alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
you and me? i called it serendipity :) [based on true story]
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016409811/you-and-me-i-called-it-serendipity--based-on-true-story

you and me? i called it serendipity :) [based on true story]

salam kenal penghuni Stories from the heart.. emoticon-Angel

selama ini saya menjadi pembaca setia cerita-cerita stories from the heart, tapi kali ini ingin sedikit becerita mengenai true story kehidupan cinta saya.

cerita ini saya buat untuk mengenang kisah aku dan pacar.. supaya suatu saat nanti, cerita ini menjadi kenangan manis yang bisa kami kenang berdua dengan senyuman emoticon-Smilie

cerita ini menggunakan nama samaran, soalnya TS dan pacar malu kalo sampe ketauan publik.. hihihi...

buat Arsya-ku, aku selalu mencintaimu.. emoticon-Smilie

Apa yang terjadi jika kamu bertemu dengan seseorang yang sebenarnya sudah berada di sekitar kehidupanmu, namun kamu tidak pernah bertemu dengannya?

List Index
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Dimana semua berawal

Pagi itu aku mengikuti test masuk di sebuah kantor yang letaknya tak jauh dari rumahku. Hari yang mungkin terkesan biasa saja bagi para pencari kerja sepertiku. Mengikuti serangkaian test untuk menjadi pegawai suatu perusahaan. Mencali kenalan baru diantara sesame peserta test dan hal-hal remeh yang biasanya dilakukan.

Pagi itu aku menjalani serangkaian test tertulis, karena test berjalan sampai sore hari, kami sebagai peserta test mendapat kesempatan makan siang. Sehingga hal tersebut saya jadikan kesempatan untuk saling mengenal sampai aku berkenalan dengan Rena. Rena anaknya cukup ceria, banyak bicara dan outgoing. Mungkin karena dia termasuk anak psikologi ya, jadi tau benar harus bagaimana jika berhadapan dengan orang-orang. Melalui Rena saya mengenal beberapa teman-teman lain. Kebetulan semuanya wanita, jadi banyak hal yang dapat kita lakukan bersama-sama. Sampai kita bisa janjian dan berharap bisa bertemu di test selanjutnya.

Waktu berlalu, panggilan akan test selanjutnya pun aku terima, sampai pada tahap interview user. Dan banyak terima kasih aku ucapkan bahwa aku dapat diterima di perusahaan ini. Aku tau di perusahaan ini banyak tantangan, khususnya bagi wanta. Dari masalah medan kerja yang keras dan lokasi kerja yang belum tentu ada di pulau jawa. Oleh karenanya, setelah diputuskan bahwa kami lulus tes, kami para peserta yang lulus berhak untuk mengikuti serangkaian pelatihan yang dilakukan di daerah jawa barat. Daerah yang cukup jauh dari keramaian dan kebisingan kota Jakarta.

Aku belum bisa membayangkan, kira-kira pelatihan apa yang akan aku alami di sana, walaupun aku mempunyai pengalaman kerja sebelumnya, tapi aku belum pernah sampai mengikuti pelatihan yang lamanya hampir dua minggu. Tanpa alat komunikasi dan berbagai peraturan lainnya.

Sesampainya disana, ada sekitar dua bis rombongan yang akan mengikuti pelatihan ini. Kebetulan kami akan dilatih oleh angkatan dan hal tersebut membuatku sedikit takut. Soal fisik aku memang tidak terlalu terlatih, aku jarang olah raga karena kesibukanku yang menuntutku untuk bekerja, belajar dan meluangkan sedikit waktuku untuk istirahat.

Sudah seperti yang aku duga, banyak pelatihan fisik yang harus kami lalui, dari senam pagi hari sampai acara naik gunung turun lembah. Push up dan sit up jadi makanan sehari-hari. Melelahkan sekali memang, tapi tidak sebanding dengan harus menghafal satu-satu nama dan tanggal lahir. Disini aku mengenal satu-satu teman-teman satu angkatanku. Termasuk mengenal dia.

