alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016594742/tiban-tradisi-adu-cambuk-minta-hujan-dari-blitar
Thumbs up 
Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar
Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar

Ada ritual unik yang dilakukan warga di Kabupaten Blitar ini untuk minta hujan. Mereka bukan melakukan salat Istisqo, seperti kebanyakan orang atau umat Islam, justru mereka bertanding dengan mengadu kekuatan di atas panggung. Namun, bukan senjata tajam yang dipakai mengetes kesaktiannya melainkan cambuk dari sapu lidi yang sudah dianyam.

Ritual minta hujan itu diberi nama tiban. Itu berlangsung di Dusun/Desa Bangle, Kecamatan Kanogoro, Kabupaten Blitar. Ritual yang diikuti puluhan peserta dari berbagai kota, mulai Blitar sendiri, Malang, Kediri, Trenggalek ini dimulai Jumat (21/9/2012), dan akan berlangsung 40 hari atau sampai turun hujan.

Namun, kalau sebelum 40 hari, hujan sudah turun dan menyegarkan tanaman mereka di tegalan, maka ritual yang saling adu gepuk dengan campuk ini akan dihentikan seketika.

Sistem bertandingnya memang agak unik atau tak ubahnya seperti sabung bebas atau pencak silat di kampung-kampung. Yakni, para sepertanya dengan tanpa dipanggil urutannya, bebas naik ke panggung untuk mencari lawan.

Panggung yang disediakan berukuran 6 x 6 meter dan dengan ketinggian dua meter. Selama di atas panggung, ia langsung memegang cambuk dan diputar-putar di atas kepalanya, untuk memancing lawannya agar naik ke panggung juga. Tentu saja, agar suasana tak sepi dan memberi semangat bagi penonton atau terutama pesertanya, itu diiringi dengan musik tradisional atau lebih dikenal jaranan.

Soal waktu tak ditentukan selama beradu. Namun, masing-masing peserta hanya boleh mencambuk tiga kali secara bergantian. Saat menerima cambukan itu, ia harus pintar-pintar mengeles atau bertahan. Pukulan tak boleh mengenai kepala, wajah namun hanya diarahkan ke tangan, dada dan punggung.

Tak heran, banyak peserta yang terluka, seperti Rizki, punggunya nyaris robek. Pertandingan ini tak ada kalah atau menang. Bagi mereka yang terluka, ia bisa membalas kekalahannya saat lawannya naik ke panggung lagi.

Sebab, setiap peserta tak dibatasi mau naik berapa kali, asal mau saja. Anehnya, meski banyak yang terluka atau kulitnya robek namun tak sampai ada jatuh korban. Sebab, lukanya itu segera akan sembuh bila sudah disentuh oleh sesepuh atau guru silatnya, yang berjaga-jaga di bawah panggung.

Yang boleh di atas panggung, selain dua petarung, panitia yang bertindak mengawasi pertandingan ini dan sekaligus melerai jika sampai pertarungan itu jadi liar. "Salah satu aturannya, umur kedua peserta tak boleh selisih jauh. Kalau penantangnya itu usianya 15 tahun misalnya, maka lawannya ya berkisar antara 16 tahunan lah," ujarnya.

Untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan, misalnya tawuran, petugas polsek setempat disiagakan mulai pagi hingga berakhir pertandingan. "Namun, bagaimana pun juga, kami masih menempatkan anggota di lokasi karena khawatir juga meski itu merupakan adat atau ritual," kata AKP Imran Subeckhi, Kapolsek Kanigoro.

Menurut para sesepuh, mereka tak tahu pasti kapan ritual tiban ini dimulai. Yang jelas, menurutnya, itu sudah berlangsung secara turun-temurun sejak nenek moyangnya dulu apalagi minta hujan, maka dilakukan ritual seperti ini. Selama berlangsung ritual ini, hanya boleh dilakukan orang laki-laki.

Spoiler for Video Tiban:


Source

Indonesia memang memiliki budaya dan tradisi yang beragam.. Love Indonesia
blitar? ini kota kelahiran bung karno!!



- wak carik ijin gabung dan memberikan komentarnya -
luka sobek? buadaya kekerasan neh? emoticon-norose
Tradisi bodoh masih dipegang kapan bisa majunya emoticon-Cape d... (S)
salah satu kebudayaan yang harus dilestarikan emoticon-thumbsup
tradisi unik, yang lain mana nich? klo sholat kan dah biasa, mana budaya lokal lainnya.....

klo dijateng ni :

Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar


Acara ritual tradisional untuk meminta hujan ini dilakukan dengan cara adu pukul pada bagian kaki yang dilakukan oleh sepasang laki-laki dewasa
sempet baca kemarin ada tradisi buang2 nasi
sekarang ada yang aneh-aneh lagi ya

Quote:Original Posted By primula
luka sobek? buadaya kekerasan neh? emoticon-norose

coba baca ini gan, absurd

Quote:Original Posted By
[CENTER]


Sebab, setiap peserta tak dibatasi mau naik berapa kali, asal mau saja. Anehnya, meski banyak yang terluka atau kulitnya robek namun tak sampai ada jatuh korban. Sebab, lukanya itu segera akan sembuh bila sudah disentuh oleh sesepuh atau guru silatnya, yang berjaga-jaga di bawah panggung.


