada yogya-purworejo 1 jam


kalo lewatnya jalan daendles mungkin aja sih emoticon-Big Grin...
Quote:Original Posted By black_
kalo lewatnya jalan daendles mungkin aja sih emoticon-Big Grin...


1 jam mah kalau dari kulonprogro (yogya) - bagelen (purworejo)
ini berita apa cerpen ?emoticon-Ngacir
Quote:Original Posted By .SEMAR.
ini berita apa cerpen ?emoticon-Ngacir


Gaya bahasanya seperti bahasa cerpen / sejenisnya. Lain dari tulisan wartawan secara lazimnya.
panjang ya.tapi ya ane tangkap ini soal pembiakan yang sudah tidak murni lagi
ya wajar, orang mw nyari piaraan yang nilai jualnya tinggi jadi silang sana silang sini