Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016349612/sby-aktif-di-g20-dan-apec-indonesia-dapatnya-apa-ya
SBY Aktif di G20 dan APEC, Indonesia Dapatnya Apa ya?
SBY Aktif di G20 dan APEC, Indonesia Dapatnya Apa ya?
Presiden SBY di Mongolia


Menyoal Manfaat Kunjungan SBY ke Mongolia
Jumat, 7 September 2012 | 15:27 WIB

INILAH.COM. Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali hadir di KTT APEC 2012 yang kali ini digelar di Vladivostok, Rusia. Sebelum ke Vladivostok, Presiden SBY singgah di Ulan Bator, ibukota Mongolia.

Ada hal yang patut dikritisi dari lawatan Kepala Negara RI kali ini. Yaitu mempertanyakan tentang apa manfaat yang bisa dipetik Indonesia dari persinggahannya di Ulan Bator, Mongolia. Laporan terakhir menyebutkan di UIan Bator, Presiden menghadiri sebuah bisnis forum Mongolia-Indonesia dan mendorong agar para pengusaha kedua negara meningkatkan kerja sama mereka.

Walaupun presiden memiliki hak dan kewenangan mengunjungi negara mana saja di belahan dunia saat ini, tetapi di era keterbukaan seperti sekarang, menjadi kewajiban presiden pula untuk bersikap full disclosure kepada rakyatnya.

Sebab setiap sen rupiah yang digunakan untuk perjalanan presiden besar kecilnya tetap diambil dari kas negara. Dan negara, Indonesia, yang saat ini masih dalam keadaan terpuruk, jelas memiliki kas negara yang punya keterbatasan. Atas dasar pemikiran itu maka, wajib dan wajar apabila setiap pengeluaran negara yang digunakan presiden, terus dihitung dan diawasi.

Kembali ke soal Ulan Bator, kota yang disinggahi Presiden SBY. Kota itu memang berada pada jalur yang bisa dilewati menuju Vladivostok. Tapi Ulan Bator atau Mongolia bukanlah satu-satunya rute yang ada. Mengingat Vladivostok terletak di perbatasan antara RRC dan Korea Utara, maka sebetulnya presiden bisa memilih rute yang satu ini.

Rute RRC atau Korea Utara selain lebih singkat, dijamin lebih produktif. Dalam arti kalaupun presiden melakukan transit di ibukota RRC atau Korea Utara, dan membuat acara, transit itu tetap punya manfaat.

Dengan RRC, jelas banyak kepentingan yang bisa dibicarakan. Bersama Korea Utara, bisa berbicara dengan pemimpin baru di negara komunis itu. Pembicaraan itu akan menciptakan perspektif baru tentang Indonesia di mata dunia internasional. Terutama karena Korea Utara saat ini dari waktu ke waktu semakin tertutup kepada dunia internasional.

Pelapor PBB asal Indonesia, Marzuki Darusman, yang sudah tiga tahun diangkat bertugas memperbaiki hubungan Korea Utara dengan masyarakat internasional, hingga sekarang belum mendapat akses masuk ke Korea Utara.

Nah, untuk kepentingan nasional, Presiden SBY barangkali bisa mengingatkan kepada pemimpin Korea Utara bahwa utusan PBB itu seorang warga negara Indonesia. Peran ini jauh lebih produktif ketimbang menggelar bisnis forum di Mongolia.

Sehingga menyinggahi Mongolia, merupakan keputusan yang keliru. Menyinggahi Mongolia dengan alasan apapun, lebih memberi kesan, Presiden SBY sebetulnya tidak memiliki agenda yang jelas tentang apa yang harus dilakukan dan diprioritaskannya.

Patut diingat, "time is money". Waktu bagi seorang presiden, sangat berharga. Itu sebabnya, kepada presiden juga perlu diingatkan, meninggalkan Indonesia untuk beberapa hari, kemudian singgah di negara yang tidak prospektif, merupakan sebuah pengorbanan yang sangat mahal.

Persinggahan ke Mongolia dalam rangka menuju Vladivostok, terkesan tidak memperhitungkan manfaat waktu yang mahal itu. Selain itu alasannya, terlalu dicari-cari. Mengapa ?