lukanya segera sembuh? kayak naruto aja emoticon-Hammer
waaah.. ini cocoknya masuk di forbud ini gan. bakal rame dibahas disitu. emoticon-shakehand
Quote:Original Posted By bocahlanangaja
waaah.. ini cocoknya masuk di forbud ini gan. bakal rame dibahas disitu. emoticon-shakehand


setuju ama ente gans, klo di BP kayaknya sinis mulu, padahal budaya lokal macem2, klo yang menyimpang baru sinis gpp,,,,,emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By INCUBATOR
setuju ama ente gans, klo di BP kayaknya sinis mulu, padahal budaya lokal macem2, klo yang menyimpang baru sinis gpp,,,,,emoticon-I Love Indonesia (S)

ini dah menyimpang , masukin bp aja juga gpp kan termasuk berita?
ngapain dipindah?
terus hujannya jadi turun?emoticon-Cape d... (S)
punggung ampe luka 2
Kenapa Harus pake Cambuk2an... ?... emoticon-Bingung

Kan Udah ada teknologinya... emoticon-Ngacir

Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar
pertanyaan filosofis ane hari ini:

adakah peserta dan penonton yang bawa PAYUNG emoticon-Hammer2
Quote:Original Posted By KimaxKaw
Kenapa Harus pake Cambuk2an... ?... emoticon-Bingung

Kan Udah ada teknologinya... emoticon-Ngacir

Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar


nah yang bener yang dibawa om kimax ne...

kalo ndak salah biayanya mahal... jadi orang di sana lebih suka yang murah dan berbahaya...

gw tambahin...


Quote:
Hujan Buatan Berhasil Membasahi Jambi


VIVAnews - Pemerintah Provinsi Jambi berupaya menurunkan hujan yang tak kunjung terjadi selama beberapa bulan. Sejak pukul 15.45 WIB, hujan mulai membasahi hampir seluruh Kota Jambi, tapi ini merupakan hujan buatan.

Berdasarkan pantauan VIVAnews, dari Kecamatan Kotabaru, Telanaipura, Jelutung, Pasar Jambi, hingga Jambi Timur, hujan lebat terus turun hampir satu jam.

Hujan yang membasahi Kota Jambi ini, berdasarkan pengakuan Koordinator lapangan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) di Jambi, Djazim Syaifullah, merupakan hasil dari tiga kali penerbangan untuk menaburkan garam di atas awan.

"Kemarin satu kali penerbangan, dan hari ini dua kali penerbangan. Garam disebar di atas Kabupaten Tanjabtim dan Muarojambi," kata Djazim kepada VIVAnews, Sabtu 8 September 2012.

Menurut dia, sejak dilakukan percobaan hujan buatan sejak Jumat sore 7 September 2012, pihaknya sudah menabur garam seberat 2,4 ton di atas langit Jambi.

Hari ini, kata dia, telah ditaburkan sedikitnya 900 kilogram garam di atas awan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan 1 ton garam di atas Kabupaten Muarojambi, karena potensi awan di daerah itu cukup banyak. "Sekarang hujan sudah mulai turun. Semoga kabut asap bisa segera hilang di Jambi," katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Zubaidi AR mengatakan, instansinya menerima alokasi dari pemerintah pusat senilai Rp3,5 miliar untuk hujan buatan yang diproyeksikan selama 30 hari kedepan.

"Jadi ada 10 ton garam yang bakal ditabur selama 30 hari ke depan. Kami berkoordinasi dengan TNI untuk menabur garam," ucap Zubaidi.

Sementara itu, F. Heri Widodo, Kepala UPT Hujan Buatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan, ada tiga daerah kabupaten di Provinsi Jambi yang menjadi prioritas mendapatkan hujan buatan untuk mengantisipasi kabut asap yang semakin pekat di daerah itu. Ketiga daerah itu masing masing adalah Kabupaten Muarojambi, Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat.

Ketiga daerah itu dipilih karena potensi kebakaran di Jambi tercatat paling banyak akibat luasnya lahan gambut di tiga daerah itu. Selain tiga kabupaten itu, kawasan Kota Jambi dan bandara Sultan Thaha Syaefuddin, Jambi menjadi daerah prioritas hujan buatan.

"Daerah ini juga diprioritaskan untuk hujan buatan karena kondisi kabut asap sudah mengganggu aktifitas penerbangan sejak beberapa minggu terakhir," ujar Heri.

Berdasarkan data di Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, 1.300 kawasan lahan dan hutan di daerah itu diketahui terbakar akibat kemarau selama beberapa bulan terakhir. 300 hektar diantaranya berada dikawasan hutan lindung dan konservasi.


http://nasional.news.viva.co.id/news...deras-di-jambi
Quote:Original Posted By KimaxKaw
Kenapa Harus pake Cambuk2an... ?... emoticon-Bingung

Kan Udah ada teknologinya... emoticon-Ngacir

Tiban, Tradisi Adu Cambuk Minta Hujan Dari Blitar


Kalau yang ini mahal bro cost nya.

Di samping itu, air hujan buatan, saya kira kurang hygenis bila dibandingkan dengan hujan asli emoticon-Hammer
semoga orang pada sadar kalo ini bukan budaya yg baik
ini budaya yg absurd emoticon-Hammer2
Quote:Original Posted By helmyfahrizal
sempet baca kemarin ada tradisi buang2 nasi
sekarang ada yang aneh-aneh lagi ya


coba baca ini gan, absurd


lukanya segera sembuh? kayak naruto aja emoticon-Hammer



wkwkwk
jadi ngebayangin ada ninja medic keliaran di sana
emoticon-Big Grin
wah ane ndak berani lah ikutan tuh tradisi, menakutkan + mengerikan buat ane ... emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By Theist


Kalau yang ini mahal bro cost nya.

Di samping itu, air hujan buatan, saya kira kurang hygenis bila dibandingkan dengan hujan asli emoticon-Hammer


sama aja gan air nya dengan yang alami, beda nya yang ini dengan cara pesawat menurunkan garam, proses nya sama sperti penguapan air laut

Ngakak 

walah tradisi kuno, buat yang tua2 aja deh emoticon-Ngakak