Dia

Awalnya, aku mengetahui keberadaannya waktu test tertulis, kesan pertamaku dia laki-laki angkuh. Cara dia memandang, cara dia melipat kedua tangannya, pokoknya ga ada sama sekali keinginan untuk kenalan. Boro-boro kenalan mungkin bediri di deket orangnya udah takut kali. Sampai Rena membisikkan padaku, “Kay, itu tuh cowok yang psikotestnya dapet nilai paling bagus.” Dan aku hanya bisa berkata “ohh” dan seribu Tanya dalam hati.
Tanpa kusangka, sebelum kami berangkat, kami sempat di briefing mengenai kegiatan yang akan kami lakukan di tempat pelatihan. Dia duduk berjarak satu bangku dariku, dan menawarkan diri untuk berkenalan. Ya, kali ini tanpa muka dingin. Dia menyodorkan tangannya padaku dan berkata “Arsya” yang membuatku spontan dan berkata “Kayla”, sambil berusaha tersenyum dan mencoba mencerna sikap aneh pria ini. Hatiku berkata dia tak seburuk yang kupikirkan sebelumnya.

Karena bawaanku yang suka penasaran, aku bertanya-tanya kenapa dia membawa tiga tenteng tas, jarang sekali kan seorang pria bawa tas sampai tiga, Cuma pergi dua minggu pula. Dia pun menjelaskan bahwa laptop merupakan barang yang tidak bisa ditinggal karena dia gamers sejati. Hatiku tersenyum kecil, “oh, teman sehobi”. Tanpa kusadari obrolan kami cukup berlangsung lama, sampai beberapa teman lain datang dan kami berusaha mengenal satu demi satu teman kami.

Arsya dan aku \tternyata memiliki beberapa kesamaan. Ini membuatku merasa menyenangkan berada didekatnya. Apalagi masih suasana perkenalan, aku menganggap telah menemukan teman baru yang cocok. Arsya ternyata pernah bekerja di bank juga, dan pernah juga bekerja di perusahaan game online tempatku bekerja dulu. Satu lingkungan tapi tak pernah bertemu. Waktu belajar dibuat tak terasa karena bisa asyik ngobrol sama dia. Bahkan sampai pernah ada salah satu pengajar yang marah dan menyuruhku keluar ruangan karena asyik mengobrol dengan Arsya.

Kedekatan kami ternyata banyak memancing gossip-gossip diantara teman seangkatan. Tapi aku dan Arsya seakan tak peduli, kami tetap asyik mengobrol dan Arsya sering menemaniku jaga malam. Aku menggambarkan keadaanku sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu. Jika boleh jujur, mungkin aku sudah tertarik dengan Arsya. Tertarik loh, bukan berarti jatuh cinta. emoticon-Smilie

Intinya kami melakukan pelatihan secara bersama-sama, susah senang sehingga meningkatkan kedekatan kami antar sesama teman-teman. Pengalaman berharga yang tak mungkin dapat kubeli seumur hidup. emoticon-Malu
ijin nenda sistemoticon-linux2

cukup menarik awal ceritanya..
ane yang pertamax ya..

keep update ya sist

-----------------------------------------------------
kyknya ane prnah liat ID ente sist,.di trit sebelah
di salah satu bank yang mengedarkan uang di Indonesia ini kan sist,.B*emoticon-Blue Guy Peace
Cerita baru nihemoticon-Belo
Intronya menarikemoticon-Smilieemoticon-Smilie
Ijin nenda Kayemoticon-Salaman

Destiny or we call it serendipity? (PART 1)

Sepulang dari pelatihan, kami berkumpul lagi hari senin di kantor. Harap-harap cemas menghantui kami akan penempatan dimana kami akan menjalan empat bulan masa percobaan. Karena kantor kami memiliki proyek sampai ke daerah-daerah yang bahkan jalan raya aja belom ada. Jadi kebayang kan paniknya kayak gimana. Ditambah kebiasaanku yang sering bolak balik ke mall (walaupun Cuma buat ngadem dan cuci mata). Hehehe.. emoticon-Cool

