Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016289244/non-pilkada--psk-minta-bayaran-rp-18-juta-pemuda-itu-tak-terima
NON PILKADA : PSK Minta Bayaran Rp 1,8 Juta, Pemuda Itu Tak Terima
JAKARTA, KOMPAS.com - "Ibu Kota memang lebih kejam daripada ibu tiri," kalimat tersebut meluncur dari mulut Tiko Priastomo (20), warga Cidarjah, Cilacap, Jawa Tengah. Pernyataan itu bukan tanpa sebab, dia dan dua orang kawannya menjadi korban pemerasan oleh pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi ecek-ecek Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur.
Satu cewek ngeluarin bon. Katanya kami harus bayar Rp 1.850.000. Ditulisnya ada biaya cewek yang nemenin. Kacang kecil aja harganya Rp 100.000, uang parkir Rp 50.000
--

Semula, Tiko dan dua orang temannya, Dwi Gunawan (19) dan Ahmad Kholid (19), hendak membeli sepatu di pasar malam depan Stasiun Jatinegara. Sepatu baru itu rencananya akan dipakai saat wawancara kerja di pabrik peleburan baja di Karawang, Jawa Barat, Rabu pagi. Ketiganya pun menumpang angkutan umum M04 jurusan Cililitan-Pulogadung. Rupanya angkot tersebut tak sampai ke depan stasiun. Ia berbalik arah di depan LP Cipinang.

"Kami turun, jalan ke arah stasiun. Terus ditarik sama cewek-cewek itu, langsung ditempelin tiga ojek, disuruh naik. Nggak tahu dibawa muter-muter sampai mandek (berhenti) di rumah, kayak kos-kosan gitu," ujar Tiko kepada Kompas.com di depan Polsektro Jatinegara, Selasa (4/9/2012) dini hari.

Sebelumnya, Tiko mengungkapkan, mereka adalah perantau dari Cilacap, Jawa Tengah. Ketiganya baru tiba di Jakarta, Minggu (2/9/2012) lalu. Sesampainya di Ibu Kota, ketiganya tinggal terpisah. Tiko dan Ahmad menyewa sebuah kontrakan di wilayah Sumber Artha, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Sementara Dwi menumpang pamannya di daerah Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur.

Sesampainya di sebuah kos-kosan yang tidak diketahui tempatnya, ketiga PSK itu kemudian membuka dua dus minuman berenergi. Tak hanya itu, mereka menyediakan berbagai makanan ringan. Sementara, tiga pemuda lugu tersebut mengaku bingung karena tak memesan dan tak tahu harus berbuat apa. Selang setengah jam, mereka memutuskan untuk menolak tawaran dan pergi. Saat itulah, permasalahan menjadi rumit.

"Satu cewek ngeluarin bon. Katanya kami harus bayar Rp 1.850.000. Ditulisnya ada biaya cewek yang nemenin. Kacang kecil aja harganya Rp 100.000, uang parkir Rp 50.000. Padahal kami nggak ngapa-ngapain, parkir gimana wong kesitu aja naik ojek," ujarnya.

Perdebatan pun terjadi antara pemuda dengan wanita 'nakal' tersebut. Merasa tidak memesan ataupun mengonsumsi sejumlah hidangan yang disediakan, para pemuda enggan membayar jumlah yang diminta PSK. Terlebih, ketiganya tak memiliki uang sebesar itu.

Setelah menemui jalan buntu, pemuda itu pun beranjak pergi. Akibatnya, ketiga PSK itu memanggil pria bertato untuk memaksa tiga pemuda membayar pelayanan palsu tersebut. Melihat pria diduga preman yang membekingi para PSK tersebut, nyali ketiga pemuda itu pun menjadi ciut. Mereka hanya bisa pasrah saat pria tinggi, besar dan memiliki tato di sepanjang lengan tersebut menggeledah isi kantongnya hingga habis. Dari ketiganya, preman itu berhasil menggasak uang sejumlah Rp 317.000 dan tiga ponsel. Preman tersebut berdalih, jika ketiganya tak bersedia membayar, harta itulah yang jadi jaminannya.

Tak terima atas perlakuan tidak menyenangkan tersebut, ketiga pemuda itu mengadu ke paman salah seorang pemuda itu. Sang paman yang tak terima, mengajak ketiga pemuda itu kembali ke lokalisasi itu untuk memancing si PSK atau si preman. Sayang, dari tiga PSK, mereka hanya berhasil menangkap dua orang. Seluruh yang terlibat pun digelandang ke Polsektro Jatinegara.