Mongolia bukanlah sebuah negara potensil di bidang investasi, perdagangan dan bisnis. Letak geografis Mongolia dalam politik global, juga tidak berada pada posisi strategis. Singkatnya Mongolia dalam perspektif bisnis dan ideologi, tidak berada dalam posisi penting.

Di zaman sekarang, Indonesia harus bisa memilah-milah mana yang penting dan mana yang tidak dan seterusnya. Think and work smartly! Sebagai negara yang penduduknya cuma 2,7 juta jiwa, Mongolia bukanlah sebuah negara pasar yang menjanjikan bagi produk-produk Indonesia.

Sebaliknya dari negara itu, hampir tidak ada produk yang sangat diperlukan Indonesia. Di bidang teknologi ataupun pendidikan, juga kurang lebih sama, praktis tidak ada yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

Itu pula sebabnya di Ulan Bator, ibukota Mongolia, Indonesia tidak membuka Kedutaan Besar RI. Sama halnya Mongolia yang tidak membuka perwakilan diplomatiknya di Jakarta. Kontak-kontak diplomatik kedua negara dilakukan lewat negara ketiga. Urusan diplomatik dan konsuler Indonesia di Mongolia dilakukan lewat KBRI di Beijing, RRC. Sedangkan Mongolia, menugaskan kedutaan besarnya di Bangkok, Thailand.

Sebagai sebuah negara penghasil sutera terbaik di dunia, Mongolia memang memiliki kekhasannya. Akan tetapi sebagai sebuah negara yang tidak punya laut sehingga semua perjalanan harus dilakukan lewat darat atau udara, berhubungan bisnis dengan Mongolia, bagi Indonesia merupakan sebuah kegiatan yang mahal.

Melalui darat, pasti harus melewati negara ketiga. Sehingga belum apa-apa produk yang diekspor Indonesias ke Mongolia, sudah terkendala oleh tambahan biaya. Melalui udara, antara Jakarta dan Ulan Bator, tidak punya penerbangan langsung. Inilah faktor utama yang membuat mengapa Mongolia hampir tidak pernah diperhitungkan oleh kalangan pebisnis di Indonesia.

Delapan ratus tahun yang lalu, Mongolia di bawah pimpinan Genghis Khan, memang dikenal sebagai sebuah negara "militer" yang kuat. Kekuatannya antara lain terletak pada kemampuan pasukan Mongolia melakukan invasi ke berbagai negara.

Tapi saat ini, kejayaan Mongolia itu tinggal merupakan ceritera nostalgia. Bank Dunia yang melakukan pemeringkatan ke semua negara di dunia, mengkategorikan Mongolia sebagai "lower middle economy" pada urutan ke-44. Pengkategorian ini sudah cukup berbicara, bagaimana posisi Mongolia di dalam persaingan global.

Oleh sebab itu, cukup mengejutkan ketika belakangan terungkap, dalam lawatan Presiden SBY ke Vladivostok, pemimpin Indonesia itu merasa perlu mampir di Ulan Bator. Keputusan singgah di Ulan Bator itu boleh jadi atas pertimbangan para penasehat Presiden RI.

Tetapi jelas terlihat disini, orang-orang yang dipercaya presiden sebagai penasehat tidak mampu memberi nasehat yang terbaik kepada Kepala Negara. Mereka bahkan "menjerumuskan" Orang Nomor Satu di Indonesia.

Itu sebabnya konklusi sementara adalah nampaknya alasan untuk mengadakan lawatan Presiden RI ke luar negeri tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang kreatif serta demi kepentingan dan kebutuhan nasional yang mendesak.

Kalau saja di dalam negeri tidak menumpuk sejumlah masalah dan penyelesaiannya tanpa harus membutuhkan kehadiran seorang Presiden/Kepala Negara, maka tak menjadi masalah apabila Presiden SBY terus berada di luar negeri.

Padahal sebagaimana kita ketahui, pada saat ini, tidak sedikit persoalan bangsa yang "menggantung". Dari mulai masalah terorisme, korupsi hingga masalah-masalah yang "menggantung" karena birokrasi dalam pemerintahan SBY tidak ada yang berani mengambil keputusan, menerima risiko atau melakukan terobosan.