Akhirnya satu persatu dari kami menerima surat penempatan dan hal yang sangat amat tidak bisa aku percaya adalah ternyata aku ditempatkan satu kota sama Arsya. Kaget, senang, excited berlebih pas tau dia satu kota sama aku. Surabaya, kota yang akan selalu kami berdua kenang nantinya.
Kejamnya kantorku, syok dan kaget melihat kenyataan bahwa ternyata kami harus berangkat besok pagi. Akhirnya aku sepakat bersama Mas Wihar bertemu dengan Arsya di bandara jam 5 besok pagi. Setelah membuat janji, Arsya mengajakku untuk menikmati kota Jakarta sebelum kami pergi meninggalkan Jakarta sebulan lamanya. Arsya mengajakku membuat buku tabungan dan mencari setrikaan dan peralatan lain sebagai persiapan kami kesana. Maklum, kami sama-sama baru pertama kali jauh dari rumah. Setelah urusan selesai, Arsya mengajakku untuk makan, karena sedari tadi kami belum sempat makan siang. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Plaza Semanggi. Awalnya sih pengen makan yosh*noya, tapi karena Arsya suka mendadak labil, akhirnya kami memutuskan untuk makan Han*masa. emoticon-Big Grin
Setelah kenyang kamipun kembali ke kantor karena motor Arsya yang masih ditaro disana. Kami berpisah dan berjanji untuk bertemu di bandara keesokan harinya.

***

Disisi lain, orang tuaku marah besar atas keputusanku pergi ke Surabaya, maklum statusku yang masih menjalani pendidikan strata dua tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Awalnya orang tuaku berniat untuk menghalangiku pergi ke Surabaya karena kedua orang tuaku juga bekerja di perusahaan yang sama, tapi aku menolak dengan alasan ini sudah dapat tiket dan sudah turun Surat perintah tugas, tidak mungkin diubah seenaknya, aku juga malu kalau terlalu banyak menggunakan pengaruh keluargaku. Walaupun sebenarnya bukan itu alasan utamaku, karena aku ingin bersama Arsya.

Kadang aku merasa bodoh, aku baru kenal dia beberapa minggu tapi kenapa tiba-tiba rasa itu muncul. Bahkan aku rela menunda kuliahku untuk pergi ke Surabaya bersama Arsya. Siapa dia? Kenapa aku ga bisa mengendalikan logikaku..?

***

Akhirnya orang tuaku menyerah, aku tetap berangkat ke Surabaya, bahkan ayahku hanya mengantarkanku sampai pintu told an memberikanku uang secukupnya untuk naik taxi sampai ke bandara. Untung saja aku janjian sama Mas Wihar karena rumahnya yang letaknya dekat dengan rumahku. Akhirnya aku dan Mas Wihar sama-sama menuju bandara. Diantara kantuk, terselip obrolan-obrolan ringan disana.
Sesampainya ke bandara, aku mencoba menghubungi Arsya. Dia bilang sudah tidak jauh dan siap berangkat. Kamipun akhirnya bertemu di depan terminal 1A. disinilah aku pertama kali mengenal orang tua Arsya. Wajah-wajah yang familiar, ujarku dalam hati. Kamipun berbasa-basi sejenak dan mengucapkan salam perpisahan ke keluarga Arsya.

***
Penulisannya enak bangetemoticon-Smilieemoticon-Smilie
emoticon-Kaskus RadioCinta ini kadang2 tak ada logikaemoticon-Kaskus Radio

Destiny or we call it serendipity? (part 2)

Satu jam lebih kami terbang, syukur tidak ada halangan yang berarti. Sesampainya di Surabaya aku sudah menyiapkan nomer telepon orang DVO dan alamat kemana kami menuju. Perjalananpun lancar dan kami sampai di tempat tujuan.