Ketiga pemuda itu mengaku tak menyangka atas permasalahan yang menimpa mereka di Ibu Kota. Kini, ketiganya tak memiliki uang sepeser pun. Alat komunikasi dengan orangtua di kampung juga tidak ada. Demikian juga cita-cita untuk bisa sukses bekerja di pabrik peleburan baja pun terancam sirna karena masuk ke jebakan PSK. Menurut mereka, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga untuk dapat menjaga diri saat bekerja di rantau.

http://megapolitan.kompas.com/read/2...Itu.Tak.Terima

buat pelajaran, jangan mau diajak cwk ga jelas
makanya jangan rantau mas, kerja aja di kampung masing-masing
waduh pahit banget yee...udah mah ketipu, kagak sempet nyicip tuh PSK pulak...


ibukota memang kejam....
Niat pengen beli sepatu malah ikut cewek gk jelas dan gk kenal ..

Mending batalin niat ke ibukota
Bakal lebih sering ditipu entar dengan karaktermu itu
ternyata ada modus penipuan dengan jebakan psk ya
kesialan emang ga bisa diterka, tapi itulah pengalaman
well...they've been tricked..anyway those guys are stupid enough that they follow the girls and ride to unknown place with unknown person....
Modus seperti ini sudah lama di daerah Jati Negara.. Kenapa Polisi ga bisa memberantas ya? apa ga ada yg lapor? apa baru kali ini korbannya melapor?
Quote:Original Posted By raisaputeri
ngapain juga berteman ama PSK jadinya di kuras dompet nya


Dibaca lagi gan baik2, gak ada yg berteman ama psk tuh di beritanya..
daerah cipinang yang deket penjara itu, memang banyak psk kriminil, buat idung belang yang udah gak bisa nahan selangkangan pasti kena jebakan
waahhh,ane pernah baca kisah lain yg di lounge ni gan,kaskuser sndiri yg ngalamin..
ga make tapi disuru bayar,yaa ga mau lahh
ati2 ni modus ktnya biasa dipake di prumpung ma parung
bang pitung turut prihatin melihat kondisi kota jakarte selama di bawah foke

saran bang pitung, damai aja deh. Tuh 2 ekor ayam yg sudah ditangkap, dipekerjakan saja selama sebulan sampai uang yg hilang kembali, damai itu indah
Kesian bener nusuk nda, tuh cewe cakep juga lom tentu. Disuru byr mahal pula.
komen saya cuma : ngga sebanding harga

pasti ulah antek2 vbot






mikiro lan makaryo ojo muk sendiko
apes tenan kowe...

bisa kena jebakan betmen psk ecek-ecek gitu
heran dech ma orang2 yang pada lebih suka ke jakarta buat kerja dan ga mau berusaha membangun daerahnya masing2...
gaji gede di jakarta juga ga bikin hidup tenang koq....
mending di daerah, gaji kecil dan patut disyukuri....
lebih mending lagi di daerah gaji gede...
cewe pinggir jalan sampe 1,8 jeti???
gila aja tuh bon abal abal
Quote:Original Posted By bretpitt
daerah cipinang yang deket penjara itu, memang banyak psk kriminil, buat idung belang yang udah gak bisa nahan selangkangan pasti kena jebakan


Mereka bukannya ga bisa nahan nafsu Gan. Tapi dijebak secara paksa.
Lha berbuat grepe saja kagak kok disuruh bayar.

Quote:Original Posted By kandangkambing
JAKARTA, KOMPAS.com - "Ibu Kota memang lebih kejam daripada ibu tiri," kalimat tersebut meluncur dari mulut Tiko Priastomo (20), warga Cidarjah, Cilacap, Jawa Tengah. Pernyataan itu bukan tanpa sebab, dia dan dua orang kawannya menjadi korban pemerasan oleh pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi ecek-ecek Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur.
Satu cewek ngeluarin bon. Katanya kami harus bayar Rp 1.850.000. Ditulisnya ada biaya cewek yang nemenin. Kacang kecil aja harganya Rp 100.000, uang parkir Rp 50.000
--

Semula, Tiko dan dua orang temannya, Dwi Gunawan (19) dan Ahmad Kholid (19), hendak membeli sepatu di pasar malam depan Stasiun Jatinegara. Sepatu baru itu rencananya akan dipakai saat wawancara kerja di pabrik peleburan baja di Karawang, Jawa Barat, Rabu pagi. Ketiganya pun menumpang angkutan umum M04 jurusan Cililitan-Pulogadung. Rupanya angkot tersebut tak sampai ke depan stasiun. Ia berbalik arah di depan LP Cipinang.