Lihat saja terjadinya kekosongan dalam pimpinan Komisi Nasional Hak Azazi Manusia (HAM). Presiden sepatutnya menindak atau menegur Sekretaris Negara atas terjadinya kekosongan di sebuah lembaga negara.

Sangat mungkin kealpaan terjadi karena para personal yang dipercaya Presiden kurang memiliki kemampuan. Atau visi mereka tentang menjadi orang kepercayaan Presiden RI, pada saat Indonesia masih dalam keadaan terpuruk, justru bergeser.

Berani bertaruh, perjalanan ke Ulan Bator (Mongolia) lebih cocok disebut sebagai sebuah wisata kepresidenan. Oleh sebab itu bangsa dan rakyat Indonesia sebaiknya jangan berharap banyak, jangan berpikiran presiden kita setelah kembali dari lawatan itu akan membawa oleh-oleh yang sangat dibutuhkan rakyat Indonesia.
http://nasional.inilah.com/read/deta...by-ke-mongolia

-----------------

Kalau Obama atau Hillary Clinton ke Jakarta, biasanya dia kembali dengan membawa komitmen ekonomi berupa konsesi-konsesi ekonomi, politik dan sejenisnya, yang memberikan lapangan pekerjaan besar dan pemasukan devisa bagi negerinya. Begitu juga kalau PM Australia, Inggris, Jerman atau Jepang dan China bila ke jakarta. Lalu kalau Pak SBY rajin menghadiri G-20 atau sidang APEC, itu manfaat riel dan langsung yang dirasakan rakyat Indonesia itu, apa aja ya! Kok jarang kedengaran apa saja keuntungan yang bersifat nyata untuk rakyatnya.
soal ini kagak tau gan, mungkin bawah ane tau POLITIK LUAR NEGERI
sudah biasa kalau negeri ini hanya jadi "pelengkap penderita" doang ,
apalagi semenjak era yg disebut "reformasi"
Quote:Original Posted By FauziBowo.
sudah biasa kalau negeri ini hanya jadi "pelengkap penderita" doang ,
apalagi semenjak era yg disebut "reformasi"


FOKE urus aja anak buah loe, ga tau politik LN pake komeng2 segala
dapet cerita gan "wiiis...keyyen ada di g20...wuihhh..WOWWW...."
silaturahmi sama bos bos nya Gan
Banyak pastinya lahhh...
cuma mungkin belom keliatan ajah...


yang pasti nanti presiden itu itu kemungkinan di angkat jadi pejabat nya PBB kali yaak.. lumayan pan soalnya udah kagak bisa nyalonin lagi..
di partainya sendiri pun udah mulai ke gerus sm Anas...
Quote:Original Posted By fothermucker
Banyak pastinya lahhh...
cuma mungkin belom keliatan ajah...


yang pasti nanti presiden itu itu kemungkinan di angkat jadi pejabat nya PBB kali yaak.. lumayan pan soalnya udah kagak bisa nyalonin lagi..
di partainya sendiri pun udah mulai ke gerus sm Anas...


kan emang rencananya mau jadi sekjen PBB gan
Quote:Original Posted By planet70
kan emang rencananya mau jadi sekjen PBB gan


gak mungkin dapet, karena ketuanya kan diputer benua, sekarang dapet asia, paling besok orang eropa... tapi perasaan 2 tahun lalu sby punya ambisi dapet peace nobel deh
Quote:Original Posted By planet70
kan emang rencananya mau jadi sekjen PBB gan


Quote:Original Posted By eugen
gak mungkin dapet, karena ketuanya kan diputer benua, sekarang dapet asia, paling besok orang eropa... tapi perasaan 2 tahun lalu sby punya ambisi dapet peace nobel deh


pokoknya pasti ada yg di incar gak jadi sekjen jadi TENGjen kek wasekjen kek,
ato apa lah, pokoknya jabatan internasional...

Kemudian nanti beliau bakal merealisasikan impian nya untuk GO Internasional kan album ke 3 nya dan menandingi kesuksesan Agnes monica..
underestimate banget sama mongolia..

sebenernya dari segi ekonomi masih ada kaitannya mongolia sama indonesia..

mongolia lagi eksplorasi cadangan batubara yang lumayan gede jumlahnya.. jadi bisa dibilang dimasa depan jadi kompetitor indonesia di ekspor komoditas batubara..

apalagi pasar ekspornya, lebih deket mongolia dari cina dibanding indonesia..
SBY Aktif di G20 dan APEC, Indonesia Dapatnya Apa ya?