Sedikit banyak, kantor di Surabaya cukup menyenangkan. Orang-orang administrasinya asyik-asyik walaupun seringkali kendala bahasa menjadi candaan sehari-hari kami karena seringkali kami tidak mengerti bahasa jawa.
Akupun mulai berfikiran mencari kos-kosan. Kami dibantu dengan supir kantor untuk mencari kos-kosan yang sedikit layak untuk kami. Agak susah-susah gampang mencari kosan ini karena maklum aja Arsya sedikit manja karena pengen kost”an yang ada AC nya. Aku sudah tidak menghitung lagi banyaknya ketukan pintu untuk mencari kos-kosan sampai akhirnya kami menemukan rumah itu.

Kami sudah hampir putus asa dan menyerah, bahkan kami sempat satu malam tidur di apartemen dengan biaya yang cukup murah. Rejeki memang tak pernah bisa kita duga, hari itu setelah seharian mencari dan berpanas-panasan, akhirnya kami menemukan satu rumah kos-kosan yang cukup layak, ber AC dan lumayan murah. Kebetulan kos-kosan itu sudah lama tidak ditempati, tapi bapak kos yang ramah dan masih keturunan tentara membuat kami menjadi cukup nyaman tinggal di rumah tersebut. Yak, satu masalah kami teratasi.. emoticon-Smilie

***

Kamipun mulai menempati rumah kosan itu, rumah itu memang begitu menarik. Rumah yang penuh dihiasi foto-foto keluarga tentara, dari angkatan darat sampai angkatan laut semuanya ada. Rumah itu juga terdiri dari beberapa kamar, dua diantaranya disewakan untuk kami tempati. Mas Wihar dan Arsya menempati kamar atas, sedangkan aku menempati kamar bawah.

Tinggal satu atap sama orang yang kita sayangi itu ternyata tak semudah yang aku duga sebelumnya. Apalagi disaat harus menerima kenyataan pahit. Ya kenyataan pahit bahwa ternyata Arsya sudah menjadi milik orang lain.
Awalnya memang kebodohanku tidak mencari tau mengenai Arsya lebih dalam sebelum hati ini menjatuhkan pilihan, namun cinta memang tidak bisa diatur dengan logika. Sekeras apapun aku berusaha. Awalnya aku menemukan kenyataan pahit dari pertanyaan sederhana, apalagi selain menanyakan akun social media. Facebook, twitter, semuanya deh kalo ada. Awalnya Arsya tidak segera approve friend request yang aku ajukan. Aku sama sekali tidak curiga, setelah beberapa hari, Asrya akhirnya meng-approve friend request itu. Sampai akhirnya aku mengetahui ternyata dia sudah empat tahun menjalin hubungan dengan teman kuliahnya dulu.

Aku mencoba menguasai diri dan menerima kenyataan. Yah.. mungkin memang belum jalanku, aku berusaha untuk menapik perasaan itu. Aku berusaha untuk menjalani sebagai teman walaupun tentu sangat menyakitkan. Aku ingin bersama Arsya, dan aku yakin akan perasaanku sama dia.

Aku tau tidak akan ada yang bisa menolongku selain doa. Karena kebetulan aku beragama Islam, aku sholat dan meminta petunjuk dari yang maha kuasa. Apa yang sudah aku alami tentu bukan sebuah kebetulan, melainkan rencana dari yang maha kuasa. Aku yakin itu.

***

Antara Aku, Arsya, dan Ifa

Arsya dan Ifa sudah empat tahun berpacaran, aku seringkali penasaran akan hubungan mereka. Kadang aku suka menanyakan atau Arsya sendiri yang bercerita mengenai Ifa. Dari cerita Arsya, Ifa itu sedikit manja, suka ngambek, dan keras hatinya. Arsya sendiri tidak terlalu tertarik untuk membicarakan Ifa, karena kami asyik berbincang-bincang dan mengenal diri masing-masing.