"Kami turun, jalan ke arah stasiun. Terus ditarik sama cewek-cewek itu, langsung ditempelin tiga ojek, disuruh naik. Nggak tahu dibawa muter-muter sampai mandek (berhenti) di rumah, kayak kos-kosan gitu," ujar Tiko kepada Kompas.com di depan Polsektro Jatinegara, Selasa (4/9/2012) dini hari.

Sebelumnya, Tiko mengungkapkan, mereka adalah perantau dari Cilacap, Jawa Tengah. Ketiganya baru tiba di Jakarta, Minggu (2/9/2012) lalu. Sesampainya di Ibu Kota, ketiganya tinggal terpisah. Tiko dan Ahmad menyewa sebuah kontrakan di wilayah Sumber Artha, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Sementara Dwi menumpang pamannya di daerah Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur.

Sesampainya di sebuah kos-kosan yang tidak diketahui tempatnya, ketiga PSK itu kemudian membuka dua dus minuman berenergi. Tak hanya itu, mereka menyediakan berbagai makanan ringan. Sementara, tiga pemuda lugu tersebut mengaku bingung karena tak memesan dan tak tahu harus berbuat apa. Selang setengah jam, mereka memutuskan untuk menolak tawaran dan pergi. Saat itulah, permasalahan menjadi rumit.

"Satu cewek ngeluarin bon. Katanya kami harus bayar Rp 1.850.000. Ditulisnya ada biaya cewek yang nemenin. Kacang kecil aja harganya Rp 100.000, uang parkir Rp 50.000. Padahal kami nggak ngapa-ngapain, parkir gimana wong kesitu aja naik ojek," ujarnya.

Perdebatan pun terjadi antara pemuda dengan wanita 'nakal' tersebut. Merasa tidak memesan ataupun mengonsumsi sejumlah hidangan yang disediakan, para pemuda enggan membayar jumlah yang diminta PSK. Terlebih, ketiganya tak memiliki uang sebesar itu.

Setelah menemui jalan buntu, pemuda itu pun beranjak pergi. Akibatnya, ketiga PSK itu memanggil pria bertato untuk memaksa tiga pemuda membayar pelayanan palsu tersebut. Melihat pria diduga preman yang membekingi para PSK tersebut, nyali ketiga pemuda itu pun menjadi ciut. Mereka hanya bisa pasrah saat pria tinggi, besar dan memiliki tato di sepanjang lengan tersebut menggeledah isi kantongnya hingga habis. Dari ketiganya, preman itu berhasil menggasak uang sejumlah Rp 317.000 dan tiga ponsel. Preman tersebut berdalih, jika ketiganya tak bersedia membayar, harta itulah yang jadi jaminannya.

Tak terima atas perlakuan tidak menyenangkan tersebut, ketiga pemuda itu mengadu ke paman salah seorang pemuda itu. Sang paman yang tak terima, mengajak ketiga pemuda itu kembali ke lokalisasi itu untuk memancing si PSK atau si preman. Sayang, dari tiga PSK, mereka hanya berhasil menangkap dua orang. Seluruh yang terlibat pun digelandang ke Polsektro Jatinegara.

Ketiga pemuda itu mengaku tak menyangka atas permasalahan yang menimpa mereka di Ibu Kota. Kini, ketiganya tak memiliki uang sepeser pun. Alat komunikasi dengan orangtua di kampung juga tidak ada. Demikian juga cita-cita untuk bisa sukses bekerja di pabrik peleburan baja pun terancam sirna karena masuk ke jebakan PSK. Menurut mereka, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga untuk dapat menjaga diri saat bekerja di rantau.

http://megapolitan.kompas.com/read/2...Itu.Tak.Terima


modal cuma 300rb an mo ngadu nasib ke jakarta. buat idup sebulan aja kaga cukup

daftar dulu aja ke bps biar bs dimasukkan ke katagori warga miskin dulu. soalnya warga hampirmiskin tidak dapat bantuan dki jakarta