Buset dah fotonya.
Macam Jenderal lagi inspeksi pasukannya saja.
Quote:
Rabu, 5 September 2012, 08:21:28 WIB
RI-Mongolia Akan Bahas Kerja Sama Energi

Jakarta: Presiden akan membahas kerja sama bidang energi dalam kunjungannya ke Ulanbator, ibukota Mongolia. Hal ini sangat penting untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam keterangan pers di Ruang VVIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sebelum bertolak menuju Mongolia, Rabu (5/9) pagi.

"Mongolia juga kaya akan sumber daya mineral yang perlu secara bilateral dikerjasamakan, antara lain untuk keperluan ketahanan energi Indonesia," kata Presiden SBY.

Presiden SBY menjelaskan, kunjungan kenegaraannya ke Mongolia ini atas undangan Presiden Tsakhia Elbegdorj. Kedua pemimpin akan membahas peningkatan kerja sama dan kemitraan bilateral kedua negara. "Kita ketahui bahwa Mongolia tahun-tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi," ujar SBY.

Selain kerja sama bidang energi, SBY dan Elbegdorj juga akan membicarakan kerja sama pertambangan, pertanian, dan ekonomi. Selain bertemu Presiden Elbegdorj, Presiden SBY juga akan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Norovyn Altankhuyag dan Ketua Parlemen Zandaakhuu Enkhbold.

Setelah menyelesaikan kunjungan kenegaraan di Mongolia, Presiden SBY selanjutnya menuju Wladiwostok, Rusia, untuk menghadiri pertemuan puncak Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada 7 September. "Hampir pasti pembicaraan kami akan membahas perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih," Presiden SBY menjelaskan.

Kehadiran Presiden RI penting artinya mengingat akan dilakukan serah terima keketuaan APEC dari Rusia ke Indonesia untuk tahun 2013.

Dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY, Selasa (4/9) kemarin di Jakarta, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyampaikan dukungan Amerika Serikat terhadap keketuaan Indonesia pada APEC 2013 mendatang.

Mendampingi Presiden ketika memberi keterangan pers ini, antara lain, Wapres Boediono, Menko Polhukan Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri ESDM Jero Wacik, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo. (har)

sumber: http://www.presidensby.info/index.ph...9/05/8267.html


utk permulaan sepertinya lagi cari2 peluang biar bisa ikutan nambang di mongol, dan juga mgkn kedepannya jg bisa kerjasama2 dengan bumn2 kita seperti dapat minyak kazakhstan, irak, atau jual senjata di afrika, bangun kantor2 bumn di myanmar dsb.

kalau apec n g20..no komen, ga ngerti mslh gituan..mgkn ank2 ekonomi atau keuangan yg tau..
Quote:Original Posted By fothermucker
Banyak pastinya lahhh...
cuma mungkin belom keliatan ajah...


yang pasti nanti presiden itu itu kemungkinan di angkat jadi pejabat nya PBB kali yaak.. lumayan pan soalnya udah kagak bisa nyalonin lagi..
di partainya sendiri pun udah mulai ke gerus sm Anas...


kan sedang merintis jalan menuju kursi sekjen pbb...

makanya pak DPJ di poskan jd dubes di us , itu jg dalam rangka menuju kursi sekjen pbb..............


peduli amat indonesia dapat apa, yg penting jalan gw menuju kursi sekjen pbb mulus dan lancar


kerabat ane di KBRI juga bingung gan, buat apa kunjungan ke mongolia

yah, tapi kalo nggak buat bingung, bukan presiden kita namanya hehe

presiden ke mongolia,
anggota dpr ke denmark+turki buat bahas logo PMI

kaskusers aja yang gigit jari ngeliat berita2 gini mulu
beye pengen ngunjungin mongol karena kagum akan militernya dimasa lalu bray....

sabar azza... makanyo jadi presiden dung...bisa walking-walking kamana ajja