Dari pembicaraan tentang keluarga, sampai tentang mantan-mantan. Kami sering bercerita di tangga kosan yang menghubungkan antara kosan atas dan kosan bawah atau terkadang di depan kamar Arsya. Dari perbincangan tersebut akhirnya aku menceritakan bahwa orang tua Arsya juga bekerja di perusahaan yang sama tempat kami bekerja. Kaget dan campur aduk perasaan ini, karena kedua orang tuaku juga bekerja di perusahaan yang sama. Jadi intinya kami sekeluarga bekerja di satu perusahaan. Pantas muka Arsya begitu familiar. Mungkin waktu kecil kami sering main sama-sama di acara gathering atau ulang tahun kantor tanpa kami sadari ya.. hehehe..
Awalnya, Arsya belum mengakui siapa nama orang tuanya, namun setelah beberapa waktu dan sedikit rasa penasaran, akhirnya aku tau nama ayahnya. Benar saja, setelah aku konfirmasi dengan ayahku, ternyata ayahnya pernah bekerja sama satu proyek dengan ayahku.

Pembicaraanku dengan Arsya kian mengalir, hamper setiap malam kami berbincang-bincang, kadang bersama Mas Wihar, kadang hanya kami berdua saja. Biasanya kami makan malam bersama dilanjutkan dengan berbincang-bincang. Keadaan ini sungguh menyiksaku, menyiksa perasaanku yang entah harus aku lupakan atau aku semakin cinta dengannya.

***

Tak terasa hampir setengah bulan kami tinggal bersama, berangkat bersama, sampai makan bersama. Kadang dikala weekend kami sering pergi bersama, termasuk kadang pergi nonton atau sekedar makan malam. Sampai tiba hari itu…

Jumat sore biasanya Arsya sudah sibuk mengajakku untuk jalan, dari menanyakan film apa yang lagi tayang sampai wisata kuliner mana di Surabaya yang belum kami jajah. Kami memutuskan untuk pergi ke Sutos. Disana ada restoran sushi yang katanya Arsya enak banget, cabang dari restoran sushi yang ada di Jakarta, namun letaknya jauh dari rumahku, sehingga aku tidak pernah main kesana.

Akhirnya sepulang kantor kami pulang ke kosan dan siap-siap untuk jalan kesana. Kadang aku merasa bersalah pergi berdua saja dengan Arsya. Jadi kadang aku tanya, sudah izin Ifa belum? Ya, aku berusaha berbesar hati untuk hubungan mereka berdua. Awalnya Arsya selalu mengaku bahwa ia pergi denganku, tapi belakangan Arsya jarang cerita dengan Ifa, karena kerap kali Ifa suka ngambek dan mendiamkan Arsya berhari-hari entah karena alasan apa. Aku hanya bisa berkata dalam hati, Arsya, disini ada aku yang peduli sama kamu dan mencintai kamu..

Biasanya aku dan Arsya pergi menggunakan taxi, awalnya taxi ini biasa saja, tidak ada yang aneh. Sampai dia menawarkan untuk lewat tol dengan alasan macet. Kami mengiyakan saja, maklum kami belum sebulan disini dan tidak begitu paham akan jalan-jalan di Surabaya. Kami takut sekali karena jalan sangat gelap dan sama sekali belum pernah kami lewati, sepertinya kami sengaja dibawa memutar supaya argo jadi lebih mahal. Tak terasa aku genggam tangan Arsya, aku bisikkan padanya.. “ kita dibawa kemana? Gimana kalo kita diturunin dijalan tol terus ditelantarkan?” arsya berusaha menenangkanku, memegang tanganku erat sambil berkata “aku juga ga tau, tenang, kita kan berdua”. Aku hanya tersenyum dan berusaha yakin bahwa semuanya baik-baik saja dalam genggaman tangannya.

***

Syukur alhamdulilah kami sampai juga di Sutos, kami akhirnya memutuskan untuk menonton hugo, filmnya cukup lama, sekitar 3 jam. Malam itu kami bertingkah laku selayaknya orang pacaran, sampai kadang jentungku seakan mau melompat. Aku tak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintai Arsya. Aku tau itu, dan malam itu aku yakin akan perasaanku untuk tetap mencintainya. emoticon-Peluk emoticon-Malu
Quote:


hahaha iya bener sist.. emoticon-Big Grin

Quote:


alo gan.. emoticon-Smilie makasih ya udah baca dan komen.. emoticon-Smilie

Quote:


makasih gan.. emoticon-Smilie maaf masi pemula nih.. emoticon-Big Grin
keren banget tuh cerita nya , masih panjang ga ?
emoticon-Angel emoticon-thumbsup
Hubungan yg cukup rumit yah
Arsya udah punya Cwe apalagi udah sampe 4 tahun
Tanpa sadar mungkin Kamu udah jadi orang ketiga diantara mereka
Apalagi melihat gelagat Arsya yang lama mengapprove friend request sosmed waktu itu
Ada kemungkinan kalo Dia juga punya rasa ama Kamu Kayemoticon-Thinking
serendipity.. itu "pleasant surprise" ya sist? emoticon-Big Grin
asik baca gaya ceritanya, mudah2an cerita kedepannya juga ya... emoticon-Peace
silahkan dilanjutin ceritanya sist, ditunggu emoticon-Angkat Beer
wkwkwk, ternyata si jelek nyeritain kisah kita di kaskus pake id aku pula,
yah begitulah, kadang2 kalw inget suka lucu aja, dan kayaknya ceritanya berat sebelah nih.. wkwkwk

versi ane:
awal2nya mengira di kay itu anaknya manja dan anak orang punya, maklum aja ke platihan di pinggir desa bawanya ipad, dll tumpah ruah..
jadi waktu di surabaya nyari kosan ac itu sebenernya ngarah supaya cwek yang persepsi ane sama mas har kgk bisa susah ini jd nyaman sama kita be dua..

kalw mengenai sosmed, sebenernya ane kira waktu di pelatihan dia dah liat2 sosmed ane dan liat relation ane, ternyata belum, katanya dia kgk bisa find, oh iya ternya emg ane lock privasinya agar kgk bisa di temuin kalw kgk ada relasi teman sama sekali, jadi ane putusin untuk invit dia untuk mengungkap kebenaran bahwa ane dah punya pasangan..

dan untuk pemberitahuan.. skrg mas wihar dah out dari perusahaan kita.. sedihnya.. mengingat dia sohib dr awal.. emoticon-Berduka (S)

untuk cerita selanjutnya.. yah biarkan cewek ane aja d yg cerita.. hhe..

dan nanti akan ada part 2 dari ane, sebagai mana ane ngerasain dan sampai pada keputusan itu..
nenda dulu ya sis emoticon-Smilie

Expectation can be overvalued sometimes…

Sejak malam itu, entah kenapa sikap Arsya berubah padaku. Aku yang semakin hari semakin menaruh hati padanya namun sepertinya sikap yang kudapat ialah sebaliknya. Sudah beberapa hari sepertinya dia enggan berbicara denganku, apalagi menatapku. Aku tau mungkin saat ini perasaan bersalah Arsya timbul setelah apa yang kami lakukan malam itu. Sampai akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk mengajaknya berbincang berdua. Ditempat biasa kami duduk berdua dan bercerita.
Seperti biasa, aku melayangkan pesan BBM sebelum mengajaknya ketemu di tangga itu. “ngobrol yuk..” , lama sekali dia tak membalasku. Gundah gulana? Udah pasti. Hehe.. tapi aku lebih baik membicarakannya baik-baik daripada harus saling diam tanpa alasan yang jelas. Aku tak mau sya, kamu terbiasa mendiamkanku, mengacuhkan dan mengabaikanku.. karena itu sakit.. setelah semua harapan dan secuil kenangan indah yang telah kau berikan kepadaku.

***

Akhirnya Arsya membalas juga pesanku dengan mengiyakan ajakanku. Aku tau raut wajahnya tidak se-excited hari-hari biasanya. (entah kenapa hanya dia yang begitu bisa aku rasakan hatinya.. apa perasaan yang dia alami.. ) aku tau raut wajah bersalah itu menyiksaku. Aku mencoba memulai pembicaraan dengan berusaha mencari tau dan meyakinkan asumsiku tentang perasaan bersalahnya terhadap Ifa. Dan benar saja, dia memang tipe pria yang setia pada pasangannya. Dia menegaskan padaku bahwa perasaannya kepada Ifa tidak dengan mudah bisa berubah.

Aku tidak memahami jalan pikiran seorang pria, banyak yang bilang pria itu penuh dengan logika. Dari konsep batang otak sampe konsep-konsep psikologis yang sedikit banyak kubaca dikala ada waktu luang.
Kulihat Arsya, mata itu bukan mata yang memancarkan kebohongan. Ia memandangku dan mengatakan bahwa ia menyayangiku. Tapi keadaan ini yang membuat segalanya tidak mungkin, ya keadaan dimana dia masih berkomitmen dengan Ifa.

Kurasa semuanya sudah jelas, sejelas aku dan air mata yang terus mengalir tanpa bisa kukendalikan. Suatu teori baru terungkap bagiku, jika kau benar-benar mencintai seseorang, kau tidak akan bisa menakar cintamu. Kau hanya bisa menyerahkan hatimu 100% atau tidak sama sekali.

What is god purpose to make us meet each other, to make me feel some feeling- Arsya
Quote:


masih gan... ahahhaa..

Quote:


emoticon-Big Grin i hope emoticon-Angel

Quote:


smg bisa menghibur agan.. maaf masih amatir.. hehehe

Quote:


*ikut bantuin beresin tenda* hihihi
Quote:


ditunggu *aneh bales komen dengan ID sama* jangan bocorin spoilernya yah.. hihihihi~ iya ini dari sudut pandang aku.. aku sengaja buat supaya kita bisa selalu mengenang masa-masa bittersweet kita(everyday is bittersweet)
even disaat kita berantem sehebat apapun, aku pgn km nenangin pikiran km dengan baca trit ini, supaya km tau kalo aku selalu cinta sama km.. emoticon-Kiss

Kegalauan sepaket..

Ditengah kegalauanku, rasa patah hati dan ga tau lagi harus jelasin pake bahasa apa, akhirnya ada satu kesempatan untuk mencoba menenangkan pikiranku. Mama mengajakku dan kedua adikku beserta rombongan ibu-ibu ikatan karyawati kantorku untuk berlibur ke Bangkok dan pattaya. Syukur-syukur liburan ini bisa membantu melupakan perasaanku terhadap Arsya.
Aku berangkat ke Jakarta sekitar hari jumat, dengan perasaan nothing to lose aku berangkat sendiri ke bandara. Lagian mas Wihar dan Arsya masih sibuk bekerja. Semua sudah kusiapkan sejak malam harinya.

Esok harinya, pagi hari aku langsung berangkat ke bandara dengan hati berat meninggalkan Indonesia. Sekitar tiga hari kedepan aku ga bisa contact sama Arsya. Semalam pun aku tak banyak bicara padanya. Yang ada, setiap membalas dan membaca chat-chat aku sama dia sebelumnya, air mata terus mengalir tanpa perintah. Malu, sangat malu aku dengan diriku sendiri. Kenapa bisa sangat bodoh mencintai Arsya yang dimiliki orang lain. Kenapa cinta ga bisa pilih-pilih dikit kek? Kenapa aku harus jatuh cinta sama dia? Kenapa logika aku yang biasanya selalu aku kedepankan boro-boro bisa jalan kalau sudah menghadapi Arsya? Tuhaaan… aku hanya bisa berdoa dan memohon petunjukMu. Karena aku percaya, hanya engkau yang maha tau dan hanya engkau yang bisa menjawab semua pertanyaanku..

**

Setelah perjalanan udara selama kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya sampai juga ke kota Bangkok. Awal perjalananku ke Bangkok menuai kekecewaan, lantaran prosesi administrasi yang sangat amat lama. Aku dan rombongan bahkan berdiri sampai tiga setengah jam, belum makan dan minum. Bisa dibayangkan betapa lapar dan hausnya kami. Aku sih termasuk cewek yang cukup tinggi survive ability-nya, kalo masihsegini ya masih kuat. Tapi sungguh ga tega melihat adik kecilku Lia yang harus ikut berdesakan dalam antrian dan menahan haus dan lapar.

Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya selesai juga prosesi imigrasi, kamipun diantar ke restoran yang rasanya sama sekali tidak enak.ditambah lagi hati ini yang betul-betul tidak karuan, antara gelisah, kangen dan kepikiran sama Arsya. Kami sempat SMS-an saat mengantri di bandara, tapi ternyata pulsaku habis, dasar lagi kurang beruntung aja sih. Sampai akhirnya pemandu wisata kami menawarkan sim card Thailand sekitar 100 bhat udah termasuk paket BB sama whatsapp. Mamaku langsung beli, tapi aku masih ragu. Akhirnya aku dan adikku juga dibelikan sim card Thailand itu. Sim card itu juga bikin gemes, karena bahasanya yg ga jelas bentuknya itu, hehehe.. untungnya pemanduku dengan sabar membantu proses registrasi satu persatu, sehingga setelah sekitar 1 jam-an akhirnya berhasil juga resgistrasi sim cardku. Lega rasanya bisa menghubungi Arsya lagi. Dengan sapaan-sapaan ringan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana sudah cukup menentramkan hatiku dan cukup untuk membuatku terlelap malam itu. Goodnite Arsya, maybe today I’m not your loved one, but we never know..

**

Esok harinya perjalanan masih berkisar belanja dan belanja, aku sebagai penggemar fotografi sangaat amat bosaan. Untungnya Arsya bisa menemaniku BBM-an jadi hilang deh rasa bosan itu.

Sore harinya, aku dan rombongan pergi ke Pattaya, perjalanan ke Pattaya memakan waktu sekitar tiga jam. Aku dan rombongan berencana untuk makan seafood dan menonton acara banci-banci disana. Aku tidak terlalu tertarik sama acara-acara tersebut, hanya Arsya yang ada dipikiranku. Bagaimana tidak, BBM-BBM Arsya kian lama kian aneh. Tiba-tiba ia memanggil namaku dengan panggilan yang biasanya diberikan oleh orang-orang terdekatku, dia mendoakan kakiku yang sedari kemarin masih cukup sakit, memasang wallpaper fotoku berdua dengannya, sampai dia berkata… “apakah kamu benar-benar menginginkanku?”

Aku ga sanggup membalas kata-katanya sampai dia mengucapkan selamat tidur. Aku hanya terpaku menatap layar ponselku dan menjawab… “Always..”

Kusampingkan logikaku dan kubiarkan hati ini jatuh, jatuh cinta sama kamu Sya.

**
Quote:


wow Arsya nihemoticon-Belo
Salken Kakemoticon-Salaman
*****
Liburan jauh-jauh ke Thailand biar agak melupakan perasaanmu ke Arsya
Tapi gagal ya
Tetap aja Dia & Dia yang di pikirinemoticon-Big Grin
Yah banyak yang bilang cinta itu butaemoticon-Hammer2
ijin bangun apartement sist.. emoticon-Big Grin

serendipity jd inget film yg pernah ditonton bareng ma mantan ane sist emoticon-Frown

ketidaksengajaan yg menyenangkan.. emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di